Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jamaah haji indonesia’

Gambar 1.  BPHI Gate 21 Bandara KAAI

Gambar 2. Ruang Pelayanan Kesehatan

Gambar 3. Layanan Cepat Ambulan BPHI Bandara KAAI non stop 24 jam

Advertisements

Read Full Post »

Kejujuran masih terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakat berhaji dan kehidupan di Tanah Suci. Bahwa terjadi tindak kriminal, hal itu sama sekali tidak mencerminkan keadaan yang menakutkan dalam pelaksanaan rukun Islam kelima. Karena tindak kejahatan sangat sedikit dan tidak mewakili jemaah haji yang sedemikian massal.

Kejujuran ditunjukkan jemaah asal Turki saat menemukan bungkusan amplop dalam tas keresek yang diikat karet di lingkungan masjid di wilayah Shisya, Selasa (17/11). Setelah dicek, dalam amplop tersebut terdapat uang RS 1.500 atau sekitar Rp 5 juta.

Saat itu, seorang penceramah asal Turki sedang berpidato menjelang salat zuhur di masjid. Tiba-tiba, jemaah yang menemukan amplop tersebut maju ke depan mimbar dan menyerahkan amplop tersebut kepada sang juru dakwah. Saat waktu zuhur kurang lima menit, pendakwah ini mengumumkan bahwa ditemukan uang dalam amplop yang dibungkus plastik.

“Barang siapa yang merasa kehilangan dipersilakan menghubungi dirinya serta jemaah asal Turki yang menemukannya, dengan membawa barang bukti bahwa dirinya kehilangan,” kata juru dakwah tersebut.

Tidak seorang pun jemaah Masjid Shisya yang merasa kehilangan. Dua orang jemaah Indonesia yang duduk di depan kemudian ikut meneliti temuan jemaah Turki itu. Ternyata, amplop yang ditemukan ada stempel jemaah Jawa Timur yang menunjukkan bahwa uang tersebut adalah biaya “living cost”.

Karena waktu sudah masuk, azan zuhur pun berkumandang. Tapi begitu azan selesai, jemaah Indonesia yang ikut meneliti barang temuan itu diminta mengumumkan dalam bahasa Indonesia. Maka jemaah asal Makassar, Sulawesi Selatan itu mengumumkan adanya temuan. Tapi, lagi-lagi tak seorang pun jemaah merasa kehilangan.

Akhirnya diputuskan, penceramah, penemu uang, ditemani Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia H. Mubarok menyerahkan uang temuan kepada Kepala Daerah Kerja Mekah H. Subakin. Kadaker kemudian meminta stafnya untuk menelusuri jemaah asal Surabaya yang kehilangan untuk diserahkan kepada pemiliknya.

Kasus kecopetan

Lain lagi kasus yang menimpa petugas haji di Madinah. Malam itu ia diantar sopir akan berbelanja di di Jln. King Fahd. Tiba-tiba dari sebelah kiri mobilnya digedor dengan keras oleh seseorang. Setelah dibuka, rupanya orang tersebut menawarkan ziarah, meskipun malam hari.

Saat mobil sebelah kiri depan digedor, tas yang ada di dalam dashboard depan diambil copet dari sebelah kanan. Tak disadari sama sekali, petugas ini dalam hitungan detik sudah kehilangan dompet itu. Anehnya, keesokan harinya, seorang jemaah asal Bangladesh datang ke Kantor Daerah Kerja Madinah. Ia mengantarkan tas yang berisi uang lebih dari RS 5.000 atau setara dengan Rp 13 juta.

Jemaah yang membawa tas tersebut bercerita, dirinya merasa aneh karena di dalam mobil bak terbuka miliknya tiba-tiba ada tas hitam. Setelah dibuka, tas tersebut ternyata berisi uang, ID card, dan flash disk, dan sejumlah surat penting yang lain. Karena terdapat ID card petugas haji Indonesia, jemaah Bangladesh itu selama berjam-jam mencari kantor Safarah Indonesia dan akhirnya menemukan Kantor Daker Madinah itu.

Penemu tas tersebut kemudian dipertemukan dengan petugas yang kehilangan tas. Sebelum menyerahkan tas itu, jemaah Bangladesh melakukan “tes”. “Apa yang ada dalam tas tersebut?” kata dia.

“Ada uang lebih dari RS 5.000, ada telefon seluler, ada id card, ada beberapa permen, dan ada telefon seluler,” kata petugas haji yang kehilangan sembari mulai optimis setelah seharian merasa bersalah karena kehilangan barang.

“Betul,” jawab jemaah Bangladesh. “Tapi masih ada barang penting lain, berupa flash disk. Berapa jumlahnya?” kata dia. Petugas haji yang kehilangan ini pun langsung teringat bahwa flsh disk yang ada di dalamnya berisi tiga buah. “Betul,” kata jemaah Bangladesh.

Maka jemaah Bangladesh itu pun menyerahkan tas kepada pemiliknya. Sebagai tanda terima kasih, petugas itu menyerahkan sejumlah uang kepada jemaah Bangladesh. Tapi ia tidak bersedia menerimanya. Karena mengembalikan harta kepada pemiliknya adalah kewajiban seorang Muslim.

Rupanya pencopet segera mengambil telefon di dalam tas tersebut, kemudian secara kilat melemparkan tas sisanya ke dalam mobil bak terbuka yang sedang terkena macet. Pencopet pun tidak mudah beraksi di Tanah Suci. Sebab saat ketahuan dia mencuri dan memiliki barang bukti, dia akan dihukum berat. Maka, begitu mengambil handphone dia langsung melemparkan tas yang berisi uang sekitar Rp 13 juta.

Begitulah, kejujuran masih terpelihara dengan baik di kalangan jemaah haji. Bahkan untuk memelihara kejujuran ini, pemerintah Arab Saudi memberikan sanksi keras kepada siapa pun yang mencoba tidak jujur. Akibat “treatment” ini, seorang petugas haji di Madinah tahun 1429 sempat ditahan aparat keamanan.

Saat itu, dia menemukan uang di dalam Masjid Nabawi. Maksud hati ia akan menyerahkan uang itu kepada bagian penemuan barang di dalam masjid. Karena menjelang salat, ia memasukkan uang itu ke dalam kantong sakunya, dengan maksud akan menyerahkan barang temuannya ke bagian kehilangan barang. Namun malang, sebelum salat berlangsung, dia sudah ditangkap aparat keamanan setempat karena penemuan barang itu terpantau oleh CCTV yang selalu mengawasi seluruh gerak-gerik jemaah. Setelah melakukan klarifikasi, petugas itu baru dilepaskan. (Wachu)

Read Full Post »

Masjidil Al Haram, masjid yang memiliki nilai tinggi bagi umat Muslim di seluruh dunia, khususnya karena keberadaan Ka’bah atau Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul ‘Atiq (Rumah Kemerdekaan) yang permulaannya dibangun para malaikat itu ada di dalamnya. Untuk itu berjuta-juta umat Muslim mendatangi Baitullah setiap musim Ibadah Haji di Makkah Al Mukarramah, Arab Saudi.

Saat ini, guna membuat nyaman para Tamu Allah dalam melakukan beribadah, khususnya pada musim haji, pemerintah Arab Saudi melakukan sejumlah perombakan Masjidil Haram dan proyek pembangunan di sekitar kota Makkah ini. Dari pantauan detikcom yang bergabung dengan Media Center Haji (MCH) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), sejak tiba di Makkah, 23 Oktober 2009 lalu sampai Jum’at (13/11/2009) melihat proyek pembangunan yang terus dilakukan selama 24 jam setip harinya.

Bahkan, ketika waktu salat pun, bunyi traktor dan becho menghancurkan batu-batu gunung terus berbunyi. Pemolesan untuk sentuhan akhir bangunan di areal Masjidil Haram pun terus dilakukan. Namun, semua itu tidak membuat buyar konsentrasi ratusan, bahkan jutaan jamaah calon haji yang datang ke Masjidil Haram.

Bagi jamaah calon haji yang baru pertama kali datang ke kota suci ini mungkin hanya bisa melihat begitu luas dan eksotisnya Masjidil Haram dan bangunan mewah nan megah di depannya. Tapi bagi jamaah yang sudah berulang kali melakukan ibadah Haji, mungkin merasa ada yang kehilangan.

Bila 2 tahun lalu jamaah calon haji bisa melihat hiruk pikuknya pusat perdagangan di Jalan Al Gudaria yang berada di antara Kampung Qararah dan Suq ul-Lail, yang jaraknya 50 meter dari Masjidil Haram. Di jalan itulah dulu ada sebuah pasar tradisinal yang disebut Pasar Seng sepanjang 300 meter.

Pasar Seng yang dulunya selalu menjadi tempat favorit jamaah Indonesia berbelanja, saat ini menjadi tempat terbuka dan tinggal kenangan. Namun belum terlihat ada bangunan. Hanya puluhan kios yang memberikan layanan potong rambut masih berdiri berjejer, namun sifatnya tidak permanen.

Bangunan ini setiap saat bisa digusur. Tidak ada lagi toko yang menjajakan tasbih, tas, pakaian, jam, dan barang elektronik seperti di masa lalu, hanya beberapa bagalah (warung) yang menjajakan minuman yang masih berdiri dengan bangunan yang tidak permanen. Toko yang dulu sangat meriah kini mundur ke belakang.

Kenangan satu-satunya yang tersisa, Maulid Nabi, sebuah bangunan yang dulunya merupakan rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Saat ini bangunan ini dijadikan perpustakaan dan selalu terkunci rapat dan dijaga askar. “Itu memang jarang dibuka, karena dikuatirkan terlalu dilebih-lebihkan oleh jamaah,” ujar seorang mukimin yang ditemui.

Bukit Batu pun Dirobohkan

Selain itu, sejumlah bukit batu di sekitar depan Masjidil Haram juga menghilang. Salah satu di antaranya Jabal (bukit) Abu Qubais. Saat ini Jabal Abu Qubais, yang letaknya di muka pintu Babusalam Masjidil Haram itu, hilang berganti bangunan Istana Raja Saudi yang tinggi dan megah. Istana ini juga berguna bagi para pemimpin atau tamu negara yang akan beribadah di Makkah.

Pada awal pembangunan di bukit ini ditentang sebagian kalangan umat Muslim. Pasalnya, banyak peristiwa bersejarah yang berkaita dengan Jabal Abu Qubais ini. Mulai dipercayainya kebedaraan Makam Siti Hawa, tapi ini diragukan, karena justru banyak jamaah yang menziarahi makamnya di Jeddah.

Sebelum dibongkar dan dibangun Istana Raja, di kawasan bukit ini dulunya merupakan perkampungan, yang banyk dihuni Syeikh (Ulama) dan sejumlah pelajar yang ingin mendalami agam. “Semua sudah hilang. Banyak Syeikh-Syeikh yang pindah ke pinggiran kota Makkah. Ada yang ke Misfalah, Kholidiyah dan Aziziyah,” ungkap Iqbal, seorang mukimin asal Indonesia.

Jabal Abu Qubais yang dulunya dikenal juga dengan sebutan Jabal al Amin (bukit kepercayaan). Karena, Allah SWT telah menyelamatkan batu atau Hajar Aswad ketika topan dan banjir bah dasyat di zaman Nabi Nuh AS. Hajar Aswad kembali ditemukan oleh Nabi Ibrahim AS atas pertolongan Malaikat Jibril, ketika akan membangun Baitullah yang hancur.

Bahkan, nama Jabal Abu Qubais ini disebut-sebut dalam sebagian Kitab Tafsir Al Quran, seperti Tafsir Al Jalalain dan Tafsir Al Qurthubi. Dalam tafsir ini disebutkan firman Allah SWT, “Dan serukanlah umat manusia untuk mengerjakan ibadah Haji, niscaya mereka akan datang ke rumah Tuhanmu dengan berjalan kaki, dan dengan menunggang berjenis-jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan (dan ceruk rantau) yang jauh,” (Surat Al Hajj, ayat 25).

Tafsir itu yang juga meriwayatkan tentang peristiwa itu dari Sayyidina Ibnu ‘Abbas RA dan Sayyidina Ibnu Jubair RA. Diceritakan setelah Nabi Ibrahim menyelesaikan perbaikan dan pembangunan Baitullah, maka Allah SWT berfirman kepadanya tentang perintah haji. Nabi Ibrahim lalu menaiki Jabal Abu Qubais  dan berseru, “Wahai manusia! Bahawasanya Allah telah memerintahkan kamu untuk menunaikan haji ke Baitullah ini, untuk diganjari kamu dengan haji tersebut akan syurga dan diselamatkan kamu daripada azab neraka, maka berhajilah kamu.”

Riwayat lainnya, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW memperlihatkan mujizatnya dari Allah SWT yang membelah bulan menjadi dua bagian. Kejadian itu dipertunjukan kepada kaum musyriki Makkah. Mereka baru percaya ketika bulan itu benar-benar terbelah dua, satu bagian di atas Jabal Abu Qubais dan satunya lagi di Jabal Qiiqa atau Hindi.

Bila pada tahun-tahun sebelum pembangunan di kawasan ini, para jamaah calon haji sering menaiki Jabal Abu Qubais hanya untuk mengenang peristiwa Nabi Ibrahim AS tersebut. Bahkan, kadang-kadang para jamaah sering bernazar untuk memanggil sanak keluarganya supaya bisa berhaji. Tempat ini sebagain dipapas selain untuk Istana Raja juga untuk pelataran Masjidil Haram.

Selain Jabal Abu Qubais, bukit lainnya yang dikorbankan untuk proyek pembangunan ini adalah Jabal Syamiya yang terletak di sisi utara Masjidil Haram. Saat ini terlihat sejumlah bangunan dirobohkan dan meruntuhkan bebatuan gunung, digali dan dipancangkan beton-beton pondasi.

Begitu juga di Jabal Omar yang terletak sebelah barat daya Masjidil Haram juga segera dirobohkan. Di lokasi ini akan dibangun komplek perumahan dan hotel serta pusat belanja. Selain itu, tempat ini juga akan dibangun tempat perluasan tempat salat yang mampu menampung 120.000 orang. Di bagian tenggara Masjidil Haram, di sekitar Rumah Sakit Ajyad, segera dibangun rumah sakit modern dan pusat kesehatan yang dilengkapi fasilitas gawat darurat.

Menurut sejumlah mukimin yang tinggal di Makah, di luar musim haji, gedung dan perhotelan yang besar diruntuhkan menggunakan dinamit. Dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi, gedung-gedung itu diruntuhkan dalam hitungan menit tanpa menimbulkan kerusakan pada lingkungan.

Yang menarik dari proyek-proyek pembangunan itu, tidak sedikit pun debu berterbangan, apalagi masuk ke Masjidil Haram sampai mengganggu jamaah. Karena dalam pegerjaan penghancuran tersebut, para pekerja selalu menyemprotkn air ke bebatuan dan pasir.

Kemungkinan hasil pembangunan baru di kota Makkah ini baru bisa dinikmati pada musim haji berikutnya atau lima tahun ke depan. Proyek besar-besaran oleh pemerintah Arab Saudi yang menelan puluhan miliar Riyal Saudi ini untuk kenyamanan jamaah calon haji. (zal/djo)

Read Full Post »

Banyak tradisi berkembang di masyarakat yang mengiringi orang yang hendak menunaikan ibadah haji. Sebagai ibadah yang membutuhkan pengorbanan besar, seyogyanya kita jangan sampai melakukan amalan yang bisa merusak ibadah haji ini. Yang pasti, ibadah haji harus dilakukan di atas niat yang tulus yaitu untuk mengharap balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan dijalankan di atas tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rambu-rambu Penting dalam Beribadah
Manusia adalah satu-satunya makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyatakan diri siap memikul “amanat berat” yang tidak dimampui oleh makhluk-makhluk besar seperti langit, bumi, dan gunung-gunung. Padahal makhluk yang bernama manusia ini berjati diri zhalum (amat dzalim) dan jahul (amat bodoh). Amanat itu adalah menjalankan segala apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan dan menjauhi segala apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan (beribadah kepada-Nya). Sebagaimana dalam firman-Nya:

إِِنَّا عَرَضْنَا اْلأََمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً

“Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu karena khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat permasalahan amanat yang Dia amanatkan kepada para mukallafiin. Yaitu amanat menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan, baik dalam keadaan tampak maupun tidak. Dia tawarkan amanat itu kepada makhluk-makhluk besar; langit, bumi dan gunung-gunung sebagai tawaran pilihan bukan keharusan, ‘Bila engkau menjalankan dan melaksanakannya niscaya bagimu pahala, dan bila tidak, niscaya kamu akan dihukum’. Maka makhluk-makhluk itu pun enggan untuk memikulnya karena khawatir akan mengkhianatinya, bukan karena menentang Rabb mereka dan bukan pula karena tidak butuh akan pahala-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menawarkannya kepada manusia, maka ia pun siap menerima amanat itu dan memikulnya dengan segala kedzaliman dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Maka amanat berat itu pun akhirnya berada di pundaknya.” (Taisirul Karimir Rahman, hal. 620)

Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana, tidaklah membiarkan manusia mengarungi kehidupannya dengan memikul amanat berat tanpa bimbingan Ilahi. Maka Dia pun mengutus para Rasul sebagai pembimbing mereka dan menurunkan Kitab Suci agar berpegang teguh dengannya serta mengambil petunjuk darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ اْلكِتَابَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Kitab Suci dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid: 25)

Maka dari itu, jalan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala amatlah jelas dan terang, termasuk ibadah haji. Karena semuanya telah tercakup dalam Al-Qur`an dan Sunnah Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam. Adapun rambu-rambu penting dalam beribadah yang dikandung Al-Qur`an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, semuanya bermuara pada dua perkara penting:
1. Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
2. Mengikuti tuntunan dan jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dua perkara tersebut merupakan pangkal kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan juga di akhirat.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang memerhatikan kondisi alam ini, niscaya ia akan mengetahui bahwasanya sebab dari semua kebaikan yang ada di muka bumi ini adalah beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata (tauhidullah) dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan sebab dari kerusakan, fitnah, bala`, paceklik, dan kekalahan dari musuh adalah menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyeru kepada selain jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.” (Bada`i’ul Fawa`id, 3/17)

Bahkan keduanya merupakan barometer, apakah sebuah ibadah yang dilakukan seseorang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala ataukah ditolak.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata: “Sebuah ibadah tidak bisa untuk bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan tidak diterima oleh-Nya kecuali dengan dua syarat:
1. Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan mempersembahkan ibadah tersebut semata-mata mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebahagian di negeri akhirat, tanpa ada niatan mengharap pujian dan sanjungan manusia.
2. Mengikuti (tuntunan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah, baik dalam hal ucapan atau pun perbuatan. Mengikuti (tuntunan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mungkin terealisasi dengan baik kecuali dengan mengetahui Sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, siapapun yang berkeinginan untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia harus mempelajari Sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dari para ulama yang mumpuni. Bisa dengan berkoresponden ataupun dengan berkomunikasi secara langsung. Dan merupakan kewajiban bagi para ulama, sang pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menerapkan (terlebih dahulu, pen.) Sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah, akhlak, dan muamalah mereka. Kemudian berupaya untuk menyampaikan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut kepada umat agar kehidupan mereka terwarnai dengan warisan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam bentuk ilmu, amal perbuatan, dan dakwah. Sehingga mereka termasuk orang-orang sukses yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, beramal shalih, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran.” (Al-Manhaj Limuridil ‘Umrah wal Hajj)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu berkata: “Jika kebahagiaan umat terdahulu dan yang akan datang dikarenakan mengikuti jejak para Rasul, maka dapatlah diketahui bahwa orang yang paling berbahagia adalah yang paling berilmu tentang ajaran para Rasul dan paling mengikutinya. Maka dari itu, orang yang paling mengerti tentang sabda para Rasul dan amalan-amalannya serta benar-benar mengikutinya, mereka itulah sesungguhnya orang yang paling berbahagia di setiap masa dan tempat. Dan merekalah golongan yang selamat dalam setiap agama (yang dibawa para Rasul tersebut, pen.). Dan dari umat ini adalah Ahlus Sunnah wal Hadits.” (Ad-Durar As-Saniyyah, juz 2, hal. 21)

Al-Imam Malik rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid’ah) yang dia pandang itu adalah baik, sungguh ia telah menuduh bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat terhadap risalah (yang beliau emban). Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan agama bagi kalian, dan Aku telah lengkapkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” Atas dasar ini, segala perkara yang pada waktu itu (yakni di masa Nabi/para shahabat) bukan bagian dari agama, maka pada hari ini pula perkara itu bukan termasuk agama.” (Al-I’tisham, 1/49)

Ibadah Haji dan Keutamaannya
Para pembaca yang mulia, di antara sekian bentuk ketaatan (ibadah) yang paling utama dan sarana bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang termulia adalah ibadah haji. Bahkan ia termasuk ibadah yang Allah  wajibkan, dan termasuk salah satu dari rukun Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Agama Islam dibangun di atas lima perkara; bersyahadat bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Nabi Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16, dari shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya untuk berhaji melalui lisan Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam, agar para hamba dapat menyaksikan segala yang bermanfaat bagi kebaikan hidup dunia dan akhirat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَىكُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“Dan umumkanlah kepada manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan mendatangimu dengan berjalan kaki atau mengendarai unta kurus dari segala penjuru yang jauh untuk menyaksikan segala yang bermanfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 27-28)

Sebagaimana pula Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan orang-orang yang mampu berhaji agar mereka mempersembahkan ibadah hajinya hanya untuk-Nya semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ

“Dan hanya karena Allahlah haji ke Baitullah itu diwajibkan bagi manusia yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang kafir maka sesungguhnya Allah tidak butuh terhadap seluruh alam semesta.” (Ali ‘Imran: 97)

Junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendorong umatnya untuk menunaikan ibadah yang mulia ini. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ. فَقَامَ اْلأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ: أَفِي كُلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ، وَلَوْ وُجِبَتْ لَمْ تَعْمَلُوا بِهَا وَلَمْ تَسْتَطِيْعُوا أَنْ تَعْمَلُوا بِهَا، الْحَجُّ مَرَّةً، فَمَنْ زَادَ فَتَطَوَّعَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada kalian ibadah haji!” Maka berdirilah Al-Aqra’ bin Habis seraya mengatakan: “Apakah haji itu wajib ditunaikan setiap tahun, ya Rasulullah?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: “Kalau aku katakan; ya, niscaya akan menjadi kewajiban setiap tahun. Dan bila diwajibkan setiap tahun, niscaya kalian tidak akan menunaikannya, bahkan tidak akan mampu untuk menunaikannya. Kewajiban haji itu hanya sekali (seumur hidup). Barangsiapa menunaikannya lebih dari sekali, maka dia telah bertathawwu’ (melakukan perbuatan sunnah).” (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, Ad-Darimi, Ad-Daraquthni, Al-Hakim dan Ahmad, dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Lihat Irwa`ul Ghalil, karya Asy-Syaikh Al-Albani juz 4 hal. 149-150)

Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan akan pahalanya yang besar, ganjarannya yang banyak dan sebagai penebus bagi segala dosa. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa berhaji karena Allah lalu tidak berbuat keji dan kefasikan (dalam hajinya tersebut), niscaya dia pulang dari ibadah tersebut seperti di hari ketika dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa).” (HR Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 1521 dan Muslim no. 1350, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

“Antara satu umrah dengan umrah berikutnya merupakan penebus dosa-dosa yang ada di antara keduanya, dan haji mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali Al-Jannah.” (HR Muslim no. 1349, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Kewajiban Menunaikan Ibadah Haji dengan penuh Keikhlasan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Setiap jamaah haji berkewajiban untuk memurnikan niat hajinya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan untuk bertaqarrub kepada-Nya semata. Sebagaimana pula harus berhati-hati dari tujuan duniawi, berbangga diri, mengejar gelar/sebutan (pak haji/bu haji, pen.), ingin dilihat orang atau mencari pamor. Karena semua itu dapat membatalkan amalan (haji anda, pen.) dan menjadikannya tidak diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat Taudhihul Ahkam, juz 4 hal. 3-4).

Hal senada disampaikan Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Beliau berkata: “Merupakan suatu kewajiban atas seorang yang berhaji untuk meniatkan haji dan umrahnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan kebahagiaan di negeri akhirat serta meniatkannya untuk bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala perkataan dan perbuatan yang diharapkan dapat mendatangkan ridha-Nya di tempat-tempat yang mulia tersebut. Dan hendaknya selalu waspada dari tujuan duniawi, riya` (ingin dilihat orang), mencari pamor, dan untuk gagah-gagahan semata. Karena ini merupakan sejelek-jelek niatan dan termasuk sebab tertolaknya suatu amalan.” (At-Tahqiq wal Idhah Lil-Katsir Min Masa`ilil Hajji wal ‘Umrah, hal.12)

Kewajiban Menunaikan Ibadah Haji sesuai Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Perjalanan suci menuju Baitullah membutuhkan bekal yang cukup. Di samping bekal harta, ilmu pun merupakan bekal yang mutlak dibutuhkan. Dengan ilmu lah, seseorang menjadi terbimbing dalam melakukan ibadah hajinya dan sesuai dengan Sunnah (tuntunan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu, akan terhindar dari berbagai macam bid’ah dan kesalahan, sehingga hajinya pun sebagai haji mabrur yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah.

Dalam momentum hajjatul wada’ (haji terakhir), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan pesan khusus kepada umatnya, agar mereka menunaikan ibadah haji sesuai dengan tuntunan manasik beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku tuntunan manasik haji kalian.” (HR. Muslim no. 1297)
Para shahabat pun sangat memerhatikan pesan beliau ini. Tak heran, jika banyak didapati berbagai riwayat tentang manasik haji yang mereka jalani bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula para ulama, tidak sedikit dari mereka yang menyusun kitab-kitab tentang manasik haji baik yang detail atau pun yang sederhana. Semua itu menggambarkan kepada kita bahwasanya para pendahulu umat ini telah mempersembahkan untuk kita ilmu tentang manasik haji, agar kita dapat berhaji sesuai dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka dari itu, di antara nasehat yang selalu disampaikan para ulama kita kepada calon jamaah haji adalah; hendaknya mereka serius untuk mempelajari dan mendalami ilmu (tuntunan) manasik haji sebelum menunaikannya, dengan satu harapan agar ibadah haji yang ditunaikannya benar-benar sempurna dan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata: “Kami nasehatkan kepada calon jamaah haji, agar belajar terlebih dahulu tentang manasik haji yang dituntunkan di dalam Al-Qur`an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menunaikan ibadah hajinya. Sehingga amalan haji yang ditunaikannya itu benar-benar sempurna dan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 10)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Sudah seharusnya bagi seseorang yang hendak berhaji untuk mempelajari dan mendalami segala yang disyariatkan tentang haji dan umrahnya. Dan hendaknya dia juga menanyakan hal-hal yang belum dipahaminya (kepada seorang yang berilmu, pen.) agar ibadah haji yang ditunaikannya benar-benar di atas bashirah (ilmu).” (At-Tahqiq wal Idhah, hal. 13)

Fenomena Taqlid dan Mengikuti Tradisi dalam Berhaji
Para pembaca yang mulia, bila kita memerhatikan sekian kesalahan yang terjadi pada kebanyakan jamaah haji, maka penyebabnya bermuara pada dua faktor:
1. Faktor dari dalam
2. Faktor dari luar

Faktor dari dalam adalah penyebab yang berasal dari diri jamaah haji itu sendiri. Hal ini terjadi manakala seorang jamaah haji mengabaikan bekal ilmu yang hakikatnya merupakan bekal utama yang harus dia persiapkan. Tentunya, ketika bekal ilmu tidak dimiliki maka manasik hajinya pun jauh dari manasik haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia akan lebih cenderung mengikuti manasik haji yang dilakukan oleh mayoritas orang (tradisi) di sekitarnya. Padahal apa yang dilakukan oleh mayoritas orang itu belum tentu sesuai dengan tuntunan manasik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Permasalahan pun semakin runyam manakala di antara jamaah haji itu ada yang berkeyakinan bahwasanya mengikuti manasik haji/ tradisi yang biasa dilakukan mayoritas orang itu merupakan jaminan kebenaran.

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Di antara masalah (yang terjadi di masa, pen.) jahiliyyah adalah bahwasanya mereka mengukur suatu kebenaran dengan jumlah mayoritas, dan menilai suatu kesalahan dengan jumlah minoritas. Sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang berarti salah. Inilah patokan yang ada pada diri mereka dalam menilai yang benar dan yang salah. Padahal patokan ini keliru, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُم إِلاَّ يَخْرُصُوْنَ

“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Al-An’am: 116)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (Al-A’raf: 187)

وَمَا وَجَدْنَا لأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقُوْنَ

“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (Al-A’raf: 102).Dan lain sebagainya.” (Syarh Masa`il Al-Jahiliyyah, hal. 60)

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy-Syaikh berkata: “Dalam hadits ini1 terdapat bantahan terhadap orang yang berdalih dengan hukum mayoritas, dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama mereka. Tidaklah demikian adanya. Bahkan yang semestinya adalah mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir Al-‘Azizil Hamid, hal.106).

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh berkata: “Hendaknya seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu dengan jumlah mayoritas, karena telah banyak orang-orang yang tertipu (dengannya). Termasuk orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun. Mereka berkeyakinan di dalam beragama sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang bodoh lagi sesat (mengikuti mayoritas manusia, pen.) dan tidak mau melihat kepada apa yang dikatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.” (Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, dinukil dari ta’liq kitab Fathul Majid, hal. 83, no. 1)

Para pembaca, dengan demikian “budaya” ngikut tradisi atau ngikut mayoritas orang dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (termasuk dalam menunaikan ibadah haji), tidak bisa dibenarkan dalam syariat Islam. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi umat Islam untuk berupaya meniti jejak Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam dalam segala amal ibadahnya, agar apa yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut tidak sia-sia bahkan tercatat sebagai amalan shalih.

Adapun faktor penyebab dari luar adalah adanya orang-orang yang mudah berfatwa tentang urusan agama (termasuk masalah haji) tanpa ilmu.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Sebagian kaum muslimin –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada mereka– melakukan banyak perkara ibadah tanpa berasaskan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih dalam masalah haji, yang seringkali penyebabnya adalah adanya orang-orang yang mudah berfatwa tanpa ilmu, serta saling berlomba untuk mengeluarkan fatwa demi meraih pujian dan popularitas. Sehingga terjadilah kesesatan dan penyesatan (terhadap umat).” –Hingga perkataan beliau–: “Kebanyakan kesalahan yang terjadi pada jamaah haji berpangkal dari sini (yakni; fatwa tanpa ilmu) dan saling meniru di antara mereka (orang-orang awam) tanpa ada kejelasan dalilnya.” (Akh-tha`un Yartakibuha Ba’dhul Hujjaj)

Maka dari itu, kami serukan kepada segenap jamaah haji untuk benar-benar selektif dalam memilih guru pembimbing haji. Carilah guru pembimbing yang berilmu dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam, agar haji yang anda lakukan tergolong haji mabrur.

Sebagaimana pula kami serukan kepada segenap jamaah haji agar menjauhi sikap taqlid buta dalam beribadah, termasuk ketika berhaji. Baik taqlid buta terhadap tradisi, ormas, partai, atau pun tokoh/panutan/ustadz/kyai, dsb. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela sikap taqlid buta dalam beberapa ayat-Nya dan menjelaskan kepada kita bahwasanya sikap taqlid buta itu merupakan kebiasaan kaum musyrikin2 ketika dakwah para nabi sampai kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُوْنَ. بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

“Apakah seandainya telah kami datangkan kepada mereka sebuah kitab (hujjah) sebelum munculnya kesyirikan yang mereka lakukan, kemudian mereka mau berpegang dengannya? Ternyata justru mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendapati nenek moyang kami di atas sebuah prinsip (aqidah yang mereka yakini), maka kami adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak pendahulu kami.” (Az-Zukhruf: 21-22)

Para imam yang empat sendiri, tidak menganjurkan murid-muridnya dan segenap kaum muslimin untuk taqlid buta kepada mereka. Bahkan mereka berpesan agar umat ini kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang shahih.

Berikut ini kami bawakan beberapa nukilan dari perkataan mereka yang terdapat dalam kitab Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Asy-Syaikh Al-Albani (hal. 46-53):

 Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah mengatakan: “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana dasar hujjah yang kami ambil.” Dalam riwayat lainnya, beliau mengatakan: “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai, untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, pendapat yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk darinya (kami tinggalkan pendapat tersebut).”
 Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan: “Saya hanyalah manusia biasa yang mungkin salah dan mungkin benar. Maka telitilah pendapatku, apabila sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah maka ambillah. Dan apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”
 Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat tersebut baik ketika saya masih hidup atau pun meninggal dunia.”
 Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: “Janganlah kalian taqlid kepadaku dan jangan pula taqlid kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, atau (Sufyan) Ats-Tsauri. Akan tetapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambil.”

Penutup
Para pembaca yang mulia, setelah kita lalui beberapa bahasan di atas maka dapatlah disimpulkan:
1. Sebuah ibadah akan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala manakala terpenuhi dua syarat; ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Ibadah haji merupakan jenis ketaatan yang utama dan salah satu bentuk taqarrub yang termulia. Karena itu haruslah dipersembahkan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tanpa diiringi niatan duniawi, mencari nama, gelar, pamor, dan lain sebagainya.
3. Perjalanan ke tanah suci sangat membutuhkan bekal ilmu. Karena dengan ilmulah, seseorang akan terbimbing dalam melakukan ibadah hajinya sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu, akan terhindar dari berbagai macam bid’ah dan kesalahan sehingga hajinya pun sebagai haji mabrur yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah.
4. Seseorang yang akan menunaikan ibadah haji hendaknya mencari guru pembimbing yang berilmu lagi berpegang-teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar haji yang ditunaikannya benar-benar di atas ilmu dan bashirah.
4. Sikap ikut-ikutan dalam beribadah (termasuk ketika berhaji) merupakan perbuatan tercela. Demikian pula sikap taqlid buta terhadap tradisi, ormas, partai, atau pun tokoh/panutan/ustadz/kyai dan lain sebagainya.
5. Para imam yang empat; Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad telah bersepakat agar umat Islam kembali/merujuk kepada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih di dalam menjalankan agamanya. Sebagaimana pula mereka telah bersepakat agar umat Islam meninggalkan pendapat mereka manakala tidak sesuai dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Mudah-mudahan hidayah dan taufiq Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengiringi kita semua, amin.
Wallahul Muwaffiq wal Hadi ila aqwamit thariq.

1 Yakni sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ ….

“Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang nabi bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi tidak ada seorang pun yang bersamanya….” (HR. Al-Bukhari no. 5705, 5752, dan Muslim no. 220, dari hadits Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
2 Perlu diingat, bukan berarti orang yang bertaqlid itu dihukumi sebagai musyrik.

(Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc judul asli Menunaikan Haji, Antara Sunnah dan Kungkungan Tradisi. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=381

Read Full Post »

Ada pertanyaan begini, ” penyakit apa saja yang sering ditemukan pada jemaah haji Indonesia?”

Biasanya penyakit yang sering ditemukan pada jemaah haji Indonesia selama di Arab Saudi, berdasarkan pengalaman para petugas kesehatan haji Indonesia antara lain adalah:

  1. Penyakit saluran pernafasan, seperti  influenza, radang tenggorokan, batuk, kadang mimisan, dan radang paru-paru.
  2. Penyakit saluran penceranaan seperti diare, typus, dll.
  3. Bagi jamaah haji usia lanjut tentu penyakit yang muncul adalah penyakit yang sebelumnya diderita sejak di Tanah Air, seperti Hipertensi, Kencing Manis, Penyakit Jantung dll
  4. Adakalanya, bila tak berhati-hati terjadi kecelakaan yang menimbulkan luka, patah tulang, bahkan sampai pada kematian.
  5. Stres, kecemasan, atau mendadak lupa ingatan saat berangkat namun saat kepulangan sembuh,  serta jenis penyakit jiwa lainnya yangdisebabkan oleh banyak hal.

Semua penyakit di atas muncul dan dialami oleh para jamaah haji dengan kehendak dari Allah. Tidak seharusnya para jamaah yang sehat maupun sedang mengalami sakit saat sebelum keberangkatannya menjadi cemas.

Berdoalah agar Allah berikan kesehatan, afiaah dan pertolongan-Nya selama beribadah haji di Tanah Suci. Sakit itu adalah ujian, bila sabar saat sakit, tentu curahan pahala dan ampunan Allah justru mengiringi kita. Wallahu’alam

Read Full Post »

WUKUF DI MASY’ARIL HARAM TIDAK WAJIB ATAS ORANG HAJI

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ketika saya haji pada tahun ini, saya berangkat dari Arafah ke Muzdalifah dan mabit. Tapi ketika di Muzdalifah saya lupa pergi ke Masy’aril Haram. Apakah saya berdosa dalam hal ini ?

Jawaban
Tidak berdosa jika seseorang telah mabit di Muzdalifah di tempat mana saja di Muzdalifah dan tidak mudharat bila tidak pergi ke Masy’aril Haram. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wukuf di Masy’aril Haram dan beliau bersabda.
“Artinya : Saya wukuf (berhenti) di sini, dan semua kawasan Muzdalifah adalah tempat wukuf” [Hadits Riwayat Abu Dauwud, Nasa’i, Darimy, dan lainnya]
Artinya, di tempat mana saja seseorang berhenti dan bermalam di Muzdalifah maka sudah cukup. Dan dari lahirnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menunjukkan tidak seyogianya seseorang memperberat diri untuk sampai di Masy’aril Haram ketika di Muzdalifah. Tapi seseorang cukup wukuf di mana saja di Muzdalifah ketika ingin shalat Shubuh lalu berdoa’ kepada Allah dan bertolak ke Mina.

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabaia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »

Tidak lama lagi, sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin pergi ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu menjalankan ibadah haji ke Baitullah. Segala persiapan pun, baik fisik, mental, dan berbagai bekal lainnya tentunya sudah dilakukan oleh masing-masing calon jama’ah dalam rangka menyambut panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini.

Namun yang tidak kalah pentingnya bagi calon jama’ah haji adalah mempersiapkan bekal ilmu dan pengetahuan yang benar terkait dengan ibadah ini. Tidak diragukan lagi bahwa haji merupakan ibadah yang sangat besar keutamaan dan pahalanya bagi siapa saja yang menunaikannya dengan ikhlas dan benar. Ikhlas dalam menunaikannya, dan benar dalam pelaksanaan manasik sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam.

Orang yang demikianlah yang akan meraih predikat haji mabrur yang tidak ada balasan baginya kecuali Al Jannah (surga) sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ.

”Umrah yang satu dengan umrah yang berikutnya akan menjadi kaffarah (penebus dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali Al Jannah.” (Muttafaqun ’Alaihi)

Di antara perkara terpenting yang harus diperhatikan oleh calon jama’ah haji dalam upayanya meraih predikat haji mabrur adalah berhias dengan adab dan akhlaq mulia saat pelaksanaan ibadah haji, diantaranya sebagai berikut:

1. Ikhlas dan niat yang jujur
Ini adalah perkara paling penting yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang hendak beribadah. Terkhusus bagi calon jama’ah haji, dia harus benar-benar mengoreksi diri apakah niatannya dalam menunaikan rukun Islam yang kelima ini sudah dilandasi keikhlasan dan niat yang jujur ataukah belum.
Seorang yang menunaikan ibadah haji tidaklah dinyatakan ikhlas kecuali saat menunaikannya hanya untuk mendapatkan pahala dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharapkan jannah(surga)-Nya, dan berharap agar dosa-dosanya terhapus sehingga dia seperti seorang anak yang baru dilahirkan ibunya yang bersih dan tidak menanggung dosa apapun sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alihi wa Sallam

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

”Barangsiapa yang menjalankan ibadah haji karena Allah, kemudian dia tidak melakukan perbuatan keji dan fasik (maksiat), maka dia akan kembali (ke rumahnya) dalam keadaan seperti pada hari dia dilahirkan oleh ibunya (yakni tanpa dosa).” (Muttafaqun ’Alaihi)

Namun jika tujuannya untuk mendapatkan pujian orang lain, atau menginginkan popularitas dan naiknya status sosial di tengah masyarakat dengan gelaran Pak/Bu Haji, serta tujuan-tujuan lain yang sifatnya duniawi, maka sungguh ini merupakan niat yang jelek dan tidak terpuji. Apakah orang yang seperti ini keadaannya akan meraih keutamaan dan pahala ibadah haji? Tentu jawabannya tidak, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

”Mereka tidak diperintah kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.” (Al Bayyinah: 5).

2. Mempelajari tata cara manasik yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam
Setiap amalan ibadah –baik wudhu, shalat, puasa, haji, dan yang lainnya– jika dikerjakan dengan tata cara yang menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alihi wa Sallam, maka amalan tersebut tidak akan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

”Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang bukan dari urusan (bimbingan dan tuntunan) kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)

Maka setiap calon jama’ah haji hendaknya benar-benar mempelajari rangkaian manasik yang benar dan sesuai dengan bimbingan Nabi Shallallahu ‘alihi wa Sallam agar ibadah hajinya diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kami menghimbau diri-diri kami dan saudara-saudara kami kaum muslimin untuk bersama-sama menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam dalam semua praktek ibadah, terkhusus ibadah haji, karena hal ini sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam sebagaimana dalam hadits diatas dan sabda beliau Shallallahu ‘alihi wa Sallam:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مَنَاسِكَكُمْ

”Wahai sekalian manusia, ambillah (dariku tata cara) manasik kalian.” (HR. Muslim, An Nasa`i, Ahmad)

3. Memilih harta yang halal
Hendaknya ibadah haji yang mulia ini dilaksanakan dari hasil harta yang halal yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan dari penghasilan yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti riba, korupsi, hasil judi dan selainnya dari bentuk penghasilan yang tidak halal, karena Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

”Sesungguhnya Allah baik, dan tidak menerima kecuali sesuatu yang baik.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, setiap calon jama’ah haji hendaknya benar-benar memperhatikan harta (uang) yang ia gunakan dalam menunaikan ibadah haji, mulai dari ONH-nya, biaya pengurusannya, sampai bekal dan uang saku yang dibawanya. Hendaknya semua itu berasal dari hasil usaha yang halal, agar ibadah hajinya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4. Memilih teman yang baik
Perjalanan menunaikan ibadah haji tidak lepas dari mu’amalah dan pergaulan dengan orang lain karena memang haji adalah ibadah yang ditunaikan secara bersama-sama dan melibatkan orang banyak dengan watak dan karakter yang berbeda-beda.

Oleh karena itulah setiap jama’ah haji hendaknya memilih teman yang baik dan shalih yang dapat mengingatkannya ketika lupa, menasehatinya ketika berbuat kesalahan, mendorong semangat beribadahnya ketika muncul rasa malas, dan membantunya ketika sedang menghadapi masalah.
Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam bersabda:

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ.

”Janganlah engkau berteman kecuali dengan mu’min, dan jangan ada orang yang memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi)

5. Berakhlaq dan bermuamalah yang baik dengan sesama
Masih terkait dengan adab yang keempat di atas, sebagaimana seseorang ingin mendapatkan teman yang baik dan mendapatkan perlakuan yang baik dari sesama, maka seyogyanya untuk berusaha bermuamalah, bergaul, dan memperlakukan orang lain dengan cara yang baik pula.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan pahala yang besar bagi siapa saja yang berakhlaq demikian, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam:

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ.

”Maka barangsiapa yang senang untuk dibebaskan dari An Nar (neraka) dan dimasukkan ke dalam Al Jannah (surga), hendaknya dia berusaha ketika datang ajalnya (meninggal) dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, serta memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang dia sendiri senang untuk diperlakukan seperti itu.” (HR. Muslim)

Para jama’ah juga hendaknya benar-benar menjaga ukhuwwah (persaudaraan) dan saling pengertian terhadap sesamanya. Sedikit maupun banyak, perselisihan dan perbedaan pendapat antar jama’ah dalam masalah tertentu pasti ada. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap tenang, lapang dada, saling menghormati, dan saling memahami dalam menyelesaikannya.

6. Menjauhi segala bentuk kemungkaran
Sudah seharusnya bagi tamu-tamu Allah Subhanahu wa Ta’ala di tanah suci untuk menjaga diri, lisan, tangan, dan seluruh angota badannya dari perbuatan yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

”(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat kefasikan, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al Baqarah: 197)

Sebagian ulama menafsirkan kata rafats dalam ayat tersebut sebagai larangan-larangan ketika ihram. Dan setiap perkataan yang kotor, tidak senonoh, ataupun pembicaraan yang menyangkut aurat juga termasuk rafats. Wallähu A’lam.

Sedangkan kefasikan adalah semua bentuk perbuatan dosa dan maksiat, baik yang dilakukan oleh hati, lisan, maupun anggota badan seperti sombong, merasa dirinya lebih dibanding yang lainnya, mau menang sendiri, berdusta, ghibah (menggunjing, menggosip), menyakiti dan mengganggu orang lain, dan lain sebagainya.

Hindari segala bentuk ibadah/ritual yang tidak dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam, karena semua yang baik telah dilakukan oleh Rasulullah . Beliau Shallallahu ‘alihi wa Sallam adalah suri tauladan terbaik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)
dan karena dengan tidak mencontoh Nabi Shallallahu ‘alihi wa Sallam berarti secara tidak langsung telah menentang beliau Shallallahu ‘alihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

”…Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An Nur: 63)

7. Memperbanyak amal shalih
Ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi para jama’ah haji, di mana mereka berada di tempat yang suci dan dimuliakan, shalat yang dikerjakan di Al Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi dilipatgandakan pahalanya hingga seribu kali lipat. Sehingga diupayakan bagi setiap jama’ah untuk menunaikan shalat lima waktu dengan berjama’ah di Al Haramain tersebut, memperbanyak shalat sunnah dan thawaf mengelilingi Ka’bah. Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam bersabda:

مَنْ طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ. وَلاَ يَضَعُ قَدَمًا وَلاَ يَرْفَعُ أُخْرَى إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَكَتَبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً.

”Barangsiapa yang thawaf di Baitullah (Ka’bah) ini tujuh putaran, maka dia seperti orang yang memerdekakan budak, dan tidaklah dia meletakkan telapak kakinya yang satu dan mengangkat telapak kakinya yang lain melainkan Allah akan menghapuskan darinya satu kesalahan dan mencatat baginya satu kebaikan.” (HR. At Tirmidzi)

Banyak berdzikir, berdo’a, dan beristighfar terkhusus di tempat-tempat mustajab hendaknya juga dilakukan oleh para jama’ah. Dan ketika masuk waktu ihram, sibukkan diri dengan memperbanyak mengucapkan talbiyah dan mengeraskannya (bagi kaum pria) dalam rangka meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam.

Semoga menjadi Haji yang Mabrur
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah secara ringkas adab dan akhlaq yang patut berhias dengannya saat menunaikan ibadah haji. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, terkhusus kepada calon jama’ah haji untuk bisa menjaga dan mengamalkan adab-adab tersebut, sehingga termasuk orang-orang yang meraih predikat haji yang mabrur. Amïn Yä Rabbal ‘Älamïn.

Read Full Post »

Older Posts »