Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kisah haji bupati banjarnegara’

Kisah dibawah ini bisa kita jadikan contoh, minimal bahan renungan untuk kita semua. Terutama bagi Anda yang saat ini sedang mendapatkan amanah dari Allah dalam mengemban jabatan atau kedudukan baik di instansi pemerintah maupun swasta.  Haji memang sarana yang pas untuk pendidikan mental dan rohani kita, siapapun kita. Saat berhaji semua sama, sama-sama mengharapkan ampunan, sama-sama menginginkan hajinya mabrur.

Nilai yang akan kita coba ambil dari kisah ini adalah nilai kesederhanaan dan mau berbaur dengan orang banyak walaupun beliau menjabat sebagai Bupati. Nilai islami yang kadang terlupakan bagi sebagian pemeluknya. Selamat menyimak:

Dari kloter 56 asal Kabupaten Banjarnegara terdapat sosok calon haji yang istimewa dibanding kloter lainnya namun dia justru tidak bersedia diistimewakan. Sosok tersebut tidak lain Djasri bin Salamun (53), Bupati Banjarnegara yang menunaikan rukun Islam kelima bersama istri Ambar Dewi binti Sugiyono (46).

Mungkin pada tahun ini, dialah satu-satunya seorang Bupati yang berangkat haji dengan bergabung masyarakat umum. Untuk bisa berangkat tahun ini, dia mengikuti prosedur sejak mulai pendaftaran sampai dengan proses lainnya yang harus diikuti oleh para jamaah calon haji. “Ya, saya sudah mendaftar sejak tahun 2007 , jadi masuk dalam daftar waiting list juga,” tambahnya.

Ketika berangkat dari Banjarnegara Selasa (10/11), dia juga tidak bersedia menggunakan fasilitas dinas, tapi lebih suka naik bus jamaah. Demikian pula setibanya di asrama haji Donohudan Boyolali, Djasri turut antri pemeriksaan kesehatan dan tidur dengan dipan bertingkat di gedung Makah lantai dua. “Jan nyamleng pisan mas, teyeng mangkat kaji bareng pak Bupati, inyong dadi tambah adem tur tentrem (Enak mas, bisa berangkat bersama Pak Bupati, saya jadi tambah adem dan tentrem),” kata salah seorang calhaj dengan dialek Banyumasan seraya mohon ijin ketika mau menaiki tempat tidur diatasnya.

Menurut Djasri, keberangkatan menuju Tanah Suci bersama rakyatnya tidak ada maksud apa-apa kecuali ibadah. “Apalagi sampai ke politis, karena masa jabatan saya yang kedua ini akan berakhir dua tahun lagi, jadi semata-mata hanya ingin lebih dekat dengan rakyat,” tuturnya.

Dia mengaku ingin melaksanakan ibadah yang utuh, ingin juga di tanah suci dalam waktu yang lama, dan itu hanya didapat kalau menunaikan ibadah haji secara regular. “Apa salahnya sih , saya sebagai manusia biasa yang juga punya keinginan,” ujar Bupati yang keberangkatnya sekarang ini untuk kedua kali setelah tahun 1994.(Akhmad Suaidi, Depag)

Read Full Post »