Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2009

PEMALSUAN PASPORT TIDAK MEMPENGARUHI KESHAHAN IBADAH HAJI

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum ibadah haji orang yang pergi haji dengan menggunakan passport palsu?

Jawaban
Ibadah hajinya sah, sebab pemalsuan passport itu sama sekali tidak mempengaruhi ke-sah-an ibadah haji, namun ia berdosa, wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengganti nama palsunya (di passport) dengan nama aslinya agar tidak terjadi pengelabuan terhadap para petugas dan supaya kewajiban-kewajibannya yang harus ia tunaikan dengan nama aslinya tidak terabaikan lantaran nama kedua berbeda dengan nama pertamanya. Dengan cara seperti itu berarti ia telah memakan harta secara tidak benar (batil) yang dibarengi dengan kedustaan di dalam pemalsuan nama.

Pada kesempatan yang baik ini, saya nasehatkan kepada saudara-saudaraku, bahwa masalah ini bukan masalah yang sederhana bagi mereka yang melakukan pemalsuan nama (pada passport) dan menggunakan nama lain demi mendapatkan kemudahan dari negara atau kemudahan lainnya. Sebab itu adalah tindakan pengelabuan di dalam bermu’amalah, kedustaan dan kecurangan, penipuan terhadap para petugas dan penguasa. Hendaklah mereka ketahui bahwa barangsiapa yang bertaqwa (takut) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Allah memberikan jalan keluar baginya dan memberikannya rizki dari arah yang tidak ia duga, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah memudahkan urusannya, dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengatakan yang benar niscaya Allah memperbaiki amalannya dan mengampuni dosa-dosanya.

[Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatwa seputar rukun Islam, hal.572]

Advertisements

Read Full Post »

Do’a Bersama Di Arafah Dan Tempat Lain

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum do’a bersama pada hari ‘Arafah baik di Arafah atau tempat lainnya ? Di mana seseorang dari jama’ah haji membaca do’a yang terdapat dalam kitab-kitab do’a yang disebut ‘Do’a Arafah’ dan do’a-do’a lainnya, sedangkan para jama’ah mengulangi apa yang diucapkan oleh seseorang tersebut dan mereka tidak mengucapkan amin. Apakah berdo’a seperti itu dinilai bid’ah atau tidak, beserta dalilnya ?

Jawaban
Yang utama bagi orang yang haji pada hari Arafah yang besar itu adalah tekun dalam berdo’a dan merendahkan diri kepada Allah seraya mengangkat kedua tangan. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tekun dalam berdo’a dan dzikir pada hari tersebut hingga matahari terbenam. Yaitu setelah shalat dzuhur dan ashar dengan jama’ dan qashar di lembah Arafah, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju ketempat wukuf lalu wukuf disamping batu-batu besar dan di bukit yang sekarang dinamakan ‘Al-Aal”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tekun dalam berdo’a dan dzikir seraya mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat dengan duduk di atas untanya. Allah mensyari’atkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdo’a dengan merendahkan diri, suara pelan dan khusyu’ kepada Allah seraya penuh harap dan cemas. Terlebih bahwa bukit Arafah merupakan salah satu tempat berdo’a yang paling utama. Allah berfirman.

“Artinya : Berdo’alah kepada Rabbmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas’ [Al-Ar’arf : 55]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.

“Artinya : Dab sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan tidak dengan mengeraskan suara” [Al-A’raf : 205]

Dan dalam Shahihaian disebutkan.

“Artinya : Abu Musa al-Asyari Radhiallahu ‘anhu berkata : ‘Manusia mengeraskan suara dengan bedo’a, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Wahai manusia, rendahkanlah suaramu, sesungguhnya kamu tidak berdo’a kepada yang tuli dan yang tidak hadir dalam majlis. Sesungguhnya dzat yang kalian berdo’a kepada-Nya adalah Maha Mendengar lagi Maha Dekat lebih dekat kepada seseorang diantara kamu dari leher binatang tunggangannya” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Zakariya ‘Alaihis Salam karena berdo’a dengan suara lembut.

“Artinya : (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabb kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdo’a kepada Rabbnya dengan suara yang lembut”. [Maryam : 2-3]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu” [Al-Mukmin : 60]

Banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits yang menghimbau untuk dzikir dan berdo’a kepada Allah. Di tempat ini disyari’atkan berdo’a dengan lebih khusus, yaitu dengan memperbanyak dzikir dan do’a dengan ikhlas dan khusyu’ serta penuh harap dan cemas. Sepengetahuan saya adalah disyari’atkan mengeraskan suara dalam berd’oa dan talbiyah di Arafah sebagaimana dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, semoga Allah meridhai mereka. Tapi jika seseorang berdo’a dalam jama’ah dan jama’ah mengaminkan do’anya maka demikian itu tidak mengapa, seperti dalam do’a qunut, do’a khatam al-Qur’an, do’a istisqa, dan lain-lain. Adapun berkumpul pada hari Arafah selain padang Arafah maka tidak ada dasarnya sama sekali dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak berdasarkan perintah kami, maka dia ditolak”. [Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya]
Dan allah adalah yang memberikan pertolongan kepada kebenaran.

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, penyusun Muhammad bin Abadul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »