Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘balai kesehatan haji’

Penyakit rutin bagi setiapjamaah haji antara lain adalah Nasofaring akut. hampir boleh dikata, semua jamaah haji mengalaminya. Ada seloroh begini: Yang tidak batuk saat haji khan cuma Onta saja..??. Ada-ada saja.

Berikut beritanya:

Mayoritas jemaah haji Indonesia terserang Nasofaringitis akut. Penyakit ini selalu menempati urutan pertama dari sepuluh besar jenis penyakit yang menyerang jemaah setiap musim haji beberapa tahun terakhir. Khusus tahun 2009, Nasofaringitis akut menyerang 38,21% jemaah haji yang melakukan kunjungan rawat jalan dan rawat inap pada Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), di Arab Saudi.

Ketua Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Dr. dr. Barita Sitompul, Sp.SJ, di Arab Saudi, Jumat (4/12) menjelaskan, puncak penyakit Nasofaringitis terjadi pada saat Armina. Hal ini disebabkan karena terjadi penumpukan jemaah dalam jumlah besar dari berbagai negara pada saat yang sama, sehingga menimbulkan kelelahan, yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Kondisi ini akan memudahkan terjadinya penularan virus dari orang ke orang melalui udara, makanan, air maupun media lain.

“Mencegah penularan virus Nasofaringitis dapat menggunakan masker yang dilembabkan dengan alkohol, memanfaatkan waktu seoptimal mungkin untuk istirahat, sebanyak mungkin minum air putih, termasuk membawa bekal air minum saat bepergian, memperbanyak makanan berserat (sayuran dan buah) dan sesering mungkin cuci tangan pakai sabun atau menggunakan tisu basah,” kata Barita. (Chu)

Advertisements

Read Full Post »

Warga yang belum memperoleh kesempatan menunaikan ibadah haji sampai kini tidak perlu kecewa, karena pemerintah Arab Saudi terus membangun prasarana dan melengkapi fasilitas peribadatan demi kelancaran dan kenyamanan jemaah yang akan menunaikan Rukun Islam kelima itu.

Mulai musim haji 1431H (2010), angkutan monorel yang menghubungkan Kota Suci Mekah dan lokasi peribadatan haji di Mina, Muzdalifah dan Mekah direncanakan sudah akan beroperasi, sehingga pemeritah Arab Saudi dan jemaah calon haji tidak akan dipusingkan lagi oleh kemacetan lalu-lintas yang terjadi sepanjang musim haji dari tahun ke tahun.

Bayangkan, untuk menempuh jarak enam kilometer dari Mina ke Masjidil Haram di Mekah saja, diperlukan waktu tiga sampai lima jam untuk menembus kemacetan lalu-lintas di jalan akses yang harus dilewati.

Pemerintah setempat bukan tidak berupaya mengatasi kemacetan lalu-lintas dengan membangun sejumlah terowongan (underpass) dan jembatan layang (flyover), tetapi pada saat tiga juta umat muslim tumplek berbarengan pada musim haji, memang hampir mustahil untuk menghindari hambatan ini.

Akibatnya, ratusan ribu jemaah usai melontar jamrah di Mina, lebih memilih berjalan kaki ketimbang naik kendaraan, ke Masjidil Haram untuk melakukan Tawaf dan Sai atau sebaliknya, menuju Mina seusai Tawaf dan Sai di kompleks Masjidil Haram.

Melontar Jamrah dan Tawaf (Mengitari Kabah tujuh kali) serta Sai (berjalan dan lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah) wajib hukumnya dalam ibadah haji, jika tidak dikerjakan, harus membayar dam atau denda berupa ternak kurban.

Pada tahun pertama (2010), menurut Wakil Menteri Urusan Perkotaan dan Pedesaan Habib Zein Al-Abidin, monorel direncanakan untuk mengangkut setengah juta orang selama pengoperasian antara enam sampai delapan jam sehari.

Kehadiran sistem angkutan monorel sekaligus juga akan menandai berakhirnya penggunaan sekitar 30.000 unit bus-bus dan kendaran-kendaraan kecil lain yang digunakan untuk layanan angkutan jemaah haji selama ini.

“Angkutan monorel akan menekan beban masalah lalu-lintas di lokasi-lokasi peribatahan haji dan mempercepat calon haji tiba di tujuan dan lebih nyaman,” tutur Habib Zein. Jika proJek ini dinilai berhasil, jaringan angkutan monorel akan dikembangkan terus di luar lolasi-lokasi peribadatan haji.

Studi Kelayakan juga sedang dilakukan untuk memperluas jaringan monorel ke stasiun dekat Masjidil Haram, Mekah yang menghubungkan kedua Kota Suci, Mekah dan Madinah ( berjarak sekitar 420 Km). Saat ini diperlukan waktu lima sampai tujuh jam berkendaraan bus untuk mencapai Mekah dari Madinah atau sebaliknya.

ProJek bernilai multi milyaran Riyal (tahap pertama SR 6,7 milyar atau sekitar Rp167,5 triliun) yang merupakan kerja sama antara Arab Saudi dan China dirancang untuk mengangkut lima juta penumpang.

Proyek di Armina

Selain membenahi sistem transportasi, pemerintah Arab Saudi juga terus menambah dan meningkatkan prasarana dan fasilitas layanan haji di ketiga tempat peribadatan yakni di Padang Arafah, Mina dan Muzdalifah (Armina). Padang Arafah (sekitar 7 Km dari Mina) adalah lokasi Wukuf yang merupakan puncak ritual haji atau wajib dikerjakan, jika tidak, tidak sah hajinya.

Acara melontar jamrah saat ini juga sudah jauh lebih nyaman, tidak perlu berdesak-desakan lagi karena bisa dilakukan dari jembatan jamarat berlantai lima dengan akses jalan masuk sepanjang 950 meter dengan luas 80 meter.

Tragedi yang terjadi pada 1990 yang merenggut lebih 1.400 jemaah termasuk sekitar 650 calon haji Indonesia saat saling berdesakan di terowongan Mina menuju jamarat diharapkan tidak terulang kembali dengan rampungnya pembangunan jembatan jemarat berlantai lima.

Jembatan jamarat dapat diakses melalui tiga terowongan, 11 jalan masuk dan dua belas jalan keluar (searah) dan dilengkapi dengan mesin-mesin pendingin (AC) raksasa untuk mempertahankan udara agar tidak lebih dari 29 derajat Celcius.

Bahkan melontar jamrah dari tingkat lima, cukup lengang, padahal ratusan ribu calon jemaah haji sedang melontar jamrah di empat jembatan di lantai-lantai di bawahnya. Sekitar tiga juta jemaah haji yang datang secara bergelombang antara 10 sampai 13 Zulhijah seolah-olah tertelan luasnya jembatan dan jalan akses keluar maupun masuk menuju jembatan jamarat.

Aliran arus jemaah dengan tertib melenggang, masuk-keluar jembatan jamarat di lantai satu sampai lantai lima melalui jalan-jalan akses yang lega ke masing-masing lantai. Jembatan jamarat didisain agar bisa dikembangkan lagi sampai 12 lantai untuk menampung sekaligus lima juta jemaah yang akan mengikuti ritus melontar jamrah dan dilengkapi dengan menara helipad. Jembatan jamarat juga dilengkapi lift, escalator dan tangga-tangga darurat.

Sementara kawasan Mina seluas 650 hektare yang digunakan sebagai lokasi perkemahan jemaah juga terus dibangun dan dikembangkan untuk meningkatkan kenyamanan jemaah. Nantinya sebagian jemaah tidak perlu menginap di tenda-tenda lagi jika pembangunan ratusan menara apartemen berlantai 12 yang mampu menampung satu juta jemaah rampung, menambah enam menara berkapasitas 20.000 jemaah yang saat ini sudah siap huni.

Mengenai akses jalan dari Mekah menuju Mina saat ini telah tersedia 25 terowongan,41 jembatan dan jembatan layang dengan panjang 70Km. Kawasan Mina dan Mekah saat ini sudah tidak berjarak (saling berdampingan) akibat pesatnya pembangunan di kedua kawasan.

Bila jemaah sakit, tersedia tiga rumah sakit besar di kawasan Mina, belum termasuk posko-posko kesehatan yang dibangun oleh negara yang banyak mengirimkan jemaah seperti Indonesia dengan balai-balai pengobatan haji (BPHI).

Delapan rumah jagal berkemampuan l,5 juta hewan, juga disediakan di Mina untuk memenuhi hewan kurban atau pembayaran denda pelanggaran ibadah haji (dam). (Nanang Sunarto)

Read Full Post »

Anda gagal berangkat haji tahun 1430 H ini akibat keterbatasan kuota? Jangan bersedih dan jangan menyesal. Justru kalau tahun ini berangkat, maka Anda tidak melihat Masjidilharam “baru” yang amat sangat luas dengan sistem real estate terpadu yang luar biasa. Sebab, tahun ini, projek perluasan Masjidilharam masih dalam proses pengerjaan. Baru sepuluh tahun ke depan, projek besar pembangunan Kota Mekah Al-Mukaramah selesai dibangun. Namun setidaknya, Masjidilharam bersama pembangunan sekitarnya sudah dapat dilihat hasilnya pada musim haji 1431 H.

Projek besar pembangunan Kota Mekah merupakan keniscayaan. Sebab, setidaknya tiga juta orang datang ke kota ini setiap musim haji, dan beberapa kali lipat lagi jumlah jemaah umrah sepanjang tahun. Padahal, kapasitas Masjidilharam hanya mampu menampung sekitar satu juta orang. Itulah sebabnya, penyelenggaraan haji selalu ruwet dipusingkan oleh perumahan dan pemondokan yang kurang, transportasi yang terbatas, tempat ibadah yang sempit, dan problem sosial lain sebagai ikutan dari membludaknya jemaah.

Keputusan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang akan membangun projek raksasa senilai RS 50 miliar (RS 1 kurang lebih setara dengan Rp 2.600,00) adalah tepat. Karena untuk mengatasi sempitnya areal ibadah adalah dengan cara memperluasnya. Persoalannya, selama ini, lingkungan Masjidilharam penuh sesak dengan hotel dan penginapan, dari hotel bintang lima yang sangat mewah, hingga bangunan lama peninggalan zaman syeikh. Tempat ini mampu menampung sekitar sejuta jemaah.

Tidak peduli. Keputusan Pemerintah Arab Saudi adalah untuk dilaksanakan, bukan diwacanakan. Berapa pun besarnya nilai hotel dan perumahan serta tanah yang ada di sekitar Masjidilharam diganti. Setidaknya, 1.000 hotel dan rumah yang berada di Syamiya, sisi utara Masjidilharam diruntuhkan. Para pemiliknya mendapatkan ganti rugi tak kurang dari RS 6 miliar. Di sisi timur Masjidilharam yang sebelumnya dikenal dengan Pasar Seng dibangun projek perluasan ke Jabal Khandama seluas 150.000 meter persegi.

Jabal (Bukit) Omar yang terletak di sisi barat daya Masjidilharam segera diratakan dengan cara merobohkan bangunan yang ada serta meruntuhkan gunung, kemudian digali dan dipancangkan foundasi. Lokasi ini akan dibangun komplek perumahan dan hotel serta pusat belanja. Selain itu, tempat ini juga akan dibangun tempat perluasan tempat salat yang mampu menampung 120.000 orang. Di bagian tenggara Masjidilharam, di sekitar Rumah Sakit Ajyad, segera dibangun rumah sakit modern dan pusat kesehatan yang dilengkapi fasilitas gawat darurat.

Dengan pembangunan projek raksasa ini, diharapkan sebagian besar jemaah yang terus bertambah dapat tertampung di sekitar masjid. Di samping itu, kapasitas Masjidilharam dapat terus meningkat hingga mampu menampung semua jemaah yang datang. Mereka tidak lagi melaksanakan salat di emperan toko atau di jalan-jalan yang menyambung ke masjid. Tapi setidaknya, mereka dapat melaksanakan salat di masjid perluasan Masjidilharam yang ada sekarang.

Akibat pembangunan raksasa ini, jemaah haji yang tengah beribadah di Masjidilharam mendengar gemuruh pembangunan Masjidilharam yang terus berjalan sepanjang 24 jam. Di luar jam salat, jemaah yang melaksanakan ibadah di seputar Masjidilharam dapat menyaksikan puluhan mobil becho sedang meruntuhkan gunung Syamiya. Ratusan truk hilir mudik mengangku batu dan tanah bekas galian. Gunung batu keras yang tadinya menjulang kini digali semakin dalam untuk pembuatan foundasi. Namun di atas sisa gunung yang masih menjulang berdiri ratusan rumah dan hotel yang sudah dikosongkan dari penghuninya. Pemandangan yang sangat dramatis.

Pasar Seng yang dulunya selalu menjadi tempat favorit jemaah Indonesia berbelanja, saat ini menjadi tempat terbuka. Namun belum terlihat ada bangunan. Hanya puluhan kios yang memberikan layanan potong rambut masih berdiri berjejer, namun sifatnya tidak permanen. Bangunan ini setiap saat bisa digusur. Tidak ada lagi toko yang menjajakan tasbih, tas, pakaian, jam, dan barang elektronik seperti di masa lalu, hanya beberapa bagalah (warung) yang menjajakan minuman yang masih berdiri dengan bangunan yang tidak permanent. Toko yang dulu sangat meriah kini mundur ke belakang, sebagaimana jemaah haji juga mundur tempat tinggalnya.

Jabal Omar yang terletak di sekitar Istana Raja belum mengalami pembongkaran. Namun wilayah ini sudah terlihat lesu. Sebab, hotel dan penginapan yang tinggi menjulang sudah tidak ada penghuninya lagi. Mereka tinggal menanti setiap saat diruntuhkan. Memang rumah dan hotel ini masih terlihat ada satu atau dua orang penjaga, namun kamar dan bangunan di bagian atas tak lagi terlihat nyala listrik. Gelap gulita.

Menutut sejumlah mukimin yang tinggal di Mekah, di luar musim haji, gedung dan perhotelan yang besar diruntuhkan menggunakan dinamit. Dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi, gedung-gedung itu diruntuhkan dalam hitungan menit tanpa menimbulkan kerusakan pada lingkungan. Tembok dan atap bangunan seperti kompak runtuh ke dalam, seperti tanaman yang layu. Puluhan kendaraan becho kemudian mengeruk bekas bangunan. Dengan truk, bekas bangunan itu diangkut ke luar Kota Mekah.

Pembangunan perluasan Masjidilharam yang “gila-gilaan” ini sepertinya sudah dihitung secara detail tentang peluang pencemaran lingkungan. Karena pembangunan ini bagaimanapun akan menyebabkan debu berterbangan ke mana-mana, bahkan berpeluang masuk ke Masjidilharam saat jemaah sedang padat-padatnya. Namun pada kenyataannya, setiap batu dan tanah yang dikeruk selalu diikuti dengan siraman air, sehingga debu itu tidak sempat terbang ke udara, kecuali sedikit.

Di pinggir pembangunan projek perluasan di bagian Syamiyah ini berdiri juga puluhan bagalah yang menyediakan makan dan minum bagi jemaah haji, baik makanan khas Arab, Pakistan, Turki, bahkan masakan Indonesia. Sembari menikmati jajanan dan minuman, jemaah haji dapat menyaksikan bagaimana secara perlahan mobil peralatan berat itu meruntuhkan gunung batu yang amat keras dengan mudah.

Ring Dua

Projek pembangunan perluasan Masjidilharam inilah yang menjadi penyebab utama mengapa jemaah haji selama dua tahun terakhir ini mengalami pergeseran tempat tinggal. Jika di masa lalu sebagian jemaah bisa tinggal di penginapan yang jaraknya antara 50 meter hingga 1.000 meter dari Masjidilharam, sekarang tidak bisa lagi. Paling dekat, jemaah tinggal satu kilometer dari Masjidilharam, karena projek perluasan masjid ini rata-rata seluas radius satu kilometer itu dari masjid.

Maka akibatnya, sekitar 50.000 jemaah haji Indonesia yang biasanya tinggal di sekitar Masjdilharam harus tergusur. Perumahan di masa lalu yang disebut sebagai Ring II, kini berubah menjadi Ring I, sedangkan Ring III di masa lalu, kini menjadi Ring II. Namun jemaah haji yang mengalami penggusuran tempat tinggal ini tidak hanya dialami jemaah Indonesia. Jemaah haji dari negara lain yang memiliki jemaah dalam jumlah yang banyak juga menempatkan mereka di wilayah yang jauh hingga berjarak 10 km.

Maka di wilayah yang jauh tersebut, selain jemaah Indonesia, terlihat jemaah asal Turki. Mereka juga menggunakan kendaraan jemputan saat pergi maupun pulang dari Masjidilharam, sebagaimana jemaah haji Indonesia. Meski demikian, sebagian dari mereka melaksanan salat sehari-hari di masjid di lingkungan mereka tinggal. Maka masjid bagus dan besar yang salam ini sepi, menjadi semakin hangat dengan meningkatnya jemaah tersebut.

Hanya istana raja yang digunakan untuk guest house yang tidak digusur beserta sejumlah hotel raksasa di sampingnya yang masih berdiri tegak. Hotel inilah yang digunakan jemaah haji biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) khusus. Kelihatannya, hotel ini merupakan bagian dari megaprojek perluasan masjid, sehingga mereka tidak tergusur, bahkan terus disempurnakan bangunannya hingga tinggi menjulang.(Wachu)

Read Full Post »

Suryadarma Ali meminta kepada seluruh jamaah haji Indonesia untuk mendoakannya, agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai Menteri Agama, yang menurutnya jauh lebih berat daripada saat menjabat Meneg Koperasi dan UKM. Hal itu dikemukakan ketika berbicara dihadapan jamaah calon haji kloter 35 asal Klaten Senin (2/11) di asrama Haji Donohudan Boyolali. Menag yang didampingi tujuh pejabat eselon I (Dirjen Pendis, Dirjen Bimas Islam, Dirjen Haji, Dirjen Bimas Hindu, Dirjen Bimas Budha, Irjen dan Kapuslibang) dan beberapa wartawan untuk selanjutnya membuka konferensi studi Islam di Balaikota Solo

Pada kunjungan singkatnya Menag mengemukakan, setiap jamaah haji boleh dipastikan akan menghadapi kesulitan ketika berada di Tanah Suci. “Sekecil apapun setiap jamah haji tidak dapat menghindarinya, seperti makan atau mandi harus antri, menghadapi kemacetan jalan di Makkah,” jelasnya.

Untuk itulah, setiap jamaah harus menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi agar tidak terjadi gesekan sesama jamaah. Makanya, kalau mandi tidak perlu berlama-lama, jangan disamakan di rumah sendiri, karena harus bergantian dengan yang lain,” ujarnya seraya mendoakan agar seluruh jamaah haji Indonesia bisa melaksanakan ibadah selama di Tanah Suci dengan lancar aman dan meraih haji mabrur.

Ketika meninjau asrama haji Donohudan, Menag mengaku kagum dengan kelengkapan sarana dan fasilitas asrama yang cukup representatif. Selain itu, dia yakin jika pelayanan haji di Solo cukup bagus, karena hingga saat ini tidak ada keluhan dari jamaah.

Sementara itu, Ketua PPIH Embarkasi Solo Masyhudi menjelaskan tentang kondisi kesehatan jamaah calon haji yang diberangkatkan melalui embarkasinya cukup memprihatinkan karena 6.288 orang tergolong resti dari 33.136 calhaj. Namun dia bersyukur karena pelayanan kesehatan di asrama haji Donohudan lebih baik dibanding tahun lalu, terutama dengan diperluasnya kapasitas rawat inap di poliklinik embarkasi.(H. Akhmad Suaidi)

Read Full Post »

Untuk saat-saat ini jemaah calon haji yang berziarah ke makam Rasulullah dapat melihatnya langsung karena kisi-kisi yang menutupinya dibuka oleh aparat yang menjaga makam nabi itu. Selain makam Rasullullah juga bisa pula dilihat makam Abu Bakar Ass-siddiq dan Umar Bin Khottab yang berada di sisi makam nabi.

Alamsyah Hanafiah, jemaah Indonesia yang berkesmpatan melihat langsung makam pembawa ajaran Islam tersebut menandaskan, dengan melihat langsung makam Rasulullah semakin mendekatkan secara psikologis antara nabi dan umatnya.

Makam tersebut lanjut Alamsyah menjadi bukti konkrit bagi dirinya akan kebenaran nabi dan ajaran yang dibawanya. Karena selama ini yang dia dengar hanyalah cerita dari masa lalu. Dengan melihat langsung makam nabi, ada gambaran baginya tentang sosok nabi tersebut sehingga menambah keyakinan tentang ajaran yang dibawanya.

Makam rasululloh ini, terletak dibagian sebelah kiri masjid, dan dahulunya merupakan kamar pribadi Rasulullah SAW dan isterinya. Rasulullah SAW dimakamkan di dalam kamar yang tetap dalam kondisinya seperti semula, sampai pada tahun 90 H, kamar tersebut dijadikan sebagai bagian dari masjid.

Kemudian di sekeliling makam yang itu dibangun tembok berbentuk segi lima pada masa Khalifah al Walid dari Dinasti Umayyah, agar tidak serupa dengan kabah yang berbentuk persegi empat, sehingga tidak dikhawatirkan untuk dijadikan sebagai qiblat shalat.
Orang pertama kali membuatkan penutup bagi makam itu adalah Abdullah ibn Abi al Haija, salah seorang pemimpin Dinasti Fathimiyah dari Mesir. Pada tahun 557 H, dibuatkan penutup dari logam yang ditanam disekitar Makam Nabi SAW, agar tidak terjadi pencurian atas jasad nabi. Tahun 668 H, dibangun kisi-kisi penutup disekitar makam, dan termasuk rumah. Fathimah , juga dimasukkan didalamnya. Kisi-kisi tersebut memiliki empat pintu, yang keadaannya tidak ada perubahan sampai saat ini. (MA Effendi, Depag)

Silahkan baca juga artikel bermanfaat di bawah ini:

2. Ziarah Ke Masjid Nabawi Wajibkah dalam Haji ?

3. Koreksi Seputar Amalan di Musim Haji

 

Read Full Post »

Hudaibiyah merupakan tempat Rasulullah Muhammad SAW melakukan perjanjian Hudaibiyah dengan kaum kafir Qurais. Kini kota kecil ini sering dikunjungi jamaah calon haji untuk melihat dan membeli susu murni onta.

Anda dapat meminum susu onta segar, rasanya… Wuihh bener-bener segar. Coba Yuk..

1. Gambar kawasan Hudaibiyah

2. Gambar Onta yang hamil (edit) yang dipisahkan dari kelompoknya agar tenang.

3. Onta sedang minum

4. Gambar onta saat diperah susunya (edit).

5. Gambar peternak (edit) memasukan susu onta ke  dalam botol siap beli (5 real saja)

6. Gambar masjid di Hudaibiyah

7. Gambar reruntuhan bagunan tua Hudaibiyah

Sumber: http://www.detik.com

Read Full Post »

Kejujuran masih terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakat berhaji dan kehidupan di Tanah Suci. Bahwa terjadi tindak kriminal, hal itu sama sekali tidak mencerminkan keadaan yang menakutkan dalam pelaksanaan rukun Islam kelima. Karena tindak kejahatan sangat sedikit dan tidak mewakili jemaah haji yang sedemikian massal.

Kejujuran ditunjukkan jemaah asal Turki saat menemukan bungkusan amplop dalam tas keresek yang diikat karet di lingkungan masjid di wilayah Shisya, Selasa (17/11). Setelah dicek, dalam amplop tersebut terdapat uang RS 1.500 atau sekitar Rp 5 juta.

Saat itu, seorang penceramah asal Turki sedang berpidato menjelang salat zuhur di masjid. Tiba-tiba, jemaah yang menemukan amplop tersebut maju ke depan mimbar dan menyerahkan amplop tersebut kepada sang juru dakwah. Saat waktu zuhur kurang lima menit, pendakwah ini mengumumkan bahwa ditemukan uang dalam amplop yang dibungkus plastik.

“Barang siapa yang merasa kehilangan dipersilakan menghubungi dirinya serta jemaah asal Turki yang menemukannya, dengan membawa barang bukti bahwa dirinya kehilangan,” kata juru dakwah tersebut.

Tidak seorang pun jemaah Masjid Shisya yang merasa kehilangan. Dua orang jemaah Indonesia yang duduk di depan kemudian ikut meneliti temuan jemaah Turki itu. Ternyata, amplop yang ditemukan ada stempel jemaah Jawa Timur yang menunjukkan bahwa uang tersebut adalah biaya “living cost”.

Karena waktu sudah masuk, azan zuhur pun berkumandang. Tapi begitu azan selesai, jemaah Indonesia yang ikut meneliti barang temuan itu diminta mengumumkan dalam bahasa Indonesia. Maka jemaah asal Makassar, Sulawesi Selatan itu mengumumkan adanya temuan. Tapi, lagi-lagi tak seorang pun jemaah merasa kehilangan.

Akhirnya diputuskan, penceramah, penemu uang, ditemani Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia H. Mubarok menyerahkan uang temuan kepada Kepala Daerah Kerja Mekah H. Subakin. Kadaker kemudian meminta stafnya untuk menelusuri jemaah asal Surabaya yang kehilangan untuk diserahkan kepada pemiliknya.

Kasus kecopetan

Lain lagi kasus yang menimpa petugas haji di Madinah. Malam itu ia diantar sopir akan berbelanja di di Jln. King Fahd. Tiba-tiba dari sebelah kiri mobilnya digedor dengan keras oleh seseorang. Setelah dibuka, rupanya orang tersebut menawarkan ziarah, meskipun malam hari.

Saat mobil sebelah kiri depan digedor, tas yang ada di dalam dashboard depan diambil copet dari sebelah kanan. Tak disadari sama sekali, petugas ini dalam hitungan detik sudah kehilangan dompet itu. Anehnya, keesokan harinya, seorang jemaah asal Bangladesh datang ke Kantor Daerah Kerja Madinah. Ia mengantarkan tas yang berisi uang lebih dari RS 5.000 atau setara dengan Rp 13 juta.

Jemaah yang membawa tas tersebut bercerita, dirinya merasa aneh karena di dalam mobil bak terbuka miliknya tiba-tiba ada tas hitam. Setelah dibuka, tas tersebut ternyata berisi uang, ID card, dan flash disk, dan sejumlah surat penting yang lain. Karena terdapat ID card petugas haji Indonesia, jemaah Bangladesh itu selama berjam-jam mencari kantor Safarah Indonesia dan akhirnya menemukan Kantor Daker Madinah itu.

Penemu tas tersebut kemudian dipertemukan dengan petugas yang kehilangan tas. Sebelum menyerahkan tas itu, jemaah Bangladesh melakukan “tes”. “Apa yang ada dalam tas tersebut?” kata dia.

“Ada uang lebih dari RS 5.000, ada telefon seluler, ada id card, ada beberapa permen, dan ada telefon seluler,” kata petugas haji yang kehilangan sembari mulai optimis setelah seharian merasa bersalah karena kehilangan barang.

“Betul,” jawab jemaah Bangladesh. “Tapi masih ada barang penting lain, berupa flash disk. Berapa jumlahnya?” kata dia. Petugas haji yang kehilangan ini pun langsung teringat bahwa flsh disk yang ada di dalamnya berisi tiga buah. “Betul,” kata jemaah Bangladesh.

Maka jemaah Bangladesh itu pun menyerahkan tas kepada pemiliknya. Sebagai tanda terima kasih, petugas itu menyerahkan sejumlah uang kepada jemaah Bangladesh. Tapi ia tidak bersedia menerimanya. Karena mengembalikan harta kepada pemiliknya adalah kewajiban seorang Muslim.

Rupanya pencopet segera mengambil telefon di dalam tas tersebut, kemudian secara kilat melemparkan tas sisanya ke dalam mobil bak terbuka yang sedang terkena macet. Pencopet pun tidak mudah beraksi di Tanah Suci. Sebab saat ketahuan dia mencuri dan memiliki barang bukti, dia akan dihukum berat. Maka, begitu mengambil handphone dia langsung melemparkan tas yang berisi uang sekitar Rp 13 juta.

Begitulah, kejujuran masih terpelihara dengan baik di kalangan jemaah haji. Bahkan untuk memelihara kejujuran ini, pemerintah Arab Saudi memberikan sanksi keras kepada siapa pun yang mencoba tidak jujur. Akibat “treatment” ini, seorang petugas haji di Madinah tahun 1429 sempat ditahan aparat keamanan.

Saat itu, dia menemukan uang di dalam Masjid Nabawi. Maksud hati ia akan menyerahkan uang itu kepada bagian penemuan barang di dalam masjid. Karena menjelang salat, ia memasukkan uang itu ke dalam kantong sakunya, dengan maksud akan menyerahkan barang temuannya ke bagian kehilangan barang. Namun malang, sebelum salat berlangsung, dia sudah ditangkap aparat keamanan setempat karena penemuan barang itu terpantau oleh CCTV yang selalu mengawasi seluruh gerak-gerik jemaah. Setelah melakukan klarifikasi, petugas itu baru dilepaskan. (Wachu)

Read Full Post »

Older Posts »