Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Ziarah’ Category

Indahnya………

Kapan kembali???

Read Full Post »

Jeddah dengan penduduk sekitar 1,5 juta jiwa, merupakan kota pelabuhan laut dan kota utama serta salah satu tempat pusat pemerintahan Kerajaan Arab Saudi yang dikembangkan sebagai kota internasional sekaligus pintu gerbang.

Jeddah bisa diartikan sebagai “nenek perempuan”. Disebut demikian karena di sinilah dimakamkan nenek umat manusia yaitu Siti Hawa. Seperti umumnya makam di negeri ini, tidak ada tanda nama di atas pusara, cukup diletakkan batu kecil tanpa tulisan apa pun. Jadi jangan coba mencari di mana letak pusara Siti Hawa.

Saat kami berziarah ke pemakaman ini masih jauh dari bulan Zulhijah (Haji). Penjaga melarang wanita masuk, pengunjung tak boleh membawa kamera video pun tidak diperkenankan apalagi memotret. Jadi karena salah satu anggota rombongan kami seorang perempuan ya terpaksa dia menunggu di mobil.

Kota Jeddah sedikitnya memiliki tiga julukan, karena cantiknya disebut sebagai “Sang Pengantin Putri Laut Merah”, karena letaknya disebut “Pintu Gerbang Dua Tanah Haram” (Mekah Al-Mukaramah dan Madinah Al-Munawarah). Karena sebagai kota bisnis “Kota di tengah Pasar”.

Sebagai pintu gerbang Arab Saudi, Jeddah dilengkapi Bandara Internasional super sibuk diambil nama Raja Pertama Arab Saudi King Abdul Aziz. Bandara ini memiliki lima terminal, terminal khusus keluarga Kerajaan, terminal internasional umum, terminal internasional Saudia dan Saudia lokal, serta Terminal Haji.

Pada musim haji, setiap hari terdapat 244 penerbangan, karena itu tahun ini untuk mengurangi kepadatan, penerbangan haji sebagian dialihkan ke Bandara Amir Muhammad Abdul Aziz, Madinah.

Dari sekitar tiga juta jamaah haji tahun ini, Saudia menerbangkan hampir satu juta jamaah dari seluruh dunia, termasuk 90.000-an dari Indonesia. Dan sekitar 114.000 jamaah haji Indonesia diterbangkan Garuda.

Kota Jeddah ini terletak di sebelah barat Saudi Arabia berpantai Laut Merah pada 30° garis BT dan antara 21 – 28° LU. Persisnya di dataran rendah. Karena itu saat hujan di hulu dan banjir bandang 25 November lalu, Jeddah menjadi daerah terparah. Cuaca pada musim panas (Juni – September) 35-42° C dan pada musim dingin (November – Februari) 10-25° C.

Pada tahun 648 M kota ini diresmikan menjadi kota pelabuhan untuk Mekah dan sekitarnya oleh Khalifah Utsman bin Affan RA. Luas kota ini sekitar 300 Km2. Jeddah kini maju sangat pesat, pusat perbelanjaan megah berdiri di mana-mana, kalau dalam belasan tahun terakhir yang terkenal Corniche Commercial Center, di kawasan Balad, kini di mana-mana bertebaran pusat perbelanjaan level Internasional, sebuat saja Arabian Mall.
**

KOTA Jeddah juga boleh dibilang tak berbeda dengan kota metropolitan di negara lain. Singapura, Beijing, Tokyo dan Hong Kong, Manila yang pernah saya kunjungi. Di sini, banyak terdapat gedung-gedung berdesain modern, pusat perbelanjaan, dan rekreasi serta taman-taman kota yang lebih rapi, jalanan bersih kiri dan kanan tumbuh pepohonan rindang dan hijau.

Mobil-mobil tipe terbaru dan berkelas berseliweran, warna putih mendominasi karena menjadi warna favorit tidak saja di Jeddah, tetapi Arab Saudi secara umum. Dan yang unik, kendaraan jalannya sangat cepat. Di dalam kota bisa rata-rata 80 KM/jam.

Bedanya, mobil-mobil baru dan bermerk yang lalu lalang di jalan yang lebar dan mulus tersebut, perawatannya kurang. Jadi tidak heran kalau banyak mobil yang penyok. Kalau tidak terlalu parah, dibiarkan begitu saja.

“Orang sini kan kaya-kaya, kalu mobilnya penyok, dibiarkan, kalau sudah bosan ganti yang baru,” ujar Mohamad Abdul Hakim, mukimin Indonesia yang sudah 16 tahun tinggal di Jeddah.

Perbedaan lainnya tentu banyak, misalnya wanitanya tidak begitu saja bisa keluar rumah dan jalan sendirian. Kalaupun keluar rumah harus mengenakan cadar, dan wanita bersama wanita terkecuali jika memang bersuami istri (muhrimnya). Dan kebiasaan seperti itu memang tidak ada, wanita di sini paling-paling seminggu sekali ke mal kalau hari libur, hari Kamis malam Jumat.

Karena hari liburnya Kamis dan Jumat seperti umumnya di Indonesia Sabtu dan Minggu, maka pusat perbelanjaan selalu ramai, tidak hanya lelaki tetapi juga kaum nissa (perempuan), baik yang masih lajang. Bagi yang sudah berumah tangga membawa anak-anaknya berbelanja atau sekadar makan-makan.
**

JEDDAH dikenal dengan pantai Laut Merah, lebih dari 40 Km di pesisir ini telah dibangun tempat rekreasi luar biasa. Berada di tempat itu kita teringat dengan kisah tentang mukzijat yang diberikan Allah SWT berupa tongkat, Nabi Musa mampu membelah Laut Merah sewaktu dikejar bala tentara Raja Fir`aun, penguasa saat itu, demi menegakkan agama Allah.

