Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Seputar Madinah’ Category

Hilangnya uang jemaah haji sebabnya beraneka ragam, mulai dari lupa meletakkan uangnya sampai dicopet, bahkan tidak jarang ada jamaah haji  yang dipalak/ dirampok uangnya oleh orang saat pulang dari shalat di masjidil haram.

Siapa bilang di Tanah Suci tidak ada kejahatan?! Kejahatan tetap ada dimanapun tempatnya. Bahkan di masjidil haram sekalipun.

Ada beberapa tips untuk mencegah agar uang Anda aman selama menunaikan ibadah haji antara lain:

1. Jangan membawa uang banyak (apalagi seluruh uang saku) setiap berangkat ke Masjidil haram atau Masjid Nabawi. Bawalah uang secukupnya, cukup 50 – 100 Real saja. Toh Anda pergi ke Masjid hanya untuk beribadah/ Shalat, ya kan?.

2. Simpan Uang Anda di Tas Koper dengan cara dipisah-pisah dan tutup Tas Koper Anda dengan kunci gembok kecil di kedua restletingnya.

Menyimpan uang di kamar Hotel/ Pondokan jauh lebih aman dibandingkan jika anda bawa terus saat pergi ke masjid karena uang yang dibawa kemana-mana peluang hilang ada 2 yaitu: kalau tidak jatuh di jalan, bisa jadi dipalak orang!? Tetapi jika disimpan di pondokan Insya Allah Aman. Insya Allah teman-teman sekamar bisa dipercaya, kemabruran hajinya akan dipertaruhkan. Jika ada pembobolan di kamar Pondokan maka pihak Maktab akan bertanggung jawab jika ada jamaah haji kehilangan uangnya. Tetapi jika hilangnya di luar Pondokan maka menjadi tanggung jawab masing-masing.

3. Jika Anda ingin belanja untuk membeli oleh-oleh, sebaiknya tidak langsung belanja banyak. Jamaah haji akan tinggal di Makkah selama kurang lebih 30 hari. Karena itu waktunya sangat panjang hanya untuk keperluan belanja saja. Ketika mau belanja bawa saja uang secukupnya, beli apa yang Anda ingin, lain waktu bisa belanja lagi. Dengan cara ini bisa memperkecil kemungkinan kehilangan uang di jalan.

4. Kebanyakan jamaah haji ketika ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi selalu membawa Tas Paspor. Kemana-mana Tas Paspor ini selalu dibawa. Dan kebanyakan jamaah haji kita selalu menaruh uangnya di tas paspor ini. Nah.., ternyata pencopet-pencopet yang berkeliaran di sekitar masjid sudah banyak yang tahu perilaku ini, bahwa di Tas Paspor tersebut ternyata menyimpan banyak uangnya. Anda bisa tebak kan? ternyata membawa uang di Tas Paspor bisa mengundang datangnya para pencopet?!

Tips-tips tersebut di atas merupakan tindakan preventif saja, yang terpenting adalah berserah diri adalah Allah SWT, kepada-Nya lah segala urusan dikembalikan. Selalu mohon perlindungan kepada-Nya dan ikhlas menjalaninya. Kemudian waspadalah dengan lingkungan dan jangan lengah.

Advertisements

Read Full Post »

Jika Anda datang ke Masjidil Haram baik makkah atau madinah diwaktu musim haji, suasana Masjid selalu ramai. Karena itu, janganlah berharap suasana tenang, mencari tempat “lowong” di Masjidil Haram bisa dibilang cukup sulit. Namun dengan keyakinan yang kuat dan doa, Anda tentu akan dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan makin padatnya Masjidil Haram saat jemaah dari berbagai negara mulai berdatangan, maka akses masuk Masjidil Haram diperketat. Di pintu-pintu utama berjaga puluhan askar (petugas keamanan). Bila sebelumnya jamaah bebas melenggang keluar masuk, maka mulai kemarin tidak lagi.

Para asykar akan memeriksa jamaah yang membawa barang bawaan di luar kewajaran. Barang yang dibawanya pun tak luput dari pemeriksaan.

Keadaan seperti inilah yang memungkinkan terjadinya kasus tersesatnya jemaah haji. Selain itu disebabkan hampir semua sudut bangunan memiliki kemiripan, sehingga dapat memicu jemaah tersesat ketika hendak keluar dari masjid untuk kembali ke pemondokan.  Sementara itu untuk masuk ke Masjidil Haram bisa melalui berbagai sudut karena banyak pintu yang tersedia.

Disis lain, penyebab tersesatnya jemaah haji disebabkan usia lanjut (udzur), atau tidak memperhatikan sekitar (bisa melamun, ngobrol, adakalnya dikaitkan dengan perasaan serba tahu atau sombong). Adakalanya juga, disebabkan karena jemaah tertidur dan saat bangun mengalami keluaan (disorientasi).

Kehadiran petugas haji Indonesia (PPIH) yang berasal dari utusan Kementerian Agama yang telah berpengalaman bertahun-tahun ditugaskan sebagai pelayan jemaah haji sangat membantu mengatasi masalah ini. Bahkan beberapa diantaranya berasal dari elemen TNI/POLRI. Mereka adalah petugas yang bermarkas di Sektor VII (khusus masjidil haram)

Dalam bertugas, mereka tidak selalu berpakaian dinas khas petugas haji PPIH, acapkali berpakaian preman di sekitar Masjidil Haram. Mereka akan disebar baik di dalam maupun di luar Masjidil Haram.

Jemaah yang tersesat atau terpisah dari rombongannya sangat rawan menjadi korban kejahatan. Karena umumnya ditemukan dalam kondisi bingung dan kelelahan. Bahkan tidak sedikit yang menjadi sasaran para pelaku tindak kriminal. Modusnya rata-rata hampir sama, yaitu berpura-pura menolong dan meminta identitas untuk kemudian merampas tas korban.

Tentu kita semua tidak menginginkan terjadinya hal tersebut diatas baik terhadap diri kita maupun orang yang kita cintai.

Ada beberapa tips untuk menghindari tersesat di masjidil Haram:

* Datang lebih awal dari waktu shalat. Paling tidak, satu jam atau setengah jam sebelum azan berkumandang.
* Jika ke Masjidil Haram sebaiknya Anda pergi beregu atau berombongan. Jangan pergi sendirian terutama bagi jamaah haji usia lanjut atau ibu-ibu. Hal ini bisa memperkecil kejadian tersesat. Jika tersesat saling mengingatkan diantara yang lain.
* Sebelum masuk masjid, sejenak amati bangunan sekitarnya yang dapat mencirikan darimana Anda datang dan masuk masjidil Haram, jika memungkinkan baca nama pintu masjid.
* Ketika pertama kali masuk Masjidil Haram, Ingatlah nomor pintu masuk bila perlu catat di buku notes jika pelupa. Jadikan pintu tersebut sebagaai tempat janjian ketemu dengan teman/ istri/ suami jika tersesat.
* Setelah masuk pintu masjid, usahakan jalan lurus menuju bangunan kabah, ketika kaki menginjakkan halaman kabah tengoklah kearah atas bangunan masjid, cari tanda yang dapat mencirikan dari mana Anda mulai masuk, sebelum turun ke sekitar ka’bah.
* Anda Harus punya tempat janjian ketemu di dalam Masjidil Haram jika anda terpisah dengan rombongan saat Thawaf  atau tersesat di dalam masjid. Tempat Janjian Ketemu yang paling mudah dikenali di dalam Masjid adalah Lampu Hijau mulai thawaf. Jadi punya dua tempat janjian ketemu bisa di dalam masjid (di Lampu Hijau mulai Thawaf) atau di luar Masjid (Nomor Pintu masuk).
* Untuk Di Masjid Nabawi. Tempat janjian ketemu adalah Nomor Pintu Pagar Masuk ke Masjid Nabawi. Jangan pakai nomor pintu masjid karena pintu masuk jamaah haji perempuan dipisah dengan laki-laki.7. Untuk Jamaah haji yang berangkat suami istri. Sebaikya suami istri punya tempat janjian ketemu jika satu sama lain terpisah atau tersesat. Tempat ketemu bisa dipakai seperti tips di atas.
* Hal terakhir yang patut diingat terus adalah memantapkan niat dan sikap ikhlas selama di Masjidil Haram. Niat dan sikap ikhlas terbukti manjur untuk mengantarkan jamaah mendapatkan kemudahan dan kelancaran selama ibadah.

Jika Anda sampai tersesat maka, lakukanlah:
* Instrospeksi diri, perbanyak istighfar dan selalu minta perlindungan Allah SWT, karena Allah SWT adalah sebaik-baiknya tempat berlindung. Dan percayalah, Allah pasti menolong kita, dengan cara yang tidak kita sangka-sangka.
* Janganlah segan bertanya kepada asykar, sebutkan nama pintu dimana Anda tadi masuk ke Masjid.
* Waspada sekitar Anda, karena jemaah tersesat sangat rawan tindak kriminal.
* Segera kembali ke Masjidil Haram, cari tempat janjian ketemu, bertanya ke jamaah haji Indonesia lainnya untuk menemukan pintu masuk janjian ketemu atau lampu hijau thawaf, bersikaplan tenang, jangan panik dan jangan berusaha mencari jalan pulang sendiri.
* Jika punya Handphone hubungi teman atau Ketua Rombongan (sebaiknya Anda saling mencacat nomor Handphone teman/ Ketua Rombongan). Insya Allah mereka akan mencari Anda di tempat janjian ketemu. (berbagai sumber)

Read Full Post »

Saat kita umrah atau haji pasti kita akan ditawari untuk pesiar ke pasar kurma. Sebagai gambaran, tempatnya memang mengasyikkan, kurmanya banyak ragamnya, disekitarnya banyak ditanami pohon kurma. Sehingga suasananya pun seakan menyatu dengan alam.

Penjualnya rata rata bisa berbahasa indonesia, bahkan ada yg punya karyawan orang indonesia. Harganya bisa ditawar. baik pelayan maupun “bos”nya selalu mempersilahkan kepada pengunjung untuk mencicipi kurma atau penganan yang ada sepuasnya.

Bagi jemaah hnji atau Umrah yang ditawari wisata ke pasar kurma, sebagaimana yang digambarkan diatas, sebaikya jangan disana. Karena itu bukanlah pasar kurma arab tapi kebun kurma.

Tentu saja harga di kebun kurma jauh lebih mahal daripada di pasar kurma. kurma ambhar di kebun kurma bisa dijual R 50, padahal kalo ke pasar kurma dapat hanya R 20, jauh khan bedanya.

Pasar kurma yang sebenarnya, dari masjid nabawi dari pintu 7 (kalau tidak salah ke arah kiblat, terus saja, ada pertokoan). Setelah itu nyebrang, ada hotel al Isro. Kemudian, ambil ke kanan terus sudah keliatan deh pasar kurmanya. Di pasar Kurma yang asli ini, Anda pun dapat membeli coklat dan oleh-oleh lainnya.

Bagaimana pun kedua tempat tersebut cukup melepaskan kepenatan dan salah satu tempat berkunjung jemaah haji dan umrah dari berbagai penjuru dunia. Semoga bermanfaat

Read Full Post »

MADINAH–Daya tarik utama Kota Madinah adalah keberadaan Masjid Nabawi. Itulah sebabnya, jutaan orang setiap tahunnya mengunjungi Kota Rasul ini. Masjid Nabawi merupakan masjid yang dibangun oleh Muhammad saw. dan sekaligus tempat pergerakan perjuangan menyebarkan Islam. Magnet umat Islam adalah insentif yang diberikan berupa pahala dan keutamaan bagi yang melaksanakan salat di Mesjid Nabawi memiliki pahala 1.000 kali lebih utama dibanding dengan salat di tempat lain, selain Masjidilharam.

Saat Musim haji, sedikitnya 200.000 jemaah Indonesia mengunjungi Madinah khususnya Mesjid Nabawi, ditambah lagi ratusan jutaan jemaah dari negara lain guna melakukan salat arba`in (salat 40 waktu tanpa terputus). Belum lagi jutaan orang yang silih berganti berdatangan ke Madinah ketika menunaikan umrah baik dari Indonesia maupun dari negara lain. Hal ini menjadikan Madinah menjadi kota yang tidak pernah mati selama 24 jam sepanjang tahun.

Kota yang terletak di sebelah utara Mekkah dengan jarak tempuh sekitar 450 km ini pada masa Muhammad saw. menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Di Madinah pula diletakkan foundasi perpolitikan modern oleh Rasulullah yang termaktub dalam Piagam Madinah. Dari kota yang sebelumnya bernama Yatsrib ini Islam kemudian menyebar ke seluruh jazirah Arab dan kemudian ke seluruh dunia.

Yatsrib sejak dulu merupakan pusat perdagangan. Setelah Rasulullah menetap di kota ini, Yatsrib kemudian diberi nama Madinah dan kemudian menjadi pusat perkembangan Islam. Perjuangan ini dilanjutkan pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan (pada masa Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kuffah Irak karena terjadinya pergolakan politik yang menyebabkan Utsman bin Affan terbunuh).

Jejak perjuangan Rasul Muhammad menyebarkan Islam di Madinah masih berbekas hingga kini. Tempat seperti Jabal Uhud, Khondak, dan Mesjid Quba adalah tempat “wajib” untuk diziarahi ketika jemaah berada di Madinah selain Mesjid Nabawi.

Peran sebagai pusat perdagangan sejak dulu hingga kini masih terus berlangsung. Kedatangan jutaan orang ke Madinah setiap tahunnya tentu membuat kota ini tidak berhenti terutama aspek perdagangan makanan dan kebutuhan hidup, akomodasi dan transportasi bagi para pengunjungnya. Apalagi di musim haji ini, jutaan jemaah keluar masuk Kota Madinah baik lewat darat maupun udara tanpa mengenal waktu.

Bagi penduduk Madinah (orang) Indonesia bukan asing lagi bagi mereka, para pedagang, petugas hotel, asykar (petugas keamanan) atau yang lainnya terutama di sekitar Masjid Nabawi rata-rata lebih mengenal Indonesia dibanding negara lain. Oleh karena itu, jemaah tidak perlu khawatir saat berada di Madinah tidak bisa melakukan aktivitas belanja, makan atau kegiatan lainnya karena kendala komunikasi bahasa.

Sapaan “Haji?!! Mari ke sini, barangnya bagus, murah…” adalah hal biasa. Atau ada celetukan, “Kemahalan ya…?â?? dari pedagang ketika kita menanyakan harga barang kemudian tidak menawar barang tersebut. Para pedagang Arab juga fasih melafalkan angka-angka rupiah untuk saling tawar manawar.

Bahkan di saat “peak season” pada musim haji, pedagang kaki lima di sekitar Masjid Nabawi tidak ubahnya PKL (pedagang kaki lima) di pasar di Indonesia dalam menawarkanbarangnya. “Lima real, lima real selusin murraaaahâ?” demikian seorang pedagang berulang-ulang menawarkan harga tasbih satu lusin kepada setiap orang yang lalu lalang.

Tidak hanya itu, bagi orang Indonesia juga tidak kesulitan mencari barang-barang khas Indonesia, terutama makanan. Berbagai macam kerupuk bisa dijumpai di toko “Nusantara” di kawasan Ijabah. Atau ingin makan bakso, tersedia “Bakso Solo” dan “Warung Si Doel Anak Madinah” di kawasan Markaziah.

Madinah menjadi kota damai karena hampir tidak terdengar perselisihan antar penduduk Madinah, atau penduduk Madinah dengan warga asing, juga warga asing dengan warga asing. Kalau ada perselisihan di jalan mengenai lalu lintas misalnya, yang dilakukan pengemudi hanyalah “main” klakson, tidak lebih dari itu. Kalau terjadi kecelakaan fatal tentu ada hukum yang mengaturnya. Prinsipnya siapa yang memulai melakukan kekerasan dia yang akan terkena hukuman lebih berat.

Pun tidak pernah ada paksaan untuk memilih, atau membeli atau tidak terhadap sesuatu yang kadang menjadi sumber perselisihan karena tidak ada preman yang sok berkuasa di daerah tertentu. Tidak ada tukang parkir, Pak Ogah atau timer yang mengatur-atur kendaraan kemudian meminta imbalan lebih seperti di Jakarta. Karena di Madinah memang tidak ada pungutan parkir. Mobil pun diparkir di depan rumah, di pinggir jalan atau di tanah lapang tanpa takut akan dicuri pencuri yang setiap saat mengintai pemilik mobil yang lengah.

Kedamaian itu tercipta karena setiap orang yang ada di Tanah Suci ini bersahabat. Penduduk lokal tidak merasa lebih baik dari warga asing yang datang ke Madinah. Tidak ada yang merasa lebih hebat karena di negaranya adalah dia seorang pejabat. Hitam, kuning maupun putih kulitnya, besar-kecil postur tubuhnya semua sama.

Apabila berjumpa, mereka mengucapkan “Salamun alaik” yang diberi salam akan menyambutnya dengan penuh persahabatan. Kemudian dilanjutkan dengan menyebut negara-masing-masing. Setelah itu dilanjutkan obrolan yang sama-sama tidak paham karena menggunakan bahasa mereka sendiri-sendiri. Umpamanya, setelah saya tegur sapa dengan menyebut asal negara, seering kemudian saya bilang, “Asif, lam a`rif kalamuka” atau “Sorry, Don`t Understand what you talking about,” tapi lawan bicara tetap saja bicara. Jurus ampuh yang saya gunakan kemudian adalah bahasa Tarzan atau kabur dengan mengucap “Ma`assalamah”.  mch/yto. Republika

Read Full Post »

Kurma dan air zam-zam selalu identik dengan oleh-oleh ibadah haji. Kurma yang paling terkenal adalah kurma Madinah. Selain karena bentuknya lebih besar, daging buahnya kenyal dan kering, menambah atribut rasa manis kurma Madinah. Seperti namanya, kurma ini memang berasal dari Madinah, kota produsen kurma terbesar di Arab Saudi.

Hampir bisa dipastikan, setiap jamaah haji dari segala penjuru dunia yang bertandang ke Tanah Suci, akan menjinjing buah cokelat kehitam-hitaman ini sebagai salah satu oleh-oleh mereka.Tak sulit mendapatkan kurma Madinah. Saat berada di Madinah, pergi saja ke Pasar Kurma (Madinah Dates Market ). Letak pasar ini tepat di pusat kota, arah selatan Masjid Nabawi. Hanya berjarak sekitar setengah kilometer dari masjid para nabi, Pasar Kurma berada di kawasan bernama Qurban.

Dari Masjid Nabawi, Anda cukup berjalan ke arah Kubah Hijau dari arah Baqi. Bila wajah Anda sudah menghadap ke arah Kubah Hijau dan membelakangi Baqi, berjalanlah lurus ke depan. Tak berapa lama, Anda akan melihat Pasar Kurma di sisi sebelah kanan. Pasar ini cukup luas dengan  outlet-outlet kurma berjajar. Dijamin tak kesulitan menemukan pasar ini.

Pasar Kurma Madinah yang dibangun pada 1982 oleh Pemerintah Arab Saudi, buka mulai pukul 08.00 sampai pukul 22.00 waktu setempat. Anda bisa membeli aneka kurma di sini, baik kurma murni maupun olahan. Ada puluhan jenis. Sebut saja cokelat isi kurma, kurma isi kacang, kismis, biskuit selai kurma, dan tentunya (buah) kurma Madinah yang terkenal.

Layaknya di pasar-pasar tradisional, para pedagang Pasar Kurma Madinah juga bersaing dalam urusan memberikan harga kepada para calon pembeli. Kejelian memilih aneka jajanan kurma dan kemahiran menawar harga menjadi kunci utama bertransaksi di pasar ini. Tak jarang ada cerita seorang pembeli mendapatkan kurma dengan harga lebih murah dibandingkan pembeli lainnya. Padahal, jumlah makanan dan tempat membelinya sama.

Khusus untuk kurma Madinah, setidaknya ada tiga klasifikasi yang sudah dikenal, yaitu Ajwa, Ambhar, dan Safawi. Kurma Ajwa adalah kurma yang paling diminati. Tak heran, kurma jenis inilah yang paling banyak terdapat di Pasar Kurma.

Bukan rasa ataupun bentuk yang menjadikan Kurma Ajwa diincar para pembeli, melainkan sebuah hadis Rasulullah SAW yang berbunyi: ””Barang siapa di waktu pagi makan tujuh butir Kurma Ajwa, pada hari itu ia tidak akan kena racun maupun sihir.””Hadis yang terdapat dalam kumpulan Shahih Bukhari inilah yang membuat kurma berwarna agak kehitaman dan berkulit keriput tersebut menjadi incaran para jamaah.

Mengikuti teori ekonomi, Kurma Ajwa merupakan kurma dengan harga paling mahal dibandingkan kurma jenis lainnya. Menyesuaikan ukuran buah, Kurma Ajwa dibanderol dengan harga 60 riyal sampai 80 riyal untuk satu kilogramnya.

Terkait kualitas buah, di bawah Kurma Ajwa, ada jenis Kurma Ambhar. Untuk satu kilogram kurma ini, pembeli harus mengeluarkan kocek antara 35 riyal sampai 40 riyal, tergantung besar buahnya. Kalau kurma-kurma jenis lain bisa dicicipi sebelum membeli, jangan harap Anda bisa mencicipi Kurma Ajwa dan Kurma Ambhar.

Para pedagang di sana kebanyakan menyatakan haram untuk mencicipi dua jenis kurma terbaik tersebut, kecuali Anda memang benar-benar ingin membelinya. Sedangkan untuk jenis kurma lainnya, jamaah bisa membeli dengan cukup murah.

Hal yang sudah pasti, bila Anda ingin membeli kurma sebagai oleh-oleh, belilah di Madinah. Alasannya tak lain karena kurma dijual lebih murah di Madinah daripada di Makkah. Selisih harga untuk satu kilogram kurma di Madinah dengan di Makkah bisa mencapai setengah kalinya. Contoh saja untuk Kurma Ajwa ukuran kecil dengan harga sekitar 60 riyal di Madinah, maka di Makkah paling murah Anda harus mengeluarkan uang 100 riyal per kilogramnya. Contoh lain adalah Kurma Safawi yang di Madinah hanya seharga 15 riyal per kilogram, namun di Makkah dijual dengan harga paling murah 20 riyal. ade/yus/yto. Republika.

Read Full Post »

Enam jam perjalanan Jeddah-Madinah atau sebaliknya Madinah-Jeddah yang dalam beberapa tahun terakhir sudah menggunakan rute “Haromain Exspress Way” bukan merupakan waktu yang tidak sebentar.

Seluruh jamaah haji Indonesia baik gelombang pertama dan gelombang kedua, menggunakan rute itu karena harus mengambil arbain, sholat 40 waktu di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawarroh, sebelum atau sesudah ibadah haji.

Ada sisi lain yang bisa dinikmati dari jalur perjalanan ibadah haji ketika melintasi rute itu. Dalam dua bulan terakhir ini kami beserta rombongan MCH Jeddah kebetulan dua kali menempuh rute itu.

Pertama saat tiba dari Tanah Air, sampai Bandara King Abdul Aziz (KAA), Maghrib pada 19 Oktober. Setelah menunggu lima jam untuk menyelesaikan dokumen imigrasi, dengan sudah berpakaian ihrom langsung melaksanakan umroh haji ke Makkah Al Mukaromah.

Keesokan harinya, dengan istirahat sejenak, bahkan ada yang tak sempat memejamkan mata, pada tengah hari berangkat dari Makkah menuju Madinah, menempuh perjalanan sekitar tujuh jam. Atau sampai di Madinah pada Maghrib juga.

Tak cukup sampai di situ, petugas PPIH Madinah, tinggal di kota Nabi itu, sementara petugas Jeddah, keesokan tengah hari, harus berangkat ke Jeddah, setelah beberapa anggota diantaranya tak sempat ikut ziarah ke Masjid Quba dan Jabal Ubud.

Perjalanan tersebut tentyu melelahkan jadi tidak sempat melihat kanan atau kiri jalur yang saat itu dilalui. Tidak tentunya pada perjalanan kedua, Sabtu (19/12), dari Jeddah-Madinah. Perjalanan ini tentu lebih fress, karena memamg sudah dijadwal, atau tidak dalam kondisi lelah, juga tidak dalam kondisi ibadah haji. Jadi bisa melihat kanan kiri jalan pada jalur sepanjang sekitar 420 kilometer itu.

**
TERNYATA bangunan-bangunan yang ada di sekitar jalur Jeddah- Madinah, mengundang decak kagum kawan-kawan MCH Jeddah yang beranggotakan sembilan orang itu. Mengacungi jempol terhadap pemerintah Kerajaan Arab Saudi dalam pembangunan jalan bebas hambatan yang bisa dilahui dengan gratis itu. Selain itu, sistem pengamanan untuk menjamin kenyamaan pengguna jalan, sampai penataan apik pembangunan pada tempat-tempat strategis.

Dari pembangunan jalan terlihat sangat kokoh, kuat dan berkualitas tinggi. Perawatannya juga sangat baik, nyaris sepanjang perjalanan tidak ditemukan lubang atau jalan yang catat sedikit pun. Di lokasi tertentu, jalan dibuat “bergetar” untuk memberi daya kejut bagi pengemudi jika kemungkinan mengantuk. Panjangnya bisa lebih dua atau tiga kilometer dan dibuat bertahap. Tetapi daya kejut itu tidak membahayakan kendaraan.

Rambu-rambu lalu lintas pun terlihat jelas, monitor sistem komputer terhadap kendaraan yang melampaui batas kecepatan berfungsi dengan baik. Salah satu buktinya, cukup banyak pelanggar lalu lintas yang dihentikan dan ditindak petugas dengan alasan melanggar batas maksimal kecepatan 120 Km.

Selanjutnya jalan yang juga berfungsi sebagai filter kemungkinan adanya jamaah haji ilegal masuk Makkah atau keluar ke Madinah misalnya, disaring melalui lima pos pemeriksaan atau “ceck point”. Setiap mobil yang dicurigai dihentikan, diperiksa surat jalannya.

Hal terakhir ini sebagai bukti bahwa Arab Saudi sangat serius melindungi para tamu Allah, untuk bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman dan aman. Dan sampai catatan ini dibuat, rasanya tidak berlebihan bila kalimat tersebut bisa digaris bawahi.

Satu hal lainnya yang praktis, setiap ada layanan penjualan pompa bensin, di sekitarnya pasti ada Masjid atau Musholla, dan tentu saja toko atau mini market. Penataan lokasi seperti ini tampak seragam baik disisi kiri atau kanan jalur tersebut.

Bahwa, kalau ada pompa bensin contohnya di dekat Restoran Haramain, melayani pembeli “ogah-ogahan”, sekalipun langganannya itu anggota polisi, alias mendahulukan kepentingan lain, mungkin ini bisa dipahami, karena untungnya sedikit.

Harga bensin super di Arab Saudi hanya 60 halala (60 sen) perliter, setara Rp1.700/liter. Sementara harga sebotol air mineral untuk ukuran 600 mili liter satu real (Rp2.500).

Sepanjang sisi jalur Jeddah-Madinah itu juga ada beberapa kota atau bekas kota kecil tak berpenghuni. Ada juga tempat hiburan anak-anak atau “children play ground” fasilitas ini diberikan restoran, tapi masih terlihat sepi.

Satu hal yang tak mungkin tetinggal adalah hamparan padang pasir luas, atau bukit-bukit batu tandus, karena Arab Saudi juga dikenal sebagai negeri seperti itu. jadi tak mengherankan kalau kita hampir bosan melihatnya, meskipn ada selingan dan pertaynaan kalau rata-rata gunungnya warga hitam, tapi ada yang warna merah. Terutama di sisi jalan menuju Madinah mulai KM 17.

