Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘nur murah’

Anda dapat  saja mengatakan, mending belanja oleh-oleh haji di Indonesia karena di samping murah, resiko tak terangkut saat di Bandara Kepulangan Haji pun terhindari.

Namun pada kenyataannnya, sebagian jemaah haji lebih memilih berbelanja oleh-oleh haji di kota Jeddah. Walaupun sudah diwanti-wanti jangan berlebihan dalam berbelanja karena resiko barang tak terangkut. Sekali lagi, ini adalah semata-mata masalah kebiasaan masing-masing diri jemaah. Anda pilih yang Mana??? Jawabannya hanya ada pada diri Anda sendiri.

Berikut kisah tempat belanja di kota Jeddah, yang sering jadi “sasaran” jemaah haji asal Indonesia.

Balad, Ali dan Nur Murah Dibanjiri Jamaah

Suasana Tanah Suci saat ini agak berbeda dengan sebelum puncak haji atau selesai ritual Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina), yang tuntas pada Senin (30/11).

Hiruk pikuk dan protes perebutan bus antaran pondokan ke dan dari Masjidil Haram, tidak lagi terdengar. Juga protes-protes soal buruknya fasilitas di pemondokan, soal katering, seolah terlupakan. Konsentrasi jamaah haji kini sudah mulai terbagi antara pulang dan mengejar pahala berlipat ganda.

Kalau semula para jamaah konsentrasi penuh pada ibadah haji, berlomba lomba dalam kebaikan, sambil mengejar pahala sholat di Masjid Nabawi dengan pahala 1.000 kali lipat, dan Masjidil Haram berkelipatan 100.000, ditandai bermacam protes kepada PPIH, suasana seperti itu hampir tidak ada lagi.

Memang sebagian jamaah berkunjung ke tempat tempat bersejarah. Masjid Nabawi bagi yang belum arbain, atau sekedar untuk sholat saja, Masjid Quba, Masjid Kiblatian, Jabal Rahmah, Jabal Nor, Jabal Uhud, Gua Hiro dan lainnya. Namun jumlahnya tidaklah seperti dulu, kini sudah berkurang jauh. Dan yang banyak justru ke jabal baru di Jeddah, yaitu “Jabal Balad”.

Nama “Jabal Balad” menjadi sangat populer bagi jamaah haji Indonesia, karena, jabal yang berarti gunung dan balad yang bisa diartikan sebuah kawasan atau kota, ini tidak lain sebagai pusat perbelanjaan mulai eceran sampai grosiran, dengan harga mulai kaki lima sampai kaum kantung tebal.

***

BALAD berada di kawasan jantung kota Jeddah; kota yang juga memiliki tempat bersejarah, misalnya Makam Siti Hawa, Masjid Terapung, Masjid Qisos, merupakan pasar yang cukup tua, dimulai sejak Bab (pintu) Makkah, yang banyak mangkal taksi khusus jurusan Makkah dengan pengemudi warga Arab Saudi.

Dalam beberapa tahun terakhir para pengemudi taksi ini disubsidi, diberi kendaraan untuk dicicil menjadi hak milik dengan harga murah. Dengan maksud bisa beraktivitas mengurangi migrasi ke kota Makkah yang sudah cukup padat (sekitar 1,4 juta-Red). Selain Jeddah sendiri sebagai kota internasional sudah berpenduduk sekitar 2 juta, belum termasuk pendatang yang sangat banyak.

Jamaah haji Indonesia yang akan pulang dan diterbangkan dari Jeddah, diberi kesempatan atau mendapat hak “city tour” tiga jam di kota ini karena punya waktu 24 jam. Mereka bisa memilih tempat-tempat bersejarah yang disebut diatas, termasuk paling banyak ke Balad.

Bahkan sebelum puncak haji pun, jamaah Indonesia yang tinggal di Makkah, sempat lebih dulu belanja ke Balad, karena pulangnya nanti lewat Madinah. Dan pada Sabtu (5/12) lalu pun jamaah yang kini berada di Makkah mencarter bis masing-masing membayar 50 riyal untuk belanja ke Balad.

Pasar Balad sendiri merupakan pasar yang sangat luas, karakteristiknya seperti pasar Tanah Abang, Jakarta. Barang-barang keperluan apa saja ada. Namun jauh lebih luas dan lengkap, selain pedagangnya datang dari berbagai penjuru dunia tetapi sudah menjadi warga negara Arab Saudi. Atau paling tidak mempunyai izin tinggal di negeri itu secara sah.

Barang-barang yang paling menonjol (paling laris) di sini adalah souvenir berupa tasbih, sajadah, minyak wangi, karpet (permadani). Bahkan emasnya dikabarkan sangat baik, setara dengan emas Inggris. Detil ukiranya hebat sehingga terkenal di penjuru dunia.

***

Dari ratusan bahkan ribuan tokok-toko di Pasar Balad, hanya dua yang paling dikenal jamaah Indonesia, yaitu toko Nor Murah dan Ali Murah. Dan ternyata tidak hanya jamaah haji, kedua tokoh ini juga langganan para pramugari Garuda Indonesia, ketika pesawatnya landing di Bandara KAA.

Kedua toko ini begitu terkenal, karena punya strategi jitu menjaring pelanggan. Kuncinya, tidak lain kumunikasi. Mereka bangun komunikasi jual beli. Mulai dari bahasa belanja, diperdalam dengan bahasa daerah. Mereka juga memasang pegawai dari daerah-daerah potensial.Memperkerjakan pegawai dari Makassar, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB dan sebagianya.

Selain itu, seperti dituturkan Ali Murah, pria berkebangsaan Bangladesh ini, tidak mengambil untung banyak. Untuk sajadah misalnya, hanya ambil untung satu atau dua riyal. “Yang penting uang berputar, laba sedikit tidak masalah, terpenting pelanggah banyak,” katanya dengan basaha Indonesia yang lancar.

Ali sendiri sudah berpuluh tahun menggeluti usaha ini, diawali dengan belajar bersama keluarganya dan kemudian mandiri. Ali Murah pernah tinggal di Jakarta. Sekarang sudah punya cabang di Thamrin City, Jakarta, punya usaha Cargo di Halim Perdana Kusuma, Cabang di Cianjur, dan Jawa Timur. Selain di Dammam, Riyadh, Makkah, Madinah.

Berapa omsetnya setiap hari berdagang di Balad? Saat musim haji ini bisa 300 juta riyal sampai 400 juta riyal perhari. Sementara modal usahanya mencapai 3 miliar riyal. Dia sendiri memiliki tiga pabrik untuk mendukung usahanya tersebut. Untuk sewa tokonya dia harus keluarkan Rp500 juta riyal.

Hanya berjarak 50 meter dari toko ini kearah kiri, juga ada toko berlabel murah; Nor Murah. Pria yang juga asal Bangladesh ini, mengakui bahwa Ali Murah adalah karibnya. Di toko ini, dagangannya tidak jauh berbeda, ada minyak wangi, tasbih, sajadah, karpet (permadani) pakaian khas Arab Saudi dan lainnya.

Pelanggannya juga tidak jauh beda, mayoritas orang Indonesia, kemudian Filipina, Thailand, India, Pakistan Turki, Uzbekistan dan lainnya. Harga-harga dagangannya juga tidak jauh berbeda, bahkan relatif sama. Yang penting pelanggan harus pintar menawar. (h salamun nudrin)

Advertisements

Read Full Post »