Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jalan raya di kota Jeddah’

Berikut kisah pengabdian petugas haji Indonesia (PPIH) saat jadwal kepulangan jemaah haji Indonesia tiba. Selayaknya kita memberikan ucapan terima kasih dan doa kepada mereka, karena tanpa jasa mereka bisa jadi Anda tak jadi pulang sesuai jadwal karena Bis yang Anda naiki dari tempat transit tak sesuai rutenya alias “nyasar” .

Selamat dan bangga atas pengabdianmu wahai Kawan. Suara kalian selalu mendominasi Daker Jeddah saat jadwal kepulangan. Semoga Allah balas semua kebaikan kalian.

****************

Tim Buser Harus Kuat lawan Kantuk dan Nyamuk

Konvoi bus yang mengangkut kloter jemaah haji Indonesia, dari Mekah menuju Jeddah, maupun dari Madinah menuju Jeddah harus tetap dalam pantauan dan pengantaran Tim Buser Daker Jeddah. Bila sampai lewat dari pantauan dan pengantaran Tim Buser, bisa jadi terjadi spekulasi terhadap konvoi bus tersebut. Bisa jadi benar sampai ke hotel transit yang menjadi tujuan, atau malah kesasar tidak karuan yang makin lama makin mengurangi hak jemaah menikmati hotel transit.

“Kita tidak bisa berspekulasi melepas bis menuju hotel yang jadi tempat transit yang ada di lokasi yang berbeda dan berjauhan. Tugas kitalah mengantar konvoi ke hotel tujuan, kita mengetahui bagaimana kondisi jalan di Jeddah, yang sering macet dan jalan yang prakis menuju tujuan,” kata Akmaludin Yunus petugas Tim Buser saat bertugas di posnya di Rohili (pintu gerbang Jeddah dari arah Madinah) Jeddah, sore kemarin.

Menurut Akmal sebagai Tim Buser, dirinya dan teman-teman satu shiftnya mempunyai slogan harus kuat lawan kantuk dan nyamuk bila mendapat giliran malam hari. “Resep kita harus fit terus dan harus kuat melawan kantuk dan nyamuk. Insya Allah bisa kita atasi, karena saat pos kita di Amir Fawas (pintu gerbang Jeddah dari arah Mekah) saja, kita mampu atasi itu, apalagi pos kita di Rohili saat ini lebih enak,” kata Akmal.

Menurut Idrus, saat di Amir Fawas, suasananya tidak ada pelindung, karena benar-benar berada di tepi jalan raya di tengah begitu banyaknya debu dan begitu kencangnya angin. “Namun kita tetap senang saja, karena kita bangga dipercaya menjalankan tugas penting untuk menolong jemaah. Dan kami lihat jemaah juga senang melihat bendera merah putih berkibar di kegelapan malam dan di tempat yang sepi yaitu Amir Fawas. Saat ini (di Rohili-red) kami dilindungi bangunan, dekat toko, pom bensin dan ada musalanya,” papar Idrus yang didampingi Masykur Thalib.

Menurut Masykur, yang mengecewakan dirinya dan teman-teman Tim Buser adalah bila bus main nyelonong saja, tidak mau berhenti walaupun sudah diminta berhenti. “Itu biasanya terjadi kalau sopirnya sok tahu. Tapi ya karena sok tahu maka ujung-ujungnya kesasar. Akhirnya malah menambah kerjaan. Ada juga karena sopirnya teledor alias tidak jeli karena hari sudah malam. Untuk itu kitalah yang harus jeli melihat bus itu ada stiker merah putihnya atau tidak,” katanya.

Tak berapa lama kemudian datanglah bus yang membawa kloter 50 SOC. Bus tersebut oleh Tim Buser diminta merapat ke pinggir jalan. “Kita tunggu sampai semua busnya ngumpul. Misalnya satu kloter busnya berapa dulu. Bila sembilan bus misalnya, sudah kumpul enam ya kita pandu ke hotel di Jeddah yang jadi tujuannya. Sementara satu mobil dan tiga personel tetap stand by di sini,” papar Akmaludin.

Menurut dia, hotel transit kloter 50 SOC adalah Madinah Palace. Tak lama kemudian datanglah Hi Ace yang membawa konsumsi bagi Tim Buser. “Alhamdulillah rombongan datang tepat waktu, logistik datangnya juga tepat waktu. Ini karena didatangi MCH jadi tepat,” canda Idrus, dan suasana pun gerr.
Memang kita perlu menikmati dan gerr barang sebentar untuk mengemban tugas yang penting bagi umat dan bangsa di ruang terbuka diluar kota Jeddah seperti ini. (Hartono Harimurti)

Advertisements

Read Full Post »