Di antara hewan dan binatang yang hidup berabab abad di padang pasir tentu saja hewan yang dikenal tahan haus karena memiliki kantung penyimpan air di leher, yakni Onta. Meski tak terlalu banyak, masih ada penggembala Onta, juga keledai dan kambing ataupun domba.

Suatu hewan yang jarang terdengar dalam cerita gurun pasir, justru monyet gurun. Ternyata hari itu ada segerombolan monyet gurun di jalur perjalanan tersebut.

Tepatnya di KM 192 Madinah, mobil MCH “terpaksa” minggir karena banyak monyet-monyet menyerang jalan. Ketika kendaraan dipinggirkan, salah satunya justru nangkring di depan pengemudi. Karuan saja Mohamad Sahe, pengemudi, mukimin asal Madura yang sudah 28 tahun di Arab Saudi ini agak terkejut.

“Tenang nantin juga turun sendiri,” katanya. Monyet pun “ngeloyor”, kendaraan kembali dipacu.

Pukul 14.30 Waktu Arab Saudi, kami pun sampai di Daker Madinah, beruntung sekali bisa bertemu langsung Kadakernya. (h salamun nurdin) http://www.depag.go.id

Read Full Post »

Haji Saud, jemaah asal NTB mengimbau rekan-rekannya atau jemaah haji Indonesia khususnya yang untuk pertama kali akan beribadah salat arba`in (salat 40 waktu) di Masjid Nabawi, tidak perlu mengkhawatirkan atau mencemaskan soal tempat mengambil air wudhu (bersuci).

Umumnya, jemaah Indonesia khawatir soal jauhnya tempat mengambil wudhu, dan yang lebih mencemaskan jika ingin ke kamar kecil (WC) akibat perut mules, karena tidak tahu tempatnya, maka jemaah kadang lebih banyak menahan, atau mengambil cara lain sehingga bisa berakibat sakit perut jadi parah atau lainnya.

Untuk mengambil air wudu atau ke kamar kecil di Masjid Nabawi tersedia sangat banyak, sedikitnya ada 14 tempat, posisinya berada di depan masjid, atau di pelataran masjid. Di situ diberi petunjuk dengan jelas.

Tempat wudhu yang dilengkapi sebelahnya berupa kamar kecil/WC itu bahkan dibuat dua lantai ke arah bawah, jumlahnya sangat banyak. Bisa dijangkau dengan lewat eskalator, atau lewat jalan biasa.

“Tempatnya sangat dekat, berbeda dengan di Masjidil Haram, yang agak jauh. Karena itu kalau jemaah merasa mulas mau buang air kecil atau besar jangan ditahan-tahan, karena tempatnya tidak jauh dari masjid, tempatnya pun bersih,” kata Haji Saud, di depan Masjid Nabawi, Minggu (20/12) malam.

Haji Saud, jemaah asal NTB yang tergabung dalam Kloter 57 itu selanjutnya menuturkan pengalamannya, sempat dua kali tersesat ketika hendak pulang dari salat arbai`n, karena pondokannya agak jauh, lebih 500 meter dari masjid. Untuk menyikapi agar tak tersesat lagi, salah satu caranya hanya dua kali kembali ke pondokan dalam 24 jam selebihnya tinggal di masjid.

Menurut Saud, cara yang dia dan teman-temannya tempuh untuk menghindari tersesat jalan ketika kembali ke pondokan, saat selesai salat subuh dan salah Isa saja kembali. Selebihnya sejak zuhur sampai isa tinggal di masjid.

“Untuk mengusir kantuk, kita bisa jalan-jalan di sekitar masjid, makan juga beli di sekitar masjid saja. Bahkan saya sempat sampai puncak gedung itu hanya untuk beli air mineral yang harganya satu riyal,” kata Saud sambil menunjuk gedung di depan masjid Nabawi.

Jemaah kloter 57 SUB yang akan diterbangkan Saudia melalui Bandara Amir Muhammad Abdul Aziz, Madinah Jumat, 25 Desember. Hari Senin, merupakan hari terakhir jemaah haji dari Mekah yang diberangkatkan ke Madinah. Sementara pemulangan terakhir jemaah haji Indonesia ke Tanah Air 31 Desember. (Salamun)

Read Full Post »

Older Posts »