Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jemaah resti’

Mendekati puncak ibadah haji, jumlah jemaah calon haji (calhaj) Indonesia yang tersesat mendekati seratus orang per hari. Mayoritas jemaah tersesat itu berusia lanjut.

“Kemarin lusa yang tersesat jalan 111 orang, kemarin 97 orang, hari ini ada 83 orang. Jemaah tersesat jalan biasanya kami jumpai setiap kali selesai waktu salat,” ujar Kepala Sektor Khusus Jemaah Sesat jalan M Ali Saifudin, Senin (16/11).

Dibandingkan dengan kondisi pada awal November, saat jemaah Indonesia baru masuk Mekah, jumlah itu meningkat drastis. Pada awal-awal November, jumlah rata-rata jemaah tersesat berkisar tiga puluhan orang per hari.

Ali mengungkapkan, semakin banyaknya jemaah Indonesia yang berada di Mekah, ditambah suasana Masjidil Haram yang semakin padat dengan jemaah dari penjuru dunia membuat jemaah mudah terpisah dari rombongan. Akibatnya, jemaah mudah tersesat. Terlebih, umumnya jemaah tersebut tidak mengenal medan dengan baik.

“Jumlah pintu Masjidil Haram ada 94 buah, ketika jemaah masuk dari pintu yang satu, terus keluarnya dari pintu yang lain, mereka jadi bingung dan tersesat,” kata Ali.

Ali menambahkan, mayoritas jemaah yang tersesat berusia 60 tahun ke atas. Ada yang dijumpai tersesat sendirian, ada pula yang berombongan. “Pernah ada dua puluhan jemaah tersesat bersama karena ketua rombongannya tidak memahami jalan,” kata Ali.

Sebagian dari jemaah tersesat, menurut Ali, hanya mampu berkomunikasi dengan bahasa daerah. Hal itu menimbulkan kesulitan tersendiri saat petugas jemaah sesat hendak menanyakan nomor rumah pemondokannya. Namun setelah mencocokkan identitas di gelang identitas dengan “data base” jemaah, persoalan itu terselesaikan.

Untuk mengurangi risiko jemaah tersesat, Ali menganjurkan agar jemaah mengenali medan . Mereka harus ditunjukkan lokasi dan pintu-pintu yang bisa dijadikan patokan. Saat hendak masuk masjid, jemaah disarankan tidak meletakkan alas kaki di tempat penitipan sandal yang berada di luar masjid. Sebaiknya, jemaah menaruh sendal atau sepatunya di tas kresek dan membawa serta ke dalam masjid. Dengan begitu, saat hendak keluar masjid jemaah lebih leluasa untuk keluar lewat pintu mana saja. (Eni/Siwi, Depag)

Advertisements

Read Full Post »

Kisah dibawah ini hanya sebagian kisah dari ribuan kisah saat menjadi pelayan haji di Tanah Suci. Bagaimanapun juga kejadian tersebut merupakan potret buram bagi jemaah haji kita. Terutama dalam masalah kesiapan untuk berhaji mandiri, maupun untuk berhaji dan berumrah sesuai denganmanasiknya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Selamat menyimak:

Berpakaian ihram secara mandiri tentunya bukanlah hal yang sulit bagi petugas haji Indonesia, karena saat pelatihan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, para petugas sudah mendapat contoh dari H Ahmad Kartono, dan sudah berkali-kali mempraktikkannya selama pelatihan. Namun bagi jemaah calon haji Indonesia, terutama yang berasal dari pelosok dan “sudah sepuh” tentunya merupakan kesulitan tersendiri, sehingga perlu bantuan petugas haji kita.

Membantu mereka pun mempunyai kesan tersendiri, karena selain memerlukan kesabaran, petugas juga sering disulitkan dengan ketidakmampuan jemaah dalam berbahasa Indonesia. “Kita sudah bilang supaya celana dalamnya dilepas. Karena jemaah nggak juga paham, dan kita juga tidak paham dengan bahasa daerahnya, kita contohkan dengan gaya kita melepas celana dalam,” kata seorang petugas pembantu pelaksana (dulu Temus-red) kepada MCH di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, Senin (9/11) malam.

Yang repot, apabila jemaah menolak melepas celana dalamnya dengan alasan tidak nyaman karena tidak bebas bergerak. Apabila saat tanpa disengaja kain ihramnya dapat melorot.

Selain itu memotivasi jemaah untuk segera berganti pakaian ihram juga harus disertai kesabaran. Saat di Bandara KAA, MCH juga mendapati seorang jemaah yang marah, ketika petugas memintanya dengan sopan untuk segera berganti pakaian ihram. “Cepet-cepet memangnya apaan, nggak bisa ya santai sedikit,” kata jemaah pria itu dengan bersungut-sungut.

Petugas dengan sikap sopan mengatakan maaf sambil tetap memotivasi yang bersangkutan untuk segera berganti agar tidak mempersulit diri sendiri karena segalanya harus serba antre. Dan upayanya pun berhasil.

Inilah pengalaman menarik yang tidak kita dapatkan di pelatihan petugas haji. (Hartono Harimurti, Depag)

Read Full Post »

Calon jamaah haji diminta mempersiapkan kondisi fisik dan mental agar dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik, karena di musim haji tahun ini, para jamaah kembali akan menghadapi musim dingin.

Calon jamaah haji, menurut website Informasi Haji, akan menghadapi musim dingin di Arab Saudi dalam periode tahun 1997-2014, yang berakibat tidak baik pada kondisi fisik dan mental calon jamaah haji.

Musim dingin ini diawali dengan angin yang bertiup kencang disertai badai debu yang pada puncaknya mengakibatkan suhu di kota Makkah dan Madinah dapat mencapai 2 derajat Celsius.

Musim dingin di Arab Saudi dimulai bulan Oktober dan mencapai puncaknya pada Desember-Januari serta berakhir bulan Maret. Karena itu, upaya persiapan perlu dilakukan para jamaah haji dalam rangka mengantisipasi akibat yang mungkin timbul.

Sedangkan musim panas sendiri baru dimulai bulan April dan akan mencapai puncaknya pada bulan Juli-Agustus. Suhu siang hari dapat mencapai 55 derajat celsius disertai angin panas. Selain itu kelembaban kedua musim ini sangat rendah.

Kemungkinan penyakit yang akan timbul akibat musim dingin tersebut antara lain, kulit bersisik disertai gatal, batuk dan pilek, penyakit saluran pencernaan, gangguan otot dan tulang, mimisan (keluar darah dari hidung), bibir pecah-pecah, dehidrasi (kekurangan cairan tubuh).

Semua ini akan memperberat penyakit yang sudah diderita pada jamaah Risiko Tinggi (Risti) seperti penderita jantung, kencing manis, asma, rematik dan lainnya.

Antisipasi yang harus dilakukan jamaah haji untuk menghadapi musim dingin di Arab Saudi, meliputi: Persiapan di tanah air yakni melaksanakan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas/Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat, sehingga dapat diketahui status kesehatannya, memelihara kesehatannya bagi yang sehat, bagi yang mempunyai penyakit (risiko tinggi) harus berobat dan mengikuti anjuran dokter agar penyakit yang diderita terkontrol/lebih ringan.

Gizi cukup

Selain itu, mengonsumsi makanan yang cukup mengandung nutrien (zat gizi) sesuai dengan status kesehatannya, melakukan latihan kebugaran jasmani, mempersiapkan perlengkapan untuk dibawa ke Arab Saudi, seperti jaket/pakaian hangat, kain ihram (bagi pria) yang tebal, selimut, krem pelembab kulit juga membawa obat-obatan yang diperlukan.

Di Arab Saudi, jamaah haji diminta membiasakan minum dengan takaran 1 gelas (300 cc) setiap satu jam, walaupun tidak terasa haus atau total minuman lebih kurang 5-6 liter sehari.

Juga membiasakan diri mengonsumsi makanan yang berasal dari daging, hati, sayur-sayuran, buah-buahan seperti jeruk, apel, pisang, pir, melon, semangka dan lainnya serta minum susu setiap hari sehingga memenuhi pola makanan 4 sehat 5 sempurna.

Juga penting mengonsumsi makanan dan minuman dalam keadaan masih hangat, menghindari tubuh dari terpaan udara, cukup istirahat dan tidur lebih kurang 6-8 jam sehari serta selalu menggunakan selimut pada waktu tidur.

Bagi jamaah haji Risti agar mengkonsumsi makanan yang memenuhi kebutuhan/zat gizi, dianjurkan sesuai kondisi/penyakit yang diderita.

Jamaah juga diharapkan memakai pakaian yang sopan, rapi dan tebal serta dapat meredam pengeluaran panas dan dapat melindungi tubuh dari serangan cuaca dingin.

Jamaah diminta segera berkonsultasi atau berobat kepada dokter kloter atau petugas BPHI jika ada gejala sakit. [www.gatra.com]

Read Full Post »