Feeds:
Posts
Comments

Archive for November 16th, 2009

Berikut ini kami sampaikan pada pembaca sekalian beberapa berita haji, terkait maraknya kasus penipuan dan pencurian yang terjadi saat musim haji di Tanah Suci. Semoga tulisan ini membuat kita waspada saat berhaji, karena walaupun tempat haji berada di Tanah Suci, namun kejahatan tetap dapat terjadi. Untuk itu Waspadalah.

Waspadai Pencurian di Pemondokan

Jemaah Calon Haji Indonesia diminta untuk mewaspadai kasus pencurian modus baru yang dilakukan di pemondokan. Selain kasus pencopeten dan penjembretan yang selama ini menimpa jemaah calon haji Indoneia ketika berada di Madinah yang biasanya di lakukan di sekitar Mesjid Nabawi.

Menurut Kepala Seksi Pengamanan Daerah Keja Madinah Azharudin Jamin kasus pencurian di pemondokan yang dialami jemaah Indonesia mencapai 15 kasus, kasus pencurian ini terjadi di pemondokan yang di laur markaziah. “Modus yang digunakan pelaku pada shloat subuh dan waktu magrib hingga sholat isya,” jelas Azhardin Jamin.

Pelaku kriminal ini, tambah Azharudin diindikasikan bukan dilakukan jemaah maupun orang luar karena keika kamar ditinggalkan dlam keadaan terkunci dan kunci dititipkan kepada resepsionis. Ketika pulangpun dalam keadaan terkunci, namun tempat penyimpanan barang sudah terbuka.

Menyangkut model pengamanan, menurut Azharudin diserahkan kepada Majemuah sesuai denga kesepakatan dalam kontrrak. Majmuah seharusnya juga bertanggungjawab untuk menggantinya setiap adanya kehilangan yang alami jemaah Indonesia . “Hanya saja dari belasan kasus yang terjadi di pemondokan, baru 3 kasus yang mendapat penggantian dari Majmuah,” jelas Azharudin.

Untuk pengamanan ke depannya, jemaah diimbau untuk berhati-hati dan pengamanan harus melekat pada jemaah itu sendiri. Oleh karena itu peran ketua kloter, ketua rombongan dan ketua regu untuk mengingatkan kepada rombongannya agar barang-barang berharga ditiipkan kepada petugas.

Azharudin menambahkan jemaah Indonesia belum banyak yang tahu mengenai adannya brankas yang ada di setiap kamar, karenanya brankas ini belum banyak dimanafaatkan oleh jemaah untuk menyimpan barang-barang berharag miliknya. (MA Effendi, Depag.go.id)

Kerugian Pencurian yang Menimpa Jemaah Haji Capai 208 Juta Rupiah

Kerugian kasus pencurian atau penjembretan terhadap jemaah Indonesia di Madinah mencapai SR 80.000 atau sekitar Rp. 208.000.000,- Kasus pencurian atau penjembretan yang dialami jemaah Indonesia selama di Madinah tercatat 50 kasus atau 0,05% . Sedangkan total jemaah Indonesia yang telah berada di Madinah selama gelombang pertama yaitu sekitar 98.000 orang.

Menurut Kepala Seksi PAM Daerah Kerja Madinah Azharudin M Jamin kasus-kasus kriminal yang dialami oleh jemaah Indonesia langsung dilaporkan ke Surthoh Markaziah atau kantor kepolisian di Madinah dan Mabais (bagian inteljen). Kepolisian Madinah sendiri kemudian menangkap lebih dari 20 orang yang diduga melakukan kriminal terhadap jemaah Indonesia .

“Ke-20 orang tersebut rata-rata WNI, dan yang tertangkap tangan hanya satu orang, yang lainnya masih diduga,: jelas Azharudin. Menurutnya kepolisian sendiri sangat responsif menagani kasus criminal yang dialami oleh jemaah Indonesia dengan melakukan razia dan menangkap orang-orang 0yang dicurigai di sekitar Mesjid Nabawi sehingga menurunkan angka kriminalitas terhadap jemaah Indonesia .

“Kami akan terus melakukan koordinasi dengan kepolisian setempat untuk menangani kasus-kasus seperti ini,” ungkapnya.

Azharudin berharap kepada jemaah untuk lebih hati-hati dengan tidak membawa banyak uang maupun barang-barang berharga dan masing-masing diharapkan bisa menjaga keamanan. (MA Effendi)

Kejahatan Bukan Semata Niat Tapi Karena Ada Kesempatan

Jamaah calon haji (Calhaj) supaya berhati-hati saat bepergian dan tidak membawa uang serta barang berharga demi kemananan dan keselamatan. Berdasarkan rekapitulasi kehilangan uang dan barang di daerah kerja Mekkah sampai Minggu (8/11) tercatat Rp 81.542.500 kerugian yang dialami jamaah calon haji (Calhaj) karena kecopetan, ditipu, teledor atau lupa. Rinciannya SR21.657, Rp27.400.000, US Singapura 210, ponsel 9 unit, kamera 2 unit dan Alquran digital 1 unit.

“Karena itu, calhaj diimbau tidak membawa uang banyak dan benda berharga saat melakukan aktifitas diluar pemondokan. Jangan mudah percaya dengan hasutan orang yang baru dikenal meski dia mengaku dan bisa berbahasa Indonesia,” tegas Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah H Subakin, Senin (9/11), kemarin.

Subakin menyatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada calhaj supaya tidak menjadi korban kejahatan selama berada di Kota Mekkah. “Imbauan untuk berhati-hati kita tempel di setiap pemondokan dan didalam bus yang mengantar mereka selama di Kota Mekkah. Kemudian, kepada ketua kloter atau rombongan juga tak henti-hentinya melakuakan sosialisasi tersebut,” jelasnya.

Kepala Seksi Keamanan Daker Mekkah mengungkapkan sistem keamanan disekitar pemondokan sudah dilakukan pengetatan karena selain penghuni dilarang masuk tanpa izin petugas setempat. Jamaah juga diimbau selalu bersama-sama rombongan saat bepergian. “Karena itu jamaah sebelum meninggalkan kamar pintu sudah terkunci dan tidak membawa barang berharga dan uang dalam jumlah besar. Cukup membawa uang untuk membeli makan saja,” tuturnya.

Dia menambahkan, kerugian yang dialami jamaah juga biasanya disebabkan karena keteledoran. “Padahal dalam suasana yang serba padat dan crowded jamaah harus lebih meningkatkan kewaspadaannya,” pungkasnya.

Kepala Sektor Khusus Masjidil Haram Ali Saefuddin mengungkapkan, sedikitnya 20 – 35 jamaah yang melapor tersesat jalan menuju pemondokan. “Mereka umumnya ditemukan dalam kondisi bingung dan kelelahan karena sudah muter-muter mencari jalan menuju pondokan,” ujarnya di pos khusus, kemarin.

Menurut Ali, jamaah tersesat ini kerap menjadi sasaran para pelaku tindak kriminal. Sedikitnya sudah terjadi lebih dari tujuh tindak kriminal yang menyasar jamaah yang sudah uzur ini. Modusnya rata-rata hampir sama, yaitu berpura-pura menolong dan meminta identitas untuk kemudian merampas tas korban.

Karenanya, ia meminta para ketua rombongan untuk menjaga keutuhan rombongannya. Bila terpaksa harus meninggalkan salah satu jamaahnya karena suatu alasan, maka sebaiknya jamaah itu dititipkan di tempat yang aman. “Kalau di dalam Masjidil Haram, bila dia jamaah perempuan, sebaiknya dititipkan askar di shaf khusus perempuan tak jauh dari Multazam,” ujarnya. (boy iskandar)

Pencurian dengan Penipuan

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petugas non kloter Bidang Pelayanan Jamaah Tersesat, Idi Amien di Kota Makkah, telah terjadi beberapa kali tindak kriminal dialamai oleh Jamaah Calon Haji (JCH) asal Indonesia.

Seperti yang terjadi kemarin, disekitar Masjidil Haram. Seorang warga asing yang mengaku petugas keamanan membawa kabur tas berisi uang sebesar 1.400 Riyal yang dititipkan kepadanya saat korban masuk kamar kecil. Pelaku berpura-pura menjadi petugas dan melarang korban membawa masuk tas dan barang bawaan lainnya ke kamar kecil, kemudian menyarankan agar dititipkan kepadanya. “Hingga akhirnya pelaku bisa dengan leluasa membawa tas tersebut kabur,” ungkap Kasub Bag Tata Usaha (TU) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Syamsudin Noor Banjarmasin, Hidayaturrahman.

Untuk itu lanjut Hidayat, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kalsel kembali mengimbau kepada para JCH agar dapat mewaspadai segala gerak gerik yang mencurigakan. “Kita ingatkan kepada JCH, kalau ke pasilitas umum, seperti rumah makan, kamar kecil dan tempat layanan lainnya supaya tidak sendirian. Kemudian jangan mudah percaya terhadap seseorang yang mengaku sebagai petugas atau yang menawarkan bantuan sebelum diketahui dengan jelas status dan keberadaannya. Sebab, dengan banyaknya manusia yang berasal dari berbagai negara, semakin beragam pula tujuan dan modus yang di jalankan,” ingatnya. (lf/dyt06-info haji, Depag)

Jemaah Agar Berhati-hati dan Tetap Waspada

Wakil Ketua I Panitia Penyelenggara Ibadah haji (PPIH) Indonesia di Arab Saudi Zainal Abidin Sufi meminta agar jemaah haji Indonesia berhati-hati dan tetap waspada selama berada di Madinah dan Mekkah. Karena dari laporan yang diterima selama 4 hari kedatangan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi, dua jemaah asal kloter 9 Solo telah menjadi korban tindak kriminal.

Menurut Zainal yang sedang memantau kedatangan jemaah haji di Madinah, peristiwa kriminal yang menimpa jemaah haji Indonmesia tersebut bermodus munculnya orang-orang yang manwarkan jasa menitipkan barang, dan akhirnya melarikan barang milik jemaah dan bahkan merampas barang milik mereka.

Dua peristiwa kriminal tersebut, kata Zainal Abidin Sufi, terjadi di toilet masjid Nabawi, yang pelakunya diduga juga berasal dari Indonesia, karena mereka terampil menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. “Jemaah jangan mudah percaya terhadap orang-orang yang menawarkan jasa menitipkan barang,” tambahnya.

Zainal meminta, agar jemaah dalam melakukan kegiatan ibadah selalu bersama rombongan. “Jika mengalami kesulitan segera lapor kepada petugas-petugas di lapangan maupun yang di tempatkan di sektor-sektor layanan,” kata Sufi.

Petugas haji Indonesia, kata Sufi, berseragam baju biru muda, bercelana biru tua, dilengkapi dengan identitas petugas yang jelas, seperti nama, unit layanan, bendera merah putih, dan id card petugas haji Indonesia. (ts, DEPAG)

Kerjasama Regu Penting untuk Tangkal Kejahatan

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1430 H menghimbau agar setiap jemaah haji berhati-hati menghadapi kemungkinan gangguan keamanan. Kerjasama antar jamaah dalam setiap regu atau rombongan harus selalu dijaga.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua Bidang Keamanan Daerah Kerja Mekah PPIH 1430 H Letkol Caj Abu Haris di Mekah, Rabu (28/10), menganggapi peristiwa perampasan tas berisi uang dan dokumen yang dialami salah satu jamaah haji Indonesia di Madinah.

Perihal peristiwa kriminal tersebut, Haris menjelaskan korban adalah Turgiyanto Maskur Bin Kasiban, jemaah asal Embarkasi Solo Jateng. Ia menjadi korban tindak kriminal di Masjid Nabawi Madinah. Modusnya, saat korban hendak mengambil mudhu di toilet masjid, korban didekati oleh seseorang yang memaksa membawakan barang-barang korban.

Alasannya, di toilet/tempat wudhu tidak diperbolehkan membawa barang-barang, karenanya harus dititipkan kepada pelaku. Setelah barang berpindah tangan pelaku langsung melarikan diri. Pelaku diduga berasal dari Indonesia karena saat beraksi ia menggunakan bahasa Jawa.

“Untuk mengantisipasi tindak kejahatan, pengamanan dari dalam regu lebih berperan. Sebab jumlah tenaga pengamanan kita sangat terbatas,” ujar Haris.

Menurut Haris, total jumlah petugas keamanan PPIH pada musim haji tahun ini sebanyak 31 orang. Mereka berasal dari unsur TNI dan Polri dan disebarkan ke seluruh sektor yang ada di Mekah. Jumlah itu jelas jauh dari memadai mengingat jemaah reguler Indonesia mencapai 191.000 orang.

“Kalau mau ideal, perbandingannya 1:200, satu petugas bertanggungjawab mengamankan 200 orang. Saat ini kawan-kawan petugas keamanan lebih berfungsi sebagai dinamisator agar fungsi keamanan dari dalam regu bisa berjalan optimal,” ujar Haris.

Sebagai upaya lebih lanjut, Haris mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan bagian intelijen Arab Saudi. Selain itu, melalui selebaran pihaknya menghimbau agar jamaah tidak pergi-pergi sendirian, tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal, mempelajari sekaligus mewaspadai modus-modus kejahatan.

Menurut Haris, hampir tiap tahun tindak kriminal menimpa jamaah Indonesia. Bentuknya antara lain perampasan dan pencopetan. Selain modus penipuan seperti yang terjadi di Madinah tersebut, modus lain yang sering digunakan adalah pelaku berpura-pura mengemis, ketika jamaah mengeluarkan uang dari tas, pelaku kemudian merampasnya.

“Bahkan ada juga pelaku yang berpura-pura menjadi petugas, memakai baju mirip seragam petugas, mendekati korban dan mengambil uang atau barang berharganya dengan berbagai cara,” jelas Haris. (Nik, Depag)

Read Full Post »

Bicara masalah ongkos haji jemaah calon haji Indonesia yang katanya “mahal sekali”, ternyata ada lho yang lebih mahal. Ya, justru biaya haji untuk orang di Arab sendiri secara perhitungan matematika jauh lebih tinggi dari biaya haji di negeri kita (padahal tidak naik pesawat pp dan bea angkut dari daerah, baya selama di embarkasi, paspor dll).

Naah, alih-alih kita mengomentari tingginya (baca: naiknya) BPIH (Biaya Perjalan Haji Indonesia dari tahun ke tahun, mendingan kita simak tulisan dibawah ini, dan bersabarlah bila biaya haji tahun depan disesuaikan lagi. semoga bermanfaat bagi kita semua.

__________________________________________

Bukan hanya warga Indonesia yang harus menungg lama untuk berhaji, warga arab juga demikian. Mereka yang sudah berhaji harus menunggu paling tidak lima tahun untuk bisa berhaji lagi. Membayarnya pun mahal. Jauh lebih mahal dibanding warga Indonesia. Saking mahalnya, tahun ini banyak warga Arab yang mengurungkan niatnya menunaikan ibadah haji.

Belakangan ini, muslim Indonesia harus menunggu antrian sampai empat tahun untuk berhaji. Itu lantaran kuota yang disediakan oleh pemerintah Saudi terbatas. Tahun ini hanya mendapat jatah 210.000. Di daerah-daerah tertentu ada yang antriannya hanya dua sampai tiga tahun. “Jadi masih lebih baik kita dibanding warga Arab,” kata Amirul Haj Indonesia Bahrul Hayat di Jeddah kemarin malam.

Jemaah haji Indonesia harus membayar biaya penyelenggaraan sekitar Rp 34 juta. Biaya itu antara lain untuk tiket pesawat, angkutan lokal, makan, dan pemondokan. Sedangkan yang dibayarkan kepada pemerintah Arab Saudi melalui rusum (biaya pelayanan umum) hanya SR 1.029 (sekitar Rp 2,5 juta).

Seperti dilansir Arab News kemarin, warga Arab yang ingin berhaji harus membayar kepada pemerintah SR 10.000 (sekitar 25 juta). Karena besarnya biaya itu banyak warga Arab yang mengurungkan niatnya untuk berhaji.

Penurunan itu mencapai 40 persen. Dia mendesak pemerintah Arab Saudi menurunkan biaya haji itu hingga SR 1.500-3.900 untuk berbagai katagore.
Lesunya minat warga lokal berhaji memusingkan biro-biro perjalanan yang biaya menangani jemaah haji lokal. Saleh Al-Zufairi, pemilik biro perjalanan Al Zufairi mengak, tahun ini hanya mendapat 20 orang yang berhaji lewat perusahannya. Padahal, tahun lalu biro perjalanan yang berpusat di Dammam itu mendapat 200 orang. Memang bukan sekedar karena biaya tinggi. Faktor lainnya adalah flu babi yang sedang menghantui warga Arab.

Pemerintah Saudi memang sengaja membatasi warganya untuk berhaji demi memberi kesempatan kepada ummat Islam negara-negara lain. Pembatasan dilakukan karena sempitnya tempat prosesi haji, baik di Masjidil Haram maupun Armina (Arafah-Muzdalifah-Mina). Sekarang hanya bisa menampung 3 juta umat Muslim.

Ummat muslim Indonesia, k ata Bahrul Hayat, masih mendapat kesempatan lebih dibanding negara-negara lain. Meskipun banyak pihak menilai biaya penyelenggaran haji Indonesia terlalu mahal, ongkos itu masih lebih murah dibanding negara-negara lain. “Bibanding negara tetangga Malaysia, kita masih lebih murah,” kata Bahrul yang didampingi Dirjen Haji Slamet Riyanto.

Bahrul tak tahu berapa ongkos naik haji Malaysia. Tetapi, untuk membayar biaya pondokan saja sekitar SR 3.900-4.000. Sementara itu jemaah haji Indonesia hanya membayar SR 2.500. Itu pun masih banyak yang protes. Anggota Komisi 8 DPR yang sekarang memantau kegiatan haji di Saudi menilai Departemen Agama kurang serius dalam menyelenggarakan haji.

Sebagai amirul haj, Bahrul akan berdialog dengan jemaah haji dari pondokan ke pondokan sekaligus memantau fasilitas yang mereka peroleh. Apa yang didapatkan nanti akan dipergunakan untuk memperbaiki pelaksanaan tahun berikutnya.(baehaqi, Depag.go.id)

Read Full Post »