Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Persiapan Fisik Haji’ Category

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ichwan Sam, mengatakan, pihaknya pada dua hari lalu sudah mengeluarkan fatwa bahwa hanya dua vaksin meningitis yang halal, yakni vaksin meningitis produksi Novartis dari Italia dan Tian Yuan dari Cina. Sementara, vaksin meningitis produksi Glaxo dari Belgia dinyatakan haram.

“Dua hari yang lalu MUI telah memutuskan bahwa vaksin meningitis yang digunakan untuk jamaah haji yang selama ini haram telah diputuskan dua yang kemudian, yang pertama produksi dari Novartis Italia dan yang kedua produksi Tian Yuan Cina dinyatakan halal dan telah melalui penelitian,” kata Ichwan di Kantor Presiden, Senin (19/7).

Ichwan menyampaikan hal itu usai mendampingi pimpinan MUI bersilaturahim dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ichwan mengatakan, fatwa tersebut sebenarnya baru akan diumumkan MUI kepada publik pada Selasa (20/7). Namun, kata dia, Presiden sudah mendapatkan bocoran tentang fatwa itu dan Presiden menyambut baik.

Ichwan menjelaskan, ada tiga perusahaan yang mengajukan produk meningitis. Dari tiga yang diajukan itu, satu produk dari Glaxo asal Belgia dinyatakan haram karena mengandung babi. “Dua dipastikan tidak mengandung babi, yang Glaxo mengandung babi, setelah dilakukan pemeriksaan,” kata Ichwan.

Menurut dia, fatwa MUI ini akan mulai dilaksanakan pada pelaksanaan haji 2010 ini. Dia mengetahui bahwa pemerintah sudah memesan vaksin dari Glaxo, tapi vaksin tersebut tetap tidak bisa digunakan karena haram. “Tapi itu bagian daripada cost, tadi Presiden mengatakan, pemerintah tidak menggunakan itu,” kata dia.(Rep/ts)

Read Full Post »

Mekkah (Pinmas)–Tahap pertama proyek Monorel Makkah diharapkan akan selesai sebelum tahun ini haji. Hal ini akan memungkinkan para peziarah haji 35 persen menggunakan jasa kereta, kata Presiden Saudi Railway Organization (SRO) Abdul Aziz Al-Hoqail.

Menurutnya, monorel ini akan menghubungkan tempat-tempat suci dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ini akan mengurangi kemacetan lalu lintas, khususnya pada hari Arafah, yang biasanya membuat lalu lintas di Makkah tak bergerak.

“Meskipun seluruh proyek akan selesai sebelum musim haji tahun depan, penyelesaian tahap pertama akan bisa mengangkut 35 persen dari layanan kami akan ditawarkan kepada para peziarah tahun ini sendiri,” kata Hoqail.

Bila proyek selesai, maka 50 ribu mobil dan bus yang membawa peziarah antara Arafah, Muzdalifah, dan Mina seperti yang digunakan sebelumnya tidak lagi diperlukan.

Proyek dimulai dua tahun yang lalu di bagian selatan tempat-tempat suci di mana sebagian besar jamaah haji dari Arab Saudi serta negara-negara Teluk secara tradisional diakomodasi.

Nantinya, jamaah haji hanya berjalan tidak lebih dari 300 meter untuk mencapai salah satu dari tiga stasiun kos di Arafah. Muzdalifah juga akan memiliki tiga stasiun. Stasiun pertama di Mina dekat dengan Muzdalifah, sangat dekat dengan tempat melontar jumrah.

Kereta api ini dibangun sejajar dengan jalan sehingga pejalan kaki dan tenda jamaah haji di Mina tidak terganggu. Sistem seluruh kereta, termasuk stasiun, akan ditinggikan dan akan disiapkan akses eskalator dan tangga untuk mencapainya.

Masing-masing dari lima baris dari proyek monorel akan memiliki kapasitas per jam untuk membawa 60 ribu hingga 80 ribu penumpang antara Mina, Arafah dan Muzdalifah, dan kemudian antara Mina dan Makkah. Semua kereta akan memiliki 12 kompartemen besar, masing-masing 23 meter panjang dan tiga meter lebarnya.

Sebuah perusahaan Cina telah melakukan pembangunan jalur kereta api dan stasiun mempekerjakan 5.000 pekerja. Sumber informasi mengatakan gerbong kereta dan mesin kereta segera akan dikirim dari Cina ke Pelabuhan Islam Jeddah.

Read Full Post »


Selama di Madinah dengan kondisi cuaca dan suhu yang dingin, jemaah Indonesia rawan penyakit inveksi saluran pernapasan atas (ISPA) berupa batuk-pilek dan flu ringan. ISPA ini bisa berbahaya apabila menyebabkan sesak napas, pnemonia dan inspeksi saluran pernapasan bagian bawah.

Oleh karena itu, jemaah diminta untuk memperkuat daya tahan tubuh dengan makan, minum dan istirahat yang cukup. Di samping itu, jemaah juga diminta banyak mengonsumsi buah-buahan dengan rasa manis, dan bukan yang asam seperti jeruk. Karena dengan perubahan cuaca dan suhu, keasaman dapat menyebabkan diare.

Namun sayangnya, menurut dr. Agus Setiawan, petugas kesehatan dari kloter 56 SOC Solo, buah yang disajikan oleh katering selama di Madinah lebih sering berupa jeruk dengan rata-rata jeruk yang rasanya asam. Hal ini akan membuat jemaah bisa mengalami diare. Oleh karena itu, dirinya meminta agar buah jeruk yang disajikan diganti dengan buah lain seperti apel atau pisang, agar jemaah bisa terhindar dari diare dan rata-rata buah di Arab Saudi rasanhya asam.

Menanggapi keluhan mengenai rasa buah jeruk yang asam ini, Kepala Daerah Kerja Madinah Cepi Supriatna menandaskan tidak menjadi masalah apabila harus menggganti buah jeruk dengan buah lain apabila buah jeruk memang membuat mudarat. Mengenai penggantian ini pihaknnya akan bekerja sama dengan katering untuk mengakomodir kepentingan jemaah. (MA Effendi)

Read Full Post »

Menjaga kesehatan merupakan hal yang penting bagi kelancaran ibadah haji, khususnya bagi calhaj yang datang dari negara yang berbeda suhu udaranya, apalagi setelah menempuh penerbangan panjang dari tanah air dan juga bagi kaum lanjut lanjut.

Mariam A. Alireza dalam tulisannya berjudul “Kit Pertolongan Pertama Anda saat Berhaji” seperti yang dikutip Arab News, Minggu, memberikan tip-tip kesehatan bagi calon jemaah haji.

Intinya, sebelum menunaikan rukun Islam kelima yang cukup melelahkan nanti, calhaj harus menyiapkan diri memperkuat daya tahan tubuh dan energi dengan meningkatkan imunitas tubuh dari serangan patogen dan virus.

Calhaj beberapa pekan sebelum melakukan ibadah haji hendaknya memperhatikan asupan nutrisi dengan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran.

Menu harus seimbang antara asupan protein (ikan, ayam) dan karbohidrat (nasi atau roti gandum), sayuran (hijau-hijauan seperti bayam, buncis, brokoli dan buah-buahan segar).

Buah dan sayur akan memasok tubuh dengan anti oksidan dan bioflafonoid, sedangkan khusus jeruk (lemon) akan menjaga tubuh dari infeksi dan perlindungan terhadap kuman-kuman penyakit.

Rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, pala, dan lada bisa meningkatkan sistem imunitas tubuh terhadappenyakit.

Sebagai cemilan, calhaj disarankan memakan buah segar ataupun yang dikeringkan, sebaliknya menghindari goreng-gorengan, makanan yang menggunakan zat pewarna dan pengawet yang bisa melemahkan sistem imunitas tubuh.

Sementara itu, pemanis buatan seperti aspartam bisa merusak jaringan syaraf (neurotoxin), berbahaya terhadap jaringan otak dan tubuh, apalagi jika dipanaskan di atas suhu 30 derajat Celcius.

Air dan cairan sangat penting bagi sistem tubuh, sehingga dianjurkan minum air yang sudah disterilkan, bukan air dalam kemasan, apalagi yang terkena sengatan mata hari, karena kemasan plastiknya dapat mengkontaminasi air.

Minuman Soda dengan pemanis juga harus dihindari karena dapat melemahkan kemampuan tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus.

Teh herbal yang dibubuhi cengkeh, mint, rosemary, sereh, jahe, kamomila, bisa menawar racun (dextofy) dan menghindari infeksi.

Racikan teh dengan madu, menurut seorang dokter Palestina bernama Hani Yunus juga berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh dari infeksi flu babi (H1N1) dan influensa.

Sup berbumbu bawang putih, bawang merah atau bubuk cayenne juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh, sedangkan yoghurt dibubuhi sedikit garam dapat mempertahankan zat air dalam tubuh, namun diingatkan bagi calhaj yang mengidap hypertensi untuk tidak mengkonsumsi garam berlebihan.

Daun basilica dan bunga star anis juga dianjurkan dalam pengobatan China untuk melawan virus H1N1 dan virus penyakit lainnya.

Star Anis lebih manjur juga dikonsumsi dengan air hangat saat perut dalam keadaan kosong, sementara 20 lembar daun basilica diteguk dengan air hangat pada pagi hari juga dapat mencegah virus H1N1 atau paling tidak meminimalisir gejalanya.

Calhaj juga dianjurkan mengkonsumsi muli vitamin, vitamin C dosis tinggi dengan bioflavonoid serta suplemen mineral (berisi zat besi (zinc) dan selenium, sementara pasokan N-acetylcysteine dosis diatas 1.000 mg per hari dan L-Lysine 500 mg saat perut kosong juga bisa menekan gejala H1N1.

Ektrak jamur maitake, shiitake reishi juga bisa dikonsumsi untuk mendukung sistem kekebalan tubuh melawan infeksi virus.

Menghangatkan tubuh di pagu hari beberapa menit juga diperlukan untuk memberi kesempatan pada kulit mensintesiskan vitamin D nutrisi yang akan menyuburkan sel-sel tubuh dan membangun kekebalan tubuh.

Namun demikian diingatkan pula bahwa berjemur di pasan matahari terlalu lama dapat mengakibatkan terbakarnya kulit (sanburn) atau stroke (heatstroke), sebaliknya sinar matahari dapat membunuh kuman dan virus di udara dan menaikkan suhu badan sehingga mampu membunuh patogen.

Jemaah biasanya akan mengalami kelelahan saat mengikuti prosesi puncak haji yakni menjelang safari Wukuf di Padang Arafah (mulai 26 November atau 9 Zulhijah) dilanjutkan ke Muzdalifah untuk mabit dan selama tiga hari berturut-turut setelah Idhul Adha 1430H pada 27 November atau 10 Zulhijah melempar jumrah.

Sementara itu, Minggu ini seluruh jemaah haji reguler Gelombang Pertama
Indonesia yang semula berkumpul di Madinah (sekitar 101.500 orang) sudah bergeser ke Mekah untuk mengikuti prosesi haji selanjutnya.

Diperkirakan sekitar 2,5 juta lebih calhaj dari berbagai penjuru dunia termasuk 191.000 calhaj reguler dan sekitar 20.000 calhaj non reguler Indonesia berkumpul di tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.(nanang)

Read Full Post »

Modalnya sederhana, hemat, dan tekun.

WANITA berjilbab kembang-kembang itu melompat pelan. Pengemudi becak yang ditumpanginya, dengan napas kembang kempis, menyeka keringat yang berleleran di keningnya. Bercelana pendek dan bertopi koboi, Wamir, pengemudi becak itu, masuk ke pelataran kantor Departemen Agama Brebes, Jawa Tengah. Istrinya, wanita tua berjilbab tadi, mengekori. “Pak, pinten ongkosipun mangkat kaji tiyang kalih (Pak, saya mau naik haji, berapa ongkosnya berdua,)” kata Wamir kepada petugas urusan haji. Sesaat si petugas menakar tak yakin, lalu memberikan keterangan lengkap dan mengantarkannya ke bank *.

Lelaki sepuh berumur 65 tahun itu mengarahkan becaknya ke bank. Uang sejumlah Rp 35.516.000 yang dibungkus kain pun berpindah tangan. “Saya sudah pasrah, uang itu untuk naik haji. Sekarang uang saya tinggal puluhan ribu saja,” lanjut Wamir usai membayar. Ditemani hujan rintik-rintik, pasangan itu pulang dengan senyum sumringah.

Wamir dan Suri’ah pantas gembira. Biaya memenuhi rukun Islam kelima itu didapatnya dari menggenjot becak dan menjual sayuran. Saban harinya, lelaki berperawakan kecil itu mangkal di pasar Brebes. Seusai salat subuh, bersama Suri’ah yang sudah siap dengan sayur dan bumbu masak dagangannya, mereka berangkat bersama. “Saya tak pernah ngoyo. Ada rezeki, alhamdulillah, dikumpulkan. Tak ada, ya berdoa dan berusaha,” kata Wamir. Tetangganya di Kampung Pasarbatang menyebut pasangan itu seperti mimi lan mintuna alias Romeo dan Juliet.

Padahal, sejak menikah pada l950, kehidupan mereka amat miskin. Orangtuanya hanya mewariskan rumah kumuh. Maklum, orangtua Wamir hanya petani penggarap. Waktu melaju, hingga menapaki usia perkawinan ke-10. Saat dikaruniai satu anak, Wamir berpikir untuk mengganti pekerjaan. Wamir mencari utangan untuk membeli sebuah becak seharga Rp 15.000.

Hari pertama mengayuh becak menjadi pengalaman menyakitkan buat Wamir. Dari pasar Brebes (kota) ke Tegal yang jaraknya sekitar 15 kilometer cuma dibayar Rp 10. Karena Wamir prigel dan ramah, dia cepat mendapat langganan. Selain pesaingnya masih sedikit, Wamir melengkapi becaknya dengan pelbagai aksesoris, macam lampu dan bel. “Berbeda dengan mencangkul yang hanya menggerakkan tangan dan badan, mbecak bergerak seluruh badan. Rasanya tulang mau patah-patah,” kenangnya. Obatnya murah, pijatan sayang sang istri.

Serbuan becak-becak ke Brebes, pada l976, membuat langganan Wamir berkurang. Uang tabungan sejak l960 dialihkan ke usaha bawang merah. Dia juga berjualan ayam dan kayu bakar. Meski sedikit, Wamir telaten menyimpannya. “Pikiran saya suatu saat akan naik haji, seperti pak kyai,” katanya polos. Wamir yang buta huruf seolah hanya berkarya dan bekerja, tanpa pamrih. “Bisa menabung Rp 1.000, sudah lumayan,” tambahnya. Tiga tahun lampau, ketika Indonesia belum dilanda krisis moneter, biaya haji baru Rp 8 juta. Tapi, uang Wamir belum cukup. Alhamdulillah, sepanjang tiga tahun ini, rezeki Wamir mengalir lancar. Penumpang yang biasanya hanya lima, terkadang mencapai puluhan sehari. Apalagi, harga bawang merah juga ikut melonjak.

Sampai suatu ketika, beberapa pekan lalu, Wamir dan Su’riah menyisakan waktunya selama tiga hari untuk menghitung uang yang disimpan di rumah. Masya Allah, jumlah uang yang terkumpul ada sekitar 35,5 juta. “Saat itu saya berpikir, wah ini untuk bangun rumah saja,” katanya. Tapi, istrinya marah-marah. “Dulu, kita kumpulin uang untuk naik haji. Rumah kan tak dibawa mati,” kata Suri’ah, mengingatkan suaminya.

Wamir terhenyak. Paginya, mereka sepakat mendaftar haji. Ternyata, masa pendaftaran sudah ditutup. Oleh tetangganya yang
kerja di sana, diberitahu akan ada pendaftaran ****lan menunggu hitungan kuota provinsi Jawa Tengah. Harap-harap cemas menunggu, kabar dari Semarang pun tiba, jamaah Brebes bisa ditambah. “Kami mendaftar di urutan kedua,” kata Wamir dengan wajah cerah.

Kini, di rumahnya yang sederhana, hanya berisi satu set kursi lusuh, lemari, dan dipan, Wamir dan Su’riah -yang ditemani empat dari sepuluh cucunya- setiap malam mengaji, salat tahajud, dan salat taubat. Karena sibuk manasik haji, maka Wamir sementara stop mbecak.

Meski begitu, mereka sesekali kelihatan di pasar. “Kami tetap bekerja untuk bekal di Makkah dan ditinggal buat cucu,” kata
Wamir. Keduanya berniat tak akan berganti pekerjaan sepulang dari tanah suci. Hanya frekuensinya akan dikurangi, sebab Wamir akan berkonsentrasi ke bawang merah. Berhaji dengan perasan keringat, mudah-mudahan mabrur. Amien.

-A. Latief Siregar, dan H. Khoiri Ahmadi (Brebes)

Read Full Post »

Berikut ini ada beberapa tips yang mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk membantu kelancaran ibadah haji.

1. Bawalah bekal makanan ringan dan minuman dalam kemasan kecil semisal air mineral botol kecil atau minuman kotak dalam tas tentengan. Proses imigrasi sebelum berangkat ataupun ketika mendarat terkadang tak terduga waktunya, terutama ketika mendarat di bandara King Abdulaziz, bisa jadi anda harus menunggu lama sampai selesai pemeriksaan imigrasi sedangkan di bandara tidak disediakan makanan dan minum. Ataupun jika terjadi penundaan penerbangan, atau ketika menunggu bis yang membawa jamaah dari jedah menuju mekah atau medinah.

2. Bagi jamaah putri yang memakai kerudung dengan tali, jangan mengikat tali kerudung terlalu kencang karena bisa menghambat peredaran darah sehingga oksigen ke kepala berkurang yang berakibat pusing bahkan pingsan.

3. Bawalah alat pemanas air yang terbuat dari logam bukan dari plastik, selain relatif lebih kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana juga lebih awet. Minumlah air hangat sebisa mungkin karena sangat membantu untuk mencegah batuk, terutama ketika di mina ataupun ketika di pondokan karena tidak semua pondokan di sediakan dispenser. Alat pemanas air akan berguna ketika air panas tidak/belum disediakan, semisal ketika tarwiyah

4. Alat semprot/spray sangat membantu ketika udara sangat panas, misal saat wukuf atau melempar jumrah, semprotan air di udara atau di wajah akan terasa sangat menyejukkan. Semprotan ini juga bisa digunakan untuk wudlu ketika di masjidil haram apabila wudlu anda batal saat menunggu sholat berikutnya. Bawalah botol spray yang kecil sehingga tidak merepotkan dan isilah dengan air zam-zam.

5. Sepotong gula jawa ketika anda berjalan menuju atau pulang dari jamarat, apalagi jika maktab anda jauh, terasa nikmat sekali, ditambah sedikit semprotan air zam-zam ke mulut anda, kenikmatannya tak akan pernah terlupakan.

6. Usahakan untuk tidak terlalu sering mandi, mandi sehari sekali sudah cukup. Karena udara kering maka sering mandi akan menyebabkan kulit anda lebih kering. Jangan mandi ketika anda merasa lelah karena bisa membuat kondisi tubuh anda semakin lemah.

7. Jika anda merasa kepala terasa ringan, berjalan seperti berayun-ayun maka minum air rendaman kacang hijau, insya allah akan membantu. Caranya: ambil segenggam kacang hijau, cuci bersih kemudian taruh di gelas dan tuang dengan air mendidih, tunggu sampai dingin, baru diminum. Minumlah sehari 2x

8. Bagi yang suka ’kerokan’ untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan seperti masuk angin, jangan lupa untuk membawa uang logam.

9. Jangan lupa untuk selalu berdoa setiap kali  akan melakukan ibadah, mohom kepada Allah untuk dimudahkan, dan diberi petunjuk agar bisa menjalaninya dengan benar

Obat-obat yang perlu dibawa untuk ibadah haji
Meski di setiap kloter sudah ada petugas kesehatan yang akan membantu anda ketika anda mengalami gangguan kesehatan, ada baiknya membekali diri dengan obat-obat yang bermanfaat untuk pertolongan pertama/penyakit ringan.

Obat ini diluar obat yang memang biasa rutin diminum untuk penyakit kronis yang diderita.
1. Paracetamol bisa digunakan untuk mengatasi sakit kepala atau untuk menurunkan panas.
2.Obat hisap/lozenges, misal: degirol, permen woods, FG Troches untuk mengatasi serak dan sakit tenggorokan.

Sebagamana dikisahkan oleh: Dra.Diatri Rahayu, Apt (Penanggung Jawab PJ Al-Ghuroba’ dan salah satu apotik di DI Yogyakarta) melalui email kontak@info.tm

Read Full Post »

Kesempatan untuk bisa pergi ke tanah suci merupakan satu nikmat yang tak habis-habis untuk disyukuri. Segala apa yang kita temui memberi kebahagiaan yang teramat dalam. Saya baru mengerti mengapa setiap orang yang sudah pergi haji selalu ingin untuk kembali lagi ke sana. Meski awal perjalanan haji kami saya mulai dengan kejadian yang cukup  berat, yaitu pingsan di pesawat, alhamdulillah setelah itu Allah banyak memberi kemudahan-kemudahan.

Catatan ini saya buat sebagai ilustrasi bahwa segala sesuatu yang pada awalnya terasa berat dalam ibadah haji akan terasa nikmat jika kita sepenuhnya berserah diri pada Allah dan yakin bahwa Allah akan memuliakan tamu-tamuNya. Karena setiap orang, setiap tahun, yang dihadapi berbeda-beda, tetapi apapun keaadaannya haji tetaplah nikmat.

GELOMBANG 2
Sejak awal manasik dijelaskan bahwa rombongan haji Indonesia dibagi 2 gelombang: gelombang 1 ke medinah dulu baru ke mekah, sedang gelombang 2 langsung ke mekah baru ke medinah. Berdoa saja kita termasuk gelombang1 begitu pembimbing bilang, bahkan beliau berkata selama ini yogya selalu gelombang 1. seolah-olah gelombang 1 lebih enak daripada gelombang 2. Anehnya lagi pada waktu manasik bahkan sampai praktek manasik selalu diandaikan gelombang 1.

Ternyata pada saat pengumuman kloter kita masuk gelombang 2, saya sempat terpana saat itu. Bukan karena kecewa tetapi lebih pada ketidaksiapan untuk menghadapi keadaan tidak sesuai rencana. Mungkin hanya persoalan kecil tetapi dari situ saya belajar bahwa meski kita punya rencana, kita harus siap menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan rencana kita, semuanya kita pasrahkan kepada Allah.

Gelombang 2 memang mempunyai beberapa masalah yaitu penentuan miqat dan kedatangan yang mendekati puncak haji, kedua hal tersebut tidak dijumpai pada pemberangkatan dengan gelombang 1. Pada akhirnya kedua hal itupun tidak menjadi masalah,sehingga ketika haji selesai saya malah merasakan nikmatnya berangkat dengan gelombang 2. Kenapa? Jarak waktu yang sebentar antara kedatangan di mekah dengan puncak haji menjadikan kami lebih konsentrasi sehingga ketika mulai tarwiyah, wukuf hingga melempar jumroh bisa kami lakukan dengan baik. Kemudian ketika pulang kembali ke mekah, kami masih mempunyai cukup waktu untuk beristirahat dan bisa merasakan ”sepinya” masjidil harom.

Beberapa jamaah yang sakit sepulang dari mina bisa istirahat dengan tenang karena toh puncak haji sudah selesai. Ketika saat ke medinah sebagian besar jamaah dalam kondisi sehat. Saya sendiri ketika pulang dari mina mulai batuk, begitu di medinah langsung terasa ringan. Bisa dimaklumi karena udara medinah lebih nyaman daripada mekah sehingga yang dari mekah masih sakit sampai medinah langsung sembuh. Saya merasakan begitu nyaman saat beribadah di masjid nabawi hingga waktu 9 hari dengan cepat berlalu. Saudara-saudara kami heran begitu kami tiba di tanah air, kok kami begitu terlihat sehat ? Tidak terlihat lelah, tidak terlihat batuk-batuk. Alhamdulillah batuknya sudah ditinggal di sana.

PONDOKAN DI SAUQIYYAH
Sauqiyyah adalah daerah yang baru pertama kali digunakan sebagai pondokan jamaah haji Indonesia. Letaknya di pinggiran mekah sepertinya daerah baru karena masih sepi dan rumah-rumah dibangun diantara gunung-gunung. Jarak dari kota mekah hanya 14 km saja.Di sana tidak ada toko-toko sebagaimana yang ada di sekitar masjidil harom, jika jamaah haji ingin berbelanja maka pergi ke jalan utama di kawasan itu di mana ada beberapa minimarket yang menjual berbagai macam kebutuhan yang tentu saja tak sebanyak di mekah.

Kondisi ini memberi keuntungan sendiri karena kami jadi tidak sibuk untuk berbelanja. Jamaah haji  indonesia di sauqiyyah ditempatkan di rumah-rumah penduduk jadi tidak di hotel sebagaimana di sekitar masjidil harom. Rumahnya pun kecil-kecil hanya berkisar 5-6 lantai.Tidak terlalu padat, udaranya pun cukup segar, di pagi hari masih terdengar burung berkicau. Namanya juga di desa.

Rombongan kami karena hanya berjumlah 31 orang ditempatkan di sebuah rumah yang sebagian besar dari kloter lain, sedang kloter kami lainnya berada di rumah yang lain. Karena datang belakangan tentu saja dapat kamarnya pun sisa kamar yang ada. Rombongan yang terdiri dari 3 regu hanya mendapat 3 kamar, ibu-ibu yang berjumlah 15 orang dapat 2 kamar, 1 kamar kecil untuk 1 regu untuk 4 orang, 1 kamar yang besar untuk 2 regu lainnya yaitu untuk 11 orang padahal kapasitas kamar hanya untuk 9 orang. Sedang bapak-bapak dari 3 regu jadi satu kamar, semuanya 16 orang. Dahsyat bukan?

Keterkejutan kami yang belum hilang karena melihat daerah tempat kami tinggal selama di mekah di tambah dengan kondisi rumah yang kami tinggali benar-benar menguji kesabaran kami. Beberapa teman mulai mengeluh, suami buru-buru menasehati untuk sabar dan menahan diri untuk tidak mengeluh. Insya allah, Allah akan beri kemudahan.

Yang terlintas di pikiran saya, ternyata pergi haji perlu kemampuan untuk survival juga. Tidak semua tersedia, tidak semua mudah.Tetap perlu perjuangan.

Perjuangan itu ternyata memang sangat diperlukan selama di sauqiyyah, karena jarak yang jauh maka untuk untuk ke masjidil haram harus naik bis. Stasiun bis ada sekitar 3 km-an dari masjidil haram, dari stasiun ke masjid dihubungkan dengan terowongan di bawah pelataran masjidil haram. Jamaah diturunkan di terowongan kemudian berjalan sekitar 300 m, begitu keluar terowongan sudah sampai ke pelataran masjidil haram.

Pertama kali masuk ke terowongan, terus terang nyali saya ciut, bagaimana tidak? Di terowongan yang tidak terlalu terang, suara bising oleh kendaraan dan suara blower, kondisinya padat sekali, orang begitu banyak karena sudah mendekati puncak haji. Masjidil harampun sudah penuh. Subhanallah belum pernah saya melihat orang segitu banyak dan semuanya mengagungkan asma Allah. Rasa haru dan bahagia begitu meliputi seluruh jiwa begitu memasuki masjid dan melihat ka’bah, susah payah menuju kemari hilang begitu saja.

Perjuangan untuk sampai ke masjidil haram dari sauqiyah menjadikan setiap kali ke sana menjadi begitu berharga. Tidak sebagaimana yang jarak pondokan dekat, kami di sauqiyah hanya bisa sehari sekali ke sana. Itu pun tidak setiap hari mengingat kondisi tubuh. Perjalanan memang melelahkan terutama di terowongan itu.Pada awalnya karena rute kami dari terowongan langsung ke pelataran masjid begitu pun pulangnya, saya sempat heran kata orang di sekitar masjid banyak toko-toko, mana tokonya? Bagai mana bisa tahu? Tahunya cuman terowongan sama pelataran masjid, padahal pelataran masjid penuh manusia dari ujung ke ujung, baru ketika masjidil haram’sepi’ saya baru bisa melihat keadaan sekitar masjid.

Perjuangan membawa banyak kemudahan, Allah memberi kami banyak kemudahan dalam kami menjalankan ibadah di baitullah ini. Ketika Umrah, thawaf ifadhah, sampai thawaf wada begitu banyak kami mendapat kemudahan. Meski ketika thawaf  ataupun sai tidak semua jadi satu tetapi begitu selesai semua bisa berkumpul kembali. Seluruh rombongan bisa menunaikan thawaf dan sai dengan lancar, tak ada anggota rombongan yang tersesat ataupun tertinggal. Ketika thawaf dalam kondisi penuh sesak padahal kami bersama orang-orang tua, dengan berserah diri dan memohon pertolongan Allah, alhamdulillah kami bisa menunaikannya dengan mudah. Tanpa terpisah dengan orangtua yang kami gandeng, tidak mengalami didesak ataupun ditabrak orang. Subhanallah. Semuanya lancar.

Sementara itu tinggal di sauqiyah, meski mungkin tidak di semua rumah, saya merasakan banyak kenikmatan.Paling tidak itu yang saya rasakan. Seperti yang saya tulis di awal tadi, saya bersama 10 orang jamaah putri lainnya dapat kamar terakhir yang ternyata kamar itu dekat kamar yang ditinggali oleh kepala keluarga. Satu rumah ditinggali oleh sepasang suami istri beserta anak-anak mereka yang sudah berkeluarga beserta cucu-cucu mereka, masing-masing tersebar di lantai yang berbeda. Kebetulan yang kami tinggali dekat kepala keluarga dengan pembantu mereka dari indonesia yang baik hati dan pintar memasak. Sejak hari pertama kami datang, makanan tidak henti-hentinya mengalir ke kamar kami, Dari nasi bukhari, salad, donat, pizza, sambosa, cake, hingga buah pisang ataupun sekedar teh dan susu. Hanya kamar kami. Masya allah, betapa mudah Allah menyenangkan kami.

Tuan rumah sangat ramah dan baik. Kami pun bisa bercanda dengan cucu-cucu mereka yang lucu. Ada lagi yang menyenangkan di sauqiyah terutama 10 hari pertama bulan dzulhijah, banyak orang shodaqoh makanan kepada jamaah haji di sana, saat makan siang ataupun sore tiba-tiba datang kiriman makanan lengkap dengan minum dan buah ke pondokan. Makanan benar-benar melimpah, padahal informasi awal kami di suruh membawa bekal makanan banyak karena di sauqiyah tidak banyak toko. Tapi siapa bilang makanan datang harus dari toko? Belum lagi kalau kami tidak ke masjidil haram, biasa kami sholat jamaah di masjid dekat rumah pondokan kami. Ketika duduk menunggu sholat berikutnya tiba-tiba di pangkuan kami diletakkan satu bungkusan berisi roti, sari buah dan biskuit ataupun ketika pulang ada ibu-ibu bercadar membagi kurma setengah kiloan, atau roti lengkap dengan selai dan keju, atau nasi bukhori. Bahkan suatu sore ketika saya dan suami jalan-jalan sepulang belanja kebutuhan di minimarket ada mobil menyalip kami kemudian berhenti dan memanggil kami, diberinya kami jeruk dan pisang.

Masjid di belakang pondokan kami juga menjadi hiburan tersendiri bagi kami yang merasakan jauhnya ke masjidil haram. Imam masjid, masjid al-ikhsan namanya, suaranya begitu merdu sehingga sholat jamaah di belakang beliau membaca surat sepanjang apapun tidak terasa capek, beberapa teman menilai suara imam masjid al-ikhsan lebih merdu di bandingkan imam masjidil haram dan masjid nabawi. Secara berkala ada seorang syeh yang memberi taklim di masjid itu dengan penterjemah, karena jamaah hampir semua indonesia.

Suatu ketika suami saya menanyakan hadits yang menjelaskan bahwa sholat di masjid lain di mekah pahalanya sama dengan di masjidil haram, syeh itu menjelaskan hadits tsb benar, hanya saja di masjidil haram terdapat tempat-tempat yang mustajabah. Rasanya ‘nyes’ di hati mendengarnya, pahala memang hak Allah tetapi mendengar penjelasan tersebut benar-benar melegakan mengingat kondisi kami di sana saat itu. Tentu saja kami tetap ingin ke masjidil haram tetapi karena banyak hal kami tidak bisa ke sana semudah yang tinggal di dekat masjidil haram penjelasan tersebut benar-benar menghibur. Di masjid itu juga ada madrasah sore untuk anak-anak kecil semacam TPA di indonesia. Suami saya malah pernah main sepakbola dengan anak-anak kecil itu di halaman masjid. Menyenangkan bukan?

Pelajaran yang saya ambil dari sauqiyah adalah ketika kita menerima keadaan yang ada, menikmatinya dan bersyukur maka Allah akan melimpahkan nikmatNya, dan begitu mudah bagi Allah untuk merubah keadaan.

DI MINA
Malam menjelang tanggal 8 dzulhijah kami bertolak ke mina untuk tarwiyah mengikuti sunah Rasulullah, di mina kami menempati maktab di mina jadid.

Begitu turun saya melihat di pagar luar maktab ada papan penunjuk bertuliskan MUSDZALIFAH END HERE. Dalam hati saya berkata o..ini sudah mepet musdzalifah, diseberang sana sudah musdzalifah, kemudian yang langsung terlintas melempar jumrahnya harus berjalan jauh dari maktab.

Ada 2 hal yang paling berkesan selama di mina :
1. Ketika selesai wukuf kami diangkut dengan bis tepat adzan maghrib berkumandang, ketika bis melewati musdzalifah bis tidak berhenti, kami yang ada di bis bertanya-tanya kenapa bis tidak berhenti tapi terus berputar-putar sampai akhirnya bis memasuki mina jadid tempat tenda kami berada, kami diturunkan di maktab kembali. Kenapa kami diturunkan di maktab? Bukankah seharusnya menuju musdzalifah untuk mabit di sana, dan baru setelah lewat tengah malam baru kembali ke mina? Mereka yang tidak tarwiyah tidak mengetahui masalah ini karena mereka ke arafah dari mekah, tapi kami yang tarwiyah tahu karena kami pagi tadi berangkat menuju arafah dari sini, dari mina.

Pada awalnya saya berpikir mungkinkah karena maktab kami mepet dengan musdzalifah maka kami diturunkan di sini sehingga kami bisa menuju musdzalifah dan kembali ke maktab dengan jalan kaki. Karena dipaksa petugas untuk memasuki areal maktab dan berbekal keterangan ini merupakan ijtihad ulama arab saudi untuk mereka yang maktabnya di mina jadid kami kembali ke tenda meski dengan sedikit bingung dan ragu.

Pada akhirnya kami mendapat penjelasan bahwa tenda kami terletak di mina jadid yang merupakan perluasan dari mina yang letaknya di Musdzalifah, jadi kami mau ke musdzalifah mana lagi? Tenda kami sudah di musdzalifah. Ini ya mina,ini ya musdzalifah. Ternyata papan MUSDZALIFAH END HERE bukan berarti di sini mina, di sana musdzalifah tapi….di sini musdzalifah di sana sudah bukan musdzalifah lagi. Saya geli sendiri mengingat hal itu.

Kalaulah boleh memilih tentu saja kami memilih keadaan yang ideal tanpa khilafiyah semacam ini, sehingga kami bisa merasakan mabit di hotel seribu bintang, musdzalifah, tapi takdir Allah malam itu kami mabit di dalam tenda. Satu hal yang membuat saya terpana, saya merasakan betapa mudahnya haji kami, tanpa banyak kesulitan kami wukuf di arafah dengan khusyuk, makanan berlimpah, transportasi mudah dan sekarang mabit dan sekaligus sudah kembali ke mina. Sudah selesai haji kami? Begitu mudah? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

2. Sebelum berangkat ada teman bercerita bahwa dia ketika di mina, ia berada di mina jadid sehingga untuk melempar jumroh harus berjalan 7 km. Saat itu saya memohon kepada Allah mudah-mudahan tenda saya di mina tidak berada di mina jadid. Ternyata Allah menempatkan saya di mina jadid justru untuk menampakkan nikmatNya yang tak terhinga pada kami. Itu yang saya rasakan kemudian setelah kami menyelesaikan nafar tsani dan kembali ke mekah.

Kami berangkat untuk melempar jumroh aqabah pada tanggal 10 dzulhijah jam 2 siang, dengan hati sedikit ciut mengingat jarak itu tadi ditambah kondisi saya yang sejak pingsan di pesawat kepala saya selalu berasa kekurangan oksigen, kami berangkat. Selama berjalan tak henti-hentinya saya berdo’a mohon diberi kekuatan dan kemudahan. Subhanallah, jalan-jalan kami lalui dengan semangat, orang-orang tua yang saat berangkat terlihat payah, berjalan dengan semangat bahkan ada jamaah yang biasanya jalan dibantu tongkat ketika berjalan ke jamarat tongkatnya diangkat kemudian berjalan biasa.

Allah benar-benar memendekkan jarak yang kami lalui, padahal kami jalan 45 menit baru sampai terowongan mina, tapi seolah tak terasa jauh. Terowongan mina pun terasa menyenangkan waktu dilewati, jauh dari gambaran yang diceritakan orang-orang. Sesampai di jamarat, kami mengambil lantai 1 keadaan tidak terlalu ramai sehingga kami bisa melempar dengan tenang. Tak terkira rasa syukur dan haru kami selesai melempar jumroh aqobah, kami menangis dan saling mendoakan mudah-mudahan Allah menerima ibadah haji kami.

Tak kurang dari 3 jam jarak tempuh kami untuk berjalan ke jamarat pulang pergi. Subhanallah, tanpa pertolongan Allah tidak mungkin kami bisa menjalaninya. Sebagai perbandingan saja, sebelum berangkat haji saya dan suami latihan jalan-jalan, jarak tempuh kami 6-7 km itu pun pulangnya naik bis. Rombongan kami mengambil nafar tsani, jadi kami berjalan kaki kurang lebih 14 km sebanyak 4 kali, pada tgl 13 dzulhijah kami berjalan ke jamarat sesudah sholah subuh tanpa sarapan dulu padahal tgl 12 dzulhijah pulang dari jamarat baru pukul 11 malam.

Masya Allah, rasanya nikmat sekali. Hampir semua jamaah bisa melakukannya kecuali mereka yang benar-benar udzur. Apa yang saya ceritakan diatas sekedar ilustrasi yang menggambarkan bahwa dalam ibadah haji ada begitu banyak keajaiban, kemudahan dan kenikmatan yang tak tergambarkan sebelumnya. Cerita ini tidak bermaksud untuk membandingkan keadaan satu lebih baik dari keadaan lainnya,misal gelombang 2 lebih baik dari gelombang 1.

Seperti apapun yang kita temui haji membawa kenikmatan yang tidak terhingga selama kita ikhlas dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa ta’alaa. Nasehat seorang ustadz ketika akan berangkat: ”Tidak ada resiko dalam ibadah haji” Begitulah adanya maka hilangkanlah kekhawatiran dan kecemasan. Semoga bermanfaat.

Sebagamana dikisahkan oleh: Dra.Diatri Rahayu, Apt (Penanggung Jawab PJ Al-Ghuroba’ dan salah satu apotik di DI Yogyakarta) melalui email kontak@info.tm

Read Full Post »

Negeri Arab khususnya dan dunia pada umumnya sebelum diutusnya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dipenuhi dengan kesesatan, penyimpangan, dan kebodohan, terlihat dari semaraknya penyembah batu-batuan dan pohon-pohon, pengingkaran terhadap hari kebangkitan, mempercayai perdukunan, tukang sihir, dan paranormal hingga penyimpangan yang sifatnya kemanusiaan, sosial, dan politik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki rahmat atas hamba-hambaNya, menolongnya dari kesesatan menuju hidayah, maka Allah mengutus seorang Rasul kepada mereka dari kalangannya sendiri yang mereka telah mengenal akhlaqnya, kejujurannya, serta amanahnya. Allah berfirman, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al Jum’ah: 2).

Awal mula yang diserukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seperti halnya Rasul-Rasul lainnya, menyeru untuk memurnikan ibadah kepada Allah AWJ dan meninggalkan peribadahan selainNya. Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengurus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada tuhan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS Al Anbiyaa: 25).

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut.” (QS An Nahl: 36).
Inilah pembuka dakwah para Rasul, karenanya ia adalah pondasi yang dibangun di atasnya bangunan-bangunan lain, jika pondasinya rusak maka tak ada guna cabang-cabang lainnya, tidak ada manfaatnya sholat, puasa, haji, dan shodaqoh, serta seluruh ibadah-ibadah lainnya. Apabila pondasi telah cacat dan tauhid sudah berantakan tidak ada faidahnya amalan-amalan lainnya.

Allah berfirman, “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al Kahfi: 110). Allah juga berfirman, “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS Al An’am: 88). “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu, jika kamu mempersekutukan Tuhan niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az Zumar: 65).

Sungguh seluruh penduduk bumi amat sangat membutuhkan akan risalah yang dibawa olehnya Shalallahu ‘alaihi wassalam daripada kebutuhan mereka terhadap air hujan, sinar matahari, serta seabreg kebutuhan-kebutuhan lainnya, karena tidak ada kehidupan hati, kenikmatannya, kelezatannya, dan kebahagiaannya bahkan tak ada ketenangan hati dan tuma’ninahnya kecuali dengan mengenal Rabbnya, yang diibadahinya, dan Penciptanya dengan nama-namaNya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, sehingga menjadikanNya lebih dicintai daripada selainNya, menjadikan segala usaha-usahanya dalam hal-hal yang akan mendekatkan diri padaNya dan keridloanNya.

Para pembaca semoga dirohmati Allah, doa adalah salah satu dari bentuk ibadah di samping ibadah badaniyah – seperti sholat, maaliyah – seperti zakat, atau ibadah maaliyah badaniyah – seperti haji, sebab ibadah adalah satu kata yang memiliki cakupan luas setiap apa yang dicintai dan diridlai oleh Allah dari perkataan dan perbuatan lahir maupun batin. Sepele memang nampaknya masalah doa ini, tetapi ironisnya banyak di antara kaum muslimin – kalau tidak keseluruhannya – berbeda-beda dalam hal menyikapinya, mengaplikasikannya, dan tata cara pelaksanaannya, wallahul musta’an.

Tidak dipungkiri kalau di sana masih banyak yang menganggap bahwa doa itu bukan termasuk ibadah, dengan kenyataan tak sedikit yang memohon di hadapan kuburan orang yang dianggap sholih, memohon di hadapan batu besar yang dikira memiliki keanehan, manggut-manggut di hadapan pohon besar yang tak dapat melihat dan mendengar. Tidak mustahil kalau di sana masih ada yang merasa tidak butuh kepada doa karena kesombongannya dan tak ada keimanannya. Satu perkara yang tidak dapat dipungkiri pula bahwa sebagian kaum bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam hal doa dan cara berdoa. Wa ilallahil musytaka.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, ketahuilah bahwa mayoritas orang-orang yang terjerumus ke dalam kemusyrikan, pangkal kesyirikannya ialah berdoa kepada selain Allah. Oleh karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Doa itu adalah ibadah.” (HR Ahmad 4/267, Tirmidzi 5/426, Al Hakim dalam Mustadrak 1/491 dan menshohihkannya, dan disepakati oleh Al Imam Adz Dzahabi, dari sahabat Nu’man bin Basyir RA).

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mati sedang ia berdoa kepada tandingan-tandingan selain Allah, maka akan masuk neraka.” (HR Al Bukhori no 4497 dari sahabat Abdullah ibnu Mas’ud). Hadits ini menerangkan bahwa doa adalah bagian dari ibadah-ibadah yang paling agung, termasuk ke dalam hak-hak Allah yang paling mulia, dimana jika seorang hamba memalingkannya kepada selain Allah dengan demikian ia berarti telah musyrik, telah menjadikan bagi Allah tandingan-tandinganNya dalam hal uluhiyahNya.

Namun apabila seseorang meminta doa kepada orang lain yang sholih, kemudian masih hidup, dan dalam perkara-perkara yang dimampuinya, maka tidaklah termasuk kemusyrikan, hal ini dibagi menjadi beberapa bagian di antaranya:
Pertama: meminta doa kepada seorang yang sholih untuk kemaslahatan umum kaum muslimin, seperti ini dibolehkan, dengan dalil hadits Anas tentang seorang laki-laki yang meminta doa dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam agar diturunkan hujan.
Kedua: meminta doa kepada orang lain untuk kemaslahatan dirinya, sebagian ulama membolehkan hal ini dan yang lainnya menyatakan tidak semestinya, karena dikhawatirkan termasuk dalam bab meminta-minta kepada orang lain dan dikhawatirkan pula yang meminta doa akan bersandar kepada doa orang lain sedang dia lupa mendoakan dirinya sendiri. (Untuk lebih jelasnya silahkan lihat Majmu’ul Fatawa jilid ke-1).

Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan jelas menyatakan bahwa doa itu adalah ibadah. Allah berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al Mu’min: 60). Adapun sisi pendalilah dari ayat ini yang menunjukkan bahwa doa itu adalah ibadah sebagai berikut:
Pertama: dalam ayat ini Allah telah memerintah dengan firmanNya, “Berdoalah kepadaKu.” Sedangkan Allah tidak akan memerintah kecuali yang wajib atau mustahab.
Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya sebagai ibadah, dengan firmanNya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu.”
Ketiga: Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas hamba-hambaNya yang berdoa dengan pengkabulan atas doa-doanya, dengan firmanNya, “Berdoalah kepadaKu niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”
Berkata Ibnul Araby Al Maliki rohimahullah, “Segi penamaan doa dengan ibadah sangatlah jelas, karena terkandung di dalamnya pengakuan dari seorang hamba akan ketidakberdayaan dan ketidakmampuannya, sedangkan segala kekuasaan dan kekuatan hanyalah milik Allah, yang demikian itulah ketundukan dan kepatuhan yang sempurna.”

Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, di dalam banyak ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala mencegah dari berdoa kepada selainNya. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zholim.” (QS Yunus: 106). Dan Allah berfirman, “Maka janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diadzab.” (QS Asy Syu’araa: 213). Pada ayat lain Allah menjelekkan perbuatan orang-orang musyrikin berdoa kepada selain Allah.

Allah berfirman, “Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan sekarang ini adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaanNya dan menurunkan untukmu rizki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (QS Al Mu’min: 12-14).

Memurnikan ibadah kepadaNya adalah memurnikan doa kepadaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukumi dengan kesesatan dan kerugian atas orang-orang yang berdoa kepada selainNya. Allah berfirman, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan pada hari kiamat niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS Al Ahqaaf: 5-6).

Dan Allah berfirman, “… yang berbuat demikian itulah Allah Tuhanmu kepunyaanNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS Faathir: 13-14).

Seluruh nash-nash ini dan yang semisalnya di dalam Al Quranul Karim maupun sunnah yang suci sebagai penjelasan bagi orang-orang yang Allah bukakan penglihatannya dan terangkan hatinya serta lapangkan dadanya tentang betapa pentingnya doa dan begitu tinggi kedudukannya dalam aqidah al Islamiyah.
Dengan tingginya kedudukan doa dalam aqidah al Islamiyah, maka Allah mengancam orang-orang yang tidak tunduk padaNya dengan doa.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al Mu’min: 60). Jadi sikap sombong dari berdoa kepada Allah dan menyelewengkan doa kepada selain Allah adalah bentuk kemaksiatan yang besar terhadapNya dan sebagai bentuk pembangkangan serta pendustaan terhadap nabi-nabiNya dan Rasul-RasulNya dimana telah sepakat risalah dan dakwah mereka menyeru kepada wajibnya mengesakan Allah dalam hal ibadah dan yang paling besarnya di antara ibadah itu adalah doa.

Sebagaimana halnya ibadah-ibadah lain memiliki cara dan etika, maka berdoapun demikian tak lepas dari itu, sebab kita mesti pahami bahwa agama itu adalah kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah dan kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang telah disyariatkan olehNya dan oleh RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam, sebagai contoh misalnya suatu ketika Rasulullah berwudlu, kemudian setelah selesai darinya beliau mengatakan, “Ini adalah wudluku dan wudlu para nabi sebelumku, barangsiapa menambahi atau bahkan mengurangi maka ia telah berbuat jahat dan zholim.”

Contoh lainnya saat Rasulullah mengatakan, “Sholatlah kalian seperti kalian telah melihat aku sholat.” Demikian pula dengan pernyataan beliau, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka akan tertolak.” Dan begitu banyak contoh-contoh lainnya dalam hal ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan etika berdoa itu dalam firmanNya, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al A’raaf: 55).

Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, betapa besar karunia dan kasih sayang Allah kepada makhlukNya, menjaga, memelihara, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, sungguh benar apa yang dikatakan dalam sebuah syair:
Allah akan marah jika engkau tinggalkan meminta padaNya
Sedang Bani Adam jika dipinta akan marah.
Sudah semestinya memang kita selaku hambaNya yang fakir untuk meminta kepada Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemurah, segala urusan hanyalah milik Allah dan akan dikembalikan kepadaNya. Allah berfirman, “KepunyaanNyalah kerajaan langit-langit dan bumi. Dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” (QS Al Hadid: 5).
Wallahu a’lam bishshowab wal ilmu indallah.

(Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf, dari Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-13 Tahun ke-1 / 14 Maret 2003 M / 11 Muharrom 1424 H. Url sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/13.htm)

Read Full Post »

Hukum Memakai Kain Di Bawah Mata Kaki (Isbal)
Penulis: Syaikh Abdullah ibn Jurullah al Jurullah

Muqoddimah

Segala Puji Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam. Aku bersaksi tiada yang berhak diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan shalawat kepada beliau, keluarganya, sahabatnya dan orang yang mengikuti sunnah-sunnah beliau serta orang yang mendapatkan hidayah dengan bimbingan beliau hingga hari akhir.

Setelah itu, merupakan suatu kewajiban bagi muslimin untuk mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, menta’ati beliau dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya serta membenarkan berita yang dibawa beliau. Itu semua bisa menunjukkan realisasi Syahadat Laa ilaha ila Allah dan Muhammad Rasulullah. Dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dan selamat dari hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tanda dan bukti hal itu adalah dengan terus komitmen melaksanakan simbol-simbol Islam, dalam bentuk perintah, larangan, penerangan, ucapan, keyakinan maupun amalan. Dan hendaklah dia mengatakan : “sami’na wa atha’na (kami mendengar dan taat)”.

Diantara hal itu adalah membiarkan jenggot (tidak mencukurnya) dan memendekkan pakaian sebatas kedua mata kaki yang dilakukan karena ta’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takut pada hukumanNya.

Kalau kita mau memeperhatikan kebanyakan orang ? semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada mereka dan membimbing mereka kepada kebenaran ? akan didapati mereka melakukan perbuatan Isbal (menurunkan pekaian di bawah mata kaki) pada pakaian dan bahkan sampai terseret di atas tanah. Itu adalah perbuatan yang mengandung bahaya besar, karena menentang perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan itu adalah sikap menantang, pelakunya akan mendapat ancaman keras.

Isbal dianggap salah satu dosa besar yang diancam dengan ancaman yang keras. Beranjak dari kewajiban untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, saling nasehat menasehati dengan kebenaran, menginginkan agar saudara-saudaraku kaum muslimin mendapat kebaikan dan karena takut kalau mereka tertimpa hukuman yang buruk akibat mayoritas orang melakukan maksiat.

Saya kumpulkan risalah ini berkaitan dengan tema Isbal dan berisi anjuran untuk memendekkan pakaian hingga diatas kedua mata kaki bagi pria serta berisi ancaman bagi yang melakukan Isbal dan memanjangkan melewati mata kaki.

Larangan untuk melakukan Isbal adalah larangan yang bersifat umum,apakah karena sombong atau tidak. Itu sama saja dengan keumuman nash. Tapi, bila dilakukan karena sombong maka hal itu lebih keras lagi kadar keharamannya dan lebih besar dosanya .

Isbal adalah suatu lambang kesombongan dan orang yang memiiki rasa sombong dalam hatinya walaupun seberat biji dzarrah tidak akan masuk surga, sebagaimana yang diterangkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Maka wajib bagi seorang muslim untuk menyerah dan tunduk dan mendengar dan taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah sebelum kematian datang menunjunginya, bila samapai demikian ia akan menemukan ancaman yang dulu telah disampaikan kepadanya. Ketika itu dia menyesal dan tidak ada manfaat penyesalan di waktu itu.

Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari maksiat isbal (memanjangkan celana) dan maksiat lainnya. Hendaklah ia memendekkan pakaiannya di atas kedua mata kaki dan menyesali apa yang telah dia lakukan selama hidupnya.

Dan hendaklah ia bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat-maksiat di sisa umurnya yang singkat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat bagi orang yang mau bertaubat. Seorang yang bertaubat dari suatu dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.

Risalah ini diambil dari ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah serta ucapan para peneliti dari kalangan Ulama. Saya mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia memberi manfaat risalah ini kepada penulisnya, atau pencetaknya, atau pembacanya, atau pendengarnya. Dan saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menjadikan amalan ini ikhlas untuk mengharap waahnya yang mulia dan menjadi sebab untuk mencari kebahagian sorga yang nikmat.

Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada Muslim yang masih melakukan Isbal pada pakaian mereka unuk melaksanakan sunnah Nabi mereka, Muhammad Ibn Abdullah, yaitu dengan memendekkannya. Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai orang orang yang membimbing lagi mendapatkan hidayah. Semoga salawat dan salam tercurah pada Nabi kita, Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya dan segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb Semesta alam.

LARANGAN MELAKUKAN ISBAL PADA PAKAIAN

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat kepada para hambanya berupa pakaian yang menutup aurat-aurat mereka dan memperindah bentuk mereka.

Dan ia telah menganjurkan untuk memakai pakaian takwa dan mengabarkan bahwa itu adalah sebaik-baiknya pakaian.

Saya bersaksi tidak ada yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha Esa. Tiada sekutu baginya miliknya segenap kekuasan di langit dan di bumi dan kepadanya kembali segenap makhluk di hari Akhir. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu ialah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak ada satupun kebaikan kecuali telah diajarkan beliau kepada ummatnya. Dan tidak ada suatu kejahatan kecuali telah diperingatkan beliau kepada ummatnya agar jangan mlakukannya. Semuga Shalawat serta Salam tercurah kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya dan orang yang berjalan di atas manhaj Beliau dan berpegang kepda sunnah beliau.

“Wahai kaum muslimin, bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : ” Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah itu perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala mudah mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al A’raf -26)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat kepada para hambaNya berupa pakaian dan keindahan. Dan pakaian yang dimaksudkan oleh ayat ini ialah pakaian yang menutupi aurat. Dan ar riisy yang dimaksud ayat ini adalah memperindah secara dlohir. maka pakaian adalah suatu kebutukan yang penting, sedangkan ar riisy adalah kebutuhan pelengkap.

Imam Ahmad meriwatkan dalam musnadnya, beliau berkata :

Abu Umamah pernah memakai pakaian baru, ketika pakaian itu lusuh ia berkata : “Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan pakai ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku”, kemudian ia berkata : aku mendengar Umar Ibn Khattab berkata : Rasulullah bersabda : “Siapa yang mendapatkan pakaian baru kemudian memakainya. Dan kemudian telah lusuh ia berkata segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan pakaian ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku dan mengambil pakaian yang lusuh dan menyedekahkannya, dia berada dalam pengawasan dan lindungan dan hijab Allah Subhanahu wa Ta’ala, hidup dan matinya.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Majah. Dan Turmudzi berkata hadis ini gharib )

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan pakaian tubuh yang digunakan untuk menutup aurat, membalut tubuh dan memperindah bentuk, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bahwa ada pakaian yang lebih bagus dan lebih banyak faedahnya yaitu pakaian taqwa. Yang pakaian taqwa itu ialah menghiasi diri dengan berbagai keutamaan-keutamaan.

Dan membersihkan dari berbagai kotoran. Dan pakaian taqwa adalah tujuan yang dimaukan. Dan siapa yang tidak memakai pakaian taqwa, tidak manfaat pakaian yang melekat di tubuhnya.

Bila seseorang tidak memakai pakaian taqwa, berarti ia telanjang walaupun ia berpakaian

Maksudnya :

Pakaian yang disebut tadi adalah agar kalian agar mengingat nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyukurinya. Dan hendaknya kalian ingat bagaimana kalian butuh kepada pakaian dhahir dan bagaimana kalian butuh kepada pakaian batin. Dan kalian tahu faedah pakaian batin yang tidak lain adalah pakaian taqwa.

Wahai para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya pakaian adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hambanya yang wajib disyukuri dan dipuji. Dan pakaian itu memiliki beberapa hukum syariat yang wajib diketahui dan diterapkan. Para pria memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk.

Wanita juga memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk. Tidak boleh salah satunya memakai pakaian yang lain. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki laki.(HR Bukhari, Abu Daud, Turmudzi dan Nasa’i).

Dan Nabi juga bersabda : “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki yang memakai pakaian wanita.”( HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban dan beliau mensahihkannya, serta Al Hakim, beliau berkata : Hadits ini shahih menurut syarat Muslim).

Haram bagi pria untuk melakukan Isbal pada sarung, pakian, dan celana. Dan ini termasuk dari dosa besar.

Isbal adalah menurunkan pakaian di bawah mata kaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : “Dan janganlah engkau berjalan diats muka bumi ini dengan sombong, karna sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak suka kepada setiap orang yang sombong lagi angkuh.”( Luqman: 18 )

Dari Umar Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullulah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM bersabda :

“Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya di hari kiamat.” ( HR Bukhari dan yang lainnya ).

Dan dari Ibnu umar juga, Nabi bersabda :
“Isbal berlaku bagi sarung, gamis, dan sorban. Barang siapa yang menurunkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat.” ( Hr Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dan hadits ini adalah hadits yang sahih ).

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong”. (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Bukhari dengan bunyi :

“Apa saja yang berada di bawah mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di Neraka.”

Rasullullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :
“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat. Tidak dilihat dan dibesihkan (dalam dosa) serta akan mendapatkan azab yang pedih, yaitu seseorang yang melakukan isbal (musbil), pengungkit pemberian, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (Hr Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Wahai para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam keadaan kita mengetahi ancaman keras bagi pelaku Isbal, kita lihat sebagian kaum muslimin tidak mengacuhkan masalah ini. Dia membiarkan pakaiannya atau celananya turun melewati kedua mata kaki. Bahkan kadang-kadang sampai menyapu tanah. Ini adalah merupakan kemungkaran yang jelas. Dan ini merupakan keharaman yang menjijikan. Dan merupakan salah satu dosa yang besar. Maka wajib bagi orang yang melakukan hal itu untuk segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga segera menaikkan pakaiannya kepada sifat yang disyari’atkan.

Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sarung seorang mukmin sebatas pertengahan kedua betisnya. Tidak mengapa ia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada dibawah mata kaki tempatnya di neraka. (HR Malik dalam Muwaththa’ ,dan Abu Daud dengan sanad yang sahih)

Ada juga pihak yang selain pelaku Isbal, yaitu orang-orang yang menaikan pakaian mereka di atas kedua lututnya, sehingga tampak paha-paha mereka dan sebagainya, sebagaimana yang dilakukan klub-klub olahraga, di lapangan-lapangan ?. Dan ini juga dilakukan oleh sebagian karyawan.

Kedua paha adalah aurat yang wajib ditutupi dan haram dibuka. Dari ‘Ali Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jangan engkau singkap kedua pahamu dan jangan melihat paha orang yang masih hidup dan juga yang telah mati.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Al Hakim. Al Arnauth berkata dalam Jami’il Ushul 5/451 : “sanadnya hasan”)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepadaku dan anda sekalian melalui hidayah kitab-Nya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kejadian mengikutinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Ta’ala berfirman :

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat keras hukuman-Nya (Al Hasyr : 7)

HUKUM MENURUNKAN PAKAIAN ( ISBAL ) BAGI PRIA

Rasulullah bersabda :

“Apa yang ada di bawah kedua mata kaki berupa sarung (kain) maka tempatnya di neraka” (HR.Bukhori)

Dan beliau berkata lagi ;

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong”.

dan dalam sebuah riwayat yang berbunyi :

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat di hari kiamat kepada orang-orang yang menyeret pakaiannya karena sombong.” (HR. Malik, Bukhari, dan Muslim)

dan beliau juga bersabda :

” Ada 3 golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan ( dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim, Ibn Majah, Tirmidzi, Nasa’i).

Musbil (pelaku Isbal) adalah seseorang yang menurunkan sarung atau celananya kemudian melewati kedua mata kakinya. Dan Al mannan yang tersebut pada hadist di atas adalah orang yang mengungkit apa yang telah ia berikan. Dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu adalah seseorang yang dengan sumpah palsu ia mempromosikan dagangannya. Dia bersumpah bahwa barang yang ia beli itu dengan harga sekian atau dinamai dengan ini atau dia menjual dengan harga sekian padahal sebenarnya ia berdusta. Dia bertujuan untuk melariskan dagangannya.

Dalam sebuah hadist yang berbunyi :

“Ketika seseorang berjalan dengan memakai prhiasan yang membuat dirinya bangga dan bersikap angkuh dalam langkahnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipatnya dengan bumi kemudian dia terbenam di dalamya hingga hari kiamat. (HR. Mutafaqqun ‘Alaihi)

Rasulullah bersabda :

” Isbal berlaku pada sarung, gamis, sorban. Siapa yang menurunkan sedikit saja karena sombong tidak akan dilihat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud dengan sanad Shohih).

Hadist ini bersifat umum. Mencakup pakaian celana dan yang lainnya yang yang masih tergolong pakaian. Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan dengan sabdanya ;

” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalat seseorang yang melakukan Isbal.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Imam Nawawi mengatakan di dalam Riyadlush Sholihin dengan tahqiq Al Anauth hal: 358)

Melalui hadist-hadist Nabi yang mulia tadi menyatakan bahwa menurunkan pakaian di bawah kedua mata kaki dianggap sebagai suatu perkara yang haram dan salah satu dosa besar yang mendapatkan ancaman keras berupa neraka. Memendekkan pakaian hingga setengah betis lebih bersih dan lebih suci dari kotoran kotoran . Dan itu juga merupakan sifat yang lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Oleh karena itu, wajib bagimu… wahai saudaraku muslimin…, untuk memendekkan pakaianmu diatas kedua mata kaki karena taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala-Nya dengan mentaati Rasullullah .

Dan juga kamu melakukannya karena takut akan hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala-Nya. Agar engkau menjadi panutan yang baik bagi orang lain. Maka segeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakkukan taubat nasuha (bersungguh-sungguh) dengan terus melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Dan hendaknya engkau telah menyesal atas apa yang kau perbuat.

Hendaknya engkau sungguh-sungguh tidak untuk tidak megulangi perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dimasa mendatang, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat orang yang mau bertaubat kepada-Nya, karena ia maha Penerima Taubat lagi maha Penyayang.

“Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala, terimalah taubat kami, sungguhnya engkau maha Penerima Taubat lagi maha Penyayang.”

“Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala berilah kami dan semua saudara saudara kami kaum muslimin bimbingan untuk menuju apa yang engkau ridloi, karena sesungguh-Nya engkau maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Dan semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada Muhammad, keluarganya dan sahabatnya.”

BEBERAPA FATWA TENTANG HUKUMNYA MEMANJANGKAN PAKAIAN KARENA SOMBONG DAN TIDAK SOMBONG

Pertanyaan :
Apakah hukumnya memanjangkan pakaian jika dilakukan karena sombong atau karena tidak sombong. Dan apa hukum jika seseorang terpaksa melakukakannya, apakah karena paksaan keluarga atau karena dia kecil atau karena udah menjadi kebiasaan ?

Jawab :

Hukumnya haram sebagaimana sabda Nabi :

“Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka ” (HR.Bukhari dalam sahihnya )

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih Abu Dzar ia berkata: Rasulullah bersabda: ” Ada 3 golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” ( HR. Muslim, Ibn Majah, Tirmidzi, Nasa’i).

Kedua hadist ini semakna dengan mencakup musbil yang sombong atau karena sebab lain. Karena Rasulullah mengucapkan dengan bentuk umum tanpa mengkhususkan . Kalau ia melakukan karena sombong maka dosa yang ia lakukan akan lebih besar lagi dan ancamannya lebih keras, Rasulullah bersabda :”Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong”. (Muttafaq ‘alaihi)

Tidak boleh menganggap bahwa larangan melakukan Isbal itu hanya karena sombong saja, karena rasullullah tidak memberikan pengecualian hal itu dalam kedua hadist yang telah kita sebutkan tadi, sebagaiman juga beliau tidak memberikan pengecualian dalam hadist yang lain, Rasul bersabda : “Jauhilah olehmu Isbal, karena ia termasuk perbuaan yang sombong” (HR Abu Daud, Turmudzi dengan sanad yang shahih).

Beliau menjadikan semua perbuatan Isbal termasuk kesombongan karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian. Siapa yang melakukannya tanpa diiringi rasa sombong maka perbuatannya bisa menjadi perantara menuju kesana. Dan perantara dihukumi sama dengan tujuan . dan semua perbuatan itu adalah perbuatan berlebihan lebihan dan mengancam terkena najis dan kotoran.

Oleh karena itu Umar Ibn Khatab melihat seorang pemuda berjalan dalam keadaan pakaiannya menyeret di tanah, ia berkata kepadanya : “Angkatlah pakaianmu, karena hal itu adalah sikap yang lebih taqwa kepada Rabbmu dan lebih suci bagi pakaianmu ( Riwayat Bukhari lihat juga dalam al Muntaqo min Akhbaril Musthafa 2/451 )

Adapun Ucapan Nabi kepada Abu Bakar As Shiddiq ketika ia berkata :

“Wahai Rasulullah, sarungku sering melorot (lepas ke bawah) kecuali aku benar-benar menjaganya. Maka beliau bersabda :”Engkau tidak termasuk golongan yang melakukan itu karena sombong.” (Muttafaq ‘alaih).

Yang dimaksudkan oleh oleh Rasulullah bahwa orang yang benar-benar menjaga pakaiannya bila melorot kemudian menaikkannya kembali tidak termasuk golongan orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Karena dia (yang benar-benar menjaga ) tidak melakukan Isbal. Tapi pakaian itu melorot (turun tanpa sengaja) kemudian dinaikkannya kembali dan menjaganya benar-benar. Tidak diragukan lagi ini adalah perbuatan yang dimaafkan.

Adapun orang yang menurunkannya dengan sengaja, apakah dalam bentuk celana atau sarung atau gamis, maka ini termasuk dalam golongan orang yang mendapat ancaman, bukan yang mendapatkan kemaafan ketika pakaiaannya turun. Karena hadits-hadits shahih yang melarang melakukan Isbal besifat umum dari segi teks, makna dan maksud.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati terhadap Isbal. Dan hendaknya dia takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika melakukannya. Dan janganlah dia menurunkan pakaiannya di bawah mata kaki dengan mengamalkan hadits-hadits yang shahih ini. Dan hendaknya juga itu dilakukan karena takut kepada kemurkaan Alllah dan hukuman-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pemberi taufiq. (Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Bazz dinukil dari Majalah Ad Da’wah hal 218).

TIDAK BOLEH MELAKUKAN ISBAL SAMA SEKALI

Pertanyaan:

Bila seeorang melakukan Isbal pada pakaiannya tanpa diiringi rasa sombong dan angkuh, apakah itu juga diharamkan baginya? Dan apaakah hukum Isbal itu juga berlaku pada lengan pakaian?
Jawab:

Isbal tidak boleh dilakukan secara mutlak berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Apa yang berada di bawah mata kaki berupa sarung, maka itu tempatnya di neraka.” (HR Bukhari dalam shahihnya)

Dan juga karena sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir Ibn Sulaim: “Jauhilah Isbal olehmu, karena itu tergolong kesombongan.” (HR Abu Daud dan Turmudzi dengan sanad yang shahih)

Dan juga karena sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang tsabit dari beliau:

“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan dari dosa serta mereka akan mendapat aazab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim dalam shahihnya)

Tidak ada beda apakah dia melakukan karena sombang atau tidak. Itu berdasarkan keumuman banyak hadits. Dan juga karena secara keumuman itu dilakukan karena sombong dan angkuh, walau dia tidak bermaksud demikian. Perbuataannya adaalah perantara menuju kesombongan dan keangkuhan.
Dan dalam perbuatan itu juga ada mengandung unsur meniru wanita dan mempermudah pakaian dikenai kotoran dan najis. Serta perbuatan itu juga menunjukkan sikap berlebih-lebihan. Siapa yang melakukannya karena sombong, maka dosanya lebih besar. Berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam : “Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adapun sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Bakar Ash Shiddiq Radliyallah’anhu ketika dia mengatakan kepada beliau bahwaa sarungnya sering melorot kecuali kalau dia benar-benar menjaganya:

“Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang melakukannya karena sombong.”(HR Bukhari dan Muslim)

Ini adalah bantahan bagi orang yang melakukannya, tapi berdalil dengan apa yang dilakukan Abu Bakar Ash Shiddiq. Bila dia memang benar-benar menjaganya dan tidak sengaja membiarkannya, itu tidak mengapa.

Adapun lengan baju, maka sunnahnya tidak melewati pergelangan?Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pemberi taufiq.(dari sumber yang sama hal.220)

HUKUM MEMANJANGKAN CELANA

Pertanyaan:
Sebagian orang ada yang memendekkan pakaiannya di atas kedua mata kaki, tapi celananya tetap panjang. Apa hukum hal itu?
Jawab:

Isbal adalah perbuatan haram dan mungkar, sama saja apakah hal itu terjadi pada gamis atau sarung. Dan Isbal adalah yang melewati kedua mata kaki berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam

“Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di neraka.” (HR Bukhari)

Dan beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan dari dosa serta mereka akan mendapat aazab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim dalam shahihnya)

Beliau juga bersabda kepaada sebagian para sahabatnya: “Jauhilah Isbal olehmu, karena itu termasuk kesombongan.” (HR Abu Daud dan Turmudzi dengan sanad yang shahih)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Isbal termasuk salah satu dosa besar, walau pelakunya mengira bahwa dia tidak bermaksud sombong ketika melakukannya, berdasarkan keumumannya. Adapun orang yang melakukannya karena sombong, maka dosanya lebih besar berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam :

“Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya di hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Karena perbuatan itu menggabung antara Isbal dan kesombongan. Kita mengharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia memberi keampunan. Adapun ucapan Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr ketika dia berkata kepada Beliau:

” Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, sarungku sering turun kecuali kalau aku benar-benar menjaganya.” Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:” Engkau tidak termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini tidak menunjukkan bahwa Isbal boleh dilakukan bagi orang yang tidak karena sombong. Tapi hadits ini menujukkan bahwa orang yang sarungnya atau celananya melorot tanpa maksud sombong kemudian dia benar-benar menjaganya dan membetulkannya tidak berdosa. Adapun menurunkan celana di bawah kedua mata kaki yang dilakukan sebagian orang adalah perbuatan yang dilarang. Dan yang sesusai dengan sunnah adalah hendaknya gamis atau yang sejenisnya, ujungnya berada antara setengah betis sampai mata kaki dengan mengamalkan semua hadits-hadits tadi. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pemberi taufiq (Dari sumber yang sama hal. 221).

Pertanyaan :
Apakah menurunkan pakaian melewati kedua matakaki (Isbal) bila dilakukan tanpa sombong didanggap suatu yang haram atau tidak ?

Jawab :

Menurunkan pakaian di bawah kedua mata kaki bagi pria adalah perkara yang haram. Apakah itu karena sombong atau tidak. Akan tetapi jika dia melakukannya karena sombong maka dosanya lebih besar dan keras, berdasarkan hadist yang tsabi dari Abu Dzar dalam Shahih Muslim, bahwa Rasulullah bersabda :

“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat, tidak dibersihkan dari dosa serta mereka akan mendapatkan azab yang pedih.”

Abu Dzarr berkata : “Alangkah rugi dan bangkrutnya mereka ya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ! Beliau berkata: “(Mereka adalah pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah palsu” ( HR Muslim dan Ashabus Sunan)

Hadis ini adalah hadist yang mutlak akan tetapi dirinci dengan hadist Ibnu umar, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersada :

“Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat.”(HR Bukhari)

Kemutlakan pada hadist Abu Dzar dirinci oleh hadist Ibnu Umar, jika dia melakukan karena sombong Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya, membersihkannya dan dia akan mendapatkan azab sangat pedih. Hukuman ini lebih berat dari pada hukuman bagi orang yang tidak menurunkan pakaian tanpa sombong. Karena Nabi berkata tentang kelompok ini dengan:

“Apa yang berada dibawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di neraka” (HR Bukhari dan Ahmad)

Ketika kedua hukuman ini berbeda, tidak bisa membawa makna yang mutlak kepada pengecualian, karena kaidah yang membolehkan untuk megecualikan yang mutlak adalah dengan syarat bila kedua nash sama dari segi hukum.

Adapun bila hukum berbeda maka tidak bisa salah satunya dikecualaikan dengan yang lain. Oleh karena ini ayat tayammum yang berbunyi :

“Maka sapulah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian dengan tanah itu.” (Al Maidah :6).

Tidak bisa kita kecualikan dengan ayat wudlu yang berbunyi :

“Maka basuhlah wajah wajah kalian dan tangan tangan kalian sampai siku. ( Al Maidah : 6).

Maka kita tidak boleh melakukan tayammum sampai kesiku. Itu diriwayatkan oleh Malik dan yang lainnya dari dari Abu Said Al Khudri bahwa Nabi bersabda :

“Sarung seseorang mukmin sampai setengah betisnya. Dan apa yang berada dibawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Dan siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya.”

Disini Nabi menyebutkan dua contoh dalam hukum kedua hal itu , karena memang hukum keduanya berbeda. Keduanya berbeda dalam perbuatan, maka juga berbeda dalam hukum. Dengan ini jelas kekeliruan dan yang mengecualikan sabda Rasulullah ;

“Apa yang dibawah mata kaki tempatnya dineraka.”

Dengan sabda beliau :

“Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Memang ada sebagian orang yang bila ditegur perbuatan Isbal yang dilakukannya, dia berkata: Saya tidak melakuakan hal ini karena sombong .

Maka kita katakan kepada orang ini : Isbal ada dua jenis, yaitu jenis hukumnnya ; adalah bila seseorang melakukannya karena sombong maka dia tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan siksa yang sangat pedih. berbeda dengan orang yang melakukan Isbal tidak karena sombong. orang ini akan mendapatkan adzab, tetapi ia masih di ajak bicara, dilihat dan dibersihkan dosanya. Demikian kita katakan kepadanya.

(Diambil dari As’ilah Muhimmah Syaikh Muhammad Ibn Soleh Utsaimin), diterjemahkan oleh Ustadz Ali Ishmah al Maidani dengan judul Hukum Memakai Kain Di Bawah Mata Kaki (Isbal). Penerbit Adz Dzahabi)

Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=26

Read Full Post »

Kisah dibawah ini hanya sebagian kisah dari ribuan kisah saat menjadi pelayan haji di Tanah Suci. Bagaimanapun juga kejadian tersebut merupakan potret buram bagi jemaah haji kita. Terutama dalam masalah kesiapan untuk berhaji mandiri, maupun untuk berhaji dan berumrah sesuai denganmanasiknya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Selamat menyimak:

Berpakaian ihram secara mandiri tentunya bukanlah hal yang sulit bagi petugas haji Indonesia, karena saat pelatihan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, para petugas sudah mendapat contoh dari H Ahmad Kartono, dan sudah berkali-kali mempraktikkannya selama pelatihan. Namun bagi jemaah calon haji Indonesia, terutama yang berasal dari pelosok dan “sudah sepuh” tentunya merupakan kesulitan tersendiri, sehingga perlu bantuan petugas haji kita.

Membantu mereka pun mempunyai kesan tersendiri, karena selain memerlukan kesabaran, petugas juga sering disulitkan dengan ketidakmampuan jemaah dalam berbahasa Indonesia. “Kita sudah bilang supaya celana dalamnya dilepas. Karena jemaah nggak juga paham, dan kita juga tidak paham dengan bahasa daerahnya, kita contohkan dengan gaya kita melepas celana dalam,” kata seorang petugas pembantu pelaksana (dulu Temus-red) kepada MCH di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, Senin (9/11) malam.

Yang repot, apabila jemaah menolak melepas celana dalamnya dengan alasan tidak nyaman karena tidak bebas bergerak. Apabila saat tanpa disengaja kain ihramnya dapat melorot.

Selain itu memotivasi jemaah untuk segera berganti pakaian ihram juga harus disertai kesabaran. Saat di Bandara KAA, MCH juga mendapati seorang jemaah yang marah, ketika petugas memintanya dengan sopan untuk segera berganti pakaian ihram. “Cepet-cepet memangnya apaan, nggak bisa ya santai sedikit,” kata jemaah pria itu dengan bersungut-sungut.

Petugas dengan sikap sopan mengatakan maaf sambil tetap memotivasi yang bersangkutan untuk segera berganti agar tidak mempersulit diri sendiri karena segalanya harus serba antre. Dan upayanya pun berhasil.

Inilah pengalaman menarik yang tidak kita dapatkan di pelatihan petugas haji. (Hartono Harimurti, Depag)

Read Full Post »

Older Posts »