Feeds:
Posts
Comments

Archive for November 8th, 2009

1. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petugas non kloter Bidang Pelayanan Jamaah Tersesat, Idi Amien di Kota Makkah, telah terjadi beberapa kali tindak kriminal dialamai oleh Jamaah Calon Haji (JCH) asal Indonesia. Seperti yang terjadi kemarin, disekitar Masjidil Haram. Seorang warga asing yang mengaku petugas keamanan membawa kabur tas berisi uang sebesar 1.400 Riyal yang dititipkan kepadanya saat korban masuk kamar kecil.

Pelaku berpura-pura menjadi petugas dan melarang korban membawa masuk tas dan barang bawaan lainnya ke kamar kecil, kemudian menyarankan agar dititipkan kepadanya. “Hingga akhirnya pelaku bisa dengan leluasa membawa tas tersebut kabur,” ungkap Kasub Bag Tata Usaha (TU) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Syamsudin Noor Banjarmasin, Hidayaturrahman.

Untuk itu lanjut Hidayat, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kalsel kembali mengimbau kepada para JCH agar dapat mewaspadai segala gerak gerik yang mencurigakan. “Kita ingatkan kepada JCH, kalau ke pasilitas umum, seperti rumah makan, kamar kecil dan tempat layanan lainnya supaya tidak sendirian. Kemudian jangan mudah percaya terhadap seseorang yang mengaku sebagai petugas atau yang menawarkan bantuan sebelum diketahui dengan jelas status dan keberadaannya. Sebab, dengan banyaknya manusia yang berasal dari berbagai negara, semakin beragam pula tujuan dan modus yang di jalankan,” ingatnya. (lf/dyt06-info haji)

2. Penipuan terhadap jemaah calon haji asal Indonesia semakin canggih saja. Para pelaku kriminal kini menggunakan modus pakai ihram atau menyamar menjadi jamaah untuk mengincar jamaah lainnya yang sedang beribadah umroh.

Salah satu korban yang tertipu pelaku kejahatan dengan modus ini adalah Nyak Sabun binti Umar dari Kloter 04 Banda Aceh.

Saat beristirahat dan hendak minum air zamzam seusai Sa’i pada Jum’at (6/11/2009) malam, dia tiba-tiba dihampiri seorang jamaah yang mengaku dari Indonesia dengan mengenakan pakaian ihram.

“Pria itu bertanya kenapa Ibu sendirian, lalu dijawab Bu Nyak, ya memang saya sedang istirahat karena capek jadi terpisah dengan rombongan saya. Pria itu lalu menawarkan untuk menemani karena sesama bangsa Indonesia harus saling menolong,” kata Kepala Sektor Khusus Jamaah Sesat Jalan, Ali Saifuddin, yang ditemui di markasnya yang tidak jauh dari Masjidil Haram, Makkah, Sabtu (7/11/2009).

Menurut Ali, Nyak yang merupakan korban keenam ini memang akhirnya meminta bantuan kepada orang itu untuk mengantarkannya kembali ke rombongan. Pria yang dinilainya sangat sopan itu pun mengantar Nyak ke luar Masjidil Haram dan bertemu dengan teman pria itu.

“Lalu dengan sopan ditanya surat-suratnya dan disarankan agar menyimpan uang di tas bawaannya, agar praktis. Dia menuruti saran pria yang bersama temannya itu, lalu keduanya merampas tas dan menghilang di tengah kerumunan orang,” ungkap Ali.

Atas kejadian ini Ali untuk kesekian kalinya meminta jemaah jangan mau melayani orang yang bertanya tas, paspor dan surat-surat lainnya.

“Karena petugas kita hanya mengecek gelang dan kartu pemondokan, kartu pemondokan itu pun kalau jamaah bingung pulang,” jelasnya.

Akibat peristiwa itu, uang Nyak Sabun sebesar Rp 5 juta dan 2000 Riyal pun raib. Sementara itu, Kaslan bin Sakiman jamaah calon haji asal Kloter 04
Solo, hari ini menjadi korban ketujuh.

Pria berusia 64 tahun kelahiran Demak tersebut mengalami kecopetan saat akan melaksanakan umroh sunnah di Masjidil Haram. “Saat dia turun dari taksi dan hendak masuk Masjidil Haram, dia kaget ternyata tasnya sudah terbuka dan uang Rp 5 juta dan 2600 Riyal hilang,” imbuh Ali.

Dari data Sektor Khusus ini, jamaah calon haji yang mengalami tindakan kriminal mencapai 7 orang. Sedangkan, jamaah yang tersesat setiap hari berkisar antara 20 sampai 30 orang. (zal/lrn,detik)

Read Full Post »

Ada-ada saja, kisah jamaah haji Indonesia di tanah Suci. Dikarenakan semangat untuk berhaji tanpa memperhatikan kemungkinan kesulitan di tanah suci menyebabkan banyak terjadi hal yang tidak tidak diinginkan. Seperti kasus jamaah melahirkan, banyaknya kematian jamaah karena penyakit jantung, stres, mengamuk dll.

Hal ini, menurut hemat kami, banyak penyebabnya. Bisa saja disebabkan karena kurang perhatian dari petugas yang diberi amanah untuk memeriksa kesehatan saat masih di Tanah Air (asal tugas selesai, tidak teliti, rasa kasihan yang berlebihan), atau karena jamaah sendiri yang ngotot pergi haji walau harus menempuh hal yang dilarang secara aturan mapun syariaat (pakai joki saat periksa, membayar sejumlah uang, tidak jujur dengan penyakitnya, manipulasi berkas kesehatan) atau karena keluarga (dalam hal ini sang anak atau menantu) yang ingin orang tuanya “cepat pergi haji” sementara sang anak atau menantu “belum siap berhaji”, padahal jelas telah orang tuannya telah renta dan tidak layak pergi baik secara fisik maupun kejiwaan. Atau juga anggapan keliru pada sebagian masyarakat bahwa haji adalah ibadah penutup sekaligus ibadah yang membuat naiknya maqam (kedudukan) hamba, sehingga mewajibkan dirinya/keluarganya untuk berhaji agar sesuai dengan anggapan tersebut.

Udzur karena tua, sakit-sakitan, tidak sehat jiwa, cacat yang menghalangi ibadah atau bakal merepotkan jamaah lainnya, hendaknya dipahami sebagai rukhshah (keringanan) bagi kaum Muslimin. Allah Maha Tahu atas apa yang menimpa hamba-Nya. Bukankah kita bisa mengganti ibadah haji dengan ibadah lainnya yang kita mampu sperti shalat tepat waktu, shadaqah, dl. Bukankah bisa dengan di-badal-kan (digantikan hajinya oleh orang/keluarga yang pernah berhaji). Atau dengan membiayai haji keluarga/tetangga kita yang kurang mampu padahal keinginan untuk berhaji sangat kuat, akhlaknya baik dan telah hafal manasik haji.

Pahala yang diberikan, insya Allah tidak akan berkurang, jika hal diatas dapat kita lakukan dengan ikhlas dan mengikuti apa yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Apalagi bisa memberikan jalan untuk orang lain dapat beribadah. Tentu pahalanya tidaklah sedikit. Saudaraku seiman, janganlah kita meragukan rahmat Allah kepada hamba-Nya.

Kami berharap tulisan dibawah ini tidak banyak terjadi lagi dimasa yang akan datang, karena Islam bukanlah agama yang  memaksakan pemeluknya untuk berlebihan didalam melakukan ibadah atau melakukan ibadah yang diluar kemampuannya. Namun Islam adalah agama yang penuh kasih sayang baik bagi pemeluknya maupun kepada orang di luar Islam. Selamat menyimak:

1. Jamaah Melahirkan di Tanah Suci.

MADINAH, (MCH) Wakil Kepala Daerah Kerja Madinah bidang Pelayanan Kesehatan dr. Zaenuswir Zaenun menduga, jemaah yang melahirkan di Tanah Suci karena menggunakan joki ketika melakukan pemeriksaan kesehatan saat dalam proses pemberangkatan. Hal tersebut disampaikan Zaenusfir Zaenun menanggapi adanya jemaah yang melahirkan ketika tiba di Madinah.

Jemaah asal Sukabumi, Iyet Suryati, 33 dari Kloter 35 JKS (Jawa Barat) Jumat, 6 November melahirkan anak laki-laki setibanya di Madinah. Iyet Suryati melahirkan dengan cara dioperasi dalam usia 7 bulan atau 26 minggu kandungan. Di RS Bersalin di Madinah (Musytasyfa Linnisa Walwiladah walathfal Madinah) Iyet Suryati melahirkan anak dengan berat 600 gram. Meski dalam perawatan intensif, yakni dalam inkubator, anak tersebut dalam kondisi sehat, demikian pula ibunya.

Menurut Zaenuswir pemeriksaan kesehatan kepada Iyet Suryati sudah berulang-ulang dilakukan dan kehamilannya tidak terdeteksi. “Jadi di Tanah Air sudah memakai joki. Sedangkan ketika di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta tidak terlihat hamil karena fokusnya bukan pada itu,” jelas Zaenuswir.

Lebih lanjut Zaenusfir menjelaskan, bagi seorang yang hamil tidak diperbolehkan menjadi jemaah haji karena rawan keguguran dan juga rawan kelahiran. “Karena jemaah haji harus dilakukan vaksin meningitis sebelum berangkat, sedangkan bagi orang hamil vaksin meningitis kontraindikasi dengan vaksin meningitis.”

Meski melahirkan di Madinah dan kemungkinan tidak bisa melakukan rangkaian ibadah haji di Mekah karena sedang berhalangan nifas, menurut Zaenusfir yang bersangkutan tidan dipulangkan lebih awal dan tetap akan bersama kloternya pada saat kepulangan nanti. “Kalau dalam kondisi sudah sehat sesuai dengan catatan medis, maka akan dikembalikan ke kloternya dan apabila belum tetap akan dirawat terlebih dahulu,” terangnya.

Berdasarkan surat keputusan bersama antara Menkes dan Menag bahwa calon jemaah haji usia kehamilan yang tidak diperbolehkan adalah 12-26 minggu. Karena dalam usia sebelum 12 minggu kandungan rawan keguguran, sedangkan usia diatas 26 minggu rawan kelahiran. Dalam kandungan usia 12�26 minggu pun harus mendapat vaksin meningitis. (MA Effendi/Elshinta,depag)

2. Jamaah Haji Stres Tikam Sesama Jamaah Satu Kloter

MEKKAH – Seorang jamaah yang mengalami stres berat, Mapaisse asal Kloter 9 Ujung Pandang, Sulawesi Selatan (sulsel) melakukan penusukan terhadap tiga jamaah haji lain, Tiga korban penusukan itu yakni, dua orang asal Sulsel dan satu orang India.
Berdasarkan laporan Tim MCH Depag di Mekkah, penusukan terjadi saat tawaf wada di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Sabtu malam 22 Desember lalu, seperti diberitakan sindo, Selasa (25/12/2007).

Kepala Bidang (Kabid) Keamanan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi, Gani Abdullah, di Mekkah mengatakan, pelaku penusukan saat ini dalam perawatan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Thoif.

Para korban adalah Husen Abdul Karim dan Sabarudin Toto asal Sulsel, serta jamaah asal India yang belum diketahui identitasnya.
Sementara itu, kondisi Husen Abdul Karim, korban yang masih dirawat di RS Annur karena luka tusuk di bagian pinggul kiri, dikabarkan semakin membaik. Korban lainnya, Sabarudin Toto, telah kembali ke pemondokan karena telah sehat.

Sebelumnya, Sabarudin sempat dirawat di RS Ajyat Mekkah. Direktur Pengelolaan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji Depag Abdul Gahfur Djawahir mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan informasi terkait penusukan yang dilakukan jamaah haji Indonesia. (sindo//ism)

Kian Banyak Jamaah Haji Alami Gangguan Kejiwaan
Laporan Baehaqi dari Arab Saudi

JEDDAH – Kian banyak jamaah haji Indonesia di Tanah Suci yang mengalami gangguan kejiwaan. Mulai stres ringan hingga sampai seperti orang gila. Yang ringan cukup diatasi di balai pengobatan. Yang berat dirujuk ke rumah sakit.

Salah seorang jamaah yang mengalami gangguan kejiwaan berat itu berinisial DMA asal Bengkulu. Jamaah tersebut tiba di Bandara King Abdul Aziz (KAA) Jeddah Senin malam lalu (2/11). Begitu keluar dari bandara, tiba-tiba dia berteriak-teriak. Petugas langsung membawanya ke balai pengobatan di bandara itu. Dokter Hasto Nugroho yang bertugas sampai kewalahan. ”Dia seperti orang mengamuk,” cerita Hasto.

Hingga jamaah diberangkatkan ke Madinah, DMA masih belum tenang. Akhirnya diputuskan untuk membawanya ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Makkah. Di situ ada dua dokter spesialis kejiwaan. Sampai kemarin siang pasien itu belum membaik. Dia tetap berteriak-teriak.

Salah seorang keluarga yang satu kloter dengannya tak tahu apa yang membuat DMA stres. Di buku kesehatan haji (buku hijau) yang dia bawa tak tercantum riwayat penyakit gangguan jiwa.

Sebelumnya, kata Hasto, sudah ada jamaah yang menunjukkan gejala terkena gangguan kejiwaan. Namun, yang bersangkutan hanya ditangani di balai pengobatan bandara. Setelah itu, dia sudah tenang. Di Madinah juga dilaporkan ada jamaah yang mengalami ganguan kejiwaan dan dirawat di balai pengobatan setempat. Jumlahnya belasan. Namun, yang berat hanya tiga. Salah seorang bernama Mh asal Sumbar (Jawa Pos, 4/11).

Menurut psikiater BPHI Tri Aniswati, bepergian jauh bagi orang yang tidak biasa bisa memicu gangguan kejiwaan. Apalagi, mereka kemudian berhadapan dengan sosiokultural yang berbeda. Mereka menghadapi kondisi yang berbeda dengan apa yang mereka bayangkan sebelumnya. ”Sejak sebelum berangkat, jamaah harus menyadari sepenuhnya bahwa kepergiannya ke Tanah Suci hanya untuk beribadah,” jelasnya.

Penanggung jawab Balai Pengobatan Haji Makkah dr Anita Rosari menambahkan, keletihan juga bisa berimbas pada kesehatan jiwa. Karena itu, dia mengimbau jamaah agar tidak memforsir diri untuk setiap waktu salat berjamaah di Masjidilharam.

Mitos perbuatan tidak baik yang dilakukan di tanah air bakal dibalas di Tanah Suci juga kerap menjadi beban kejiwaan. ”Padahal, itu hanya mitos yang tidak ada dasarnya,” tambahnya.

Gangguan kejiwaan juga bisa diakibatkan oleh heat stroke. Yaitu, penurunan kondisi fisik karena terlalu lama terpapar matahari, melakukan aktivitas berlebihan, dan kekurangan cairan tubuh. ”Puncak musim haji masih lama. Jadi, sebaiknya jamaah menyimpan energi untuk pelaksanaan inti ibadah haji nanti,” sarannya.
3. Cacat Fisik

Sejumlah jamaah dengan keterbatasan fisik melaksanakan ibadah Haji tahun ini. Mereka dapat ditemukan di hampir seluruh tenda Haji.

“Menjadi orang cacat tidak mencegah saya menjadi jamaah Haji,” ujar Ahmad Mustafa, jamaah asal Mesir yang tak bisa menggerakkan tangan setelah diserang kelumpuhan.

Mustafa menambahkan jika ia tidak pernah memanfaatkan ketidakmampuannya sebagai alasan untuk membatalkan atau menunda kewajibannya sebagai muslim.

“Saya selalu berdoa kepada Allah untuk membantu melengkapkan ritual Haji saya dan pernikahan saya,” aku Mustafa seperti yang dilansir oleh Arab News.  “Saya tidak ingin hanya melihat orang lain di sekitar melakukan Haji dan saya tidak bisa berbagi spirit yang sama dalam Haji, hanya karena cacat fisik,” ujar Mustafa.

Sementara Muhammad Ahmad, jamaah Mauritania yang buta itu mengaku ia dapat mendengar takbir, dan sangat ingin melihat bagaimana pemandangan di tanah suci. Namun meski tak mampu melihat ia sangat mencintai pengalamannya berada di tanah haram tersebut.

“Kebutaan saya adalah penyebab utama keyakinan utuh saya terhadap Allah,” ujar Ahmad. “Haji adalah kewajiban krusial, dan kekurangan saya tidak boleh menghalangi saya melakukan itu. Saya hidup, dan berdoa selalu dalam kemudahan dan kenyamanan,” ungkap Ahmed seraya menambahkan tidak sedikit figur muslim yang mencapai kesuksesan meski mereka buta.

Lalu ada pula jamaah Libanon bernama Izat Fatin, yang kakinya tak lengkap akibat serangan di Lebanon. Ia mengatakan perjalanan kali itu membuktikan ia dan jamaah cacat lain dapat melakukan seperti para jamaah normal dalam melakukan ritual Haji.

“Saya melihat bagaimana orang-orang melihat saya dengan belas kasihan, dan berupaya melihat saya semata-mata karena Allah,” tutur Izat. “Saya merasa bangga ketika menolak bantuan dari siapapun dan berdiri di atas satu kaku dan penyangga, serta melakukan semua yang dilakukan jamaah normal lain,” imbuhnya.

Seorang pemimpin agama di kemah Haji yang buta mengatakan itu hal bagus bagi mereka yang cacat sebab melakukan upaya lebih dari orang normal saat melakukan tugas agama.

Bagi pemimpin buta itu, orang cacat pun sudah seharusnya konsentrasi pada ibadah mereka saat di tanah suci dan tidak perlu memasukkan halangan dan rintangan ke dalam hati hingga menimbulkan kesedihan./it (Cacat Fisik Bukan Halangan Pergi Haji,Republika)

Read Full Post »

Anak-anak dan Penderita Cacat Dilarang Naik Haji

Komite Haji India (HCI) mengumumkan bahwa untuk musim haji 1429 Hijriyah mendatang pihaknya telah membuat berbagai kebijakan baru terkait dengan keterbatasan lokasi pemondokan di Arab Saudi yang teriring dengan pengembangan Masjidil Haram serta terbatasnya kuota yang tak sejalan dengan minat menunaikan ibadah haji muslim India.

Dalam aturan baru tersebut dijelaskan bahwa anak-anak berusia antara 2 hingga 16 tahun tidak diperkenankan menunaikan ibadah haji karena member kesempatan kepada jemaah dewasa yang wajib terlebih dahulu. Sementara itu, HCI juga telah menerapkan jatah haji lima tahun. Artinya, siapa pun yang belum sampai lima tahun menunaikan haji, tak bisa menunaikan haji ulang.

HCI juga melarang hai badal yang biasa dilakukan oleh kerabat atau kenalan yang sudah haji untuk mereka yang belum sempat menunaikan ibadah haji. Wanita hamil dan menyusui juga dilarang. Begitu juga penyandang cacat yang sangat tergantung dengan orang lain. Dan semakin ditegaskan pula keharusan wanita dengan disertai muhrimnya dalam berhaji.

Menurut HCI, jemaah haji India juta harus memenuhi persyaratan kesehatan yang telah ditetapkan WHO dan Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi. Menurut juru bicara HCI di Mumbay, kuota haji India untuk haji muassasah tetap 110.000 jemaah haji. Pendaftaran sudah bisa dilakukan sejak saat ini melalui internet. Untuk memudahkan jemaah, HCI menggandeng State Bank of India (SBI) dalam setoran dan lain sebagainya.

Pelaksanana haji mendatang dijanjikan akan lebih baik, Menurut HCI, kepastian jadwal penerbangan hingga seat jemaah akan bisa dilihat jauh-jauh hari. Seperti diketahui, tahun lalu, pelaksanaan haji India amburadul karena pelayanan Air India yang tak memenuhi syarat. Tahun ini Air India berjanji akan bekerja lebih baik.
HCI juga menumumkan adanya embarkasi baru, yaitu Jammu Kashmir sehingga India memiliki 16 terminal embarkasi dan debarkasi haji. Demikian seperti diberitakan TwoCircles.net edisi Jumat, 9 Mei lalu. (Musthafa Helmy)

Read Full Post »

Idealnya jumlah tenaga dokter dan paramadis untuk jamaah haji ditambah.

Pemerintah kerajaan Arab Saudi mewajibkan setiap jamaah umrah dan haji dari seluruh dunia untuk melakukan suntik meningitis. Suntik atau vaksinasi meningitis dimaksudkan untuk melindungi jamaah haji dan umrah dari risiko terserang meningitis meningokokus, penyakit radang selaput otak dan selaput sumsun tulang yang terjadi secara akut dan cepat menular. Arab Saudi menjadikan vaksinasi meningitis meningokokus itu sebagai syarat pokok dalam pemberian visa haji dan umrah.

Sebetulnya bukan hanya Arab Saudi. Regulasi kesehatan internasional (International Health Regulation) merekomendasikan vaksinasi meningitis bagi orang-orang yang hendak bepergian ke negara-negara yang dikenal sebagai daerah atau negara epidemic dan endemic meningitis seperti Arab Saudi, Nepal, Kenya dan daerah lingkar meningitis di Sub-Sahara Afrika.

Arab Saudi dikenal memiliki suhu yang sangat dingin pada malam hari dan panas di siang hari. Kondisi demikian, bila tidak diantisipasi dengan baik oleh jamaah haji,dapat menyebabkan mereka gampang sakit. Misalnya, flu, pilek, demam, bersin-bersin dan lain sebagainya.

Karena itulah, pemerintah Indonesia mengantisipasi masalah kesehatan haji dengan membentuk Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI). TKHI merupakan gabungan dari dokter dan paramedis yang berasal dari Tim Petugas Haji Indonesia (TPHI) dari pusat maupun Tim Petugas Haji Daerah (TPHD).

Tenaga medis haji ini direkrut dan dipilih secara khusus oleh Departemen Kesehatan (Depkes) melalui Panitia Kerja Tetap (Panjatap) TKHI. Dengan begitu, hanya tenaga dokter dan paramedis yang lolos seleksi yang akan membina, melayani dan melindungi kesehatan para jamaah haji selama di Tanah Suci.

Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Riyadhul Jannah Semarang, Drs H Ahmad Anas MAg, mengatakan, pelayanan kesehatan haji Indonesia masih belum maksimal. Ia mencontohkan penanganan kesehatan yang dilakukan TKHI atau TKHD pada jamaah haji. Untuk setiap kloter (kelompok terbang) dengan jumlah jamaah mencapai 450 orang, hanya ditangani dua dokter dan tiga paramedis. ”Idealnya, setiap rombongan (45 orang) minimal ditangani satu orang dokter dengan dua perawat. Dalam satu kloter jumlah dokter sekitar 10 orang dan perawat mencapai 20 orang. Jadi penanganan kesehatan menjadi lebih maksimal,” ujarnya.

Anas menambahkan, untuk setiap perumahan (pemondokan) sebaiknya ada satu klinik kesehatan dengan dua orang dokter dan tiga orang perawat. ”Jadi, ketika salah seorang dokter berhalangan karena melaksanakan haji atau umrah, ada petugas kesehatan lainnya yang siap menangani kesehatan jamaah. Dengan demikian, jamaah haji tetap merasa terjaga dan terlindungi,” paparnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Dr Andri Jaya Kurnia, salah seorang dokter tim kesehatan haji khusus. Menurut Andri, pelayanan kesehatan yang diberikan untuk jamaah haji reguler masih sangat minim. Ia mengharapkan, pelayanan kesehatan haji reguler sama dengan pelayanan kesehatan yang diterapkan pada setiap biro perjalanan haji khusus.

”Di biro perjalanan haji khusus, jamaah dengan jumlah sekitar 45 sampai 100 orang rata-rata ditangani oleh dua orang dokter dan tiga orang perawat,” ungkapnya. Karena itu, ia mengharapkan, pelayanan kesehatan untuk jamaah haji reguler bisa lebih ditingkatkan, demi kenyamanan jamaah melaksanakan ibadah haji.

Anas mengusulkan, calon jamaah haji Indonesia yang memiliki penyakit dengan risiko tinggi (risti) sebaiknya tidak diperkenankan melaksanakan ibadah haji. Sebab, jamaah dengan penyakit risti dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan jamaah lainnya dalam melaksanakan ibadah haji. Apalagi mereka yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap orang lain.

”’Menurut saya, calon jamaah haji dengan penyakit risiko tinggi ini termasuk orang yang belum mampu (istitho’ah). Sebab, ia tidak bisa maksimal dalam melaksanakan ibadah haji karena memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap orang lain,” terang Anas.

Hal serupa telah diterapkan oleh Komite Haji India. Untuk musim penyelenggaraan ibadah haji tahun 1429 H, Komite Haji India memberlakukan kebijakan baru menyangkut mereka yang akan berhaji. Calon jamaah haji atau anak-anak yang berusia dibawah 16 tahun, orang yang menderita cacat fisik dan memiliki ketergantungan dengan orang lain serta wanita hamil dan menyusui dilarang menunaikan ibadah haji.

Larangan berhaji bagi anak-anak yang belum berusia 16 tahun dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada umat Islam yang sudah dewasa untuk beribadah haji. Demikian juga dengan orang yang cacat fisik dan memiliki ketergantungan yang sangat besar kepada orang lain, dianggap akan menambah beban jamaah haji lainnya untuk melaksanakan ibadah haji. Begitu pula wanita hamil dan menyusui dilarang menunaikan ibadah haji dimaksudkan agar mereka bisa merawat janin atau bayinya dengan baik. Intinya, larangan tersebut ditujukan untuk kenyamanan dalam melaksanakan ibadah haji. (sya )

Read Full Post »

Tak pelak lagi bahwa semua orang terkhusus kaum muslimin menginginkan barakah di dalam hidupnya. Upaya untuk mendapatkannya, yang sering diistilahkan sebagai “Tabarruk” atau mengais barakah, ternyata sangat berkaitan erat dengan tauhid seorang muslim.

Oleh karena itu perlu bagi kita mengenali permasalahan besar ini. Karena tidak jarang keinginan untuk mendapatkan barakah justru mendatangkan murka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mendatangkan Barakah, dan menodai tauhid seseorang. Wal ‘iyadzubillah.

Dienul Islam telah menetapkan bahwa tabarruk merupakan salah satu bentuk ibadah yang mulia. Sehingga tak ayal lagi banyak kaum muslimin yang menunaikannya. Akan tetapi, para pembaca, suatu ibadah tentunya tidak akan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan barakah tersebut tidak teraih melainkan dengan terpenuhinya dua syarat mutlak :
1. Sudahkah ibadah itu dilandasi dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ?
2. Sesuaikah amalan itu dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ?
Dalam mewujudkan dan memperkokoh syarat pertama, hendaklah seseorang meyakini bahwa barakah itu hanya datang dari sisi Allah Ta’ala. Dialah Dzat yang memiliki kesempurnaan, keagungan, dan keluasan barakah.

Tersebut dalam Bada’iut Tafsir 3/282, Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullh ketika menerangkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqon (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Q.S. Al Furqon : 1)
Beliau rahimahullah mengatakan, “Dan sebagian yang lain (para salaf, -pent) berkata, ‘Maknanya, barakah itu datang dari sisi-Nya dan barakah ini seluruhnya dari-Nya’”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memberitakan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna dan mutlak dengan do’anya : “Ya Allah, tidak ada satu pun yang menolak suatu perkara yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi sesuatu yang Engkau tolak. Tidak bermanfaat seorang yang mempunyai kemuliaan di hadapan kemuliaan yang datang dari-Mu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Adapun dalam rangka menumbuhkan amalan tabarruk, sesuai dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam maka perlu kita mengenal bagaimana tabarruk yang disyariatkan dan sekaligus menjauhi tabarruk yang terlarang.

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah di dalam Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid 1/191 berkata: “Dan meminta barakah tidaklah lepas dari dua perkara:

1. Hendaknya bertabarruk dengan perkara-perkara yang syar’i misalnya Al Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan barakah …” (Q.S. Shaad: 29).
Maka diantara barakahnya bahwa barangsiapa yang berpegang teguh dengannya, maka baginya kemenangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah selamatkan banyak umat dari kesyirikan dengan Al Qur’an. Diantara barakahnya bahwa satu hurufnya dibalas sepuluh kebaikan. Hal itu menambah kesempurnaan waktu dan semangat pada manusia. Dan lain sebagainya dari barakah Al Qur’an yang banyak.
2. Tabarruk dengan perkara hissi (yang bisa diraba oleh panca indera), misalnya ilmu, dakwah, dan semisalnya. Maka seseorang bertabarruk dengan ilmu dan dakwahnya yang mengajak kepada kebaikan. Jadilah perkara ini sebagai barakah karena kita mendapatkan kebaikan yang melimpah dengan sebab ilmu dan dakwahnya.

Para pembaca yang mulia, ada beberapa macam tabarruk yang syar’i yang berkaitan dengan ucapan, perbuatan, tempat dan waktu:

1. Ucapan. Misalnya membaca Al Qur’an. Sebagaimana hadits Abu Umamah Al Bahili Radiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim bahwa Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
اقْرَأُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّه يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه
“Bacalah Al Qur’an karena dia (Al Qur’an) akan datang sebagai syafaat pembacanya pada hari kiamat.”
2. Amalan perbuatan. Misalnya shalat berjama’ah di masjid berdasarkan hadits ‘Utsman bin ‘Affan Radiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Muslim bahwa beliau (Utsman, -pent) berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِى الْمَسْجِدِ غَفَرَاللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ
”Barang siapa yang berwudhu untuk menunaikan sholat lalu dia menyempurnakan wudlunya, kemudian berjalan kaki untuk sholat wajib lalu sholat bersama manusia atau jama’ah atau di dalam masjid maka Allah ampuni dosa-dosanya.”
3. Tabarruk dengan tempat-tempat tertentu yang memang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan padanya barakah jika ditunaikan amalan-amalan yang syar’i di dalamnya. Diantaranya Masjid-Masjid Allah Subhanahu wa Ta’ala terkhusus Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, kota Makkah, kota Madinah dan Syam.
4. Tabarruk dengan waktu-waktu yang telah dikhususkan oleh syari’at dengan anugerah barakah, misalnya bulan Ramadhan, Lailatul Qadar, sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, hari Jum’at, sepertiga malam terakhir setiap harinya, dan lain-lain. Tentunya di dalam waktu-waktu tersebut dipenuhi dengan amalan-amalan syar’i untuk mendapatkan barakah.

Dalam bingkai tabarruk yang syar’i ini pada hakekatnya adalah sebuah pengagungan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla yang telah memerintahkan bentuk-bentuk tabarruk tadi, bukan karena semata-mata dzat perkara-perkara (tabarruk) tadi. Kita renungkan ucapan Umar bin Al Khaththab Radiyallahu ‘anhu tatkala mengusap Hajar Aswad:
أَمَا وَاللهِ إِنِّي َلأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْ لاَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu tidak memberikan mudharat dan manfaat. Kalau seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Al Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari mengomentari ucapan Umar tersebut: “Dan di dalam ucapan Umar ini terdapat penyerahan diri kepada peletak syariat dalam perkara-perkara agama, dan ittiba’ (mengikuti) di dalam perkara yang tidak diketahui maknanya. Ini adalah kaidah agung tentang ittiba’ kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam di dalam apa yang beliau kerjakan walaupun tidak diketahui hikmahnya, dan di dalamnya (ucapan Umar) terkandung bantahan terhadap apa yang terdapat pada sebagian orang-orang bodoh, bahwa Hajar Aswad memiliki kekhususan pada dzatnya”.

Namun, saudara-saudara yang mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi barakah dengan risalah ini, ternyata disamping macam-macam tabarruk yang telah diajarkan Dien yang mulia dan suci ini, terdapat macam-macam tabarruk yang menodai kemuliaan dan kesucian tadi.

Al Imam At Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari jalan Abu Waqid Al Laitsi Radiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menuju Hunain sedangkan kami orang-orang yang baru keluar dari kekufuran, Orang-orang musyrikin memiliki pohon yang mereka i’tikaf dan menggantungkan senjata-senjatanya pada pohon tersebut (dalam rangka tabarruk, pent).

Pohon tersebut dinamakan “Dzatu Anwath”. Maka kami melewati pohon itu lalu kami berkata: “Ya Rasulullah buatkan kami “Dzatu Anwath” sebagaimana mereka memiliki “Dzatu Anwath”. Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Allahu Akbar, sesungguhnya hal ini adalah jejak (orang-orang sebelum kalian). Demi dzatku yang ada di tangan-Nya, kalian telah mengucapkan seperti ucapan Bani Isra’il kepada Musa: “Buatkanlah kepada kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan. Dia berkata: “Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Al A’raaf: 138), sungguh kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang sebelum kalian.”

Asy Syaikh Hafidz bin Ahmad Al Hakami rahimahullh di dalam Ma’arijul Qabul 2/645 mengatakan: “Dan oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam menamai i’tikaf dekat pohon-pohon dan menggantungkan persenjataan padanya dalam rangka pengagungan kepadanya sebagai suatu peribadatan.”

Diantara saudara-saudara kita, yang semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala beri hidayah mereka, bertabarruk dengan mengusap-usap tembok Ka’bah, Maqam Ibrahim, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, mengumpulkan tanah-tanah atau bebatuan dari kota Makkah, Madinah, pergi ke kubur-kubur Nabi dan Rasul, untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di sisi kubur-kubur tadi dengan anggapan barakah dan keutamaan yang ada pada tempat-tempat tadi. Pergi ke gua Hira’, gua Tsur, bukit Thur dengan anggapan seperti tadi, mengkhususkan waktu-waktu tertentu dengan perayaan dan ibadah-ibadah seperti Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, Isra’ Mi’raj, hari hijrah nabi, hari Badr dan selainnya dari macam-macam tabarruk yang tidak disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Iqtidla’ Shirathil Mustaqim 2/193 berkata: “Maka jika seseorang berniat shalat di samping sebagian kubur para nabi dan orang-orang shalih dalam rangka tabarruk di tempat-tempat tersebut, maka ini adalah inti penentangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam, penyimpangan terhadap agama, bid’ah yang tidak diizinkan oleh Allah Ta’ala.

Tanya – Jawab
Tanya : Bagaimana hukum mengais barakah dari bekas-bekas orang-orang sholih atau tempat-tempat mulia ?
Jawab : Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah di dalam Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid halaman 167–168 menyatakan, bahwa tabarruk dengan bekas-bekas orang-orang shalih termasuk bentuk tabarruk yang terlarang, karena beberapa sebab: 1.Bahwa orang-orang yang awal mula masuk Islam dari kalangan Shahabat dan setelah mereka tidak pernah melakukan hal itu kepada orang selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, tidak ketika hidupnya atau setelah wafatnya. Kalau seandainya hal itu baik maka niscaya mereka akan mendahului kita dalam mengamalkannya.

2.Tidak boleh seorangpun dari umat ini dikiaskan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam perkara ini (tabarruk kepada dzat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam), karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam memiliki kekhususan–kekhususan ketika hidupnya yang tidak disamai oleh seorang pun.
3. Larangan tersebut sebagai pintu yang menutup jalan menuju kesyirikan yang tidak samar lagi.

Untaian Fatwa :
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafidhahulloh dalam Al Muntaqa terhadap fatwa beliau 1/220 berkata: “Sujud di atas tanah yang disebut ‘tanah kuburan wali’, jika dimaksudkan sebagai tabarruk dengan tanah itu dan mendekatkan diri kepada wali tersebut maka ini adalah syirik besar. Adapun jika yang dimaukan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bersamaan dengan adanya keyakinan tentang keutamaan-keutamaan tersebut, dan sujud di atasnya merupakan suatu keutamaan sebagaimana keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada tanah-tanah suci di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha, maka ini merupakan bid’ah di dalam agama, satu ucapan atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa didasari ilmu, syariat yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sarana dari sarana-sarana agama yang mengantarkan kepada kesyirikan. Hal itu dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menjadikan kekhususan pada suatu tempat selain tempat-tempat syi’ar yang suci dan tiga masjid tersebut. Sampai-sampai tempat-tempat syi’ar dan tiga masjid tersebut tidak disyari’atkan untuk kita mengambil tanahnya kemudian sujud di atasnya. Hanyalah kita disyari’atkan untuk berhaji ke rumah-Nya (Ka’bah, pent) dan shalat di tiga masjid tadi.” Wallahu A’lam Bish Shawab.

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 13/II/1425, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli “Sikap Berlebihan terhadap Orang-Orang Shalih”. Penulis Abdurrahman. Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)

Read Full Post »

Lamongan, 28/7 (Pinmas)–Para calon jamaah haji tak perlu khawatir dengan himbauan pemerintah Arab Saudi terkait pembatasan usia jamaah haji. Menteri agama Muhammad Maftuh Basyuni menegaskan bahwa batasan usia bagi jamaah haji adalah 17 tahun hingga tak terbatas. “Jadi kalau mereka (Pemerintah Saudi) 12 hingga 65 tahun, kita 17 hingga tak terbatas,“ tegas Menag usai meresmikan 33 Madrasah Tsanawiyah satu Atap di Mts Satu Atap Kebon Dalem, Lamongan, Jawa Timur, Selasa (28/9).

“Tapi yang jelas harus sehat walafiat dan memang nanti akan diperketat oleh Depkes,“ papar Menag. Menag juga mengungkapkan bahwa jika nanti calon jamaah sudah mendapatkan visa dari Kedutaan Arab Saudi, Insya Allah sudah bisa berangkat. “Jadi kalau sudah dapat visa, tidak mungkin lagi ditolak di Saudi sana. Kalaupun ada penolakan, itu dilakukan di Kedutaan di sini, dengan tidak dikeluarkannya visa,“ tandas Menag.

Ditegaskan Menag, bahwa jamaah haji Indonesia memang merupakan jamaah yang sudah wajib menunaikan ibadah haji. “Jadi yang sudah baligh. Karena kalau belum baligh, yang nanti tentu harus mengulang lagi ketika sudah baligh,“ tutur Menag.(rep/ts)

Read Full Post »

Oleh : dr. Soewarno*
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai rapor kinerja panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia pada musim haji 2008 masih merah. Nilai itu didasarkan banyaknya keluhan dan kecenderungan jamaah Indonesia yang tidak puas dengan pelayanan panitia bentukan Departemen Agama tersebut. Permasalahan itu terkait lemahnya perencanaan dan implementasinya, kebijakan dalam hal pemondokan, transportasi, katering di Armina dan layanan kesehatan (Pontianak Post, 14 Desember 2009). Tingginya angka kematian jamaah haji membuat Departemen Agama mencari jurus pencegahan. Salah satunya membatasi jamaah beresiko tinggi dengan memperketat seleksi kesehatan. Selain itu, Depag mengkaji batas kuota haji Indonesia yang saat ini terbesar di dunia ( Pontianak Post, 21 Desember 2008 ).

Meningkatkan kualitas pelayanan (baca : pelayanan kesehatan ) dengan memperketat seleksi kesehatan dan mengurangi kuota jamaah merupakan keputusan yang kurang bijaksana. Haji merupakan rukun Islam yang wajib bagi orang yang mampu, terutama dari segi materi. Ketika seseorang sudah mampu dari segi materi dan sudah mempunyai niat, semangat serta tekad yang kuat untuk menunaikan ibadah haji, Pemerintah seharusnya memberi bantuan dan fasilitas yang memadai tanpa harus mencegah atau menunda dengan alasan kesehatan. Kalau pemerintah Indonesia meminta kuota yang besar adalah wajar saja karena Indonesia merupakan negara yang warga negaranya sebagian besar beragama Islam dan merupakan negara berpenduduk Islam terbesar di dunia.

Jumlah  calon jamaah haji  dan jamaah haji yang meninggal dalam menunaikan ibadah haji tidak dapat digunakan sebagai indikator penilaian pelayanan haji. Penilaian pelayanan paling tidak mencakup empat aspek yaitu tepat, cepat, ramah, dan memuaskan. Pelayanan kesehatan  calon jamaah haji yang beresiko tinggi memerlukan penanganan yang khusus pula, baik sebelum berangkat, selama menunaikan ibadah dan waktu perjalanan pulang ke tanah air.

Menurut WHO, pengertian kesehatan mencakup kesehatan jasmani, kesehatan jiwa, dan kesehatan sosial. Pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji berbeda dengan pemeriksaan kesehatan untuk melamar kerja. Pemeriksaan kesehatan untuk melamar pekerjaan terutama untuk menentukan atau menetapkan kondisi kesehatannya, apakah masih memungkinkan untuk melakukan  tugas pekerjaannya, sedangkan pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji terutama untuk mengetahui penyakit atau cacat yang dideritanya.

Dengan mengetahui penyakit atau cacat yang diderita calon jemaah haji, dapat dilakukan upaya promotif, preventif, kuratif, kalau perlu dan memungkinkan upaya rehabilitatif. Tim kesehatan haji Indonesia pada umumnya hanya melaksanakan upaya kuratif saja, dengan menyediakan tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya termasuk tenaga non medis), obat-obatan serta sarana yang diperlukan selama calon jamaah haji menunaikan ibadah haji. Sedangkan bimbingan, pembinaan, motivasi, penyuluhan, konsultasi, dan konseling tentang kesehatan, tidak pernah dilaksanakan atau kurang mendapat perhatian.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan calon jamaah haji, upaya promotif dan preventif  merupakan tindakan atau upaya yang sangat penting. Dengan upaya-upaya tersebut diharapkan calon jamaah haji dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal pada waktu menunaikan ibadah haji. Calon jamaah haji seharusnya dan idealnya dapat mengenali kondisi kesehatannya jauh sebelum keberangkatannya untuk menunaikan ibadah haji, mungkin satu tahun atau lebih sebelumnya menunaikan ibadah haji. Calon jamaah haji paling tidak dapat melaksanakan pola hidup sehat misalnya dengan konsumsi makan/minum yang bergizi dan berimbang, olahraga secara teratur sesuai dengan kemampuan fisiknya, selalu berpikir dan bertindak positif serta meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Dengan demikian calon jamaah haji dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal, baik jasmani, jiwa, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Panitia Penyelenggara ibadah Haji Indonesia, khususnya tim kesehatan haji Indonesia melakukan upaya kesehatan promotif, preventif, rehabilitatif, serta kuratif sebelum pelaksanaan ibadah haji. Calon jamaah haji yang menderita penyakit beresiko tinggi tetap dapat diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji dengan pelayanan khusus yang sesuai dengan penyakitnya dari tim kesehatan haji Indonesia. Begitu juga dengan jamaah haji yang cacat atau yang berusia lanjut (lansia) bahkan calon jamaah haji yang menderita penyakit yang tidak mungkin disembuhkan mendapat prioritas untuk segera menunaikan ibadah haji dengan memberi perhatian dan pelayanan prima, khususnya pelayanan kesehatannya.

Kesimpulan opini ini, pertama,  bahwa seleksi kesehatan haji tidak perlu diperketat, dengan melarang, membatasi atau menunda untuk menunaikan ibadah haji terhadap calon jamaah haji yang kesehatannya beresiko tinggi. Kedua, kuota haji tidak perlu dikurangi, bahkan harus diusahakan tambahan kuota untuk mencegah antrian yang panjang (lama) yang dapat menimbulkan atau memicu timbulnya KKN atau kecurangan-kecurangan lain yang merugikan. Ketiga, kesadaran dan kerelaan semua pihak untuk mensukseskan pelaksanaan ibadah haji, baik dari pemerintah, calon jamaah haji dan masyarakat pada umumnya.

Pemerintah (Depag) dapat melaksanakan penyelenggaraan ibadah haji dengan amanah dan memberikan pelayanan prima, masyarakat tidak memanfaatkan pelaksanaan ibadah haji sebagai kesempatan untuk mencari untung berlebihan atau mencari rezeki yang tidak halal. Sedangkan calon jamaah haji wajib bersyukur dan ikhlas dapat menunaikan ibadah haji dengan benar dan halal, tidak perlu bertindak emosional yang sampai menimbulkan kerusakan atau kerugian yang tidak perlu.

Calon jamaah haji yang lebih muda dan sehat wajib bersyukur dan dapat menerima dengan ikhlas seandainya tempat pemondokannya jauh, sedangkan calon jamaah haji  yang beresiko dan uzur juga wajib bersyukur dapat menunaikan ibadah haji dengan mendapat pelayanan yang baik dari pemerintah serta pengertian dan bantuan dari calon jamaah haji lainnya. Dengan kerja sama, pengertian dan peran serta semua pihak, penyelenggaraan ibadah haji akan menjadi baik. Semoga. (pontianakpost)

* Penulis, mantan Widyaiswara, Pemerhati masalah kesehatan & pendidikan.

Read Full Post »