Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kota madinah’

Selainmenjadi Kota Suci kedua umat Islam setelah Makkah Al Mukarramah, Madinah Al Munawarah juga memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik dan sayang untuk tidak didatangi. Salah satunya adalah Jabal Magnet (Magnetic Hill) atau Gunung Magnet.

Mungkin bagi senbagian masayarakat Indonesia yang pernah berhaji atau mengunjungi Arab Saudi pernag mendengar dan mendatangi tempat itu. Seperti yang dilakukan sejumlah wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) pun yang mengunjungi tempat itu, yang kira-kira 60 kilometer dari Kota Madinah, beberapa waktu lalu dan sempat di ulang pada hari Selasa (15/12/2009).

Dalam perjalanan menuju kawasan Jabal Magnet dari Madinah, rombongan tidak habis-habisnya melepaskan pandangan ke bagian kiri dan kanan kendaraan yang terlihat sejumlah perkebunan kurma dan hamparan bukit berbatuan. 10 kilometer menjelang Jabal Magnet, rombongan melewati sebuah danau buatan yang cukup besar.


Ketika sampai di lokasi, rombongan sempat membuktikan misteri Gunung Magnet yang didominasi warna hitam dan merah bata itu. Rombongan turun dari mobil dinas Misi Haji Indonesia, Samsul Ali sang pengemudi pun mematikan mobil dan hanya menyalakan lampu sen.

Alhasil, mobil berjalan sendiri ke arah berlawanan (mundur), bakan sanggup mendaki tanjakan. Tidak hanya itu, jarum penunjuk kompas yang dibawa tim MCH juga tidak bekerja sebagaimana mestinya. Arah utara-selatan menjadi kacau. Selain itu, Samsul Ali menyebutkan, beberapa pengunjung mengaku pernah kehilangan data di telepon selulernya di lokasi tersebut.

“Inilah kekuatan medan magnet yang ada di gunung ini, sanggup menggerakkan mobil,” kata pria asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur itu. Samsul Ali memang kerap mengantarkan jamaah atau petugas haji yang ingin menyaksikan misteri Gunung Magnet.

Magnetic Hill, atau warga setempat menyebutnya Manthiqa Baidha, yang berarti perkampungan putih. Namun, banyak yang menamainya Jabal Magnet. Jabal Magnet menyimpan misteri dan decak kagum bagi siapa saja yang berkunjung ke kawasan ini.

Daya dorong dan daya tarik magnet di berbagai bukit di sebelah kiri dan kanan jalan, membuat kendaraan yang melaju dengan kecepatan 120 kilo meter per jam, ketika memasuki kawasan ini, speed-nya perlahan-lahan turun ke 5 kilo meter per jam. Sehingga, gigi perseneling terpaksa diubah ke posisi dua. Sebaliknya, jika meninggalkan kawasan ini, mobil tanpa diinjak gas pun, bisa melaju dengan kecepatan hingga 120 km per jam.

Jabal Magnet yang menjadi kawasan wisata penduduk Madinah awalnya ditemukan oleh orang suku Baduy. Saat musim haji, banyak jamaah yang menyambanginya. Pemerintah Arab Saudi lalu membangun jalan menuju lokasi tersebut. Di daerah yang terhitung hijau karena banyak ditumbuhi pohon kurma itu, juga dilengkapi sarana wisata lainnya. Ada tenda-tenda untuk pengunjung, ada mobil mini yang bisa disewa untuk merasakan tarikan medan magnet itu.

Samsul Ali, mengutip pengamat geologi Ma’rufin menyebutkan, secara geologis, fenomena Jabal Magnet bisa dijelaskan dengan logika. Karena, Kota Madinah dan sekitarnya berdiri di atas Arabian Shield tua yang sudah berumur 700-an juta tahun.

Kawasan itu berupa endapan larva “alkali basaltik” (theolitic basalt) seluas 180.000 km persegi yang berusia muda (muncul 10 juta tahun silam dengan puncak intensitas 2 juta tahun silam). Lava yang bersifat basa itu muncul ke permukaan bumi dari kedalaman 40-an kilo meter melalui zona rekahan sepanjang 600 kilo meter yang dikenal sebagai “Makkah-Madinah-Nufud volcanic line”.

Banyak gunung berapi terbentuk di sepanjang zona rekahan itu. Seperti Harrah Rahat, Harrah Ithnayn, Harrah Uwayrid dan Harrah Khaybar. Tidak seperti di Indonesia yang gunung-gunungnya berbentuk kerucut, sehingga memberi pemandangan eksotis, gunung-gunung di Arab berbentuk melebar dengan puncak rendah. Kompleks semacam ini cocok disebut volcanic field atau harrah dalam bahasa Arab.

Harrah Rahat adalah bentukan paling menarik. Dengan panjang 310 km membentang dari utara Madinah hingga ke dekat Jeddah dan mengandung sedikitnya 2.000 km kubik endapan larva yang membentuk 2.000 lebih kerucut kecil (scoria) dan 200-an kawah maar. Selama 4.500 tahun terakhir, Harrah Rahat telah meletus sebanyak 13 kali dengan periode antarletusan rata-rata 346 tahun.

Letusan besar terakhir terjadi pada 26 Juni 1256, yang memuntahkan 500 juta meter kubik lava lewat 6 kerucut kecilnya selama 52 hari kemudian. (Zal/Rez)

Advertisements

Read Full Post »

Di bawah ini sekilas kisah tentang “Oleh-oleh haji”, Anda perlu mengetahuinya, jangan sampai terkecoh membelinya untuk oleh-oleh haji, padahal di negeri kita produk tersebut sangat banyak dan murah harganya. Selamat menikmati.

Produk Cina Banjiri Super Mall di Madinah

Jangan heran, kalau anda memasuki sejumlah super mall di Madinah, akan menjumpai sejumlah barang produk Cina terpajang di etalase mereka. Mulai dari perkakas, beragam pakaian, sepatu, jam tangan, hingga produk elektronika. Harga produk Cina, seperti pakaian, jaket dan sepatu sangat terjangkau, dengan pilihan model yang sangat beragam.

Banjir produk Cina ternyata merata di sejumlah pusat belanja di Madinah, seperti Al Rashed Mega Mall, Al Noor Mall, Hyper Panda, Al Badar Mall, Al Madina Mall, Taiba Mall, Bin Dawood, Al Salam Plaza, Al Hasan Mall, dan Barakat Shopping Centre di Sultana St.

Kaos-kaos produk Cina dijual dengan harga 10-15 riyal, Tshirt dibandrol 15-50 riyal. Jaket dan baju dengan harga 50-110 riyal dengan kualitas yang lumayan bagus. Sepatu produk Cina berharga 35-110 rilyal.

Kalau kita mengunjung pusat belanja yang terkenal menjual barang “branded” pun, jangan sampai terkecoh. karena mereka menjual produk merk yang sama namun asal negeri Cina. Sejumlah pakaian, kaos dan celana bermerk Giordano dijual per potong hanya 40-50 riyal after discount.

Begitu juga produk sepatu bermerk, seperti Clark, Adiddas, Nike, Cats, Mizuno dan Reebok, hampir sebagian besar diproduk oleh Cina, Vietnam, Thailand, Indonesia, dan Brazilia, yang harganya relatif lebih murah. Sepatu Clark produk England di bandrol pada kisaran harga 270-370 riyal.

Perkakas rumah tangga, di swalayan Bin Dawood dan Carrefour pun, hampir sebagain besar merupakan produk Cina. “Hanya produk makanan, kosmetik , parfum dan obat-obatan yang bukan produk Cina,” kata Syamsul petugas Temus PPIH Madinah.

Banjirnya barang-barang produk Cina di Arab Saudi, kata Syamsul, mulai trerasa sejak tahun 2004. “Mereka juga memperoduk tasbeh, sajadah, topi, tas dan karpet yang banyak dibeli jemaah haji untuk oleh-oleh,” ucap Syamsul.

Bahkan sejumlah hand phone produk Cina, banyak beredar di pasaran Saudi dengan harga yang relatif lebih murah dengan type dan merk yang banyak digandrungi pembeli.

Berbelanja barang “branded” di Arab Saudi, seorang pembeli harus memiliki kejelian yang luar biasa. Jadikanlah panduan situs-situs belanja terkenal seperti http://www.ebay.com, http://www.amazon.com, shopping.yahoo.com, dan situs belanja di tanah air http://www.glodokshop.com. (ts)

Read Full Post »

Hj.Ngadirah Pulang Dengan Kaki Digips

Menjelang kedatangan jamaah haji kloter 46 asal Kota Semarang, Yeni asal Mrican Semarang nampak gelisah, bahkan sebelumnya dia berkali-kali telepon ke asrama untuk mengetahui jam kedatangan kloter tersebut. Dia mendapatkan izin masuk asrama untuk menjemput karena ibunya menderita sakit akibat kecelakaan di Makkah. Karuan saja, saat jamaah yang ditunggu-tunggu memasuki asrama dengan ambulan dia langsung mendekat. Pelukan dan tangisan haru Yeni dan beberapa kerabatnya menyambut Hj. Ngadirah ( 69 ) begitu keluar dari ambulan.

Kabar peristiwa kecelakaan yang menimpa ibunya sudah diterima beberapa hari sebelum kloter tiba di Solo. Jamaah haji asal warga Jl.Cerme II/1 Mrican Semarang yang masih dalam keadaan digips kaki kanannya menuturkan, kecelakaan yang menimpa dirinya terjadi 4 Desember pukul 13 WAS atau empat hari sebelum berangkat menuju Madinah untuk melaksanakan ibadah arbain. “Saya tertabrak mobil di depan maktab daerah Syisyah sepulang sholat di Masjidil Haram,” jelasnya ketika tiba di asrama haji Donohudan Boyolali Jumat (18/12) pukul 20.05 WIB.

Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit Makkah, dia dinyatakan fraktur (retak) pada persendian kaki kanan dan harus digips paling tidak selama satu setengah bulan. Namun ketika rombongan akan menuju ke Madinah,Senin 7 Desember, dia bersikeras untuk ikut jamaah meski harus menggunakan penyangga (kruk) dan mengajukan permohonan perawatan di Indonesia saja. “Tidak seberapa sakitnya mas, tetapi karena sudah umur, ya repot juga mengunakan kruk ini,” katanya beralasan.

Sebenarnya Satgas PPIH Solo Bidang Kesehatan akan merujuk Hj.Ngadirah ke RS Muwardi Solo, namun pihak keluarga yang menjemput merasa keberatan dan memintanya akan dirawat di Semarang. “Lebih baik dirawat di Semarang saja, karena dekat dengan keluarga , meski fasilitas gratis selama 7 hari menjadi hilang,” ujar Yeni

Hingga kloter 47 asal Kudus yang mendarat di bandara Adisumarmo Solo Sabtu (19/12) pukul 12.47, jamaah asal Debarkasi Solo yang sudah kembali ke tanah air sebanyak 17.754 orang, dan jamaah wafat sebanyak 55 orang.(Achmad Suaidi)


Read Full Post »

Saat berada di Kota Madinah Al-Munawarah, jemaah haji Indonesia sesungguhnya mendapatkan jatah makan sehari tiga kali dengan menu Indonesia, ditambah buah-buahan dan minuman the, susu, serta kopi. Meskipun mendapatkan jatah makan yang cukup, sebagian jemaah yang gemar berwisata kuliner suka mencari makanan alternatif. Pagi hari, saat udara dingin mencapai 14 derajat Celsius, perut semakin merasakan lapar, meskipun sudah cukup makan.

Uang cekak tak menghalangi jemaah untuk makan jajanan di luar sarapan dari jatah yang dibagikan perusahaan katering. Sebelum fajar turun, sejumlah mobil boks dan kontainer besar sudah nongkrong di jalan utama masuk Masjid Nabawi. Mobil ini sengaja menghadang jemaah yang akan melaksanakan salat tahajud atau salat subuh berjamaah. Sejumlah petugas akan memberikan secara gratis setiap jemaah yang lewat.

Orang yang baik hati ini mengemas makanan pemberiannya dalam dus kecil yang berisi satu kotak jus jeruk, satu botol minuman sebesar setengah boto, sepotong kueh tawar dalam bentuk yang besar, sepotong kueh dengan aneka macam selai, satu jeruk, atau satu buah apel. Boks kecil ini dikemas dalam dus yang lebih besar berisi 10 boks kecil. Jemaah yang lewat boleh mengambil satu boks kecil atau boks yang besar sekaligus. Semua dengan cuma-cuma.

Selesai salat subuh, di salah satu pojok Masjid Nabawi juga terlihat antrean agak panjang. Setiap pengantre memegang satu gelas plastik. Di ujung antrean, seseorang memegang ceret berisi air teh panas. Antrean serupa ada di sebelahnya, sekitar 10 meter. Antrean yang satu sekadar teh, sedangkan antrean satunya lagi teh susu. Jemaah tinggal memilih mana yang paling suka di antara keduanya yang sama sekali tidak memungut bayaran. Inilah yang orang Arab bilang sebagai “Sabilillah.”

Kalau tak mau gratis, banyak pilihan makanan untuk sarapan pagi. Namun pada umumnya tidak ada nasi putih atau nasi kebuli. Hanya rumah makan Indonesia yang biasanya menyediakan sarapan berupa nasi dan lauk pauknya. Namun masyarakat Arab dan restoran di sekitar Madinah pada umumnya tidak menyiapkan sarapan nasi.

Orang Bangladesh di belakang hotel yang menjadi penginapan jemaah Indonesia menyiapkan martabak. Tapi, martabaknya berbeda dari martabak telor ala Mesir. Ia menggoreng tepung semacam kue cane, namun di atasnya disiram telor. Jadinya, kue cane dengan lauk telor dadar. Gerai sarapan pagi ini cukup laris, terutama jemaah asal India, Pakistan, dan Bangladesh.

Di sudut yang lain, jemaah mengerumuni penjual teh. Pada mulanya, the campur susu tidaklah lazim bagi bangsa Indonesia. Namun sekali mencicipi, teh celup yang dicampur susu menyebabkan jemaah ketagihan. Satu gelas teh harganya RS 1, kalau campur susu RS 2. Sebagian jemaah mencampur susu dengan kopi, sebagaimana lazim dilakukan di Indonesia.

Rumah makan khas Pakistan di Jln. King Fahd dalam beberapa hari terakhir selalu ramai di pagi hari. Rupanya, pedagang ini menyiapkan menu baru, saat melihat jemaah haji Indonesia tiba di Kota Rasul ini. Ia menyajikan nasi kebuli dengan dua warna, kuning dan putih. Sebagaimana khas Arab, satu porsi nasi seharga RS 3 cukup dimakan untuk dua orang Indonesia.

Selain nasi kebuli dua warna, mereka juga menyiapkan ayam sebesar seperempat ayam. Biasanya, nasi kebuli dilengkapi ayam minimal setengah ayam atau bahka satu ekor ayam. Tapi kali ini, pedagang RM Pakistan ini membuat sajian baru, ayam seperempat potong seharga RS 5. Maka, usai subuh para ibu-ibu jemaah haji antre panjang.

Makanan sekadarnya juga banyak disajikan pedagang untuk sarapan pagi. Seperti tepung yang dibuat bulat sebesar bola pingpong. Hanya ditaburi gula halus, mereka menjual lima butir seharga RS 1. Jemaah yang belum berminat makan nasi bisa memilih makanan ini sebagai alternatif. Di samping itu, pedagang ini menyiapkan juga donat dan kerupuk.

Jika ingin seperti orang Arab, jemaah bisa membeli tamis, yakni roti khas Arab yang lebarnya berdiameter lebih dari 40 cm. Meskipun besar dan lebar, satu roti tamis harganya hanya RS 1. Rupanya, inilah makanan rakyat Arab. Roti ini enak dimakan bersama selai yang diberikan sebagai bagian dari penyajian. Sebagian jemaah mamakan roti tamis ini dengan susu atau the panas. Silakan mau pilih yang mana? Pilih yang mana pun, yang penting pagi hari salat subuh dulu. (Wachu)

Read Full Post »

Anda gagal berangkat haji tahun 1430 H ini akibat keterbatasan kuota? Jangan bersedih dan jangan menyesal. Justru kalau tahun ini berangkat, maka Anda tidak melihat Masjidilharam “baru” yang amat sangat luas dengan sistem real estate terpadu yang luar biasa. Sebab, tahun ini, projek perluasan Masjidilharam masih dalam proses pengerjaan. Baru sepuluh tahun ke depan, projek besar pembangunan Kota Mekah Al-Mukaramah selesai dibangun. Namun setidaknya, Masjidilharam bersama pembangunan sekitarnya sudah dapat dilihat hasilnya pada musim haji 1431 H.

Projek besar pembangunan Kota Mekah merupakan keniscayaan. Sebab, setidaknya tiga juta orang datang ke kota ini setiap musim haji, dan beberapa kali lipat lagi jumlah jemaah umrah sepanjang tahun. Padahal, kapasitas Masjidilharam hanya mampu menampung sekitar satu juta orang. Itulah sebabnya, penyelenggaraan haji selalu ruwet dipusingkan oleh perumahan dan pemondokan yang kurang, transportasi yang terbatas, tempat ibadah yang sempit, dan problem sosial lain sebagai ikutan dari membludaknya jemaah.

Keputusan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang akan membangun projek raksasa senilai RS 50 miliar (RS 1 kurang lebih setara dengan Rp 2.600,00) adalah tepat. Karena untuk mengatasi sempitnya areal ibadah adalah dengan cara memperluasnya. Persoalannya, selama ini, lingkungan Masjidilharam penuh sesak dengan hotel dan penginapan, dari hotel bintang lima yang sangat mewah, hingga bangunan lama peninggalan zaman syeikh. Tempat ini mampu menampung sekitar sejuta jemaah.

Tidak peduli. Keputusan Pemerintah Arab Saudi adalah untuk dilaksanakan, bukan diwacanakan. Berapa pun besarnya nilai hotel dan perumahan serta tanah yang ada di sekitar Masjidilharam diganti. Setidaknya, 1.000 hotel dan rumah yang berada di Syamiya, sisi utara Masjidilharam diruntuhkan. Para pemiliknya mendapatkan ganti rugi tak kurang dari RS 6 miliar. Di sisi timur Masjidilharam yang sebelumnya dikenal dengan Pasar Seng dibangun projek perluasan ke Jabal Khandama seluas 150.000 meter persegi.

Jabal (Bukit) Omar yang terletak di sisi barat daya Masjidilharam segera diratakan dengan cara merobohkan bangunan yang ada serta meruntuhkan gunung, kemudian digali dan dipancangkan foundasi. Lokasi ini akan dibangun komplek perumahan dan hotel serta pusat belanja. Selain itu, tempat ini juga akan dibangun tempat perluasan tempat salat yang mampu menampung 120.000 orang. Di bagian tenggara Masjidilharam, di sekitar Rumah Sakit Ajyad, segera dibangun rumah sakit modern dan pusat kesehatan yang dilengkapi fasilitas gawat darurat.

Dengan pembangunan projek raksasa ini, diharapkan sebagian besar jemaah yang terus bertambah dapat tertampung di sekitar masjid. Di samping itu, kapasitas Masjidilharam dapat terus meningkat hingga mampu menampung semua jemaah yang datang. Mereka tidak lagi melaksanakan salat di emperan toko atau di jalan-jalan yang menyambung ke masjid. Tapi setidaknya, mereka dapat melaksanakan salat di masjid perluasan Masjidilharam yang ada sekarang.

Akibat pembangunan raksasa ini, jemaah haji yang tengah beribadah di Masjidilharam mendengar gemuruh pembangunan Masjidilharam yang terus berjalan sepanjang 24 jam. Di luar jam salat, jemaah yang melaksanakan ibadah di seputar Masjidilharam dapat menyaksikan puluhan mobil becho sedang meruntuhkan gunung Syamiya. Ratusan truk hilir mudik mengangku batu dan tanah bekas galian. Gunung batu keras yang tadinya menjulang kini digali semakin dalam untuk pembuatan foundasi. Namun di atas sisa gunung yang masih menjulang berdiri ratusan rumah dan hotel yang sudah dikosongkan dari penghuninya. Pemandangan yang sangat dramatis.

Pasar Seng yang dulunya selalu menjadi tempat favorit jemaah Indonesia berbelanja, saat ini menjadi tempat terbuka. Namun belum terlihat ada bangunan. Hanya puluhan kios yang memberikan layanan potong rambut masih berdiri berjejer, namun sifatnya tidak permanen. Bangunan ini setiap saat bisa digusur. Tidak ada lagi toko yang menjajakan tasbih, tas, pakaian, jam, dan barang elektronik seperti di masa lalu, hanya beberapa bagalah (warung) yang menjajakan minuman yang masih berdiri dengan bangunan yang tidak permanent. Toko yang dulu sangat meriah kini mundur ke belakang, sebagaimana jemaah haji juga mundur tempat tinggalnya.

Jabal Omar yang terletak di sekitar Istana Raja belum mengalami pembongkaran. Namun wilayah ini sudah terlihat lesu. Sebab, hotel dan penginapan yang tinggi menjulang sudah tidak ada penghuninya lagi. Mereka tinggal menanti setiap saat diruntuhkan. Memang rumah dan hotel ini masih terlihat ada satu atau dua orang penjaga, namun kamar dan bangunan di bagian atas tak lagi terlihat nyala listrik. Gelap gulita.

Menutut sejumlah mukimin yang tinggal di Mekah, di luar musim haji, gedung dan perhotelan yang besar diruntuhkan menggunakan dinamit. Dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi, gedung-gedung itu diruntuhkan dalam hitungan menit tanpa menimbulkan kerusakan pada lingkungan. Tembok dan atap bangunan seperti kompak runtuh ke dalam, seperti tanaman yang layu. Puluhan kendaraan becho kemudian mengeruk bekas bangunan. Dengan truk, bekas bangunan itu diangkut ke luar Kota Mekah.

Pembangunan perluasan Masjidilharam yang “gila-gilaan” ini sepertinya sudah dihitung secara detail tentang peluang pencemaran lingkungan. Karena pembangunan ini bagaimanapun akan menyebabkan debu berterbangan ke mana-mana, bahkan berpeluang masuk ke Masjidilharam saat jemaah sedang padat-padatnya. Namun pada kenyataannya, setiap batu dan tanah yang dikeruk selalu diikuti dengan siraman air, sehingga debu itu tidak sempat terbang ke udara, kecuali sedikit.

Di pinggir pembangunan projek perluasan di bagian Syamiyah ini berdiri juga puluhan bagalah yang menyediakan makan dan minum bagi jemaah haji, baik makanan khas Arab, Pakistan, Turki, bahkan masakan Indonesia. Sembari menikmati jajanan dan minuman, jemaah haji dapat menyaksikan bagaimana secara perlahan mobil peralatan berat itu meruntuhkan gunung batu yang amat keras dengan mudah.

Ring Dua

Projek pembangunan perluasan Masjidilharam inilah yang menjadi penyebab utama mengapa jemaah haji selama dua tahun terakhir ini mengalami pergeseran tempat tinggal. Jika di masa lalu sebagian jemaah bisa tinggal di penginapan yang jaraknya antara 50 meter hingga 1.000 meter dari Masjidilharam, sekarang tidak bisa lagi. Paling dekat, jemaah tinggal satu kilometer dari Masjidilharam, karena projek perluasan masjid ini rata-rata seluas radius satu kilometer itu dari masjid.

Maka akibatnya, sekitar 50.000 jemaah haji Indonesia yang biasanya tinggal di sekitar Masjdilharam harus tergusur. Perumahan di masa lalu yang disebut sebagai Ring II, kini berubah menjadi Ring I, sedangkan Ring III di masa lalu, kini menjadi Ring II. Namun jemaah haji yang mengalami penggusuran tempat tinggal ini tidak hanya dialami jemaah Indonesia. Jemaah haji dari negara lain yang memiliki jemaah dalam jumlah yang banyak juga menempatkan mereka di wilayah yang jauh hingga berjarak 10 km.

Maka di wilayah yang jauh tersebut, selain jemaah Indonesia, terlihat jemaah asal Turki. Mereka juga menggunakan kendaraan jemputan saat pergi maupun pulang dari Masjidilharam, sebagaimana jemaah haji Indonesia. Meski demikian, sebagian dari mereka melaksanan salat sehari-hari di masjid di lingkungan mereka tinggal. Maka masjid bagus dan besar yang salam ini sepi, menjadi semakin hangat dengan meningkatnya jemaah tersebut.

Hanya istana raja yang digunakan untuk guest house yang tidak digusur beserta sejumlah hotel raksasa di sampingnya yang masih berdiri tegak. Hotel inilah yang digunakan jemaah haji biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) khusus. Kelihatannya, hotel ini merupakan bagian dari megaprojek perluasan masjid, sehingga mereka tidak tergusur, bahkan terus disempurnakan bangunannya hingga tinggi menjulang.(Wachu)

Read Full Post »

Jemaah haji dari seluruh dunia saat ini sudah memasuki Kota Madinah Al-Munawarah untuk melakukan ziarah. Sebagian melaksanakan shalat dan mengunjungi berbagai tempat bersejarah. Akibatnya, Masjid Nabawi yang menjadi sentral kegiatan umat Islam penuh sesak. Jangankan memasuki Raudhah, tempat yang memiliki daya tarik paling besar saat beribadah di Masjid Nabawi, sekadar masuk ke dalam masjid pun semakin sulit saat azan berkumandang untuk melaksanakan salat fardhu.

Jemaah yang datang saat azan berkumandang dijamin hanya kebagian tempat di pelataran masjid. Tapi jangan khawatir kepanasan saat siang hari, sebab setiap sudut Masjid Nabawi kini sudah dipasang payung elektronik. Payung yang amat besar yang dapat memayungi lebih dari 250 orang. Payung itu seperti jamur yang tumbuh di setiap pojok masjid, sehingga kapasitas Masjid Nabawi bertambah sangat besar berkat payung elektronik ini.

Jemaah yang ingin salat tahajud di Raudhah tak cukup lagi datang pukul 2.00 WAS tapi harus kurang dari itu, pukul 1.00 dini hari, setidaknya 1.30 WAS. Tengah malam seperti itu Raudhah sudah penuh sesak. Maka jemaah yang datang pukul 2.00 WAS dini hari tak bisa lagi memaksakan masuk ke dalam Raudhah, sebab tempat ini sudah berjubel.

Ukuran safnya sangat istimewa, tidak sepanjang tubuh manusia membungkuk, tapi lebih pendek lagi. Jarak antara satu jemaah dengan yang lainnya ke arah samping juga tak cukup untuk bersedekap secara wajar, tapi harus dimengkerutkan ke arah dalam karena saking berjejalnya jemaah. Saat sujud, antara kaki jemaah depan dengan kepala jemaah di belakangnya amat sangat mepet. Kepala orang yang sujud menempel di kaki jemaah depannya.

Di luar jam salat fardhu, jemaah keluar masuk Raudhah sekadar untuk berdoa atau salat sunat. Tentu saja, Raudhah merupakan tempat yang paling krusial mendatangkan kemacetan. Sebab, di dalam Raudhah tidak semua jemaah berdoa dengan berdiri. Di tengah berjubelnya orang berniat berdoa di tempat mustajabah itu, banyak jemaah yang berzikir sambil duduk.
Terlihat amat egois. Di antara ribuan orang yang antre, puluhan orang bertahan duduk di tempat yang sempit ini. Akibatnya, orang lain yang berniat sekadar doa dalam waktu sebentar tak bisa lewat. Sebab deretan orang yang berdiri tak bisa lewat begitu saja, kecuali harus melangkahi kepala mereka. Tentu saja duduk di tengah puluhan ribu orang sangat membahayakan. Allah mungkin mengabulkan doa mereka yang bertahan duduk di saat jemaah lain berebut tempat itu. Tapi gerutu ribuan orang yang terhambat oleh mereka juga ada perhitungannya.

Untuk mengatur agar jemaah tidak masuk ke dalam Raudhah secara bersama-sama, aparat keamanan menutup Masjid Nabawi bagian depan dengan terpal putih. Akibatnya, jemaah yang berada di masjid bagian belakang tak bisa langsung masuk ke dalam Raudhah melainkan harus keluar ke pintu bagian kanan dan masuk kembali ke komplek Raudhah melalui pintu Babussalam. (Wachu,depag)

Yang dibawah ini pas untuk dibaca:

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/bekal-bhttp://oleholehhaji.net/2008/11/15/haji-ke-baitullah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/25/berhaji-tuk-meraih-ridha-ilahi/ekal-penting-bagi-para-calon-jama%e2%80%99ah-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/siapkan-diri-di-musim-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/keletihan-bisa-berimbas-pada-kesehatan-jiwa/

http://oleholehhaji.net/2009/11/05/sekilas-tentang-keutamaan-masjidil-haram-makkah-al-mukarramah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/29/koreksi-seputar-amalan-di-musim-haji/

 

Read Full Post »

RENCANA PERJALANAN HAJI TAHUN 1430 H
(BERDASARKAN KALENDER UMMUL QURO ARAB SAUDI)
MASA PEMBERANGKATAN/PEMULANGAN 28 HARI
NO. TANGGAL KEGIATAN
MASEHI HIJRIAH
1 25 Oktober 2009 06 Dzulqa’dah 1430 Calon jemaah haji masuk asrama haji
2 26 Oktober 2009 07 Dzulqa’dah 1430 Awal pemberangkatan calon jemaah haji Gelombang I dari tanah air ke Madinah/Jeddah
3 04 Nopember 2009 16 Dzulqa’dah 1430 Awal jamaah haji Gelombang I dari Madinah ke Makkah
4 07 Nopember 2009 19 Dzulqa’dah 1430 Akhir calon jemaah haji Gelombang I dari tanah air ke Madinah/Jeddah pukul 24.00 WAS
5 08 Nopember 2009 20 Dzulqa’dah 1430 Awal calon jemaah haji Gelombang II dari tanah air ke Jeddah
6 16 Nopember 2009 28 Dzulqa’dah 1430 Akhir calon jemaah haji Gelombang I dari Madinah ke Makkah
7 21 Nopember 2009 04 Dzulhijjah 1430 Akhir pemberangkatan calon jemaah haji Gelombang II dari tanah air ke Jeddah
8 21 Nopember 2009 04 Dzulhijjah 1430 Clossing Date KAIA Jeddah (pukul 24.00 WAS)
9 25 Nopember 2009 08 Dzulhijjah 1430 Hari Tarwiyah
10 26 Nopember 2009 09 Dzulhijjah 1430 Wukuf di Arafah (Hari Kamis)
11 27 Nopember 2009 10 Dzulhijjah 1430 Idhul Adha 1430 Hijriyah
12 28 Nopember 2009 11 Dzulhijjah 1430 Hari Tasyrik I
13 29 Nopember 2009 12 Dzulhijjah 1430 Hari TasyrikII (Nafar Awal)
14 30 Nopember 2009 13 Dzulhijjah 1430 Hari Tasyrik III (Nafar Tsani)
15 01 Desember 2009 14 Dzulhijjah 1430 Awal pemberangkatan jemaah haji Gelombang I dari Makkah ke Jeddah
16 02 Desember 2009 15 Dzulhijjah 1430 Awal pemulangan jemaah haji Gelombang I dari Jeddah ke tanah air
17 03 Desember 2009 16 Dzulhijjah 1430 Awal kedatangan jemaah haji di tanah air
18 06 Desember 2009 19 Dzulhijjah 1430 Awal pemberangkatan jemaah haji Gelombang II dari Mekkah ke Madinah.
19 13 Desember 2009 26 Dzulhijjah 1430 Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang I dari Mekkah ke Jeddah.
20 14 Desember 2009 27 Dzulhijjah 1430 Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang I dari Jeddah ke tanah air
21 15 Desember 2009 28 Dzulhijjah 1430 Awal pemulangaan jemaah haji Gelombang II dari Jeddah/Madinah ke tanah air.
22 18 Desember 2009 01 Muharram 1431 Tahun Baru Hijriyah 1431
23 21 Desember 2009 04 Muharram 1431 Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang II dari Mekkah ke Madinah
24 29 Desember 2009 12 Muharram 1431 Akhir pemulangan jemaah haji Gelombang II dari Jeddah/Madinah ke tanah air
25 30 Desember 2009 13 Muharram 1431 Akhir kedatangan jemaah haji di tanah air

1, Masa Operasi Pemberangkatan              : 28 hari

2. Masa Operasi Pemulangan                     : 28 hari

3. Gelombang I                                       : 13 hari

4. Gelombang II                                      : 15 hari

5. Masa Tinggal Jemaah Haji di Arab Saudi   : 39 hari

Sumber: http://www.informasihaji.com

Read Full Post »

Older Posts »