Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jurnal haji’

Gambar 1. Tempat Wudlu Gate 21

Jangan kaget bila Anda  masuk ruang tempat wudlu ini, kenapa?

Gambar 2. Tempat wudlu lama sekitar Gate 4-8

Bila Anda mendapat ruang tunggu di sekitar Gate 4-8, ruang wudlu yang akan Anda dapati sangat familier sebagaimana keadaan di Indonesia.

3. Gambar Kloset/WC di Bandara KAAI


Dengan keadaan WC di atas tanpa yang tanpa bak, ember, juga gayung, jangan sampai membuat Anda panik, manfaatkan saja. Jika membutuhkan air, tingggal putar kran secukupnya lalu arahkan selang sesuai kebutuhan. Adapun untuk menyiramnya silahkan lihat gambar dbawahnya.

Gambar 4. Tampungan Air

Cara menggunakan tampungan air untuk menyiram sangat mudah, tarik gantungan pada tali tampungan (lihat tanda panah) ke bawah, air akan mengalir ke arah kloset.

Gambar 5. Tempat Mandi = Bukan Tempat BAB

Yang perlu diperhatikan bila Anda menggunakan fasilitas ruang WC maupun wudlu di bandara adalah:

1. Kran Wudlu pada gambar 1. jangan diputar tapi ditekan, air akan segera keluar.

2. Jangan bingung bila tiba-tiba air wudlu mendadak mati, tekan saja kembali,  maka air pun akan mengalir kembali.

3. Jangan bingung untuk matikan kran, biarkan saja, karena secara otomatis kran akan menutup dan air pun berhenti mengalir.

4. Agar tidak terpeleset, berhati-hatilah saat naik dan turun tempat wudlu.

5. Waspada barang pribadi hilang, jangan tinggalkan apapun baik di WC maupun tempat wudlu, karena yang masuk ke dalam ruang ini tidak hanya jamaah haji Indonesia.

6. Jangan buang hajat atau BAB pada tempat mandi (gambar 5). Kasihanilah jamaah lainnya

7. Jaga barang saat masuk WC, karena sangat sering HP, dompet, atau benda penting lainnya terjatuh dan masuk kedalam lubang kloset. Kalau sampai terjadi??? Mana tahan….

Advertisements

Read Full Post »

Jeddah dengan penduduk sekitar 1,5 juta jiwa, merupakan kota pelabuhan laut dan kota utama serta salah satu tempat pusat pemerintahan Kerajaan Arab Saudi yang dikembangkan sebagai kota internasional sekaligus pintu gerbang.

Jeddah bisa diartikan sebagai “nenek perempuan”. Disebut demikian karena di sinilah dimakamkan nenek umat manusia yaitu Siti Hawa. Seperti umumnya makam di negeri ini, tidak ada tanda nama di atas pusara, cukup diletakkan batu kecil tanpa tulisan apa pun. Jadi jangan coba mencari di mana letak pusara Siti Hawa.

Saat kami berziarah ke pemakaman ini masih jauh dari bulan Zulhijah (Haji). Penjaga melarang wanita masuk, pengunjung tak boleh membawa kamera video pun tidak diperkenankan apalagi memotret. Jadi karena salah satu anggota rombongan kami seorang perempuan ya terpaksa dia menunggu di mobil.

Kota Jeddah sedikitnya memiliki tiga julukan, karena cantiknya disebut sebagai “Sang Pengantin Putri Laut Merah”, karena letaknya disebut “Pintu Gerbang Dua Tanah Haram” (Mekah Al-Mukaramah dan Madinah Al-Munawarah). Karena sebagai kota bisnis “Kota di tengah Pasar”.

Sebagai pintu gerbang Arab Saudi, Jeddah dilengkapi Bandara Internasional super sibuk diambil nama Raja Pertama Arab Saudi King Abdul Aziz. Bandara ini memiliki lima terminal, terminal khusus keluarga Kerajaan, terminal internasional umum, terminal internasional Saudia dan Saudia lokal, serta Terminal Haji.

Pada musim haji, setiap hari terdapat 244 penerbangan, karena itu tahun ini untuk mengurangi kepadatan, penerbangan haji sebagian dialihkan ke Bandara Amir Muhammad Abdul Aziz, Madinah.

Dari sekitar tiga juta jamaah haji tahun ini, Saudia menerbangkan hampir satu juta jamaah dari seluruh dunia, termasuk 90.000-an dari Indonesia. Dan sekitar 114.000 jamaah haji Indonesia diterbangkan Garuda.

Kota Jeddah ini terletak di sebelah barat Saudi Arabia berpantai Laut Merah pada 30° garis BT dan antara 21 – 28° LU. Persisnya di dataran rendah. Karena itu saat hujan di hulu dan banjir bandang 25 November lalu, Jeddah menjadi daerah terparah. Cuaca pada musim panas (Juni – September) 35-42° C dan pada musim dingin (November – Februari) 10-25° C.

Pada tahun 648 M kota ini diresmikan menjadi kota pelabuhan untuk Mekah dan sekitarnya oleh Khalifah Utsman bin Affan RA. Luas kota ini sekitar 300 Km2. Jeddah kini maju sangat pesat, pusat perbelanjaan megah berdiri di mana-mana, kalau dalam belasan tahun terakhir yang terkenal Corniche Commercial Center, di kawasan Balad, kini di mana-mana bertebaran pusat perbelanjaan level Internasional, sebuat saja Arabian Mall.
**

KOTA Jeddah juga boleh dibilang tak berbeda dengan kota metropolitan di negara lain. Singapura, Beijing, Tokyo dan Hong Kong, Manila yang pernah saya kunjungi. Di sini, banyak terdapat gedung-gedung berdesain modern, pusat perbelanjaan, dan rekreasi serta taman-taman kota yang lebih rapi, jalanan bersih kiri dan kanan tumbuh pepohonan rindang dan hijau.

Mobil-mobil tipe terbaru dan berkelas berseliweran, warna putih mendominasi karena menjadi warna favorit tidak saja di Jeddah, tetapi Arab Saudi secara umum. Dan yang unik, kendaraan jalannya sangat cepat. Di dalam kota bisa rata-rata 80 KM/jam.

Bedanya, mobil-mobil baru dan bermerk yang lalu lalang di jalan yang lebar dan mulus tersebut, perawatannya kurang. Jadi tidak heran kalau banyak mobil yang penyok. Kalau tidak terlalu parah, dibiarkan begitu saja.

“Orang sini kan kaya-kaya, kalu mobilnya penyok, dibiarkan, kalau sudah bosan ganti yang baru,” ujar Mohamad Abdul Hakim, mukimin Indonesia yang sudah 16 tahun tinggal di Jeddah.

Perbedaan lainnya tentu banyak, misalnya wanitanya tidak begitu saja bisa keluar rumah dan jalan sendirian. Kalaupun keluar rumah harus mengenakan cadar, dan wanita bersama wanita terkecuali jika memang bersuami istri (muhrimnya). Dan kebiasaan seperti itu memang tidak ada, wanita di sini paling-paling seminggu sekali ke mal kalau hari libur, hari Kamis malam Jumat.

Karena hari liburnya Kamis dan Jumat seperti umumnya di Indonesia Sabtu dan Minggu, maka pusat perbelanjaan selalu ramai, tidak hanya lelaki tetapi juga kaum nissa (perempuan), baik yang masih lajang. Bagi yang sudah berumah tangga membawa anak-anaknya berbelanja atau sekadar makan-makan.
**

JEDDAH dikenal dengan pantai Laut Merah, lebih dari 40 Km di pesisir ini telah dibangun tempat rekreasi luar biasa. Berada di tempat itu kita teringat dengan kisah tentang mukzijat yang diberikan Allah SWT berupa tongkat, Nabi Musa mampu membelah Laut Merah sewaktu dikejar bala tentara Raja Fir`aun, penguasa saat itu, demi menegakkan agama Allah.

Di sepanjang pantai laut Merah Jeddah ini, kebetulan kami beserta rombongan MCH menyusurinya bertepatan dengan malam Jumat (malam libur di Arab Saudi-Red) sekaligus malam 1 Muharam, malam tahun baru Islam 1431 Hijriah. Kami kemudian berhenti di seputar masjid yang lebih dikenal di Tanah Air sebagai masjid terapung.

Bayangan kami, di salah satu masjid yang terkenal di Laut Merah yaitu Masjid Terapung yang bernama aslinya Masjid Ar Rahman, ada sesuatu yang lain atau mengejutkan, pada malam tahun baru itu. Ternyata sama sekali tidak, sunyi. Bahkan di sepanjang pantai, sampai areal air mancur yang tingginya 150 meter (malam itu tidak diaktifkan), juga hanya beberapa pengunjung saja yang datang. Tetapi mereka datang bukan karena 1 Muharam, melainkan karena malam hari libur Jumat.

Suasana 1 Muharam atau peringatan tahun baru Islam di Arab Saudi khususnya Jeddah, jauh berbeda dengan di Tanah Air, di mana di Masjid atau Musala diadakan syukuran, baca AlQuran, ada yang diisi dengan ceramah agama, bahkan ada yang mengisi dengan takbir keliling kampung dan keliling kota.

Di kalangan Islam “abangan” di Jawa, 1 Muharam yang dikenal dengan 1 Syuro (Asyura) diadakan acara “lek-lekan” atau tirakatan yang intinya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Bahkan ada ada pula yang mengaitkan dengan acara mencuci keris atau benda pusaka.

Tanggal 1 Muharam sebagai tahun baru, tanggal 12 Rabiul Awal kelahiran Nabi Muhammad (Maulid), merupakan bagian dari hari-hari besar Islam yang di Indonesia dijadikan hari libur nasional. Tidak hanya di Arab Saudi, karena itu bid`ah, atau hal yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

(H Salamun Nurdin). Depag.go.id

Read Full Post »

Bin Jawi Saingi Bin Laden dan Bin Dawood

Orang Indonesia tak kalah kreatif dengan konglomerat Arab. Seorang warga Jawa Barat ingin menyaingi Bin Laden Group dan Bin Dawood dengan membuka Bin Jawi. Tempat operasinya pun cukup elite, di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Di bandara itu pula Bin Laden Group menjadi salah satu operator. Sehingga, setiap saat karyawan Bin Laden melihat konter Bin Jawi.

Bin Laden sudah merajai pembangunan infrastruktur di Arab Saudi termasuk di kawasan Haram, Mekah. Tugu kitab suci Alquran yang sangat megah di gerbang kota Mekah dari arah Jeddah juga dibangun konglomerat yang namanya sering dikait-kaitkan dengan terorisme. Atas jasanya itu, Raja Arab Saudi menghadiahinya tanah di sekitar tugu.

Bin Dawood merajai bisnis ritel. Pasar swalayannya untuk kalangan menengah-atas tersebar di mana-mana. Namanya nyaris menjadi ikon hipermarket di Arab Saudi. Meski demikian, Bin Jawi tak ciut nyali. Sekarang memang masih kecil. Bahkan tak ada seujung kukunya Bin Dawood dan Bin Laden. Tetapi krativitasnya tak mau kalah.

Konter makanan ringan dan minuman yang dibuka di Bandara Jeddah bukan hanya akrab di telinga jemaah haji Indonesia. Jemaah dari negara-negara lain juga sering menyerbu konter di pintu kedatangan dan kepulangan jemaah haji tersebut. Belakangan Bin Jawi menambah pelayanan dengan mobil bandara mendatangi tempat-tempat peristirahatan jemaah. Mobil itu biasanya dipergunakan untuk mobilitas karyawan bandara dan Bin Laden.

Penggunaan mobil bandara bertenaga accu itu untuk berjualan itu hanya dilakukan oleh Bin Jawi. Pemilik konter lannya tidak ada yang melakukannya. “Kita kan menyewa tempat di bandara. Kita diperbolehkan menggunakan mobil ini,” kata Lukman, salah seorang sales Bin Jawi. Penggunaan mobil bandara itu mampu menyedot lebih banyak perhatian jemaah dibanding hanya menggunakan konter.

Banyak jemaah yang baru turun dari bus memanfaatkan warung mobil tersebut. Sebagian besar membeli minuman. Kopi Nescafe atau teh dijual SR 2 Rp 5.000). Kalau mau kopi susu hanya SR 3 (Rp 7.500). “Kalau mau Indomie juga ada. Diseduh langsung dimakan,” kata Lukman berpromosi. Mobil Lukman pun selalu dikerumun jemaah. (Baehaqi) Depag.go.id

Read Full Post »

Berikut kisah pengabdian petugas haji Indonesia (PPIH) saat jadwal kepulangan jemaah haji Indonesia tiba. Selayaknya kita memberikan ucapan terima kasih dan doa kepada mereka, karena tanpa jasa mereka bisa jadi Anda tak jadi pulang sesuai jadwal karena Bis yang Anda naiki dari tempat transit tak sesuai rutenya alias “nyasar” .

Selamat dan bangga atas pengabdianmu wahai Kawan. Suara kalian selalu mendominasi Daker Jeddah saat jadwal kepulangan. Semoga Allah balas semua kebaikan kalian.

****************

Tim Buser Harus Kuat lawan Kantuk dan Nyamuk

Konvoi bus yang mengangkut kloter jemaah haji Indonesia, dari Mekah menuju Jeddah, maupun dari Madinah menuju Jeddah harus tetap dalam pantauan dan pengantaran Tim Buser Daker Jeddah. Bila sampai lewat dari pantauan dan pengantaran Tim Buser, bisa jadi terjadi spekulasi terhadap konvoi bus tersebut. Bisa jadi benar sampai ke hotel transit yang menjadi tujuan, atau malah kesasar tidak karuan yang makin lama makin mengurangi hak jemaah menikmati hotel transit.

“Kita tidak bisa berspekulasi melepas bis menuju hotel yang jadi tempat transit yang ada di lokasi yang berbeda dan berjauhan. Tugas kitalah mengantar konvoi ke hotel tujuan, kita mengetahui bagaimana kondisi jalan di Jeddah, yang sering macet dan jalan yang prakis menuju tujuan,” kata Akmaludin Yunus petugas Tim Buser saat bertugas di posnya di Rohili (pintu gerbang Jeddah dari arah Madinah) Jeddah, sore kemarin.

Menurut Akmal sebagai Tim Buser, dirinya dan teman-teman satu shiftnya mempunyai slogan harus kuat lawan kantuk dan nyamuk bila mendapat giliran malam hari. “Resep kita harus fit terus dan harus kuat melawan kantuk dan nyamuk. Insya Allah bisa kita atasi, karena saat pos kita di Amir Fawas (pintu gerbang Jeddah dari arah Mekah) saja, kita mampu atasi itu, apalagi pos kita di Rohili saat ini lebih enak,” kata Akmal.

Menurut Idrus, saat di Amir Fawas, suasananya tidak ada pelindung, karena benar-benar berada di tepi jalan raya di tengah begitu banyaknya debu dan begitu kencangnya angin. “Namun kita tetap senang saja, karena kita bangga dipercaya menjalankan tugas penting untuk menolong jemaah. Dan kami lihat jemaah juga senang melihat bendera merah putih berkibar di kegelapan malam dan di tempat yang sepi yaitu Amir Fawas. Saat ini (di Rohili-red) kami dilindungi bangunan, dekat toko, pom bensin dan ada musalanya,” papar Idrus yang didampingi Masykur Thalib.

Menurut Masykur, yang mengecewakan dirinya dan teman-teman Tim Buser adalah bila bus main nyelonong saja, tidak mau berhenti walaupun sudah diminta berhenti. “Itu biasanya terjadi kalau sopirnya sok tahu. Tapi ya karena sok tahu maka ujung-ujungnya kesasar. Akhirnya malah menambah kerjaan. Ada juga karena sopirnya teledor alias tidak jeli karena hari sudah malam. Untuk itu kitalah yang harus jeli melihat bus itu ada stiker merah putihnya atau tidak,” katanya.

Tak berapa lama kemudian datanglah bus yang membawa kloter 50 SOC. Bus tersebut oleh Tim Buser diminta merapat ke pinggir jalan. “Kita tunggu sampai semua busnya ngumpul. Misalnya satu kloter busnya berapa dulu. Bila sembilan bus misalnya, sudah kumpul enam ya kita pandu ke hotel di Jeddah yang jadi tujuannya. Sementara satu mobil dan tiga personel tetap stand by di sini,” papar Akmaludin.

Menurut dia, hotel transit kloter 50 SOC adalah Madinah Palace. Tak lama kemudian datanglah Hi Ace yang membawa konsumsi bagi Tim Buser. “Alhamdulillah rombongan datang tepat waktu, logistik datangnya juga tepat waktu. Ini karena didatangi MCH jadi tepat,” canda Idrus, dan suasana pun gerr.
Memang kita perlu menikmati dan gerr barang sebentar untuk mengemban tugas yang penting bagi umat dan bangsa di ruang terbuka diluar kota Jeddah seperti ini. (Hartono Harimurti)

Read Full Post »

Enam jam perjalanan Jeddah-Madinah atau sebaliknya Madinah-Jeddah yang dalam beberapa tahun terakhir sudah menggunakan rute “Haromain Exspress Way” bukan merupakan waktu yang tidak sebentar.

Seluruh jamaah haji Indonesia baik gelombang pertama dan gelombang kedua, menggunakan rute itu karena harus mengambil arbain, sholat 40 waktu di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawarroh, sebelum atau sesudah ibadah haji.

Ada sisi lain yang bisa dinikmati dari jalur perjalanan ibadah haji ketika melintasi rute itu. Dalam dua bulan terakhir ini kami beserta rombongan MCH Jeddah kebetulan dua kali menempuh rute itu.

Pertama saat tiba dari Tanah Air, sampai Bandara King Abdul Aziz (KAA), Maghrib pada 19 Oktober. Setelah menunggu lima jam untuk menyelesaikan dokumen imigrasi, dengan sudah berpakaian ihrom langsung melaksanakan umroh haji ke Makkah Al Mukaromah.

Keesokan harinya, dengan istirahat sejenak, bahkan ada yang tak sempat memejamkan mata, pada tengah hari berangkat dari Makkah menuju Madinah, menempuh perjalanan sekitar tujuh jam. Atau sampai di Madinah pada Maghrib juga.

Tak cukup sampai di situ, petugas PPIH Madinah, tinggal di kota Nabi itu, sementara petugas Jeddah, keesokan tengah hari, harus berangkat ke Jeddah, setelah beberapa anggota diantaranya tak sempat ikut ziarah ke Masjid Quba dan Jabal Ubud.

Perjalanan tersebut tentyu melelahkan jadi tidak sempat melihat kanan atau kiri jalur yang saat itu dilalui. Tidak tentunya pada perjalanan kedua, Sabtu (19/12), dari Jeddah-Madinah. Perjalanan ini tentu lebih fress, karena memamg sudah dijadwal, atau tidak dalam kondisi lelah, juga tidak dalam kondisi ibadah haji. Jadi bisa melihat kanan kiri jalan pada jalur sepanjang sekitar 420 kilometer itu.

**
TERNYATA bangunan-bangunan yang ada di sekitar jalur Jeddah- Madinah, mengundang decak kagum kawan-kawan MCH Jeddah yang beranggotakan sembilan orang itu. Mengacungi jempol terhadap pemerintah Kerajaan Arab Saudi dalam pembangunan jalan bebas hambatan yang bisa dilahui dengan gratis itu. Selain itu, sistem pengamanan untuk menjamin kenyamaan pengguna jalan, sampai penataan apik pembangunan pada tempat-tempat strategis.

Dari pembangunan jalan terlihat sangat kokoh, kuat dan berkualitas tinggi. Perawatannya juga sangat baik, nyaris sepanjang perjalanan tidak ditemukan lubang atau jalan yang catat sedikit pun. Di lokasi tertentu, jalan dibuat “bergetar” untuk memberi daya kejut bagi pengemudi jika kemungkinan mengantuk. Panjangnya bisa lebih dua atau tiga kilometer dan dibuat bertahap. Tetapi daya kejut itu tidak membahayakan kendaraan.

Rambu-rambu lalu lintas pun terlihat jelas, monitor sistem komputer terhadap kendaraan yang melampaui batas kecepatan berfungsi dengan baik. Salah satu buktinya, cukup banyak pelanggar lalu lintas yang dihentikan dan ditindak petugas dengan alasan melanggar batas maksimal kecepatan 120 Km.

Selanjutnya jalan yang juga berfungsi sebagai filter kemungkinan adanya jamaah haji ilegal masuk Makkah atau keluar ke Madinah misalnya, disaring melalui lima pos pemeriksaan atau “ceck point”. Setiap mobil yang dicurigai dihentikan, diperiksa surat jalannya.

Hal terakhir ini sebagai bukti bahwa Arab Saudi sangat serius melindungi para tamu Allah, untuk bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman dan aman. Dan sampai catatan ini dibuat, rasanya tidak berlebihan bila kalimat tersebut bisa digaris bawahi.

Satu hal lainnya yang praktis, setiap ada layanan penjualan pompa bensin, di sekitarnya pasti ada Masjid atau Musholla, dan tentu saja toko atau mini market. Penataan lokasi seperti ini tampak seragam baik disisi kiri atau kanan jalur tersebut.

Bahwa, kalau ada pompa bensin contohnya di dekat Restoran Haramain, melayani pembeli “ogah-ogahan”, sekalipun langganannya itu anggota polisi, alias mendahulukan kepentingan lain, mungkin ini bisa dipahami, karena untungnya sedikit.

Harga bensin super di Arab Saudi hanya 60 halala (60 sen) perliter, setara Rp1.700/liter. Sementara harga sebotol air mineral untuk ukuran 600 mili liter satu real (Rp2.500).

Sepanjang sisi jalur Jeddah-Madinah itu juga ada beberapa kota atau bekas kota kecil tak berpenghuni. Ada juga tempat hiburan anak-anak atau “children play ground” fasilitas ini diberikan restoran, tapi masih terlihat sepi.

Satu hal yang tak mungkin tetinggal adalah hamparan padang pasir luas, atau bukit-bukit batu tandus, karena Arab Saudi juga dikenal sebagai negeri seperti itu. jadi tak mengherankan kalau kita hampir bosan melihatnya, meskipn ada selingan dan pertaynaan kalau rata-rata gunungnya warga hitam, tapi ada yang warna merah. Terutama di sisi jalan menuju Madinah mulai KM 17.

Di antara hewan dan binatang yang hidup berabab abad di padang pasir tentu saja hewan yang dikenal tahan haus karena memiliki kantung penyimpan air di leher, yakni Onta. Meski tak terlalu banyak, masih ada penggembala Onta, juga keledai dan kambing ataupun domba.

Suatu hewan yang jarang terdengar dalam cerita gurun pasir, justru monyet gurun. Ternyata hari itu ada segerombolan monyet gurun di jalur perjalanan tersebut.

Tepatnya di KM 192 Madinah, mobil MCH “terpaksa” minggir karena banyak monyet-monyet menyerang jalan. Ketika kendaraan dipinggirkan, salah satunya justru nangkring di depan pengemudi. Karuan saja Mohamad Sahe, pengemudi, mukimin asal Madura yang sudah 28 tahun di Arab Saudi ini agak terkejut.

“Tenang nantin juga turun sendiri,” katanya. Monyet pun “ngeloyor”, kendaraan kembali dipacu.

Pukul 14.30 Waktu Arab Saudi, kami pun sampai di Daker Madinah, beruntung sekali bisa bertemu langsung Kadakernya. (h salamun nurdin) http://www.depag.go.id

Read Full Post »

Pada tahap pemulangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Air melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah dan Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, selalu diwarnai dengan kelebihan barang bawaan jemaah.

Untuk mengatasi persoalan ini, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi dan pihak penerbangan Garuda maupun Saudia tak henti-hentinya memberikan sosialisasi kepada jemaah haji, tentang ketentuan barang bawaan ini. “Bahkan saat penimbangan barang di pondokan, 3 hari menjelang kepulangan ke Tanah air, petugas kita menyampaikan lagi ketentuan tentang barang bawaan ini,” kata Kadaker Madinah Cepi Supriatna kepada MCH, Ahad (20/12).

Menurut Cepi, sejak di Tanah Air, saat jemaah mengikuti manasik haji, petugas Depag juga menyampaikan ketentuan soal barang bawaan ini. “Selebaran dan pengumuman juga kita pasang di pondokan-pondokan jemaah, agar mereka tertib terhadap barang bawaan saat pulang,” ujarnya.

Cepi membenarkan, jika di banding tahun lalu, kesadaran jemaah terhadap tertib barang bawaan pada tahun ini, semakin baik. “Sampai saat ini, kesadaran jemaah untuk tertib barang bawaan, memang jauh lebih baik dari tahun lalu. Kita berharap, kondisi ini, berlangsung terus sampai akhir phase pemulangan jemaah haji,” kata Cepi.

Sementara itu, Duty Manajer Garuda di Madinah Bambang Suwito Adji ketika dihubungi MCH membenarkan, tingkat kesadaran jemaah haji untuk tertib barang bawaan, tahun ini jauh lebih baik dari tahun lalu. “Petugas sweeping kita di Bandara, tak serepot dulu. Sekarang ini, kelebihan barang bawaan, yang banyak mereka membawa tas tentengan lebih dari satu,” jelasnya.

Ketentuan barang bawaan penerbangan haji, kata Bambang, setiap jemaah berhak membawa 1 koper pemberian maskapai penerbangan yang dapat diisi maksimal 32 kg, dan satu tas tentengan dengan berat maksimal 7 kg. “Jemaah juga tidak diperkenankan membawa benda cair dalam tas tentengan,” ucapnya. (ts) Depag.go.id

Read Full Post »

Ini adalah salah satu pengalaman pahit yang dapat terjadi saat Anda berhaji, pada setiap tahunnya hampir selalu ada dan menimpa jemaah haji Indonesia. Paspor Hilang saat jadwal kepulangan tiba di hadapan Anda. Untuk itu perhatikanlah beberapa Tips agar Anda tidak mengalaminya.

1. Simpanlah selalu surat-surat penting Anda, khususnya Paspor di dalam tas kecil yang selalu Anda bawa saat di Tanah Suci.

2. Pastikan untuk memasukkannya kembali kedalam tas tersebut, apabila Anda mengeluarkannya karena suatu kebutuhan.

3. Jangan sekali-kali menitipkan Paspor Anda kepada siapapun, termasuk teman dekat ataupun keluarga (bila keluarga Anda sakit di tanah suci sementara jadwal kepulangan Anda telah menanti, ini tentu akan merepotkan)

4. Jangan sekali-kali mengeluarkan Paspor tanpa sebab yang penting, misalnya sekedar melihat-lihat atau semisalnya.

5. Pisahkan/khususkan tempat Paspor, jangan sampai dicampur dengan dompet atau disimpan bersama uang Anda, walaupun dalam tas kecil khusus yang Anda miliki, karena kemungkinan jatuh saat mengambil uang sangatlah besar.

6. Jangan simpan tas Anda yang berisi Paspor sembarangan, misalnya di tempat wudlu, wc, meja makan di restouran, kursi bis saat menuju bandara, atau selainnya, pastikan tas selalu tergantung di tubuh Anda. Ini lebih membuat Anda aman dari kemungkinan tertunda pulang sesuai jadwal.

7.Segera masukkan Paspor Anda ke dalam tas Anda sesaat setelah Paspor Anda terima. Jangan biarkan Paspor tetap ditangan, karena bisa jadi Anda lupa kemudian.

8. Mohonlah selalu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar seluruh perjalanan haji Anda lancar dari awal keberangkatan hingga tiba kembali di Tanah Suci.

********************************

Paspor Hilang Pasutri Tertahan Di Jeddah

Berikut salah satu kisahnya yang terjadi pada tahun ini,  haji 1431H,semoga menjadi peringatan untuk kita semua. Semoga Anda menjadi haji yang Mabrur.

Pasangan suami isteri Mursyid bin Mohari (63) dan Mustamiroh binti Taslim (56) asal Pancur Mayong Kabupaten Jepara wajahnya nampak berbinar-binar saat menginjakkan kakinya di bandara Adisumarmo Solo Ahad (13/12) pukul 06.50 bersama jamaah haji kloter 31 asal Purbalingga

Pasalnya kedua jamaah haji yang semula tergabung kloter 29 harus tertahan di bandara King Abdul Aziz Jeddah dan tidak bisa pulang bersama kloternya lantaran Mustamiroh tidak dapat menunjukkan paspornya kepada petugas haji saat memasuki bandara Jeddah.

