Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kesehatan Haji’ Category

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ichwan Sam, mengatakan, pihaknya pada dua hari lalu sudah mengeluarkan fatwa bahwa hanya dua vaksin meningitis yang halal, yakni vaksin meningitis produksi Novartis dari Italia dan Tian Yuan dari Cina. Sementara, vaksin meningitis produksi Glaxo dari Belgia dinyatakan haram.

“Dua hari yang lalu MUI telah memutuskan bahwa vaksin meningitis yang digunakan untuk jamaah haji yang selama ini haram telah diputuskan dua yang kemudian, yang pertama produksi dari Novartis Italia dan yang kedua produksi Tian Yuan Cina dinyatakan halal dan telah melalui penelitian,” kata Ichwan di Kantor Presiden, Senin (19/7).

Ichwan menyampaikan hal itu usai mendampingi pimpinan MUI bersilaturahim dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ichwan mengatakan, fatwa tersebut sebenarnya baru akan diumumkan MUI kepada publik pada Selasa (20/7). Namun, kata dia, Presiden sudah mendapatkan bocoran tentang fatwa itu dan Presiden menyambut baik.

Ichwan menjelaskan, ada tiga perusahaan yang mengajukan produk meningitis. Dari tiga yang diajukan itu, satu produk dari Glaxo asal Belgia dinyatakan haram karena mengandung babi. “Dua dipastikan tidak mengandung babi, yang Glaxo mengandung babi, setelah dilakukan pemeriksaan,” kata Ichwan.

Menurut dia, fatwa MUI ini akan mulai dilaksanakan pada pelaksanaan haji 2010 ini. Dia mengetahui bahwa pemerintah sudah memesan vaksin dari Glaxo, tapi vaksin tersebut tetap tidak bisa digunakan karena haram. “Tapi itu bagian daripada cost, tadi Presiden mengatakan, pemerintah tidak menggunakan itu,” kata dia.(Rep/ts)

Read Full Post »

Selama di Madinah dengan kondisi cuaca dan suhu yang dingin, jemaah Indonesia rawan penyakit inveksi saluran pernapasan atas (ISPA) berupa batuk-pilek dan flu ringan. ISPA ini bisa berbahaya apabila menyebabkan sesak napas, pnemonia dan inspeksi saluran pernapasan bagian bawah.

Oleh karena itu, jemaah diminta untuk memperkuat daya tahan tubuh dengan makan, minum dan istirahat yang cukup. Di samping itu, jemaah juga diminta banyak mengonsumsi buah-buahan dengan rasa manis, dan bukan yang asam seperti jeruk. Karena dengan perubahan cuaca dan suhu, keasaman dapat menyebabkan diare.

Namun sayangnya, menurut dr. Agus Setiawan, petugas kesehatan dari kloter 56 SOC Solo, buah yang disajikan oleh katering selama di Madinah lebih sering berupa jeruk dengan rata-rata jeruk yang rasanya asam. Hal ini akan membuat jemaah bisa mengalami diare. Oleh karena itu, dirinya meminta agar buah jeruk yang disajikan diganti dengan buah lain seperti apel atau pisang, agar jemaah bisa terhindar dari diare dan rata-rata buah di Arab Saudi rasanya asam.

Menanggapi keluhan mengenai rasa buah jeruk yang asam ini, Kepala Daerah Kerja Madinah Cepi Supriatna menandaskan tidak menjadi masalah apabila harus menggganti buah jeruk dengan buah lain apabila buah jeruk memang membuat mudarat. Mengenai penggantian ini pihaknnya akan bekerja sama dengan katering untuk mengakomodir kepentingan jemaah. mch/yto

Read Full Post »


Selama di Madinah dengan kondisi cuaca dan suhu yang dingin, jemaah Indonesia rawan penyakit inveksi saluran pernapasan atas (ISPA) berupa batuk-pilek dan flu ringan. ISPA ini bisa berbahaya apabila menyebabkan sesak napas, pnemonia dan inspeksi saluran pernapasan bagian bawah.

Oleh karena itu, jemaah diminta untuk memperkuat daya tahan tubuh dengan makan, minum dan istirahat yang cukup. Di samping itu, jemaah juga diminta banyak mengonsumsi buah-buahan dengan rasa manis, dan bukan yang asam seperti jeruk. Karena dengan perubahan cuaca dan suhu, keasaman dapat menyebabkan diare.

Namun sayangnya, menurut dr. Agus Setiawan, petugas kesehatan dari kloter 56 SOC Solo, buah yang disajikan oleh katering selama di Madinah lebih sering berupa jeruk dengan rata-rata jeruk yang rasanya asam. Hal ini akan membuat jemaah bisa mengalami diare. Oleh karena itu, dirinya meminta agar buah jeruk yang disajikan diganti dengan buah lain seperti apel atau pisang, agar jemaah bisa terhindar dari diare dan rata-rata buah di Arab Saudi rasanhya asam.

Menanggapi keluhan mengenai rasa buah jeruk yang asam ini, Kepala Daerah Kerja Madinah Cepi Supriatna menandaskan tidak menjadi masalah apabila harus menggganti buah jeruk dengan buah lain apabila buah jeruk memang membuat mudarat. Mengenai penggantian ini pihaknnya akan bekerja sama dengan katering untuk mengakomodir kepentingan jemaah. (MA Effendi)

Read Full Post »

Saat berada di Kota Madinah Al-Munawarah, jemaah haji Indonesia sesungguhnya mendapatkan jatah makan sehari tiga kali dengan menu Indonesia, ditambah buah-buahan dan minuman the, susu, serta kopi. Meskipun mendapatkan jatah makan yang cukup, sebagian jemaah yang gemar berwisata kuliner suka mencari makanan alternatif. Pagi hari, saat udara dingin mencapai 14 derajat Celsius, perut semakin merasakan lapar, meskipun sudah cukup makan.

Uang cekak tak menghalangi jemaah untuk makan jajanan di luar sarapan dari jatah yang dibagikan perusahaan katering. Sebelum fajar turun, sejumlah mobil boks dan kontainer besar sudah nongkrong di jalan utama masuk Masjid Nabawi. Mobil ini sengaja menghadang jemaah yang akan melaksanakan salat tahajud atau salat subuh berjamaah. Sejumlah petugas akan memberikan secara gratis setiap jemaah yang lewat.

Orang yang baik hati ini mengemas makanan pemberiannya dalam dus kecil yang berisi satu kotak jus jeruk, satu botol minuman sebesar setengah boto, sepotong kueh tawar dalam bentuk yang besar, sepotong kueh dengan aneka macam selai, satu jeruk, atau satu buah apel. Boks kecil ini dikemas dalam dus yang lebih besar berisi 10 boks kecil. Jemaah yang lewat boleh mengambil satu boks kecil atau boks yang besar sekaligus. Semua dengan cuma-cuma.

Selesai salat subuh, di salah satu pojok Masjid Nabawi juga terlihat antrean agak panjang. Setiap pengantre memegang satu gelas plastik. Di ujung antrean, seseorang memegang ceret berisi air teh panas. Antrean serupa ada di sebelahnya, sekitar 10 meter. Antrean yang satu sekadar teh, sedangkan antrean satunya lagi teh susu. Jemaah tinggal memilih mana yang paling suka di antara keduanya yang sama sekali tidak memungut bayaran. Inilah yang orang Arab bilang sebagai “Sabilillah.”

Kalau tak mau gratis, banyak pilihan makanan untuk sarapan pagi. Namun pada umumnya tidak ada nasi putih atau nasi kebuli. Hanya rumah makan Indonesia yang biasanya menyediakan sarapan berupa nasi dan lauk pauknya. Namun masyarakat Arab dan restoran di sekitar Madinah pada umumnya tidak menyiapkan sarapan nasi.

Orang Bangladesh di belakang hotel yang menjadi penginapan jemaah Indonesia menyiapkan martabak. Tapi, martabaknya berbeda dari martabak telor ala Mesir. Ia menggoreng tepung semacam kue cane, namun di atasnya disiram telor. Jadinya, kue cane dengan lauk telor dadar. Gerai sarapan pagi ini cukup laris, terutama jemaah asal India, Pakistan, dan Bangladesh.

Di sudut yang lain, jemaah mengerumuni penjual teh. Pada mulanya, the campur susu tidaklah lazim bagi bangsa Indonesia. Namun sekali mencicipi, teh celup yang dicampur susu menyebabkan jemaah ketagihan. Satu gelas teh harganya RS 1, kalau campur susu RS 2. Sebagian jemaah mencampur susu dengan kopi, sebagaimana lazim dilakukan di Indonesia.

Rumah makan khas Pakistan di Jln. King Fahd dalam beberapa hari terakhir selalu ramai di pagi hari. Rupanya, pedagang ini menyiapkan menu baru, saat melihat jemaah haji Indonesia tiba di Kota Rasul ini. Ia menyajikan nasi kebuli dengan dua warna, kuning dan putih. Sebagaimana khas Arab, satu porsi nasi seharga RS 3 cukup dimakan untuk dua orang Indonesia.

Selain nasi kebuli dua warna, mereka juga menyiapkan ayam sebesar seperempat ayam. Biasanya, nasi kebuli dilengkapi ayam minimal setengah ayam atau bahka satu ekor ayam. Tapi kali ini, pedagang RM Pakistan ini membuat sajian baru, ayam seperempat potong seharga RS 5. Maka, usai subuh para ibu-ibu jemaah haji antre panjang.

Makanan sekadarnya juga banyak disajikan pedagang untuk sarapan pagi. Seperti tepung yang dibuat bulat sebesar bola pingpong. Hanya ditaburi gula halus, mereka menjual lima butir seharga RS 1. Jemaah yang belum berminat makan nasi bisa memilih makanan ini sebagai alternatif. Di samping itu, pedagang ini menyiapkan juga donat dan kerupuk.

Jika ingin seperti orang Arab, jemaah bisa membeli tamis, yakni roti khas Arab yang lebarnya berdiameter lebih dari 40 cm. Meskipun besar dan lebar, satu roti tamis harganya hanya RS 1. Rupanya, inilah makanan rakyat Arab. Roti ini enak dimakan bersama selai yang diberikan sebagai bagian dari penyajian. Sebagian jemaah mamakan roti tamis ini dengan susu atau the panas. Silakan mau pilih yang mana? Pilih yang mana pun, yang penting pagi hari salat subuh dulu. (Wachu)

Read Full Post »

Penyakit rutin bagi setiapjamaah haji antara lain adalah Nasofaring akut. hampir boleh dikata, semua jamaah haji mengalaminya. Ada seloroh begini: Yang tidak batuk saat haji khan cuma Onta saja..??. Ada-ada saja.

Berikut beritanya:

Mayoritas jemaah haji Indonesia terserang Nasofaringitis akut. Penyakit ini selalu menempati urutan pertama dari sepuluh besar jenis penyakit yang menyerang jemaah setiap musim haji beberapa tahun terakhir. Khusus tahun 2009, Nasofaringitis akut menyerang 38,21% jemaah haji yang melakukan kunjungan rawat jalan dan rawat inap pada Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), di Arab Saudi.

Ketua Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Dr. dr. Barita Sitompul, Sp.SJ, di Arab Saudi, Jumat (4/12) menjelaskan, puncak penyakit Nasofaringitis terjadi pada saat Armina. Hal ini disebabkan karena terjadi penumpukan jemaah dalam jumlah besar dari berbagai negara pada saat yang sama, sehingga menimbulkan kelelahan, yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Kondisi ini akan memudahkan terjadinya penularan virus dari orang ke orang melalui udara, makanan, air maupun media lain.

“Mencegah penularan virus Nasofaringitis dapat menggunakan masker yang dilembabkan dengan alkohol, memanfaatkan waktu seoptimal mungkin untuk istirahat, sebanyak mungkin minum air putih, termasuk membawa bekal air minum saat bepergian, memperbanyak makanan berserat (sayuran dan buah) dan sesering mungkin cuci tangan pakai sabun atau menggunakan tisu basah,” kata Barita. (Chu)

Read Full Post »

PEMIMPIN Libya, Kolonel Muammar Khadafi dikenal sebagai pemimpin Arab yang tangguh dan nyentrik. Salah satu ke-mahiwalan-nya adalah, ia tidak suka menginap di hotel, meskipun berada di luar negeri. Ia memilih tinggal di tenda di luar ruangan. Dan salah satu yang tidak mau dipisahkan darinya adalah, ia selalu meminum susu onta segar. Itulah sebabnya, setiap pergi ke mana pun, ia disediakan onta yang dapat mengeluarkan susu. Kalau perlu, ia membawa onta sendiri dari tanah airnya.

