Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘keutamaan masjidil haram’

Allah Jalla wa ‘Ala telah menunjukkan hal itu dalam kitab-Nya yang agung ketika Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ * فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ *

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, adalah Baitullah yang di Bakkah (Makah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali ‘Imran : 95-97)

Allah juga berfirman:
وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ * وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ * لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kalian menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (Al-Hajj : 26-28)

Pada uraian di atas, dapat kita ketahui, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Baitullah (Ka’bah) adalah rumah pertama yang dibangun untuk umat manusia, yakni di muka bumi, untuk ibadah dan bertaqarrub kepada Allah dengan amalan-amalan yang diridhai-Nya. Sebagaimana telah sah dalam Ash-Shahihain dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu dia berkata :

“Aku bertanya, wahai Rasulullah, beritakan kepadaku tentang masjid pertama yang dibangun di muka bumi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Al-Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi, “Kemudian masjid mana lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Al-Masjidil Aqsha.” Aku lalu bertanya lagi, “Berapa lama jarak antara keduanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “40 tahun,” Aku bertanya, “Kemudian mana lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kemudian di mana pun waktu shalat tiba, maka shalatlah di situ, karena itu adalah masjid.” (HR. Al-Bukhari 3186, Muslim 520)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa rumah pertama yang dibangun untuk umat manusia adalah Al-Masjidil Haram, yaitu rumah yang dibangun untuk ibadah dan bertaqarrub kepada Allah, sebagaimana dijelaskan oleh para ‘ulama. Sebelumnya sudah ada rumah-rumah untuk dihuni/tempat tinggal, namun yang dimaksud di sini adalah rumah pertama yang dibangun untuk ibadah, ketaatan, dan taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ucapan dan amalan yang diridhai-Nya.

Kemudian setelah itu adalah Al-Masjidil Aqsha yang dibangun oleh cucu Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimush shalatu was salam. Kemudian diperbarui lagi pada akhir zaman setelah itu dengan jarak/jeda waktu yang sangat lama oleh Nabi Sulaiman ‘alaihish shalatu was salam.

Lalu setelah itu seluruh permukaan bumi adalah masjid. Kemudian datanglah Masjid Nabawi, yang itu merupakan masjid ketiga pada akhir zaman yang dibangun oleh Nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad ‘alaihish shalatu was salam. Beliau membangunnya setelah berhijrah ke Madinah, beliau membangunnya bersama-sama para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Beliau memberitakan bahwa Masjid Nabawi tersebut merupakan masjid paling utama (afdhal) setelah Al-Masjidil Haram.

Jadi masjid yang paling utama ada tiga. Yang terbesar dan paling utama adalah Al-Masjidil Haram, kemudian Masjid Nabawi, dan Al-Masjidil Aqsha.

Shalat di ketiga masjid tersebut dilipatgandakan pahalanya. Terdapat dalam hadits yang shahih :

« أنها في المسجد الحرام بمائة ألف صلاة »

“Shalat di Al-Masjidil Haram sama dengan 100.000 (seratus ribu) kali shalat.” (HR. Ibnu Majah 1413)

Tentang Masjid Nabawi :

« الصلاة في مسجده خير من ألف صلاة فيما سواه , إلا المسجد الحرام »

“Shalat di masjidku lebih baik daripada 1000 (seribu) kali shalat di selainnya, kecuali di al-masjidil haram..” HR. Al-Bukhari 1133, Muslim 1394

Adapun tentang Al-Masjidil Aqsha :

« أنها بخمسمائة صلاة »

Sebanding dengan 500 kali shalat.

Jadi tiga masjid tersebut merupakan masjid yang agung dan utama, itu merupakan masjidnya para nabi ‘alahimush shalatu was salam.

Kelebihan lainnya  dari ketiga masjid di atas adalah dibolehkan bagi kita bertabarruk didalamnya, yaitu dengan menjadikan sebagai tempai untuk ditunaikan amalan-amalan yang syar’i yang kita mampu, seperti thawaf, shalat, dan amalan lainnya.

Untaian Fatwa :
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafidhahulloh dalam Al Muntaqa terhadap fatwa beliau 1/220 berkata:

“Sujud di atas tanah yang disebut ‘tanah kuburan wali’, jika dimaksudkan sebagai tabarruk dengan tanah itu dan mendekatkan diri kepada wali tersebut maka ini adalah syirik besar.

Adapun jika yang dimaukan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bersamaan dengan adanya keyakinan tentang keutamaan-keutamaan tersebut, dan sujud di atasnya merupakan suatu keutamaan sebagaimana keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada tanah-tanah suci di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha, maka ini merupakan bid’ah di dalam agama, satu ucapan atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa didasari ilmu, syariat yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sarana dari sarana-sarana agama yang mengantarkan kepada kesyirikan.

Hal itu dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menjadikan kekhususan pada suatu tempat selain tempat-tempat syi’ar yang suci dan tiga masjid tersebut. Sampai-sampai tempat-tempat syi’ar dan tiga masjid tersebut tidak disyari’atkan untuk kita mengambil tanahnya kemudian sujud di atasnya. Hanyalah kita disyari’atkan untuk berhaji ke rumah-Nya (Ka’bah, pent) dan shalat di tiga masjid tadi.” Wallahu A’lam Bish Shawab. (salafy.or.id)

Simak juga:

http://oleholehhaji.net/2008/11/29/koreksi-seputar-amalan-di-musim-haji/

http://oleholehhaji.net/2008/11/15/haji-ke-baitullah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/25/berhaji-tuk-meraih-ridha-ilahi/

http://oleholehhaji.net/2008/12/01/ikhlas-dalam-ibadah-haji-dan-ibadah-lainnya/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/bekal-bekal-penting-bagi-para-calon-jama%e2%80%99ah-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

http://oleholehhaji.net/2009/10/29/manasik-haji-untuk-anda-2/

Advertisements

Read Full Post »

Kesempatan untuk bisa pergi ke tanah suci merupakan satu nikmat yang tak habis-habis untuk disyukuri. Segala apa yang kita temui memberi kebahagiaan yang teramat dalam. Saya baru mengerti mengapa setiap orang yang sudah pergi haji selalu ingin untuk kembali lagi ke sana. Meski awal perjalanan haji kami saya mulai dengan kejadian yang cukup  berat, yaitu pingsan di pesawat, alhamdulillah setelah itu Allah banyak memberi kemudahan-kemudahan.

Catatan ini saya buat sebagai ilustrasi bahwa segala sesuatu yang pada awalnya terasa berat dalam ibadah haji akan terasa nikmat jika kita sepenuhnya berserah diri pada Allah dan yakin bahwa Allah akan memuliakan tamu-tamuNya. Karena setiap orang, setiap tahun, yang dihadapi berbeda-beda, tetapi apapun keaadaannya haji tetaplah nikmat.

GELOMBANG 2
Sejak awal manasik dijelaskan bahwa rombongan haji Indonesia dibagi 2 gelombang: gelombang 1 ke medinah dulu baru ke mekah, sedang gelombang 2 langsung ke mekah baru ke medinah. Berdoa saja kita termasuk gelombang1 begitu pembimbing bilang, bahkan beliau berkata selama ini yogya selalu gelombang 1. seolah-olah gelombang 1 lebih enak daripada gelombang 2. Anehnya lagi pada waktu manasik bahkan sampai praktek manasik selalu diandaikan gelombang 1.

Ternyata pada saat pengumuman kloter kita masuk gelombang 2, saya sempat terpana saat itu. Bukan karena kecewa tetapi lebih pada ketidaksiapan untuk menghadapi keadaan tidak sesuai rencana. Mungkin hanya persoalan kecil tetapi dari situ saya belajar bahwa meski kita punya rencana, kita harus siap menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan rencana kita, semuanya kita pasrahkan kepada Allah.

Gelombang 2 memang mempunyai beberapa masalah yaitu penentuan miqat dan kedatangan yang mendekati puncak haji, kedua hal tersebut tidak dijumpai pada pemberangkatan dengan gelombang 1. Pada akhirnya kedua hal itupun tidak menjadi masalah,sehingga ketika haji selesai saya malah merasakan nikmatnya berangkat dengan gelombang 2. Kenapa? Jarak waktu yang sebentar antara kedatangan di mekah dengan puncak haji menjadikan kami lebih konsentrasi sehingga ketika mulai tarwiyah, wukuf hingga melempar jumroh bisa kami lakukan dengan baik. Kemudian ketika pulang kembali ke mekah, kami masih mempunyai cukup waktu untuk beristirahat dan bisa merasakan ”sepinya” masjidil harom.

Beberapa jamaah yang sakit sepulang dari mina bisa istirahat dengan tenang karena toh puncak haji sudah selesai. Ketika saat ke medinah sebagian besar jamaah dalam kondisi sehat. Saya sendiri ketika pulang dari mina mulai batuk, begitu di medinah langsung terasa ringan. Bisa dimaklumi karena udara medinah lebih nyaman daripada mekah sehingga yang dari mekah masih sakit sampai medinah langsung sembuh. Saya merasakan begitu nyaman saat beribadah di masjid nabawi hingga waktu 9 hari dengan cepat berlalu. Saudara-saudara kami heran begitu kami tiba di tanah air, kok kami begitu terlihat sehat ? Tidak terlihat lelah, tidak terlihat batuk-batuk. Alhamdulillah batuknya sudah ditinggal di sana.

PONDOKAN DI SAUQIYYAH
Sauqiyyah adalah daerah yang baru pertama kali digunakan sebagai pondokan jamaah haji Indonesia. Letaknya di pinggiran mekah sepertinya daerah baru karena masih sepi dan rumah-rumah dibangun diantara gunung-gunung. Jarak dari kota mekah hanya 14 km saja.Di sana tidak ada toko-toko sebagaimana yang ada di sekitar masjidil harom, jika jamaah haji ingin berbelanja maka pergi ke jalan utama di kawasan itu di mana ada beberapa minimarket yang menjual berbagai macam kebutuhan yang tentu saja tak sebanyak di mekah.

Kondisi ini memberi keuntungan sendiri karena kami jadi tidak sibuk untuk berbelanja. Jamaah haji  indonesia di sauqiyyah ditempatkan di rumah-rumah penduduk jadi tidak di hotel sebagaimana di sekitar masjidil harom. Rumahnya pun kecil-kecil hanya berkisar 5-6 lantai.Tidak terlalu padat, udaranya pun cukup segar, di pagi hari masih terdengar burung berkicau. Namanya juga di desa.

Rombongan kami karena hanya berjumlah 31 orang ditempatkan di sebuah rumah yang sebagian besar dari kloter lain, sedang kloter kami lainnya berada di rumah yang lain. Karena datang belakangan tentu saja dapat kamarnya pun sisa kamar yang ada. Rombongan yang terdiri dari 3 regu hanya mendapat 3 kamar, ibu-ibu yang berjumlah 15 orang dapat 2 kamar, 1 kamar kecil untuk 1 regu untuk 4 orang, 1 kamar yang besar untuk 2 regu lainnya yaitu untuk 11 orang padahal kapasitas kamar hanya untuk 9 orang. Sedang bapak-bapak dari 3 regu jadi satu kamar, semuanya 16 orang. Dahsyat bukan?

Keterkejutan kami yang belum hilang karena melihat daerah tempat kami tinggal selama di mekah di tambah dengan kondisi rumah yang kami tinggali benar-benar menguji kesabaran kami. Beberapa teman mulai mengeluh, suami buru-buru menasehati untuk sabar dan menahan diri untuk tidak mengeluh. Insya allah, Allah akan beri kemudahan.

Yang terlintas di pikiran saya, ternyata pergi haji perlu kemampuan untuk survival juga. Tidak semua tersedia, tidak semua mudah.Tetap perlu perjuangan.

Perjuangan itu ternyata memang sangat diperlukan selama di sauqiyyah, karena jarak yang jauh maka untuk untuk ke masjidil haram harus naik bis. Stasiun bis ada sekitar 3 km-an dari masjidil haram, dari stasiun ke masjid dihubungkan dengan terowongan di bawah pelataran masjidil haram. Jamaah diturunkan di terowongan kemudian berjalan sekitar 300 m, begitu keluar terowongan sudah sampai ke pelataran masjidil haram.

Pertama kali masuk ke terowongan, terus terang nyali saya ciut, bagaimana tidak? Di terowongan yang tidak terlalu terang, suara bising oleh kendaraan dan suara blower, kondisinya padat sekali, orang begitu banyak karena sudah mendekati puncak haji. Masjidil harampun sudah penuh. Subhanallah belum pernah saya melihat orang segitu banyak dan semuanya mengagungkan asma Allah. Rasa haru dan bahagia begitu meliputi seluruh jiwa begitu memasuki masjid dan melihat ka’bah, susah payah menuju kemari hilang begitu saja.

Perjuangan untuk sampai ke masjidil haram dari sauqiyah menjadikan setiap kali ke sana menjadi begitu berharga. Tidak sebagaimana yang jarak pondokan dekat, kami di sauqiyah hanya bisa sehari sekali ke sana. Itu pun tidak setiap hari mengingat kondisi tubuh. Perjalanan memang melelahkan terutama di terowongan itu.Pada awalnya karena rute kami dari terowongan langsung ke pelataran masjid begitu pun pulangnya, saya sempat heran kata orang di sekitar masjid banyak toko-toko, mana tokonya? Bagai mana bisa tahu? Tahunya cuman terowongan sama pelataran masjid, padahal pelataran masjid penuh manusia dari ujung ke ujung, baru ketika masjidil haram’sepi’ saya baru bisa melihat keadaan sekitar masjid.

Perjuangan membawa banyak kemudahan, Allah memberi kami banyak kemudahan dalam kami menjalankan ibadah di baitullah ini. Ketika Umrah, thawaf ifadhah, sampai thawaf wada begitu banyak kami mendapat kemudahan. Meski ketika thawaf  ataupun sai tidak semua jadi satu tetapi begitu selesai semua bisa berkumpul kembali. Seluruh rombongan bisa menunaikan thawaf dan sai dengan lancar, tak ada anggota rombongan yang tersesat ataupun tertinggal. Ketika thawaf dalam kondisi penuh sesak padahal kami bersama orang-orang tua, dengan berserah diri dan memohon pertolongan Allah, alhamdulillah kami bisa menunaikannya dengan mudah. Tanpa terpisah dengan orangtua yang kami gandeng, tidak mengalami didesak ataupun ditabrak orang. Subhanallah. Semuanya lancar.

Sementara itu tinggal di sauqiyah, meski mungkin tidak di semua rumah, saya merasakan banyak kenikmatan.Paling tidak itu yang saya rasakan. Seperti yang saya tulis di awal tadi, saya bersama 10 orang jamaah putri lainnya dapat kamar terakhir yang ternyata kamar itu dekat kamar yang ditinggali oleh kepala keluarga. Satu rumah ditinggali oleh sepasang suami istri beserta anak-anak mereka yang sudah berkeluarga beserta cucu-cucu mereka, masing-masing tersebar di lantai yang berbeda. Kebetulan yang kami tinggali dekat kepala keluarga dengan pembantu mereka dari indonesia yang baik hati dan pintar memasak. Sejak hari pertama kami datang, makanan tidak henti-hentinya mengalir ke kamar kami, Dari nasi bukhari, salad, donat, pizza, sambosa, cake, hingga buah pisang ataupun sekedar teh dan susu. Hanya kamar kami. Masya allah, betapa mudah Allah menyenangkan kami.

Tuan rumah sangat ramah dan baik. Kami pun bisa bercanda dengan cucu-cucu mereka yang lucu. Ada lagi yang menyenangkan di sauqiyah terutama 10 hari pertama bulan dzulhijah, banyak orang shodaqoh makanan kepada jamaah haji di sana, saat makan siang ataupun sore tiba-tiba datang kiriman makanan lengkap dengan minum dan buah ke pondokan. Makanan benar-benar melimpah, padahal informasi awal kami di suruh membawa bekal makanan banyak karena di sauqiyah tidak banyak toko. Tapi siapa bilang makanan datang harus dari toko? Belum lagi kalau kami tidak ke masjidil haram, biasa kami sholat jamaah di masjid dekat rumah pondokan kami. Ketika duduk menunggu sholat berikutnya tiba-tiba di pangkuan kami diletakkan satu bungkusan berisi roti, sari buah dan biskuit ataupun ketika pulang ada ibu-ibu bercadar membagi kurma setengah kiloan, atau roti lengkap dengan selai dan keju, atau nasi bukhori. Bahkan suatu sore ketika saya dan suami jalan-jalan sepulang belanja kebutuhan di minimarket ada mobil menyalip kami kemudian berhenti dan memanggil kami, diberinya kami jeruk dan pisang.

