Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2009

Anda gagal berangkat haji tahun 1430 H ini akibat keterbatasan kuota? Jangan bersedih dan jangan menyesal. Justru kalau tahun ini berangkat, maka Anda tidak melihat Masjidilharam “baru” yang amat sangat luas dengan sistem real estate terpadu yang luar biasa. Sebab, tahun ini, projek perluasan Masjidilharam masih dalam proses pengerjaan. Baru sepuluh tahun ke depan, projek besar pembangunan Kota Mekah Al-Mukaramah selesai dibangun. Namun setidaknya, Masjidilharam bersama pembangunan sekitarnya sudah dapat dilihat hasilnya pada musim haji 1431 H.

Projek besar pembangunan Kota Mekah merupakan keniscayaan. Sebab, setidaknya tiga juta orang datang ke kota ini setiap musim haji, dan beberapa kali lipat lagi jumlah jemaah umrah sepanjang tahun. Padahal, kapasitas Masjidilharam hanya mampu menampung sekitar satu juta orang. Itulah sebabnya, penyelenggaraan haji selalu ruwet dipusingkan oleh perumahan dan pemondokan yang kurang, transportasi yang terbatas, tempat ibadah yang sempit, dan problem sosial lain sebagai ikutan dari membludaknya jemaah.

Keputusan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang akan membangun projek raksasa senilai RS 50 miliar (RS 1 kurang lebih setara dengan Rp 2.600,00) adalah tepat. Karena untuk mengatasi sempitnya areal ibadah adalah dengan cara memperluasnya. Persoalannya, selama ini, lingkungan Masjidilharam penuh sesak dengan hotel dan penginapan, dari hotel bintang lima yang sangat mewah, hingga bangunan lama peninggalan zaman syeikh. Tempat ini mampu menampung sekitar sejuta jemaah.

Tidak peduli. Keputusan Pemerintah Arab Saudi adalah untuk dilaksanakan, bukan diwacanakan. Berapa pun besarnya nilai hotel dan perumahan serta tanah yang ada di sekitar Masjidilharam diganti. Setidaknya, 1.000 hotel dan rumah yang berada di Syamiya, sisi utara Masjidilharam diruntuhkan. Para pemiliknya mendapatkan ganti rugi tak kurang dari RS 6 miliar. Di sisi timur Masjidilharam yang sebelumnya dikenal dengan Pasar Seng dibangun projek perluasan ke Jabal Khandama seluas 150.000 meter persegi.

Jabal (Bukit) Omar yang terletak di sisi barat daya Masjidilharam segera diratakan dengan cara merobohkan bangunan yang ada serta meruntuhkan gunung, kemudian digali dan dipancangkan foundasi. Lokasi ini akan dibangun komplek perumahan dan hotel serta pusat belanja. Selain itu, tempat ini juga akan dibangun tempat perluasan tempat salat yang mampu menampung 120.000 orang. Di bagian tenggara Masjidilharam, di sekitar Rumah Sakit Ajyad, segera dibangun rumah sakit modern dan pusat kesehatan yang dilengkapi fasilitas gawat darurat.

Dengan pembangunan projek raksasa ini, diharapkan sebagian besar jemaah yang terus bertambah dapat tertampung di sekitar masjid. Di samping itu, kapasitas Masjidilharam dapat terus meningkat hingga mampu menampung semua jemaah yang datang. Mereka tidak lagi melaksanakan salat di emperan toko atau di jalan-jalan yang menyambung ke masjid. Tapi setidaknya, mereka dapat melaksanakan salat di masjid perluasan Masjidilharam yang ada sekarang.

Akibat pembangunan raksasa ini, jemaah haji yang tengah beribadah di Masjidilharam mendengar gemuruh pembangunan Masjidilharam yang terus berjalan sepanjang 24 jam. Di luar jam salat, jemaah yang melaksanakan ibadah di seputar Masjidilharam dapat menyaksikan puluhan mobil becho sedang meruntuhkan gunung Syamiya. Ratusan truk hilir mudik mengangku batu dan tanah bekas galian. Gunung batu keras yang tadinya menjulang kini digali semakin dalam untuk pembuatan foundasi. Namun di atas sisa gunung yang masih menjulang berdiri ratusan rumah dan hotel yang sudah dikosongkan dari penghuninya. Pemandangan yang sangat dramatis.

Pasar Seng yang dulunya selalu menjadi tempat favorit jemaah Indonesia berbelanja, saat ini menjadi tempat terbuka. Namun belum terlihat ada bangunan. Hanya puluhan kios yang memberikan layanan potong rambut masih berdiri berjejer, namun sifatnya tidak permanen. Bangunan ini setiap saat bisa digusur. Tidak ada lagi toko yang menjajakan tasbih, tas, pakaian, jam, dan barang elektronik seperti di masa lalu, hanya beberapa bagalah (warung) yang menjajakan minuman yang masih berdiri dengan bangunan yang tidak permanent. Toko yang dulu sangat meriah kini mundur ke belakang, sebagaimana jemaah haji juga mundur tempat tinggalnya.