Petani asal Jepara ini tentu saja sangat bingung saat mengetahui dirinya tidak diperbolehkan pulang bersama teman-temannya satu daerah. Untungnya sang suami juga masih setia menemani dan tidak ikut pulang mendahului. Mengingat jam keberangkatan kloter 29 sudah mepet sehingga petugas kloter menyerahkan keduanya kepada petugas haji Indonesia yang bertugas di Jeddah untuk dibantu proses kepulangannya

Menurut TKHI Kloter 29 Tri Mukain, sebenarnya paspor sudah dibagikan kepada seluruh jamaah haji di bus saat dalam perjalanan dari pemondokkan di Jeddah menuju bandara. Hanya saja, saat itu Mustamiroh dalam kondisi mutah-mutah akibat masuk angin. “Kemungkinan karena tidak segera dimasukkan dalam tas dokumen, paspornya jatuh di bus,” jelas Tri kepada Humas PPIH Solo

Rupanya nasib baik masih ada dipihaknya, lantaran paspornya ditemukan crew bus ketika perjalanan kembali ke pemondokan dan diserahkan kepada petugas haji asal Indonesia di sektor bandara Jeddah, namun pesawat kloter 29 keburu sudah terbang ke Indonesia sehingga kepulangannya diikutkan kloter 31.

Hingga kloter 32 asal Purbalingga dan Kota Surakarta yang tiba pukul 11.29 WIB, jamaah haji yang sudah kembali melalui bandara Solo sebanyak 12.102 orang, sedangkan yang wafat sebanyak 49 orang termasuk dua orang dari kloter 31 dan 32, yaitu Mucharji Achmad bin Moch Thoyib (71) asal Metenggeng Bojongsari Purbalingga dan Atmini binti Basrowi (64) asal Gumiwang Kejobong Purbalingga.(Achmad Suaidi)

*********************************

Hilang Paspor, Sofyan Tertunda Kepulangannya

Sofyan Efendi Hasibuan,dari kloter 15 Medan, kepulangannya ke Indonesia dari Madinah tertunda, karena paspornya hilang di bandara Amir Muhammad Abdul aziz Madinah.

Sofyan Efendi Hasibuan seharusnya berangkat, Minggu (20/12) dini hari, pukul 2.35 waktu Arab Saudi ke Indonesia bersama istrinya Eliana Natra Lubis, dengan kloter 15 embarkasi Medan, karena paspornya hilang, terpaksa kepeulangannya ditunda ke tanah air.

Saat ditemui di ruang pelayanan kedatangan dan pemulangan jemaah haji Daker Madinah, Sofyan mengaku, baru tahu paspornya tidak ada, ketika akan dilakukan pemeriksaan imigrasi Bandara Madina. “Saya tidak tahu ke mana paspor saya, sementara istri saya sudah berangkat dengan Kloter 15 MES, katanya sudah sampai di Polonia Medan.”

Pegawai Dinas Pendapatan Pemerintah Kota Medan ini, baru akan diberangkatkan dari Madinah Senin (21/12, sekitar pukul 13.55 waktu Arab Saudi, dengan kloter 16 Medan. Sofyan Efendi Hasibuan, tinggal di jalan Prof. H. Muhammad Yamin Gang Klamer No. 3 Medan.

Jemaah haji yang kehilangan paspor, sudah empat orang, tiga di antaranya sudah pulang ke tanah air, setelah dbuatkan surat laksana paspor sebagai paspor sementara. Kepala Seksi Pelayanan Kedatangan dan Pemulangan Haji Daker madinah Nurchalis mengatakan, proses pengurusan paspor yang hilang di Arab Saudi, tidak, terlalu lama, sehinggga jemaah dapat segera dipulangkan ke tanah air.

“Karena di sini ada petugas imigrasi, kemarin juga ada yang kehilangan, tetapi setengah jam paspornya sudah selesai, akhirnya ia tetap dapat berangkat dengan rombongan di kloternya,” ujar Nurchalis.

Minggu (20/12) ini, ada 10 kloter akan diberangkatkan ke Indonesia melalui Bandara Madinah. Sementara 5 kloter akan dievakuasi ke Jeddah, karena pemulangannya lewat bandara King Abdul Aziz Jeddah.(Rahman Rifai}

Read Full Post »

Older Posts »