Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kisah perjalanan jeddah-madinah’

Enam jam perjalanan Jeddah-Madinah atau sebaliknya Madinah-Jeddah yang dalam beberapa tahun terakhir sudah menggunakan rute “Haromain Exspress Way” bukan merupakan waktu yang tidak sebentar.

Seluruh jamaah haji Indonesia baik gelombang pertama dan gelombang kedua, menggunakan rute itu karena harus mengambil arbain, sholat 40 waktu di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawarroh, sebelum atau sesudah ibadah haji.

Ada sisi lain yang bisa dinikmati dari jalur perjalanan ibadah haji ketika melintasi rute itu. Dalam dua bulan terakhir ini kami beserta rombongan MCH Jeddah kebetulan dua kali menempuh rute itu.

Pertama saat tiba dari Tanah Air, sampai Bandara King Abdul Aziz (KAA), Maghrib pada 19 Oktober. Setelah menunggu lima jam untuk menyelesaikan dokumen imigrasi, dengan sudah berpakaian ihrom langsung melaksanakan umroh haji ke Makkah Al Mukaromah.

Keesokan harinya, dengan istirahat sejenak, bahkan ada yang tak sempat memejamkan mata, pada tengah hari berangkat dari Makkah menuju Madinah, menempuh perjalanan sekitar tujuh jam. Atau sampai di Madinah pada Maghrib juga.

Tak cukup sampai di situ, petugas PPIH Madinah, tinggal di kota Nabi itu, sementara petugas Jeddah, keesokan tengah hari, harus berangkat ke Jeddah, setelah beberapa anggota diantaranya tak sempat ikut ziarah ke Masjid Quba dan Jabal Ubud.

Perjalanan tersebut tentyu melelahkan jadi tidak sempat melihat kanan atau kiri jalur yang saat itu dilalui. Tidak tentunya pada perjalanan kedua, Sabtu (19/12), dari Jeddah-Madinah. Perjalanan ini tentu lebih fress, karena memamg sudah dijadwal, atau tidak dalam kondisi lelah, juga tidak dalam kondisi ibadah haji. Jadi bisa melihat kanan kiri jalan pada jalur sepanjang sekitar 420 kilometer itu.

**
TERNYATA bangunan-bangunan yang ada di sekitar jalur Jeddah- Madinah, mengundang decak kagum kawan-kawan MCH Jeddah yang beranggotakan sembilan orang itu. Mengacungi jempol terhadap pemerintah Kerajaan Arab Saudi dalam pembangunan jalan bebas hambatan yang bisa dilahui dengan gratis itu. Selain itu, sistem pengamanan untuk menjamin kenyamaan pengguna jalan, sampai penataan apik pembangunan pada tempat-tempat strategis.

Dari pembangunan jalan terlihat sangat kokoh, kuat dan berkualitas tinggi. Perawatannya juga sangat baik, nyaris sepanjang perjalanan tidak ditemukan lubang atau jalan yang catat sedikit pun. Di lokasi tertentu, jalan dibuat “bergetar” untuk memberi daya kejut bagi pengemudi jika kemungkinan mengantuk. Panjangnya bisa lebih dua atau tiga kilometer dan dibuat bertahap. Tetapi daya kejut itu tidak membahayakan kendaraan.

Rambu-rambu lalu lintas pun terlihat jelas, monitor sistem komputer terhadap kendaraan yang melampaui batas kecepatan berfungsi dengan baik. Salah satu buktinya, cukup banyak pelanggar lalu lintas yang dihentikan dan ditindak petugas dengan alasan melanggar batas maksimal kecepatan 120 Km.

Selanjutnya jalan yang juga berfungsi sebagai filter kemungkinan adanya jamaah haji ilegal masuk Makkah atau keluar ke Madinah misalnya, disaring melalui lima pos pemeriksaan atau “ceck point”. Setiap mobil yang dicurigai dihentikan, diperiksa surat jalannya.

Hal terakhir ini sebagai bukti bahwa Arab Saudi sangat serius melindungi para tamu Allah, untuk bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman dan aman. Dan sampai catatan ini dibuat, rasanya tidak berlebihan bila kalimat tersebut bisa digaris bawahi.

Satu hal lainnya yang praktis, setiap ada layanan penjualan pompa bensin, di sekitarnya pasti ada Masjid atau Musholla, dan tentu saja toko atau mini market. Penataan lokasi seperti ini tampak seragam baik disisi kiri atau kanan jalur tersebut.

Bahwa, kalau ada pompa bensin contohnya di dekat Restoran Haramain, melayani pembeli “ogah-ogahan”, sekalipun langganannya itu anggota polisi, alias mendahulukan kepentingan lain, mungkin ini bisa dipahami, karena untungnya sedikit.

Harga bensin super di Arab Saudi hanya 60 halala (60 sen) perliter, setara Rp1.700/liter. Sementara harga sebotol air mineral untuk ukuran 600 mili liter satu real (Rp2.500).

Sepanjang sisi jalur Jeddah-Madinah itu juga ada beberapa kota atau bekas kota kecil tak berpenghuni. Ada juga tempat hiburan anak-anak atau “children play ground” fasilitas ini diberikan restoran, tapi masih terlihat sepi.

Satu hal yang tak mungkin tetinggal adalah hamparan padang pasir luas, atau bukit-bukit batu tandus, karena Arab Saudi juga dikenal sebagai negeri seperti itu. jadi tak mengherankan kalau kita hampir bosan melihatnya, meskipn ada selingan dan pertaynaan kalau rata-rata gunungnya warga hitam, tapi ada yang warna merah. Terutama di sisi jalan menuju Madinah mulai KM 17.

Di antara hewan dan binatang yang hidup berabab abad di padang pasir tentu saja hewan yang dikenal tahan haus karena memiliki kantung penyimpan air di leher, yakni Onta. Meski tak terlalu banyak, masih ada penggembala Onta, juga keledai dan kambing ataupun domba.

Suatu hewan yang jarang terdengar dalam cerita gurun pasir, justru monyet gurun. Ternyata hari itu ada segerombolan monyet gurun di jalur perjalanan tersebut.

Tepatnya di KM 192 Madinah, mobil MCH “terpaksa” minggir karena banyak monyet-monyet menyerang jalan. Ketika kendaraan dipinggirkan, salah satunya justru nangkring di depan pengemudi. Karuan saja Mohamad Sahe, pengemudi, mukimin asal Madura yang sudah 28 tahun di Arab Saudi ini agak terkejut.

“Tenang nantin juga turun sendiri,” katanya. Monyet pun “ngeloyor”, kendaraan kembali dipacu.

Pukul 14.30 Waktu Arab Saudi, kami pun sampai di Daker Madinah, beruntung sekali bisa bertemu langsung Kadakernya. (h salamun nurdin) http://www.depag.go.id

Advertisements

Read Full Post »