Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘informasi haji’

Tips Nyaman Beribadah Haji :

  • Jangan tergantung pembimbing
  • Mantapkan tata cara berhaji
  • Hafalkan doa-doa
  • Buat kelompok kecil

Tips Manasik Haji

Tips Tawaf dan Sa’i :

  1. Hafalkan do’a-do’a singkat, jangan disibukkan dengan catatan
  2. Berangkat dalam rombongan
  3. Makan sebelum berangkat
  4. Buat kelompok kecil
  5. Sepakati lokasi pertemuan
  6. Hindari waktu padat
  7. Pindah ke lantai dua dan tiga jika padat
  8. (sumber http://www.republika.co.id)

Tips Mencium Hajar Aswad :

  1. Ambil waktu yang kondisi sekitar ka’bah tidak terlalu padat
  2. Pastikan fisik kuat
  3. Jangan bawa barang berharga
  4. Pastikan cara berpakaian ihram benar dan kuat
  5. Jangan gunakan joki
  6. Tidak lama-lama
  7. Hindari menyakiti sesama jamaah
  8. (sumber http://www.republika.co.id)

Tips Pelaksanaan Ibadah Haji

Tips Masuk Masjid Agar Tidak Tersesat :

  1. Datang ke masjid minimal setengah jam sebelum waktu shalat
  2. Ingat nomor atau nama pintu masuk, kenali seperlunya
  3. Bawa kantong kain untuk menyimpan alas kaki, payung dan sebagainya, dan bisa dibawa saat sholat.
  4. Sebelum masuk masjid buat janji di mana akan bertemu jika ingin pulang bersama.
  5. Jangan lupa juga janji pukul berapa bertemu.
  6. Tempat berkumpul bisa dipasangi bendera rombongan tinggi-tinggi agar mudah dilihat dari kejauhan.
  7. Membuat identitas unik rombongan, bisa dengan selempang, slayer, atau pita di jilbab.
  8. (sumber http://www.republika.co.id)

Tips nyaman beribadah :

  1. Jangan tergantung pembimbing
  2. Mantapkan tata cara berhaji
  3. Hafalkan doa-doa
  4. Buat kelompok kecil
  5. (sumber http://www.republika.co.id)

Tips Agar Tidak Tersesat :

Setiap tahun selalu ada saja laporan jamaah yang tersesat. Untuk itu perlu dicoba tips-tips berikut ini:

  • Hafalkan Lokasi sebelum keluar maktab
  • Hafalkan maktab Anda serta cacat juga nomor telepon dan atau alamat pondokan Anda
  • Bawalah catatan tersebut setiap meninggalkan pondokan.

Sabar, Sabar, dan Sabar

Sabar, sabar, dan sabar. Itu tiga nasihat yang sering diberikan pembimbing kepada calon jamaah haji sebelum berangkat Tanah Suci.Pada kenyataannya memang calon jamaah haji harus punya persediaan segunung kesabaran untuk menghadapi keadaan yang sering di luar perkiraan semula.

Kesabaran calon jamaah sudah diuji saat berada di asrama haji atau bahkan saat keberangkatan. Kemacetan menuju asrama, pemeriksaan yang bertele-tele, sulitnya bertemu dengan keluarga sangat mungkin terjadi. Pemeriksaan dokumen kadang memerlukan waktu berjam-jam. Makanan di asrama belum tentu sesuai selera. Belum lagi kadang barang-barang yang masih diperlukan di asrama sudah telanjur masuk dalam koper besar.

Tips Mengambil gambar selama di Tanah Suci:


1. Fotolah yang Anda suka selain makhluk bernyawa (manusia dan hewan yang ada disana), untuk mengetahui hukumnya silahkan klik disini dan disini.

2. Lihatlah aturan yang tertulis tentang kamera atau foto disetiap tempat yang dikunjungi, biasanya akan terlihat dengan jelas. Pada umumnya petugas yang ada akan melarang, karena mayoritas jemaah haji yang membawa foto menggunakan kamera untuk memfoto dirinya atau rekan-rekannya.

3. Foto bukanlah hal yang penting, karena yang terpenting adalah terpeliharanya diri kita dari hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Panduan di Masjid Quba :

  • Saat akan memasuki bagian dalam masjid, sebaiknya memperhatikan petunjuk di dinding luar masjid. Itu adalah penunjuk pintu masuk yang dikhususkan bagi jamaah laki-laki atau perempuan. Akan terpampang pada sebuah plakat yang ditempelkan ke dinding pintu masuk untuk jamaah laki-laki maupun perempuan.
  • Tidak diperbolehkan mengambil gambar.
  • (sumber http://id.wikipedia.org)

Read Full Post »

Mekkah (Pinmas)–Tahap pertama proyek Monorel Makkah diharapkan akan selesai sebelum tahun ini haji. Hal ini akan memungkinkan para peziarah haji 35 persen menggunakan jasa kereta, kata Presiden Saudi Railway Organization (SRO) Abdul Aziz Al-Hoqail.

Menurutnya, monorel ini akan menghubungkan tempat-tempat suci dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ini akan mengurangi kemacetan lalu lintas, khususnya pada hari Arafah, yang biasanya membuat lalu lintas di Makkah tak bergerak.

“Meskipun seluruh proyek akan selesai sebelum musim haji tahun depan, penyelesaian tahap pertama akan bisa mengangkut 35 persen dari layanan kami akan ditawarkan kepada para peziarah tahun ini sendiri,” kata Hoqail.

Bila proyek selesai, maka 50 ribu mobil dan bus yang membawa peziarah antara Arafah, Muzdalifah, dan Mina seperti yang digunakan sebelumnya tidak lagi diperlukan.

Proyek dimulai dua tahun yang lalu di bagian selatan tempat-tempat suci di mana sebagian besar jamaah haji dari Arab Saudi serta negara-negara Teluk secara tradisional diakomodasi.

