Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘harga pemondokan jemaah haji’

Lagi-lagi, saya harus pergi ke Bakhutmah, sektor di arah tenggara Masjidil Haram. Awal saya tiba, beberapa pemondokan di sana belum siap, karena kunci masih dipegang pemilik pemondokan yang selalu berjanji akan menyerahkan keesokan harinya (begitu terus tiap hari ketika ditagih). Pekan lalu, ada seorang jamaah asal Karawang yang meninggal sesaat setelah turun dari bus yang membawanya dari Jeddah. Beberapa hari kemudian, ada sebuah kebakaran kecil di salah satu kamar yang menghanguskan barang bawaan seorang jamaah.

Dua hari lalu, saya dan teman-teman tim Media Center Haji kembali berkunjung ke sana. Beritanya tak main-main, 181 jamaah menuntut pindah. Berita yang sampai ke telinga kami, lumayan seram: ada demo ke kantor sektor (belakangan baru ketahuan, berita itu terlalu banyak bumbunya, kenyataannya tak begitu!) menuntut kepindahan itu.

Tempatnya dinilai tak layak. Mereka meminta dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Beruntung, masih ada kamar di tempat yang dianggap layak itu, dan proses pemindahan tak begitu memakan waktu. Semua lega.

Soal puas tidak puas dengan pemondokan, bukan kali ini terjadi. Di banyak sektor, hal itu kerap terjadi. Ada saja masalahnya. Ada yang mengeluhkan penyejuk udara kurang dingin, air tidak lancar, hingga alasan remeh: teman sekamar yang kurang kooperatif.

Kadang kondisinya memang benar demikian, kadang karena alasan yang berbeda pula. Seorang bapak mengeluhkan kamarnya tidak nyaman dan petugas tidak akomodatif, namun belakangan, dia mengaku tidak nyaman tidur sendiri terpisah dari sang istri yang kamarnya cukup jauh dari kamar tempatnya menginap.

Komplain pemondokan paling sering terjadi di hari pertama kedatangan gelombang pertama calon jamaah haji. Seorang teman mencari permakluman dengan kalimat, “mereka mengalami gegar tempat tinggal.” Sebelumnya, gelombang pertama selama delapan hari bermalam di Madinah. Mereka menginap di pemondokan sekelas hotel berbintang, kecuali yang pemondokannya di lokasi non-Markaziah. Di Makkah, mereka harus menghuni satu kamar berenam hingga berdelapan orang, dipan tak seempuk kasur hotel, dan saling berbagi kamar mandi. Kadang, satu kamar mandi dipakai ber-10 orang.

Di Makkah, saya serasa turun kelas,” ujar seorang jamaah. Ketika di Madinah, akunya, dia memuji pemerintah habis-habisan. “Namun di sini, sungguh mengecewakan.”

Ia menyoal kamar yang ukurannya 4 X 7 dan diisi enam tempat tidur. Penyejuk udara yang dipasang hanya AC window saja yang dirasa dinginnya kurang. “Bilang sama…(dia menyebut nama seorang pejabat di Departemen Agama), dia kemenakan saya, begini kerja anak buahnya.”

Pemondokannya berada di wilayah Bakhutmah, lima kilometer dari masjidil Haram. Berada di Ring II, namun lokasi ini dianggap paling strategis dari Masjidil Haram, karena tak ada jalan berbelok menuju Baitullah, vertikal dengan Ka`bah jika dlihat di peta.

Harga pemondokan di sini juga di atas harga rata-rata pemondokan di Ring II lainnya. Bahkan, jika plafon yang ditetapkan perjamaah 2.500 riyal, sewa rumah di sini 2.800 riyal, alias pemerintah harus nombok 300 riyal perjamaah.

Di balik pintu, Nenek Isah beristighfar berulang kali. Menurutnya, ujian sabar berwujud dalam banyak bentuk. Bagi orang kaya, harta adalah ujiannya. Bagi orang miskin, kekurangan harta ujiannya. Bagi jamaah haji, lamanya berpisah dengan keluarga dan segala tetek-bengek persoalan di Tanah Suci adalah ujiannya. “Ikhlas saja, namanya sedang bertamu. Mosok tamu menuntut macam-macam,” ujar jamaah dari embarkasi Banda Aceh ini.

Menurut warga Langsa ini, berhaji adalah medan untuk belajar bersabar. Bila di Tanah Air sudah bersabar menunggu sampai diberangkatkan selama hampir dua tahun, maka di sini harus lebih sabar lagi. “Dua tahun bersabar saja bisa, kok di sini yang hanya 40 hari tidak bisa,” ujarnya.

Termasuk dalam sabar itu, kata dia, adalah menenggang sikap-sikap yang tak mengenakkan dari rekan-rekan sekamar. “Jadikan semua ladang amal,” ujarnya.

Nenek Isah sendiri bukan tidak mengalami kendala selama di Tanah Suci. Ia kerap “kalah saing” saat berebut naik bus menuju Masjidil Haram. Tapi ia menyiasatinya dengan caranya sendiri, yaitu bergabung dengan jamaah lain menyewa mobil omprengan, dan mengatur jadwal shalat di Masjidil Haram. “Tak harus selalu shalat di sana, bukan?” ujarnya, yang biasanya memilih waktu Maghrib hingga Isya untuk shalat di lantai dua Masjidil Haram, lurus dengan Multazam.

Selama di Tanah Suci, saya seperti dibukakan mata lebar-lebar tentang makna bersabar. Ingatan saya berputar ke belakang. Menghadapi polah anak-anak yang kadang menyesakkan, saya kerap “menyerah”. Menghadapi setumpuk tekanan pekerjaan, saya kerap berpikir untuk “lari”. Saya kerap — sadar atau tidak sadar — mensugesti diri dengan kalimat, “Habis sudah kesabaran saya…” Padahal, bila sudah sampai habis, artinya saya belum bisa bersabar, bukan? Saya malu pada Nenek Isah! (siwi)

Read Full Post »