Di sepanjang pantai laut Merah Jeddah ini, kebetulan kami beserta rombongan MCH menyusurinya bertepatan dengan malam Jumat (malam libur di Arab Saudi-Red) sekaligus malam 1 Muharam, malam tahun baru Islam 1431 Hijriah. Kami kemudian berhenti di seputar masjid yang lebih dikenal di Tanah Air sebagai masjid terapung.

Bayangan kami, di salah satu masjid yang terkenal di Laut Merah yaitu Masjid Terapung yang bernama aslinya Masjid Ar Rahman, ada sesuatu yang lain atau mengejutkan, pada malam tahun baru itu. Ternyata sama sekali tidak, sunyi. Bahkan di sepanjang pantai, sampai areal air mancur yang tingginya 150 meter (malam itu tidak diaktifkan), juga hanya beberapa pengunjung saja yang datang. Tetapi mereka datang bukan karena 1 Muharam, melainkan karena malam hari libur Jumat.

Suasana 1 Muharam atau peringatan tahun baru Islam di Arab Saudi khususnya Jeddah, jauh berbeda dengan di Tanah Air, di mana di Masjid atau Musala diadakan syukuran, baca AlQuran, ada yang diisi dengan ceramah agama, bahkan ada yang mengisi dengan takbir keliling kampung dan keliling kota.

Di kalangan Islam “abangan” di Jawa, 1 Muharam yang dikenal dengan 1 Syuro (Asyura) diadakan acara “lek-lekan” atau tirakatan yang intinya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Bahkan ada ada pula yang mengaitkan dengan acara mencuci keris atau benda pusaka.

Tanggal 1 Muharam sebagai tahun baru, tanggal 12 Rabiul Awal kelahiran Nabi Muhammad (Maulid), merupakan bagian dari hari-hari besar Islam yang di Indonesia dijadikan hari libur nasional. Tidak hanya di Arab Saudi, karena itu bid`ah, atau hal yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

(H Salamun Nurdin). Depag.go.id

Read Full Post »

Haji Saud, jemaah asal NTB mengimbau rekan-rekannya atau jemaah haji Indonesia khususnya yang untuk pertama kali akan beribadah salat arba`in (salat 40 waktu) di Masjid Nabawi, tidak perlu mengkhawatirkan atau mencemaskan soal tempat mengambil air wudhu (bersuci).

Umumnya, jemaah Indonesia khawatir soal jauhnya tempat mengambil wudhu, dan yang lebih mencemaskan jika ingin ke kamar kecil (WC) akibat perut mules, karena tidak tahu tempatnya, maka jemaah kadang lebih banyak menahan, atau mengambil cara lain sehingga bisa berakibat sakit perut jadi parah atau lainnya.

Untuk mengambil air wudu atau ke kamar kecil di Masjid Nabawi tersedia sangat banyak, sedikitnya ada 14 tempat, posisinya berada di depan masjid, atau di pelataran masjid. Di situ diberi petunjuk dengan jelas.

Tempat wudhu yang dilengkapi sebelahnya berupa kamar kecil/WC itu bahkan dibuat dua lantai ke arah bawah, jumlahnya sangat banyak. Bisa dijangkau dengan lewat eskalator, atau lewat jalan biasa.

“Tempatnya sangat dekat, berbeda dengan di Masjidil Haram, yang agak jauh. Karena itu kalau jemaah merasa mulas mau buang air kecil atau besar jangan ditahan-tahan, karena tempatnya tidak jauh dari masjid, tempatnya pun bersih,” kata Haji Saud, di depan Masjid Nabawi, Minggu (20/12) malam.

Haji Saud, jemaah asal NTB yang tergabung dalam Kloter 57 itu selanjutnya menuturkan pengalamannya, sempat dua kali tersesat ketika hendak pulang dari salat arbai`n, karena pondokannya agak jauh, lebih 500 meter dari masjid. Untuk menyikapi agar tak tersesat lagi, salah satu caranya hanya dua kali kembali ke pondokan dalam 24 jam selebihnya tinggal di masjid.

Menurut Saud, cara yang dia dan teman-temannya tempuh untuk menghindari tersesat jalan ketika kembali ke pondokan, saat selesai salat subuh dan salah Isa saja kembali. Selebihnya sejak zuhur sampai isa tinggal di masjid.

“Untuk mengusir kantuk, kita bisa jalan-jalan di sekitar masjid, makan juga beli di sekitar masjid saja. Bahkan saya sempat sampai puncak gedung itu hanya untuk beli air mineral yang harganya satu riyal,” kata Saud sambil menunjuk gedung di depan masjid Nabawi.

Jemaah kloter 57 SUB yang akan diterbangkan Saudia melalui Bandara Amir Muhammad Abdul Aziz, Madinah Jumat, 25 Desember. Hari Senin, merupakan hari terakhir jemaah haji dari Mekah yang diberangkatkan ke Madinah. Sementara pemulangan terakhir jemaah haji Indonesia ke Tanah Air 31 Desember. (Salamun)

Read Full Post »

Thaif merupakan salah satu kota yang memiliki hawa sejuk, karena berada di lembah pegunungan Asir dan penunungan Al Hada. Kota yang terletak sekitar 67 kilometer atau 1 jam 45 menit dari Kota Makkah Al Mukarramah ini terkenal dengan perkebunan Delima, Kurma, sayuran lainnya, termasuk juga banyak tumbuh pohon Zaqqum, pohon berduri.

Hawa sejuk, layaknya seperti udara di Puncak Pas, Bogor, Jawa Barat ini, mulai terasa ketika detikcom bersama sejumlah wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji PPIH Daerah Kerja Makkah melakukan perjalanan ke Thaif, Sabtu (19/12/2009) siang waktu Arab Saudi. Diperkirakan suhu udara di kawasan ini mencapai 20 derajat celsius, sehingga membuat nyes di kulit.

Jalan menuju Thaif, khususnya ketika melewati Pegunungan Asir dan Pegunungan Al Hada berkelok-kelok, panjang dan menanjak mengelilingi pinggiran pegunungan hingga puncaknya. Puncak pegunungan yang berbeda dengan Puncak, Bogor atau tempat lainnya di Indonesia. Pegunungan di sini relatif tidak ada pepohonan, tandus, berbatu dan berpasir.

