Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Allah’

Kasih Sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap HambaNya

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan diwajibkan bagi orang yang mampu. Ibadah ini dikaitkan dengan kemampuan karena haji merupakan sebuah perjalanan ibadah yang butuh pengorbanan besar berupa kemampuan materi dan kekuatan fisik. Bila sebuah ibadah dikaitkan langsung dengan kemampuan, berarti menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam meletakkan ibadah tersebut. Orang yang beriman akan menerima ketentuan ibadah tersebut tanpa berat hati. Karena mereka mengetahui bahwa tidak ada satupun bentuk syariat yang diletakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan maslahatnya kembali bagi hamba. Tidak terkait sedikitpun dengan kebutuhan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap mereka. Di sisi lain, dikaitkannya ibadah haji ini dengan kemampuan hamba menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tinggi terhadap mereka. Semuanya ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan di dalam firman-Nya:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

مَا يُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ

“Allah tidak menginginkan bagi kalian sesuatu yang memberatkan kalian.” (Al-Ma`idah: 6)

يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menginginkan kemudahan buat kalian dan tidak menginginkan kesulitan.” (Al-Baqarah: 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Allah tidak menjadikan atas kalian dalam agama ini kesukaran.” (Al-Hajj: 78)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا. فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ. ثُمَّ قَالَ: ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami, beliau berkata: “Wahai sekalian manusia, sungguh Allah telah mewajibkan bagi kalian haji maka berhajilah kalian!” Seseorang berkata: “Apakah setiap tahun, ya Rasulullah?” Beliau terdiam sehingga orang tersebut mengulangi ucapannya tiga kali. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau aku katakan ya, niscaya akan wajib bagi kalian dan kalian tidak akan sanggup.” Kemudian beliau berkata: “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang sebelum kalian telah binasa karena mereka banyak bertanya yang tidak diperlukan dan menyelisihi nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian maka lakukanlah sesuai dengan kesanggupan kalian. Dan bila aku melarang kalian dari sesuatu maka tinggalkanlah.” [1]
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِيْنُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama ini mudah dan tidak ada seorangpun yang memberatkan diri padanya melainkan dia tidak akan sanggup. Berusahalah untuk tepat, mendekatlah, dan bergembiralah. Dan gunakanwaktu pagi dan petang serta sebagian dari waktu malam.” [2]
Ibnul Munayyir berkata: “Di dalam hadits ini terdapat salah satu tanda kenabian. Dan kita telah menyaksikan, juga telah disaksikan pula oleh orang-orang sebelum kita, bahwa setiap orang yang berdalam-dalam menyelami agama akan tidak sanggup. Dan bukan berarti tidak boleh mencari yang lebih sempurna dalam ibadah, karena ini termasuk perkara yang terpuji. Yang dilarang adalah berlebih-lebihan yang akan menyebabkan kebosanan, atau berlebih-lebihan dalam menjalankan amalan sunnah sehingga meninggalkan yang lebih utama, atau mengeluarkan kewajiban dari waktunya, seperti seseorang yang semalam suntuk untuk qiyamul lail sehingga dia terlalaikan dari Shalat Subuh secara berjamaah atau sampai keluar dari waktu yang dipilih atau sampai terbit matahari yang akhirnya keluar dari waktu yang diwajibkan.” (Lihat Fathul Bari, 1/118)

Sikap Terpuji Orang yang Beriman
Orang berimanlah yang paling bergembira dengan semua bentuk ibadah yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Merekalah yang memiliki kesiapan untuk menjalankannya. Mereka juga memiliki keberanian untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tetap tegar dan bersemangat, sekalipun anjuran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya itu dianggap kecil dan sepele oleh kebanyakan orang. Sikap inilah yang telah digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُوْلُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman bila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menghukumi di antara mereka, mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami taat’.” (An-Nur: 51)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab: 36)

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka tidak akan beriman sehingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam apa yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapatkan rasa berat pada diri-diri mereka (untuk menerima) apa yang kamu putuskan dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya.” (An-Nisa`: 65)

Bingkisan Berharga bagi para Hujjaj (Jamaah Haji)
Salah satu perintah syariat adalah menunaikan ibadah haji. Pelaksanaan ibadah ini memiliki amalan-amalan yang berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Amalan yang sangat membutuhkan keikhlasan niat yang tinggi, kejujuran iman, ketabahan jiwa dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sempurna, kekuatan material dan spiritual. Hal ini terbukti dari awal perintah memakai pakaian ihram sampai akhir pelaksanaan ibadah tersebut.

Ada beberapa bingkisan berharga untuk saudaraku yang hendak menunaikan ibadah haji.
Pertama, Memperbaiki niat dan menjaga keikhlasan dalam pelaksanaan ibadah haji.
Keikhlasan adalah sebuah amalan hati yang sangat erat hubungannya dengan kemurniaan aqidah dan tauhid seseorang. Ketauhidan yang benar akan membuahkan keikhlasan yang murni dan hakiki. Keikhlasan yang murni merupakan perwujudan ketulusan persaksian hamba terhadap kalimat Laa ilaha illallah, tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang harus membangun semua ibadahnya di atas aqidah yang benar. Karena aqidah yang benar merupakan penentu diterimanya amalan seseorang. Berdasarkan hal inilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan aqidah dan tauhid sebagai rukun Islam pertama melalui lisan Rasul-Nya. Dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam itu dibangun di atas lima dasar yaitu mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa pada bulan Ramadhan.” [3]
Jibril berkata dalam hadits ‘Umar radhiyallahu ‘anhu:

يَا مُحَمَّدُ، أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اْلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

“Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam!” Beliau menjawab: “Engkau mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa dan haji ke Baitullah bila engkau mampu menempuh perjalanan ke sana.” [4]

Bila aqidah seseorang menyelisihi aqidah yang diajarkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah, tentu akan merusak niatnya. Atau niatnya akan tercampuri dengan niatan yang lain. Bahkan tidak menutup kemungkinan, dia berangkat menunaikan ibadah haji dibarengi dengan niat-niat yang mengandung kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti niat meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di makam beliau, atau di sisi kuburan-kuburan yang menurut penilaian banyak pihak bahwa tempat tersebut berbarakah dan keramat. Atau berniat meminta keberkahan hidup, kekayaan, naik pangkat, laris dalam berniaga, lulus dalam ujian, meminta harta benda, dan segala yang berbau keuntungan duniawi, kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Membangun ibadah haji di atas kemurnian aqidah akan berbuah nilai positif di dunia setelah melakukan ibadah tersebut, dan di akhirat karena mendapatkan haji mabrur yang diterima. Berbeda dengan orang yang membangun ibadah hajinya di atas kerusakan aqidah, seperti:
a. Aqidah Sufiyyah yang pada ujungnya adalah kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana ucapan seorang pentolan Sufiyyah, Ibnu ‘Arabi:
Ar-Rabb adalah hamba dan hamba adalah Rabb
Aduhai kalau demikian siapa yang akan melaksanakan beban (syariat)
Dalam kesempatan lain dia mengucapkan:
Tiadalah anjing dan babi melainkan tuhan kita
b. Aqidah Syi’ah dengan berbagai sempalannya yang mengaku memuliakan ahlu bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka jauh dari hal itu dan justru mencaci maki para shahabat beliau.
c. Aqidah Jahmiyyah yang mengingkari nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
d. Aqidah Mu’tazilah yang menuhankan akal dan mengingkari sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
e. Aqidah Asy’ariyyah yang menafikan sebahagian sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
dan berbagai bentuk aqidah rusak lainnya.

Niat merupakan asas pertama dan utama diterimanya amal. Sehingga bila niat telah rusak maka akan merusak yang lain. Yang paling berbahaya sebagai perusak niat adalah riya` dan sum’ah, yaitu memperdengarkan amalan-amalan atau perjalanan yang penuh kenangan dan peristiwa aneh dengan tujuan mendapatkan pujian. Betapa banyak orang yang tidak mendapatkan haji yang mabrur karena memiliki niat yang rusak. Misalnya ingin menjadi orang terhormat karena bergelar haji di depan namanya, disanjung, dipuji, disebut pak haji, dan sebagainya.
Kewajiban mengikhlaskan niat ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan baginya agama.” (Al-Bayyinah: 5)

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amalan itu sah dengan niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrah untuk dunia yang ingin diperoleh atau wanita yang ingin dinikahinya maka dia telah berhijrah kepada apa yang dia telah niatkan.” [5]
Setiap amalan tergantung niatnya. Dan niat tersebut kembali kepada keikhlasan, yaitu niat yang satu untuk Dzat yang satu, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Fathul Bari, 1/14)

Hadits di atas menjelaskan tentang kedudukan niat sebagai landasan diterimanya amal seseorang. Oleh karena itu, banyak komentar para ulama tentang kedudukan hadits niat ini. Contohnya Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Hadits ini masuk dalam 70 bab dalam bidang ilmu.”
Abu Abdillah (Al-Imam Ahmad) mengatakan: “Tidak ada hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih padat, lebih kaya, dan lebih banyak faedahnya daripada hadits ini (yakni hadits tentang niat).”

Ibnu Mahdi mengatakan: “Hadits ini masuk pada 30 bab dalam bidang ilmu.”
Beliau rahimahullah juga mengatakan: “Sepantasnya hadits ini diletakkan dalam setiap bab ilmu.” (Fathul Bari, 1/13)

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا

“Allah telah mensyariatkan bagi kalian agama yang telah Dia wasiatkan kepada Nuh.” (Asy-Syura: 13)
Abul ‘Aliyah rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewasiatkan kepada mereka agar ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.” (Fathul Bari, 1/13)
Ibnu Rajab menjelaskan: “Setiap amalan yang tidak diniatkan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala maka amalan tersebut adalah batil, tidak memiliki buah di dunia dan di akhirat.” (Jami’ Al-’Ulum Wal Hikam hal. 11)

Kedua, Mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap pelaksanaan ibadah haji
Mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pelaksanaan ibadah haji merupakan syarat kedua diterimanya amalan haji seseorang setelah syarat ikhlas. Mulai awal pelaksanaan haji sampai akhirnya, tidak diperbolehkan mengada-adakan sesuatu sedikitpun. Bila ada amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ -وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ- مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan kami yang tidak ada ajarannya dari kami maka amalan tersebut tertolak.”
Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” [6]
Sekecil dan seringan apapun, amalan ibadah haji tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini, segenap kaum muslimin tidak boleh berpedoman dengan pengajaran dan bimbingan orang tua dahulu, atau guru-guru kita, namun harus berpedoman dengan dalil-dalil.
Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan: “Semua amalan yang dilakukan harus di bawah ketentuan hukum-hukum syariat. Hukum syariat menjadi hakim terhadap semua amalan, baik dalam hal perintah maupun larangan. Sehingga barangsiapa yang amalannya berjalan di bawah ketentuan syariat dan sesuai dengannya maka diterima. Dan bila keluar dari hukum syariat maka amalan tersebut tertolak.” (Jami’ Al-’Ulum Wal Hikam hal. 83)

Haji Mabrur Diraih dengan Kedua Syarat di Atas
Dengan kedua syarat di atas, seseorang akan bisa meraih keutamaan haji mabrur yaitu haji yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, menurut salah satu pendapat ulama. Tanda diterimanya ibadah haji adalah dia pulang dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya dan tidak kembali kepada perbuatan maksiat. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah haji yang tidak dijangkiti penyakit riya`. Dan ada pula yang berpendapat maksudnya yaitu haji yang tidak diiringi kemaksiatan setelahnya.
Imam An-Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat ini. Dan yang paling masyhur adalah pendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dengan kemaksiatan. (Syarh Muslim, 5/119)

Para hujjaj sangat mengidamkan keutamaan ini. Namun di antara mereka ada yang tidak memerhatikan kiat yang akan mengantarkan dirinya untuk mendapatkannya. Bila seseorang tidak membangun ibadah hajinya di atas kedua landasan di atas, maka dia tidak akan mendapatkannya. Hal itu merupakan sesuatu yang pasti berdasarkan dalil-dalil di atas. Tentang haji mabrur, telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak sabdanya. Di antaranya:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: إِيْمَانٌ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang amalan yang paling utama lalu beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan kepada beliau: “Kemudian apa?” Beliau berkata: “Berjihad di jalan Allah.” Ditanyakan lagi kepada beliau: “Kemudian apa?” Beliau berkata: “Haji yang mabrur.” [7]
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ؟ قَالَ: لاَ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

“Ya Rasulullah, kami berpendapat bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Tidakkah kami ikut berjihad?” Beliau berkata: “Tidak. Akan tetapi jihad yang paling utama (bagi wanita) adalah haji mabrur.”
Dalam riwayat Al-Imam An-Nasa`i disebutkan dengan lafadz:

قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَلاَ نَخْرُجُ فَنُجَاهِدَ مَعَكَ فَإِنِّي لاَ أَرَى عَمَلاً فِي الْقُرْآنِ أَفْضَلَ مِنَ الْجِهَادِ. قَالَ: لاَ، وَلَكِنَّ أَحْسَنَ الْجِهَادِ وَأَجْمَلَهُ حَجُّ الْبَيْتِ حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