Nantinya, jamaah haji hanya berjalan tidak lebih dari 300 meter untuk mencapai salah satu dari tiga stasiun kos di Arafah. Muzdalifah juga akan memiliki tiga stasiun. Stasiun pertama di Mina dekat dengan Muzdalifah, sangat dekat dengan tempat melontar jumrah.

Kereta api ini dibangun sejajar dengan jalan sehingga pejalan kaki dan tenda jamaah haji di Mina tidak terganggu. Sistem seluruh kereta, termasuk stasiun, akan ditinggikan dan akan disiapkan akses eskalator dan tangga untuk mencapainya.

Masing-masing dari lima baris dari proyek monorel akan memiliki kapasitas per jam untuk membawa 60 ribu hingga 80 ribu penumpang antara Mina, Arafah dan Muzdalifah, dan kemudian antara Mina dan Makkah. Semua kereta akan memiliki 12 kompartemen besar, masing-masing 23 meter panjang dan tiga meter lebarnya.

Sebuah perusahaan Cina telah melakukan pembangunan jalur kereta api dan stasiun mempekerjakan 5.000 pekerja. Sumber informasi mengatakan gerbong kereta dan mesin kereta segera akan dikirim dari Cina ke Pelabuhan Islam Jeddah.

Read Full Post »

Bus menunggu jamaah haji…..

Read Full Post »

Indahnya………

Kapan kembali???

Read Full Post »

Berikut ini kami sampaikan pada pembaca sekalian beberapa berita haji, terkait maraknya kasus penipuan dan pencurian yang terjadi saat musim haji di Tanah Suci. Semoga tulisan ini membuat kita waspada saat berhaji, karena walaupun tempat haji berada di Tanah Suci, namun kejahatan tetap dapat terjadi. Untuk itu Waspadalah.

Waspadai Pencurian di Pemondokan

Jemaah Calon Haji Indonesia diminta untuk mewaspadai kasus pencurian modus baru yang dilakukan di pemondokan. Selain kasus pencopeten dan penjembretan yang selama ini menimpa jemaah calon haji Indoneia ketika berada di Madinah yang biasanya di lakukan di sekitar Mesjid Nabawi.

Menurut Kepala Seksi Pengamanan Daerah Keja Madinah Azharudin Jamin kasus pencurian di pemondokan yang dialami jemaah Indonesia mencapai 15 kasus, kasus pencurian ini terjadi di pemondokan yang di laur markaziah. “Modus yang digunakan pelaku pada shloat subuh dan waktu magrib hingga sholat isya,” jelas Azhardin Jamin.

Pelaku kriminal ini, tambah Azharudin diindikasikan bukan dilakukan jemaah maupun orang luar karena keika kamar ditinggalkan dlam keadaan terkunci dan kunci dititipkan kepada resepsionis. Ketika pulangpun dalam keadaan terkunci, namun tempat penyimpanan barang sudah terbuka.

Menyangkut model pengamanan, menurut Azharudin diserahkan kepada Majemuah sesuai denga kesepakatan dalam kontrrak. Majmuah seharusnya juga bertanggungjawab untuk menggantinya setiap adanya kehilangan yang alami jemaah Indonesia . “Hanya saja dari belasan kasus yang terjadi di pemondokan, baru 3 kasus yang mendapat penggantian dari Majmuah,” jelas Azharudin.

Untuk pengamanan ke depannya, jemaah diimbau untuk berhati-hati dan pengamanan harus melekat pada jemaah itu sendiri. Oleh karena itu peran ketua kloter, ketua rombongan dan ketua regu untuk mengingatkan kepada rombongannya agar barang-barang berharga ditiipkan kepada petugas.

Azharudin menambahkan jemaah Indonesia belum banyak yang tahu mengenai adannya brankas yang ada di setiap kamar, karenanya brankas ini belum banyak dimanafaatkan oleh jemaah untuk menyimpan barang-barang berharag miliknya. (MA Effendi, Depag.go.id)

Kerugian Pencurian yang Menimpa Jemaah Haji Capai 208 Juta Rupiah

Kerugian kasus pencurian atau penjembretan terhadap jemaah Indonesia di Madinah mencapai SR 80.000 atau sekitar Rp. 208.000.000,- Kasus pencurian atau penjembretan yang dialami jemaah Indonesia selama di Madinah tercatat 50 kasus atau 0,05% . Sedangkan total jemaah Indonesia yang telah berada di Madinah selama gelombang pertama yaitu sekitar 98.000 orang.

Menurut Kepala Seksi PAM Daerah Kerja Madinah Azharudin M Jamin kasus-kasus kriminal yang dialami oleh jemaah Indonesia langsung dilaporkan ke Surthoh Markaziah atau kantor kepolisian di Madinah dan Mabais (bagian inteljen). Kepolisian Madinah sendiri kemudian menangkap lebih dari 20 orang yang diduga melakukan kriminal terhadap jemaah Indonesia .

“Ke-20 orang tersebut rata-rata WNI, dan yang tertangkap tangan hanya satu orang, yang lainnya masih diduga,: jelas Azharudin. Menurutnya kepolisian sendiri sangat responsif menagani kasus criminal yang dialami oleh jemaah Indonesia dengan melakukan razia dan menangkap orang-orang 0yang dicurigai di sekitar Mesjid Nabawi sehingga menurunkan angka kriminalitas terhadap jemaah Indonesia .

“Kami akan terus melakukan koordinasi dengan kepolisian setempat untuk menangani kasus-kasus seperti ini,” ungkapnya.

Azharudin berharap kepada jemaah untuk lebih hati-hati dengan tidak membawa banyak uang maupun barang-barang berharga dan masing-masing diharapkan bisa menjaga keamanan. (MA Effendi)

Kejahatan Bukan Semata Niat Tapi Karena Ada Kesempatan

Jamaah calon haji (Calhaj) supaya berhati-hati saat bepergian dan tidak membawa uang serta barang berharga demi kemananan dan keselamatan. Berdasarkan rekapitulasi kehilangan uang dan barang di daerah kerja Mekkah sampai Minggu (8/11) tercatat Rp 81.542.500 kerugian yang dialami jamaah calon haji (Calhaj) karena kecopetan, ditipu, teledor atau lupa. Rinciannya SR21.657, Rp27.400.000, US Singapura 210, ponsel 9 unit, kamera 2 unit dan Alquran digital 1 unit.

“Karena itu, calhaj diimbau tidak membawa uang banyak dan benda berharga saat melakukan aktifitas diluar pemondokan. Jangan mudah percaya dengan hasutan orang yang baru dikenal meski dia mengaku dan bisa berbahasa Indonesia,” tegas Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah H Subakin, Senin (9/11), kemarin.

Subakin menyatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada calhaj supaya tidak menjadi korban kejahatan selama berada di Kota Mekkah. “Imbauan untuk berhati-hati kita tempel di setiap pemondokan dan didalam bus yang mengantar mereka selama di Kota Mekkah. Kemudian, kepada ketua kloter atau rombongan juga tak henti-hentinya melakuakan sosialisasi tersebut,” jelasnya.

Kepala Seksi Keamanan Daker Mekkah mengungkapkan sistem keamanan disekitar pemondokan sudah dilakukan pengetatan karena selain penghuni dilarang masuk tanpa izin petugas setempat. Jamaah juga diimbau selalu bersama-sama rombongan saat bepergian. “Karena itu jamaah sebelum meninggalkan kamar pintu sudah terkunci dan tidak membawa barang berharga dan uang dalam jumlah besar. Cukup membawa uang untuk membeli makan saja,” tuturnya.

Dia menambahkan, kerugian yang dialami jamaah juga biasanya disebabkan karena keteledoran. “Padahal dalam suasana yang serba padat dan crowded jamaah harus lebih meningkatkan kewaspadaannya,” pungkasnya.

Kepala Sektor Khusus Masjidil Haram Ali Saefuddin mengungkapkan, sedikitnya 20 – 35 jamaah yang melapor tersesat jalan menuju pemondokan. “Mereka umumnya ditemukan dalam kondisi bingung dan kelelahan karena sudah muter-muter mencari jalan menuju pondokan,” ujarnya di pos khusus, kemarin.

Menurut Ali, jamaah tersesat ini kerap menjadi sasaran para pelaku tindak kriminal. Sedikitnya sudah terjadi lebih dari tujuh tindak kriminal yang menyasar jamaah yang sudah uzur ini. Modusnya rata-rata hampir sama, yaitu berpura-pura menolong dan meminta identitas untuk kemudian merampas tas korban.

Karenanya, ia meminta para ketua rombongan untuk menjaga keutuhan rombongannya. Bila terpaksa harus meninggalkan salah satu jamaahnya karena suatu alasan, maka sebaiknya jamaah itu dititipkan di tempat yang aman. “Kalau di dalam Masjidil Haram, bila dia jamaah perempuan, sebaiknya dititipkan askar di shaf khusus perempuan tak jauh dari Multazam,” ujarnya. (boy iskandar)

Pencurian dengan Penipuan

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petugas non kloter Bidang Pelayanan Jamaah Tersesat, Idi Amien di Kota Makkah, telah terjadi beberapa kali tindak kriminal dialamai oleh Jamaah Calon Haji (JCH) asal Indonesia.

Seperti yang terjadi kemarin, disekitar Masjidil Haram. Seorang warga asing yang mengaku petugas keamanan membawa kabur tas berisi uang sebesar 1.400 Riyal yang dititipkan kepadanya saat korban masuk kamar kecil. Pelaku berpura-pura menjadi petugas dan melarang korban membawa masuk tas dan barang bawaan lainnya ke kamar kecil, kemudian menyarankan agar dititipkan kepadanya. “Hingga akhirnya pelaku bisa dengan leluasa membawa tas tersebut kabur,” ungkap Kasub Bag Tata Usaha (TU) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Syamsudin Noor Banjarmasin, Hidayaturrahman.

Untuk itu lanjut Hidayat, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kalsel kembali mengimbau kepada para JCH agar dapat mewaspadai segala gerak gerik yang mencurigakan. “Kita ingatkan kepada JCH, kalau ke pasilitas umum, seperti rumah makan, kamar kecil dan tempat layanan lainnya supaya tidak sendirian. Kemudian jangan mudah percaya terhadap seseorang yang mengaku sebagai petugas atau yang menawarkan bantuan sebelum diketahui dengan jelas status dan keberadaannya. Sebab, dengan banyaknya manusia yang berasal dari berbagai negara, semakin beragam pula tujuan dan modus yang di jalankan,” ingatnya. (lf/dyt06-info haji, Depag)

Jemaah Agar Berhati-hati dan Tetap Waspada

Wakil Ketua I Panitia Penyelenggara Ibadah haji (PPIH) Indonesia di Arab Saudi Zainal Abidin Sufi meminta agar jemaah haji Indonesia berhati-hati dan tetap waspada selama berada di Madinah dan Mekkah. Karena dari laporan yang diterima selama 4 hari kedatangan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi, dua jemaah asal kloter 9 Solo telah menjadi korban tindak kriminal.

Menurut Zainal yang sedang memantau kedatangan jemaah haji di Madinah, peristiwa kriminal yang menimpa jemaah haji Indonmesia tersebut bermodus munculnya orang-orang yang manwarkan jasa menitipkan barang, dan akhirnya melarikan barang milik jemaah dan bahkan merampas barang milik mereka.

Dua peristiwa kriminal tersebut, kata Zainal Abidin Sufi, terjadi di toilet masjid Nabawi, yang pelakunya diduga juga berasal dari Indonesia, karena mereka terampil menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. “Jemaah jangan mudah percaya terhadap orang-orang yang menawarkan jasa menitipkan barang,” tambahnya.

Zainal meminta, agar jemaah dalam melakukan kegiatan ibadah selalu bersama rombongan. “Jika mengalami kesulitan segera lapor kepada petugas-petugas di lapangan maupun yang di tempatkan di sektor-sektor layanan,” kata Sufi.

Petugas haji Indonesia, kata Sufi, berseragam baju biru muda, bercelana biru tua, dilengkapi dengan identitas petugas yang jelas, seperti nama, unit layanan, bendera merah putih, dan id card petugas haji Indonesia. (ts, DEPAG)

Kerjasama Regu Penting untuk Tangkal Kejahatan

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1430 H menghimbau agar setiap jemaah haji berhati-hati menghadapi kemungkinan gangguan keamanan. Kerjasama antar jamaah dalam setiap regu atau rombongan harus selalu dijaga.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua Bidang Keamanan Daerah Kerja Mekah PPIH 1430 H Letkol Caj Abu Haris di Mekah, Rabu (28/10), menganggapi peristiwa perampasan tas berisi uang dan dokumen yang dialami salah satu jamaah haji Indonesia di Madinah.

Perihal peristiwa kriminal tersebut, Haris menjelaskan korban adalah Turgiyanto Maskur Bin Kasiban, jemaah asal Embarkasi Solo Jateng. Ia menjadi korban tindak kriminal di Masjid Nabawi Madinah. Modusnya, saat korban hendak mengambil mudhu di toilet masjid, korban didekati oleh seseorang yang memaksa membawakan barang-barang korban.

Alasannya, di toilet/tempat wudhu tidak diperbolehkan membawa barang-barang, karenanya harus dititipkan kepada pelaku. Setelah barang berpindah tangan pelaku langsung melarikan diri. Pelaku diduga berasal dari Indonesia karena saat beraksi ia menggunakan bahasa Jawa.

“Untuk mengantisipasi tindak kejahatan, pengamanan dari dalam regu lebih berperan. Sebab jumlah tenaga pengamanan kita sangat terbatas,” ujar Haris.

Menurut Haris, total jumlah petugas keamanan PPIH pada musim haji tahun ini sebanyak 31 orang. Mereka berasal dari unsur TNI dan Polri dan disebarkan ke seluruh sektor yang ada di Mekah. Jumlah itu jelas jauh dari memadai mengingat jemaah reguler Indonesia mencapai 191.000 orang.

“Kalau mau ideal, perbandingannya 1:200, satu petugas bertanggungjawab mengamankan 200 orang. Saat ini kawan-kawan petugas keamanan lebih berfungsi sebagai dinamisator agar fungsi keamanan dari dalam regu bisa berjalan optimal,” ujar Haris.

Sebagai upaya lebih lanjut, Haris mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan bagian intelijen Arab Saudi. Selain itu, melalui selebaran pihaknya menghimbau agar jamaah tidak pergi-pergi sendirian, tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal, mempelajari sekaligus mewaspadai modus-modus kejahatan.

Menurut Haris, hampir tiap tahun tindak kriminal menimpa jamaah Indonesia. Bentuknya antara lain perampasan dan pencopetan. Selain modus penipuan seperti yang terjadi di Madinah tersebut, modus lain yang sering digunakan adalah pelaku berpura-pura mengemis, ketika jamaah mengeluarkan uang dari tas, pelaku kemudian merampasnya.

“Bahkan ada juga pelaku yang berpura-pura menjadi petugas, memakai baju mirip seragam petugas, mendekati korban dan mengambil uang atau barang berharganya dengan berbagai cara,” jelas Haris. (Nik, Depag)

Read Full Post »

Bicara masalah ongkos haji jemaah calon haji Indonesia yang katanya “mahal sekali”, ternyata ada lho yang lebih mahal. Ya, justru biaya haji untuk orang di Arab sendiri secara perhitungan matematika jauh lebih tinggi dari biaya haji di negeri kita (padahal tidak naik pesawat pp dan bea angkut dari daerah, baya selama di embarkasi, paspor dll).

Naah, alih-alih kita mengomentari tingginya (baca: naiknya) BPIH (Biaya Perjalan Haji Indonesia dari tahun ke tahun, mendingan kita simak tulisan dibawah ini, dan bersabarlah bila biaya haji tahun depan disesuaikan lagi. semoga bermanfaat bagi kita semua.

__________________________________________

Bukan hanya warga Indonesia yang harus menungg lama untuk berhaji, warga arab juga demikian. Mereka yang sudah berhaji harus menunggu paling tidak lima tahun untuk bisa berhaji lagi. Membayarnya pun mahal. Jauh lebih mahal dibanding warga Indonesia. Saking mahalnya, tahun ini banyak warga Arab yang mengurungkan niatnya menunaikan ibadah haji.

Belakangan ini, muslim Indonesia harus menunggu antrian sampai empat tahun untuk berhaji. Itu lantaran kuota yang disediakan oleh pemerintah Saudi terbatas. Tahun ini hanya mendapat jatah 210.000. Di daerah-daerah tertentu ada yang antriannya hanya dua sampai tiga tahun. “Jadi masih lebih baik kita dibanding warga Arab,” kata Amirul Haj Indonesia Bahrul Hayat di Jeddah kemarin malam.

Jemaah haji Indonesia harus membayar biaya penyelenggaraan sekitar Rp 34 juta. Biaya itu antara lain untuk tiket pesawat, angkutan lokal, makan, dan pemondokan. Sedangkan yang dibayarkan kepada pemerintah Arab Saudi melalui rusum (biaya pelayanan umum) hanya SR 1.029 (sekitar Rp 2,5 juta).

Seperti dilansir Arab News kemarin, warga Arab yang ingin berhaji harus membayar kepada pemerintah SR 10.000 (sekitar 25 juta). Karena besarnya biaya itu banyak warga Arab yang mengurungkan niatnya untuk berhaji.

