Feeds:
Posts
Comments

Archive for November 12th, 2008

Jabal Magnet (Bukit Magnet). Itulah nama yang dikenal oleh jamaah haji Indonesia untuk diziarahi saat berada di Madinah. Tempat ini diyakini mengandung unsur magnet yang sangat tinggi. Para jamaah pun dibuat penasaran, termasuk tim liputan haji 1429 hijriah dari Indonesia.

Reporter detikcom Muhammad Nur Hayid berkesempatan mengunjungi kawasan ini, Selasa (11/11/2008), bersama rombongan wartawan daerah kerja (daker) Madinah. Rombongan yang mengunakan mobil L300 berpenumpang 12 orang itu dapat ‘mencicipi’ keajaiban Jabal Magnet yang dikenal sebagai ‘mantiqotul baido’ oleh orang Arab di saat teriknya matahari Madinah.

Jabal Magnet berjarak sekitar 30 menit perjalanan dengan menggunakan mobil dari pusat Kota Madinah. Panorama di sepanjang jalan menuju kawasan ini cukup indah. Selain jalannya yang lurus dan bersih, di sebelah kiri kanannya terdapat kebun kurma dan pohon-pohonan hijau yang membuat padang gurun yang gersang tampak berwarna. Di sepanjang jalan, kita bisa menjumpai gerombolan masyarakat Arab yang menernakkan unta mereka.

Jabal Magnet tidak ditandai secara khusus seperti layaknya tempat wisata yang lain. Hanya saja di kawasan itu dibangun sebuah bundaran yang didalamnya terdapat taman bunga dan tenda-tenda sewaan yang diperuntukkan bagi para peziarah.

Meski hanya berupa hamparan gunung dan pasir berwarna agak keputihan, areal ini cukup menarik hati para jamaah haji dari berbagai negara, termasuk tentu saja dari Indonesia. Dari pantauan detikcom, setidaknya rombongan jamaah haji dari Pakistan dan Bangladesh turut mengunjungi areal ini.

Keajaiban Jabal Magnet terletak pada pengaruh yang diberikannya kepada logam besi. Yang paling terasa ketika kita naik mobil hendak meninggalkan areal tersebut. Dengan posisi mesin mobil normal, kendaraan roda empat itu bisa melaju sekencang 120 km/jam saat meninggalkan Jabal Magnet. Pengaruh itu terasa hingga berjarak antara 1 sampai 4 km dari lokasi.

Namun pengaruh berkebalikan dirasakan ketika kita mendekati areal tersebut. Daya yang ditimbulkan oleh bukit magnet ini membuat kendaraan yang hendak mendekat merasakan daya tolak sehingga terasa lebih berat.

“Ini terasa banget kalau mau nyampe. Berat meski kita setel perseneling 4. Tapi kalau pas pulang, kita kosongkan dengan posisi normal, mobil jalan sendiri. Subhanallah,” kata sopir kami, Sapak Sully, seraya menggumamkan ketakjuban dengan menyebut nama Allah. (yid/sho)

Read Full Post »