Mengapa Khadafi begitu fanatik terhadap onta? Sejarah menunjukkan, onta merupakan binatang yang akrab dengan Rasulullah saw. Selama berjuang menyebarkan Islam, beliau selalu menunggang onta, binatang yang paling tahan terhadap panas matahari hingga 50 derajat Celsius tanpa makan dan minum. Bahkan, Nabi Muhammad mengendarai onta selama melakukan perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah Al-Munawarah. Bahkan Al-Quran secara khusus menyebutkan, “Apakah kalian tahu bagaimana onta dibuat?”

Selain sisi sejarah, peneliti Arab membuktikan bahwa susu onta mengandung zat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti hepatitis, diabetes, penyakit kulit, dan berbagaio macam penyakit perut. Bahkan, Dr. Abdulrahman Al-Qassas, dari Universitas Ummul Qura, Mekah menyatakan, yang dapat menyembuhkan seperti itu bukan hanya susunya, tapi juga air kencingnya.

Nancy Abdurahman, warga Mauritania, Afrika, kelahiran Inggris bahkan membuka peternakan onta. Sebab, susu onta diyakini mengandung banyak vitamin yang bisa membersihkan tubuh dari luar dan dalam. Susu onta kemudian diolah sebagai bahan kosmetika.

Minum susu onta

Saat menunaikan ibadah haji, jemaah bisa melakukan ziarah ke berbagai tempat bersejarah di lingungan kota suci Madinah maupun Mekah. Saat di Mekah, jemaah juga bisa mengunjungi Hudaibiyah, tempat yang jaraknya sekitar 30 km dari Kota Mekah. Hudaibiyah merupakan tempat Rasulullah saw. menandatangani perjanjian dengan orang kafir Quraish sebelum Kota Mekah ditaklukkan.Di Hudaibiyah ini selain terdapat pabrik pembuatan kiswah penutup Kabah, juga terdapat banyak peternakan onta.

Peternakan onta sengaja dikelola di pinggir jalan, sehingga setiap orang yang melewati jalan di Hudaibiyah ini bisa melihatnya. Para peternak biasanya melambaikan tangan sembari mengajak mampir ke peternakannya, sekadar untuk melihat-lihat, berfoto, atau bahkan meminum susunya. Peternak akan langsung memerah susu, saat pengunjung memintanya.

Onta yang dapat diperah susunya biasanya ditutup menggunakan kain. Sebab jika susu onta dibuka, anaknya akan menyusunya. Itulah sebabnya, onta yang bisa diperah susunya seperti memakai “celana”. Celana itu dibuka manakala akan diperah. Namun setelah magrib, “celana” itu dibuka untuk memberikan susu kepada anak onta. Sedangkan siang hari, susu itu diperah untuk para pengunjung yang mendatangi peternakan itu.

Saat diperah, susu onta mengalir deras. Hanya dalam semenit, keluar sekitar dua liter. Warnanya putih berbusa seperti sabun. Saat diperah, susu tersebut dituangkan dalam baskom. Dari baskom yang besar kemudian disaring sembari dimasukkan ke dalam botol kecil air mineral dengan ukuran separuh atau sekitar 250 miligram. Susu yang masuk ke dalam botol tidak lagi berbusa, karena tertinggal di dalam baskom.

Pengunjung bisa meminum langsung dari botol yang sudah diisi susu tersebut. Setiap satu botol kecil harganya RS 5 atau setara dengan Rp 13.500,00. Pengunjung juga dapat membeli satu baskom sekaligus. Pada musim haji seperti sekarang ini harganya RS 40 perbaskom. Namun saat musim sepi, harganya Cuma RS 25.

Penulis merupakan orang pertama yang mencoba meminum susu onta di antara para wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji Daerah Kerja Mekah. Rasanya sedikit asin, tanpa ada rasa manis, tapi tidak berbau amis, mirip rasa santan. Bahkan dapat dikatakan, aromanya sedikit lebih wangi daripada susu sapi. Kalaupun agak bau, karena diminum langsung di peternakan, yang dekat dengan kandang onta.

Beberapa teman wartawan juga mencoba meminumnya. Satu dua orang mampu menghabiskan satu botol kecil. Namun yang lain hanya mampu menghabiskan separuhnya. Sebagian lain sama sekali tak ingin mencobanya, takut muntah. Apa pun rasanya, apa pun khasiatnya, yang pasti meminum susu onta langsung setelah diperah merupakan wisata yang eksklusif, tak ditemui di tanah air. Makanya, saat berhaji, jangan lewatkan wisata ini. (Wachu)

Read Full Post »

Menjaga kesehatan merupakan hal yang penting bagi kelancaran ibadah haji, khususnya bagi calhaj yang datang dari negara yang berbeda suhu udaranya, apalagi setelah menempuh penerbangan panjang dari tanah air dan juga bagi kaum lanjut lanjut.

Mariam A. Alireza dalam tulisannya berjudul “Kit Pertolongan Pertama Anda saat Berhaji” seperti yang dikutip Arab News, Minggu, memberikan tip-tip kesehatan bagi calon jemaah haji.

Intinya, sebelum menunaikan rukun Islam kelima yang cukup melelahkan nanti, calhaj harus menyiapkan diri memperkuat daya tahan tubuh dan energi dengan meningkatkan imunitas tubuh dari serangan patogen dan virus.

Calhaj beberapa pekan sebelum melakukan ibadah haji hendaknya memperhatikan asupan nutrisi dengan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran.

Menu harus seimbang antara asupan protein (ikan, ayam) dan karbohidrat (nasi atau roti gandum), sayuran (hijau-hijauan seperti bayam, buncis, brokoli dan buah-buahan segar).

Buah dan sayur akan memasok tubuh dengan anti oksidan dan bioflafonoid, sedangkan khusus jeruk (lemon) akan menjaga tubuh dari infeksi dan perlindungan terhadap kuman-kuman penyakit.

Rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, pala, dan lada bisa meningkatkan sistem imunitas tubuh terhadappenyakit.

Sebagai cemilan, calhaj disarankan memakan buah segar ataupun yang dikeringkan, sebaliknya menghindari goreng-gorengan, makanan yang menggunakan zat pewarna dan pengawet yang bisa melemahkan sistem imunitas tubuh.

Sementara itu, pemanis buatan seperti aspartam bisa merusak jaringan syaraf (neurotoxin), berbahaya terhadap jaringan otak dan tubuh, apalagi jika dipanaskan di atas suhu 30 derajat Celcius.

Air dan cairan sangat penting bagi sistem tubuh, sehingga dianjurkan minum air yang sudah disterilkan, bukan air dalam kemasan, apalagi yang terkena sengatan mata hari, karena kemasan plastiknya dapat mengkontaminasi air.

Minuman Soda dengan pemanis juga harus dihindari karena dapat melemahkan kemampuan tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus.

Teh herbal yang dibubuhi cengkeh, mint, rosemary, sereh, jahe, kamomila, bisa menawar racun (dextofy) dan menghindari infeksi.

Racikan teh dengan madu, menurut seorang dokter Palestina bernama Hani Yunus juga berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh dari infeksi flu babi (H1N1) dan influensa.

Sup berbumbu bawang putih, bawang merah atau bubuk cayenne juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh, sedangkan yoghurt dibubuhi sedikit garam dapat mempertahankan zat air dalam tubuh, namun diingatkan bagi calhaj yang mengidap hypertensi untuk tidak mengkonsumsi garam berlebihan.

Daun basilica dan bunga star anis juga dianjurkan dalam pengobatan China untuk melawan virus H1N1 dan virus penyakit lainnya.

Star Anis lebih manjur juga dikonsumsi dengan air hangat saat perut dalam keadaan kosong, sementara 20 lembar daun basilica diteguk dengan air hangat pada pagi hari juga dapat mencegah virus H1N1 atau paling tidak meminimalisir gejalanya.

Calhaj juga dianjurkan mengkonsumsi muli vitamin, vitamin C dosis tinggi dengan bioflavonoid serta suplemen mineral (berisi zat besi (zinc) dan selenium, sementara pasokan N-acetylcysteine dosis diatas 1.000 mg per hari dan L-Lysine 500 mg saat perut kosong juga bisa menekan gejala H1N1.

Ektrak jamur maitake, shiitake reishi juga bisa dikonsumsi untuk mendukung sistem kekebalan tubuh melawan infeksi virus.

Menghangatkan tubuh di pagu hari beberapa menit juga diperlukan untuk memberi kesempatan pada kulit mensintesiskan vitamin D nutrisi yang akan menyuburkan sel-sel tubuh dan membangun kekebalan tubuh.

Namun demikian diingatkan pula bahwa berjemur di pasan matahari terlalu lama dapat mengakibatkan terbakarnya kulit (sanburn) atau stroke (heatstroke), sebaliknya sinar matahari dapat membunuh kuman dan virus di udara dan menaikkan suhu badan sehingga mampu membunuh patogen.

Jemaah biasanya akan mengalami kelelahan saat mengikuti prosesi puncak haji yakni menjelang safari Wukuf di Padang Arafah (mulai 26 November atau 9 Zulhijah) dilanjutkan ke Muzdalifah untuk mabit dan selama tiga hari berturut-turut setelah Idhul Adha 1430H pada 27 November atau 10 Zulhijah melempar jumrah.

Sementara itu, Minggu ini seluruh jemaah haji reguler Gelombang Pertama
Indonesia yang semula berkumpul di Madinah (sekitar 101.500 orang) sudah bergeser ke Mekah untuk mengikuti prosesi haji selanjutnya.

Diperkirakan sekitar 2,5 juta lebih calhaj dari berbagai penjuru dunia termasuk 191.000 calhaj reguler dan sekitar 20.000 calhaj non reguler Indonesia berkumpul di tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.(nanang)

Read Full Post »

Proses pemeriksaan keimigrasian di bandara Arab Saudi memakan waktu berjam-jam sehingga melelahkan para calon haji yang sebelumnya memang sudah letih karena penerbangan panjang dari Indonesia ke Saudi.

ANTARA melaporkan dari Jeddah, Kamis, setibanya di Bandara King Abdul Aziz (KAA) Jeddah, jemaah mesti membentuk antrian panjang untuk diperiksa kelengkapan dan kecocokan dokumen imigrasi mereka seperti paspor, visa masuk dan kartu kedatangan (entry card).

Pada entry card terdapat enam carik sobekan (stroke) berisi nomor kode (bar code) satu lembar masing-masing ditempel di lembar paspor hijau, di lembar E paspor daftar administrasi perjalanan ibadah haji (DAPIH – dulu paspor haji) dan di kartu keluar (exit card) dari Bandara Arab Saudi.

Dua sobekan lainnya diserahkan kepada petugas kementerian haji Arab Saudi, Maktab Wukala (pengelola penyelenggara haji di Jeddah) dan pengelola transportasi (Naqaba).

Calon haji lalu harus diambil sidik jari (10 jari) dan difoto, kemudian ke ruang bagasi untuk mengambil barangnya, dan setelah itu harus melewati melewati lagi pemeriksaan petugas kementerian haji dan Maktab Wukala di pintu keluar.

Proses berikutnya, jemaah ke ruang tunggu untuk konsolidasi kloter, dan jika satu kloter lengkap, maka diberangkatkan menuju Madinah dengan bus-bus yang sudah disiapkan oleh Naqaba.

Jika masih ada waktu, selama menanti keberangkatan ke Madinah, jemaah dapat melakukan shalat, mandi atau melakukann aktivitas lainnya dan sebelum menaiki bus, jemaah diperiksa kembali dokumen dan bar code-nya.

Setelah penerbangan belasan jam dari tanah air, jemaah masih harus menempuh perjalanan darat sekitar enam sampai tujuh jam menuju Madinah yang berjarak sekitar 450 km dari Jeddah.

Di Madinah, jemaah akan melakukan shalat Arbain (shalat berjamaah di Mesjid Nabawi selama 40 waktu) sebelum bergeser ke Mekah untuk mengikuti rangkaian proses ibadah haji selanjutnya, yakni umrah, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, tawaf(tujuh kali mengelilingi Ka`bah) dan sa`i (lari-lari kecil tujuh putaran antara bukit Shafa dan Marwah.

Menurut Kadaker Jeddah Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) Subhan Cholid, calon haji mesti menyisihkan waktu tambahan, paling tidak lima sampai tujuh menit, karena kebijakan baru pengambilan sidik jari dan foto itu.

Jadi, jika proses imigrasi normal memakan waktu sekitar dua jam, pengambilan sidik jari dan foto, akan memperpanjang waktu pemeriksaan imigrasi menjadi empat sampai lima jam setiap kloter.

Ditambah lagi dengan belum berfungsinya sebagian pintu gerbang bandara karena sedang direnovasi sehingga jumlah konter pemeriksan kurang memadai sehingga sulit mempersingkat proses pemeriksaan dokumen keimigrasian di bandara debarkasi Arab Saudi.

Belum lagi bila pesawat datang terlambat, seperti dialami kloter 7 embarkasi Makassar/Ujungpandang, yang akhirnya harus menempuh perjalanan total sekitar 29 jam untuk mencapai Madinah.

Pesawat Airbus A330 yang berangkat dari bandara embarkasi Ujung Pandang, Rabu pukul 10.15 waktu setempat, mengalami keterlambatan akibat gangguan pada unit akselerasi (Accceleration Power Unit, APU) saat transit dan mengisi bahan bakar di Batam.

Jadi penerbangan dari Makassar memerlukan waktu 17 jam lima belas menit untuk sampai di Arab Saudi, ditambah proses imigrasi lima jam, istirahat satu atau dua jam di bandara KAA dan tujuh jam perjalanan Jeddah – Madinah. Total, para calon haji menghabiskan 29 jam untuk sampai di Madinah. (antaranews)

Untuk menambah pengetahuan silahkan simak juga:

http://oleholehhaji.net/2008/11/29/koreksi-seputar-amalan-di-musim-haji/

http://oleholehhaji.net/2008/11/15/haji-ke-baitullah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/25/berhaji-tuk-meraih-ridha-ilahi/

http://oleholehhaji.net/2008/12/01/ikhlas-dalam-ibadah-haji-dan-ibadah-lainnya/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/bekal-bekal-penting-bagi-para-calon-jama%e2%80%99ah-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

http://oleholehhaji.net/2009/10/29/manasik-haji-untuk-anda-2/

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/kiat-sehat-bugar-selama-naik-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/mengatasi-musin-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/jamaah-haji-persiapkan-diri-hadapi-musim-dingin/

 

Read Full Post »

Berikut ini ada beberapa tips yang mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk membantu kelancaran ibadah haji.

1. Bawalah bekal makanan ringan dan minuman dalam kemasan kecil semisal air mineral botol kecil atau minuman kotak dalam tas tentengan. Proses imigrasi sebelum berangkat ataupun ketika mendarat terkadang tak terduga waktunya, terutama ketika mendarat di bandara King Abdulaziz, bisa jadi anda harus menunggu lama sampai selesai pemeriksaan imigrasi sedangkan di bandara tidak disediakan makanan dan minum. Ataupun jika terjadi penundaan penerbangan, atau ketika menunggu bis yang membawa jamaah dari jedah menuju mekah atau medinah.

2. Bagi jamaah putri yang memakai kerudung dengan tali, jangan mengikat tali kerudung terlalu kencang karena bisa menghambat peredaran darah sehingga oksigen ke kepala berkurang yang berakibat pusing bahkan pingsan.

3. Bawalah alat pemanas air yang terbuat dari logam bukan dari plastik, selain relatif lebih kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana juga lebih awet. Minumlah air hangat sebisa mungkin karena sangat membantu untuk mencegah batuk, terutama ketika di mina ataupun ketika di pondokan karena tidak semua pondokan di sediakan dispenser. Alat pemanas air akan berguna ketika air panas tidak/belum disediakan, semisal ketika tarwiyah

4. Alat semprot/spray sangat membantu ketika udara sangat panas, misal saat wukuf atau melempar jumrah, semprotan air di udara atau di wajah akan terasa sangat menyejukkan. Semprotan ini juga bisa digunakan untuk wudlu ketika di masjidil haram apabila wudlu anda batal saat menunggu sholat berikutnya. Bawalah botol spray yang kecil sehingga tidak merepotkan dan isilah dengan air zam-zam.

5. Sepotong gula jawa ketika anda berjalan menuju atau pulang dari jamarat, apalagi jika maktab anda jauh, terasa nikmat sekali, ditambah sedikit semprotan air zam-zam ke mulut anda, kenikmatannya tak akan pernah terlupakan.

6. Usahakan untuk tidak terlalu sering mandi, mandi sehari sekali sudah cukup. Karena udara kering maka sering mandi akan menyebabkan kulit anda lebih kering. Jangan mandi ketika anda merasa lelah karena bisa membuat kondisi tubuh anda semakin lemah.

7. Jika anda merasa kepala terasa ringan, berjalan seperti berayun-ayun maka minum air rendaman kacang hijau, insya allah akan membantu. Caranya: ambil segenggam kacang hijau, cuci bersih kemudian taruh di gelas dan tuang dengan air mendidih, tunggu sampai dingin, baru diminum. Minumlah sehari 2x

8. Bagi yang suka ’kerokan’ untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan seperti masuk angin, jangan lupa untuk membawa uang logam.

9. Jangan lupa untuk selalu berdoa setiap kali  akan melakukan ibadah, mohom kepada Allah untuk dimudahkan, dan diberi petunjuk agar bisa menjalaninya dengan benar

Obat-obat yang perlu dibawa untuk ibadah haji
Meski di setiap kloter sudah ada petugas kesehatan yang akan membantu anda ketika anda mengalami gangguan kesehatan, ada baiknya membekali diri dengan obat-obat yang bermanfaat untuk pertolongan pertama/penyakit ringan.

Obat ini diluar obat yang memang biasa rutin diminum untuk penyakit kronis yang diderita.
1. Paracetamol bisa digunakan untuk mengatasi sakit kepala atau untuk menurunkan panas.
2.Obat hisap/lozenges, misal: degirol, permen woods, FG Troches untuk mengatasi serak dan sakit tenggorokan.

Sebagamana dikisahkan oleh: Dra.Diatri Rahayu, Apt (Penanggung Jawab PJ Al-Ghuroba’ dan salah satu apotik di DI Yogyakarta) melalui email kontak@info.tm

Read Full Post »

Kesempatan untuk bisa pergi ke tanah suci merupakan satu nikmat yang tak habis-habis untuk disyukuri. Segala apa yang kita temui memberi kebahagiaan yang teramat dalam. Saya baru mengerti mengapa setiap orang yang sudah pergi haji selalu ingin untuk kembali lagi ke sana. Meski awal perjalanan haji kami saya mulai dengan kejadian yang cukup  berat, yaitu pingsan di pesawat, alhamdulillah setelah itu Allah banyak memberi kemudahan-kemudahan.

Catatan ini saya buat sebagai ilustrasi bahwa segala sesuatu yang pada awalnya terasa berat dalam ibadah haji akan terasa nikmat jika kita sepenuhnya berserah diri pada Allah dan yakin bahwa Allah akan memuliakan tamu-tamuNya. Karena setiap orang, setiap tahun, yang dihadapi berbeda-beda, tetapi apapun keaadaannya haji tetaplah nikmat.

GELOMBANG 2
Sejak awal manasik dijelaskan bahwa rombongan haji Indonesia dibagi 2 gelombang: gelombang 1 ke medinah dulu baru ke mekah, sedang gelombang 2 langsung ke mekah baru ke medinah. Berdoa saja kita termasuk gelombang1 begitu pembimbing bilang, bahkan beliau berkata selama ini yogya selalu gelombang 1. seolah-olah gelombang 1 lebih enak daripada gelombang 2. Anehnya lagi pada waktu manasik bahkan sampai praktek manasik selalu diandaikan gelombang 1.

Ternyata pada saat pengumuman kloter kita masuk gelombang 2, saya sempat terpana saat itu. Bukan karena kecewa tetapi lebih pada ketidaksiapan untuk menghadapi keadaan tidak sesuai rencana. Mungkin hanya persoalan kecil tetapi dari situ saya belajar bahwa meski kita punya rencana, kita harus siap menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan rencana kita, semuanya kita pasrahkan kepada Allah.

Gelombang 2 memang mempunyai beberapa masalah yaitu penentuan miqat dan kedatangan yang mendekati puncak haji, kedua hal tersebut tidak dijumpai pada pemberangkatan dengan gelombang 1. Pada akhirnya kedua hal itupun tidak menjadi masalah,sehingga ketika haji selesai saya malah merasakan nikmatnya berangkat dengan gelombang 2. Kenapa? Jarak waktu yang sebentar antara kedatangan di mekah dengan puncak haji menjadikan kami lebih konsentrasi sehingga ketika mulai tarwiyah, wukuf hingga melempar jumroh bisa kami lakukan dengan baik. Kemudian ketika pulang kembali ke mekah, kami masih mempunyai cukup waktu untuk beristirahat dan bisa merasakan ”sepinya” masjidil harom.

Beberapa jamaah yang sakit sepulang dari mina bisa istirahat dengan tenang karena toh puncak haji sudah selesai. Ketika saat ke medinah sebagian besar jamaah dalam kondisi sehat. Saya sendiri ketika pulang dari mina mulai batuk, begitu di medinah langsung terasa ringan. Bisa dimaklumi karena udara medinah lebih nyaman daripada mekah sehingga yang dari mekah masih sakit sampai medinah langsung sembuh. Saya merasakan begitu nyaman saat beribadah di masjid nabawi hingga waktu 9 hari dengan cepat berlalu. Saudara-saudara kami heran begitu kami tiba di tanah air, kok kami begitu terlihat sehat ? Tidak terlihat lelah, tidak terlihat batuk-batuk. Alhamdulillah batuknya sudah ditinggal di sana.

PONDOKAN DI SAUQIYYAH
Sauqiyyah adalah daerah yang baru pertama kali digunakan sebagai pondokan jamaah haji Indonesia. Letaknya di pinggiran mekah sepertinya daerah baru karena masih sepi dan rumah-rumah dibangun diantara gunung-gunung. Jarak dari kota mekah hanya 14 km saja.Di sana tidak ada toko-toko sebagaimana yang ada di sekitar masjidil harom, jika jamaah haji ingin berbelanja maka pergi ke jalan utama di kawasan itu di mana ada beberapa minimarket yang menjual berbagai macam kebutuhan yang tentu saja tak sebanyak di mekah.

Kondisi ini memberi keuntungan sendiri karena kami jadi tidak sibuk untuk berbelanja. Jamaah haji  indonesia di sauqiyyah ditempatkan di rumah-rumah penduduk jadi tidak di hotel sebagaimana di sekitar masjidil harom. Rumahnya pun kecil-kecil hanya berkisar 5-6 lantai.Tidak terlalu padat, udaranya pun cukup segar, di pagi hari masih terdengar burung berkicau. Namanya juga di desa.

Rombongan kami karena hanya berjumlah 31 orang ditempatkan di sebuah rumah yang sebagian besar dari kloter lain, sedang kloter kami lainnya berada di rumah yang lain. Karena datang belakangan tentu saja dapat kamarnya pun sisa kamar yang ada. Rombongan yang terdiri dari 3 regu hanya mendapat 3 kamar, ibu-ibu yang berjumlah 15 orang dapat 2 kamar, 1 kamar kecil untuk 1 regu untuk 4 orang, 1 kamar yang besar untuk 2 regu lainnya yaitu untuk 11 orang padahal kapasitas kamar hanya untuk 9 orang. Sedang bapak-bapak dari 3 regu jadi satu kamar, semuanya 16 orang. Dahsyat bukan?

Keterkejutan kami yang belum hilang karena melihat daerah tempat kami tinggal selama di mekah di tambah dengan kondisi rumah yang kami tinggali benar-benar menguji kesabaran kami. Beberapa teman mulai mengeluh, suami buru-buru menasehati untuk sabar dan menahan diri untuk tidak mengeluh. Insya allah, Allah akan beri kemudahan.

Yang terlintas di pikiran saya, ternyata pergi haji perlu kemampuan untuk survival juga. Tidak semua tersedia, tidak semua mudah.Tetap perlu perjuangan.

Perjuangan itu ternyata memang sangat diperlukan selama di sauqiyyah, karena jarak yang jauh maka untuk untuk ke masjidil haram harus naik bis. Stasiun bis ada sekitar 3 km-an dari masjidil haram, dari stasiun ke masjid dihubungkan dengan terowongan di bawah pelataran masjidil haram. Jamaah diturunkan di terowongan kemudian berjalan sekitar 300 m, begitu keluar terowongan sudah sampai ke pelataran masjidil haram.

Pertama kali masuk ke terowongan, terus terang nyali saya ciut, bagaimana tidak? Di terowongan yang tidak terlalu terang, suara bising oleh kendaraan dan suara blower, kondisinya padat sekali, orang begitu banyak karena sudah mendekati puncak haji. Masjidil harampun sudah penuh. Subhanallah belum pernah saya melihat orang segitu banyak dan semuanya mengagungkan asma Allah. Rasa haru dan bahagia begitu meliputi seluruh jiwa begitu memasuki masjid dan melihat ka’bah, susah payah menuju kemari hilang begitu saja.

Perjuangan untuk sampai ke masjidil haram dari sauqiyah menjadikan setiap kali ke sana menjadi begitu berharga. Tidak sebagaimana yang jarak pondokan dekat, kami di sauqiyah hanya bisa sehari sekali ke sana. Itu pun tidak setiap hari mengingat kondisi tubuh. Perjalanan memang melelahkan terutama di terowongan itu.Pada awalnya karena rute kami dari terowongan langsung ke pelataran masjid begitu pun pulangnya, saya sempat heran kata orang di sekitar masjid banyak toko-toko, mana tokonya? Bagai mana bisa tahu? Tahunya cuman terowongan sama pelataran masjid, padahal pelataran masjid penuh manusia dari ujung ke ujung, baru ketika masjidil haram’sepi’ saya baru bisa melihat keadaan sekitar masjid.

Perjuangan membawa banyak kemudahan, Allah memberi kami banyak kemudahan dalam kami menjalankan ibadah di baitullah ini. Ketika Umrah, thawaf ifadhah, sampai thawaf wada begitu banyak kami mendapat kemudahan. Meski ketika thawaf  ataupun sai tidak semua jadi satu tetapi begitu selesai semua bisa berkumpul kembali. Seluruh rombongan bisa menunaikan thawaf dan sai dengan lancar, tak ada anggota rombongan yang tersesat ataupun tertinggal. Ketika thawaf dalam kondisi penuh sesak padahal kami bersama orang-orang tua, dengan berserah diri dan memohon pertolongan Allah, alhamdulillah kami bisa menunaikannya dengan mudah. Tanpa terpisah dengan orangtua yang kami gandeng, tidak mengalami didesak ataupun ditabrak orang. Subhanallah. Semuanya lancar.

Sementara itu tinggal di sauqiyah, meski mungkin tidak di semua rumah, saya merasakan banyak kenikmatan.Paling tidak itu yang saya rasakan. Seperti yang saya tulis di awal tadi, saya bersama 10 orang jamaah putri lainnya dapat kamar terakhir yang ternyata kamar itu dekat kamar yang ditinggali oleh kepala keluarga. Satu rumah ditinggali oleh sepasang suami istri beserta anak-anak mereka yang sudah berkeluarga beserta cucu-cucu mereka, masing-masing tersebar di lantai yang berbeda. Kebetulan yang kami tinggali dekat kepala keluarga dengan pembantu mereka dari indonesia yang baik hati dan pintar memasak. Sejak hari pertama kami datang, makanan tidak henti-hentinya mengalir ke kamar kami, Dari nasi bukhari, salad, donat, pizza, sambosa, cake, hingga buah pisang ataupun sekedar teh dan susu. Hanya kamar kami. Masya allah, betapa mudah Allah menyenangkan kami.

Tuan rumah sangat ramah dan baik. Kami pun bisa bercanda dengan cucu-cucu mereka yang lucu. Ada lagi yang menyenangkan di sauqiyah terutama 10 hari pertama bulan dzulhijah, banyak orang shodaqoh makanan kepada jamaah haji di sana, saat makan siang ataupun sore tiba-tiba datang kiriman makanan lengkap dengan minum dan buah ke pondokan. Makanan benar-benar melimpah, padahal informasi awal kami di suruh membawa bekal makanan banyak karena di sauqiyah tidak banyak toko. Tapi siapa bilang makanan datang harus dari toko? Belum lagi kalau kami tidak ke masjidil haram, biasa kami sholat jamaah di masjid dekat rumah pondokan kami. Ketika duduk menunggu sholat berikutnya tiba-tiba di pangkuan kami diletakkan satu bungkusan berisi roti, sari buah dan biskuit ataupun ketika pulang ada ibu-ibu bercadar membagi kurma setengah kiloan, atau roti lengkap dengan selai dan keju, atau nasi bukhori. Bahkan suatu sore ketika saya dan suami jalan-jalan sepulang belanja kebutuhan di minimarket ada mobil menyalip kami kemudian berhenti dan memanggil kami, diberinya kami jeruk dan pisang.

Masjid di belakang pondokan kami juga menjadi hiburan tersendiri bagi kami yang merasakan jauhnya ke masjidil haram. Imam masjid, masjid al-ikhsan namanya, suaranya begitu merdu sehingga sholat jamaah di belakang beliau membaca surat sepanjang apapun tidak terasa capek, beberapa teman menilai suara imam masjid al-ikhsan lebih merdu di bandingkan imam masjidil haram dan masjid nabawi. Secara berkala ada seorang syeh yang memberi taklim di masjid itu dengan penterjemah, karena jamaah hampir semua indonesia.

Suatu ketika suami saya menanyakan hadits yang menjelaskan bahwa sholat di masjid lain di mekah pahalanya sama dengan di masjidil haram, syeh itu menjelaskan hadits tsb benar, hanya saja di masjidil haram terdapat tempat-tempat yang mustajabah. Rasanya ‘nyes’ di hati mendengarnya, pahala memang hak Allah tetapi mendengar penjelasan tersebut benar-benar melegakan mengingat kondisi kami di sana saat itu. Tentu saja kami tetap ingin ke masjidil haram tetapi karena banyak hal kami tidak bisa ke sana semudah yang tinggal di dekat masjidil haram penjelasan tersebut benar-benar menghibur. Di masjid itu juga ada madrasah sore untuk anak-anak kecil semacam TPA di indonesia. Suami saya malah pernah main sepakbola dengan anak-anak kecil itu di halaman masjid. Menyenangkan bukan?

Pelajaran yang saya ambil dari sauqiyah adalah ketika kita menerima keadaan yang ada, menikmatinya dan bersyukur maka Allah akan melimpahkan nikmatNya, dan begitu mudah bagi Allah untuk merubah keadaan.

DI MINA
Malam menjelang tanggal 8 dzulhijah kami bertolak ke mina untuk tarwiyah mengikuti sunah Rasulullah, di mina kami menempati maktab di mina jadid.