Penurunan itu mencapai 40 persen. Dia mendesak pemerintah Arab Saudi menurunkan biaya haji itu hingga SR 1.500-3.900 untuk berbagai katagore.
Lesunya minat warga lokal berhaji memusingkan biro-biro perjalanan yang biaya menangani jemaah haji lokal. Saleh Al-Zufairi, pemilik biro perjalanan Al Zufairi mengak, tahun ini hanya mendapat 20 orang yang berhaji lewat perusahannya. Padahal, tahun lalu biro perjalanan yang berpusat di Dammam itu mendapat 200 orang. Memang bukan sekedar karena biaya tinggi. Faktor lainnya adalah flu babi yang sedang menghantui warga Arab.

Pemerintah Saudi memang sengaja membatasi warganya untuk berhaji demi memberi kesempatan kepada ummat Islam negara-negara lain. Pembatasan dilakukan karena sempitnya tempat prosesi haji, baik di Masjidil Haram maupun Armina (Arafah-Muzdalifah-Mina). Sekarang hanya bisa menampung 3 juta umat Muslim.

Ummat muslim Indonesia, k ata Bahrul Hayat, masih mendapat kesempatan lebih dibanding negara-negara lain. Meskipun banyak pihak menilai biaya penyelenggaran haji Indonesia terlalu mahal, ongkos itu masih lebih murah dibanding negara-negara lain. “Bibanding negara tetangga Malaysia, kita masih lebih murah,” kata Bahrul yang didampingi Dirjen Haji Slamet Riyanto.

Bahrul tak tahu berapa ongkos naik haji Malaysia. Tetapi, untuk membayar biaya pondokan saja sekitar SR 3.900-4.000. Sementara itu jemaah haji Indonesia hanya membayar SR 2.500. Itu pun masih banyak yang protes. Anggota Komisi 8 DPR yang sekarang memantau kegiatan haji di Saudi menilai Departemen Agama kurang serius dalam menyelenggarakan haji.

Sebagai amirul haj, Bahrul akan berdialog dengan jemaah haji dari pondokan ke pondokan sekaligus memantau fasilitas yang mereka peroleh. Apa yang didapatkan nanti akan dipergunakan untuk memperbaiki pelaksanaan tahun berikutnya.(baehaqi, Depag.go.id)

Read Full Post »

Proses pemeriksaan keimigrasian di bandara Arab Saudi memakan waktu berjam-jam sehingga melelahkan para calon haji yang sebelumnya memang sudah letih karena penerbangan panjang dari Indonesia ke Saudi.

ANTARA melaporkan dari Jeddah, Kamis, setibanya di Bandara King Abdul Aziz (KAA) Jeddah, jemaah mesti membentuk antrian panjang untuk diperiksa kelengkapan dan kecocokan dokumen imigrasi mereka seperti paspor, visa masuk dan kartu kedatangan (entry card).

Pada entry card terdapat enam carik sobekan (stroke) berisi nomor kode (bar code) satu lembar masing-masing ditempel di lembar paspor hijau, di lembar E paspor daftar administrasi perjalanan ibadah haji (DAPIH – dulu paspor haji) dan di kartu keluar (exit card) dari Bandara Arab Saudi.

Dua sobekan lainnya diserahkan kepada petugas kementerian haji Arab Saudi, Maktab Wukala (pengelola penyelenggara haji di Jeddah) dan pengelola transportasi (Naqaba).

Calon haji lalu harus diambil sidik jari (10 jari) dan difoto, kemudian ke ruang bagasi untuk mengambil barangnya, dan setelah itu harus melewati melewati lagi pemeriksaan petugas kementerian haji dan Maktab Wukala di pintu keluar.

Proses berikutnya, jemaah ke ruang tunggu untuk konsolidasi kloter, dan jika satu kloter lengkap, maka diberangkatkan menuju Madinah dengan bus-bus yang sudah disiapkan oleh Naqaba.

Jika masih ada waktu, selama menanti keberangkatan ke Madinah, jemaah dapat melakukan shalat, mandi atau melakukann aktivitas lainnya dan sebelum menaiki bus, jemaah diperiksa kembali dokumen dan bar code-nya.

Setelah penerbangan belasan jam dari tanah air, jemaah masih harus menempuh perjalanan darat sekitar enam sampai tujuh jam menuju Madinah yang berjarak sekitar 450 km dari Jeddah.

Di Madinah, jemaah akan melakukan shalat Arbain (shalat berjamaah di Mesjid Nabawi selama 40 waktu) sebelum bergeser ke Mekah untuk mengikuti rangkaian proses ibadah haji selanjutnya, yakni umrah, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, tawaf(tujuh kali mengelilingi Ka`bah) dan sa`i (lari-lari kecil tujuh putaran antara bukit Shafa dan Marwah.

Menurut Kadaker Jeddah Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) Subhan Cholid, calon haji mesti menyisihkan waktu tambahan, paling tidak lima sampai tujuh menit, karena kebijakan baru pengambilan sidik jari dan foto itu.

Jadi, jika proses imigrasi normal memakan waktu sekitar dua jam, pengambilan sidik jari dan foto, akan memperpanjang waktu pemeriksaan imigrasi menjadi empat sampai lima jam setiap kloter.

Ditambah lagi dengan belum berfungsinya sebagian pintu gerbang bandara karena sedang direnovasi sehingga jumlah konter pemeriksan kurang memadai sehingga sulit mempersingkat proses pemeriksaan dokumen keimigrasian di bandara debarkasi Arab Saudi.

Belum lagi bila pesawat datang terlambat, seperti dialami kloter 7 embarkasi Makassar/Ujungpandang, yang akhirnya harus menempuh perjalanan total sekitar 29 jam untuk mencapai Madinah.

Pesawat Airbus A330 yang berangkat dari bandara embarkasi Ujung Pandang, Rabu pukul 10.15 waktu setempat, mengalami keterlambatan akibat gangguan pada unit akselerasi (Accceleration Power Unit, APU) saat transit dan mengisi bahan bakar di Batam.