Jabal Omar yang terletak di sekitar Istana Raja belum mengalami pembongkaran. Namun wilayah ini sudah terlihat lesu. Sebab, hotel dan penginapan yang tinggi menjulang sudah tidak ada penghuninya lagi. Mereka tinggal menanti setiap saat diruntuhkan. Memang rumah dan hotel ini masih terlihat ada satu atau dua orang penjaga, namun kamar dan bangunan di bagian atas tak lagi terlihat nyala listrik. Gelap gulita.

Menutut sejumlah mukimin yang tinggal di Mekah, di luar musim haji, gedung dan perhotelan yang besar diruntuhkan menggunakan dinamit. Dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi, gedung-gedung itu diruntuhkan dalam hitungan menit tanpa menimbulkan kerusakan pada lingkungan. Tembok dan atap bangunan seperti kompak runtuh ke dalam, seperti tanaman yang layu. Puluhan kendaraan becho kemudian mengeruk bekas bangunan. Dengan truk, bekas bangunan itu diangkut ke luar Kota Mekah.

Pembangunan perluasan Masjidilharam yang “gila-gilaan” ini sepertinya sudah dihitung secara detail tentang peluang pencemaran lingkungan. Karena pembangunan ini bagaimanapun akan menyebabkan debu berterbangan ke mana-mana, bahkan berpeluang masuk ke Masjidilharam saat jemaah sedang padat-padatnya. Namun pada kenyataannya, setiap batu dan tanah yang dikeruk selalu diikuti dengan siraman air, sehingga debu itu tidak sempat terbang ke udara, kecuali sedikit.

Di pinggir pembangunan projek perluasan di bagian Syamiyah ini berdiri juga puluhan bagalah yang menyediakan makan dan minum bagi jemaah haji, baik makanan khas Arab, Pakistan, Turki, bahkan masakan Indonesia. Sembari menikmati jajanan dan minuman, jemaah haji dapat menyaksikan bagaimana secara perlahan mobil peralatan berat itu meruntuhkan gunung batu yang amat keras dengan mudah.

Ring Dua

Projek pembangunan perluasan Masjidilharam inilah yang menjadi penyebab utama mengapa jemaah haji selama dua tahun terakhir ini mengalami pergeseran tempat tinggal. Jika di masa lalu sebagian jemaah bisa tinggal di penginapan yang jaraknya antara 50 meter hingga 1.000 meter dari Masjidilharam, sekarang tidak bisa lagi. Paling dekat, jemaah tinggal satu kilometer dari Masjidilharam, karena projek perluasan masjid ini rata-rata seluas radius satu kilometer itu dari masjid.

Maka akibatnya, sekitar 50.000 jemaah haji Indonesia yang biasanya tinggal di sekitar Masjdilharam harus tergusur. Perumahan di masa lalu yang disebut sebagai Ring II, kini berubah menjadi Ring I, sedangkan Ring III di masa lalu, kini menjadi Ring II. Namun jemaah haji yang mengalami penggusuran tempat tinggal ini tidak hanya dialami jemaah Indonesia. Jemaah haji dari negara lain yang memiliki jemaah dalam jumlah yang banyak juga menempatkan mereka di wilayah yang jauh hingga berjarak 10 km.

Maka di wilayah yang jauh tersebut, selain jemaah Indonesia, terlihat jemaah asal Turki. Mereka juga menggunakan kendaraan jemputan saat pergi maupun pulang dari Masjidilharam, sebagaimana jemaah haji Indonesia. Meski demikian, sebagian dari mereka melaksanan salat sehari-hari di masjid di lingkungan mereka tinggal. Maka masjid bagus dan besar yang salam ini sepi, menjadi semakin hangat dengan meningkatnya jemaah tersebut.

Hanya istana raja yang digunakan untuk guest house yang tidak digusur beserta sejumlah hotel raksasa di sampingnya yang masih berdiri tegak. Hotel inilah yang digunakan jemaah haji biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) khusus. Kelihatannya, hotel ini merupakan bagian dari megaprojek perluasan masjid, sehingga mereka tidak tergusur, bahkan terus disempurnakan bangunannya hingga tinggi menjulang.(Wachu)

Read Full Post »

