Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘calhaj’

Menjaga kesehatan merupakan hal yang penting bagi kelancaran ibadah haji, khususnya bagi calhaj yang datang dari negara yang berbeda suhu udaranya, apalagi setelah menempuh penerbangan panjang dari tanah air dan juga bagi kaum lanjut lanjut.

Mariam A. Alireza dalam tulisannya berjudul “Kit Pertolongan Pertama Anda saat Berhaji” seperti yang dikutip Arab News, Minggu, memberikan tip-tip kesehatan bagi calon jemaah haji.

Intinya, sebelum menunaikan rukun Islam kelima yang cukup melelahkan nanti, calhaj harus menyiapkan diri memperkuat daya tahan tubuh dan energi dengan meningkatkan imunitas tubuh dari serangan patogen dan virus.

Calhaj beberapa pekan sebelum melakukan ibadah haji hendaknya memperhatikan asupan nutrisi dengan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran.

Menu harus seimbang antara asupan protein (ikan, ayam) dan karbohidrat (nasi atau roti gandum), sayuran (hijau-hijauan seperti bayam, buncis, brokoli dan buah-buahan segar).

Buah dan sayur akan memasok tubuh dengan anti oksidan dan bioflafonoid, sedangkan khusus jeruk (lemon) akan menjaga tubuh dari infeksi dan perlindungan terhadap kuman-kuman penyakit.

Rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, pala, dan lada bisa meningkatkan sistem imunitas tubuh terhadappenyakit.

Sebagai cemilan, calhaj disarankan memakan buah segar ataupun yang dikeringkan, sebaliknya menghindari goreng-gorengan, makanan yang menggunakan zat pewarna dan pengawet yang bisa melemahkan sistem imunitas tubuh.

Sementara itu, pemanis buatan seperti aspartam bisa merusak jaringan syaraf (neurotoxin), berbahaya terhadap jaringan otak dan tubuh, apalagi jika dipanaskan di atas suhu 30 derajat Celcius.

Air dan cairan sangat penting bagi sistem tubuh, sehingga dianjurkan minum air yang sudah disterilkan, bukan air dalam kemasan, apalagi yang terkena sengatan mata hari, karena kemasan plastiknya dapat mengkontaminasi air.

Minuman Soda dengan pemanis juga harus dihindari karena dapat melemahkan kemampuan tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus.

Teh herbal yang dibubuhi cengkeh, mint, rosemary, sereh, jahe, kamomila, bisa menawar racun (dextofy) dan menghindari infeksi.

Racikan teh dengan madu, menurut seorang dokter Palestina bernama Hani Yunus juga berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh dari infeksi flu babi (H1N1) dan influensa.

Sup berbumbu bawang putih, bawang merah atau bubuk cayenne juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh, sedangkan yoghurt dibubuhi sedikit garam dapat mempertahankan zat air dalam tubuh, namun diingatkan bagi calhaj yang mengidap hypertensi untuk tidak mengkonsumsi garam berlebihan.

Daun basilica dan bunga star anis juga dianjurkan dalam pengobatan China untuk melawan virus H1N1 dan virus penyakit lainnya.

Star Anis lebih manjur juga dikonsumsi dengan air hangat saat perut dalam keadaan kosong, sementara 20 lembar daun basilica diteguk dengan air hangat pada pagi hari juga dapat mencegah virus H1N1 atau paling tidak meminimalisir gejalanya.

Calhaj juga dianjurkan mengkonsumsi muli vitamin, vitamin C dosis tinggi dengan bioflavonoid serta suplemen mineral (berisi zat besi (zinc) dan selenium, sementara pasokan N-acetylcysteine dosis diatas 1.000 mg per hari dan L-Lysine 500 mg saat perut kosong juga bisa menekan gejala H1N1.

Ektrak jamur maitake, shiitake reishi juga bisa dikonsumsi untuk mendukung sistem kekebalan tubuh melawan infeksi virus.

Menghangatkan tubuh di pagu hari beberapa menit juga diperlukan untuk memberi kesempatan pada kulit mensintesiskan vitamin D nutrisi yang akan menyuburkan sel-sel tubuh dan membangun kekebalan tubuh.

Namun demikian diingatkan pula bahwa berjemur di pasan matahari terlalu lama dapat mengakibatkan terbakarnya kulit (sanburn) atau stroke (heatstroke), sebaliknya sinar matahari dapat membunuh kuman dan virus di udara dan menaikkan suhu badan sehingga mampu membunuh patogen.

Jemaah biasanya akan mengalami kelelahan saat mengikuti prosesi puncak haji yakni menjelang safari Wukuf di Padang Arafah (mulai 26 November atau 9 Zulhijah) dilanjutkan ke Muzdalifah untuk mabit dan selama tiga hari berturut-turut setelah Idhul Adha 1430H pada 27 November atau 10 Zulhijah melempar jumrah.

Sementara itu, Minggu ini seluruh jemaah haji reguler Gelombang Pertama
Indonesia yang semula berkumpul di Madinah (sekitar 101.500 orang) sudah bergeser ke Mekah untuk mengikuti prosesi haji selanjutnya.

Diperkirakan sekitar 2,5 juta lebih calhaj dari berbagai penjuru dunia termasuk 191.000 calhaj reguler dan sekitar 20.000 calhaj non reguler Indonesia berkumpul di tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.(nanang)

Read Full Post »

Oleh : dr. Soewarno*
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai rapor kinerja panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia pada musim haji 2008 masih merah. Nilai itu didasarkan banyaknya keluhan dan kecenderungan jamaah Indonesia yang tidak puas dengan pelayanan panitia bentukan Departemen Agama tersebut. Permasalahan itu terkait lemahnya perencanaan dan implementasinya, kebijakan dalam hal pemondokan, transportasi, katering di Armina dan layanan kesehatan (Pontianak Post, 14 Desember 2009). Tingginya angka kematian jamaah haji membuat Departemen Agama mencari jurus pencegahan. Salah satunya membatasi jamaah beresiko tinggi dengan memperketat seleksi kesehatan. Selain itu, Depag mengkaji batas kuota haji Indonesia yang saat ini terbesar di dunia ( Pontianak Post, 21 Desember 2008 ).

Meningkatkan kualitas pelayanan (baca : pelayanan kesehatan ) dengan memperketat seleksi kesehatan dan mengurangi kuota jamaah merupakan keputusan yang kurang bijaksana. Haji merupakan rukun Islam yang wajib bagi orang yang mampu, terutama dari segi materi. Ketika seseorang sudah mampu dari segi materi dan sudah mempunyai niat, semangat serta tekad yang kuat untuk menunaikan ibadah haji, Pemerintah seharusnya memberi bantuan dan fasilitas yang memadai tanpa harus mencegah atau menunda dengan alasan kesehatan. Kalau pemerintah Indonesia meminta kuota yang besar adalah wajar saja karena Indonesia merupakan negara yang warga negaranya sebagian besar beragama Islam dan merupakan negara berpenduduk Islam terbesar di dunia.

Jumlah  calon jamaah haji  dan jamaah haji yang meninggal dalam menunaikan ibadah haji tidak dapat digunakan sebagai indikator penilaian pelayanan haji. Penilaian pelayanan paling tidak mencakup empat aspek yaitu tepat, cepat, ramah, dan memuaskan. Pelayanan kesehatan  calon jamaah haji yang beresiko tinggi memerlukan penanganan yang khusus pula, baik sebelum berangkat, selama menunaikan ibadah dan waktu perjalanan pulang ke tanah air.

Menurut WHO, pengertian kesehatan mencakup kesehatan jasmani, kesehatan jiwa, dan kesehatan sosial. Pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji berbeda dengan pemeriksaan kesehatan untuk melamar kerja. Pemeriksaan kesehatan untuk melamar pekerjaan terutama untuk menentukan atau menetapkan kondisi kesehatannya, apakah masih memungkinkan untuk melakukan  tugas pekerjaannya, sedangkan pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji terutama untuk mengetahui penyakit atau cacat yang dideritanya.

Dengan mengetahui penyakit atau cacat yang diderita calon jemaah haji, dapat dilakukan upaya promotif, preventif, kuratif, kalau perlu dan memungkinkan upaya rehabilitatif. Tim kesehatan haji Indonesia pada umumnya hanya melaksanakan upaya kuratif saja, dengan menyediakan tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya termasuk tenaga non medis), obat-obatan serta sarana yang diperlukan selama calon jamaah haji menunaikan ibadah haji. Sedangkan bimbingan, pembinaan, motivasi, penyuluhan, konsultasi, dan konseling tentang kesehatan, tidak pernah dilaksanakan atau kurang mendapat perhatian.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan calon jamaah haji, upaya promotif dan preventif  merupakan tindakan atau upaya yang sangat penting. Dengan upaya-upaya tersebut diharapkan calon jamaah haji dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal pada waktu menunaikan ibadah haji. Calon jamaah haji seharusnya dan idealnya dapat mengenali kondisi kesehatannya jauh sebelum keberangkatannya untuk menunaikan ibadah haji, mungkin satu tahun atau lebih sebelumnya menunaikan ibadah haji. Calon jamaah haji paling tidak dapat melaksanakan pola hidup sehat misalnya dengan konsumsi makan/minum yang bergizi dan berimbang, olahraga secara teratur sesuai dengan kemampuan fisiknya, selalu berpikir dan bertindak positif serta meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Dengan demikian calon jamaah haji dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal, baik jasmani, jiwa, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Panitia Penyelenggara ibadah Haji Indonesia, khususnya tim kesehatan haji Indonesia melakukan upaya kesehatan promotif, preventif, rehabilitatif, serta kuratif sebelum pelaksanaan ibadah haji. Calon jamaah haji yang menderita penyakit beresiko tinggi tetap dapat diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji dengan pelayanan khusus yang sesuai dengan penyakitnya dari tim kesehatan haji Indonesia. Begitu juga dengan jamaah haji yang cacat atau yang berusia lanjut (lansia) bahkan calon jamaah haji yang menderita penyakit yang tidak mungkin disembuhkan mendapat prioritas untuk segera menunaikan ibadah haji dengan memberi perhatian dan pelayanan prima, khususnya pelayanan kesehatannya.

Kesimpulan opini ini, pertama,  bahwa seleksi kesehatan haji tidak perlu diperketat, dengan melarang, membatasi atau menunda untuk menunaikan ibadah haji terhadap calon jamaah haji yang kesehatannya beresiko tinggi. Kedua, kuota haji tidak perlu dikurangi, bahkan harus diusahakan tambahan kuota untuk mencegah antrian yang panjang (lama) yang dapat menimbulkan atau memicu timbulnya KKN atau kecurangan-kecurangan lain yang merugikan. Ketiga, kesadaran dan kerelaan semua pihak untuk mensukseskan pelaksanaan ibadah haji, baik dari pemerintah, calon jamaah haji dan masyarakat pada umumnya.

Pemerintah (Depag) dapat melaksanakan penyelenggaraan ibadah haji dengan amanah dan memberikan pelayanan prima, masyarakat tidak memanfaatkan pelaksanaan ibadah haji sebagai kesempatan untuk mencari untung berlebihan atau mencari rezeki yang tidak halal. Sedangkan calon jamaah haji wajib bersyukur dan ikhlas dapat menunaikan ibadah haji dengan benar dan halal, tidak perlu bertindak emosional yang sampai menimbulkan kerusakan atau kerugian yang tidak perlu.

Calon jamaah haji yang lebih muda dan sehat wajib bersyukur dan dapat menerima dengan ikhlas seandainya tempat pemondokannya jauh, sedangkan calon jamaah haji  yang beresiko dan uzur juga wajib bersyukur dapat menunaikan ibadah haji dengan mendapat pelayanan yang baik dari pemerintah serta pengertian dan bantuan dari calon jamaah haji lainnya. Dengan kerja sama, pengertian dan peran serta semua pihak, penyelenggaraan ibadah haji akan menjadi baik. Semoga. (pontianakpost)

* Penulis, mantan Widyaiswara, Pemerhati masalah kesehatan & pendidikan.

Read Full Post »

Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPHI) Subakin AM mengingatkan lagi kepada para jemaah haji Indonesia agar sepulang dari menunaikan ibadah haji nanti tidak membawa barang-barang berlebihan.

“Berat bagasi maksimal 32 kilogram dan barang bawaan satu tas jinjing,” ujarnya saat diskusi dengan tim Dewan Perwakilan Daerah RI (DPD) yang dipimpin Ketua Komite III (Urusan Pendidikan dan Agama) Sulistiyo MPd di Jeddah, Selasa.

Dalam pertemuan itu Sulistiyo meminta agar pihak-pihak terkait penyelenggaraan ibadah haji agar mengkomunikasikan peraturan tersebut agar dipahami oleh para jemaah haji.

Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kata Sulistiyo, sejumlah jemaah dikecewakan, karena mereka semula diberitahu oleh oknum-oknum tertentu bahwa barang bawaan mereka yang tidak bisa diangkut dengan pesawat akan dikirimkan ke alamat masing-masing.

Namun kemudian barang-barang tersebut tidak pernah sampai ke alamatnya, karena maskapai penerbangan yang dititipi tidak menerima perintah pengiriman dan tidak mengenal siapa yang membayar ongkosnya, apalagi sebagian barang-barang itu berupa makanan atau kurma sudah tidak layak dikonsumsi sehingga harus dimusnahkan.

“Kalau memang tidak bisa, katakan dengan tegas agar jemaah haji tidak melanggar ketentuan berat bagasi dan barang bawaan itu,” kata Sulistiyo mengingatkan.

Mengenai persiapan makan bagi jemaah calhaj saat wukuf di Arafah dan melontar jumrah di Mina, Subakin mengemukakan bahwa pada musim haji kali ini menggunakan sistem prasmanan, karena nasi kotak banyak dikeluhkan oleh para jemaah pada tahun-tahun sebelumnya.

“Ada yang merasa kurang, ada pula yang merasa menunya tidak cocok dengan selera,” ujarnya.

Sistem prasmanan, menurut dia, tentu saja ada kelemahannya, misalnya jemaah harus berebut sehingga ada yang mendapatkan lebih, tetapi ada pula yang tidak kebagian.

Mengatasi hal itu, ia akan meminta penyelenggara (makhtab) menyediakan makanan secara bertahap, begitu hampir habis langsung ditambah, juga demi menghindari antrian, untuk setiap 250 jemaah disiapkan tujuh meja untuk tempat hidangan.(n.Sunarto, http://www.depag.go.id)

Read Full Post »