Namun, ketika memasuki kota Al Hada sebelum Thaif, sepanjang jalan baru ditemukan sejumlah pepohonan dan perkebunan kurma. Beberapa rumah tradisional juga berdiri di tengah-tengah perkebunan itu. Di sepanjang kawasan ini juga dipenuhi sejumlah tempat wisata bagi penduduk Arab Saudi. Di tempat ini juga terdapat kawasan yang dijadikan tempat ber-Miqot atau untuk berihrom haji atau umrah, yaitu di Wadi Sair Kabir.

Kesejukan kota Thaif banyak digunakan sebagai tempat peristirahatan dan pariwisata di musim panas. Bahkan para raja dan kerabatnya banyak membangun tempat-tempat peristirahatan di kawasan ini. Sehingga Thaif juga mendapat julukan Qaryah Al Mulk atau Desa Para Raja. Di kota ini juga sering diselenggarakan pertemuan-pertemuan dan perjanjian-perjanjian bilateral, regional dan internasional.

Menurut informasi yang diperoleh para mukmin dan sejumlah literatur, sebenarnya di kota ini sering diselenggarakan perlombaan balap onta. Namun, menjelang musim dingin di antara bulan Oktober hingga Januari, di kawasan ini juga di kawasan Al Safa, adalah musim Delima dan Bunga Anggrek.

Yang menarik, dalam perjalanan rombongan yang disopiri Hamdan Bakri atau Syamsul Nawawi menunjukan sejumlah Pohon Zaqqum yang tumbuh di antara perbukitan dari Thaif menuju Al Safa. Akhirnya, kami menghentikan sejenak perjalanan, memperhatikan pohon yang ditumbuhi duri-duri yang besar dan tajam, dan tidak ketinggalan berfoto ria, sebelum bubar karena mobil patroli polisi (askar baladiyah) datang.

Maklum, rombongan was-was juga memasuki kota Thaif, karena tidak memiliki Tasrih (surat izin) atau visa mengunjungi kota ini. Sebab selama musim haji, jamaah haji tidak diperkenankan masuk ke wilayah itu, karena hanya mengantungi visa haji, bukan wisata atau visa bekerja. Namun, rombongan memberanikan diri masuk, dan memang tiga pos Check Point yang dilewati tidak pernah menghentikan kendaraan MCH Daker Makkah ini.

Pohon Zaqqum, memang tidak ada di Indonesia atau negara lainnya. Ini menarik, ditambah lagi di dalam Al Quran Surah Al Waqi’ah ayat 52-56 tentang keberadaan Pohon Zaqqum. Di dalam ayat itu disebutkan bahwa para penghuni neraka kelak akan diberikan makanan dari Pohon Zaqqum. Para penghuni neraka akan diberi makanan yang luar biasa pahitnya. Detik.com

Read Full Post »


Selama di Madinah dengan kondisi cuaca dan suhu yang dingin, jemaah Indonesia rawan penyakit inveksi saluran pernapasan atas (ISPA) berupa batuk-pilek dan flu ringan. ISPA ini bisa berbahaya apabila menyebabkan sesak napas, pnemonia dan inspeksi saluran pernapasan bagian bawah.

Oleh karena itu, jemaah diminta untuk memperkuat daya tahan tubuh dengan makan, minum dan istirahat yang cukup. Di samping itu, jemaah juga diminta banyak mengonsumsi buah-buahan dengan rasa manis, dan bukan yang asam seperti jeruk. Karena dengan perubahan cuaca dan suhu, keasaman dapat menyebabkan diare.

Namun sayangnya, menurut dr. Agus Setiawan, petugas kesehatan dari kloter 56 SOC Solo, buah yang disajikan oleh katering selama di Madinah lebih sering berupa jeruk dengan rata-rata jeruk yang rasanya asam. Hal ini akan membuat jemaah bisa mengalami diare. Oleh karena itu, dirinya meminta agar buah jeruk yang disajikan diganti dengan buah lain seperti apel atau pisang, agar jemaah bisa terhindar dari diare dan rata-rata buah di Arab Saudi rasanhya asam.

Menanggapi keluhan mengenai rasa buah jeruk yang asam ini, Kepala Daerah Kerja Madinah Cepi Supriatna menandaskan tidak menjadi masalah apabila harus menggganti buah jeruk dengan buah lain apabila buah jeruk memang membuat mudarat. Mengenai penggantian ini pihaknnya akan bekerja sama dengan katering untuk mengakomodir kepentingan jemaah. (MA Effendi)

Read Full Post »

Saat berada di Kota Madinah Al-Munawarah, jemaah haji Indonesia sesungguhnya mendapatkan jatah makan sehari tiga kali dengan menu Indonesia, ditambah buah-buahan dan minuman the, susu, serta kopi. Meskipun mendapatkan jatah makan yang cukup, sebagian jemaah yang gemar berwisata kuliner suka mencari makanan alternatif. Pagi hari, saat udara dingin mencapai 14 derajat Celsius, perut semakin merasakan lapar, meskipun sudah cukup makan.

Uang cekak tak menghalangi jemaah untuk makan jajanan di luar sarapan dari jatah yang dibagikan perusahaan katering. Sebelum fajar turun, sejumlah mobil boks dan kontainer besar sudah nongkrong di jalan utama masuk Masjid Nabawi. Mobil ini sengaja menghadang jemaah yang akan melaksanakan salat tahajud atau salat subuh berjamaah. Sejumlah petugas akan memberikan secara gratis setiap jemaah yang lewat.

Orang yang baik hati ini mengemas makanan pemberiannya dalam dus kecil yang berisi satu kotak jus jeruk, satu botol minuman sebesar setengah boto, sepotong kueh tawar dalam bentuk yang besar, sepotong kueh dengan aneka macam selai, satu jeruk, atau satu buah apel. Boks kecil ini dikemas dalam dus yang lebih besar berisi 10 boks kecil. Jemaah yang lewat boleh mengambil satu boks kecil atau boks yang besar sekaligus. Semua dengan cuma-cuma.

Selesai salat subuh, di salah satu pojok Masjid Nabawi juga terlihat antrean agak panjang. Setiap pengantre memegang satu gelas plastik. Di ujung antrean, seseorang memegang ceret berisi air teh panas. Antrean serupa ada di sebelahnya, sekitar 10 meter. Antrean yang satu sekadar teh, sedangkan antrean satunya lagi teh susu. Jemaah tinggal memilih mana yang paling suka di antara keduanya yang sama sekali tidak memungut bayaran. Inilah yang orang Arab bilang sebagai “Sabilillah.”

Kalau tak mau gratis, banyak pilihan makanan untuk sarapan pagi. Namun pada umumnya tidak ada nasi putih atau nasi kebuli. Hanya rumah makan Indonesia yang biasanya menyediakan sarapan berupa nasi dan lauk pauknya. Namun masyarakat Arab dan restoran di sekitar Madinah pada umumnya tidak menyiapkan sarapan nasi.

Orang Bangladesh di belakang hotel yang menjadi penginapan jemaah Indonesia menyiapkan martabak. Tapi, martabaknya berbeda dari martabak telor ala Mesir. Ia menggoreng tepung semacam kue cane, namun di atasnya disiram telor. Jadinya, kue cane dengan lauk telor dadar. Gerai sarapan pagi ini cukup laris, terutama jemaah asal India, Pakistan, dan Bangladesh.

Di sudut yang lain, jemaah mengerumuni penjual teh. Pada mulanya, the campur susu tidaklah lazim bagi bangsa Indonesia. Namun sekali mencicipi, teh celup yang dicampur susu menyebabkan jemaah ketagihan. Satu gelas teh harganya RS 1, kalau campur susu RS 2. Sebagian jemaah mencampur susu dengan kopi, sebagaimana lazim dilakukan di Indonesia.

Rumah makan khas Pakistan di Jln. King Fahd dalam beberapa hari terakhir selalu ramai di pagi hari. Rupanya, pedagang ini menyiapkan menu baru, saat melihat jemaah haji Indonesia tiba di Kota Rasul ini. Ia menyajikan nasi kebuli dengan dua warna, kuning dan putih. Sebagaimana khas Arab, satu porsi nasi seharga RS 3 cukup dimakan untuk dua orang Indonesia.

Selain nasi kebuli dua warna, mereka juga menyiapkan ayam sebesar seperempat ayam. Biasanya, nasi kebuli dilengkapi ayam minimal setengah ayam atau bahka satu ekor ayam. Tapi kali ini, pedagang RM Pakistan ini membuat sajian baru, ayam seperempat potong seharga RS 5. Maka, usai subuh para ibu-ibu jemaah haji antre panjang.

Makanan sekadarnya juga banyak disajikan pedagang untuk sarapan pagi. Seperti tepung yang dibuat bulat sebesar bola pingpong. Hanya ditaburi gula halus, mereka menjual lima butir seharga RS 1. Jemaah yang belum berminat makan nasi bisa memilih makanan ini sebagai alternatif. Di samping itu, pedagang ini menyiapkan juga donat dan kerupuk.

Jika ingin seperti orang Arab, jemaah bisa membeli tamis, yakni roti khas Arab yang lebarnya berdiameter lebih dari 40 cm. Meskipun besar dan lebar, satu roti tamis harganya hanya RS 1. Rupanya, inilah makanan rakyat Arab. Roti ini enak dimakan bersama selai yang diberikan sebagai bagian dari penyajian. Sebagian jemaah mamakan roti tamis ini dengan susu atau the panas. Silakan mau pilih yang mana? Pilih yang mana pun, yang penting pagi hari salat subuh dulu. (Wachu)

Read Full Post »

Jadwal kepulangan jamaah haji setiap tahunnya pasti ada yang mengalami keterlambatan. Ini wajar saja. Dikarenakan banyak hal yang mempengaruhi kesiapan pesawat untuk terbang mengangkut jamaah haji. Jadi bila kita mengalaminya, maka bersabarlah. Insya Allah Anda akan mendapatkan nikmat sekaligus hikmah dari kejadian tersebut.

Berikut Tips cara mengatasi keterlambatan pesawat saat kepulangan. Tips ini merupakan hasil pengamatan singkat selama bertugas di Bandara KAAI Jeddah tahun 2007. Bila Anda memiliki Tips yang lebih jitu, dan dapat melengkapi Tips ini, silahkan kirim melalui email kontak@fajar.info.tm. Insya Allah tambahan info Anda dapat memudahkan para calon tamu Allah di masa yang akan datang:

1. Penting untuk menyiapkan uang real receh secukupnya (20-50 real) saat kepulangan jamaah haji. Karena uang receh tersebut dapat untuk membeli makanan/minuman selama menunggu di bandara. Bila telah jelas terlambat dan anda lapar sedangkan makanan belum tersedia, maka izinlah pada ketua regu atau karom untuk membeli makan. Pastikan Anda hafal jalan kembali, jangan sampai nyasar ke tempat negara lai (kalau nyasar bertanyalah).

Di kantin bandara Anda dapat membeli juss, hamburger, nasi, buah, mie dll. Harga standar saja kok, sama dengan yang dijual di sekitar masjidil haram. Favorit kami saat bertugas di Bandara adalah Juss MIX, hamburger ayam, dan Nasi Briyani.

2. Tetap tenang dan bergembira. Ciptakan suasana yang bahagia di kloter Anda. Toh Anda sudah selesai berhaji, ujian berat telah Anda lewati. Kalau cuma menunggu mudah sajalah.

3. Membaca Buku atau lebih baik lagi membaca Al-Qur’an (berpahala).

4. Bila Anda lelah setlah lama “beristirahat” (…??), maka lakukanlah jalan-jalan ringan. Bicara atau ngobrollah tentang hal yang bermanfaat dengan para petugas yang melayani Anda dengan sepenuh hati, atau dengan sesama jamaah. Yang “Gayeng” dan bisa jadi cerita saat di Tanah Air, cobalah berbicara dengan para kuli angkut bandara. Suasana akan bertambah asyik bila Anda membawa PERMEN. Bila tak mampu berbahasa arab, gunakanlah kemampuan gerak Anda. Insya Allah mereka faham.

5. Hindari bertanya waktu keberangkatan pesawat berulang kali, hanya akan memusingkan Anda saja. Alih-alih, pikirkan apa yang akan dilakukan saat Anda berkumpul dengan keluarga Anda tercinta. Ini obat pelepas kesal saat jadwal pesawat tak sesuai dengan harapan.

6. Telpon atau SMS-lah keluarga Anda, agar mereka tenang, ceritakan hal-hal yang lucu dan menyenangkan. Ini obat untuk kekesalan Anda juga

7. Hematlah tenaga Anda, jangan sampai marah, karena percuma. Perjalanan pulang Anda masih cukupbutuh tenaga dan waktu yang lama. jadi hindari marah, apalagi marah sama petugas haji Indonesia. Salah alamat. Meraka tidak memiliki otoritas apapun di bandara, tidak bisa mempercepat kesiapan pesawat Anda. Tugas mereka di saat kepulangan adalah menemani Anda dan melepas bila pesawat telah siap.  Semoga bermanfaat

Read Full Post »

Hari Asyura ialah hari kesepuluh di bulan Muharam, dimana pada hari ini telah terjadi peristiwa yang sangat besar yakni ditenggelamkannya Fir’aun beserta kaumnya dan ditolongnya Nabi Musa ‘alaihissalam beserta kaumnya. Maka hari itu adalah hari dimenangkannya Al Haq dan dihancurkannya kebathilan, pada hari itu pula Nabi Musa ‘alaihissalam berpuasa sebagai tanda syukur kepada Allah.

Hingga akhirnya disyariatkan puasanya bagi seluruh kaum muslimin karena saat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, lalu beliau bertanya kepada mereka, “Kenapa kalian berpuasa?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya pada hari ini Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan membinasakan Fir’aun beserta kaumnya dan Musa berpuasa pada harinya maka kamipun berpuasa.” Kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam berkata, “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.” (HR Al Bukhori no: 2004, 3942, 3943, Muslim no: 1130, 1131). Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk melakukan puasanya.

Inilah yang disyariatkan pada hari Asyura yakni berpuasa, tidak seperti orang-orang jahiliyyah mereka menambah-nambah amalan selain puasa, yakni mereka menjadikan hari itu sebagai hari raya yang tidak disyariatkan, maka barangsiapa yang menambah-nambahi atas apa yang telah disyariatkan berarti dia berada dalam agama jahiliyyah.

Berpuasa pada hari Asyura memiliki keutamaan di antaranya Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Puasa pada hari Asyura aku berharap pada Allah agar menghapuskan dosa-dosa tahun sebelumnya.” (HR Muslim no 1162). Bahkan puasa Asyura pada awalnya diwajibkan oleh Rosulullah sebelum diwajibkannya puasa Romadlon maka dihapuslah kewajiban puasa Asyura dengan kewajiban puasa Romadlon dan ditetapkanlah puasa Asyura sebagai puasa yang mustahab / sunnah. Wal ilmu indallah.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari.

(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari.. Bulletin al Wala wal Bara Edisi ke-13 Tahun ke-1 / 14 Maret 2003 M / 11 Muharrom 1424 H. Url sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/13.htm#sub2)

Fatwa Seputar Muharram

Hukum Bersandar Pada Kalender dalam Penentuan Shiyâm (Puasa) Hari ‘Asyûra (10 Muharram).

Pertanyaan : Saya seorang pemuda yang telah diberi hidayah oleh Allah dengan cahaya Al-Haq. Saya ingin melaksanakan Shiyâm ‘âsyûrâ` dan semua shiyâm pada hari-hari yang utama di luar Ramadhân. Apakah boleh terkait dengan shiyâm ‘âsyûra` saya bersandar pada kalender dalam penentuan masuknya bulan Muharram, ataukah berhati-hati dengan cara bershaum sehari sebelum dan sesudah itu lebih utama? Jazâkumullâh Khairan.

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menjawab :

Tetap wajib atasmu untuk bersandar kepada ru’yatul hilâl. Namun ketika tidak ada ketetapan ru`yah maka engkau menempuh cara ihtiyâth, yaitu dengan menyempurnakan bulan Dzulhijjah menjadi 30 hari. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua.

[diterbitkan di majalah Ad-Da’wah edisi 1687 tanggal 29 / 12 / 1419 H. lihat Majmû’ Fatâwâ wa Maqâlât Mutanawwi’ah XV/402, fatwa no. 157 ]

===

Hukum Memperhatikan Hilâl Tanda Masuknya Bulan Muharram

Pertanyaan : Banyak dari kaum muslimin yang bershaum (berpuasa) pada hari ‘âsyûrâ` dan benar-benar mementingkannya karena mereka mendengar dari para da’i tentang dalil-dalil yang memberikan motivasi dan dorongan untuk mengamalkannya. Maka kenapa umat tidak diarahkan untuk benar-benar memperhatikan hilâl Muharram, sehingga kaum muslimin mengetahui (masuknya bulan Muharram) setelah disiarkan atau disebarkan melalui berbagai media massa?

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menjawab :

Shiyâm para hari ‘Âsyûrâ` merupakan ibadah sunnah yang disukai bershaum padanya. Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bershaum pada hari tersebut demikian juga para shahabat juga bershaum pada hari tersebut, dan sebelumnya Nabi Musa ‘alaihissalam juga bershaum pada hari tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah, karena hari tersebut (10 Muharram) merupakan hari yang Allah menyelamatkan Nabi Musa u dan kaumnya, serta Allah binasakan Fir’aun dan kaumnya. Maka Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Israil bershaum pada hari tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bershaum juga pada hari itu dalam rangka bersyukur kepada Allah dan mencontoh Nabiyullâh Musa. Dulu kaum jahiliyyah juga biasa bershaum pada hari itu.

Kemudian Nabi shalallahu’alaihi wa sallam menekankan shaum tersebut kepada umat ini. Kemudian ketika Allah menurunkan kewajiban shaum Ramadhan, maka beliau bersabda : “Barangsiapa yang mau silakan bershaum pada hari itu, barangsiapa yang mau boleh meninggalkannya.” [HR. Al-Bukhâri 5402, Muslim 1125]

Nabi shalallahu’alaihi wa sallam memberitakan bahwa shaum tersebut menghapuskan dosa-dosa setahun sebelumnya. Yang utama adalah dengan diiringi bershaum sehari sebelum atau sesudahnya, dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi, karena Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” [HR. Ahmad] dalam riwayat lain dengan lafazh : “Bershaumlah kalian sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.”

Jadi kalau diiringi dengan bershaum sehari sebelumnya atau sehari setelahnya, atau bershaum pada hari sebelumnya dan sehari setelahnya, yakini bershaum tiga hari sekaligus (9, 10, 11 Muharram) maka itu semua adalah bagus, dan padanya terdapat penyelisihan terhadap musuh-musuh Allah.

Adapun berupaya mencari kepastian malam ‘âsyûrâ`, maka itu merupakan perkara yang tidak harus. Karena shaum tersebut adalah nâfilah bukan kewajiban. Maka tidak harus mengajak untuk memperhatikan hilâl (Muharram). Karena seorang mukmin kalau dia keliru, sehingga ternyata dia bershaum sehari sebelumnya atau sehari setelahnya maka itu tidak memadharatkannya. Dia tetap mendapat pahala yang besar. Oleh karena itu tidak wajib untuk memperhatikan masuknya bulan (Muharram) dalam rangka itu (shaum), karena shaum tersebut hanya nâfilah saja.

[Majmû’ Fatâwâ wa Maqâlât Mutanawwi’ah XV/401 – 402, fatwa no. 156 ]

===

Apakah Harus mengqadha` Shaum ‘Asyura yang Terlewatkan

Pertanyaan : “Barangsiapa yang tiba hari ‘Asyura dalam keadaan haidh, apakah dia harus mengqadha’nya? Apakah ada qaidah yang menjelaskan mana dari puasa nafilah yang harus diqadha` dan mana yang tidak? Jazakallah Khairan.

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab :

Ibadah Nafilah ada dua jenis : Jenis yang ada sebabnya, dan jenis yang tidak ada sebabnya. Nafilah yang ada sebabnya, maka dia tidak ada jika sebabnya tidak ada, dan tidak perlu diqadha`. Contohnya shalat tahiyyatul masjid. Jika seseorang datang ke masjid langsung duduk dan duduknya tersebut sudah berlangsung lama, kemudian ia hendak melakukan shalat tahiyyatul masjid. Maka shalat yang ia lakukan bukanlah shalat tahiyyatul masjid. Karena shalat tersebut memiliki sebab, terkait dengan sebab. Jika sebabnya hilang, maka hilang pula pensyari’atannya.

Termasuk dalam jenis ini pula -yang tampak- adalah shaum hari ‘Arafah dan shaum hari ‘Asyura. Apabila seseorang tertinggal dari shaum ‘Arafah dan shaum ‘Asyura` tanpa ada udzur, maka tidak diragukan lagi ia tidak perlu mengqadha`, dan tidak ada manfaatnya kalau pun dia mengqadha`. Adapun jika terlewat pada seseorang (puasa tersebut) dalam kondisi dia ada ‘udzur, seperti perempuan haidh, nifas, atau orang sakit, maka dia juga tidak perlu mengqadha`. Karena itu khusus pada hari tertentu, hukumnya hilang dengan berlalunya hari tersebut.

[Liqa’atil Babil Maftuh]

===

Hukum Melakukan Shaum Nafilah Bagi Orang yang Masih Punya Hutang Shaum Ramadhan

Pertanyaan : Apa hukum melaksanakan shaum sunnah, -seperti shaum 6 hari bulan Syawwal, shaum 10 pertama bulan Dzulhijjah, dan shaum ‘Asyura-, bagi seorang yang memiliki hutang Ramadhan yang belum ia bayar?

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menjawab :

Yang wajib bagi seorang yang memiliki hutang qadha` Ramadhan untuk mendahulukan qadha` sebelum ia melakukan shaum Nafilah. Karena ibadah wajib lebih penting daripada ibadah nafilah, menurut pendapat yang paling benar di antara berbagai pendapat para ‘ulama.

[Majmû’ Fatâwâ wa Maqâlât Mutanawwi’ah XV/394-395, fatwa no. 152 ]

===

Hukum Bergembira atau Bersedih Pada Hari ‘Asyura

Apakah boleh menampakkan kegembiraan, atau sebaliknya menampakkan kesedihan pada hari ‘Asyura?

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab :

“Adapun hari ‘Asyura`, sesungguhnya Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ditanya tentang shaum pada hari itu, maka beliau menjawab : “Menghapuskan dosa setahun yang telah lewat.” Yakni tahun sebelumnya. Tidak ada pada hari tersebut sedikitpun syi’ar-syi’ar hari perayaan (’Id). Sebagaimana pada hari tersebut tidak ada sedikitpun syi’ar-syi’ar hari perayaan (’Id), maka juga tidak ada pada hari tersebut sedikitpun syi’ar-syi’ar kesedihan. Maka menampakkan kesedihan atau kegembiraan, keduanya sama-sama menyelisihi sunnah. Tidak ada riwayat dari Nabi shalallahu’alaihi wa sallam tentang hari ‘Asyura tersebut kecuali melakukan shaum, di samping juga beliau shalallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bershaum juga sehari sebelumnya, atau sehari setelahnya agar kita berbeda dengan Yahudi yang mereka biasa bershaum pada hari itu saja.”