Suryadarma Ali meminta kepada seluruh jamaah haji Indonesia untuk mendoakannya, agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai Menteri Agama, yang menurutnya jauh lebih berat daripada saat menjabat Meneg Koperasi dan UKM. Hal itu dikemukakan ketika berbicara dihadapan jamaah calon haji kloter 35 asal Klaten Senin (2/11) di asrama Haji Donohudan Boyolali. Menag yang didampingi tujuh pejabat eselon I (Dirjen Pendis, Dirjen Bimas Islam, Dirjen Haji, Dirjen Bimas Hindu, Dirjen Bimas Budha, Irjen dan Kapuslibang) dan beberapa wartawan untuk selanjutnya membuka konferensi studi Islam di Balaikota Solo

Pada kunjungan singkatnya Menag mengemukakan, setiap jamaah haji boleh dipastikan akan menghadapi kesulitan ketika berada di Tanah Suci. “Sekecil apapun setiap jamah haji tidak dapat menghindarinya, seperti makan atau mandi harus antri, menghadapi kemacetan jalan di Makkah,” jelasnya.

Untuk itulah, setiap jamaah harus menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi agar tidak terjadi gesekan sesama jamaah. Makanya, kalau mandi tidak perlu berlama-lama, jangan disamakan di rumah sendiri, karena harus bergantian dengan yang lain,” ujarnya seraya mendoakan agar seluruh jamaah haji Indonesia bisa melaksanakan ibadah selama di Tanah Suci dengan lancar aman dan meraih haji mabrur.

Ketika meninjau asrama haji Donohudan, Menag mengaku kagum dengan kelengkapan sarana dan fasilitas asrama yang cukup representatif. Selain itu, dia yakin jika pelayanan haji di Solo cukup bagus, karena hingga saat ini tidak ada keluhan dari jamaah.

Sementara itu, Ketua PPIH Embarkasi Solo Masyhudi menjelaskan tentang kondisi kesehatan jamaah calon haji yang diberangkatkan melalui embarkasinya cukup memprihatinkan karena 6.288 orang tergolong resti dari 33.136 calhaj. Namun dia bersyukur karena pelayanan kesehatan di asrama haji Donohudan lebih baik dibanding tahun lalu, terutama dengan diperluasnya kapasitas rawat inap di poliklinik embarkasi.(H. Akhmad Suaidi)

Read Full Post »

Untuk saat-saat ini jemaah calon haji yang berziarah ke makam Rasulullah dapat melihatnya langsung karena kisi-kisi yang menutupinya dibuka oleh aparat yang menjaga makam nabi itu. Selain makam Rasullullah juga bisa pula dilihat makam Abu Bakar Ass-siddiq dan Umar Bin Khottab yang berada di sisi makam nabi.

Alamsyah Hanafiah, jemaah Indonesia yang berkesmpatan melihat langsung makam pembawa ajaran Islam tersebut menandaskan, dengan melihat langsung makam Rasulullah semakin mendekatkan secara psikologis antara nabi dan umatnya.

Makam tersebut lanjut Alamsyah menjadi bukti konkrit bagi dirinya akan kebenaran nabi dan ajaran yang dibawanya. Karena selama ini yang dia dengar hanyalah cerita dari masa lalu. Dengan melihat langsung makam nabi, ada gambaran baginya tentang sosok nabi tersebut sehingga menambah keyakinan tentang ajaran yang dibawanya.

Makam rasululloh ini, terletak dibagian sebelah kiri masjid, dan dahulunya merupakan kamar pribadi Rasulullah SAW dan isterinya. Rasulullah SAW dimakamkan di dalam kamar yang tetap dalam kondisinya seperti semula, sampai pada tahun 90 H, kamar tersebut dijadikan sebagai bagian dari masjid.

Kemudian di sekeliling makam yang itu dibangun tembok berbentuk segi lima pada masa Khalifah al Walid dari Dinasti Umayyah, agar tidak serupa dengan kabah yang berbentuk persegi empat, sehingga tidak dikhawatirkan untuk dijadikan sebagai qiblat shalat.
Orang pertama kali membuatkan penutup bagi makam itu adalah Abdullah ibn Abi al Haija, salah seorang pemimpin Dinasti Fathimiyah dari Mesir. Pada tahun 557 H, dibuatkan penutup dari logam yang ditanam disekitar Makam Nabi SAW, agar tidak terjadi pencurian atas jasad nabi. Tahun 668 H, dibangun kisi-kisi penutup disekitar makam, dan termasuk rumah. Fathimah , juga dimasukkan didalamnya. Kisi-kisi tersebut memiliki empat pintu, yang keadaannya tidak ada perubahan sampai saat ini. (MA Effendi, Depag)

Silahkan baca juga artikel bermanfaat di bawah ini:

2. Ziarah Ke Masjid Nabawi Wajibkah dalam Haji ?

3. Koreksi Seputar Amalan di Musim Haji

 

Read Full Post »

Hudaibiyah merupakan tempat Rasulullah Muhammad SAW melakukan perjanjian Hudaibiyah dengan kaum kafir Qurais. Kini kota kecil ini sering dikunjungi jamaah calon haji untuk melihat dan membeli susu murni onta.

Anda dapat meminum susu onta segar, rasanya… Wuihh bener-bener segar. Coba Yuk..

1. Gambar kawasan Hudaibiyah

2. Gambar Onta yang hamil (edit) yang dipisahkan dari kelompoknya agar tenang.

3. Onta sedang minum

4. Gambar onta saat diperah susunya (edit).

5. Gambar peternak (edit) memasukan susu onta ke  dalam botol siap beli (5 real saja)

6. Gambar masjid di Hudaibiyah

7. Gambar reruntuhan bagunan tua Hudaibiyah

Sumber: http://www.detik.com

Read Full Post »

Kejujuran masih terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakat berhaji dan kehidupan di Tanah Suci. Bahwa terjadi tindak kriminal, hal itu sama sekali tidak mencerminkan keadaan yang menakutkan dalam pelaksanaan rukun Islam kelima. Karena tindak kejahatan sangat sedikit dan tidak mewakili jemaah haji yang sedemikian massal.

Kejujuran ditunjukkan jemaah asal Turki saat menemukan bungkusan amplop dalam tas keresek yang diikat karet di lingkungan masjid di wilayah Shisya, Selasa (17/11). Setelah dicek, dalam amplop tersebut terdapat uang RS 1.500 atau sekitar Rp 5 juta.

Saat itu, seorang penceramah asal Turki sedang berpidato menjelang salat zuhur di masjid. Tiba-tiba, jemaah yang menemukan amplop tersebut maju ke depan mimbar dan menyerahkan amplop tersebut kepada sang juru dakwah. Saat waktu zuhur kurang lima menit, pendakwah ini mengumumkan bahwa ditemukan uang dalam amplop yang dibungkus plastik.

“Barang siapa yang merasa kehilangan dipersilakan menghubungi dirinya serta jemaah asal Turki yang menemukannya, dengan membawa barang bukti bahwa dirinya kehilangan,” kata juru dakwah tersebut.

Tidak seorang pun jemaah Masjid Shisya yang merasa kehilangan. Dua orang jemaah Indonesia yang duduk di depan kemudian ikut meneliti temuan jemaah Turki itu. Ternyata, amplop yang ditemukan ada stempel jemaah Jawa Timur yang menunjukkan bahwa uang tersebut adalah biaya “living cost”.

Karena waktu sudah masuk, azan zuhur pun berkumandang. Tapi begitu azan selesai, jemaah Indonesia yang ikut meneliti barang temuan itu diminta mengumumkan dalam bahasa Indonesia. Maka jemaah asal Makassar, Sulawesi Selatan itu mengumumkan adanya temuan. Tapi, lagi-lagi tak seorang pun jemaah merasa kehilangan.

Akhirnya diputuskan, penceramah, penemu uang, ditemani Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia H. Mubarok menyerahkan uang temuan kepada Kepala Daerah Kerja Mekah H. Subakin. Kadaker kemudian meminta stafnya untuk menelusuri jemaah asal Surabaya yang kehilangan untuk diserahkan kepada pemiliknya.

Kasus kecopetan

Lain lagi kasus yang menimpa petugas haji di Madinah. Malam itu ia diantar sopir akan berbelanja di di Jln. King Fahd. Tiba-tiba dari sebelah kiri mobilnya digedor dengan keras oleh seseorang. Setelah dibuka, rupanya orang tersebut menawarkan ziarah, meskipun malam hari.

Saat mobil sebelah kiri depan digedor, tas yang ada di dalam dashboard depan diambil copet dari sebelah kanan. Tak disadari sama sekali, petugas ini dalam hitungan detik sudah kehilangan dompet itu. Anehnya, keesokan harinya, seorang jemaah asal Bangladesh datang ke Kantor Daerah Kerja Madinah. Ia mengantarkan tas yang berisi uang lebih dari RS 5.000 atau setara dengan Rp 13 juta.

Jemaah yang membawa tas tersebut bercerita, dirinya merasa aneh karena di dalam mobil bak terbuka miliknya tiba-tiba ada tas hitam. Setelah dibuka, tas tersebut ternyata berisi uang, ID card, dan flash disk, dan sejumlah surat penting yang lain. Karena terdapat ID card petugas haji Indonesia, jemaah Bangladesh itu selama berjam-jam mencari kantor Safarah Indonesia dan akhirnya menemukan Kantor Daker Madinah itu.

Penemu tas tersebut kemudian dipertemukan dengan petugas yang kehilangan tas. Sebelum menyerahkan tas itu, jemaah Bangladesh melakukan “tes”. “Apa yang ada dalam tas tersebut?” kata dia.

“Ada uang lebih dari RS 5.000, ada telefon seluler, ada id card, ada beberapa permen, dan ada telefon seluler,” kata petugas haji yang kehilangan sembari mulai optimis setelah seharian merasa bersalah karena kehilangan barang.

“Betul,” jawab jemaah Bangladesh. “Tapi masih ada barang penting lain, berupa flash disk. Berapa jumlahnya?” kata dia. Petugas haji yang kehilangan ini pun langsung teringat bahwa flsh disk yang ada di dalamnya berisi tiga buah. “Betul,” kata jemaah Bangladesh.

Maka jemaah Bangladesh itu pun menyerahkan tas kepada pemiliknya. Sebagai tanda terima kasih, petugas itu menyerahkan sejumlah uang kepada jemaah Bangladesh. Tapi ia tidak bersedia menerimanya. Karena mengembalikan harta kepada pemiliknya adalah kewajiban seorang Muslim.

Rupanya pencopet segera mengambil telefon di dalam tas tersebut, kemudian secara kilat melemparkan tas sisanya ke dalam mobil bak terbuka yang sedang terkena macet. Pencopet pun tidak mudah beraksi di Tanah Suci. Sebab saat ketahuan dia mencuri dan memiliki barang bukti, dia akan dihukum berat. Maka, begitu mengambil handphone dia langsung melemparkan tas yang berisi uang sekitar Rp 13 juta.

Begitulah, kejujuran masih terpelihara dengan baik di kalangan jemaah haji. Bahkan untuk memelihara kejujuran ini, pemerintah Arab Saudi memberikan sanksi keras kepada siapa pun yang mencoba tidak jujur. Akibat “treatment” ini, seorang petugas haji di Madinah tahun 1429 sempat ditahan aparat keamanan.

Saat itu, dia menemukan uang di dalam Masjid Nabawi. Maksud hati ia akan menyerahkan uang itu kepada bagian penemuan barang di dalam masjid. Karena menjelang salat, ia memasukkan uang itu ke dalam kantong sakunya, dengan maksud akan menyerahkan barang temuannya ke bagian kehilangan barang. Namun malang, sebelum salat berlangsung, dia sudah ditangkap aparat keamanan setempat karena penemuan barang itu terpantau oleh CCTV yang selalu mengawasi seluruh gerak-gerik jemaah. Setelah melakukan klarifikasi, petugas itu baru dilepaskan. (Wachu)

Read Full Post »

Mendekati puncak ibadah haji, jumlah jemaah calon haji (calhaj) Indonesia yang tersesat mendekati seratus orang per hari. Mayoritas jemaah tersesat itu berusia lanjut.

“Kemarin lusa yang tersesat jalan 111 orang, kemarin 97 orang, hari ini ada 83 orang. Jemaah tersesat jalan biasanya kami jumpai setiap kali selesai waktu salat,” ujar Kepala Sektor Khusus Jemaah Sesat jalan M Ali Saifudin, Senin (16/11).

Dibandingkan dengan kondisi pada awal November, saat jemaah Indonesia baru masuk Mekah, jumlah itu meningkat drastis. Pada awal-awal November, jumlah rata-rata jemaah tersesat berkisar tiga puluhan orang per hari.

Ali mengungkapkan, semakin banyaknya jemaah Indonesia yang berada di Mekah, ditambah suasana Masjidil Haram yang semakin padat dengan jemaah dari penjuru dunia membuat jemaah mudah terpisah dari rombongan. Akibatnya, jemaah mudah tersesat. Terlebih, umumnya jemaah tersebut tidak mengenal medan dengan baik.

“Jumlah pintu Masjidil Haram ada 94 buah, ketika jemaah masuk dari pintu yang satu, terus keluarnya dari pintu yang lain, mereka jadi bingung dan tersesat,” kata Ali.

Ali menambahkan, mayoritas jemaah yang tersesat berusia 60 tahun ke atas. Ada yang dijumpai tersesat sendirian, ada pula yang berombongan. “Pernah ada dua puluhan jemaah tersesat bersama karena ketua rombongannya tidak memahami jalan,” kata Ali.

Sebagian dari jemaah tersesat, menurut Ali, hanya mampu berkomunikasi dengan bahasa daerah. Hal itu menimbulkan kesulitan tersendiri saat petugas jemaah sesat hendak menanyakan nomor rumah pemondokannya. Namun setelah mencocokkan identitas di gelang identitas dengan “data base” jemaah, persoalan itu terselesaikan.

Untuk mengurangi risiko jemaah tersesat, Ali menganjurkan agar jemaah mengenali medan . Mereka harus ditunjukkan lokasi dan pintu-pintu yang bisa dijadikan patokan. Saat hendak masuk masjid, jemaah disarankan tidak meletakkan alas kaki di tempat penitipan sandal yang berada di luar masjid. Sebaiknya, jemaah menaruh sendal atau sepatunya di tas kresek dan membawa serta ke dalam masjid. Dengan begitu, saat hendak keluar masjid jemaah lebih leluasa untuk keluar lewat pintu mana saja. (Eni/Siwi, Depag)

Read Full Post »

Berikut ini kami sampaikan pada pembaca sekalian beberapa berita haji, terkait maraknya kasus penipuan dan pencurian yang terjadi saat musim haji di Tanah Suci. Semoga tulisan ini membuat kita waspada saat berhaji, karena walaupun tempat haji berada di Tanah Suci, namun kejahatan tetap dapat terjadi. Untuk itu Waspadalah.

Waspadai Pencurian di Pemondokan

Jemaah Calon Haji Indonesia diminta untuk mewaspadai kasus pencurian modus baru yang dilakukan di pemondokan. Selain kasus pencopeten dan penjembretan yang selama ini menimpa jemaah calon haji Indoneia ketika berada di Madinah yang biasanya di lakukan di sekitar Mesjid Nabawi.

Menurut Kepala Seksi Pengamanan Daerah Keja Madinah Azharudin Jamin kasus pencurian di pemondokan yang dialami jemaah Indonesia mencapai 15 kasus, kasus pencurian ini terjadi di pemondokan yang di laur markaziah. “Modus yang digunakan pelaku pada shloat subuh dan waktu magrib hingga sholat isya,” jelas Azhardin Jamin.

Pelaku kriminal ini, tambah Azharudin diindikasikan bukan dilakukan jemaah maupun orang luar karena keika kamar ditinggalkan dlam keadaan terkunci dan kunci dititipkan kepada resepsionis. Ketika pulangpun dalam keadaan terkunci, namun tempat penyimpanan barang sudah terbuka.

Menyangkut model pengamanan, menurut Azharudin diserahkan kepada Majemuah sesuai denga kesepakatan dalam kontrrak. Majmuah seharusnya juga bertanggungjawab untuk menggantinya setiap adanya kehilangan yang alami jemaah Indonesia . “Hanya saja dari belasan kasus yang terjadi di pemondokan, baru 3 kasus yang mendapat penggantian dari Majmuah,” jelas Azharudin.

Untuk pengamanan ke depannya, jemaah diimbau untuk berhati-hati dan pengamanan harus melekat pada jemaah itu sendiri. Oleh karena itu peran ketua kloter, ketua rombongan dan ketua regu untuk mengingatkan kepada rombongannya agar barang-barang berharga ditiipkan kepada petugas.

Azharudin menambahkan jemaah Indonesia belum banyak yang tahu mengenai adannya brankas yang ada di setiap kamar, karenanya brankas ini belum banyak dimanafaatkan oleh jemaah untuk menyimpan barang-barang berharag miliknya. (MA Effendi, Depag.go.id)

Kerugian Pencurian yang Menimpa Jemaah Haji Capai 208 Juta Rupiah

Kerugian kasus pencurian atau penjembretan terhadap jemaah Indonesia di Madinah mencapai SR 80.000 atau sekitar Rp. 208.000.000,- Kasus pencurian atau penjembretan yang dialami jemaah Indonesia selama di Madinah tercatat 50 kasus atau 0,05% . Sedangkan total jemaah Indonesia yang telah berada di Madinah selama gelombang pertama yaitu sekitar 98.000 orang.

Menurut Kepala Seksi PAM Daerah Kerja Madinah Azharudin M Jamin kasus-kasus kriminal yang dialami oleh jemaah Indonesia langsung dilaporkan ke Surthoh Markaziah atau kantor kepolisian di Madinah dan Mabais (bagian inteljen). Kepolisian Madinah sendiri kemudian menangkap lebih dari 20 orang yang diduga melakukan kriminal terhadap jemaah Indonesia .

“Ke-20 orang tersebut rata-rata WNI, dan yang tertangkap tangan hanya satu orang, yang lainnya masih diduga,: jelas Azharudin. Menurutnya kepolisian sendiri sangat responsif menagani kasus criminal yang dialami oleh jemaah Indonesia dengan melakukan razia dan menangkap orang-orang 0yang dicurigai di sekitar Mesjid Nabawi sehingga menurunkan angka kriminalitas terhadap jemaah Indonesia .

“Kami akan terus melakukan koordinasi dengan kepolisian setempat untuk menangani kasus-kasus seperti ini,” ungkapnya.

Azharudin berharap kepada jemaah untuk lebih hati-hati dengan tidak membawa banyak uang maupun barang-barang berharga dan masing-masing diharapkan bisa menjaga keamanan. (MA Effendi)

Kejahatan Bukan Semata Niat Tapi Karena Ada Kesempatan

Jamaah calon haji (Calhaj) supaya berhati-hati saat bepergian dan tidak membawa uang serta barang berharga demi kemananan dan keselamatan. Berdasarkan rekapitulasi kehilangan uang dan barang di daerah kerja Mekkah sampai Minggu (8/11) tercatat Rp 81.542.500 kerugian yang dialami jamaah calon haji (Calhaj) karena kecopetan, ditipu, teledor atau lupa. Rinciannya SR21.657, Rp27.400.000, US Singapura 210, ponsel 9 unit, kamera 2 unit dan Alquran digital 1 unit.

“Karena itu, calhaj diimbau tidak membawa uang banyak dan benda berharga saat melakukan aktifitas diluar pemondokan. Jangan mudah percaya dengan hasutan orang yang baru dikenal meski dia mengaku dan bisa berbahasa Indonesia,” tegas Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah H Subakin, Senin (9/11), kemarin.

Subakin menyatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada calhaj supaya tidak menjadi korban kejahatan selama berada di Kota Mekkah. “Imbauan untuk berhati-hati kita tempel di setiap pemondokan dan didalam bus yang mengantar mereka selama di Kota Mekkah. Kemudian, kepada ketua kloter atau rombongan juga tak henti-hentinya melakuakan sosialisasi tersebut,” jelasnya.

Kepala Seksi Keamanan Daker Mekkah mengungkapkan sistem keamanan disekitar pemondokan sudah dilakukan pengetatan karena selain penghuni dilarang masuk tanpa izin petugas setempat. Jamaah juga diimbau selalu bersama-sama rombongan saat bepergian. “Karena itu jamaah sebelum meninggalkan kamar pintu sudah terkunci dan tidak membawa barang berharga dan uang dalam jumlah besar. Cukup membawa uang untuk membeli makan saja,” tuturnya.

Dia menambahkan, kerugian yang dialami jamaah juga biasanya disebabkan karena keteledoran. “Padahal dalam suasana yang serba padat dan crowded jamaah harus lebih meningkatkan kewaspadaannya,” pungkasnya.

Kepala Sektor Khusus Masjidil Haram Ali Saefuddin mengungkapkan, sedikitnya 20 – 35 jamaah yang melapor tersesat jalan menuju pemondokan. “Mereka umumnya ditemukan dalam kondisi bingung dan kelelahan karena sudah muter-muter mencari jalan menuju pondokan,” ujarnya di pos khusus, kemarin.

Menurut Ali, jamaah tersesat ini kerap menjadi sasaran para pelaku tindak kriminal. Sedikitnya sudah terjadi lebih dari tujuh tindak kriminal yang menyasar jamaah yang sudah uzur ini. Modusnya rata-rata hampir sama, yaitu berpura-pura menolong dan meminta identitas untuk kemudian merampas tas korban.

Karenanya, ia meminta para ketua rombongan untuk menjaga keutuhan rombongannya. Bila terpaksa harus meninggalkan salah satu jamaahnya karena suatu alasan, maka sebaiknya jamaah itu dititipkan di tempat yang aman. “Kalau di dalam Masjidil Haram, bila dia jamaah perempuan, sebaiknya dititipkan askar di shaf khusus perempuan tak jauh dari Multazam,” ujarnya. (boy iskandar)

Pencurian dengan Penipuan

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petugas non kloter Bidang Pelayanan Jamaah Tersesat, Idi Amien di Kota Makkah, telah terjadi beberapa kali tindak kriminal dialamai oleh Jamaah Calon Haji (JCH) asal Indonesia.

Seperti yang terjadi kemarin, disekitar Masjidil Haram. Seorang warga asing yang mengaku petugas keamanan membawa kabur tas berisi uang sebesar 1.400 Riyal yang dititipkan kepadanya saat korban masuk kamar kecil. Pelaku berpura-pura menjadi petugas dan melarang korban membawa masuk tas dan barang bawaan lainnya ke kamar kecil, kemudian menyarankan agar dititipkan kepadanya. “Hingga akhirnya pelaku bisa dengan leluasa membawa tas tersebut kabur,” ungkap Kasub Bag Tata Usaha (TU) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Syamsudin Noor Banjarmasin, Hidayaturrahman.

Untuk itu lanjut Hidayat, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kalsel kembali mengimbau kepada para JCH agar dapat mewaspadai segala gerak gerik yang mencurigakan. “Kita ingatkan kepada JCH, kalau ke pasilitas umum, seperti rumah makan, kamar kecil dan tempat layanan lainnya supaya tidak sendirian. Kemudian jangan mudah percaya terhadap seseorang yang mengaku sebagai petugas atau yang menawarkan bantuan sebelum diketahui dengan jelas status dan keberadaannya. Sebab, dengan banyaknya manusia yang berasal dari berbagai negara, semakin beragam pula tujuan dan modus yang di jalankan,” ingatnya. (lf/dyt06-info haji, Depag)

Jemaah Agar Berhati-hati dan Tetap Waspada

Wakil Ketua I Panitia Penyelenggara Ibadah haji (PPIH) Indonesia di Arab Saudi Zainal Abidin Sufi meminta agar jemaah haji Indonesia berhati-hati dan tetap waspada selama berada di Madinah dan Mekkah. Karena dari laporan yang diterima selama 4 hari kedatangan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi, dua jemaah asal kloter 9 Solo telah menjadi korban tindak kriminal.

