Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘hajisehat’

SAKIT saat menunaikan ibadah haji? Mudah-mudahan, tidak. Dengan sehat jasmani dan rohani, jemaah diharapkan dapat melaksanakan semua syarat dan rukun haji dengan baik dan lancar. Namun pada kenyataannya, sakit saat berhaji tidak bisa ditolak. Jemaah haji Indonesia yang saat ini masih terkonsentrasi di Madinah, misalnya, menunjukkan terdapat 86 orang harus diirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI). Bahkan, seorang di antara jemaah haji itu meninggal dunia.

Kepala BPHI Daker Madinah dr Ade Meidian Ambari, menjelaskan, jemaah yang meninggal bernama Nagoro Boru Siregar (perempuan), 80 tahun, jemaah kloter 04 Medan. Ia meninggal dunia karena terserang penyakit komplikasi antara paru-paru dan jantung.

Diungkapkan, selama jemaah tiba di Madinah, BPHI telah merawat 86 jemaah yang sakit, baik rawat jalan maupun rawat inap. Dari jumlah tersebut, 18 orang dirujuk dan dirawat di RS King Fath Madinah karena gangguan stroke dan diabetes militus sehingga harus cuci darah. BPIH masih merawat tujuh jemaah, tiga di antaranya mengalami gangguan kejiwaan.

Menurut Ade, apabila BPHI masih mampu merawat jemaah yang sakit, mereka akan tetap merawat di sini. Karena kalau dirawat di RS King Fath akan ada kendala seperti masalah komunikasi. “Akan tetapi, pasien akan dirujuk ke rumah sakit apabila memang memerlukan perawatan lanjutan karena di BPIH tidak mempunyai fasilitas untuk itu,” katanya.

Bagaimana jemaah haji mesti bersikap saat sakit? Harus diterima sebagai bagian yang mendorong jemaah tetap menjadi mabrur. Artinya, mau sakit, sehat, setengah sakit, atau setengah sehat, tidak ada alasan untuk tidak mabrur. Kata Rasulullah, seorang Muslim bagaikan tangkai padi yang kadang tegak dan kadang merunduk. Artinya, kadang sehat juga kadang sakit.

Apalagi jika orang yang sakit tersebut menerimanya dengan ikhlas atas sakit yang dideritanya. Sebab, konsep Islam menyebutkan bahwa orang sakit justru menerima pahala dari rasa sakitnya, berupa penghapusan dosa. Hadis riwayat Bazaar menggambarkan, orang Mukmin yang sakit kemudian sembuh laksana salju yang turun dari langit karena bersihnya.

Hadis riwayat Ahmad bahkan menyebutkan, “Ketika seorang hamba diberi sakit, Allah berkata kepada malaikat, `Tulislah kebaikan yang biasa dilakukannya ketika sehat. Kalau ia sembuh, mandikanlah ia dan bersihkan. Kalau ia meninggal maka Allah mengampuninya.”

Lalu, apa yang dilakukan jemaah saat sakit? Kalau memungkinkan, obati sendiri. Manfaatkan obat yang dibawa dari tanah air. Saat sakit, biasanya banyak jemaah lain yang ikut memberi saran serta memberi obatnya sekalian. Tetapi apabila sakitnya cukup serius, jemaah bisa menghubungi dokter kloter. Dokter yang selalu menyertai jemaah selama perjalanan akan mengusahakan agar jemaah sakit ini sembuh tanpa harus dirujuk ke rumah sakit.

Jika dokter kloter yang biasanya stand by bersama ketua kloter dan pembimbing ibadah, tak mampu mengatasi sakit yang dialami pasien, mereka biasanya merujuk ke BPHI. Berkoordinasi dengan kantor sektor di mana jemaah tersebut tinggal, jemaah akan diangkut menggunakan ambulans atau kendaraan lain yang memungkinkan.

BPHI lebih mirip dengan puskesmas di tanah air, tetapi memberikan perawatan bagi jemaah selama hal itu masih bisa diatasi. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia menyiapkan tiga BPHI selama musim haji, yaitu di Madinah, Jeddah, dan Mekah. Meskipun demikian, saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) membangun BPHI darurat di Arafah dan Muzdalifah.

Jika di BPHI tidak mampu mengatasi problematika yang dihadapi pasien, terutama berkaitan peralatan, mereka akan mengirimkan pasien tersebut ke berbagai rumah sakit milik pemerintah Arab Saudi. Dalam hal ini, Saudi sesuai dengan ta`limatul haj telah menyiapkan seluruh rumah sakit pemerintah sebagai rujukan tertinggi secara gratis.

Pada prinsipnya, semua jemaah haji yang tiba di Arab Saudi menjadi tanggungan pemerintah setempat, termasuk dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, jemaah haji yang sakit, berapa pun biaya rumah sakitnya, misalnya harus menjalani operasi dan seluruh biaya perawatan serta biaya dokter, semua ditanggung pemerintah Arab Saudi.

Oleh karena itu, secara ekstrem, jika seseorang menderita sakit tertentu yang mengharuskan operasi atau pengobatan hingga ratusan juta rupiah di luar Arab Saudi dan hanya mampu membayar biaya perjalanan ibadah haji (BPIH), dengan biaya BPIH tersebut ia mendapatkan hak pelayanan kesehatan yang nilainya ratusan juta itu.

Semua jemaah yang datang ke Arab Saudi dengan maksud untuk berhaji, maka harus berada di Arafah saat pelaksanaan wukuf di Arafah dalam rentang waktu antara zuhur hingga sebelum magrib. Tanpa wukuf di Arafah, jemaah tersebut tidak disebut sebagai haji. Ketentuan ini berlaku untuk semua jemaah haji, termasuk jemaah yang sakit.

Oleh karena itu, PPIH berusaha membawa jemaah yang sakit dalam keadaan apa pun agar sempat berada di Arafah saat hari wukuf tersebut. Itulah sebabnya, PPHI biasa menggelar safari wukuf, yakni pelayanan wukuf bagi jemaah yang sakit. Dalam hal ini, jemaah dibawa ke Arafah menggunakan mobil ambulans khusus yang dilengkapi berbagai macam peralatan medis.(pikiranrakyat)

Yang ini juga penuh dengan manfaat:

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/kiat-sehat-bugar-selama-naik-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/11/05/sikap-sabar-adalah-suatu-kemestian/

http://oleholehhaji.net/2009/11/05/bersabarlah-terhadap-taqdir-allah-wahai-saudaraku/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

Advertisements

Read Full Post »