Aku berkata: “Ya Rasulullah, tidakkah kami keluar ikut berjihad bersamamu karena aku tidak melihat di dalam Al-Qur`an ada amalan yang paling utama daripada jihad?” Beliau bersabda: “Tidak. Akan tetapi sebaik-baik jihad dan yang paling indah adalah haji ke Baitullah, yaitu haji yang mabrur.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa`i no. 2628)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Umrah yang satu ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” [8]
Demikianlah beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan haji yang mabrur dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur melainkan surga. Al-Imam An-Nawawi menjelaskan: “Pelaku haji tersebut tidak hanya terhapus dosa-dosanya, bahkan dia mesti masuk ke dalam surga.” (Syarh Muslim, 5/119)

Demikianlah kedudukan dua syarat diterimanya setiap amalan hamba, yaitu ikhlas dan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga yang dituntut dari seorang hamba dalam ibadahnya adalah bagaimana dia memperbaiki ibadahnya, bukan hanya bagaimana memperbanyaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalannya.” (Al-Mulk: 2)
Ibnu Katsir menjelaskan: “Makna ayat ini adalah Dialah yang telah menjadikan makhluk dari tidak ada menjadi ada, untuk menguji mereka siapa yang paling baik amalnya.” Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/414)

Ketiga, Iman yang benar kepada Allah
Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu rukun iman yang enam dan merupakan intisari keimanan terhadap rukun iman yang lain. Bila keimanan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak benar, maka akan menjadi barometer kepincangan imannya terhadap rukun iman yang lain.

Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup banyak perkara, di antaranya:
1. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang berhak untuk disembah, dan segala bentuk penyembahan serta pengagungan terhadap selain-Nya adalah batil.

ذلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ

“Demikianlah bahwa Allah adalah Al-Haq (untuk disembah) dan apa yang mereka sembah selainnya adalah batil dan Allah Maha Kaya dan Maha Besar.” (Al-Hajj: 62)
Pengagungan terhadap selain Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak bentuknya. Di antaranya mengagungkan kuburan-kuburan tertentu, orang-orang tertentu, tempat-tempat yang dikeramatkan, pohon-pohon, batu-batu, jimat-jimat, jin-jin, dan sebagainya. Semuanya akan merusak keimanan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan mengarah kepada tercabutnya keimanan dari diri mereka.

2. Mengimani segala apa yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya berupa pelaksanaan rukun Islam yang lima secara lahiriah dan kewajiban lainnya yang telah dibebankan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada setiap hamba. Di antara lima rukun Islam, yang paling besar dan paling utama adalah persaksian terhadap dua kalimat syahadat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah.” (Muhammad: 19)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Dan Allah telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia dan para malaikat serta orang-orang yang berilmu ikut mempersaksikan dengan penuh keadilan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Dia Maha Mulia dan Maha Bijaksana.” (Ali ‘Imran: 18)

3. Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan dan mengatur segala urusan alam ini dan memantau mereka dengan ilmu serta kebijaksanaan. Dia yang memiliki dunia dan akhirat. Tidak ada pencipta selain-Nya dan tidak ada yang sanggup mengatur urusan makhluk ini kecuali Dia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para nabi dan menurunkan kitab-kitab untuk kemaslahatan hamba dan untuk menyeru mereka kepada jalan menuju keberhasilan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Dan termasuk tanda-tanda kebesaran Allah adalah adanya malam dan siang, matahari dan bulan. (Oleh karena itu) janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, namun sujudlah kalian kepada Allah yang telah menciptakannya jika kalian hanya beribadah kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيْثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ

“Sesungguhnya Allah telah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam hari kemudian Dia beristiwa` di atas ‘Arsy. Allah menutup siang dengan malam yang terjadi dengan cepat (dan Dialah yang telah menciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang yang semuanya tunduk di bawah perintah-Nya, ketahuilah hak Allah untuk mencipta dan memerintah, dan Maha suci Allah Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54)

4. Mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang baik dan tinggi, yang dijelaskan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, tanpa memalingkan dan menyelewengkan maknanya sedikitpun dari apa yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, serta tanpa menyerupakan-Nya dengan sifat-sifat makhluk.

وَلِلّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik maka berdoalah kalian dengannya dan biarkanlah orang-orang yang menyeleweng dari nama-nama Allah dan mereka pasti akan dibalas atas apa yang telah mereka perbuat.” (Al-A’raf: 180)

وَلَهُ الْمَثَلُ اْلأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Dan bagi Allah perumpamaan yang tinggi di langit-langit dan di bumi, dan Dia Maha Mulia dan Maha Bijaksana.” (Ar-Rum: 27)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Larangan berbicara tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ilmu telah diperingatkan oleh-Nya di dalam firman-Nya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً

“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (Al-Isra`: 36)

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُوْلُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Katakan: ‘Sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan kekejian yang nampak maupun yang tidak nampak, mengharamkan dosa, perbuatan dzalim tanpa alasan yang benar dan mengharamkan kalian menyekutu-kan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah Allah turunkan keterangan tentangnya, dan mengharamkan berkata tentang Allah tanpa dasar ilmu.” (Al-A’raf: 33)
Demikianlah beberapa kiat untuk memperbaiki keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar semua amal yang kita kerjakan dibangun di atas keimanan kepada-Nya. Bila ibadah haji seseorang dibangun di atas keimanan kepada-Nya tentu semua niatan akan diarahkan kepada-Nya. Dia tentunya tidak akan keluar dari tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dalam pelaksanaan haji tersebut, sehingga bisa mendapatkan haji mabrur di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah buah keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu a‘lam.

Footnote :

1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 6744 dan Al-Imam Muslim no. 2380
2 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 38
3 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 7 dan Al-Imam Muslim no. 19, 20, 21, 22.
4 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 9
5 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 1 dan Al-Imam Muslim no. 3530
6 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 2499 dan Al-Muslim no. 3242
7 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 25
8 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Buhari no. 1650 dan Al-Imam Muslim no. 2403

Read Full Post »

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجِّ عَمِيْقٍ. لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيْمَةِ اْلأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيْرَ. ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (Al-Hajj: 27-29)

Penjelasan Mufradat Ayat

وَأَذِّنْ

Berasal dari kata Al-Adzan yang berarti mengumumkan. Maknanya adalah: Umumkan dan sampaikanlah kepada manusia bahwa: “Hendaklah kalian menunaikan ibadah haji ke Baitullah Al-Haram, wahai sekalian manusia.” Al-Hasan bin Abil Hasan dan Ibnu Muhaishin membacanya dengan lafadz وَآذِنْ (wa aadzin). (Lihat Fathul Qadir karya Al-Imam Asy-Syaukani dan Tafsir Al-Qurthubi dalam penjelasan ayat ini)

رِجَالاً

Merupakan bentuk jamak dari raajil رَاجِلٌ, yang berarti orang-orang yang berjalan dan bukan jamak dari rajul رَجُلٌ (seorang laki-laki). Ibnu Abi Ishaq membacanya: rujaalan رُجَالاً dengan men-dhammah-kan huruf ra’. Sedangkan Mujahid membacanya: rujaalaa رُجَالَى. Didahulukannya penyebutan orang berjalan daripada orang yang berkendaraan disebabkan rasa letih yang dirasakan orang yang berjalan lebih besar dibanding yang berkendaraan. Demikian yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah dan Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah.

ضَامِرٍ

Maknanya unta kurus yang letih disebabkan safar.

فَجِّ عَمِيْقٍ

Al-Faj bermakna jalan yang luas, jamaknya fijaaj. ‘Amiq bermakna jauh.

مَنَافِعَ لَهُمْ

“Manfaat bagi mereka.” Ada yang mengatakan bahwa manfaat di sini mencakup manfaat dunia dan akhirat. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah manasik. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ada pula yang mengatakan bahwa maknanya perdagangan.

بَهِيْمَةِ اْلأَنْعَامِ

Yang dimaksud adalah hewan ternak berupa unta, sapi, dan kambing.

الْبَائِسَ الْفَقِيْرَ

Yang sangat miskin. Disebutkan kata “faqir” setelahnya dengan tujuan memperjelas.

تَفَثَهُمْ

Asal makna tafats adalah setiap kotoran yang menyertai manusia. Maknanya adalah hendaklah mereka menghilangkan kotoran berupa panjangnya rambut dan kuku.

نُذُوْرَهُمْ

Yakni, mereka menunaikan nadzar mereka yang tidak mengandung unsur kemaksiatan. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud nudzur dalam ayat ini adalah amalan-amalan haji.

وَلْيَطَّوَّفُوا

“Hendaklah mereka thawaf.” Yang dimaksud thawaf di sini adalah Thawaf Ifadhah. Sebab thawaf dalam amalan haji ada tiga macam: Thawaf Qudum, Thawaf Ifadhah, dan Thawaf Wada’.

الْعَتِيْقِ

‘Atiq artinya tua, dikuatkan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ …

“Sesungguhnya rumah yang pertama…” (Ali ‘Imran: 96)
Adapula yang mengatakan ‘atiq artinya yang dibebaskan, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskan rumah ini dari kekuasaan orang-orang yang sombong. Adapula yang mengatakan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskan orang-orang yang berdosa dari siksaan. Adapula yang mengatakan ‘atiq, artinya yang mulia.

Penjelasan Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
“Sampaikan kepada manusia untuk mengerjakan ibadah haji. Umumkanlah, ajaklah manusia kepadanya. Sampaikan kepada yang jauh dan yang dekat tentang kewajiban dan keutamaannya. Sebab jika engkau mengajak mereka, maka mereka mendatangimu dalam keadaan menunaikan haji dan umrah, dengan berjalan di atas kaki mereka karena perasaan rindu, dan di atas unta yang melintasi padang pasir dan sahara serta meneruskan perjalanan hingga menuju tempat yang paling mulia, dari setiap tempat yang jauh.
Hal ini telah dilakukan oleh Al-Khalil (Nabi Ibrahim) ‘alaihissalam, kemudian oleh anak keturunannya yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya mengajak manusia untuk menunaikan haji di rumah ini. Keduanya menampakkan dan mengulanginya. Dan telah tercapai apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan kepadanya. Manusia mendatanginya dengan berjalan kaki dan berkendaraan dari belahan timur dan barat bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu menyebutkan beberapa faedah menziarahi Baitullah Al-Haram, dalam rangka mendorong pengamalannya. Yaitu agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka, dengan mendapatkan berbagai manfaat dari sisi agama di Baitullah berupa ibadah yang mulia. Ibadah yang tidak didapatkan kecuali di tempat tersebut. Demikian pula berbagai manfaat duniawi berupa mencari penghasilan dan didapatnya berbagai keuntungan duniawi. Ini semua merupakan perkara yang dapat disaksikan. Semua mengetahui hal ini.

Dan agar mereka menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari-hari yang tertentu atas apa yang (Allah Subhanahu wa Ta’ala) telah rizkikan kepada mereka berupa hewan ternak. Ini merupakan manfaat agama dan duniawi. Maknanya, agar mereka menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyembelih sembelihan kurban sebagai tanda syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas rizki yang Dia limpahkan dan mudahkan untuk mereka.

Jika kalian telah menyembelihnya, maka makanlah darinya dan berilah makan kepada orang yang sangat miskin. Kemudian hendaknya mereka menyelesaikan manasik haji dan menghilangkan kotoran serta gangguan yang melekat pada diri mereka selama ihram. Hendaklah mereka juga menunaikan nadzar yang mereka wajibkan atas diri mereka berupa haji, umrah, dan sembelihan.
Hendaklah mereka thawaf di rumah tua (Ka’bah), masjid yang paling mulia secara mutlak, yang diselamatkan dari kekuasaan orang-orang yang angkuh. Ini adalah perintah untuk thawaf secara khusus setelah disebutkan perintah untuk bermanasik haji secara umum, karena keutamaan (thawaf) tersebut, kemuliaannya, dan karena thawaf adalah tujuan. Sedangkan yang sebelumnya adalah sarana menuju (thawaf) tersebut. Mungkin juga –wallahu a’lam– karena faedah lain, yaitu bahwa thawaf disyariatkan pada setiap waktu, baik mengikuti amalan haji ataupun dilakukan secara tersendiri.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 537)

Hukum Menunaikan Ibadah Haji
Di dalam ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia ini dijelaskan adanya perintah untuk mengumumkan kepada seluruh manusia agar mereka menunaikan ibadah haji ke Baitullah Al-Haram, sebagai pelanjut dari syariat yang telah diajarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Ibrahim Khalilullah ‘alaihissalam. Sebagaimana dalam firman-Nya:

قُلْ صَدَقَ اللهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah: ‘Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Ali Imran: 95)
Oleh karena itu para ulama telah bersepakat tentang wajibnya berhaji sekali dalam seumur hidup, berdasarkan Al-Qur‘an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah dinukil ijma’ tersebut oleh para ulama, di antaranya Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (3/159) dan An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (7/8).
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami lalu bersabda: “Wahai sekalian manusia, sungguh telah diwajibkan atas kalian haji, maka berhajilah!”
Maka seseorang berkata: “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Beliau terdiam sampai orang tersebut bertanya sebanyak tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menjawab: “Kalau aku menjawab ya, maka akan menjadi wajib (setiap tahun) dan niscaya kalian tidak mampu.” Lalu beliau bersabda:

ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلىَ أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

“Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian, sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena terlalu banyak bertanya dan menyelisihi para nabi mereka. Jika aku perintahkan kalian terhadap sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian, dan jika aku melarang kalian dari sesuatu maka tinggalkanlah.” (HR. Muslim, Kitab Al-Hajj Bab Fardhul Hajj Marratan fil ‘Umr, no. 2380)

Manfaat Ibadah Haji
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa di antara hikmah menunaikan ibadah haji adalah agar mereka memperoleh manfaat dari ibadah tersebut. Manfaat itu bersifat umum, meliputi manfaat agama maupun duniawi. Oleh karenanya, telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata dalam menafsirkan manfaat dalam ayat ini: “Berbagai manfaat dunia dan akhirat. Adapun manfaat akhirat adalah mendapat keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun manfaat dunia adalah apa yang mereka dapatkan berupa daging unta, sembelihan, dan perdagangan.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3/217)
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Kaum muslimin saat pertama kali berhaji, mereka dahulu berjual beli di Mina, ‘Arafah, di pasar Dzul Majaz dan pada musim haji. Maka merekapun takut berjual beli dalam keadaan mereka sedang berihram, hingga turunlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِنْ رَبِّكُمْ

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rizki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (Al-Baqarah: 198) [HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 1734]
Ini berkenaan dengan manfaat duniawi.
Adapun manfaat ukhrawi, barangsiapa yang menjalankannya dengan ikhlas dan mengharapkan ridha serta ampunan-Nya, maka ia mendapatkan pahala yang berlipat ganda dan dihapuskan dosa-dosanya.
Dalam riwayat Al-Imam Muslim dari hadits ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu ketika ia baru masuk Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak tahu bahwa Islam menghapuskan apa yang telah lalu (berupa dosa) dan bahwa hijrah menghapuskan apa yang telah lalu (berupa dosa) dan haji menghapuskan apa yang telah lalu (berupa dosa).” (HR. Muslim no. 121)
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu dia tidak berbuat keji dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali sebagaimana hari dia dilahirkan oleh ibunya (tanpa dosa).” (HR. Al-Bukhari no. 1521 dan Muslim no. 135)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

“Antara umrah yang satu menuju umrah yang berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur (yang diterima) tidak ada balasannya kecuali syurga.” (Muttafaqun alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Sehingga menunaikan ibadah haji merupakan kesempatan besar untuk berbekal dengan bekal akhirat, dengan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kembali kepada-Nya, menuju kepada ketaatan-Nya, dan bersegera menggapai keridhaan-Nya. Di sela-sela menunaikan amalan haji, seseorang hendaknya bersiap-siap untuk mendapatkan kesempatan yang banyak dalam menimba berbagai pelajaran yang bermanfaat dan ibrah yang memberi pengaruh. Juga berbagai faedah yang agung dan hasil yang mulia baik dalam aqidah, ibadah, dan akhlak. Dimulai dengan amalan haji yang pertama dikerjakan oleh seorang hamba ketika di miqat, hingga amalan yang terakhir yaitu Thawaf Wada’ sebanyak tujuh kali sebagai tanda perpisahan dengan Baitullah Al-Haram.
Haji benar-benar berkedudukan sebagai madrasah pendidikan iman yang agung, yang meluluskan orang-orang mukmin yang bertakwa. Sehingga dalam hajinya, mereka menyaksikan berbagai manfaat yang besar dan berbagai pelajaran yang berbeda-beda serta nasehat yang demikian memberi pengaruh, yang menghidupkan hati dan menguatkan iman. (Lihat Durus ‘Aqadiyyah Mustafadah minal Haj, tulisan Asy-Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, hal. 12-13)

Thawaf di Ka’bah sebagai Ibadah Mulia
Di antara kandungan ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada umat Islam agar mereka melaksanakan thawaf di Baitullah Ka’bah, sebagai rumah pertama yang diletakkan untuk manusia, di mana kaum muslimin berkumpul di tempat tersebut sebagai tanda berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian besarnya peranan thawaf dalam amalan haji tersebut, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan amalan pertama yang dilakukan seorang yang menunaikan ibadah haji ketika memasuki Masjidil Haram adalah thawaf. Demikian pula akhir amalan mereka diakhiri dengan Thawaf Wada’. Telah diriwayatkan dalam Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata:
“Sesungguhnya sesuatu yang paling pertama yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengannya ketika datang adalah berwudhu kemudian thawaf.”