Jadi penerbangan dari Makassar memerlukan waktu 17 jam lima belas menit untuk sampai di Arab Saudi, ditambah proses imigrasi lima jam, istirahat satu atau dua jam di bandara KAA dan tujuh jam perjalanan Jeddah – Madinah. Total, para calon haji menghabiskan 29 jam untuk sampai di Madinah. (antaranews)

Untuk menambah pengetahuan silahkan simak juga:

http://oleholehhaji.net/2008/11/29/koreksi-seputar-amalan-di-musim-haji/

http://oleholehhaji.net/2008/11/15/haji-ke-baitullah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/25/berhaji-tuk-meraih-ridha-ilahi/

http://oleholehhaji.net/2008/12/01/ikhlas-dalam-ibadah-haji-dan-ibadah-lainnya/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/bekal-bekal-penting-bagi-para-calon-jama%e2%80%99ah-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

http://oleholehhaji.net/2009/10/29/manasik-haji-untuk-anda-2/

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/kiat-sehat-bugar-selama-naik-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/mengatasi-musin-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/jamaah-haji-persiapkan-diri-hadapi-musim-dingin/

 

Read Full Post »

Allah Jalla wa ‘Ala telah menunjukkan hal itu dalam kitab-Nya yang agung ketika Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ * فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ *

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, adalah Baitullah yang di Bakkah (Makah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali ‘Imran : 95-97)

Allah juga berfirman:
وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ * وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ * لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kalian menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (Al-Hajj : 26-28)

Pada uraian di atas, dapat kita ketahui, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Baitullah (Ka’bah) adalah rumah pertama yang dibangun untuk umat manusia, yakni di muka bumi, untuk ibadah dan bertaqarrub kepada Allah dengan amalan-amalan yang diridhai-Nya. Sebagaimana telah sah dalam Ash-Shahihain dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu dia berkata :

“Aku bertanya, wahai Rasulullah, beritakan kepadaku tentang masjid pertama yang dibangun di muka bumi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Al-Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi, “Kemudian masjid mana lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Al-Masjidil Aqsha.” Aku lalu bertanya lagi, “Berapa lama jarak antara keduanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “40 tahun,” Aku bertanya, “Kemudian mana lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kemudian di mana pun waktu shalat tiba, maka shalatlah di situ, karena itu adalah masjid.” (HR. Al-Bukhari 3186, Muslim 520)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa rumah pertama yang dibangun untuk umat manusia adalah Al-Masjidil Haram, yaitu rumah yang dibangun untuk ibadah dan bertaqarrub kepada Allah, sebagaimana dijelaskan oleh para ‘ulama. Sebelumnya sudah ada rumah-rumah untuk dihuni/tempat tinggal, namun yang dimaksud di sini adalah rumah pertama yang dibangun untuk ibadah, ketaatan, dan taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ucapan dan amalan yang diridhai-Nya.

Kemudian setelah itu adalah Al-Masjidil Aqsha yang dibangun oleh cucu Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimush shalatu was salam. Kemudian diperbarui lagi pada akhir zaman setelah itu dengan jarak/jeda waktu yang sangat lama oleh Nabi Sulaiman ‘alaihish shalatu was salam.

Lalu setelah itu seluruh permukaan bumi adalah masjid. Kemudian datanglah Masjid Nabawi, yang itu merupakan masjid ketiga pada akhir zaman yang dibangun oleh Nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad ‘alaihish shalatu was salam. Beliau membangunnya setelah berhijrah ke Madinah, beliau membangunnya bersama-sama para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Beliau memberitakan bahwa Masjid Nabawi tersebut merupakan masjid paling utama (afdhal) setelah Al-Masjidil Haram.

Jadi masjid yang paling utama ada tiga. Yang terbesar dan paling utama adalah Al-Masjidil Haram, kemudian Masjid Nabawi, dan Al-Masjidil Aqsha.

Shalat di ketiga masjid tersebut dilipatgandakan pahalanya. Terdapat dalam hadits yang shahih :

« أنها في المسجد الحرام بمائة ألف صلاة »

“Shalat di Al-Masjidil Haram sama dengan 100.000 (seratus ribu) kali shalat.” (HR. Ibnu Majah 1413)

Tentang Masjid Nabawi :

« الصلاة في مسجده خير من ألف صلاة فيما سواه , إلا المسجد الحرام »

“Shalat di masjidku lebih baik daripada 1000 (seribu) kali shalat di selainnya, kecuali di al-masjidil haram..” HR. Al-Bukhari 1133, Muslim 1394

Adapun tentang Al-Masjidil Aqsha :

« أنها بخمسمائة صلاة »

Sebanding dengan 500 kali shalat.

Jadi tiga masjid tersebut merupakan masjid yang agung dan utama, itu merupakan masjidnya para nabi ‘alahimush shalatu was salam.

Kelebihan lainnya  dari ketiga masjid di atas adalah dibolehkan bagi kita bertabarruk didalamnya, yaitu dengan menjadikan sebagai tempai untuk ditunaikan amalan-amalan yang syar’i yang kita mampu, seperti thawaf, shalat, dan amalan lainnya.

Untaian Fatwa :
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafidhahulloh dalam Al Muntaqa terhadap fatwa beliau 1/220 berkata:

“Sujud di atas tanah yang disebut ‘tanah kuburan wali’, jika dimaksudkan sebagai tabarruk dengan tanah itu dan mendekatkan diri kepada wali tersebut maka ini adalah syirik besar.

Adapun jika yang dimaukan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bersamaan dengan adanya keyakinan tentang keutamaan-keutamaan tersebut, dan sujud di atasnya merupakan suatu keutamaan sebagaimana keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada tanah-tanah suci di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha, maka ini merupakan bid’ah di dalam agama, satu ucapan atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa didasari ilmu, syariat yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sarana dari sarana-sarana agama yang mengantarkan kepada kesyirikan.