Menurut Zainal yang sedang memantau kedatangan jemaah haji di Madinah, peristiwa kriminal yang menimpa jemaah haji Indonmesia tersebut bermodus munculnya orang-orang yang manwarkan jasa menitipkan barang, dan akhirnya melarikan barang milik jemaah dan bahkan merampas barang milik mereka.

Dua peristiwa kriminal tersebut, kata Zainal Abidin Sufi, terjadi di toilet masjid Nabawi, yang pelakunya diduga juga berasal dari Indonesia, karena mereka terampil menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. “Jemaah jangan mudah percaya terhadap orang-orang yang menawarkan jasa menitipkan barang,” tambahnya.

Zainal meminta, agar jemaah dalam melakukan kegiatan ibadah selalu bersama rombongan. “Jika mengalami kesulitan segera lapor kepada petugas-petugas di lapangan maupun yang di tempatkan di sektor-sektor layanan,” kata Sufi.

Petugas haji Indonesia, kata Sufi, berseragam baju biru muda, bercelana biru tua, dilengkapi dengan identitas petugas yang jelas, seperti nama, unit layanan, bendera merah putih, dan id card petugas haji Indonesia. (ts, DEPAG)

Kerjasama Regu Penting untuk Tangkal Kejahatan

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1430 H menghimbau agar setiap jemaah haji berhati-hati menghadapi kemungkinan gangguan keamanan. Kerjasama antar jamaah dalam setiap regu atau rombongan harus selalu dijaga.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua Bidang Keamanan Daerah Kerja Mekah PPIH 1430 H Letkol Caj Abu Haris di Mekah, Rabu (28/10), menganggapi peristiwa perampasan tas berisi uang dan dokumen yang dialami salah satu jamaah haji Indonesia di Madinah.

Perihal peristiwa kriminal tersebut, Haris menjelaskan korban adalah Turgiyanto Maskur Bin Kasiban, jemaah asal Embarkasi Solo Jateng. Ia menjadi korban tindak kriminal di Masjid Nabawi Madinah. Modusnya, saat korban hendak mengambil mudhu di toilet masjid, korban didekati oleh seseorang yang memaksa membawakan barang-barang korban.

Alasannya, di toilet/tempat wudhu tidak diperbolehkan membawa barang-barang, karenanya harus dititipkan kepada pelaku. Setelah barang berpindah tangan pelaku langsung melarikan diri. Pelaku diduga berasal dari Indonesia karena saat beraksi ia menggunakan bahasa Jawa.

“Untuk mengantisipasi tindak kejahatan, pengamanan dari dalam regu lebih berperan. Sebab jumlah tenaga pengamanan kita sangat terbatas,” ujar Haris.

Menurut Haris, total jumlah petugas keamanan PPIH pada musim haji tahun ini sebanyak 31 orang. Mereka berasal dari unsur TNI dan Polri dan disebarkan ke seluruh sektor yang ada di Mekah. Jumlah itu jelas jauh dari memadai mengingat jemaah reguler Indonesia mencapai 191.000 orang.

“Kalau mau ideal, perbandingannya 1:200, satu petugas bertanggungjawab mengamankan 200 orang. Saat ini kawan-kawan petugas keamanan lebih berfungsi sebagai dinamisator agar fungsi keamanan dari dalam regu bisa berjalan optimal,” ujar Haris.

Sebagai upaya lebih lanjut, Haris mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan bagian intelijen Arab Saudi. Selain itu, melalui selebaran pihaknya menghimbau agar jamaah tidak pergi-pergi sendirian, tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal, mempelajari sekaligus mewaspadai modus-modus kejahatan.

Menurut Haris, hampir tiap tahun tindak kriminal menimpa jamaah Indonesia. Bentuknya antara lain perampasan dan pencopetan. Selain modus penipuan seperti yang terjadi di Madinah tersebut, modus lain yang sering digunakan adalah pelaku berpura-pura mengemis, ketika jamaah mengeluarkan uang dari tas, pelaku kemudian merampasnya.

“Bahkan ada juga pelaku yang berpura-pura menjadi petugas, memakai baju mirip seragam petugas, mendekati korban dan mengambil uang atau barang berharganya dengan berbagai cara,” jelas Haris. (Nik, Depag)

Read Full Post »

Older Posts »