Begitu turun saya melihat di pagar luar maktab ada papan penunjuk bertuliskan MUSDZALIFAH END HERE. Dalam hati saya berkata o..ini sudah mepet musdzalifah, diseberang sana sudah musdzalifah, kemudian yang langsung terlintas melempar jumrahnya harus berjalan jauh dari maktab.

Ada 2 hal yang paling berkesan selama di mina :
1. Ketika selesai wukuf kami diangkut dengan bis tepat adzan maghrib berkumandang, ketika bis melewati musdzalifah bis tidak berhenti, kami yang ada di bis bertanya-tanya kenapa bis tidak berhenti tapi terus berputar-putar sampai akhirnya bis memasuki mina jadid tempat tenda kami berada, kami diturunkan di maktab kembali. Kenapa kami diturunkan di maktab? Bukankah seharusnya menuju musdzalifah untuk mabit di sana, dan baru setelah lewat tengah malam baru kembali ke mina? Mereka yang tidak tarwiyah tidak mengetahui masalah ini karena mereka ke arafah dari mekah, tapi kami yang tarwiyah tahu karena kami pagi tadi berangkat menuju arafah dari sini, dari mina.

Pada awalnya saya berpikir mungkinkah karena maktab kami mepet dengan musdzalifah maka kami diturunkan di sini sehingga kami bisa menuju musdzalifah dan kembali ke maktab dengan jalan kaki. Karena dipaksa petugas untuk memasuki areal maktab dan berbekal keterangan ini merupakan ijtihad ulama arab saudi untuk mereka yang maktabnya di mina jadid kami kembali ke tenda meski dengan sedikit bingung dan ragu.

Pada akhirnya kami mendapat penjelasan bahwa tenda kami terletak di mina jadid yang merupakan perluasan dari mina yang letaknya di Musdzalifah, jadi kami mau ke musdzalifah mana lagi? Tenda kami sudah di musdzalifah. Ini ya mina,ini ya musdzalifah. Ternyata papan MUSDZALIFAH END HERE bukan berarti di sini mina, di sana musdzalifah tapi….di sini musdzalifah di sana sudah bukan musdzalifah lagi. Saya geli sendiri mengingat hal itu.

Kalaulah boleh memilih tentu saja kami memilih keadaan yang ideal tanpa khilafiyah semacam ini, sehingga kami bisa merasakan mabit di hotel seribu bintang, musdzalifah, tapi takdir Allah malam itu kami mabit di dalam tenda. Satu hal yang membuat saya terpana, saya merasakan betapa mudahnya haji kami, tanpa banyak kesulitan kami wukuf di arafah dengan khusyuk, makanan berlimpah, transportasi mudah dan sekarang mabit dan sekaligus sudah kembali ke mina. Sudah selesai haji kami? Begitu mudah? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

2. Sebelum berangkat ada teman bercerita bahwa dia ketika di mina, ia berada di mina jadid sehingga untuk melempar jumroh harus berjalan 7 km. Saat itu saya memohon kepada Allah mudah-mudahan tenda saya di mina tidak berada di mina jadid. Ternyata Allah menempatkan saya di mina jadid justru untuk menampakkan nikmatNya yang tak terhinga pada kami. Itu yang saya rasakan kemudian setelah kami menyelesaikan nafar tsani dan kembali ke mekah.

Kami berangkat untuk melempar jumroh aqabah pada tanggal 10 dzulhijah jam 2 siang, dengan hati sedikit ciut mengingat jarak itu tadi ditambah kondisi saya yang sejak pingsan di pesawat kepala saya selalu berasa kekurangan oksigen, kami berangkat. Selama berjalan tak henti-hentinya saya berdo’a mohon diberi kekuatan dan kemudahan. Subhanallah, jalan-jalan kami lalui dengan semangat, orang-orang tua yang saat berangkat terlihat payah, berjalan dengan semangat bahkan ada jamaah yang biasanya jalan dibantu tongkat ketika berjalan ke jamarat tongkatnya diangkat kemudian berjalan biasa.

Allah benar-benar memendekkan jarak yang kami lalui, padahal kami jalan 45 menit baru sampai terowongan mina, tapi seolah tak terasa jauh. Terowongan mina pun terasa menyenangkan waktu dilewati, jauh dari gambaran yang diceritakan orang-orang. Sesampai di jamarat, kami mengambil lantai 1 keadaan tidak terlalu ramai sehingga kami bisa melempar dengan tenang. Tak terkira rasa syukur dan haru kami selesai melempar jumroh aqobah, kami menangis dan saling mendoakan mudah-mudahan Allah menerima ibadah haji kami.

Tak kurang dari 3 jam jarak tempuh kami untuk berjalan ke jamarat pulang pergi. Subhanallah, tanpa pertolongan Allah tidak mungkin kami bisa menjalaninya. Sebagai perbandingan saja, sebelum berangkat haji saya dan suami latihan jalan-jalan, jarak tempuh kami 6-7 km itu pun pulangnya naik bis. Rombongan kami mengambil nafar tsani, jadi kami berjalan kaki kurang lebih 14 km sebanyak 4 kali, pada tgl 13 dzulhijah kami berjalan ke jamarat sesudah sholah subuh tanpa sarapan dulu padahal tgl 12 dzulhijah pulang dari jamarat baru pukul 11 malam.

Masya Allah, rasanya nikmat sekali. Hampir semua jamaah bisa melakukannya kecuali mereka yang benar-benar udzur. Apa yang saya ceritakan diatas sekedar ilustrasi yang menggambarkan bahwa dalam ibadah haji ada begitu banyak keajaiban, kemudahan dan kenikmatan yang tak tergambarkan sebelumnya. Cerita ini tidak bermaksud untuk membandingkan keadaan satu lebih baik dari keadaan lainnya,misal gelombang 2 lebih baik dari gelombang 1.

Seperti apapun yang kita temui haji membawa kenikmatan yang tidak terhingga selama kita ikhlas dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa ta’alaa. Nasehat seorang ustadz ketika akan berangkat: ”Tidak ada resiko dalam ibadah haji” Begitulah adanya maka hilangkanlah kekhawatiran dan kecemasan. Semoga bermanfaat.

Sebagamana dikisahkan oleh: Dra.Diatri Rahayu, Apt (Penanggung Jawab PJ Al-Ghuroba’ dan salah satu apotik di DI Yogyakarta) melalui email kontak@info.tm

Read Full Post »

Older Posts »