Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jurnal haji’

Haji Saud, jemaah asal NTB mengimbau rekan-rekannya atau jemaah haji Indonesia khususnya yang untuk pertama kali akan beribadah salat arba`in (salat 40 waktu) di Masjid Nabawi, tidak perlu mengkhawatirkan atau mencemaskan soal tempat mengambil air wudhu (bersuci).

Umumnya, jemaah Indonesia khawatir soal jauhnya tempat mengambil wudhu, dan yang lebih mencemaskan jika ingin ke kamar kecil (WC) akibat perut mules, karena tidak tahu tempatnya, maka jemaah kadang lebih banyak menahan, atau mengambil cara lain sehingga bisa berakibat sakit perut jadi parah atau lainnya.

Untuk mengambil air wudu atau ke kamar kecil di Masjid Nabawi tersedia sangat banyak, sedikitnya ada 14 tempat, posisinya berada di depan masjid, atau di pelataran masjid. Di situ diberi petunjuk dengan jelas.

Tempat wudhu yang dilengkapi sebelahnya berupa kamar kecil/WC itu bahkan dibuat dua lantai ke arah bawah, jumlahnya sangat banyak. Bisa dijangkau dengan lewat eskalator, atau lewat jalan biasa.

“Tempatnya sangat dekat, berbeda dengan di Masjidil Haram, yang agak jauh. Karena itu kalau jemaah merasa mulas mau buang air kecil atau besar jangan ditahan-tahan, karena tempatnya tidak jauh dari masjid, tempatnya pun bersih,” kata Haji Saud, di depan Masjid Nabawi, Minggu (20/12) malam.

Haji Saud, jemaah asal NTB yang tergabung dalam Kloter 57 itu selanjutnya menuturkan pengalamannya, sempat dua kali tersesat ketika hendak pulang dari salat arbai`n, karena pondokannya agak jauh, lebih 500 meter dari masjid. Untuk menyikapi agar tak tersesat lagi, salah satu caranya hanya dua kali kembali ke pondokan dalam 24 jam selebihnya tinggal di masjid.

Menurut Saud, cara yang dia dan teman-temannya tempuh untuk menghindari tersesat jalan ketika kembali ke pondokan, saat selesai salat subuh dan salah Isa saja kembali. Selebihnya sejak zuhur sampai isa tinggal di masjid.

“Untuk mengusir kantuk, kita bisa jalan-jalan di sekitar masjid, makan juga beli di sekitar masjid saja. Bahkan saya sempat sampai puncak gedung itu hanya untuk beli air mineral yang harganya satu riyal,” kata Saud sambil menunjuk gedung di depan masjid Nabawi.

Jemaah kloter 57 SUB yang akan diterbangkan Saudia melalui Bandara Amir Muhammad Abdul Aziz, Madinah Jumat, 25 Desember. Hari Senin, merupakan hari terakhir jemaah haji dari Mekah yang diberangkatkan ke Madinah. Sementara pemulangan terakhir jemaah haji Indonesia ke Tanah Air 31 Desember. (Salamun)

Advertisements

Read Full Post »

Selainmenjadi Kota Suci kedua umat Islam setelah Makkah Al Mukarramah, Madinah Al Munawarah juga memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik dan sayang untuk tidak didatangi. Salah satunya adalah Jabal Magnet (Magnetic Hill) atau Gunung Magnet.

Mungkin bagi senbagian masayarakat Indonesia yang pernah berhaji atau mengunjungi Arab Saudi pernag mendengar dan mendatangi tempat itu. Seperti yang dilakukan sejumlah wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) pun yang mengunjungi tempat itu, yang kira-kira 60 kilometer dari Kota Madinah, beberapa waktu lalu dan sempat di ulang pada hari Selasa (15/12/2009).

Dalam perjalanan menuju kawasan Jabal Magnet dari Madinah, rombongan tidak habis-habisnya melepaskan pandangan ke bagian kiri dan kanan kendaraan yang terlihat sejumlah perkebunan kurma dan hamparan bukit berbatuan. 10 kilometer menjelang Jabal Magnet, rombongan melewati sebuah danau buatan yang cukup besar.


Ketika sampai di lokasi, rombongan sempat membuktikan misteri Gunung Magnet yang didominasi warna hitam dan merah bata itu. Rombongan turun dari mobil dinas Misi Haji Indonesia, Samsul Ali sang pengemudi pun mematikan mobil dan hanya menyalakan lampu sen.

Alhasil, mobil berjalan sendiri ke arah berlawanan (mundur), bakan sanggup mendaki tanjakan. Tidak hanya itu, jarum penunjuk kompas yang dibawa tim MCH juga tidak bekerja sebagaimana mestinya. Arah utara-selatan menjadi kacau. Selain itu, Samsul Ali menyebutkan, beberapa pengunjung mengaku pernah kehilangan data di telepon selulernya di lokasi tersebut.

“Inilah kekuatan medan magnet yang ada di gunung ini, sanggup menggerakkan mobil,” kata pria asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur itu. Samsul Ali memang kerap mengantarkan jamaah atau petugas haji yang ingin menyaksikan misteri Gunung Magnet.

Magnetic Hill, atau warga setempat menyebutnya Manthiqa Baidha, yang berarti perkampungan putih. Namun, banyak yang menamainya Jabal Magnet. Jabal Magnet menyimpan misteri dan decak kagum bagi siapa saja yang berkunjung ke kawasan ini.

Daya dorong dan daya tarik magnet di berbagai bukit di sebelah kiri dan kanan jalan, membuat kendaraan yang melaju dengan kecepatan 120 kilo meter per jam, ketika memasuki kawasan ini, speed-nya perlahan-lahan turun ke 5 kilo meter per jam. Sehingga, gigi perseneling terpaksa diubah ke posisi dua. Sebaliknya, jika meninggalkan kawasan ini, mobil tanpa diinjak gas pun, bisa melaju dengan kecepatan hingga 120 km per jam.

Jabal Magnet yang menjadi kawasan wisata penduduk Madinah awalnya ditemukan oleh orang suku Baduy. Saat musim haji, banyak jamaah yang menyambanginya. Pemerintah Arab Saudi lalu membangun jalan menuju lokasi tersebut. Di daerah yang terhitung hijau karena banyak ditumbuhi pohon kurma itu, juga dilengkapi sarana wisata lainnya. Ada tenda-tenda untuk pengunjung, ada mobil mini yang bisa disewa untuk merasakan tarikan medan magnet itu.

Samsul Ali, mengutip pengamat geologi Ma’rufin menyebutkan, secara geologis, fenomena Jabal Magnet bisa dijelaskan dengan logika. Karena, Kota Madinah dan sekitarnya berdiri di atas Arabian Shield tua yang sudah berumur 700-an juta tahun.

Kawasan itu berupa endapan larva “alkali basaltik” (theolitic basalt) seluas 180.000 km persegi yang berusia muda (muncul 10 juta tahun silam dengan puncak intensitas 2 juta tahun silam). Lava yang bersifat basa itu muncul ke permukaan bumi dari kedalaman 40-an kilo meter melalui zona rekahan sepanjang 600 kilo meter yang dikenal sebagai “Makkah-Madinah-Nufud volcanic line”.

Banyak gunung berapi terbentuk di sepanjang zona rekahan itu. Seperti Harrah Rahat, Harrah Ithnayn, Harrah Uwayrid dan Harrah Khaybar. Tidak seperti di Indonesia yang gunung-gunungnya berbentuk kerucut, sehingga memberi pemandangan eksotis, gunung-gunung di Arab berbentuk melebar dengan puncak rendah. Kompleks semacam ini cocok disebut volcanic field atau harrah dalam bahasa Arab.

Harrah Rahat adalah bentukan paling menarik. Dengan panjang 310 km membentang dari utara Madinah hingga ke dekat Jeddah dan mengandung sedikitnya 2.000 km kubik endapan larva yang membentuk 2.000 lebih kerucut kecil (scoria) dan 200-an kawah maar. Selama 4.500 tahun terakhir, Harrah Rahat telah meletus sebanyak 13 kali dengan periode antarletusan rata-rata 346 tahun.

Letusan besar terakhir terjadi pada 26 Juni 1256, yang memuntahkan 500 juta meter kubik lava lewat 6 kerucut kecilnya selama 52 hari kemudian. (Zal/Rez)

Read Full Post »

Thaif merupakan salah satu kota yang memiliki hawa sejuk, karena berada di lembah pegunungan Asir dan penunungan Al Hada. Kota yang terletak sekitar 67 kilometer atau 1 jam 45 menit dari Kota Makkah Al Mukarramah ini terkenal dengan perkebunan Delima, Kurma, sayuran lainnya, termasuk juga banyak tumbuh pohon Zaqqum, pohon berduri.

Hawa sejuk, layaknya seperti udara di Puncak Pas, Bogor, Jawa Barat ini, mulai terasa ketika detikcom bersama sejumlah wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji PPIH Daerah Kerja Makkah melakukan perjalanan ke Thaif, Sabtu (19/12/2009) siang waktu Arab Saudi. Diperkirakan suhu udara di kawasan ini mencapai 20 derajat celsius, sehingga membuat nyes di kulit.

Jalan menuju Thaif, khususnya ketika melewati Pegunungan Asir dan Pegunungan Al Hada berkelok-kelok, panjang dan menanjak mengelilingi pinggiran pegunungan hingga puncaknya. Puncak pegunungan yang berbeda dengan Puncak, Bogor atau tempat lainnya di Indonesia. Pegunungan di sini relatif tidak ada pepohonan, tandus, berbatu dan berpasir.

Namun, ketika memasuki kota Al Hada sebelum Thaif, sepanjang jalan baru ditemukan sejumlah pepohonan dan perkebunan kurma. Beberapa rumah tradisional juga berdiri di tengah-tengah perkebunan itu. Di sepanjang kawasan ini juga dipenuhi sejumlah tempat wisata bagi penduduk Arab Saudi. Di tempat ini juga terdapat kawasan yang dijadikan tempat ber-Miqot atau untuk berihrom haji atau umrah, yaitu di Wadi Sair Kabir.

Kesejukan kota Thaif banyak digunakan sebagai tempat peristirahatan dan pariwisata di musim panas. Bahkan para raja dan kerabatnya banyak membangun tempat-tempat peristirahatan di kawasan ini. Sehingga Thaif juga mendapat julukan Qaryah Al Mulk atau Desa Para Raja. Di kota ini juga sering diselenggarakan pertemuan-pertemuan dan perjanjian-perjanjian bilateral, regional dan internasional.

Menurut informasi yang diperoleh para mukmin dan sejumlah literatur, sebenarnya di kota ini sering diselenggarakan perlombaan balap onta. Namun, menjelang musim dingin di antara bulan Oktober hingga Januari, di kawasan ini juga di kawasan Al Safa, adalah musim Delima dan Bunga Anggrek.

Yang menarik, dalam perjalanan rombongan yang disopiri Hamdan Bakri atau Syamsul Nawawi menunjukan sejumlah Pohon Zaqqum yang tumbuh di antara perbukitan dari Thaif menuju Al Safa. Akhirnya, kami menghentikan sejenak perjalanan, memperhatikan pohon yang ditumbuhi duri-duri yang besar dan tajam, dan tidak ketinggalan berfoto ria, sebelum bubar karena mobil patroli polisi (askar baladiyah) datang.

Maklum, rombongan was-was juga memasuki kota Thaif, karena tidak memiliki Tasrih (surat izin) atau visa mengunjungi kota ini. Sebab selama musim haji, jamaah haji tidak diperkenankan masuk ke wilayah itu, karena hanya mengantungi visa haji, bukan wisata atau visa bekerja. Namun, rombongan memberanikan diri masuk, dan memang tiga pos Check Point yang dilewati tidak pernah menghentikan kendaraan MCH Daker Makkah ini.

Pohon Zaqqum, memang tidak ada di Indonesia atau negara lainnya. Ini menarik, ditambah lagi di dalam Al Quran Surah Al Waqi’ah ayat 52-56 tentang keberadaan Pohon Zaqqum. Di dalam ayat itu disebutkan bahwa para penghuni neraka kelak akan diberikan makanan dari Pohon Zaqqum. Para penghuni neraka akan diberi makanan yang luar biasa pahitnya. Detik.com

Read Full Post »

Di bawah ini sekilas kisah tentang “Oleh-oleh haji”, Anda perlu mengetahuinya, jangan sampai terkecoh membelinya untuk oleh-oleh haji, padahal di negeri kita produk tersebut sangat banyak dan murah harganya. Selamat menikmati.

Produk Cina Banjiri Super Mall di Madinah

Jangan heran, kalau anda memasuki sejumlah super mall di Madinah, akan menjumpai sejumlah barang produk Cina terpajang di etalase mereka. Mulai dari perkakas, beragam pakaian, sepatu, jam tangan, hingga produk elektronika. Harga produk Cina, seperti pakaian, jaket dan sepatu sangat terjangkau, dengan pilihan model yang sangat beragam.

Banjir produk Cina ternyata merata di sejumlah pusat belanja di Madinah, seperti Al Rashed Mega Mall, Al Noor Mall, Hyper Panda, Al Badar Mall, Al Madina Mall, Taiba Mall, Bin Dawood, Al Salam Plaza, Al Hasan Mall, dan Barakat Shopping Centre di Sultana St.

Kaos-kaos produk Cina dijual dengan harga 10-15 riyal, Tshirt dibandrol 15-50 riyal. Jaket dan baju dengan harga 50-110 riyal dengan kualitas yang lumayan bagus. Sepatu produk Cina berharga 35-110 rilyal.

Kalau kita mengunjung pusat belanja yang terkenal menjual barang “branded” pun, jangan sampai terkecoh. karena mereka menjual produk merk yang sama namun asal negeri Cina. Sejumlah pakaian, kaos dan celana bermerk Giordano dijual per potong hanya 40-50 riyal after discount.

Begitu juga produk sepatu bermerk, seperti Clark, Adiddas, Nike, Cats, Mizuno dan Reebok, hampir sebagian besar diproduk oleh Cina, Vietnam, Thailand, Indonesia, dan Brazilia, yang harganya relatif lebih murah. Sepatu Clark produk England di bandrol pada kisaran harga 270-370 riyal.

Perkakas rumah tangga, di swalayan Bin Dawood dan Carrefour pun, hampir sebagain besar merupakan produk Cina. “Hanya produk makanan, kosmetik , parfum dan obat-obatan yang bukan produk Cina,” kata Syamsul petugas Temus PPIH Madinah.

Banjirnya barang-barang produk Cina di Arab Saudi, kata Syamsul, mulai trerasa sejak tahun 2004. “Mereka juga memperoduk tasbeh, sajadah, topi, tas dan karpet yang banyak dibeli jemaah haji untuk oleh-oleh,” ucap Syamsul.

Bahkan sejumlah hand phone produk Cina, banyak beredar di pasaran Saudi dengan harga yang relatif lebih murah dengan type dan merk yang banyak digandrungi pembeli.

Berbelanja barang “branded” di Arab Saudi, seorang pembeli harus memiliki kejelian yang luar biasa. Jadikanlah panduan situs-situs belanja terkenal seperti http://www.ebay.com, http://www.amazon.com, shopping.yahoo.com, dan situs belanja di tanah air http://www.glodokshop.com. (ts)

Read Full Post »

Hj.Ngadirah Pulang Dengan Kaki Digips

Menjelang kedatangan jamaah haji kloter 46 asal Kota Semarang, Yeni asal Mrican Semarang nampak gelisah, bahkan sebelumnya dia berkali-kali telepon ke asrama untuk mengetahui jam kedatangan kloter tersebut. Dia mendapatkan izin masuk asrama untuk menjemput karena ibunya menderita sakit akibat kecelakaan di Makkah. Karuan saja, saat jamaah yang ditunggu-tunggu memasuki asrama dengan ambulan dia langsung mendekat. Pelukan dan tangisan haru Yeni dan beberapa kerabatnya menyambut Hj. Ngadirah ( 69 ) begitu keluar dari ambulan.

Kabar peristiwa kecelakaan yang menimpa ibunya sudah diterima beberapa hari sebelum kloter tiba di Solo. Jamaah haji asal warga Jl.Cerme II/1 Mrican Semarang yang masih dalam keadaan digips kaki kanannya menuturkan, kecelakaan yang menimpa dirinya terjadi 4 Desember pukul 13 WAS atau empat hari sebelum berangkat menuju Madinah untuk melaksanakan ibadah arbain. “Saya tertabrak mobil di depan maktab daerah Syisyah sepulang sholat di Masjidil Haram,” jelasnya ketika tiba di asrama haji Donohudan Boyolali Jumat (18/12) pukul 20.05 WIB.

Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit Makkah, dia dinyatakan fraktur (retak) pada persendian kaki kanan dan harus digips paling tidak selama satu setengah bulan. Namun ketika rombongan akan menuju ke Madinah,Senin 7 Desember, dia bersikeras untuk ikut jamaah meski harus menggunakan penyangga (kruk) dan mengajukan permohonan perawatan di Indonesia saja. “Tidak seberapa sakitnya mas, tetapi karena sudah umur, ya repot juga mengunakan kruk ini,” katanya beralasan.

Sebenarnya Satgas PPIH Solo Bidang Kesehatan akan merujuk Hj.Ngadirah ke RS Muwardi Solo, namun pihak keluarga yang menjemput merasa keberatan dan memintanya akan dirawat di Semarang. “Lebih baik dirawat di Semarang saja, karena dekat dengan keluarga , meski fasilitas gratis selama 7 hari menjadi hilang,” ujar Yeni

Hingga kloter 47 asal Kudus yang mendarat di bandara Adisumarmo Solo Sabtu (19/12) pukul 12.47, jamaah asal Debarkasi Solo yang sudah kembali ke tanah air sebanyak 17.754 orang, dan jamaah wafat sebanyak 55 orang.(Achmad Suaidi)


Read Full Post »

Pasca peristiwa hujan lebat sekitar lima jam yang mengakibatkan banjir bandang di Makkah dan terutama Jeddah, Arab Saudi, Rabu (25/11), menjadi catatan sendiri bagi negeri petro dolar Timur Tengah ini.

Peristiwa alam yang megangetkan dunia mengingat Kota Suci ini sangat langka hujan, sebagaimana dikutip “Arab News” sempat merenggut 117 jiwa manusia, tidak termasuk 47 yang belum ditemukan. Hujan hari itu, merupakaan hujan keempat kalinya di Makkah. Tiga kali sebelumnya hanya berlangsung beberapa menit saja, sejam paling lama.

Selain banyak korban jiwa, terdapat 8.000 mobil rusak diterjang air bah atau terpuruk ke lembah serta hanyut terseret air yang mengalir deras di jalan-jalan raya bebas hambatan khususnya di “Haramaian Exspres Way”. Sementara bangunan yang terendam mencapai 10.000 lebih.

Kawasan terparah adalah bagian timur dan selatan kota Jeddah, yang berbatasan dengan kota Makkah. Di jantung kota Makkah sendiri, sebagai daerah hulu, hujan dan banjir tidak banyak menimbukan kerusakan, justru daerah kemana air mengalir atau hilir yang parah, termasuk jalan raya s sebelum menuju “check point” masuk Makkah.

Peristiwa cukup mengerikan, bahkan ada yang menyebut bak”Tsunami” ini tidak hanya disaksikan tetapi juga ikut terjebak empat bus yang ditumpangi anggota PPIH Arab Saudi Daker Jeddah yang berjumlah sekitar 200 orang yang hari itu ditugaskan mengkavr kegiatan jamaah haji Indonesia memasuki di Arafah untuk wukuf. Bus pun tak bisa bergerak selama dua atau tiga jam baik maju atau mundur.

Panitia dijadwalkan berangkat dari Hotel pukul 01.00 tetapi karena salah satu bus terkendala macet, baru bisa bersma-sama berangkat empat jam kemudian. Setelah empat busa bergerak dua jam, bus terjebak kemacetan luar biasa di kawasan Sulamaniyah, sekitar 11 Km dari markas Daker Jeddah di jalan Palesteen. Belakangan diketahui telah terjadi banjir luar biasa.

Kepastian terjadi hujan deras yang dideteksi sebagai hujan terlebat, mencapai 2/3 dari rata-rata curah hujan sepanjang tahun di Arab saudi, mengakibatkan banjir luar biasa di kawasan hilir itu bisa didapat ketika melihat air mengalir cukup deras di jalur sebelah kini (kendaraan di Arab Saudi melaju di jalur kanan-Red), karena menyeret atau menghanyutkan mobil, perabot rumah tangga dan lainnya.

Hujan hari itu memang cukup luas, selain di Makkah, Arafah pun ikut diguyur hujan sehingga tenda-tendak banyak yang rusak akibat tidak bisa menahan air, dan seluruh karpet (alas) untuk kegiatan Wukuf semua basah. Rombongan Menteri Agama Suryadharma Ali juga ikut terjebak dalam perjalanannya menuju Arafah sehinmgga diputuskan memunda keberangkatannya dan kembali ke hotel.

MAKKAH merupakan tanah haram negeri yang paling dicintai oleh Allah SWT dan juga Rasul-Nya, kiblatnya kaum Muslim. Di sana antara lain ada Masjidil Haram dan Ka`bah. Mendapat keutamaan bagi yang beribadah di masjid tersebut dengan kelipatan pahala 100.000 kali.

Kota Makkah sendiri kini berpenduduk 1,7 jiwa, berada di suatu lembah diantara perbukitan letaknya pada ketinggian 280 m diatas permukaan laut (DPL). Dalam musim haji tahun ini, Kota Makkah (termasuk jeddah-Madinah) kedatangan sekitar tiga juta tamu Allah.

Karena itu ketika ada kabar telah terjadi hujan lebat dan banjir bandang di terutama Makkah dan Jeddah keluarga di negeri asal jamaah sedikit was-was dan bertanya-tanya, sehingga untuk beberapa saat komunikasi di kedua kota ini mengalami gangguan.

Makkah sebagai tanah haram telah ditetapkan batas-batasnya, arah barat adalah jalan Jewddah-mekkah, di Asy Syumaisi (Hudaiaibiyah) yang berjarak 22 Km. Arah selatan, di Idha`ah Liben, jalan Yaman-Makkah untuk yang datang dari Mihamah, yang berjarak 12 Km dari Ka`bah.

Sebelah arah timur, di tepi lembah Uranah barat yang berjarak 15 Km dari Ka`bah. Arah timur laut, jalan Ji`ranah dekat dari Kampung Syara`i Al Mujahiddin, berjarak 16 Km dari Ka`bah. Arah utara, batasnya adalah Tan`im, berjarak 7 Km dari Ka`bah.

TEKSTUR tanah di Arab Saudi, khususnya kawasan Makkah dan Jeddah yang penuh bebatuan dan pasir, agaknya berbeda dengan kondisi di Tanah Air, karena itu air hujan yang turun tak mudah terserap dan masuk tanah.

Di Arab Saudi, khususnya lintas Jeddah-Makkah atau sebaliknya, seperti bisa disaksikan ketika Minggu (29/11) atau empat hari setelah peristwa itu, rombongan MCH kembali ke Jeddah, masih melahat genangan-genangan air di daerah rendah di sisi kini-kanan jalan utama bebas hambatan tersebut.

Ini sebuah bukti bahwa kepadatan tanah di negeri padang pasir ini luar biasa sehingga air sulit meresap. Bahkan ketika MCH kembali ke Makkah Sabtu (12/12), dimana peristiwa banjir itu sudah dua minggu lebih, genangan air bekas banjir tersebut masih bisa dilihat di daerah rendah.

Dalam kaitan peristiwa ini, Pemerintah Arab Saudi sangat tanggap. Mengantisipasi kemungkinan terjadi musibah susulan. Beberapa alat penyelamatan disiapkan di beberapa titik, puluhan perahu karet, alat berat disiapkan di kawasan bekas bandara lama.

Raja Abdullah setelah mendapat laporan adanya peristiwa itu, langsung memerintahkan untuk membentuk komisi investigasi untuk meneliti penyebab terjadinya musibah itu. Termasuk memanggil pejabat-pejabat terkait dalam pembangunan prasarana perkotaan, pekerjaan umum, pengairan dan sebagainya. Bahkan pejabat-pejabat yang sudah pensiun pun diminta penjelasannya.

Komisi investigasi yang terdiri dari para pejabat terkait dan akademisi serta pakar-pakar pembangunan perkotaan telah melakukan sidang pertamanya pekan lalu, diharapkan dalam pekan mendatang telah mendapatkan hasil temuannya untuk disampaikan kepada Raja Abdullah.

Karena struktur tanah yang sulit menyerap air, merangsang tumbuhnya biji-bjian sehingga pemandangan sepanjang kiri kanan jalan bebebas hambatan Makkah-Jeddah kini tampak benih-benih tersebut menghijaukan bukit maupun padang pasir. Ternak domba dan onta sudah banyak ditemui digembala.

Arab Saudi tampaknya memang tidak main-main dalam hal penghijauan, khususnya di tiga kota yang kami saksikan, Makkah, Madinah, Jeddan. Taman-tamah kota dipelihara dengan baik, rumput pun hijau, pohon-pohon di pinggir jalan rindang, bahkan boleh dibilang masih lebih baik dibanding jalan utama Thamrin atau Gatot Subroto, di Jakarta.

Menjadi lain tentu saja bila setiap bulan turun hujan di Arab Saudi, atau setidaknya turunnya hujan lebih inten pada musim dingin November sampai Januari. Kalau itu terjadi, Arab Saudi akan menjadi negeri yang rindang. (h salamun nurdin)

Read Full Post »

Anda dapat  saja mengatakan, mending belanja oleh-oleh haji di Indonesia karena di samping murah, resiko tak terangkut saat di Bandara Kepulangan Haji pun terhindari.

Namun pada kenyataannnya, sebagian jemaah haji lebih memilih berbelanja oleh-oleh haji di kota Jeddah. Walaupun sudah diwanti-wanti jangan berlebihan dalam berbelanja karena resiko barang tak terangkut. Sekali lagi, ini adalah semata-mata masalah kebiasaan masing-masing diri jemaah. Anda pilih yang Mana??? Jawabannya hanya ada pada diri Anda sendiri.

Berikut kisah tempat belanja di kota Jeddah, yang sering jadi “sasaran” jemaah haji asal Indonesia.

Balad, Ali dan Nur Murah Dibanjiri Jamaah

Suasana Tanah Suci saat ini agak berbeda dengan sebelum puncak haji atau selesai ritual Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina), yang tuntas pada Senin (30/11).

Hiruk pikuk dan protes perebutan bus antaran pondokan ke dan dari Masjidil Haram, tidak lagi terdengar. Juga protes-protes soal buruknya fasilitas di pemondokan, soal katering, seolah terlupakan. Konsentrasi jamaah haji kini sudah mulai terbagi antara pulang dan mengejar pahala berlipat ganda.

Kalau semula para jamaah konsentrasi penuh pada ibadah haji, berlomba lomba dalam kebaikan, sambil mengejar pahala sholat di Masjid Nabawi dengan pahala 1.000 kali lipat, dan Masjidil Haram berkelipatan 100.000, ditandai bermacam protes kepada PPIH, suasana seperti itu hampir tidak ada lagi.

Memang sebagian jamaah berkunjung ke tempat tempat bersejarah. Masjid Nabawi bagi yang belum arbain, atau sekedar untuk sholat saja, Masjid Quba, Masjid Kiblatian, Jabal Rahmah, Jabal Nor, Jabal Uhud, Gua Hiro dan lainnya. Namun jumlahnya tidaklah seperti dulu, kini sudah berkurang jauh. Dan yang banyak justru ke jabal baru di Jeddah, yaitu “Jabal Balad”.

Nama “Jabal Balad” menjadi sangat populer bagi jamaah haji Indonesia, karena, jabal yang berarti gunung dan balad yang bisa diartikan sebuah kawasan atau kota, ini tidak lain sebagai pusat perbelanjaan mulai eceran sampai grosiran, dengan harga mulai kaki lima sampai kaum kantung tebal.

***

BALAD berada di kawasan jantung kota Jeddah; kota yang juga memiliki tempat bersejarah, misalnya Makam Siti Hawa, Masjid Terapung, Masjid Qisos, merupakan pasar yang cukup tua, dimulai sejak Bab (pintu) Makkah, yang banyak mangkal taksi khusus jurusan Makkah dengan pengemudi warga Arab Saudi.

Dalam beberapa tahun terakhir para pengemudi taksi ini disubsidi, diberi kendaraan untuk dicicil menjadi hak milik dengan harga murah. Dengan maksud bisa beraktivitas mengurangi migrasi ke kota Makkah yang sudah cukup padat (sekitar 1,4 juta-Red). Selain Jeddah sendiri sebagai kota internasional sudah berpenduduk sekitar 2 juta, belum termasuk pendatang yang sangat banyak.