[Majmu’ Fatawa Ibni ‘Utsaimin II/231]

(Sumber http://www.assalafy.org/mahad/?p=295)

Read Full Post »

Untuk saat-saat ini jemaah calon haji yang berziarah ke makam Rasulullah dapat melihatnya langsung karena kisi-kisi yang menutupinya dibuka oleh aparat yang menjaga makam nabi itu. Selain makam Rasullullah juga bisa pula dilihat makam Abu Bakar Ass-siddiq dan Umar Bin Khottab yang berada di sisi makam nabi.

Alamsyah Hanafiah, jemaah Indonesia yang berkesmpatan melihat langsung makam pembawa ajaran Islam tersebut menandaskan, dengan melihat langsung makam Rasulullah semakin mendekatkan secara psikologis antara nabi dan umatnya.

Makam tersebut lanjut Alamsyah menjadi bukti konkrit bagi dirinya akan kebenaran nabi dan ajaran yang dibawanya. Karena selama ini yang dia dengar hanyalah cerita dari masa lalu. Dengan melihat langsung makam nabi, ada gambaran baginya tentang sosok nabi tersebut sehingga menambah keyakinan tentang ajaran yang dibawanya.

Makam rasululloh ini, terletak dibagian sebelah kiri masjid, dan dahulunya merupakan kamar pribadi Rasulullah SAW dan isterinya. Rasulullah SAW dimakamkan di dalam kamar yang tetap dalam kondisinya seperti semula, sampai pada tahun 90 H, kamar tersebut dijadikan sebagai bagian dari masjid.

Kemudian di sekeliling makam yang itu dibangun tembok berbentuk segi lima pada masa Khalifah al Walid dari Dinasti Umayyah, agar tidak serupa dengan kabah yang berbentuk persegi empat, sehingga tidak dikhawatirkan untuk dijadikan sebagai qiblat shalat.
Orang pertama kali membuatkan penutup bagi makam itu adalah Abdullah ibn Abi al Haija, salah seorang pemimpin Dinasti Fathimiyah dari Mesir. Pada tahun 557 H, dibuatkan penutup dari logam yang ditanam disekitar Makam Nabi SAW, agar tidak terjadi pencurian atas jasad nabi. Tahun 668 H, dibangun kisi-kisi penutup disekitar makam, dan termasuk rumah. Fathimah , juga dimasukkan didalamnya. Kisi-kisi tersebut memiliki empat pintu, yang keadaannya tidak ada perubahan sampai saat ini. (MA Effendi, Depag)

Silahkan baca juga artikel bermanfaat di bawah ini:

2. Ziarah Ke Masjid Nabawi Wajibkah dalam Haji ?

3. Koreksi Seputar Amalan di Musim Haji

 

Read Full Post »

Masjidil Al Haram, masjid yang memiliki nilai tinggi bagi umat Muslim di seluruh dunia, khususnya karena keberadaan Ka’bah atau Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul ‘Atiq (Rumah Kemerdekaan) yang permulaannya dibangun para malaikat itu ada di dalamnya. Untuk itu berjuta-juta umat Muslim mendatangi Baitullah setiap musim Ibadah Haji di Makkah Al Mukarramah, Arab Saudi.

Saat ini, guna membuat nyaman para Tamu Allah dalam melakukan beribadah, khususnya pada musim haji, pemerintah Arab Saudi melakukan sejumlah perombakan Masjidil Haram dan proyek pembangunan di sekitar kota Makkah ini. Dari pantauan detikcom yang bergabung dengan Media Center Haji (MCH) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), sejak tiba di Makkah, 23 Oktober 2009 lalu sampai Jum’at (13/11/2009) melihat proyek pembangunan yang terus dilakukan selama 24 jam setip harinya.

Bahkan, ketika waktu salat pun, bunyi traktor dan becho menghancurkan batu-batu gunung terus berbunyi. Pemolesan untuk sentuhan akhir bangunan di areal Masjidil Haram pun terus dilakukan. Namun, semua itu tidak membuat buyar konsentrasi ratusan, bahkan jutaan jamaah calon haji yang datang ke Masjidil Haram.

Bagi jamaah calon haji yang baru pertama kali datang ke kota suci ini mungkin hanya bisa melihat begitu luas dan eksotisnya Masjidil Haram dan bangunan mewah nan megah di depannya. Tapi bagi jamaah yang sudah berulang kali melakukan ibadah Haji, mungkin merasa ada yang kehilangan.

Bila 2 tahun lalu jamaah calon haji bisa melihat hiruk pikuknya pusat perdagangan di Jalan Al Gudaria yang berada di antara Kampung Qararah dan Suq ul-Lail, yang jaraknya 50 meter dari Masjidil Haram. Di jalan itulah dulu ada sebuah pasar tradisinal yang disebut Pasar Seng sepanjang 300 meter.

Pasar Seng yang dulunya selalu menjadi tempat favorit jamaah Indonesia berbelanja, saat ini menjadi tempat terbuka dan tinggal kenangan. Namun belum terlihat ada bangunan. Hanya puluhan kios yang memberikan layanan potong rambut masih berdiri berjejer, namun sifatnya tidak permanen.

Bangunan ini setiap saat bisa digusur. Tidak ada lagi toko yang menjajakan tasbih, tas, pakaian, jam, dan barang elektronik seperti di masa lalu, hanya beberapa bagalah (warung) yang menjajakan minuman yang masih berdiri dengan bangunan yang tidak permanen. Toko yang dulu sangat meriah kini mundur ke belakang.

Kenangan satu-satunya yang tersisa, Maulid Nabi, sebuah bangunan yang dulunya merupakan rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Saat ini bangunan ini dijadikan perpustakaan dan selalu terkunci rapat dan dijaga askar. “Itu memang jarang dibuka, karena dikuatirkan terlalu dilebih-lebihkan oleh jamaah,” ujar seorang mukimin yang ditemui.

Bukit Batu pun Dirobohkan

Selain itu, sejumlah bukit batu di sekitar depan Masjidil Haram juga menghilang. Salah satu di antaranya Jabal (bukit) Abu Qubais. Saat ini Jabal Abu Qubais, yang letaknya di muka pintu Babusalam Masjidil Haram itu, hilang berganti bangunan Istana Raja Saudi yang tinggi dan megah. Istana ini juga berguna bagi para pemimpin atau tamu negara yang akan beribadah di Makkah.

Pada awal pembangunan di bukit ini ditentang sebagian kalangan umat Muslim. Pasalnya, banyak peristiwa bersejarah yang berkaita dengan Jabal Abu Qubais ini. Mulai dipercayainya kebedaraan Makam Siti Hawa, tapi ini diragukan, karena justru banyak jamaah yang menziarahi makamnya di Jeddah.

Sebelum dibongkar dan dibangun Istana Raja, di kawasan bukit ini dulunya merupakan perkampungan, yang banyk dihuni Syeikh (Ulama) dan sejumlah pelajar yang ingin mendalami agam. “Semua sudah hilang. Banyak Syeikh-Syeikh yang pindah ke pinggiran kota Makkah. Ada yang ke Misfalah, Kholidiyah dan Aziziyah,” ungkap Iqbal, seorang mukimin asal Indonesia.

Jabal Abu Qubais yang dulunya dikenal juga dengan sebutan Jabal al Amin (bukit kepercayaan). Karena, Allah SWT telah menyelamatkan batu atau Hajar Aswad ketika topan dan banjir bah dasyat di zaman Nabi Nuh AS. Hajar Aswad kembali ditemukan oleh Nabi Ibrahim AS atas pertolongan Malaikat Jibril, ketika akan membangun Baitullah yang hancur.

Bahkan, nama Jabal Abu Qubais ini disebut-sebut dalam sebagian Kitab Tafsir Al Quran, seperti Tafsir Al Jalalain dan Tafsir Al Qurthubi. Dalam tafsir ini disebutkan firman Allah SWT, “Dan serukanlah umat manusia untuk mengerjakan ibadah Haji, niscaya mereka akan datang ke rumah Tuhanmu dengan berjalan kaki, dan dengan menunggang berjenis-jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan (dan ceruk rantau) yang jauh,” (Surat Al Hajj, ayat 25).

Tafsir itu yang juga meriwayatkan tentang peristiwa itu dari Sayyidina Ibnu ‘Abbas RA dan Sayyidina Ibnu Jubair RA. Diceritakan setelah Nabi Ibrahim menyelesaikan perbaikan dan pembangunan Baitullah, maka Allah SWT berfirman kepadanya tentang perintah haji. Nabi Ibrahim lalu menaiki Jabal Abu Qubais  dan berseru, “Wahai manusia! Bahawasanya Allah telah memerintahkan kamu untuk menunaikan haji ke Baitullah ini, untuk diganjari kamu dengan haji tersebut akan syurga dan diselamatkan kamu daripada azab neraka, maka berhajilah kamu.”

Riwayat lainnya, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW memperlihatkan mujizatnya dari Allah SWT yang membelah bulan menjadi dua bagian. Kejadian itu dipertunjukan kepada kaum musyriki Makkah. Mereka baru percaya ketika bulan itu benar-benar terbelah dua, satu bagian di atas Jabal Abu Qubais dan satunya lagi di Jabal Qiiqa atau Hindi.

Bila pada tahun-tahun sebelum pembangunan di kawasan ini, para jamaah calon haji sering menaiki Jabal Abu Qubais hanya untuk mengenang peristiwa Nabi Ibrahim AS tersebut. Bahkan, kadang-kadang para jamaah sering bernazar untuk memanggil sanak keluarganya supaya bisa berhaji. Tempat ini sebagain dipapas selain untuk Istana Raja juga untuk pelataran Masjidil Haram.

Selain Jabal Abu Qubais, bukit lainnya yang dikorbankan untuk proyek pembangunan ini adalah Jabal Syamiya yang terletak di sisi utara Masjidil Haram. Saat ini terlihat sejumlah bangunan dirobohkan dan meruntuhkan bebatuan gunung, digali dan dipancangkan beton-beton pondasi.

Begitu juga di Jabal Omar yang terletak sebelah barat daya Masjidil Haram juga segera dirobohkan. Di lokasi ini akan dibangun komplek perumahan dan hotel serta pusat belanja. Selain itu, tempat ini juga akan dibangun tempat perluasan tempat salat yang mampu menampung 120.000 orang. Di bagian tenggara Masjidil Haram, di sekitar Rumah Sakit Ajyad, segera dibangun rumah sakit modern dan pusat kesehatan yang dilengkapi fasilitas gawat darurat.

Menurut sejumlah mukimin yang tinggal di Makah, di luar musim haji, gedung dan perhotelan yang besar diruntuhkan menggunakan dinamit. Dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi, gedung-gedung itu diruntuhkan dalam hitungan menit tanpa menimbulkan kerusakan pada lingkungan.

Yang menarik dari proyek-proyek pembangunan itu, tidak sedikit pun debu berterbangan, apalagi masuk ke Masjidil Haram sampai mengganggu jamaah. Karena dalam pegerjaan penghancuran tersebut, para pekerja selalu menyemprotkn air ke bebatuan dan pasir.

Kemungkinan hasil pembangunan baru di kota Makkah ini baru bisa dinikmati pada musim haji berikutnya atau lima tahun ke depan. Proyek besar-besaran oleh pemerintah Arab Saudi yang menelan puluhan miliar Riyal Saudi ini untuk kenyamanan jamaah calon haji. (zal/djo)

Read Full Post »

Older Posts »