Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jumrah aqobah’

RENCANA PERJALANAN HAJI TAHUN 1430 H
(BERDASARKAN KALENDER UMMUL QURO ARAB SAUDI)
MASA PEMBERANGKATAN/PEMULANGAN 28 HARI
NO. TANGGAL KEGIATAN
MASEHI HIJRIAH
1 25 Oktober 2009 06 Dzulqa’dah 1430 Calon jemaah haji masuk asrama haji
2 26 Oktober 2009 07 Dzulqa’dah 1430 Awal pemberangkatan calon jemaah haji Gelombang I dari tanah air ke Madinah/Jeddah
3 04 Nopember 2009 16 Dzulqa’dah 1430 Awal jamaah haji Gelombang I dari Madinah ke Makkah
4 07 Nopember 2009 19 Dzulqa’dah 1430 Akhir calon jemaah haji Gelombang I dari tanah air ke Madinah/Jeddah pukul 24.00 WAS
5 08 Nopember 2009 20 Dzulqa’dah 1430 Awal calon jemaah haji Gelombang II dari tanah air ke Jeddah
6 16 Nopember 2009 28 Dzulqa’dah 1430 Akhir calon jemaah haji Gelombang I dari Madinah ke Makkah
7 21 Nopember 2009 04 Dzulhijjah 1430 Akhir pemberangkatan calon jemaah haji Gelombang II dari tanah air ke Jeddah
8 21 Nopember 2009 04 Dzulhijjah 1430 Clossing Date KAIA Jeddah (pukul 24.00 WAS)
9 25 Nopember 2009 08 Dzulhijjah 1430 Hari Tarwiyah
10 26 Nopember 2009 09 Dzulhijjah 1430 Wukuf di Arafah (Hari Kamis)
11 27 Nopember 2009 10 Dzulhijjah 1430 Idhul Adha 1430 Hijriyah
12 28 Nopember 2009 11 Dzulhijjah 1430 Hari Tasyrik I
13 29 Nopember 2009 12 Dzulhijjah 1430 Hari TasyrikII (Nafar Awal)
14 30 Nopember 2009 13 Dzulhijjah 1430 Hari Tasyrik III (Nafar Tsani)
15 01 Desember 2009 14 Dzulhijjah 1430 Awal pemberangkatan jemaah haji Gelombang I dari Makkah ke Jeddah
16 02 Desember 2009 15 Dzulhijjah 1430 Awal pemulangan jemaah haji Gelombang I dari Jeddah ke tanah air
17 03 Desember 2009 16 Dzulhijjah 1430 Awal kedatangan jemaah haji di tanah air
18 06 Desember 2009 19 Dzulhijjah 1430 Awal pemberangkatan jemaah haji Gelombang II dari Mekkah ke Madinah.
19 13 Desember 2009 26 Dzulhijjah 1430 Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang I dari Mekkah ke Jeddah.
20 14 Desember 2009 27 Dzulhijjah 1430 Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang I dari Jeddah ke tanah air
21 15 Desember 2009 28 Dzulhijjah 1430 Awal pemulangaan jemaah haji Gelombang II dari Jeddah/Madinah ke tanah air.
22 18 Desember 2009 01 Muharram 1431 Tahun Baru Hijriyah 1431
23 21 Desember 2009 04 Muharram 1431 Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang II dari Mekkah ke Madinah
24 29 Desember 2009 12 Muharram 1431 Akhir pemulangan jemaah haji Gelombang II dari Jeddah/Madinah ke tanah air
25 30 Desember 2009 13 Muharram 1431 Akhir kedatangan jemaah haji di tanah air

1, Masa Operasi Pemberangkatan              : 28 hari

2. Masa Operasi Pemulangan                     : 28 hari

3. Gelombang I                                       : 13 hari

4. Gelombang II                                      : 15 hari

5. Masa Tinggal Jemaah Haji di Arab Saudi   : 39 hari

Sumber: http://www.informasihaji.com

Advertisements

Read Full Post »

TIDAK MAMPU BERMALAM DI MINA KARENA PEKERJAAN

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum bagi orang yang karena pekerjaannya tidak dapat mabit di Mina pada hari-hari tasyriq ?

Jawaban
Mabit di Mina gugur bagi orang-orang yang mempunya uzdur (alasan syar’i). Tapi bagi mereka wajib mengambil kesempatan sisa-sisa waktu untuk berdiam di Mina bersama jama’ah haji.

BERMALAM DI LUAR MINA PADA HARI-HARI TASYRIQ

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum mabit di luar Mina pada hari-hari tasyriq, baik hal tersebut dilakukan dengan sengaja atau karena tiadanya tempat di Mina ? Dan kapan jama’ah haji boleh mulai meninggalkan Mina ?

Jawaban
Menurut pendapat yang shahih bahwa mabit di Mina wajib pada malam ke-11 dan malam ke-12 Dzulhijjah. Pendapat ini adalah yang dinyatakan kuat oleh para peneliti hukum, Dan kewajban tersebut sama antara laki-laki dan perempuan. Tetapi jika tidak mendapatkan tempat di Mina maka gugur kewajiban dari mereka dan tidak wajib membayar kifarat. Namun bagi orang yang meninggalkannya tanpa alasan syar’i wajib menyembelih kurban.

Adapun waktu mulai meninggalkan Mina adalah setelah melontar tiga jumrah pada hari ke-12 Dzulhijjah setelah matahari condong ke barat. Tapi jika seseorang mengakhirkan pulang dari Mina hingga melontar tiga jumrah pada hari ke-13 Dzulhijjah setelah matahari condong ke barat maka hal itu lebih utama.

TIDAK BERMALAM DI MINA PADA HARI-HARI TASYRIQ TANPA ALASAN SYAR’I

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum orang yang meninggalkan mabit di Mina tiga hari, atau dua hari bagi orang yang ingin mempercepat ? Apakah dia wajib membayar kifarat dengen menyembelih satu ekor kambing setiap hari yang terlewatkannya dalam mabit, ataukah hanya wajib menyembelih satu ekor kambing untuk dua atau tiga hari karena tidak mabit di Mina ? Kami mohon penjelasan hal tersebut beserta dalilnya.

Jawaban
Orang yang meninggalkan mabit di Mina pada hari-hari tasyriq tanpa alasan syar’i maka dia telah meninggalkan ibadah yang disyariatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan dan perbuatannya serta penjelasannya tentang rukhsah bagi orang-orang yang berhalangan, seperti para pengembala dan orang-orang yang memberikan air minum denga air zamzam. Sedangkan rukshah adalah lawan kata keharusan. Karena itu mabit di Mina pada hari-hari tasyriq dinilai sebagai kewajiban dari beberapa kewajiban dalam haji menurut dua pendapat ulama yang paling shahih. Dan barangsiapa meninggalkan mabit tanpa halangan syar’i maka dia wajib menyembelih kurban. Sebab terdapat riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu.

“Artinya : Barangsiapa yang meninggalkan satu ibadah (dalam haji) atau lupa darinya, maka dia wajib menyembelih kurban” [Hadits Riwayat Malik]

Tapi cukup bagi seseorang kurban seekor kambing karena meninggalkan mabit selama hari-jari tasyriq. Wallahu ‘alam.

TIDAK MABIT DI MINA KARENA SAKIT

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum orang yang meninggalkan mabit di Mina satu malam, yaitu malam ke-11 Dzulhijjah karena sakit dan dia melontar jumrah pada siang harinya setelah matahari condong ke barat lalu mabit di Mina pada kari ke-12 Dzulhijjah setelah melontar jumrah ketika matahari telah condong ke barat ? Mohon penjelasan hal tersebut beserta dalilnya.

Jawaban
Selama dia meninggalkan mabit di Mina satu malam tersebut karena sakit maka dia tidak wajib membayar kifarat. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu” [At-Thagabun : 16]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan untuk tidak mabit di Mina kepada jama’ah yang bertugas memberikan minum air zamzam dan para penggembala karena memberikan minum zamzam kepada orang-orang yang haji dan mengembalakan ternaknya. Wallahu ‘alam.

HARI ‘ID BUKAN TERMASUK HARI TASYRIQ

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sebagian manusia berada di Mina satu malam, yaitu malam ke-11 Dzulhijjah dan melontar pada hari ke-11 dan dianggapnya sebagai melontar hari kedua karena mengira telah berada di Mina dua hari. Lalu mereka meninggalkan Mina dengan berfedoman pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya” [Al-Baqarah : 203]

Sehingga dengan itu mereka meninggalkan mabit pada malam ke-12. Apakah hal tersebut boleh menurut syari’at? Dan apakah sah bila seseorang menganggap hari ‘Id termasuk dua hari yang dimaksudkan dalam ayat tersebut ? Ataukah mereka melontar hari ke-12 pada hari ke-11, kemudian mereka meninggalkan Mina ? Mohon penjelasan hal tersebut beserta dalilnya.

Jawaban
Yang dimaksudkan dua hari yang diperbolehkan Allah bila orang yang haji ingin mempercepat pulang dari Mina setelah melalui keduanya ketika di Mina adalah hari kedua dan hari ketiga setalah Idul Adha (11 dan 12 Dzulhijjah), bukan hari Idul Adha dan hari setelahnya (11 Dzulhijjah). Sebab Idul Adha sebagai hari haji akbar, sedangkan hari-hari tasyriq adalah tiga hari setelah Id, yaitu hari-hari pelaksanaan melontar tiga jumrah. Dimana Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang ingin mempercepat pulang, maka dia boleh pulang sebelum terbenamnya matahari kedua, yakni hari ke-2 dari hari tasyriq (12 Dzulhijjah). Dan barangsiapa yang masih di Mina ketika terbenamnya matahari hari itu (malam ke-13) maka dia wajib mabit di Mina dan melontar jumrah pada hari ke-3 (13-Dzulhijjah). Dan demikian ini adalah yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Maka orang yang pulang pada hari ke-11 Dzulhijjah berarti dia mengurangi jumlah melontar pada hari ke-12 yang wajib dia lakukan. Karena itu dia wajib menyembelih kurban di Mekkah untuk orang-orang miskin. Sedangkan karena tidak mabit di Mina pada malam ke-12, maka dia wajib sedekah yang mampu dilakukan disertai taubat dan mohon ampunan kepada Allah dari kekurangan yang dilakukan karena mempercepat pulang dari Mina sebelum waktunya.

BERMALAM DI MEKKAH SELAMA HARI-HARI TASYRIQ

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Telah maklum bahwa orang-orang yang haji wajib bermalam di Mina selama hari tasyriq. Tapi jika seseorang tidak ingin tidur pada malam hari, apakah dia boleh keluar dari Mina dan berada di Masjidil Haram untuk menambah ibadah ?

Jawaban
Adapun yang dimaksud pendapat ulama tentang wajib mabit di Mina pada hari-hari Tasyriq adalah, agar seseorang tetap di Mina baik dia tidur maupun berjaga. Bukan yang dimaksud bahwa dia bermalam itu hanya bagi orang yang tidur saja. Atas dasar ini kami mengatakan kepada penanya, bahwa kamu tidak boleh menetap di Mekkah al-Mukarramah pada hari-hari tasyriq. tapi kamu wajib berada di Mina. Hanya saja ulama mengatakan, jika seseorang mengambil mayoritas malam (lebih setengah malam) di Mina maka demikian itu telah cukup baginya. Dan jika seseorang tidak mendapatkan tempat di Mina, maka dia harus mengambil tempat di ujung akhir kemah dan tidak boleh pergi ke Mekkah. Bahkan kami mengatakan, jika kamu tidak mendapatkan tempat di Mina, maka lihatlah akhir kemah jama’ah haji dan kamu harus mengambil tempat di sisi mereka. Sebab sesungguhnya yang wajib adalah agar sebagian manusia bersama sebagian yang lain. Seperti jika Masjid telah penuh, maka jama’ah membuat shaf yang besambung kepada shaf jama’ah yang lain. Wallahu ‘alam

KELUAR DARI MINA PADA TANGGAL 12 DZULHIJJAH

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seseorang jama’ah haji keluar dari Mina sebelum terbenamnya matahari pada hari ke-12 Dzulhijjah dengan niat mempercepat kepulangannya dari Mina, tapi dia mempunyai pekerjaan di Mina dan kembali lagi ke Mina setelah matahari terbenam. Apakh dia dinilai orang yang mempercepat kepulangan dari Mina ?

Jawaban
Ya’ dia dinilai orang yang mempercepat pulang dari Mina. Sebab dia telah menyelesaikan haji. Adapun niatnya kembali ke Mina karena pekerjaannya tidak menghambat untuk mempercepat pelaksanaan manasik haji. Sebab ketika dia kembali ke Mina adalah karena pekerjaan, bukan untuk melakukan ibadah

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »

WAKTU MELONTAR JUMRAH ‘AQABAH SECARA UMUM

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Dalam hadits disebutkan bahwa Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata : “Saya melontar setelah sore ?” Maka Nabi bersabda : “Tidak mengapa”. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Baihaqi.

Apakah ini shahih ? Dan apakah boleh melontar jumrah setelah terbenam matahri pada hari Idul Adha ?

Jawaban
Terdapat riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya pada hari Idul Adha dan bukan hari tasyriq. Dalam shahih Bukhari disebutkan, bahwa seorang sahabat berkata : “Saya melontar setelah sore ?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak mengapa”. Maksudnya, apabila penanya melontar pada akhir siang. Dan semua ulama menyatakan sah melontar pada akhir siang hari Idul Adha yaitu setelah dzuhur atau setelah ashar. Dan tidak berarti bahwa penanya tersebut melontar pada malam hari. Sebab dia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum datangnya malam.

Adapun tentang melontar setelah terbenamnya matahari, maka terdapat perbedaan pendapat di antara ulama. Di antara mereka ada yang mengatakan boleh. Demikian ini adalah pendapat yang kuat. Dan sebagian yang lain mengatakan tidak sah melontar setelah terbenam matahari. Tapi harus ditunda pada esok hari ketika matahari telah condong ke barat. Yaitu dengan melontar jumrah ‘aqabah terlebih dahulu, kemudian melontar tiga jumrah secara berurutan (ula, wustha dan ‘aqabah) untuk hari ke-11 Dzulhijjah.

Demikian inilah yang disyariatkan menurut ulama. Tapi seyogianya setiap Muslim berupaya keras untuk melontar jumrah ‘aqabah pada siang hari Idul Adha sebagaimana dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, semoga Allah meridhoi mereka. Demikian pula dalam melontar pada hari tasyriq, seyogianya dilakukan setelah matahari condong ke barat dan sebelum terbenam matahari. Tapi jika mengalami kesulitan sedangkan matahri telah terbenam dan belum melontar, maka boleh melontar setelah terbenam matahari hingga akhir malam, menurut pendapat yang shahih.

MELONTAR JUMRAH UNTUK HARI TASYRIQ PADA MALAM HARI

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah boleh melontar tiga jumrah (ula, wustha dan ‘aqabah) untuk hari tasyriq pada malam hari bagi orang yang tidak ada halangan secara syar’i ?

Jawaban
Menurut pendapat yang shahih, boleh melontar jumrah setelah terbenam matahari. Tapi menurut sunnah waktu melontar adalah setelah matahari condong ke barat sampai matahari terbenam. Dan ini adalah yang utama jika mampu melakukannya. Tapi jika sulit, maka menurut pendapat yang shahih, boleh melontar setelah terbenam matahari.

WAKTU MELONTAR BAGI ORANG-ORANG YANG DATANG BERSAMA KAUM WANITA DARI MUZDALIFAH

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah orang-orang yang datang dari Muzdalifah bersama kaum wanita dan orang-orang yang lemah setelah tengah malam boleh langsung melontar jumrah aqabah ketika sampai di Mina ataukah tidak ?

Jawaban
Bagi orang-orang yang datang bersama orang-orang yang lemah dan para wanita, seperti para mahram dan lain-lain maka mereka diperbolehkan melontar jumrah aqabah pada akhir malam itu bersama kaum wanita.

RAGU TENTANG JATUHNYA BATU DI BAK TEMPAT MELONTAR

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum bagi orang yang ragu bahwa sebagian batu yang digunakan melontar tidak jatuh dalam bak tempat melontar ?

Jawaban
Siapa yang ragu maka di wajib melengkapi. Yaitu dengan mengambil batu dari bumi yang ada di sisinya di Mina asal bukan dari bak tempat melontar, lalu menyempurnakan melontar dengan batu yang diambilnya itu.

JIKA BATU YANG DILONTAR TIDAK JATUH PADA TEMPAT MELONTAR

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seseorang yang haji melontar jumrah aqabah dari arah timur dan batunya tidak jatuh di dalam bak tempat melontar. Apa yang harus dia lakukan, sedangkan dia berada pada hari ke-13 Dzulhijjah ? Dan apakah dia wajib mengulangi (melontar) pada hari-hari tasyriq ?

Jawaban
Tidak wajib mengulang untuk seluruh melontarnya, tapi hanya wajib mengulang melontar yang salah saja. Atas dasar ini, maka dia mengulang melontar jumrah aqabah saja dengan cara yang benar. Sebab melontar jumrah aqabah dari arah timur adalah tidak sah, karena dalam kondisi seperti itu batu yang digunakan melontar tidak jatuh pada bak tempat melontar. Tapi jika melontarnya dilakukan diatas jembatan walaupun dari arah timur, maka telah cukup baginya karena batunya akan jatuh pada bak tempat melontar.

MASIH TERSISA SATU ATAU DUA LONTARAN

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Jika satu atau dua dari tujuh lontaran tidak tepat sasaran dan masih tersisa waktu satu atau dua hari, apakah wajib mengulang melontar ? Dan jika wajib, apakah hanya wajib mengulang sisanya ?

Jawaban
Jika masih tersisa satu atau dua dari tujuh lontaran, maka ulama fiqih mengatakan, jika yang tersisa itu akhir lontaran maka wajib menyempurnakannya. Maksudnya menyempurnakan yang kurang saja dan tidak wajib melontar yang sebelumnya. Tapi jika yang kurang bukan akhir lontaran maka disamping wajib menyempurnakan kekurangan tersebut juga mengganti lontaran yang setelahnya. Adapun yang benar menurut saya adalah hanya wajib menyempurnakan kekurangannya secara mutlak dan tidak wajib mengulang lontaran yang setelahnya. Sebab keharusan berurutan dalam melontar menjadi gugur jika tidak tahu atau lupa. Sedangkan orang tersebut telah melontar dua kali dan dia yakin bahwa dia tidak wajib atas lontaran yang sebelumnya. Sehingga dia antara tidak tahu atau lupa. Karena itu, kami mengatakan bahwa dia hanya wajib melontar yang kurang dan tidak wajib melontar yang setelahnya. Dan di sini kami ingin mengingatkan bahwa tempat melontar adalah bak tempat bertumpuknya batu-batu jika melontar, bukan tiang yang didirikan untuk menunjukkan tempat melontar tersebut. Maka jika seseorang melontar pada lingkaran bak melontar dan tidak satupun batu dari tujuh batu yang terkena tiang hal itu sudah cukup dan sah.

MELONTAR JUMRAH AQABAH PADA MALAM IDUL ADHA

Oleh: Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta

Pertanyaan
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Apakah boleh melontar Jumrah Aqabah pada malam Idul Adha setelah bertolak dari Muzdalifah ke Mina pada malam hari ? Dan bagaimana komentar anda tentang hadits shahih tentang perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak muda Bani Abdul Muththalib.”Artinya : Janganlah kamu melontar sehingga matahari terbit” [Hadits Riwayat Ahmad dan yang lainnya]

Jawaban
Yang utama bagi orang-orang yang kuat adalah melontar jumrah aqabah pada hari Idul Adha setelah terbit matahari karena mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan hadits tersebut. Adapun bagi orang-orang yang berhalangan, yaitu orang-orang yang lemah, maka mereka boleh melontar pada tengah malam bagian kedua karena berpedoman pada beberapa hadits yang berkaitan dengan hal tersebut. Di antaranya hadits Ummi Salamah Radhiallahu anha.

“Artinya : Bahwa dia melontar jumrah sebelum fajar” [Hadits Riwayat Abu Dawud dengan sanad shahih]

Dan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan sanad dari Abdullah mantan hamba sahaya Asma’: “Bahwa dia (Asma’) singgah pada malam ‘Idul Adha di Muzdalifah lalu shalat, kemudian berkata: “Wahai anakku, apakah bulan telah tenggelam?” Saya berkata: “Belum”. Maka dia shalat, kemudian berkata: “Apakah bulan telah tenggelam?” Saya berkata: “Ya”. Ia berkata: “Maka berangkatlah kalian” Maka kami berangkat dan berjalan hingga dia melontar jumrah lalu pulang dan shalat shubuh di rumahnya. Maka saya berkata: Wahai ibunda, suasana masih dalam waktu gelap!” Ia berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengizinkan hal itu kepada wanita”.

Adapun hadits dari Ibnu Abbas Radiallahu ‘Anhu tentang melontar setelah terbit matahari maka hadits tersebut dinyatakan dha’if oleh sebagian ulama karena sanadnya terputus. Dan seandainya hadits itu shahih tentu diterapkan pada sunnah dan lebih utama, dengan memadukan antara hadits-hadits yang berkaitan tentang melontar seperti dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah

SALAH SATU BATU KETIKA MELONTAR TIDAK JATUH DALAM TEMPAT MELONTAR KARENA BERDESAK-DESAKAN

Pertanyaan
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Apa kewajiban orang yang melontar jika salah satu dari tujuh batunya tidak jatuh pada bak tempat melontar jumrah aqabah karena sangat berdesak-desakan yang melemahkan kekuatan badannya ?

Jawaban
Jika memungkinkan, maka dia melontar satu kali lagi untuk menggantinya. Tapi jika tidak, maka sudah cukup baginya, dan tidak wajib fidyah (menyembelih kambing) maupun memberikan makan kepada orang miskin.

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »