Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jemaah stres’

Ada-ada saja, kisah jamaah haji Indonesia di tanah Suci. Dikarenakan semangat untuk berhaji tanpa memperhatikan kemungkinan kesulitan di tanah suci menyebabkan banyak terjadi hal yang tidak tidak diinginkan. Seperti kasus jamaah melahirkan, banyaknya kematian jamaah karena penyakit jantung, stres, mengamuk dll.

Hal ini, menurut hemat kami, banyak penyebabnya. Bisa saja disebabkan karena kurang perhatian dari petugas yang diberi amanah untuk memeriksa kesehatan saat masih di Tanah Air (asal tugas selesai, tidak teliti, rasa kasihan yang berlebihan), atau karena jamaah sendiri yang ngotot pergi haji walau harus menempuh hal yang dilarang secara aturan mapun syariaat (pakai joki saat periksa, membayar sejumlah uang, tidak jujur dengan penyakitnya, manipulasi berkas kesehatan) atau karena keluarga (dalam hal ini sang anak atau menantu) yang ingin orang tuanya “cepat pergi haji” sementara sang anak atau menantu “belum siap berhaji”, padahal jelas telah orang tuannya telah renta dan tidak layak pergi baik secara fisik maupun kejiwaan. Atau juga anggapan keliru pada sebagian masyarakat bahwa haji adalah ibadah penutup sekaligus ibadah yang membuat naiknya maqam (kedudukan) hamba, sehingga mewajibkan dirinya/keluarganya untuk berhaji agar sesuai dengan anggapan tersebut.

Udzur karena tua, sakit-sakitan, tidak sehat jiwa, cacat yang menghalangi ibadah atau bakal merepotkan jamaah lainnya, hendaknya dipahami sebagai rukhshah (keringanan) bagi kaum Muslimin. Allah Maha Tahu atas apa yang menimpa hamba-Nya. Bukankah kita bisa mengganti ibadah haji dengan ibadah lainnya yang kita mampu sperti shalat tepat waktu, shadaqah, dl. Bukankah bisa dengan di-badal-kan (digantikan hajinya oleh orang/keluarga yang pernah berhaji). Atau dengan membiayai haji keluarga/tetangga kita yang kurang mampu padahal keinginan untuk berhaji sangat kuat, akhlaknya baik dan telah hafal manasik haji.

Pahala yang diberikan, insya Allah tidak akan berkurang, jika hal diatas dapat kita lakukan dengan ikhlas dan mengikuti apa yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Apalagi bisa memberikan jalan untuk orang lain dapat beribadah. Tentu pahalanya tidaklah sedikit. Saudaraku seiman, janganlah kita meragukan rahmat Allah kepada hamba-Nya.

Kami berharap tulisan dibawah ini tidak banyak terjadi lagi dimasa yang akan datang, karena Islam bukanlah agama yang  memaksakan pemeluknya untuk berlebihan didalam melakukan ibadah atau melakukan ibadah yang diluar kemampuannya. Namun Islam adalah agama yang penuh kasih sayang baik bagi pemeluknya maupun kepada orang di luar Islam. Selamat menyimak:

1. Jamaah Melahirkan di Tanah Suci.

MADINAH, (MCH) Wakil Kepala Daerah Kerja Madinah bidang Pelayanan Kesehatan dr. Zaenuswir Zaenun menduga, jemaah yang melahirkan di Tanah Suci karena menggunakan joki ketika melakukan pemeriksaan kesehatan saat dalam proses pemberangkatan. Hal tersebut disampaikan Zaenusfir Zaenun menanggapi adanya jemaah yang melahirkan ketika tiba di Madinah.

Jemaah asal Sukabumi, Iyet Suryati, 33 dari Kloter 35 JKS (Jawa Barat) Jumat, 6 November melahirkan anak laki-laki setibanya di Madinah. Iyet Suryati melahirkan dengan cara dioperasi dalam usia 7 bulan atau 26 minggu kandungan. Di RS Bersalin di Madinah (Musytasyfa Linnisa Walwiladah walathfal Madinah) Iyet Suryati melahirkan anak dengan berat 600 gram. Meski dalam perawatan intensif, yakni dalam inkubator, anak tersebut dalam kondisi sehat, demikian pula ibunya.

Menurut Zaenuswir pemeriksaan kesehatan kepada Iyet Suryati sudah berulang-ulang dilakukan dan kehamilannya tidak terdeteksi. “Jadi di Tanah Air sudah memakai joki. Sedangkan ketika di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta tidak terlihat hamil karena fokusnya bukan pada itu,” jelas Zaenuswir.

Lebih lanjut Zaenusfir menjelaskan, bagi seorang yang hamil tidak diperbolehkan menjadi jemaah haji karena rawan keguguran dan juga rawan kelahiran. “Karena jemaah haji harus dilakukan vaksin meningitis sebelum berangkat, sedangkan bagi orang hamil vaksin meningitis kontraindikasi dengan vaksin meningitis.”

Meski melahirkan di Madinah dan kemungkinan tidak bisa melakukan rangkaian ibadah haji di Mekah karena sedang berhalangan nifas, menurut Zaenusfir yang bersangkutan tidan dipulangkan lebih awal dan tetap akan bersama kloternya pada saat kepulangan nanti. “Kalau dalam kondisi sudah sehat sesuai dengan catatan medis, maka akan dikembalikan ke kloternya dan apabila belum tetap akan dirawat terlebih dahulu,” terangnya.

Berdasarkan surat keputusan bersama antara Menkes dan Menag bahwa calon jemaah haji usia kehamilan yang tidak diperbolehkan adalah 12-26 minggu. Karena dalam usia sebelum 12 minggu kandungan rawan keguguran, sedangkan usia diatas 26 minggu rawan kelahiran. Dalam kandungan usia 12�26 minggu pun harus mendapat vaksin meningitis. (MA Effendi/Elshinta,depag)

2. Jamaah Haji Stres Tikam Sesama Jamaah Satu Kloter

MEKKAH – Seorang jamaah yang mengalami stres berat, Mapaisse asal Kloter 9 Ujung Pandang, Sulawesi Selatan (sulsel) melakukan penusukan terhadap tiga jamaah haji lain, Tiga korban penusukan itu yakni, dua orang asal Sulsel dan satu orang India.
Berdasarkan laporan Tim MCH Depag di Mekkah, penusukan terjadi saat tawaf wada di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Sabtu malam 22 Desember lalu, seperti diberitakan sindo, Selasa (25/12/2007).

Kepala Bidang (Kabid) Keamanan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi, Gani Abdullah, di Mekkah mengatakan, pelaku penusukan saat ini dalam perawatan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Thoif.

Para korban adalah Husen Abdul Karim dan Sabarudin Toto asal Sulsel, serta jamaah asal India yang belum diketahui identitasnya.
Sementara itu, kondisi Husen Abdul Karim, korban yang masih dirawat di RS Annur karena luka tusuk di bagian pinggul kiri, dikabarkan semakin membaik. Korban lainnya, Sabarudin Toto, telah kembali ke pemondokan karena telah sehat.

Sebelumnya, Sabarudin sempat dirawat di RS Ajyat Mekkah. Direktur Pengelolaan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji Depag Abdul Gahfur Djawahir mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan informasi terkait penusukan yang dilakukan jamaah haji Indonesia. (sindo//ism)

Kian Banyak Jamaah Haji Alami Gangguan Kejiwaan
Laporan Baehaqi dari Arab Saudi

JEDDAH – Kian banyak jamaah haji Indonesia di Tanah Suci yang mengalami gangguan kejiwaan. Mulai stres ringan hingga sampai seperti orang gila. Yang ringan cukup diatasi di balai pengobatan. Yang berat dirujuk ke rumah sakit.

Salah seorang jamaah yang mengalami gangguan kejiwaan berat itu berinisial DMA asal Bengkulu. Jamaah tersebut tiba di Bandara King Abdul Aziz (KAA) Jeddah Senin malam lalu (2/11). Begitu keluar dari bandara, tiba-tiba dia berteriak-teriak. Petugas langsung membawanya ke balai pengobatan di bandara itu. Dokter Hasto Nugroho yang bertugas sampai kewalahan. ”Dia seperti orang mengamuk,” cerita Hasto.

Hingga jamaah diberangkatkan ke Madinah, DMA masih belum tenang. Akhirnya diputuskan untuk membawanya ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Makkah. Di situ ada dua dokter spesialis kejiwaan. Sampai kemarin siang pasien itu belum membaik. Dia tetap berteriak-teriak.

Salah seorang keluarga yang satu kloter dengannya tak tahu apa yang membuat DMA stres. Di buku kesehatan haji (buku hijau) yang dia bawa tak tercantum riwayat penyakit gangguan jiwa.

Sebelumnya, kata Hasto, sudah ada jamaah yang menunjukkan gejala terkena gangguan kejiwaan. Namun, yang bersangkutan hanya ditangani di balai pengobatan bandara. Setelah itu, dia sudah tenang. Di Madinah juga dilaporkan ada jamaah yang mengalami ganguan kejiwaan dan dirawat di balai pengobatan setempat. Jumlahnya belasan. Namun, yang berat hanya tiga. Salah seorang bernama Mh asal Sumbar (Jawa Pos, 4/11).

Menurut psikiater BPHI Tri Aniswati, bepergian jauh bagi orang yang tidak biasa bisa memicu gangguan kejiwaan. Apalagi, mereka kemudian berhadapan dengan sosiokultural yang berbeda. Mereka menghadapi kondisi yang berbeda dengan apa yang mereka bayangkan sebelumnya. ”Sejak sebelum berangkat, jamaah harus menyadari sepenuhnya bahwa kepergiannya ke Tanah Suci hanya untuk beribadah,” jelasnya.

Penanggung jawab Balai Pengobatan Haji Makkah dr Anita Rosari menambahkan, keletihan juga bisa berimbas pada kesehatan jiwa. Karena itu, dia mengimbau jamaah agar tidak memforsir diri untuk setiap waktu salat berjamaah di Masjidilharam.

Mitos perbuatan tidak baik yang dilakukan di tanah air bakal dibalas di Tanah Suci juga kerap menjadi beban kejiwaan. ”Padahal, itu hanya mitos yang tidak ada dasarnya,” tambahnya.

Gangguan kejiwaan juga bisa diakibatkan oleh heat stroke. Yaitu, penurunan kondisi fisik karena terlalu lama terpapar matahari, melakukan aktivitas berlebihan, dan kekurangan cairan tubuh. ”Puncak musim haji masih lama. Jadi, sebaiknya jamaah menyimpan energi untuk pelaksanaan inti ibadah haji nanti,” sarannya.
3. Cacat Fisik

Sejumlah jamaah dengan keterbatasan fisik melaksanakan ibadah Haji tahun ini. Mereka dapat ditemukan di hampir seluruh tenda Haji.

“Menjadi orang cacat tidak mencegah saya menjadi jamaah Haji,” ujar Ahmad Mustafa, jamaah asal Mesir yang tak bisa menggerakkan tangan setelah diserang kelumpuhan.

Mustafa menambahkan jika ia tidak pernah memanfaatkan ketidakmampuannya sebagai alasan untuk membatalkan atau menunda kewajibannya sebagai muslim.

“Saya selalu berdoa kepada Allah untuk membantu melengkapkan ritual Haji saya dan pernikahan saya,” aku Mustafa seperti yang dilansir oleh Arab News.  “Saya tidak ingin hanya melihat orang lain di sekitar melakukan Haji dan saya tidak bisa berbagi spirit yang sama dalam Haji, hanya karena cacat fisik,” ujar Mustafa.

Sementara Muhammad Ahmad, jamaah Mauritania yang buta itu mengaku ia dapat mendengar takbir, dan sangat ingin melihat bagaimana pemandangan di tanah suci. Namun meski tak mampu melihat ia sangat mencintai pengalamannya berada di tanah haram tersebut.

“Kebutaan saya adalah penyebab utama keyakinan utuh saya terhadap Allah,” ujar Ahmad. “Haji adalah kewajiban krusial, dan kekurangan saya tidak boleh menghalangi saya melakukan itu. Saya hidup, dan berdoa selalu dalam kemudahan dan kenyamanan,” ungkap Ahmed seraya menambahkan tidak sedikit figur muslim yang mencapai kesuksesan meski mereka buta.

Lalu ada pula jamaah Libanon bernama Izat Fatin, yang kakinya tak lengkap akibat serangan di Lebanon. Ia mengatakan perjalanan kali itu membuktikan ia dan jamaah cacat lain dapat melakukan seperti para jamaah normal dalam melakukan ritual Haji.

“Saya melihat bagaimana orang-orang melihat saya dengan belas kasihan, dan berupaya melihat saya semata-mata karena Allah,” tutur Izat. “Saya merasa bangga ketika menolak bantuan dari siapapun dan berdiri di atas satu kaku dan penyangga, serta melakukan semua yang dilakukan jamaah normal lain,” imbuhnya.

Seorang pemimpin agama di kemah Haji yang buta mengatakan itu hal bagus bagi mereka yang cacat sebab melakukan upaya lebih dari orang normal saat melakukan tugas agama.

Bagi pemimpin buta itu, orang cacat pun sudah seharusnya konsentrasi pada ibadah mereka saat di tanah suci dan tidak perlu memasukkan halangan dan rintangan ke dalam hati hingga menimbulkan kesedihan./it (Cacat Fisik Bukan Halangan Pergi Haji,Republika)

Advertisements

Read Full Post »

Oleh : dr. Soewarno*
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai rapor kinerja panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia pada musim haji 2008 masih merah. Nilai itu didasarkan banyaknya keluhan dan kecenderungan jamaah Indonesia yang tidak puas dengan pelayanan panitia bentukan Departemen Agama tersebut. Permasalahan itu terkait lemahnya perencanaan dan implementasinya, kebijakan dalam hal pemondokan, transportasi, katering di Armina dan layanan kesehatan (Pontianak Post, 14 Desember 2009). Tingginya angka kematian jamaah haji membuat Departemen Agama mencari jurus pencegahan. Salah satunya membatasi jamaah beresiko tinggi dengan memperketat seleksi kesehatan. Selain itu, Depag mengkaji batas kuota haji Indonesia yang saat ini terbesar di dunia ( Pontianak Post, 21 Desember 2008 ).

Meningkatkan kualitas pelayanan (baca : pelayanan kesehatan ) dengan memperketat seleksi kesehatan dan mengurangi kuota jamaah merupakan keputusan yang kurang bijaksana. Haji merupakan rukun Islam yang wajib bagi orang yang mampu, terutama dari segi materi. Ketika seseorang sudah mampu dari segi materi dan sudah mempunyai niat, semangat serta tekad yang kuat untuk menunaikan ibadah haji, Pemerintah seharusnya memberi bantuan dan fasilitas yang memadai tanpa harus mencegah atau menunda dengan alasan kesehatan. Kalau pemerintah Indonesia meminta kuota yang besar adalah wajar saja karena Indonesia merupakan negara yang warga negaranya sebagian besar beragama Islam dan merupakan negara berpenduduk Islam terbesar di dunia.

Jumlah  calon jamaah haji  dan jamaah haji yang meninggal dalam menunaikan ibadah haji tidak dapat digunakan sebagai indikator penilaian pelayanan haji. Penilaian pelayanan paling tidak mencakup empat aspek yaitu tepat, cepat, ramah, dan memuaskan. Pelayanan kesehatan  calon jamaah haji yang beresiko tinggi memerlukan penanganan yang khusus pula, baik sebelum berangkat, selama menunaikan ibadah dan waktu perjalanan pulang ke tanah air.

Menurut WHO, pengertian kesehatan mencakup kesehatan jasmani, kesehatan jiwa, dan kesehatan sosial. Pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji berbeda dengan pemeriksaan kesehatan untuk melamar kerja. Pemeriksaan kesehatan untuk melamar pekerjaan terutama untuk menentukan atau menetapkan kondisi kesehatannya, apakah masih memungkinkan untuk melakukan  tugas pekerjaannya, sedangkan pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji terutama untuk mengetahui penyakit atau cacat yang dideritanya.

Dengan mengetahui penyakit atau cacat yang diderita calon jemaah haji, dapat dilakukan upaya promotif, preventif, kuratif, kalau perlu dan memungkinkan upaya rehabilitatif. Tim kesehatan haji Indonesia pada umumnya hanya melaksanakan upaya kuratif saja, dengan menyediakan tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya termasuk tenaga non medis), obat-obatan serta sarana yang diperlukan selama calon jamaah haji menunaikan ibadah haji. Sedangkan bimbingan, pembinaan, motivasi, penyuluhan, konsultasi, dan konseling tentang kesehatan, tidak pernah dilaksanakan atau kurang mendapat perhatian.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan calon jamaah haji, upaya promotif dan preventif  merupakan tindakan atau upaya yang sangat penting. Dengan upaya-upaya tersebut diharapkan calon jamaah haji dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal pada waktu menunaikan ibadah haji. Calon jamaah haji seharusnya dan idealnya dapat mengenali kondisi kesehatannya jauh sebelum keberangkatannya untuk menunaikan ibadah haji, mungkin satu tahun atau lebih sebelumnya menunaikan ibadah haji. Calon jamaah haji paling tidak dapat melaksanakan pola hidup sehat misalnya dengan konsumsi makan/minum yang bergizi dan berimbang, olahraga secara teratur sesuai dengan kemampuan fisiknya, selalu berpikir dan bertindak positif serta meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Dengan demikian calon jamaah haji dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal, baik jasmani, jiwa, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Panitia Penyelenggara ibadah Haji Indonesia, khususnya tim kesehatan haji Indonesia melakukan upaya kesehatan promotif, preventif, rehabilitatif, serta kuratif sebelum pelaksanaan ibadah haji. Calon jamaah haji yang menderita penyakit beresiko tinggi tetap dapat diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji dengan pelayanan khusus yang sesuai dengan penyakitnya dari tim kesehatan haji Indonesia. Begitu juga dengan jamaah haji yang cacat atau yang berusia lanjut (lansia) bahkan calon jamaah haji yang menderita penyakit yang tidak mungkin disembuhkan mendapat prioritas untuk segera menunaikan ibadah haji dengan memberi perhatian dan pelayanan prima, khususnya pelayanan kesehatannya.

Kesimpulan opini ini, pertama,  bahwa seleksi kesehatan haji tidak perlu diperketat, dengan melarang, membatasi atau menunda untuk menunaikan ibadah haji terhadap calon jamaah haji yang kesehatannya beresiko tinggi. Kedua, kuota haji tidak perlu dikurangi, bahkan harus diusahakan tambahan kuota untuk mencegah antrian yang panjang (lama) yang dapat menimbulkan atau memicu timbulnya KKN atau kecurangan-kecurangan lain yang merugikan. Ketiga, kesadaran dan kerelaan semua pihak untuk mensukseskan pelaksanaan ibadah haji, baik dari pemerintah, calon jamaah haji dan masyarakat pada umumnya.

Pemerintah (Depag) dapat melaksanakan penyelenggaraan ibadah haji dengan amanah dan memberikan pelayanan prima, masyarakat tidak memanfaatkan pelaksanaan ibadah haji sebagai kesempatan untuk mencari untung berlebihan atau mencari rezeki yang tidak halal. Sedangkan calon jamaah haji wajib bersyukur dan ikhlas dapat menunaikan ibadah haji dengan benar dan halal, tidak perlu bertindak emosional yang sampai menimbulkan kerusakan atau kerugian yang tidak perlu.

Calon jamaah haji yang lebih muda dan sehat wajib bersyukur dan dapat menerima dengan ikhlas seandainya tempat pemondokannya jauh, sedangkan calon jamaah haji  yang beresiko dan uzur juga wajib bersyukur dapat menunaikan ibadah haji dengan mendapat pelayanan yang baik dari pemerintah serta pengertian dan bantuan dari calon jamaah haji lainnya. Dengan kerja sama, pengertian dan peran serta semua pihak, penyelenggaraan ibadah haji akan menjadi baik. Semoga. (pontianakpost)

* Penulis, mantan Widyaiswara, Pemerhati masalah kesehatan & pendidikan.

Read Full Post »