Hal itu dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menjadikan kekhususan pada suatu tempat selain tempat-tempat syi’ar yang suci dan tiga masjid tersebut. Sampai-sampai tempat-tempat syi’ar dan tiga masjid tersebut tidak disyari’atkan untuk kita mengambil tanahnya kemudian sujud di atasnya. Hanyalah kita disyari’atkan untuk berhaji ke rumah-Nya (Ka’bah, pent) dan shalat di tiga masjid tadi.” Wallahu A’lam Bish Shawab. (salafy.or.id)

Simak juga:

http://oleholehhaji.net/2008/11/29/koreksi-seputar-amalan-di-musim-haji/

http://oleholehhaji.net/2008/11/15/haji-ke-baitullah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/25/berhaji-tuk-meraih-ridha-ilahi/

http://oleholehhaji.net/2008/12/01/ikhlas-dalam-ibadah-haji-dan-ibadah-lainnya/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/bekal-bekal-penting-bagi-para-calon-jama%e2%80%99ah-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

http://oleholehhaji.net/2009/10/29/manasik-haji-untuk-anda-2/

Read Full Post »

SAKIT saat menunaikan ibadah haji? Mudah-mudahan, tidak. Dengan sehat jasmani dan rohani, jemaah diharapkan dapat melaksanakan semua syarat dan rukun haji dengan baik dan lancar. Namun pada kenyataannya, sakit saat berhaji tidak bisa ditolak. Jemaah haji Indonesia yang saat ini masih terkonsentrasi di Madinah, misalnya, menunjukkan terdapat 86 orang harus diirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI). Bahkan, seorang di antara jemaah haji itu meninggal dunia.

Kepala BPHI Daker Madinah dr Ade Meidian Ambari, menjelaskan, jemaah yang meninggal bernama Nagoro Boru Siregar (perempuan), 80 tahun, jemaah kloter 04 Medan. Ia meninggal dunia karena terserang penyakit komplikasi antara paru-paru dan jantung.

Diungkapkan, selama jemaah tiba di Madinah, BPHI telah merawat 86 jemaah yang sakit, baik rawat jalan maupun rawat inap. Dari jumlah tersebut, 18 orang dirujuk dan dirawat di RS King Fath Madinah karena gangguan stroke dan diabetes militus sehingga harus cuci darah. BPIH masih merawat tujuh jemaah, tiga di antaranya mengalami gangguan kejiwaan.

Menurut Ade, apabila BPHI masih mampu merawat jemaah yang sakit, mereka akan tetap merawat di sini. Karena kalau dirawat di RS King Fath akan ada kendala seperti masalah komunikasi. “Akan tetapi, pasien akan dirujuk ke rumah sakit apabila memang memerlukan perawatan lanjutan karena di BPIH tidak mempunyai fasilitas untuk itu,” katanya.

Bagaimana jemaah haji mesti bersikap saat sakit? Harus diterima sebagai bagian yang mendorong jemaah tetap menjadi mabrur. Artinya, mau sakit, sehat, setengah sakit, atau setengah sehat, tidak ada alasan untuk tidak mabrur. Kata Rasulullah, seorang Muslim bagaikan tangkai padi yang kadang tegak dan kadang merunduk. Artinya, kadang sehat juga kadang sakit.

Apalagi jika orang yang sakit tersebut menerimanya dengan ikhlas atas sakit yang dideritanya. Sebab, konsep Islam menyebutkan bahwa orang sakit justru menerima pahala dari rasa sakitnya, berupa penghapusan dosa. Hadis riwayat Bazaar menggambarkan, orang Mukmin yang sakit kemudian sembuh laksana salju yang turun dari langit karena bersihnya.

Hadis riwayat Ahmad bahkan menyebutkan, “Ketika seorang hamba diberi sakit, Allah berkata kepada malaikat, `Tulislah kebaikan yang biasa dilakukannya ketika sehat. Kalau ia sembuh, mandikanlah ia dan bersihkan. Kalau ia meninggal maka Allah mengampuninya.”

Lalu, apa yang dilakukan jemaah saat sakit? Kalau memungkinkan, obati sendiri. Manfaatkan obat yang dibawa dari tanah air. Saat sakit, biasanya banyak jemaah lain yang ikut memberi saran serta memberi obatnya sekalian. Tetapi apabila sakitnya cukup serius, jemaah bisa menghubungi dokter kloter. Dokter yang selalu menyertai jemaah selama perjalanan akan mengusahakan agar jemaah sakit ini sembuh tanpa harus dirujuk ke rumah sakit.

Jika dokter kloter yang biasanya stand by bersama ketua kloter dan pembimbing ibadah, tak mampu mengatasi sakit yang dialami pasien, mereka biasanya merujuk ke BPHI. Berkoordinasi dengan kantor sektor di mana jemaah tersebut tinggal, jemaah akan diangkut menggunakan ambulans atau kendaraan lain yang memungkinkan.

BPHI lebih mirip dengan puskesmas di tanah air, tetapi memberikan perawatan bagi jemaah selama hal itu masih bisa diatasi. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia menyiapkan tiga BPHI selama musim haji, yaitu di Madinah, Jeddah, dan Mekah. Meskipun demikian, saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) membangun BPHI darurat di Arafah dan Muzdalifah.

Jika di BPHI tidak mampu mengatasi problematika yang dihadapi pasien, terutama berkaitan peralatan, mereka akan mengirimkan pasien tersebut ke berbagai rumah sakit milik pemerintah Arab Saudi. Dalam hal ini, Saudi sesuai dengan ta`limatul haj telah menyiapkan seluruh rumah sakit pemerintah sebagai rujukan tertinggi secara gratis.

Pada prinsipnya, semua jemaah haji yang tiba di Arab Saudi menjadi tanggungan pemerintah setempat, termasuk dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, jemaah haji yang sakit, berapa pun biaya rumah sakitnya, misalnya harus menjalani operasi dan seluruh biaya perawatan serta biaya dokter, semua ditanggung pemerintah Arab Saudi.

Oleh karena itu, secara ekstrem, jika seseorang menderita sakit tertentu yang mengharuskan operasi atau pengobatan hingga ratusan juta rupiah di luar Arab Saudi dan hanya mampu membayar biaya perjalanan ibadah haji (BPIH), dengan biaya BPIH tersebut ia mendapatkan hak pelayanan kesehatan yang nilainya ratusan juta itu.

Semua jemaah yang datang ke Arab Saudi dengan maksud untuk berhaji, maka harus berada di Arafah saat pelaksanaan wukuf di Arafah dalam rentang waktu antara zuhur hingga sebelum magrib. Tanpa wukuf di Arafah, jemaah tersebut tidak disebut sebagai haji. Ketentuan ini berlaku untuk semua jemaah haji, termasuk jemaah yang sakit.

Oleh karena itu, PPIH berusaha membawa jemaah yang sakit dalam keadaan apa pun agar sempat berada di Arafah saat hari wukuf tersebut. Itulah sebabnya, PPHI biasa menggelar safari wukuf, yakni pelayanan wukuf bagi jemaah yang sakit. Dalam hal ini, jemaah dibawa ke Arafah menggunakan mobil ambulans khusus yang dilengkapi berbagai macam peralatan medis.(pikiranrakyat)

Yang ini juga penuh dengan manfaat:

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/kiat-sehat-bugar-selama-naik-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/11/05/sikap-sabar-adalah-suatu-kemestian/

http://oleholehhaji.net/2009/11/05/bersabarlah-terhadap-taqdir-allah-wahai-saudaraku/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

Read Full Post »

Jemaah haji dari seluruh dunia saat ini sudah memasuki Kota Madinah Al-Munawarah untuk melakukan ziarah. Sebagian melaksanakan shalat dan mengunjungi berbagai tempat bersejarah. Akibatnya, Masjid Nabawi yang menjadi sentral kegiatan umat Islam penuh sesak. Jangankan memasuki Raudhah, tempat yang memiliki daya tarik paling besar saat beribadah di Masjid Nabawi, sekadar masuk ke dalam masjid pun semakin sulit saat azan berkumandang untuk melaksanakan salat fardhu.

Jemaah yang datang saat azan berkumandang dijamin hanya kebagian tempat di pelataran masjid. Tapi jangan khawatir kepanasan saat siang hari, sebab setiap sudut Masjid Nabawi kini sudah dipasang payung elektronik. Payung yang amat besar yang dapat memayungi lebih dari 250 orang. Payung itu seperti jamur yang tumbuh di setiap pojok masjid, sehingga kapasitas Masjid Nabawi bertambah sangat besar berkat payung elektronik ini.

Jemaah yang ingin salat tahajud di Raudhah tak cukup lagi datang pukul 2.00 WAS tapi harus kurang dari itu, pukul 1.00 dini hari, setidaknya 1.30 WAS. Tengah malam seperti itu Raudhah sudah penuh sesak. Maka jemaah yang datang pukul 2.00 WAS dini hari tak bisa lagi memaksakan masuk ke dalam Raudhah, sebab tempat ini sudah berjubel.

Ukuran safnya sangat istimewa, tidak sepanjang tubuh manusia membungkuk, tapi lebih pendek lagi. Jarak antara satu jemaah dengan yang lainnya ke arah samping juga tak cukup untuk bersedekap secara wajar, tapi harus dimengkerutkan ke arah dalam karena saking berjejalnya jemaah. Saat sujud, antara kaki jemaah depan dengan kepala jemaah di belakangnya amat sangat mepet. Kepala orang yang sujud menempel di kaki jemaah depannya.

Di luar jam salat fardhu, jemaah keluar masuk Raudhah sekadar untuk berdoa atau salat sunat. Tentu saja, Raudhah merupakan tempat yang paling krusial mendatangkan kemacetan. Sebab, di dalam Raudhah tidak semua jemaah berdoa dengan berdiri. Di tengah berjubelnya orang berniat berdoa di tempat mustajabah itu, banyak jemaah yang berzikir sambil duduk.
Terlihat amat egois. Di antara ribuan orang yang antre, puluhan orang bertahan duduk di tempat yang sempit ini. Akibatnya, orang lain yang berniat sekadar doa dalam waktu sebentar tak bisa lewat. Sebab deretan orang yang berdiri tak bisa lewat begitu saja, kecuali harus melangkahi kepala mereka. Tentu saja duduk di tengah puluhan ribu orang sangat membahayakan. Allah mungkin mengabulkan doa mereka yang bertahan duduk di saat jemaah lain berebut tempat itu. Tapi gerutu ribuan orang yang terhambat oleh mereka juga ada perhitungannya.

Untuk mengatur agar jemaah tidak masuk ke dalam Raudhah secara bersama-sama, aparat keamanan menutup Masjid Nabawi bagian depan dengan terpal putih. Akibatnya, jemaah yang berada di masjid bagian belakang tak bisa langsung masuk ke dalam Raudhah melainkan harus keluar ke pintu bagian kanan dan masuk kembali ke komplek Raudhah melalui pintu Babussalam. (Wachu,depag)

Yang dibawah ini pas untuk dibaca:

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/bekal-bhttp://oleholehhaji.net/2008/11/15/haji-ke-baitullah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/25/berhaji-tuk-meraih-ridha-ilahi/ekal-penting-bagi-para-calon-jama%e2%80%99ah-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/siapkan-diri-di-musim-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/keletihan-bisa-berimbas-pada-kesehatan-jiwa/

http://oleholehhaji.net/2009/11/05/sekilas-tentang-keutamaan-masjidil-haram-makkah-al-mukarramah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/29/koreksi-seputar-amalan-di-musim-haji/

 

Read Full Post »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.