Masjid di belakang pondokan kami juga menjadi hiburan tersendiri bagi kami yang merasakan jauhnya ke masjidil haram. Imam masjid, masjid al-ikhsan namanya, suaranya begitu merdu sehingga sholat jamaah di belakang beliau membaca surat sepanjang apapun tidak terasa capek, beberapa teman menilai suara imam masjid al-ikhsan lebih merdu di bandingkan imam masjidil haram dan masjid nabawi. Secara berkala ada seorang syeh yang memberi taklim di masjid itu dengan penterjemah, karena jamaah hampir semua indonesia.

Suatu ketika suami saya menanyakan hadits yang menjelaskan bahwa sholat di masjid lain di mekah pahalanya sama dengan di masjidil haram, syeh itu menjelaskan hadits tsb benar, hanya saja di masjidil haram terdapat tempat-tempat yang mustajabah. Rasanya ‘nyes’ di hati mendengarnya, pahala memang hak Allah tetapi mendengar penjelasan tersebut benar-benar melegakan mengingat kondisi kami di sana saat itu. Tentu saja kami tetap ingin ke masjidil haram tetapi karena banyak hal kami tidak bisa ke sana semudah yang tinggal di dekat masjidil haram penjelasan tersebut benar-benar menghibur. Di masjid itu juga ada madrasah sore untuk anak-anak kecil semacam TPA di indonesia. Suami saya malah pernah main sepakbola dengan anak-anak kecil itu di halaman masjid. Menyenangkan bukan?

Pelajaran yang saya ambil dari sauqiyah adalah ketika kita menerima keadaan yang ada, menikmatinya dan bersyukur maka Allah akan melimpahkan nikmatNya, dan begitu mudah bagi Allah untuk merubah keadaan.

DI MINA
Malam menjelang tanggal 8 dzulhijah kami bertolak ke mina untuk tarwiyah mengikuti sunah Rasulullah, di mina kami menempati maktab di mina jadid.

Begitu turun saya melihat di pagar luar maktab ada papan penunjuk bertuliskan MUSDZALIFAH END HERE. Dalam hati saya berkata o..ini sudah mepet musdzalifah, diseberang sana sudah musdzalifah, kemudian yang langsung terlintas melempar jumrahnya harus berjalan jauh dari maktab.

Ada 2 hal yang paling berkesan selama di mina :
1. Ketika selesai wukuf kami diangkut dengan bis tepat adzan maghrib berkumandang, ketika bis melewati musdzalifah bis tidak berhenti, kami yang ada di bis bertanya-tanya kenapa bis tidak berhenti tapi terus berputar-putar sampai akhirnya bis memasuki mina jadid tempat tenda kami berada, kami diturunkan di maktab kembali. Kenapa kami diturunkan di maktab? Bukankah seharusnya menuju musdzalifah untuk mabit di sana, dan baru setelah lewat tengah malam baru kembali ke mina? Mereka yang tidak tarwiyah tidak mengetahui masalah ini karena mereka ke arafah dari mekah, tapi kami yang tarwiyah tahu karena kami pagi tadi berangkat menuju arafah dari sini, dari mina.

Pada awalnya saya berpikir mungkinkah karena maktab kami mepet dengan musdzalifah maka kami diturunkan di sini sehingga kami bisa menuju musdzalifah dan kembali ke maktab dengan jalan kaki. Karena dipaksa petugas untuk memasuki areal maktab dan berbekal keterangan ini merupakan ijtihad ulama arab saudi untuk mereka yang maktabnya di mina jadid kami kembali ke tenda meski dengan sedikit bingung dan ragu.

Pada akhirnya kami mendapat penjelasan bahwa tenda kami terletak di mina jadid yang merupakan perluasan dari mina yang letaknya di Musdzalifah, jadi kami mau ke musdzalifah mana lagi? Tenda kami sudah di musdzalifah. Ini ya mina,ini ya musdzalifah. Ternyata papan MUSDZALIFAH END HERE bukan berarti di sini mina, di sana musdzalifah tapi….di sini musdzalifah di sana sudah bukan musdzalifah lagi. Saya geli sendiri mengingat hal itu.