Jamaah haji Indonesia yang akan pulang dan diterbangkan dari Jeddah, diberi kesempatan atau mendapat hak “city tour” tiga jam di kota ini karena punya waktu 24 jam. Mereka bisa memilih tempat-tempat bersejarah yang disebut diatas, termasuk paling banyak ke Balad.

Bahkan sebelum puncak haji pun, jamaah Indonesia yang tinggal di Makkah, sempat lebih dulu belanja ke Balad, karena pulangnya nanti lewat Madinah. Dan pada Sabtu (5/12) lalu pun jamaah yang kini berada di Makkah mencarter bis masing-masing membayar 50 riyal untuk belanja ke Balad.

Pasar Balad sendiri merupakan pasar yang sangat luas, karakteristiknya seperti pasar Tanah Abang, Jakarta. Barang-barang keperluan apa saja ada. Namun jauh lebih luas dan lengkap, selain pedagangnya datang dari berbagai penjuru dunia tetapi sudah menjadi warga negara Arab Saudi. Atau paling tidak mempunyai izin tinggal di negeri itu secara sah.

Barang-barang yang paling menonjol (paling laris) di sini adalah souvenir berupa tasbih, sajadah, minyak wangi, karpet (permadani). Bahkan emasnya dikabarkan sangat baik, setara dengan emas Inggris. Detil ukiranya hebat sehingga terkenal di penjuru dunia.

***

Dari ratusan bahkan ribuan tokok-toko di Pasar Balad, hanya dua yang paling dikenal jamaah Indonesia, yaitu toko Nor Murah dan Ali Murah. Dan ternyata tidak hanya jamaah haji, kedua tokoh ini juga langganan para pramugari Garuda Indonesia, ketika pesawatnya landing di Bandara KAA.

Kedua toko ini begitu terkenal, karena punya strategi jitu menjaring pelanggan. Kuncinya, tidak lain kumunikasi. Mereka bangun komunikasi jual beli. Mulai dari bahasa belanja, diperdalam dengan bahasa daerah. Mereka juga memasang pegawai dari daerah-daerah potensial.Memperkerjakan pegawai dari Makassar, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB dan sebagianya.

Selain itu, seperti dituturkan Ali Murah, pria berkebangsaan Bangladesh ini, tidak mengambil untung banyak. Untuk sajadah misalnya, hanya ambil untung satu atau dua riyal. “Yang penting uang berputar, laba sedikit tidak masalah, terpenting pelanggah banyak,” katanya dengan basaha Indonesia yang lancar.

Ali sendiri sudah berpuluh tahun menggeluti usaha ini, diawali dengan belajar bersama keluarganya dan kemudian mandiri. Ali Murah pernah tinggal di Jakarta. Sekarang sudah punya cabang di Thamrin City, Jakarta, punya usaha Cargo di Halim Perdana Kusuma, Cabang di Cianjur, dan Jawa Timur. Selain di Dammam, Riyadh, Makkah, Madinah.

Berapa omsetnya setiap hari berdagang di Balad? Saat musim haji ini bisa 300 juta riyal sampai 400 juta riyal perhari. Sementara modal usahanya mencapai 3 miliar riyal. Dia sendiri memiliki tiga pabrik untuk mendukung usahanya tersebut. Untuk sewa tokonya dia harus keluarkan Rp500 juta riyal.

Hanya berjarak 50 meter dari toko ini kearah kiri, juga ada toko berlabel murah; Nor Murah. Pria yang juga asal Bangladesh ini, mengakui bahwa Ali Murah adalah karibnya. Di toko ini, dagangannya tidak jauh berbeda, ada minyak wangi, tasbih, sajadah, karpet (permadani) pakaian khas Arab Saudi dan lainnya.

Pelanggannya juga tidak jauh beda, mayoritas orang Indonesia, kemudian Filipina, Thailand, India, Pakistan Turki, Uzbekistan dan lainnya. Harga-harga dagangannya juga tidak jauh berbeda, bahkan relatif sama. Yang penting pelanggan harus pintar menawar. (h salamun nudrin)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »