Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jumrah’

Kesempatan untuk bisa pergi ke tanah suci merupakan satu nikmat yang tak habis-habis untuk disyukuri. Segala apa yang kita temui memberi kebahagiaan yang teramat dalam. Saya baru mengerti mengapa setiap orang yang sudah pergi haji selalu ingin untuk kembali lagi ke sana. Meski awal perjalanan haji kami saya mulai dengan kejadian yang cukup  berat, yaitu pingsan di pesawat, alhamdulillah setelah itu Allah banyak memberi kemudahan-kemudahan.

Catatan ini saya buat sebagai ilustrasi bahwa segala sesuatu yang pada awalnya terasa berat dalam ibadah haji akan terasa nikmat jika kita sepenuhnya berserah diri pada Allah dan yakin bahwa Allah akan memuliakan tamu-tamuNya. Karena setiap orang, setiap tahun, yang dihadapi berbeda-beda, tetapi apapun keaadaannya haji tetaplah nikmat.

GELOMBANG 2
Sejak awal manasik dijelaskan bahwa rombongan haji Indonesia dibagi 2 gelombang: gelombang 1 ke medinah dulu baru ke mekah, sedang gelombang 2 langsung ke mekah baru ke medinah. Berdoa saja kita termasuk gelombang1 begitu pembimbing bilang, bahkan beliau berkata selama ini yogya selalu gelombang 1. seolah-olah gelombang 1 lebih enak daripada gelombang 2. Anehnya lagi pada waktu manasik bahkan sampai praktek manasik selalu diandaikan gelombang 1.

Ternyata pada saat pengumuman kloter kita masuk gelombang 2, saya sempat terpana saat itu. Bukan karena kecewa tetapi lebih pada ketidaksiapan untuk menghadapi keadaan tidak sesuai rencana. Mungkin hanya persoalan kecil tetapi dari situ saya belajar bahwa meski kita punya rencana, kita harus siap menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan rencana kita, semuanya kita pasrahkan kepada Allah.

Gelombang 2 memang mempunyai beberapa masalah yaitu penentuan miqat dan kedatangan yang mendekati puncak haji, kedua hal tersebut tidak dijumpai pada pemberangkatan dengan gelombang 1. Pada akhirnya kedua hal itupun tidak menjadi masalah,sehingga ketika haji selesai saya malah merasakan nikmatnya berangkat dengan gelombang 2. Kenapa? Jarak waktu yang sebentar antara kedatangan di mekah dengan puncak haji menjadikan kami lebih konsentrasi sehingga ketika mulai tarwiyah, wukuf hingga melempar jumroh bisa kami lakukan dengan baik. Kemudian ketika pulang kembali ke mekah, kami masih mempunyai cukup waktu untuk beristirahat dan bisa merasakan ”sepinya” masjidil harom.

Beberapa jamaah yang sakit sepulang dari mina bisa istirahat dengan tenang karena toh puncak haji sudah selesai. Ketika saat ke medinah sebagian besar jamaah dalam kondisi sehat. Saya sendiri ketika pulang dari mina mulai batuk, begitu di medinah langsung terasa ringan. Bisa dimaklumi karena udara medinah lebih nyaman daripada mekah sehingga yang dari mekah masih sakit sampai medinah langsung sembuh. Saya merasakan begitu nyaman saat beribadah di masjid nabawi hingga waktu 9 hari dengan cepat berlalu. Saudara-saudara kami heran begitu kami tiba di tanah air, kok kami begitu terlihat sehat ? Tidak terlihat lelah, tidak terlihat batuk-batuk. Alhamdulillah batuknya sudah ditinggal di sana.

PONDOKAN DI SAUQIYYAH
Sauqiyyah adalah daerah yang baru pertama kali digunakan sebagai pondokan jamaah haji Indonesia. Letaknya di pinggiran mekah sepertinya daerah baru karena masih sepi dan rumah-rumah dibangun diantara gunung-gunung. Jarak dari kota mekah hanya 14 km saja.Di sana tidak ada toko-toko sebagaimana yang ada di sekitar masjidil harom, jika jamaah haji ingin berbelanja maka pergi ke jalan utama di kawasan itu di mana ada beberapa minimarket yang menjual berbagai macam kebutuhan yang tentu saja tak sebanyak di mekah.

Kondisi ini memberi keuntungan sendiri karena kami jadi tidak sibuk untuk berbelanja. Jamaah haji  indonesia di sauqiyyah ditempatkan di rumah-rumah penduduk jadi tidak di hotel sebagaimana di sekitar masjidil harom. Rumahnya pun kecil-kecil hanya berkisar 5-6 lantai.Tidak terlalu padat, udaranya pun cukup segar, di pagi hari masih terdengar burung berkicau. Namanya juga di desa.

Rombongan kami karena hanya berjumlah 31 orang ditempatkan di sebuah rumah yang sebagian besar dari kloter lain, sedang kloter kami lainnya berada di rumah yang lain. Karena datang belakangan tentu saja dapat kamarnya pun sisa kamar yang ada. Rombongan yang terdiri dari 3 regu hanya mendapat 3 kamar, ibu-ibu yang berjumlah 15 orang dapat 2 kamar, 1 kamar kecil untuk 1 regu untuk 4 orang, 1 kamar yang besar untuk 2 regu lainnya yaitu untuk 11 orang padahal kapasitas kamar hanya untuk 9 orang. Sedang bapak-bapak dari 3 regu jadi satu kamar, semuanya 16 orang. Dahsyat bukan?

Keterkejutan kami yang belum hilang karena melihat daerah tempat kami tinggal selama di mekah di tambah dengan kondisi rumah yang kami tinggali benar-benar menguji kesabaran kami. Beberapa teman mulai mengeluh, suami buru-buru menasehati untuk sabar dan menahan diri untuk tidak mengeluh. Insya allah, Allah akan beri kemudahan.

Yang terlintas di pikiran saya, ternyata pergi haji perlu kemampuan untuk survival juga. Tidak semua tersedia, tidak semua mudah.Tetap perlu perjuangan.

Perjuangan itu ternyata memang sangat diperlukan selama di sauqiyyah, karena jarak yang jauh maka untuk untuk ke masjidil haram harus naik bis. Stasiun bis ada sekitar 3 km-an dari masjidil haram, dari stasiun ke masjid dihubungkan dengan terowongan di bawah pelataran masjidil haram. Jamaah diturunkan di terowongan kemudian berjalan sekitar 300 m, begitu keluar terowongan sudah sampai ke pelataran masjidil haram.

Pertama kali masuk ke terowongan, terus terang nyali saya ciut, bagaimana tidak? Di terowongan yang tidak terlalu terang, suara bising oleh kendaraan dan suara blower, kondisinya padat sekali, orang begitu banyak karena sudah mendekati puncak haji. Masjidil harampun sudah penuh. Subhanallah belum pernah saya melihat orang segitu banyak dan semuanya mengagungkan asma Allah. Rasa haru dan bahagia begitu meliputi seluruh jiwa begitu memasuki masjid dan melihat ka’bah, susah payah menuju kemari hilang begitu saja.

Perjuangan untuk sampai ke masjidil haram dari sauqiyah menjadikan setiap kali ke sana menjadi begitu berharga. Tidak sebagaimana yang jarak pondokan dekat, kami di sauqiyah hanya bisa sehari sekali ke sana. Itu pun tidak setiap hari mengingat kondisi tubuh. Perjalanan memang melelahkan terutama di terowongan itu.Pada awalnya karena rute kami dari terowongan langsung ke pelataran masjid begitu pun pulangnya, saya sempat heran kata orang di sekitar masjid banyak toko-toko, mana tokonya? Bagai mana bisa tahu? Tahunya cuman terowongan sama pelataran masjid, padahal pelataran masjid penuh manusia dari ujung ke ujung, baru ketika masjidil haram’sepi’ saya baru bisa melihat keadaan sekitar masjid.

Perjuangan membawa banyak kemudahan, Allah memberi kami banyak kemudahan dalam kami menjalankan ibadah di baitullah ini. Ketika Umrah, thawaf ifadhah, sampai thawaf wada begitu banyak kami mendapat kemudahan. Meski ketika thawaf  ataupun sai tidak semua jadi satu tetapi begitu selesai semua bisa berkumpul kembali. Seluruh rombongan bisa menunaikan thawaf dan sai dengan lancar, tak ada anggota rombongan yang tersesat ataupun tertinggal. Ketika thawaf dalam kondisi penuh sesak padahal kami bersama orang-orang tua, dengan berserah diri dan memohon pertolongan Allah, alhamdulillah kami bisa menunaikannya dengan mudah. Tanpa terpisah dengan orangtua yang kami gandeng, tidak mengalami didesak ataupun ditabrak orang. Subhanallah. Semuanya lancar.

Sementara itu tinggal di sauqiyah, meski mungkin tidak di semua rumah, saya merasakan banyak kenikmatan.Paling tidak itu yang saya rasakan. Seperti yang saya tulis di awal tadi, saya bersama 10 orang jamaah putri lainnya dapat kamar terakhir yang ternyata kamar itu dekat kamar yang ditinggali oleh kepala keluarga. Satu rumah ditinggali oleh sepasang suami istri beserta anak-anak mereka yang sudah berkeluarga beserta cucu-cucu mereka, masing-masing tersebar di lantai yang berbeda. Kebetulan yang kami tinggali dekat kepala keluarga dengan pembantu mereka dari indonesia yang baik hati dan pintar memasak. Sejak hari pertama kami datang, makanan tidak henti-hentinya mengalir ke kamar kami, Dari nasi bukhari, salad, donat, pizza, sambosa, cake, hingga buah pisang ataupun sekedar teh dan susu. Hanya kamar kami. Masya allah, betapa mudah Allah menyenangkan kami.

Tuan rumah sangat ramah dan baik. Kami pun bisa bercanda dengan cucu-cucu mereka yang lucu. Ada lagi yang menyenangkan di sauqiyah terutama 10 hari pertama bulan dzulhijah, banyak orang shodaqoh makanan kepada jamaah haji di sana, saat makan siang ataupun sore tiba-tiba datang kiriman makanan lengkap dengan minum dan buah ke pondokan. Makanan benar-benar melimpah, padahal informasi awal kami di suruh membawa bekal makanan banyak karena di sauqiyah tidak banyak toko. Tapi siapa bilang makanan datang harus dari toko? Belum lagi kalau kami tidak ke masjidil haram, biasa kami sholat jamaah di masjid dekat rumah pondokan kami. Ketika duduk menunggu sholat berikutnya tiba-tiba di pangkuan kami diletakkan satu bungkusan berisi roti, sari buah dan biskuit ataupun ketika pulang ada ibu-ibu bercadar membagi kurma setengah kiloan, atau roti lengkap dengan selai dan keju, atau nasi bukhori. Bahkan suatu sore ketika saya dan suami jalan-jalan sepulang belanja kebutuhan di minimarket ada mobil menyalip kami kemudian berhenti dan memanggil kami, diberinya kami jeruk dan pisang.

Masjid di belakang pondokan kami juga menjadi hiburan tersendiri bagi kami yang merasakan jauhnya ke masjidil haram. Imam masjid, masjid al-ikhsan namanya, suaranya begitu merdu sehingga sholat jamaah di belakang beliau membaca surat sepanjang apapun tidak terasa capek, beberapa teman menilai suara imam masjid al-ikhsan lebih merdu di bandingkan imam masjidil haram dan masjid nabawi. Secara berkala ada seorang syeh yang memberi taklim di masjid itu dengan penterjemah, karena jamaah hampir semua indonesia.

Suatu ketika suami saya menanyakan hadits yang menjelaskan bahwa sholat di masjid lain di mekah pahalanya sama dengan di masjidil haram, syeh itu menjelaskan hadits tsb benar, hanya saja di masjidil haram terdapat tempat-tempat yang mustajabah. Rasanya ‘nyes’ di hati mendengarnya, pahala memang hak Allah tetapi mendengar penjelasan tersebut benar-benar melegakan mengingat kondisi kami di sana saat itu. Tentu saja kami tetap ingin ke masjidil haram tetapi karena banyak hal kami tidak bisa ke sana semudah yang tinggal di dekat masjidil haram penjelasan tersebut benar-benar menghibur. Di masjid itu juga ada madrasah sore untuk anak-anak kecil semacam TPA di indonesia. Suami saya malah pernah main sepakbola dengan anak-anak kecil itu di halaman masjid. Menyenangkan bukan?

Pelajaran yang saya ambil dari sauqiyah adalah ketika kita menerima keadaan yang ada, menikmatinya dan bersyukur maka Allah akan melimpahkan nikmatNya, dan begitu mudah bagi Allah untuk merubah keadaan.

DI MINA
Malam menjelang tanggal 8 dzulhijah kami bertolak ke mina untuk tarwiyah mengikuti sunah Rasulullah, di mina kami menempati maktab di mina jadid.

Begitu turun saya melihat di pagar luar maktab ada papan penunjuk bertuliskan MUSDZALIFAH END HERE. Dalam hati saya berkata o..ini sudah mepet musdzalifah, diseberang sana sudah musdzalifah, kemudian yang langsung terlintas melempar jumrahnya harus berjalan jauh dari maktab.

Ada 2 hal yang paling berkesan selama di mina :
1. Ketika selesai wukuf kami diangkut dengan bis tepat adzan maghrib berkumandang, ketika bis melewati musdzalifah bis tidak berhenti, kami yang ada di bis bertanya-tanya kenapa bis tidak berhenti tapi terus berputar-putar sampai akhirnya bis memasuki mina jadid tempat tenda kami berada, kami diturunkan di maktab kembali. Kenapa kami diturunkan di maktab? Bukankah seharusnya menuju musdzalifah untuk mabit di sana, dan baru setelah lewat tengah malam baru kembali ke mina? Mereka yang tidak tarwiyah tidak mengetahui masalah ini karena mereka ke arafah dari mekah, tapi kami yang tarwiyah tahu karena kami pagi tadi berangkat menuju arafah dari sini, dari mina.

Pada awalnya saya berpikir mungkinkah karena maktab kami mepet dengan musdzalifah maka kami diturunkan di sini sehingga kami bisa menuju musdzalifah dan kembali ke maktab dengan jalan kaki. Karena dipaksa petugas untuk memasuki areal maktab dan berbekal keterangan ini merupakan ijtihad ulama arab saudi untuk mereka yang maktabnya di mina jadid kami kembali ke tenda meski dengan sedikit bingung dan ragu.

Pada akhirnya kami mendapat penjelasan bahwa tenda kami terletak di mina jadid yang merupakan perluasan dari mina yang letaknya di Musdzalifah, jadi kami mau ke musdzalifah mana lagi? Tenda kami sudah di musdzalifah. Ini ya mina,ini ya musdzalifah. Ternyata papan MUSDZALIFAH END HERE bukan berarti di sini mina, di sana musdzalifah tapi….di sini musdzalifah di sana sudah bukan musdzalifah lagi. Saya geli sendiri mengingat hal itu.

Kalaulah boleh memilih tentu saja kami memilih keadaan yang ideal tanpa khilafiyah semacam ini, sehingga kami bisa merasakan mabit di hotel seribu bintang, musdzalifah, tapi takdir Allah malam itu kami mabit di dalam tenda. Satu hal yang membuat saya terpana, saya merasakan betapa mudahnya haji kami, tanpa banyak kesulitan kami wukuf di arafah dengan khusyuk, makanan berlimpah, transportasi mudah dan sekarang mabit dan sekaligus sudah kembali ke mina. Sudah selesai haji kami? Begitu mudah? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

2. Sebelum berangkat ada teman bercerita bahwa dia ketika di mina, ia berada di mina jadid sehingga untuk melempar jumroh harus berjalan 7 km. Saat itu saya memohon kepada Allah mudah-mudahan tenda saya di mina tidak berada di mina jadid. Ternyata Allah menempatkan saya di mina jadid justru untuk menampakkan nikmatNya yang tak terhinga pada kami. Itu yang saya rasakan kemudian setelah kami menyelesaikan nafar tsani dan kembali ke mekah.

Kami berangkat untuk melempar jumroh aqabah pada tanggal 10 dzulhijah jam 2 siang, dengan hati sedikit ciut mengingat jarak itu tadi ditambah kondisi saya yang sejak pingsan di pesawat kepala saya selalu berasa kekurangan oksigen, kami berangkat. Selama berjalan tak henti-hentinya saya berdo’a mohon diberi kekuatan dan kemudahan. Subhanallah, jalan-jalan kami lalui dengan semangat, orang-orang tua yang saat berangkat terlihat payah, berjalan dengan semangat bahkan ada jamaah yang biasanya jalan dibantu tongkat ketika berjalan ke jamarat tongkatnya diangkat kemudian berjalan biasa.

Allah benar-benar memendekkan jarak yang kami lalui, padahal kami jalan 45 menit baru sampai terowongan mina, tapi seolah tak terasa jauh. Terowongan mina pun terasa menyenangkan waktu dilewati, jauh dari gambaran yang diceritakan orang-orang. Sesampai di jamarat, kami mengambil lantai 1 keadaan tidak terlalu ramai sehingga kami bisa melempar dengan tenang. Tak terkira rasa syukur dan haru kami selesai melempar jumroh aqobah, kami menangis dan saling mendoakan mudah-mudahan Allah menerima ibadah haji kami.

Tak kurang dari 3 jam jarak tempuh kami untuk berjalan ke jamarat pulang pergi. Subhanallah, tanpa pertolongan Allah tidak mungkin kami bisa menjalaninya. Sebagai perbandingan saja, sebelum berangkat haji saya dan suami latihan jalan-jalan, jarak tempuh kami 6-7 km itu pun pulangnya naik bis. Rombongan kami mengambil nafar tsani, jadi kami berjalan kaki kurang lebih 14 km sebanyak 4 kali, pada tgl 13 dzulhijah kami berjalan ke jamarat sesudah sholah subuh tanpa sarapan dulu padahal tgl 12 dzulhijah pulang dari jamarat baru pukul 11 malam.

Masya Allah, rasanya nikmat sekali. Hampir semua jamaah bisa melakukannya kecuali mereka yang benar-benar udzur. Apa yang saya ceritakan diatas sekedar ilustrasi yang menggambarkan bahwa dalam ibadah haji ada begitu banyak keajaiban, kemudahan dan kenikmatan yang tak tergambarkan sebelumnya. Cerita ini tidak bermaksud untuk membandingkan keadaan satu lebih baik dari keadaan lainnya,misal gelombang 2 lebih baik dari gelombang 1.

Seperti apapun yang kita temui haji membawa kenikmatan yang tidak terhingga selama kita ikhlas dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa ta’alaa. Nasehat seorang ustadz ketika akan berangkat: ”Tidak ada resiko dalam ibadah haji” Begitulah adanya maka hilangkanlah kekhawatiran dan kecemasan. Semoga bermanfaat.

Sebagamana dikisahkan oleh: Dra.Diatri Rahayu, Apt (Penanggung Jawab PJ Al-Ghuroba’ dan salah satu apotik di DI Yogyakarta) melalui email kontak@info.tm

Advertisements

Read Full Post »

Perjalanan suci menuju Baitullah membutuhkan bekal yang cukup. Di samping bekal harta, ilmu pun merupakan bekal yang mutlak dibutuhkan. Karena dengan ilmu, seseorang akan terbimbing dalam melakukan ibadah hajinya sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu, akan terhindar dari berbagai macam bid’ah dan kesalahan, sehingga hajinya pun sebagai haji mabrur yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah.

Berangkat dari harapan mulia inilah, nampaknya penting sekali untuk diangkat berbagai kesalahan atau bid’ah (hal-hal yang diada-adakan dalam agama) yang sekiranya dapat menghalangi seseorang untuk meraih predikat haji mabrur. Di antara kesalahan-kesalahan itu adalah sebagai berikut:

Beberapa Kesalahan Sebelum Berangkat Haji
1. Mengadakan acara pesta (selamatan) dengan diiringi bacaan doa atau pun shalawat tertentu. Bahkan terkadang dengan iringan musik tertentu. Perbuatan semacam ini tidak ada contohnya dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.
2. Mengiringi keberangkatan jamaah haji dengan adzan atau pun musik.
3. Mengharuskan diri berziarah ke kubur sanak-famili dan orang-orang shalih.
4. Keyakinan bahwasanya calon jamaah haji itu selalu diiringi malaikat sepekan sebelum keberangkatannya, sehingga doanya mustajab.
5. Kepergian wanita ke Baitullah tanpa disertai mahramnya. Atau melakukan apa yang diistilahkan dengan ‘persaudaraan nisbi/semu’, yaitu menjadikan seorang jamaah haji pria sebagai mahram bagi si wanita dalam perjalanan hajinya (padahal pria tersebut bukan mahram yang sesungguhnya), yang kemudian dapat bermuamalah sebagaimana layaknya dengan mahramnya sendiri. Demikian pula ‘nikah nisbi/semu’, yaitu dinikahkannya seorang calon jamaah haji wanita (baik sudah bersuami atau belum) dengan calon jamaah haji pria, yang kemudian keduanya dapat bermuamalah sebagaimana layaknya suami-isteri. Tentu, yang demikian ini adalah kemungkaran yang tidak diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
6. Melakukan perjalanan haji semata-mata bertujuan ingin ziarah ke makam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
7. Melakukan shalat dua rakaat ketika akan berangkat haji.
8. Bersalaman bahkan berpelukan dengan seseorang yang bukan mahramnya menjelang keberangkatan ke tanah suci.

Beberapa Kesalahan Ketika Berihram dan Bertalbiyah
1. Melewati miqatnya dalam keadaan tidak berihram. Hal ini sering terjadi pada sebagian jamaah haji Indonesia kelompok kedua yang melakukan perjalanan dari tanah air (langsung) menuju Makkah. Mereka tidak berihram ketika melewati miqat (di atas pesawat terbang) dan baru berihram setibanya di Jeddah. Padahal kota Jeddah bukanlah miqat menurut pendapat yang benar.
2. Bertalbiyah bersama-sama dengan dipimpin seseorang di antara mereka.
3. Selalu dalam keadaan menampakkan pundak kanan ketika berihram (idhthiba’), padahal yang demikian itu hanya disunnahkan pada thawaf qudum.
4. Meninggalkan bacaan talbiyah dan menggantinya dengan tahlil dan takbir.

Beberapa Kesalahan Ketika Thawaf
1. Mengharuskan diri untuk mandi sebelum berthawaf.
2. Melafadzkan niat thawaf.
3. Mengangkat kedua tangan saat berisyarat kepada Hajar Aswad, seperti ketika takbiratul ihram dalam shalat.
4. Memulai putaran thawaf sebelum rukun Hajar Aswad.
5. Melakukan shalat tahiyyatul masjid sebelum thawaf.
6. Hanya mengelilingi bangunan Ka’bah yang bersegi empat saja dan tidak mengelilingi Hijr.
7. Melakukan jalan cepat (raml) pada seluruh putaran thawaf, padahal itu hanya dilakukan pada 3 putaran pertama dan itu pun khusus pada thawaf qudum saja.
8. Berdesak-desakan untuk mencium Hajar Aswad, yang terkadang sampai mendzalimi jamaah haji lainnya.
9. Mengusap-usap Hajar Aswad dalam rangka tabarruk (mengais berkah) dan berkeyakinan bahwa yang demikian itu dapat mendatangkan manfaat dan menolak bala.
10. Mencium dan mengusap-usap sebagian sudut Ka’bah atau keseluruhannya. Bahkan terkadang ada yang menarik-narik kiswah (kain penutup Ka’bah) untuk menyobeknya guna dijadikan jimat.
11. Membaca doa/dzikir khusus pada setiap putaran thawaf, karena yang demikian itu tidak ada tuntunannya dari baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
12. Berthawaf dalam keadaan bersedekap.
13. Keyakinan bahwasanya barangsiapa mampu menggapai dinding atas dari pintu Ka’bah, maka dia telah berhasil memegang Al-‘Urwatul Wutsqa, yaitu: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.
14. Berdesak-desakan untuk shalat (persis) di belakang maqam Ibrahim, karena dapat mengganggu jamaah lainnya yang sedang melakukan thawaf. Padahal diperbolehkan baginya untuk melakukannya walaupun agak jauh di belakang maqam Ibrahim.
15. Lebih parah lagi bila shalat setelah thawaf tersebut dilakukan lebih dari 2 rakaat.
16. Berdiri dan berdoa bersama seusai thawaf dengan satu komando. Lebih tragis lagi manakala doa itu dibaca dengan suara yang amat keras dan mengganggu kekhusyukan ibadah jamaah haji lainnya.

Beberapa Kesalahan Ketika Melakukan Sa’i
1. Berwudhu’ terlebih dahulu sebelum bersa’i, walaupun masih dalam keadaan suci.
2. Mengharuskan diri untuk naik ke Bukit Shafa dan menyentuhkan badan ke dindingnya.
3. Mengangkat kedua tangan sebagaimana layaknya takbiratul ihram sambil bertakbir tiga kali ketika berada di atas Shafa dan Marwah.
4. Berlari-lari kecil pada seluruh putaran di antara Shafa dan Marwah. Padahal yang dituntunkan hanyalah ketika lewat di antara dua tanda hijau saja.
5. Melakukan shalat dua rakaat seusai sa’i.

Beberapa Kesalahan ketika di Arafah
1. Mengharuskan diri mandi untuk menyambut hari Arafah.
2. Melakukan wuquf di Arafah pada tanggal 8 Dzul Hijjah dalam rangka ihtiyath (berhati-hati), atau karena adanya keyakinan bahwa hari Arafah itu pada tanggal 8 Dzul Hijjah sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian sekte sesat Syi’ah Rafidhah.
3. Melakukan wuquf di luar batas wilayah Arafah.
4. Meninggalkan pembicaraan (membisu) dan meninggalkan doa.
5. Masuk ke dalam kubah yang berada di atas Jabal Rahmah, lalu shalat padanya atau mengelilinginya (berthawaf) sebagaimana layaknya berthawaf di Ka’bah.
6. Berangkat dari Makkah ke Arafah sejak tanggal 8 Dzul Hijjah.
7. Keyakinan bahwa wuquf di Arafah pada Hari Jum’at merupakan haji akbar dan senilai dengan 72 kali haji.
8. Meninggalkan Arafah sebelum terbenamnya matahari tanggal 9 Dzul Hijjah.

Beberapa Kesalahan ketika di Muzdalifah
1. Tergesa-gesa saat beranjak dari Arafah menuju Muzdalifah.
2. Mengharuskan diri mandi untuk menginap di Muzdalifah.
3. Tidak segera melaksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya saat tiba di Muzdalifah, bahkan sibuk mengumpulkan batu-batu kerikil.
4. Tidak menginap di Muzdalifah tanpa ada udzur syar’i.
5. Mengisi malamnya dengan shalat malam dan dzikir. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan malam tersebut untuk istirahat.

Beberapa Kesalahan ketika Melempar Jumrah
1. Mengharuskan diri untuk mandi sebelum melempar jumrah.
2. Mencuci batu kerikil terlebih dahulu sebelum dilemparkan.
3. Melempar jumrah dengan menggunakan batu besar, sepatu, dan lain sebagainya.
4. Keyakinan bahwa melempar jumrah itu dalam rangka melempar setan. Sehingga tidak jarang dari sebagian jamaah haji yang melemparkan benda-benda yang ada di sekitarnya, seperti sandal, payung, botol, dsb, agar lebih menyakitkan bagi setan.
5. Berdesak-desakan (saling mendorong) jamaah haji yang lainnya untuk bisa melakukan pelemparan.
6. Melemparkan kerikil-kerikil tersebut secara sekaligus. Padahal yang dituntunkan oleh baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melemparkannya satu demi satu sambil diiringi takbir.
7. Mewakilkan pelemparan kepada orang lain, padahal ia mampu untuk melakukannya.

Beberapa Kesalahan Ketika Menyembelih Hewan Kurban dan Bertahallul
1. Enggan untuk menyembelih hewan kurban yang merupakan kewajiban untuk haji Tamattu’-nya, dan lebih memilih untuk bershadaqah senilai harga hewan kurban tersebut.
2. Menyembelih hewan kurban untuk haji tamattu’ di Makkah sebelum hari nahr (tanggal 10 Dzulhijjah).
3. Mencukur dari sebelah kiri, atau menggundul/mencukur sebagian kepala saja bagi laki-laki.
4. Melakukan thawaf di seputar masjid yang berada di dekat tempat pelemparan jumrah.
5. Tidak melakukan sa’i setelah thawaf ifadhah dalam haji tamattu’.

Beberapa Kesalahan Ketika Thawaf Wada’
1. Meninggalkan Mina pada hari nafar (12 atau 13 Dzulhijjah) sebelum melempar jumrah dan langsung melakukan thawaf wada’, kemudian kembali ke Mina untuk melempar jumrah. Setelah itu mereka langsung pulang ke negara masing-masing. Padahal semestinya, thawaf wada’-lah yang merupakan penutup dari seluruh manasik haji.
2. Berjalan mundur seusai thawaf wada’, dengan anggapan sebagai tanda penghormatan terhadap Ka’bah.
3. Membaca doa-doa tertentu yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai “ucapan selamat tinggal” terhadap Ka’bah.

Beberapa Kesalahan ketika Berada di Kota Madinah
1. Meniatkan safar untuk menziarahi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal niat yang benar adalah dalam rangka mengunjungi Masjid Nabawi dan shalat di dalamnya.
2. Menitipkan pesan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui jamaah haji dan para penziarah, agar disampaikan di kuburan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih aneh lagi disertai foto/KTP yang bersangkutan.
3. Adanya praktik-praktik kesyirikan yang dilakukan di kuburan Nabi, antara lain:
 Menyengaja shalat dengan menghadap ke kubur.
 Bertawassul atau meminta syafaat kepada beliau secara langsung.
 Mengusap-usap dinding kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ngalap berkah, yang tidak jarang disertai dengan tangisan histeris.
 Berdoa secara langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mencukupi kebutuhannya.
4. Meyakini bahwa ziarah ke kubur Nabi merupakan bagian dari manasik haji.
5. Keyakinan bahwa haji seseorang tidaklah sempurna tanpa menetap di Madinah selama 8 hari untuk melakukan shalat wajib selama 40 waktu, yang diistilahkan dengan “Arba’inan”1.

Beberapa Kesalahan Setiba Di Kampung Halaman
1. Memopulerkan gelar ’Pak Haji’ atau ‘Bu Haji’. Sampai-sampai ada yang marah/tersinggung bila tidak dipanggil dengan panggilan tersebut.
2. Merayakannya dengan aneka pesta sambil diiringi shalawat Badar dan yang sejenisnya.
3. Meminta barakah kepada orang yang pulang haji, dengan keyakinan bahwa para malaikat sedang mengelilinginya.

Sumber Bacaan:
1. At-Tahqiq wal-Idhah Lilkatsir Min Masa`ilil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, karya Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
2. Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Kama Rawaha ‘Anhu Jabir radhiyallahu ‘nhuma, karya Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani.
3. Manasikul Hajji Wal ‘Umrah, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Al-Manhaj limuridil ‘Umrah wal Hajj, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
5. Shifat Hajjatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu.
6. Dalilul Haajji wal Mu’tamir wa Zaairi Masjidr Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Majmu’ah minal Ulama’, terbitan Departemen Agama Saudi Arabia.
7. Mu’jamul Bida’, karya Asy-Syaikh Ra`id bin Shabri bin Abi Alfah.

1 Hal ini berdasarkan sebuah hadits:

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ وَبَرِيْءٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yang shalat di masjidku (Masjid Nabawi) sebanyak empat puluh (40) shalat, tanpa ada satu pun yang terlewati, maka ditetapkan baginya: bebas dari an-naar, selamat dari adzab, dan terlepas dari nifaq.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani, dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Namun derajat hadits ini munkar (lebih parah daripada dha’if atau lemah). Hal itu dikarenakan tidak ada yang meriwayatkannya kecuali seorang perawi yang bernama Nabith, dan ia adalah seorang yang majhul (tidak dikenal). Kemudian apa yang ia riwayatkan menyelisihi riwayat seluruh perawi hadits tersebut. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 364 atau Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 6/318 karya Asy-Syaikh Al-Albani)

(Ditulis ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc. Sumber http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=385)

Read Full Post »

Tidak ada satupun amalan ibadah yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan setan dari kalangan manusia dan jin mengambil bagian untuk menggagalkan usaha tersebut. Bisikan demi bisikan dihembuskan. Rayuan demi rayuan dilancarkan. Di antara mereka ada yang berhasil dan lolos dalam penyesatannya serta ada pula yang gagal. Kegagalan yang diderita oleh setan bukan berarti lampu merah untuk berhenti melancarkan serangannya, namun merupakan langkah awal untuk mencari jalan lain yang lebih baik serta lebih menguntungkan dalam menyesatkan yang dimangsa. Langkah paling positif bagi setan adalah bagaimana bisa menunggangi hawa nafsu setiap orang dan menjadikannya sebagai kendaraan dalam perjalanan di padang pasir dan sebagai bahtera dalam perjalanan di lautan. Bila hawa nafsu telah ditunggangi maka akan berdampak:
1. Mempertuhankannya.
2. Tunduk di bawah kehendaknya.
3. Berbuat karenanya.
4. Menerima kebenaran bila menguntungkannya dan menolak bila tidak menguntungkannya.
5. Melanggar ketentuan Rabbnya sekalipun dia memiliki ilmu tentangnya.
6. Loyalitas kepada orang yang semestinya di-bara` dan sebaliknya bara` kepada orang yang semestinya diberikan loyalitas.
7. Tidak mau mendengarkan dalil.
8. Tidak mau kembali kepada dalil-dalil dalam mengambil keyakinan, hukum, dan tatacara berdakwah.
9. Tidak menerima teguran karena kesalahan yang dilakukan.

(Lihat secara ringkas Sallus Suyuf wal Asinnah karya Dr. Shalfiq, hal. 29-30)

Dari sinilah setiap orang yang akan memikul sebuah ibadah membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Dia harus bertarung dengan musuh dari dirinya sekaligus bertarung dengan musuh dari luar dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa para shahabat bertanya kepada beliau: “Ya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampaikanlah kepada kami kalimat yang kami akan baca di saat kami berada di waktu pagi, sore, dan ketika kami akan tidur.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berdoa:

اللّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَالْمَلاَئِكَةُ يَشْهَدُوْنَ أَنَّكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ فَإِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ أَنْفُسِنَا وَمِنْ شَرِِّ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَشِرْكِهِ وَأَنْ نَقْتَرِفَ سُوْءًا عَلَى أَنْفُسِنَا أَوْ نَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

“Ya Allah pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tidak ghaib, Engkau adalah Rabb segala sesuatu dan para malaikat bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah melainkan Engkau. Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan diri-diri kami dan dari kejahatan setan yang terkutuk serta sekutunya, dan (kami berlindung dari melakukan kejelekan atas diri-diri kami atau kami berbuat kejelekan kepada seorang muslim).”1
Diriwayatkan dari Syakal bin Humaid radhiyallahu ‘anhu: Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata: “Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku perlindungan yang aku berlindung dengannya.” Dia berkata: Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku dan berkata: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pendengaranku, kejelekan penglihatanku, lisanku, kejelekan hatiku, dan dari kejahatan kemaluanku’.”2
Dalam khutbatul hajah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

“Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami.”3
Memang ibadah itu kelihatannya ringan dan enteng, namun bila diwujudkan akan menjadi sesutu yang amat berat. Sungguh banyak orang yang tidak sanggup untuk memikulnya, padahal sebenarnya bisa dipikul oleh orang yang paling lemah sekalipun. Di sinilah butuhnya kita untuk memurnikan hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjaga akhlak yang baik kepada-Nya, bersabar dalam menghadapi segala gangguan di jalan menuju ridha-Nya, berdoa agar diberikan kekuatan, ketabahan dan keberanian untuk menghadapi segala ujian dan tantangan.

Sabar dalam Tinjauan Agama
Sabar adalah sebuah sifat yang sangat terpuji dan mulia. Sebuah sifat yang akan membuahkan sifat mulia lainnya, seperti keberanian untuk melawan tantangan hawa nafsu dalam menjalankan titah-titah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta meninggalkan segala hal yang dilarang-Nya, juga keridhaan yang tinggi dalam menerima segala yang diputuskan dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya. Sehingga jelas bahwa sabar adalah sebuah sifat yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sabar secara bahasa artinya menahan diri, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.” (Al-Kahfi: 28)
Ibnul Qayyim menjelaskan: “Makna ayat ini adalah tahan dirimu bersama mereka.”
Sabar menurut istilah adalah menahan diri dari berkeluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh serta menahan anggota badan dari ketidaktenangan.” (Madarijus Salikin 2/156, Fathul Majid, hal. 436)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan: “Sabar menurut syariat adalah menahan diri di atas sesuatu dari segala sesuatu, dan terbagi atas tiga perkara. Pertama: taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kedua: (menahan) diri dari segala keharaman, dan ketiga: menahan diri dari ketentuan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak disukai.
Adapun kesabaran dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan cara menahan diri di atas ketaatan kepada-Nya, karena ketaatan bagi seseorang adalah sesuatu yang amat berat. Akan susah bagi seseorang untuk melakukannya dan terkadang rasa berat itu datang dari sisi badan, mungkin karena lemah dan capai. Mungkin juga rasa berat itu terjadi dari sisi harta seperti menunaikan zakat atau haji.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 1/67)

Hakikat sabar adalah apabila seorang hamba menahan dirinya dan menundukkan diri di atas ketentuan-ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’alaserta bukti-bukti kebesaran-Nya, baik yang ada pada diri-Nya atau di alam ini, dan dia berjalan bersama segala nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tunduk di bawah kandungan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya. Berjalan di atas fitrah dan cahaya fitrah tersebut, dan berjalan seiring bersama para rasul, kitab-kitab, dan risalah-risalah-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan manisnya kesabaran. Oleh karena itu di dalam kitab-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala sering dan banyak menggandengkan kesabaran dengan kejujuran dan syukur. (Ta’liq Madarijus Salikin, 2/156)

Sabar dalam Menjalankan Tugas Agama
Setiap orang yang hatinya masih hidup dan disinari dengan iman akan merasa bahwa ketika imannya goyang atau ternodai dengan berbagai bentuk kemaksiatan, kerapkali dia merasakan bahwa ketaatan itu adalah sesuatu yang amat sangat berat dan kemaksiatan menjadi ringan dan gampang untuk dikerjakan. Begitu pula sebaliknya. Ketika iman seseorang kokoh dan kuat, ketaatan amat sangat ringan dan mudah baginya. Dan dia merasakan adanya kekuatan pada dirinya yang menjaganya dari terjerumus dalam kemaksiatan sekalipun kemaksiatan ini di hadapannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang tujuh orang yang akan mendapatkan perlindungan pada hari kiamat yang tidak ada perlindungan lagi selain perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya adalah:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ

“Seseorang yang dipanggil oleh wanita bangsawan dan cantik, namun dia berkata: ‘Saya takut kepada Allah’.”
Semua tugas agama sesungguhnya merupakan perwujudan dari iman dan Islam. Sehingga barangsiapa yang mengemban tugas-tugas tersebut sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, itulah wujud keimanan dan keislamannya. Sebaliknya, bila ditinggalkan maka itulah wujud kelemahan imannya. Sungguh bagi orang yang telah dikuasai oleh setan dan hawa nafsu, memindahkan Gunung Uhud lebih ringan dibanding melaksanakan tugas-tugas agama. Di sinilah letak kedudukan sabar dan pentingnya dalam menjalankan tugas-tugas tersebut.
‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ

“Kami menjumpai kelezatan hidup dengan kesabaran.”4
Contoh dalam hal ini adalah kesabaran seorang bapak dan anak dalam menerima dan menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun perintah tersebut tidak disukai oleh setiap insan yaitu perintah untuk menyembelih putranya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

“Maka tatkala (Isma’il) telah beranjak dewasa, (Nabi) Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat di dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu?’ (Isma’il) berkata: ‘Wahai bapakku, lakukanlah apa yang engkau diperintahkan, insya Allah saya termasuk orang-orang yang bersabar’.” (Ash-Shaffat: 102)

Bentuk-bentuk Kesabaran
Kesabaran dibutuhkan dalam setiap situasi dan kondisi. Tidak ada sesaat pun dalam hidup ini melainkan butuh kesabaran.
Di saat seseorang berada di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apakah dia akan meninggalkannya karena mendapatkan caci maki dan celaan? Atau di saat dia berada di ambang pintu kemaksiatan, apakah dia akan menahan diri darinya sekalipun semua pihak menyetujui dan menerima? Atau di saat dia mendapatkan kenikmatan, apakah dia tetap dalam keimanan yang benar dan lurus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetap dalam ketaatan dan pengabdian kepada-Nya, atau sebaliknya dia justru berani bermaksiat dengan nikmat tersebut dan berani melanggar larangan-larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Dan bila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu ujian dan cobaan, apakah engkau akan menerimanya dengan lapang dada ataukah berkeluh kesah dan benci kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Dua keadaan dan situasi ini telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah sabda beliau yang diriwayatkan oleh Shuhaib radhiyallahu ‘anhu:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ. إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh sangat mengherankan urusan orang beriman di mana semua urusannya adalah baik, yang demikian itu tidak diberikan melainkan bagi orang yang beriman. Bila ia ditimpa kebahagiaan dia bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya; dan bila ia ditimpa musibah maka dia bersabar, itu kebaikan pula baginya.”5

Tiga Bentuk Kesabaran
Pertama: Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua: Bersabar dari bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketiga: Bersabar atas segala ketentuan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang baik atau yang buruk.
Ketiga bentuk kesabaran ini sesungguhnya kembali kepada dua perkara yaitu:
1. Kesabaran yang terkait dengan usaha setiap hamba. Ini adalah kesabaran dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
2. Kesabaran yang tidak terkait sedikitpun dengan usaha manusia. Ini adalah kesabaran dalam menerima segala ketentuan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan: “Kesabaran Nabi Yusuf untuk tidak menaati keinginan istri Al-’Aziz (penguasa negeri itu), lebih tinggi dibandingkan kesabarannya di saat dia dilemparkan ke dalam sumur, dijual dan dipisahkan dari bapaknya. Karena semua ini berlangsung dan terjadi tidak dengan keinginan dan usahanya, sehingga seorang hamba tidak memiliki jalan lain kecuali harus bersabar. Adapun kesabaran beliau untuk tidak bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kesabaran yang merupakan hasil usaha dalam melawan keinginan-keinginan nafsu. Terlebih dengan adanya dorongan yang kuat untuk melakukan kemaksiatan tersebut. Nabi Yusuf adalah seorang pemuda, yang mana dorongan untuk bermaksiat masih kuat. Beliau juga sendirian, tidak memiliki sesuatu yang akan menggantikan dorongan syahwatnya. Beliau juga dalam keadaan asing, di mana orang asing tidak akan memiliki rasa malu di negeri asingnya dari keluarga, teman-teman dan orang yang dikenalnya. Selain itu, beliau dalam keadaan dimiliki (sebagai budak) yang tidak memiliki kekuatan untuk (menolak) sebagaimana orang yang merdeka. Sementara di sisi lain wanita tersebut adalah seorang yang cantik dan memiliki kedudukan, bahkan tuan negeri tersebut. Diiringi dengan tidak adanya lagi pengawas, dan dia pulalah yang mengajak Nabi Yusuf (berbuat zina). Dan wanita tersebut bersemangat untuk mengajaknya, bahkan mengancamnya bila dia tidak mau dengan ancaman penjara dan penghinaan. Dengan adanya semua pendorong ini, Nabi Yusuf berusaha untuk bersabar dan lebih mendahulukan apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Coba) bandingkan dengan (tingkat) kesabarannya di dalam sumur, yang bukan dari usahanya.” (Madarijus Salikin, 2/155)

Haji dan Sabar
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kesabaran dalam menunaikan ketaatan lebih sempurna dan lebih afdhal dibandingkan kesabaran dalam menjauhi keharaman. Karena maslahat mengerjakan ketaatan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dibandingkan meninggalkan kemaksiatan. Juga karena kerusakan yang disebabkan oleh meninggalkan ketaatan lebih jelek dibandingkan kerusakan karena adanya kemaksiatan.” (Madarijus Salikin, 2/157)
Ibadah haji termasuk salah satu amalan yang besar di dalam Islam. Haji membutuhkan segala kesanggupan dan kemampuan, yaitu kesanggupan dan kemampuan harta serta badan.

1. Kesanggupan Harta
Harta seringkali menjadikan seseorang lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perintah-Nya. Terlebih jika orang tersebut memiliki sifat rakus dan bakhil. Harta seringkali menjadikan orang berani untuk berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai bentuk ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ. ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ. كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْن ِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِ. ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kalian akan benar-benar melihat neraka Jahim dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yakin. Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian bermegah-megahan di dunia).” (At-Takatsur: 1-8)

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-bangga dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian melihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ

“Jikalau anak Adam memiliki dua lembah dari harta (dalam riwayat yang lain satu lembah emas) niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak ada yang akan menutup tenggorokan anak Adam melainkan tanah.”6
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian untuk melakukan amal kebajikan karena akan datang fitnah-fitnah bagaikan gelapnya potongan malam, seseorang di pagi hari beriman maka di sore harinya dia kafir dan di sore harinya dia beriman di pagi harinya dia kafir, dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.”7

2. Kekuatan Fisik
Kekuatan fisik merupakan salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus disyukuri. Kekuatan fisik sangatlah berarti bagi orang-orang yang beriman dalam menjalankan tugas-tugas agama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan di dalam sebuah firman-Nya:

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ

“Salah seorang dari kedua wanita tersebut berkata: ‘Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Al-Qashash: 26)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan Thalut dengan keluasan ilmu dan kekuatan fisik melalui lisan seorang nabi (Bani Israil) dalam sebuah firman-Nya:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian.’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana bisa Thalut memerintah kami padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan darinya sedangkan diapun tidak diberi kekayaan yang banyak.’ Nabi mereka berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahkan ilmu yang luas serta tubuh yang perkasa, dan Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha luas pemberiannya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 247)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada setiap mereka ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu untuk melakukan apa yang bermanfaat buatmu dan minta tolonglah kepada Allah dan jangan bermalas-malasan. Jika kamu ditimpa oleh sesuatu musibah, janganlah kamu mengatakan: ‘Kalau saya melakukan (demikian dan demikian), niscaya terjadi demikan dan demikian.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Semuanya telah ditaqdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan kehendak-Nya.’ Karena kata ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.”8
Namun tidak jarang seseorang yang memiliki kekuatan materiil dan spritual berani menolak perintah Dzat yang telah memberikan segala kenikmatan tersebut kepadanya. Dia pun melalaikan semua tugasnya.
Demikianlah sifat seseorang yang tidak dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila diuji dengan ujian, dia banyak berkeluh kesah. Bila diberikan kenikmatan dia kikir, bakhil dan ingkar. Bila diberi kesehatan dan kekuatan, dia menjadi orang yang berani menentang perintah.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang kebanyakan orang lalai dengannya yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”9

Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik
Seluruh amalan Islami Allah Subhanahu wa Ta’ala kaitkan dengan kesanggupan. Artinya bahwa bila ada orang yang tidak sanggup menurut syariat Islam, maka dia tidak dipaksa untuk melakukannya, atau dia akan diberi keringanan.
Inilah bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam syariat-Nya dan kebijaksanaan-Nya dalam meletakkan hukum. Salah satu dari sekian bentuk ibadah yang butuh kekuatan fisik dan harta adalah ibadah haji. Orang yang mendalami amalan dalam ibadah haji ini akan mengetahui bahwa amalan ini sangat membutuhkan kesabaran dalam ketaatan, kekuatan dalam keimanan, dan kesanggupan dalam menjalankannya. Contohnya:
a. Thawaf adalah salah satu amalan haji yang wujudnya adalah mengelilingi Baitullah tujuh kali dan berlari kecil pada tiga putaran pertama. Hal ini membutuhkan kekuatan dan kesabaran. Apalagi disertai dengan padatnya umat yang sedang merebut keutamaan dalam thawaf tersebut, mau tidak mau akan berdesak-desakan.
b. Sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Shafa menuju Marwah tujuh kali dan berakhir pada bukit Marwah. Ini juga membutuhkan kekuatan dan kesabaran.
c. Wukuf di ‘Arafah membutuhkan keberanian, kekuatan dan kesabaran.
d. Melempar tiga Jumrah dalam keadaan berdesak-desakan dengan ribuan kaum muslimin lain, dan sebagainya.
Kesabaran dibutuhkan dalam tiga hal, yaitu dalam melaksanakan ketaatan, meninggalkan larangan dan menerima segala ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang baik atau yang buruk. Kesabaran itu memang pahit namun buahnya lebih manis dari madu.
Wallahu a’lam.

1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud no. 4420, At-Tirmidzi no. 3314 dari shahabat Abu Hurairah dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih At-Tirmidzi no. 2701 dan dalam kitab Al-Kalimut Thayyib no. 22.
2 Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi no. 3414, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Albani di dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2775, Shahih Sunan Abu Dawud no. 1387, dan di dalam Al-Misykat no. 2472
3 Diriwayatkan oleh Al-Imam An-Nasa’i no. 1882 dan 1883, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
4 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari secara mu’allaq di dalam Shahih beliau dalam Kitab Raqa‘iq.
5 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Kitab Az-Zuhd qar Raqa`iq, Bab Al-Mu`min Amruhu Kulluhu Khair, no. 5318.
6 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5959, Al-Imam Muslim 1737 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, juga dari shahabat yang lain seperti Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Az-Zubair, Ubai bin Ka’b dalam riwayat Al-Imam Muslim.
7 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 165 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
8 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 4816
9 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5933

(Ditulis ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyaha an Nawawi. Sumber http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=400)

Read Full Post »

Perjalan suci menuju Baitullah membutuhkan bekal yang cukup. Disamping harta yang dengannya bisa sampai ke Baitullah, bekal ilmu pun sangat mutlak dibutuhkan. Dengan ilmu, seseorang akan terbimbing untuk melakukan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Rasulullah . Lebih dari itu, akan terhindar dari berbagai macam bid’ah dan kesalahan, sehingga hajinya pun sebagai haji mabrur yang tiada balasan baginya kecuali al jannah.
Berangkat dari harapan inilah, pada edisi kali ini kami angkat perkara-perkara mungkar baik berupa bid’ah (hal-hal yang diada-adakan dalam agama) ataupun kesalahan-kesalahan haji yang dapat menghalangi seseorang untuk meraih predikat haji mabrur.
Diantara kemungkaran-kemung karan itu adalah sebagai berikut :

A. KEMUNGKARAN SEBELUM BERANGKAT HAJI
1. Mengadakan pesta (selamatan) sebelum berangkat haji dengan bacaan do’a-do’a ataupun shalawat, yang terkadang diiringi dengan pentas musik. Perbuatan ini tidak ada dasarnya sama sekali dari Al Qur’an maupun As Sunnah.
2. Melantunkan adzan sebelum berangkat.
3. Mengharuskan ziarah kubur sanak famili dan orang-orang shalih.
4. Keyakinan masyarakat bahwa calon jama’ah haji diiringi Malaikat sepekan sebelum keberangkatannya, sehingga mereka pun berdatangan kepadanya untuk minta do’a.
5. Kepergian wanita ke Baitullah tanpa disertai mahram. Bahkan ada istilah ‘persaudaraan nisbi’, yaitu wanita yang dimahramkan saat berhaji dengan pria yang bukan mahramnya, sehingga keduanya dapat bermumalah seperti layaknya dengan mahram yang sebenarnya. Demikian pula ‘nikah nisbi’, yaitu dinikahkannya seorang wanita baik sudah bersuami atau belum dengan seorang lelaki yang akan berhaji, sehingga keduanya dapat bermumalah seperti layaknya suami istri. Ini adalah kemungkaran yang tidak diridhoi Allah.
6. Berhaji hanya dalam rangka ziarah ke kubur Nabi .
7. Sholat dua rakaat ketika akan berangkat haji.

B. KEMUNGKARAN KETIKA BERIHRAM DAN BERTALBIYAH
1. Tidak berihram ketika melewati miqat. Hal ini banyak terjadi –khusus untuk jama’ah haji Indonesia– pada kloter yang langsung menuju Makkah. Mereka tidak berihram ketika melewati miqat (Yalamlam) dan baru berihram di Jeddah.
2. Bertalbiyah bersama yang dipimpin oleh seseorang diantara mereka.
3. Mengenakan pakaian ihram dengan membuka pundak kanan (yaitu pakaian atas bagian kanan diletakkan dibawah ketiak sedangkan yang kiri tetap diatas pundak kiri, semestinya hal ini khusus ketika thawaf saja).
4. Bacaan talbiyah diganti dengan tahlil dan takbir.

C. KEMUNGKARAN KETIKA MELAKUKAN THAWAF.
1. Mandi sebelum thawaf.
2. Melafadzkan niat thawaf.
3. Mengangkat tangan saat menyentuh Hajar Aswad seperti mengangkat tangan ketika sholat.
4. Memulai thawaf sebelum Hajar Aswad
5. Sholat Tahiyyatul Masjid sebelum thawaf.
6. Hanya mengeliling bangunan Ka’bah yang bersegi empat saja dan tidak mengelilingi Hijr Isma’il.
7. Berjalan cepat (raml) pada seluruh putaran yang tujuh, padahal hal itu hanya dilakukan pada 3 putaran pertama dan itu pun khusus pada thawaf qudum saja.
8. Berdesak-desakan untuk dapat mencium Hajar Aswad sampai-sampai terjadi saling mencaci, bahkan sampai berkelahi.
9. Mengusap Hajar Aswad dalam rangka tabarruk (mengais berkah) dan meyakini bisa memberikan manfaat dan menolak bala’.
10. Mencium atau mengusap sebagian atau semua pojok Ka’bah –bahkan seluruh dindingnya–. Tidak jarang pula mereka menarik-narik kiswah (kain penutup Ka’bah), bahkan menyobeknya untuk dijadikan jimat.
11. Membaca do’a/dzikir khusus setiap kali putaran, padahal boleh baginya berdo’a dengan do’a apa saja yang ia senangi.
12. Bersedekap ketika thawaf.
13. Keyakinan bahwa siapa yang bisa menggapai dinding bagian atas dari pintu Ka’bah maka dia berhasil memegang Al ‘Urwatul Wutsqa, yaitu:
لا اله الاّ الله.
14. Berdesak-desakan untuk sholat di belakang maqom Ibrohim sehingga mengganggu jama’ah yang lainnya, padahal boleh baginya untuk sholat di belakang maqom Ibrohim walaupun agak jauh darinya, dan bila tidak memungkin boleh di bagian manapun dari masjid.
15. Lebih parah lagi bila sholatnya lebih dari 2 raka’at.
16. Berdo’a bersama seusai thawaf sambil berdiri dengan satu komando, tragisnya dengan suara keras sehingga mengganggu jama’ah yang lainnya.

D. KEMUNGKARAN KETIKA MELAKUKAN SA’I
1. Berwudhu’ terlebih dahulu untuk sa’i meski ia dalam keadaan suci.
2. Naik ke Bukit Shofa dan menyentuhkan badan ke dindingnya.
3. Ketika naik ke bukit Shofa dan Marwah menghadap ke Ka’bah kemudian bertakbir tiga kali sambil mengangkat tangan seperti dalam sholat.
4. Berlari-lari kecil antara Shofa dan Marwah, padahal menurut sunnah dilakukan diantara dua tanda hijau saja.
5. Sholat dua raka’at seusai sa’i.

E. KEMUNGKARAN KETIKA DI ARAFAH
1. Mandi untuk menyambut Hari Arafah.
2. Wuquf di Arafah pada tanggal 8 dalam rangka ihtiyath (hati-hati)
3. Melakukan wuquf di luar batas wilayah Arafah.
4. Menentukan dzikir atau do’a khusus yang tidak diajarkan oleh Rasulullah .
5. Meninggalkan Arafah sebelum terbenamnya matahari.
6. Keyakinan bahwa wuquf di Arafah pada Hari Jum’at merupakan haji akbar dan senilai dengan 72 kali haji.

F. KEMUNGKARAN KETIKA DI MUZDALIFAH
1. Tergesa-gesa saat beranjak dari Arafah menuju Muzdalifah.
2. Mandi untuk menginap di Muzdalifah.
3. Tidak segera melaksanakan sholat Maghrib saat tiba di Muzdalifah dan justru sibuk mengumpulkan kerikil.
4. Wuquf di Muzdalifah tanpa menginap.

G. KEMUNGKARAN SAAT MELEMPAR JUMRAH
1. Mandi sebelum melempar jumrah.
2. Mencuci kerikil dahulu sebelum dilemparkan.
3. Melempar jumrah bukan dengan kerikil tapi dengan batu besar, sepatu, atau yang lainnya.
4. Keyakinan bahwa melempar jumrah adalah dalam rangka melempari syaithan. Sehingga tidak jarang mereka lemparkan benda-benda lain, seperti sandal, payung, botol, dan yang lainnya, agar lebih menyakitkan bagi syaithan.
5. Berdesak-desakan, bahkan untuk dapat melempar ada yang menyakiti jama’ah haji lainnya.
6. Melemparkan kerikil-kerikil tersebut secara sekaligus, semestinya satu persatu sambil diiringi takbir.
7. Mewakilkan pelemparan kepada orang lain, sedangkan ia mampu.

H. KEMUNGKARAN SAAT MENYEMBELIH DAN TAHALLUL
1. Mengganti hewan sembelihan dengan uang.
2. Menyembelih hewan qurban untuk haji tamattu’ di Makkah sebelum hari nahar (tanggal 10 Dzulhijjah)
3. Menggundul dari sebelah kiri, atau menggunduli seperempat bagian kepala saja.
4. Berthawaf di seputar masjid yang ada di dekat tempat pelemparan jumrah.
5. Tidak melakukan sa’i setelah thawaf ifadhah dalam haji tamattu’.

I. KEMUNGKARAN KETIKA THAWAF WADA’
1. Meninggalkan Mina pada hari nafar (12 atau 13 Dzulhijjah) sebelum melempar jumrah dan langsung melakukan thawaf wada’ kemudian kembali ke Mina untuk melempar jumrah. Setelah itu mereka langsung pulang ke negara masing-masing. Padahal semestinya sebagai penutup dari seluruh manasik haji adalah thawaf wada’.
2. Berjalan mundur ketika selesai dari thawaf wada’ dengan anggapan sebagai tanda penghormatan terhadap Ka’bah.
3. Membaca do’a-do’a tertentu sebagai “ucapan selamat tinggal” terhadap Ka’bah.

J. KEMUNGKARAN KETIKA BERADA DI KOTA MADINAH
1. Sengaja meniatkan safar untuk menziarahi makam Rasulullah . Semestinya diniatkan untuk mendatangi Masjid Nabawi.
2. Menitipkan pesan melalui jama’ah haji dan para penziarah untuk disampaikan kepada Nabi. Lebih aneh lagi disertai foto/KTP yang bersangkutan.
3. Praktek-praktek kesyirikan yang dilakukan di kuburan Nabi, antara lain:
– Sengaja sholat dengan menghadap kubur
– Bertawasul atau minta syafa’at kepada beliau
– Mengusap-usap dinding kuburan untuk ngalap berkah, dan tidak jarang disertai tangisan bahkan histeris.
– Berdo’a atau meminta secara langsung kepada Rasulullah untuk mencukupi kebutuhannya seperti rizki, jodoh dan yang lainnya.

4. Meyakini bahwa ziarah ke kubur Nabi merupakan bagian dari manasik haji.
5. Keyakinan bahwa haji seseorang tidaklah sempurna tanpa menetap di Madinah selama 8 hari untuk sholat 40 waktu, yang diistilahkan dengan “arba’inan”.

K. KEMUNGKARAN SETIBA DI KAMPUNG HALAMAN
1. Mempopulerkan gelar ’pak Haji’ atau ‘bu Haji’, sampai-sampai ada yang marah/tidak respon bila tidak dipanggil ‘Haji’.
2. Merayakannya dengan pesta-pesta sambil diiringi shalawat badar.
3. Meminta barakah kepada orang yang pulang haji, dengan keyakinan bahwa para malaikat mengelilinginya.

HADITS PALSU ATAU LEMAH YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMAT

Dari Anas bin Malik ?, ia berkata: bahwasanya Rasulullah bersabda:
لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ العَذَابِ وَبَرِىءٌ مِنَ النِّفَاقِ مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاَةً لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ
“Barangsiapa yang sholat di masjidku (Masjid Nabawi) sebanyak empat puluh (40) sholat, tanpa ada satupun yang terlewati, maka ditetapkan baginya: bebas dari an naar, selamat dari adzab, dan terlepas dari nifaq.” (HR. Ahmad dan Ath Thabrani)
Keterangan:
Hadits ini munkar (lebih parah daripada dho’if atau lemah), karena tidak ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali Nabith, dan ia seorang yang tidak dikenal (majhul), serta menyelisihi seluruh perawi hadits Anas ? ini. (Lihat Silsilah Adh Dho’ifah no. 364 atau Silsilah Ash Shohihah, 6/318 karya Asy Syaikh Al Albani)

SERUAN UNTUK SELURUH KAUM MUSLIMIN

Hukum Meramaikan Perayaan Orang-Orang Kafir
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk meniru-niru mereka (Yahudi, Nashrani atau orang-orang kafir lainnya–pen) dalam hal-hal yang dikhususkan untuk perayaan-perayaan mereka (diantaranya Natal dan Tahun Baru Masehi–pen). Tidak pula dalam bentuk makanan, pakaian, mandi, menyalakan api, meliburkan kebiasaan bekerja atau beribadah, atau yang selainnya. Dan tidak boleh mengadakan pesta, atau memberikan hadiah, atau menjual sesuatu yang membantu dan bertujuan untuk acara tersebut. Serta tidak boleh membiarkan anak-anak kecil atau yang seusianya untuk bermain-main yang kaitannya dengan perayaan tersebut dan tidak boleh memasang hiasan (menghiasi rumah/tempat tertentu dalam rangka untuk menyemarakkan perayaan tersebut-pen).” (Majmu’ Fatawa 25/329).
Sumber Bacaan:
1. Mu’jamul Bida’ karya Asy Syaikh Raid bin Sabri bin Abi Alfah.
2. At Tahqiq wal Idhoh karya Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
3. Hajjatun Nabi karya As Syaikh Al Albani.
4. Manasikul Hajji wal Umroh karya As Syaikh Ibnu Utsaimin
5. Sifat Hajjatin Nabi karya As Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
6. Dalilul Haajji wal Mu’tamir karya Majmu’ah minal ‘ulama.

Sumber : Buletin Dakwahn Al Ilmu, Jember
http://assalafy.org

(Sumber http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=147)


Read Full Post »