Kalaulah boleh memilih tentu saja kami memilih keadaan yang ideal tanpa khilafiyah semacam ini, sehingga kami bisa merasakan mabit di hotel seribu bintang, musdzalifah, tapi takdir Allah malam itu kami mabit di dalam tenda. Satu hal yang membuat saya terpana, saya merasakan betapa mudahnya haji kami, tanpa banyak kesulitan kami wukuf di arafah dengan khusyuk, makanan berlimpah, transportasi mudah dan sekarang mabit dan sekaligus sudah kembali ke mina. Sudah selesai haji kami? Begitu mudah? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

2. Sebelum berangkat ada teman bercerita bahwa dia ketika di mina, ia berada di mina jadid sehingga untuk melempar jumroh harus berjalan 7 km. Saat itu saya memohon kepada Allah mudah-mudahan tenda saya di mina tidak berada di mina jadid. Ternyata Allah menempatkan saya di mina jadid justru untuk menampakkan nikmatNya yang tak terhinga pada kami. Itu yang saya rasakan kemudian setelah kami menyelesaikan nafar tsani dan kembali ke mekah.

Kami berangkat untuk melempar jumroh aqabah pada tanggal 10 dzulhijah jam 2 siang, dengan hati sedikit ciut mengingat jarak itu tadi ditambah kondisi saya yang sejak pingsan di pesawat kepala saya selalu berasa kekurangan oksigen, kami berangkat. Selama berjalan tak henti-hentinya saya berdo’a mohon diberi kekuatan dan kemudahan. Subhanallah, jalan-jalan kami lalui dengan semangat, orang-orang tua yang saat berangkat terlihat payah, berjalan dengan semangat bahkan ada jamaah yang biasanya jalan dibantu tongkat ketika berjalan ke jamarat tongkatnya diangkat kemudian berjalan biasa.

Allah benar-benar memendekkan jarak yang kami lalui, padahal kami jalan 45 menit baru sampai terowongan mina, tapi seolah tak terasa jauh. Terowongan mina pun terasa menyenangkan waktu dilewati, jauh dari gambaran yang diceritakan orang-orang. Sesampai di jamarat, kami mengambil lantai 1 keadaan tidak terlalu ramai sehingga kami bisa melempar dengan tenang. Tak terkira rasa syukur dan haru kami selesai melempar jumroh aqobah, kami menangis dan saling mendoakan mudah-mudahan Allah menerima ibadah haji kami.

Tak kurang dari 3 jam jarak tempuh kami untuk berjalan ke jamarat pulang pergi. Subhanallah, tanpa pertolongan Allah tidak mungkin kami bisa menjalaninya. Sebagai perbandingan saja, sebelum berangkat haji saya dan suami latihan jalan-jalan, jarak tempuh kami 6-7 km itu pun pulangnya naik bis. Rombongan kami mengambil nafar tsani, jadi kami berjalan kaki kurang lebih 14 km sebanyak 4 kali, pada tgl 13 dzulhijah kami berjalan ke jamarat sesudah sholah subuh tanpa sarapan dulu padahal tgl 12 dzulhijah pulang dari jamarat baru pukul 11 malam.

Masya Allah, rasanya nikmat sekali. Hampir semua jamaah bisa melakukannya kecuali mereka yang benar-benar udzur. Apa yang saya ceritakan diatas sekedar ilustrasi yang menggambarkan bahwa dalam ibadah haji ada begitu banyak keajaiban, kemudahan dan kenikmatan yang tak tergambarkan sebelumnya. Cerita ini tidak bermaksud untuk membandingkan keadaan satu lebih baik dari keadaan lainnya,misal gelombang 2 lebih baik dari gelombang 1.

Seperti apapun yang kita temui haji membawa kenikmatan yang tidak terhingga selama kita ikhlas dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa ta’alaa. Nasehat seorang ustadz ketika akan berangkat: ”Tidak ada resiko dalam ibadah haji” Begitulah adanya maka hilangkanlah kekhawatiran dan kecemasan. Semoga bermanfaat.

Sebagamana dikisahkan oleh: Dra.Diatri Rahayu, Apt (Penanggung Jawab PJ Al-Ghuroba’ dan salah satu apotik di DI Yogyakarta) melalui email kontak@info.tm

Read Full Post »