Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘haji sehat’

Menjaga kesehatan merupakan hal yang penting bagi kelancaran ibadah haji, khususnya bagi calhaj yang datang dari negara yang berbeda suhu udaranya, apalagi setelah menempuh penerbangan panjang dari tanah air dan juga bagi kaum lanjut lanjut.

Mariam A. Alireza dalam tulisannya berjudul “Kit Pertolongan Pertama Anda saat Berhaji” seperti yang dikutip Arab News, Minggu, memberikan tip-tip kesehatan bagi calon jemaah haji.

Intinya, sebelum menunaikan rukun Islam kelima yang cukup melelahkan nanti, calhaj harus menyiapkan diri memperkuat daya tahan tubuh dan energi dengan meningkatkan imunitas tubuh dari serangan patogen dan virus.

Calhaj beberapa pekan sebelum melakukan ibadah haji hendaknya memperhatikan asupan nutrisi dengan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran.

Menu harus seimbang antara asupan protein (ikan, ayam) dan karbohidrat (nasi atau roti gandum), sayuran (hijau-hijauan seperti bayam, buncis, brokoli dan buah-buahan segar).

Buah dan sayur akan memasok tubuh dengan anti oksidan dan bioflafonoid, sedangkan khusus jeruk (lemon) akan menjaga tubuh dari infeksi dan perlindungan terhadap kuman-kuman penyakit.

Rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, pala, dan lada bisa meningkatkan sistem imunitas tubuh terhadappenyakit.

Sebagai cemilan, calhaj disarankan memakan buah segar ataupun yang dikeringkan, sebaliknya menghindari goreng-gorengan, makanan yang menggunakan zat pewarna dan pengawet yang bisa melemahkan sistem imunitas tubuh.

Sementara itu, pemanis buatan seperti aspartam bisa merusak jaringan syaraf (neurotoxin), berbahaya terhadap jaringan otak dan tubuh, apalagi jika dipanaskan di atas suhu 30 derajat Celcius.

Air dan cairan sangat penting bagi sistem tubuh, sehingga dianjurkan minum air yang sudah disterilkan, bukan air dalam kemasan, apalagi yang terkena sengatan mata hari, karena kemasan plastiknya dapat mengkontaminasi air.

Minuman Soda dengan pemanis juga harus dihindari karena dapat melemahkan kemampuan tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus.

Teh herbal yang dibubuhi cengkeh, mint, rosemary, sereh, jahe, kamomila, bisa menawar racun (dextofy) dan menghindari infeksi.

Racikan teh dengan madu, menurut seorang dokter Palestina bernama Hani Yunus juga berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh dari infeksi flu babi (H1N1) dan influensa.

Sup berbumbu bawang putih, bawang merah atau bubuk cayenne juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh, sedangkan yoghurt dibubuhi sedikit garam dapat mempertahankan zat air dalam tubuh, namun diingatkan bagi calhaj yang mengidap hypertensi untuk tidak mengkonsumsi garam berlebihan.

Daun basilica dan bunga star anis juga dianjurkan dalam pengobatan China untuk melawan virus H1N1 dan virus penyakit lainnya.

Star Anis lebih manjur juga dikonsumsi dengan air hangat saat perut dalam keadaan kosong, sementara 20 lembar daun basilica diteguk dengan air hangat pada pagi hari juga dapat mencegah virus H1N1 atau paling tidak meminimalisir gejalanya.

Calhaj juga dianjurkan mengkonsumsi muli vitamin, vitamin C dosis tinggi dengan bioflavonoid serta suplemen mineral (berisi zat besi (zinc) dan selenium, sementara pasokan N-acetylcysteine dosis diatas 1.000 mg per hari dan L-Lysine 500 mg saat perut kosong juga bisa menekan gejala H1N1.

Ektrak jamur maitake, shiitake reishi juga bisa dikonsumsi untuk mendukung sistem kekebalan tubuh melawan infeksi virus.

Menghangatkan tubuh di pagu hari beberapa menit juga diperlukan untuk memberi kesempatan pada kulit mensintesiskan vitamin D nutrisi yang akan menyuburkan sel-sel tubuh dan membangun kekebalan tubuh.

Namun demikian diingatkan pula bahwa berjemur di pasan matahari terlalu lama dapat mengakibatkan terbakarnya kulit (sanburn) atau stroke (heatstroke), sebaliknya sinar matahari dapat membunuh kuman dan virus di udara dan menaikkan suhu badan sehingga mampu membunuh patogen.

Jemaah biasanya akan mengalami kelelahan saat mengikuti prosesi puncak haji yakni menjelang safari Wukuf di Padang Arafah (mulai 26 November atau 9 Zulhijah) dilanjutkan ke Muzdalifah untuk mabit dan selama tiga hari berturut-turut setelah Idhul Adha 1430H pada 27 November atau 10 Zulhijah melempar jumrah.

Sementara itu, Minggu ini seluruh jemaah haji reguler Gelombang Pertama
Indonesia yang semula berkumpul di Madinah (sekitar 101.500 orang) sudah bergeser ke Mekah untuk mengikuti prosesi haji selanjutnya.

Diperkirakan sekitar 2,5 juta lebih calhaj dari berbagai penjuru dunia termasuk 191.000 calhaj reguler dan sekitar 20.000 calhaj non reguler Indonesia berkumpul di tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.(nanang)

Advertisements

Read Full Post »

Berikut ini ada beberapa tips yang mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk membantu kelancaran ibadah haji.

1. Bawalah bekal makanan ringan dan minuman dalam kemasan kecil semisal air mineral botol kecil atau minuman kotak dalam tas tentengan. Proses imigrasi sebelum berangkat ataupun ketika mendarat terkadang tak terduga waktunya, terutama ketika mendarat di bandara King Abdulaziz, bisa jadi anda harus menunggu lama sampai selesai pemeriksaan imigrasi sedangkan di bandara tidak disediakan makanan dan minum. Ataupun jika terjadi penundaan penerbangan, atau ketika menunggu bis yang membawa jamaah dari jedah menuju mekah atau medinah.

2. Bagi jamaah putri yang memakai kerudung dengan tali, jangan mengikat tali kerudung terlalu kencang karena bisa menghambat peredaran darah sehingga oksigen ke kepala berkurang yang berakibat pusing bahkan pingsan.

3. Bawalah alat pemanas air yang terbuat dari logam bukan dari plastik, selain relatif lebih kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana juga lebih awet. Minumlah air hangat sebisa mungkin karena sangat membantu untuk mencegah batuk, terutama ketika di mina ataupun ketika di pondokan karena tidak semua pondokan di sediakan dispenser. Alat pemanas air akan berguna ketika air panas tidak/belum disediakan, semisal ketika tarwiyah

4. Alat semprot/spray sangat membantu ketika udara sangat panas, misal saat wukuf atau melempar jumrah, semprotan air di udara atau di wajah akan terasa sangat menyejukkan. Semprotan ini juga bisa digunakan untuk wudlu ketika di masjidil haram apabila wudlu anda batal saat menunggu sholat berikutnya. Bawalah botol spray yang kecil sehingga tidak merepotkan dan isilah dengan air zam-zam.

5. Sepotong gula jawa ketika anda berjalan menuju atau pulang dari jamarat, apalagi jika maktab anda jauh, terasa nikmat sekali, ditambah sedikit semprotan air zam-zam ke mulut anda, kenikmatannya tak akan pernah terlupakan.

6. Usahakan untuk tidak terlalu sering mandi, mandi sehari sekali sudah cukup. Karena udara kering maka sering mandi akan menyebabkan kulit anda lebih kering. Jangan mandi ketika anda merasa lelah karena bisa membuat kondisi tubuh anda semakin lemah.

7. Jika anda merasa kepala terasa ringan, berjalan seperti berayun-ayun maka minum air rendaman kacang hijau, insya allah akan membantu. Caranya: ambil segenggam kacang hijau, cuci bersih kemudian taruh di gelas dan tuang dengan air mendidih, tunggu sampai dingin, baru diminum. Minumlah sehari 2x

8. Bagi yang suka ’kerokan’ untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan seperti masuk angin, jangan lupa untuk membawa uang logam.

9. Jangan lupa untuk selalu berdoa setiap kali  akan melakukan ibadah, mohom kepada Allah untuk dimudahkan, dan diberi petunjuk agar bisa menjalaninya dengan benar

Obat-obat yang perlu dibawa untuk ibadah haji
Meski di setiap kloter sudah ada petugas kesehatan yang akan membantu anda ketika anda mengalami gangguan kesehatan, ada baiknya membekali diri dengan obat-obat yang bermanfaat untuk pertolongan pertama/penyakit ringan.

Obat ini diluar obat yang memang biasa rutin diminum untuk penyakit kronis yang diderita.
1. Paracetamol bisa digunakan untuk mengatasi sakit kepala atau untuk menurunkan panas.
2.Obat hisap/lozenges, misal: degirol, permen woods, FG Troches untuk mengatasi serak dan sakit tenggorokan.

Sebagamana dikisahkan oleh: Dra.Diatri Rahayu, Apt (Penanggung Jawab PJ Al-Ghuroba’ dan salah satu apotik di DI Yogyakarta) melalui email kontak@info.tm

Read Full Post »

Hingga Senin (9/11) malam, jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal sebanyak 24 orang. Sedang jemaah sakit yang dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Mekah mencapai puluhan orang.

Lebih dari 50% penyebab kematian adalah penyakit jantung, penyebab lainnya adalah stroke, gagal napas, serta sepsis (infeksi kuman dalam darah). Ada juga seorang jemaah yang meninggal karena kecelakaan. Yakni, Zaenuddin Kadir Lagogo, jemaah asal Tanggamus, Lampung yang tergabung dalam Kloter 23 JKG. Ia meninggal karena tertabrak mobil saat menyebarang jalan di Mekah pada Senin (9/11) siang.

Sebelumnya, Wakil Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dr Barita Sitompul SpJP mengungkapkan, dari tahun ke tahun penyakit jantung memang menjadi penyebab kematian jemaah terbanyak. Sedang jenis penyakit yang terbanyak diderita jemaah adalah Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) seperti flu, batuk, dan radang tenggorokan.

“Sebagai upaya antisipasi, mereka yang berisiko terkena penyakit jantung sebaiknya berkonsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum berangkat. Jangan lupa membawa obat-obatan yang biasa dikonsumsi,” ujar Barita di Mekah, Selasa (11/11).

Barita juga menekankan agar selama di tanah suci jemaah menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan cukup istirahat. Mengingat, kelelahan merupakan salah satu pemicu serangan jantung.

Sementara itu, menjelang hari wukuf yang diperkirakan jatuh 26 November mendatang, Mekah semakin dipadati jemaah dari berbagai negara. Dari Indonesia, jumlah jemaah yang sudah berada di kota suci itu hingga Senin (9/11) mencapai lebih dari 55.000 orang. Padatnya jemaah membuat transportasi di Mekah tersendat, terutama di sekitar Masjidilharam, menjelang dan sesudah waktu salat. (Eni/Siwi, Depag)

Read Full Post »

Ada-ada saja, kisah jamaah haji Indonesia di tanah Suci. Dikarenakan semangat untuk berhaji tanpa memperhatikan kemungkinan kesulitan di tanah suci menyebabkan banyak terjadi hal yang tidak tidak diinginkan. Seperti kasus jamaah melahirkan, banyaknya kematian jamaah karena penyakit jantung, stres, mengamuk dll.

Hal ini, menurut hemat kami, banyak penyebabnya. Bisa saja disebabkan karena kurang perhatian dari petugas yang diberi amanah untuk memeriksa kesehatan saat masih di Tanah Air (asal tugas selesai, tidak teliti, rasa kasihan yang berlebihan), atau karena jamaah sendiri yang ngotot pergi haji walau harus menempuh hal yang dilarang secara aturan mapun syariaat (pakai joki saat periksa, membayar sejumlah uang, tidak jujur dengan penyakitnya, manipulasi berkas kesehatan) atau karena keluarga (dalam hal ini sang anak atau menantu) yang ingin orang tuanya “cepat pergi haji” sementara sang anak atau menantu “belum siap berhaji”, padahal jelas telah orang tuannya telah renta dan tidak layak pergi baik secara fisik maupun kejiwaan. Atau juga anggapan keliru pada sebagian masyarakat bahwa haji adalah ibadah penutup sekaligus ibadah yang membuat naiknya maqam (kedudukan) hamba, sehingga mewajibkan dirinya/keluarganya untuk berhaji agar sesuai dengan anggapan tersebut.

Udzur karena tua, sakit-sakitan, tidak sehat jiwa, cacat yang menghalangi ibadah atau bakal merepotkan jamaah lainnya, hendaknya dipahami sebagai rukhshah (keringanan) bagi kaum Muslimin. Allah Maha Tahu atas apa yang menimpa hamba-Nya. Bukankah kita bisa mengganti ibadah haji dengan ibadah lainnya yang kita mampu sperti shalat tepat waktu, shadaqah, dl. Bukankah bisa dengan di-badal-kan (digantikan hajinya oleh orang/keluarga yang pernah berhaji). Atau dengan membiayai haji keluarga/tetangga kita yang kurang mampu padahal keinginan untuk berhaji sangat kuat, akhlaknya baik dan telah hafal manasik haji.

Pahala yang diberikan, insya Allah tidak akan berkurang, jika hal diatas dapat kita lakukan dengan ikhlas dan mengikuti apa yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Apalagi bisa memberikan jalan untuk orang lain dapat beribadah. Tentu pahalanya tidaklah sedikit. Saudaraku seiman, janganlah kita meragukan rahmat Allah kepada hamba-Nya.

Kami berharap tulisan dibawah ini tidak banyak terjadi lagi dimasa yang akan datang, karena Islam bukanlah agama yang  memaksakan pemeluknya untuk berlebihan didalam melakukan ibadah atau melakukan ibadah yang diluar kemampuannya. Namun Islam adalah agama yang penuh kasih sayang baik bagi pemeluknya maupun kepada orang di luar Islam. Selamat menyimak:

1. Jamaah Melahirkan di Tanah Suci.

MADINAH, (MCH) Wakil Kepala Daerah Kerja Madinah bidang Pelayanan Kesehatan dr. Zaenuswir Zaenun menduga, jemaah yang melahirkan di Tanah Suci karena menggunakan joki ketika melakukan pemeriksaan kesehatan saat dalam proses pemberangkatan. Hal tersebut disampaikan Zaenusfir Zaenun menanggapi adanya jemaah yang melahirkan ketika tiba di Madinah.

Jemaah asal Sukabumi, Iyet Suryati, 33 dari Kloter 35 JKS (Jawa Barat) Jumat, 6 November melahirkan anak laki-laki setibanya di Madinah. Iyet Suryati melahirkan dengan cara dioperasi dalam usia 7 bulan atau 26 minggu kandungan. Di RS Bersalin di Madinah (Musytasyfa Linnisa Walwiladah walathfal Madinah) Iyet Suryati melahirkan anak dengan berat 600 gram. Meski dalam perawatan intensif, yakni dalam inkubator, anak tersebut dalam kondisi sehat, demikian pula ibunya.

Menurut Zaenuswir pemeriksaan kesehatan kepada Iyet Suryati sudah berulang-ulang dilakukan dan kehamilannya tidak terdeteksi. “Jadi di Tanah Air sudah memakai joki. Sedangkan ketika di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta tidak terlihat hamil karena fokusnya bukan pada itu,” jelas Zaenuswir.

Lebih lanjut Zaenusfir menjelaskan, bagi seorang yang hamil tidak diperbolehkan menjadi jemaah haji karena rawan keguguran dan juga rawan kelahiran. “Karena jemaah haji harus dilakukan vaksin meningitis sebelum berangkat, sedangkan bagi orang hamil vaksin meningitis kontraindikasi dengan vaksin meningitis.”

Meski melahirkan di Madinah dan kemungkinan tidak bisa melakukan rangkaian ibadah haji di Mekah karena sedang berhalangan nifas, menurut Zaenusfir yang bersangkutan tidan dipulangkan lebih awal dan tetap akan bersama kloternya pada saat kepulangan nanti. “Kalau dalam kondisi sudah sehat sesuai dengan catatan medis, maka akan dikembalikan ke kloternya dan apabila belum tetap akan dirawat terlebih dahulu,” terangnya.

Berdasarkan surat keputusan bersama antara Menkes dan Menag bahwa calon jemaah haji usia kehamilan yang tidak diperbolehkan adalah 12-26 minggu. Karena dalam usia sebelum 12 minggu kandungan rawan keguguran, sedangkan usia diatas 26 minggu rawan kelahiran. Dalam kandungan usia 12�26 minggu pun harus mendapat vaksin meningitis. (MA Effendi/Elshinta,depag)

2. Jamaah Haji Stres Tikam Sesama Jamaah Satu Kloter

MEKKAH – Seorang jamaah yang mengalami stres berat, Mapaisse asal Kloter 9 Ujung Pandang, Sulawesi Selatan (sulsel) melakukan penusukan terhadap tiga jamaah haji lain, Tiga korban penusukan itu yakni, dua orang asal Sulsel dan satu orang India.
Berdasarkan laporan Tim MCH Depag di Mekkah, penusukan terjadi saat tawaf wada di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Sabtu malam 22 Desember lalu, seperti diberitakan sindo, Selasa (25/12/2007).

Kepala Bidang (Kabid) Keamanan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi, Gani Abdullah, di Mekkah mengatakan, pelaku penusukan saat ini dalam perawatan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Thoif.

Para korban adalah Husen Abdul Karim dan Sabarudin Toto asal Sulsel, serta jamaah asal India yang belum diketahui identitasnya.
Sementara itu, kondisi Husen Abdul Karim, korban yang masih dirawat di RS Annur karena luka tusuk di bagian pinggul kiri, dikabarkan semakin membaik. Korban lainnya, Sabarudin Toto, telah kembali ke pemondokan karena telah sehat.

Sebelumnya, Sabarudin sempat dirawat di RS Ajyat Mekkah. Direktur Pengelolaan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji Depag Abdul Gahfur Djawahir mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan informasi terkait penusukan yang dilakukan jamaah haji Indonesia. (sindo//ism)

Kian Banyak Jamaah Haji Alami Gangguan Kejiwaan
Laporan Baehaqi dari Arab Saudi

JEDDAH – Kian banyak jamaah haji Indonesia di Tanah Suci yang mengalami gangguan kejiwaan. Mulai stres ringan hingga sampai seperti orang gila. Yang ringan cukup diatasi di balai pengobatan. Yang berat dirujuk ke rumah sakit.

Salah seorang jamaah yang mengalami gangguan kejiwaan berat itu berinisial DMA asal Bengkulu. Jamaah tersebut tiba di Bandara King Abdul Aziz (KAA) Jeddah Senin malam lalu (2/11). Begitu keluar dari bandara, tiba-tiba dia berteriak-teriak. Petugas langsung membawanya ke balai pengobatan di bandara itu. Dokter Hasto Nugroho yang bertugas sampai kewalahan. ”Dia seperti orang mengamuk,” cerita Hasto.

Hingga jamaah diberangkatkan ke Madinah, DMA masih belum tenang. Akhirnya diputuskan untuk membawanya ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Makkah. Di situ ada dua dokter spesialis kejiwaan. Sampai kemarin siang pasien itu belum membaik. Dia tetap berteriak-teriak.

Salah seorang keluarga yang satu kloter dengannya tak tahu apa yang membuat DMA stres. Di buku kesehatan haji (buku hijau) yang dia bawa tak tercantum riwayat penyakit gangguan jiwa.

Sebelumnya, kata Hasto, sudah ada jamaah yang menunjukkan gejala terkena gangguan kejiwaan. Namun, yang bersangkutan hanya ditangani di balai pengobatan bandara. Setelah itu, dia sudah tenang. Di Madinah juga dilaporkan ada jamaah yang mengalami ganguan kejiwaan dan dirawat di balai pengobatan setempat. Jumlahnya belasan. Namun, yang berat hanya tiga. Salah seorang bernama Mh asal Sumbar (Jawa Pos, 4/11).

Menurut psikiater BPHI Tri Aniswati, bepergian jauh bagi orang yang tidak biasa bisa memicu gangguan kejiwaan. Apalagi, mereka kemudian berhadapan dengan sosiokultural yang berbeda. Mereka menghadapi kondisi yang berbeda dengan apa yang mereka bayangkan sebelumnya. ”Sejak sebelum berangkat, jamaah harus menyadari sepenuhnya bahwa kepergiannya ke Tanah Suci hanya untuk beribadah,” jelasnya.

Penanggung jawab Balai Pengobatan Haji Makkah dr Anita Rosari menambahkan, keletihan juga bisa berimbas pada kesehatan jiwa. Karena itu, dia mengimbau jamaah agar tidak memforsir diri untuk setiap waktu salat berjamaah di Masjidilharam.

Mitos perbuatan tidak baik yang dilakukan di tanah air bakal dibalas di Tanah Suci juga kerap menjadi beban kejiwaan. ”Padahal, itu hanya mitos yang tidak ada dasarnya,” tambahnya.

Gangguan kejiwaan juga bisa diakibatkan oleh heat stroke. Yaitu, penurunan kondisi fisik karena terlalu lama terpapar matahari, melakukan aktivitas berlebihan, dan kekurangan cairan tubuh. ”Puncak musim haji masih lama. Jadi, sebaiknya jamaah menyimpan energi untuk pelaksanaan inti ibadah haji nanti,” sarannya.
3. Cacat Fisik

Sejumlah jamaah dengan keterbatasan fisik melaksanakan ibadah Haji tahun ini. Mereka dapat ditemukan di hampir seluruh tenda Haji.

“Menjadi orang cacat tidak mencegah saya menjadi jamaah Haji,” ujar Ahmad Mustafa, jamaah asal Mesir yang tak bisa menggerakkan tangan setelah diserang kelumpuhan.

Mustafa menambahkan jika ia tidak pernah memanfaatkan ketidakmampuannya sebagai alasan untuk membatalkan atau menunda kewajibannya sebagai muslim.

“Saya selalu berdoa kepada Allah untuk membantu melengkapkan ritual Haji saya dan pernikahan saya,” aku Mustafa seperti yang dilansir oleh Arab News.  “Saya tidak ingin hanya melihat orang lain di sekitar melakukan Haji dan saya tidak bisa berbagi spirit yang sama dalam Haji, hanya karena cacat fisik,” ujar Mustafa.

Sementara Muhammad Ahmad, jamaah Mauritania yang buta itu mengaku ia dapat mendengar takbir, dan sangat ingin melihat bagaimana pemandangan di tanah suci. Namun meski tak mampu melihat ia sangat mencintai pengalamannya berada di tanah haram tersebut.

“Kebutaan saya adalah penyebab utama keyakinan utuh saya terhadap Allah,” ujar Ahmad. “Haji adalah kewajiban krusial, dan kekurangan saya tidak boleh menghalangi saya melakukan itu. Saya hidup, dan berdoa selalu dalam kemudahan dan kenyamanan,” ungkap Ahmed seraya menambahkan tidak sedikit figur muslim yang mencapai kesuksesan meski mereka buta.

Lalu ada pula jamaah Libanon bernama Izat Fatin, yang kakinya tak lengkap akibat serangan di Lebanon. Ia mengatakan perjalanan kali itu membuktikan ia dan jamaah cacat lain dapat melakukan seperti para jamaah normal dalam melakukan ritual Haji.

“Saya melihat bagaimana orang-orang melihat saya dengan belas kasihan, dan berupaya melihat saya semata-mata karena Allah,” tutur Izat. “Saya merasa bangga ketika menolak bantuan dari siapapun dan berdiri di atas satu kaku dan penyangga, serta melakukan semua yang dilakukan jamaah normal lain,” imbuhnya.

Seorang pemimpin agama di kemah Haji yang buta mengatakan itu hal bagus bagi mereka yang cacat sebab melakukan upaya lebih dari orang normal saat melakukan tugas agama.

Bagi pemimpin buta itu, orang cacat pun sudah seharusnya konsentrasi pada ibadah mereka saat di tanah suci dan tidak perlu memasukkan halangan dan rintangan ke dalam hati hingga menimbulkan kesedihan./it (Cacat Fisik Bukan Halangan Pergi Haji,Republika)

Read Full Post »

Anak-anak dan Penderita Cacat Dilarang Naik Haji

Komite Haji India (HCI) mengumumkan bahwa untuk musim haji 1429 Hijriyah mendatang pihaknya telah membuat berbagai kebijakan baru terkait dengan keterbatasan lokasi pemondokan di Arab Saudi yang teriring dengan pengembangan Masjidil Haram serta terbatasnya kuota yang tak sejalan dengan minat menunaikan ibadah haji muslim India.

Dalam aturan baru tersebut dijelaskan bahwa anak-anak berusia antara 2 hingga 16 tahun tidak diperkenankan menunaikan ibadah haji karena member kesempatan kepada jemaah dewasa yang wajib terlebih dahulu. Sementara itu, HCI juga telah menerapkan jatah haji lima tahun. Artinya, siapa pun yang belum sampai lima tahun menunaikan haji, tak bisa menunaikan haji ulang.

HCI juga melarang hai badal yang biasa dilakukan oleh kerabat atau kenalan yang sudah haji untuk mereka yang belum sempat menunaikan ibadah haji. Wanita hamil dan menyusui juga dilarang. Begitu juga penyandang cacat yang sangat tergantung dengan orang lain. Dan semakin ditegaskan pula keharusan wanita dengan disertai muhrimnya dalam berhaji.

Menurut HCI, jemaah haji India juta harus memenuhi persyaratan kesehatan yang telah ditetapkan WHO dan Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi. Menurut juru bicara HCI di Mumbay, kuota haji India untuk haji muassasah tetap 110.000 jemaah haji. Pendaftaran sudah bisa dilakukan sejak saat ini melalui internet. Untuk memudahkan jemaah, HCI menggandeng State Bank of India (SBI) dalam setoran dan lain sebagainya.

Pelaksanana haji mendatang dijanjikan akan lebih baik, Menurut HCI, kepastian jadwal penerbangan hingga seat jemaah akan bisa dilihat jauh-jauh hari. Seperti diketahui, tahun lalu, pelaksanaan haji India amburadul karena pelayanan Air India yang tak memenuhi syarat. Tahun ini Air India berjanji akan bekerja lebih baik.
HCI juga menumumkan adanya embarkasi baru, yaitu Jammu Kashmir sehingga India memiliki 16 terminal embarkasi dan debarkasi haji. Demikian seperti diberitakan TwoCircles.net edisi Jumat, 9 Mei lalu. (Musthafa Helmy)

Read Full Post »

Tak pelak lagi bahwa semua orang terkhusus kaum muslimin menginginkan barakah di dalam hidupnya. Upaya untuk mendapatkannya, yang sering diistilahkan sebagai “Tabarruk” atau mengais barakah, ternyata sangat berkaitan erat dengan tauhid seorang muslim.

Oleh karena itu perlu bagi kita mengenali permasalahan besar ini. Karena tidak jarang keinginan untuk mendapatkan barakah justru mendatangkan murka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mendatangkan Barakah, dan menodai tauhid seseorang. Wal ‘iyadzubillah.

Dienul Islam telah menetapkan bahwa tabarruk merupakan salah satu bentuk ibadah yang mulia. Sehingga tak ayal lagi banyak kaum muslimin yang menunaikannya. Akan tetapi, para pembaca, suatu ibadah tentunya tidak akan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan barakah tersebut tidak teraih melainkan dengan terpenuhinya dua syarat mutlak :
1. Sudahkah ibadah itu dilandasi dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ?
2. Sesuaikah amalan itu dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ?
Dalam mewujudkan dan memperkokoh syarat pertama, hendaklah seseorang meyakini bahwa barakah itu hanya datang dari sisi Allah Ta’ala. Dialah Dzat yang memiliki kesempurnaan, keagungan, dan keluasan barakah.

Tersebut dalam Bada’iut Tafsir 3/282, Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullh ketika menerangkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqon (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Q.S. Al Furqon : 1)
Beliau rahimahullah mengatakan, “Dan sebagian yang lain (para salaf, -pent) berkata, ‘Maknanya, barakah itu datang dari sisi-Nya dan barakah ini seluruhnya dari-Nya’”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memberitakan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna dan mutlak dengan do’anya : “Ya Allah, tidak ada satu pun yang menolak suatu perkara yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi sesuatu yang Engkau tolak. Tidak bermanfaat seorang yang mempunyai kemuliaan di hadapan kemuliaan yang datang dari-Mu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Adapun dalam rangka menumbuhkan amalan tabarruk, sesuai dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam maka perlu kita mengenal bagaimana tabarruk yang disyariatkan dan sekaligus menjauhi tabarruk yang terlarang.

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah di dalam Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid 1/191 berkata: “Dan meminta barakah tidaklah lepas dari dua perkara:

1. Hendaknya bertabarruk dengan perkara-perkara yang syar’i misalnya Al Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan barakah …” (Q.S. Shaad: 29).
Maka diantara barakahnya bahwa barangsiapa yang berpegang teguh dengannya, maka baginya kemenangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah selamatkan banyak umat dari kesyirikan dengan Al Qur’an. Diantara barakahnya bahwa satu hurufnya dibalas sepuluh kebaikan. Hal itu menambah kesempurnaan waktu dan semangat pada manusia. Dan lain sebagainya dari barakah Al Qur’an yang banyak.
2. Tabarruk dengan perkara hissi (yang bisa diraba oleh panca indera), misalnya ilmu, dakwah, dan semisalnya. Maka seseorang bertabarruk dengan ilmu dan dakwahnya yang mengajak kepada kebaikan. Jadilah perkara ini sebagai barakah karena kita mendapatkan kebaikan yang melimpah dengan sebab ilmu dan dakwahnya.

Para pembaca yang mulia, ada beberapa macam tabarruk yang syar’i yang berkaitan dengan ucapan, perbuatan, tempat dan waktu:

1. Ucapan. Misalnya membaca Al Qur’an. Sebagaimana hadits Abu Umamah Al Bahili Radiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim bahwa Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
اقْرَأُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّه يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه
“Bacalah Al Qur’an karena dia (Al Qur’an) akan datang sebagai syafaat pembacanya pada hari kiamat.”
2. Amalan perbuatan. Misalnya shalat berjama’ah di masjid berdasarkan hadits ‘Utsman bin ‘Affan Radiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Muslim bahwa beliau (Utsman, -pent) berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِى الْمَسْجِدِ غَفَرَاللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ
”Barang siapa yang berwudhu untuk menunaikan sholat lalu dia menyempurnakan wudlunya, kemudian berjalan kaki untuk sholat wajib lalu sholat bersama manusia atau jama’ah atau di dalam masjid maka Allah ampuni dosa-dosanya.”
3. Tabarruk dengan tempat-tempat tertentu yang memang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan padanya barakah jika ditunaikan amalan-amalan yang syar’i di dalamnya. Diantaranya Masjid-Masjid Allah Subhanahu wa Ta’ala terkhusus Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, kota Makkah, kota Madinah dan Syam.
4. Tabarruk dengan waktu-waktu yang telah dikhususkan oleh syari’at dengan anugerah barakah, misalnya bulan Ramadhan, Lailatul Qadar, sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, hari Jum’at, sepertiga malam terakhir setiap harinya, dan lain-lain. Tentunya di dalam waktu-waktu tersebut dipenuhi dengan amalan-amalan syar’i untuk mendapatkan barakah.

Dalam bingkai tabarruk yang syar’i ini pada hakekatnya adalah sebuah pengagungan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla yang telah memerintahkan bentuk-bentuk tabarruk tadi, bukan karena semata-mata dzat perkara-perkara (tabarruk) tadi. Kita renungkan ucapan Umar bin Al Khaththab Radiyallahu ‘anhu tatkala mengusap Hajar Aswad:
أَمَا وَاللهِ إِنِّي َلأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْ لاَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu tidak memberikan mudharat dan manfaat. Kalau seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Al Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari mengomentari ucapan Umar tersebut: “Dan di dalam ucapan Umar ini terdapat penyerahan diri kepada peletak syariat dalam perkara-perkara agama, dan ittiba’ (mengikuti) di dalam perkara yang tidak diketahui maknanya. Ini adalah kaidah agung tentang ittiba’ kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam di dalam apa yang beliau kerjakan walaupun tidak diketahui hikmahnya, dan di dalamnya (ucapan Umar) terkandung bantahan terhadap apa yang terdapat pada sebagian orang-orang bodoh, bahwa Hajar Aswad memiliki kekhususan pada dzatnya”.

Namun, saudara-saudara yang mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi barakah dengan risalah ini, ternyata disamping macam-macam tabarruk yang telah diajarkan Dien yang mulia dan suci ini, terdapat macam-macam tabarruk yang menodai kemuliaan dan kesucian tadi.

Al Imam At Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari jalan Abu Waqid Al Laitsi Radiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menuju Hunain sedangkan kami orang-orang yang baru keluar dari kekufuran, Orang-orang musyrikin memiliki pohon yang mereka i’tikaf dan menggantungkan senjata-senjatanya pada pohon tersebut (dalam rangka tabarruk, pent).

Pohon tersebut dinamakan “Dzatu Anwath”. Maka kami melewati pohon itu lalu kami berkata: “Ya Rasulullah buatkan kami “Dzatu Anwath” sebagaimana mereka memiliki “Dzatu Anwath”. Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Allahu Akbar, sesungguhnya hal ini adalah jejak (orang-orang sebelum kalian). Demi dzatku yang ada di tangan-Nya, kalian telah mengucapkan seperti ucapan Bani Isra’il kepada Musa: “Buatkanlah kepada kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan. Dia berkata: “Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Al A’raaf: 138), sungguh kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang sebelum kalian.”

Asy Syaikh Hafidz bin Ahmad Al Hakami rahimahullh di dalam Ma’arijul Qabul 2/645 mengatakan: “Dan oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam menamai i’tikaf dekat pohon-pohon dan menggantungkan persenjataan padanya dalam rangka pengagungan kepadanya sebagai suatu peribadatan.”

Diantara saudara-saudara kita, yang semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala beri hidayah mereka, bertabarruk dengan mengusap-usap tembok Ka’bah, Maqam Ibrahim, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, mengumpulkan tanah-tanah atau bebatuan dari kota Makkah, Madinah, pergi ke kubur-kubur Nabi dan Rasul, untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di sisi kubur-kubur tadi dengan anggapan barakah dan keutamaan yang ada pada tempat-tempat tadi. Pergi ke gua Hira’, gua Tsur, bukit Thur dengan anggapan seperti tadi, mengkhususkan waktu-waktu tertentu dengan perayaan dan ibadah-ibadah seperti Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, Isra’ Mi’raj, hari hijrah nabi, hari Badr dan selainnya dari macam-macam tabarruk yang tidak disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Iqtidla’ Shirathil Mustaqim 2/193 berkata: “Maka jika seseorang berniat shalat di samping sebagian kubur para nabi dan orang-orang shalih dalam rangka tabarruk di tempat-tempat tersebut, maka ini adalah inti penentangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam, penyimpangan terhadap agama, bid’ah yang tidak diizinkan oleh Allah Ta’ala.

Tanya – Jawab
Tanya : Bagaimana hukum mengais barakah dari bekas-bekas orang-orang sholih atau tempat-tempat mulia ?
Jawab : Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah di dalam Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid halaman 167–168 menyatakan, bahwa tabarruk dengan bekas-bekas orang-orang shalih termasuk bentuk tabarruk yang terlarang, karena beberapa sebab: 1.Bahwa orang-orang yang awal mula masuk Islam dari kalangan Shahabat dan setelah mereka tidak pernah melakukan hal itu kepada orang selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, tidak ketika hidupnya atau setelah wafatnya. Kalau seandainya hal itu baik maka niscaya mereka akan mendahului kita dalam mengamalkannya.

2.Tidak boleh seorangpun dari umat ini dikiaskan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam perkara ini (tabarruk kepada dzat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam), karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam memiliki kekhususan–kekhususan ketika hidupnya yang tidak disamai oleh seorang pun.
3. Larangan tersebut sebagai pintu yang menutup jalan menuju kesyirikan yang tidak samar lagi.

Untaian Fatwa :
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafidhahulloh dalam Al Muntaqa terhadap fatwa beliau 1/220 berkata: “Sujud di atas tanah yang disebut ‘tanah kuburan wali’, jika dimaksudkan sebagai tabarruk dengan tanah itu dan mendekatkan diri kepada wali tersebut maka ini adalah syirik besar. Adapun jika yang dimaukan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bersamaan dengan adanya keyakinan tentang keutamaan-keutamaan tersebut, dan sujud di atasnya merupakan suatu keutamaan sebagaimana keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada tanah-tanah suci di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha, maka ini merupakan bid’ah di dalam agama, satu ucapan atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa didasari ilmu, syariat yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sarana dari sarana-sarana agama yang mengantarkan kepada kesyirikan. Hal itu dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menjadikan kekhususan pada suatu tempat selain tempat-tempat syi’ar yang suci dan tiga masjid tersebut. Sampai-sampai tempat-tempat syi’ar dan tiga masjid tersebut tidak disyari’atkan untuk kita mengambil tanahnya kemudian sujud di atasnya. Hanyalah kita disyari’atkan untuk berhaji ke rumah-Nya (Ka’bah, pent) dan shalat di tiga masjid tadi.” Wallahu A’lam Bish Shawab.

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 13/II/1425, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli “Sikap Berlebihan terhadap Orang-Orang Shalih”. Penulis Abdurrahman. Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)

Read Full Post »

Lamongan, 28/7 (Pinmas)–Para calon jamaah haji tak perlu khawatir dengan himbauan pemerintah Arab Saudi terkait pembatasan usia jamaah haji. Menteri agama Muhammad Maftuh Basyuni menegaskan bahwa batasan usia bagi jamaah haji adalah 17 tahun hingga tak terbatas. “Jadi kalau mereka (Pemerintah Saudi) 12 hingga 65 tahun, kita 17 hingga tak terbatas,“ tegas Menag usai meresmikan 33 Madrasah Tsanawiyah satu Atap di Mts Satu Atap Kebon Dalem, Lamongan, Jawa Timur, Selasa (28/9).

“Tapi yang jelas harus sehat walafiat dan memang nanti akan diperketat oleh Depkes,“ papar Menag. Menag juga mengungkapkan bahwa jika nanti calon jamaah sudah mendapatkan visa dari Kedutaan Arab Saudi, Insya Allah sudah bisa berangkat. “Jadi kalau sudah dapat visa, tidak mungkin lagi ditolak di Saudi sana. Kalaupun ada penolakan, itu dilakukan di Kedutaan di sini, dengan tidak dikeluarkannya visa,“ tandas Menag.

Ditegaskan Menag, bahwa jamaah haji Indonesia memang merupakan jamaah yang sudah wajib menunaikan ibadah haji. “Jadi yang sudah baligh. Karena kalau belum baligh, yang nanti tentu harus mengulang lagi ketika sudah baligh,“ tutur Menag.(rep/ts)

Read Full Post »

Older Posts »