Ini juga menunjukkan bahwa thawaf di Ka’bah merupakan ibadah yang mulia dan ketaatan yang agung, amalan yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga seseorang tidak diperbolehkan melakukan thawaf di suatu tempat (selain Ka’bah) dengan maksud bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Kaum muslimin telah bersepakat bahwa tidak disyariatkan thawaf kecuali di Al-Baitul Ma’mur (Ka’bah). Sehingga tidak boleh thawaf di batu besar Baitul Maqdis, tidak di kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak di kubah yang ada di bukit Arafah, dan tidak pula di tempat lainnya.” (Majmu’ Fatawa, 4/522)

Beliau rahimahullah juga berkata: “Di bumi ini, tidak ada sebuah tempat yang dibolehkan thawaf padanya seperti thawaf di Ka’bah. Barangsiapa berkeyakinan bahwa thawaf di tempat lainnya disyariatkan maka dia lebih jahat dari orang yang meyakini bolehnya shalat menghadap selain Ka’bah. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau shalat memimpin kaum muslimin selama 18 bulan menghadap ke Baitul Maqdis, yang menjadi kiblat kaum muslimin selama kurun waktu tersebut. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala pindahkan kiblat ke arah Ka’bah dan Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan Al-Qur`an tentang hal tersebut, sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Al-Baqarah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kaum muslimin shalat menghadap ke Ka’bah yang telah menjadi kiblat, dan itu adalah kiblat Ibrahim dan para nabi selainnya. Maka barangsiapa yang menjadikan shakhrah (batu besar di Baitul Maqdis) pada hari ini sebagai kiblat yang dia shalat menghadap ke arahnya, maka dia kafir murtad dan diminta bertaubat. Jika tidak mau maka ia dibunuh. Padahal dahulu batu itu berstatus sebagai kiblat. Lalu bagaimana dengan orang yang menjadikannya sebagai tempat thawaf seperti thawaf di Ka’bah? Padahal thawaf selain di Ka’bah tidak pernah disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali….” (Al-Fatawa, 27/10-11)

Oleh karena itu, perbuatan sebagian kaum muslimin yang jahil terhadap agamanya yang menjadikan sebagian tempat dan kuburan sebagai tempat meminta dan thawaf di sekelilingnya, merupakan kemungkaran yang nyata, dan orang yang memiliki kemampuan, wajib untuk menghilangkan kemungkaran tersebut.

Al-Imam An-Nawawi (salah seorang alim yang bermadzhab Syafi’i) rahimahullah berkata: “Tidak boleh thawaf di kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dibenci pula menempelkan punggung dan perut ke dinding kuburan. Hal ini disebutkan oleh Abu Abdillah Al-Hulaimi dan yang lainnya. Mereka berkata: ‘Bahkan dibenci menyentuhnya dengan tangan dan menciumnya. Bahkan termasuk adab (yang benar) adalah seseorang menjauh darinya sebagaimana ia menjauh darinya ketika masih hidup. Inilah yang benar yang disebutkan oleh para ulama dan mereka telah bersepakat atasnya. Janganlah tertipu dengan penyimpangan kebanyakan orang awam dan perbuatan mereka. Sebab yang boleh diikuti dan diamalkan hanyalah hadits-hadits yang shahih dan pendapat para ulama. Adapun amalan-amalan baru dari orang awam dan lainnya serta berbagai kejahilan mereka, tidaklah ditoleh. Disebutkan dalam Ash-Shahihain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan perkara baru dalam agama kita yang tidak ada asalnya darinya maka ia tertolak.”
Dalam riwayat Muslim disebutkan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka ia tertolak.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيْدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

“Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat ‘Id (berhari raya) dan bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih)
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata yang maknanya: “Ikutilah jalan-jalan hidayah dan tidak membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan-jalan kesesatan dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang binasa.”
Barangsiapa muncul dalam benaknya bahwa menyentuh kuburan tersebut dengan tangan dan selainnya lebih menghasilkan berkah, maka itu termasuk kebodohan dan kelalaiannya. Sebab berkah hanyalah didapatkan dalam perkara yang mencocoki syariat. Bagaimana mungkin dia mendapatkan keutamaan dalam perkara yang menyelisihi syariat?” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, hal. 157-158)
Wallahu a’lam.

(Ditulis Ustadz Askari bin Jamal Al-Bugisi. Sumber http://www.majalahsyariah.com/print.php?id_online=386)

Read Full Post »