Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Oleh-oleh Haji dan Umrah’

Saat kita umrah atau haji pasti kita akan ditawari untuk pesiar ke pasar kurma. Sebagai gambaran, tempatnya memang mengasyikkan, kurmanya banyak ragamnya, disekitarnya banyak ditanami pohon kurma. Sehingga suasananya pun seakan menyatu dengan alam.

Penjualnya rata rata bisa berbahasa indonesia, bahkan ada yg punya karyawan orang indonesia. Harganya bisa ditawar. baik pelayan maupun “bos”nya selalu mempersilahkan kepada pengunjung untuk mencicipi kurma atau penganan yang ada sepuasnya.

Bagi jemaah hnji atau Umrah yang ditawari wisata ke pasar kurma, sebagaimana yang digambarkan diatas, sebaikya jangan disana. Karena itu bukanlah pasar kurma arab tapi kebun kurma.

Tentu saja harga di kebun kurma jauh lebih mahal daripada di pasar kurma. kurma ambhar di kebun kurma bisa dijual R 50, padahal kalo ke pasar kurma dapat hanya R 20, jauh khan bedanya.

Pasar kurma yang sebenarnya, dari masjid nabawi dari pintu 7 (kalau tidak salah ke arah kiblat, terus saja, ada pertokoan). Setelah itu nyebrang, ada hotel al Isro. Kemudian, ambil ke kanan terus sudah keliatan deh pasar kurmanya. Di pasar Kurma yang asli ini, Anda pun dapat membeli coklat dan oleh-oleh lainnya.

Bagaimana pun kedua tempat tersebut cukup melepaskan kepenatan dan salah satu tempat berkunjung jemaah haji dan umrah dari berbagai penjuru dunia. Semoga bermanfaat

Advertisements

Read Full Post »

Proses pemeriksaan keimigrasian di bandara Arab Saudi memakan waktu berjam-jam sehingga melelahkan para calon haji yang sebelumnya memang sudah letih karena penerbangan panjang dari Indonesia ke Saudi.

ANTARA melaporkan dari Jeddah, Kamis, setibanya di Bandara King Abdul Aziz (KAA) Jeddah, jemaah mesti membentuk antrian panjang untuk diperiksa kelengkapan dan kecocokan dokumen imigrasi mereka seperti paspor, visa masuk dan kartu kedatangan (entry card).

Pada entry card terdapat enam carik sobekan (stroke) berisi nomor kode (bar code) satu lembar masing-masing ditempel di lembar paspor hijau, di lembar E paspor daftar administrasi perjalanan ibadah haji (DAPIH – dulu paspor haji) dan di kartu keluar (exit card) dari Bandara Arab Saudi.

Dua sobekan lainnya diserahkan kepada petugas kementerian haji Arab Saudi, Maktab Wukala (pengelola penyelenggara haji di Jeddah) dan pengelola transportasi (Naqaba).

Calon haji lalu harus diambil sidik jari (10 jari) dan difoto, kemudian ke ruang bagasi untuk mengambil barangnya, dan setelah itu harus melewati melewati lagi pemeriksaan petugas kementerian haji dan Maktab Wukala di pintu keluar.

Proses berikutnya, jemaah ke ruang tunggu untuk konsolidasi kloter, dan jika satu kloter lengkap, maka diberangkatkan menuju Madinah dengan bus-bus yang sudah disiapkan oleh Naqaba.

Jika masih ada waktu, selama menanti keberangkatan ke Madinah, jemaah dapat melakukan shalat, mandi atau melakukann aktivitas lainnya dan sebelum menaiki bus, jemaah diperiksa kembali dokumen dan bar code-nya.

Setelah penerbangan belasan jam dari tanah air, jemaah masih harus menempuh perjalanan darat sekitar enam sampai tujuh jam menuju Madinah yang berjarak sekitar 450 km dari Jeddah.

Di Madinah, jemaah akan melakukan shalat Arbain (shalat berjamaah di Mesjid Nabawi selama 40 waktu) sebelum bergeser ke Mekah untuk mengikuti rangkaian proses ibadah haji selanjutnya, yakni umrah, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, tawaf(tujuh kali mengelilingi Ka`bah) dan sa`i (lari-lari kecil tujuh putaran antara bukit Shafa dan Marwah.

Menurut Kadaker Jeddah Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) Subhan Cholid, calon haji mesti menyisihkan waktu tambahan, paling tidak lima sampai tujuh menit, karena kebijakan baru pengambilan sidik jari dan foto itu.

Jadi, jika proses imigrasi normal memakan waktu sekitar dua jam, pengambilan sidik jari dan foto, akan memperpanjang waktu pemeriksaan imigrasi menjadi empat sampai lima jam setiap kloter.

Ditambah lagi dengan belum berfungsinya sebagian pintu gerbang bandara karena sedang direnovasi sehingga jumlah konter pemeriksan kurang memadai sehingga sulit mempersingkat proses pemeriksaan dokumen keimigrasian di bandara debarkasi Arab Saudi.

Belum lagi bila pesawat datang terlambat, seperti dialami kloter 7 embarkasi Makassar/Ujungpandang, yang akhirnya harus menempuh perjalanan total sekitar 29 jam untuk mencapai Madinah.

Pesawat Airbus A330 yang berangkat dari bandara embarkasi Ujung Pandang, Rabu pukul 10.15 waktu setempat, mengalami keterlambatan akibat gangguan pada unit akselerasi (Accceleration Power Unit, APU) saat transit dan mengisi bahan bakar di Batam.

Jadi penerbangan dari Makassar memerlukan waktu 17 jam lima belas menit untuk sampai di Arab Saudi, ditambah proses imigrasi lima jam, istirahat satu atau dua jam di bandara KAA dan tujuh jam perjalanan Jeddah – Madinah. Total, para calon haji menghabiskan 29 jam untuk sampai di Madinah. (antaranews)

Untuk menambah pengetahuan silahkan simak juga:

http://oleholehhaji.net/2008/11/29/koreksi-seputar-amalan-di-musim-haji/

http://oleholehhaji.net/2008/11/15/haji-ke-baitullah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/25/berhaji-tuk-meraih-ridha-ilahi/

http://oleholehhaji.net/2008/12/01/ikhlas-dalam-ibadah-haji-dan-ibadah-lainnya/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/bekal-bekal-penting-bagi-para-calon-jama%e2%80%99ah-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

http://oleholehhaji.net/2009/10/29/manasik-haji-untuk-anda-2/

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/kiat-sehat-bugar-selama-naik-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/mengatasi-musin-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/jamaah-haji-persiapkan-diri-hadapi-musim-dingin/

 

Read Full Post »

Enam jemaah asal Aceh diserang demam dan bibir pecah-pecah akibat jarang mengonsumsi air minum sesuai batas kebutuhan yang ditentukan.

Hal itu dikemukakan Edi Zainuddin, seusai salat subuh di Mesjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, akhir pekan lalu. “Mereka cuma demam biasa, karena menahan minum air sesuai kebutuhan tubuh (minimal 8 liter per hari, Red) seperti yang diminta tim kesehatan haji Indonesia,” ujarnya.

Menurut Edi, jemaah yang menahan minum itu karena mereka takut “beser” alias sering buang air kecil. Akibat “beser” itu, mereka merasa ibadahnya terganggu karena terpaksa bolak-balik ke toilet. Sementara, saat waktu salat, toilet di sekitar Mesjid Nabawi selau antre akibat dipadati jemaah yang hendak berwudhu.

“Tapi, sekarang mereka kapok (jera-Red), karena telanjur demam dan bibir pecah-pecah. Sejauh ini, karena penyakitnya ringan, mereka berobat sendiri di pemondokan dengan obat-obatan yang dibawa dari Tanah Air. Alhamdulillah, beberapa orang dari mereka sudah mulai membaik,” katanya.

Edi mengatakan, pihaknya memang selalu diingatkan petugas haji Indonesia untuk rajin minum air putih, atau lebih dianjurkan air Zamzam, untuk menjaga kesehatan. “Ini agar kami tidak mudah terserang penyakit, seperti demam dan bibir pecah-pecah,” katanya.

Selain mengonsumsi air minum sesuai kebutuhan tubuh, jemaah asal Tanah Rencong ini mulai rajin senam pagi, setelah pulang dari Mesjid Nabawi menunaikan salat arba`in dan subuh. “Alhamdulillah, sesuai anjuran dokter Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), kini stamina jemaah kami sangat prima sehingga lancar melaksanakan ibadah,” ucapnya. (Yudhiarma,depag)

Simak juga informasi bermanfaat ini:

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/mengatasi-musin-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/jamaah-haji-persiapkan-diri-hadapi-musim-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/siapkan-diri-di-musim-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/keletihan-bisa-berimbas-pada-kesehatan-jiwa/

http://oleholehhaji.net/2009/11/05/sekilas-tentang-keutamaan-masjidil-haram-makkah-al-mukarramah/

Read Full Post »

Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Medan, Sazli Nasution, di Medan, Rabu,4 November 2009, bahwa  gelang haji itu adalah salah satu identitas diri bagi calhaj asal Indonesia. Selain itu juga sebagai antisipasi  bila sewaktu-waktu jika terjadi musibah di Tanah Suci.

Beliau juga menyampaikan, agar jamaah calon haji (calhaj) selama berada di Tanah Suci guna menunaikan ibadah haji diingatkan supaya selalu menggunakan gelang identitas untuk memudahkan mengenali jamaah jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Gelang identitas yang diberikan kepada jamaah haji tersebut terbuat dari bahan “stainless steel” yang tidak mudah terbakar dan terukir bendera merah putih, kode embarkasi, nomor kloter, paspor, serta nama jamaah. Sehingga sifatnya sangat pribadi, tidak bisa sama antara satu jamaah dengan jamaah yang lainnya.

Gelang tersebut diberikan secara cuma-cuma kepada jamaah itu, saat jamaah memasuki asrama haji sebelum  hari keberangkatan. Ingat, gelang ini bukan sekadar hiasan, namun berfungsi untuk mengenali asal jamaah serta asal kloter.

Dalam kondisi-kondisi darurat seperti calhaj terkena musibah kebakaran, atau tersesat dalam kerumunan yang mengakibatkan identitas lainnya hilang, maka gelang itu menjadi sebagai petunjuk terakhir untuk mengenali jamaah.

Selain itu, gelang ini memudahkan baik jamaah maupun petugas haji, karena mereka tidak perlu membawa paspor cukup dengan gelang identitas. Berbeda dengan paspor, bila hilang tentu akan repot urusannya, mengurusnya bisa lama.

contohgelanghaji

Gambar gelang haji untuk jamaah haji indonesia.

Warna baju seragam jammah haji, gelang, dan tanda lainnya hendaknya diperhatikan oleh segenap jamaah haji. Mengingat banyak tindak kejahatan terhadap jamaah haji terjadi karena jamaah tersebut tidak curiga dengan pelaku. Warna baju buatan baru tentu berbeda dengan baju tahun yang lalu, demikian pula gelang, yang baru tampak jelas tulisannya, sedangkan yang lama pudar bahkan hampir tak terlihat tulisannya.

Tahun 2007 saat kami bertugas sebagai pelayan haji, mengetahui adanya tindakan kejahatan di masjidil haram Makkah dari seorang anggota keamanan yang bertugas melayani dan mengawai jamaah. Pelakunya menggunakan gelang baju tahun 2006 juga ada yang tahun 2003. Tertangkap tangan membawa sejumlah HP, uang real yang tidak tersusun dengan rapih (seperti asal dimasukan ke dalam saku), dan beberapa perhiasan.

Untuk itu, pesan kami, jangan remehkan gelang haji. Dan waspadalah terhadap orang yang mencurigakan saat Anda berhaji. Semoga bermanfaat.

Read Full Post »

Jika harus sedia payung saat mendung, bekal obat-obatan mesti dibawa ketika pergi haji. Itulah yang selalu ditekankan dr Eddy Suyanto SpF SH kepada calon jamaah haji (CJH) yang didampinginya. Terutama, mereka yang menderita hipertensi dan diabetes melitus yang harus rutin minum obat.

“Jangan sampai jatuh sakit ketika berada di tanah suci karena obatnya tak dibawa,” kata dokter kloter salah satu KBIH di Surabaya tersebut.

Selain obat wajib, CJH harus membawa obat komplementer. Misalnya, obat sakit kepala, diare, batuk, dan sebagainya. Memang, dokter kloter ataupun pos kesehatan menyediakan obat-obatan itu. Namun, ada kalanya CJH hanya cocok atau merasa sembuh bila sudah menenggak jenis obat tertentu. Untuk kasus tersebut, CJH diminta membawa obat sendiri. “Membawa obat seperlunya saja. Jangan berlebihan, nanti malah disita oleh petugas imigrasi,” tutur Eddy.

Selama empat kali menjadi dokter kloter, Eddy mengatakan mendapatkan banyak pengalaman. Terutama, menangani CJH yang sakit selama berada di tanah suci. Karena itu, dia sering memberi tahu CJH yang didampingi untuk tidak ngotot berjalan sendiri jika memang lelah. Terutama, mereka yang lanjut usia atau yang menderita penyakit tertentu. (ai/ib)

Yang ini bagus untuk dibaca:

http://oleholehhaji.net/2008/11/25/berhaji-tuk-meraih-ridha-ilahi/

http://oleholehhaji.net/2008/12/01/ikhlas-dalam-ibadah-haji-dan-ibadah-lainnya/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/bekal-bekal-penting-bagi-para-calon-jama%e2%80%99ah-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/kiat-sehat-bugar-selama-naik-haji/

 

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/mengatasi-musin-dingin/


Read Full Post »

Untuk Gelombang Kedua, Antisipasi Musim Dingin

GELOMBANG pertama pemberangkatan jamaah haji ke Tanah Suci tuntas besok (6/11). Itu berarti sesuai rencana. Tak ada kloter yang tertunda sehingga memundurkan jadwal. Gelombang pertama itu langsung disusul pemberangkatan gelombang kedua yang dijadwalkan 8 November. Jamaah gelombang kedua langsung tiba ke Makkah.

Pemberangkatan gelombang kedua berbeda dengan gelombang pertama. Selain langsung ke Makkah, semua jamaah haji mendarat di Bandara King Abdul Aziz (KAA) Jeddah. Pada gelombang I lalu separo jamaah mendarat di Jeddah dan separo mendarat di Madinah. Mereka kemudian sama-sama tinggal di Madinah sembilan hari.

Karena semua jamaah gelombang kedua mendarat di Jeddah, lalu lintas penerbangan di Bandara KAA diperkirakan semakin padat. Puncaknya terjadi seminggu sebelum wukuf di Arafah. Jamaah diimbau untuk bersabar bila saat itu terjadi antrean sangat lama di pintu keluar bandara. Saat ini saja jamaah harus menunggu sekitar empat jam untuk keluar dari bandara.

Kepala Daerah Kerja Jeddah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Subhan Cholid sudah menyiapkan antisipasi. Bus yang akan mengangkut jamaah ke Makkah ditambah. Dengan demikian, tidak terjadi penumpukan jamaah di bandara. Pengaturan pemondokan di Makkah juga dirapikan. Ini karena saat itu juga datang jamaah dari Madinah.

Antrean panjang di pintu keluar bandara terjadi karena lamanya pemeriksaan dokumen dan barang-barang penumpang. Secara berurutan jamaah harus melewati pemeriksaan barang kemudian sidik jari dan foto, setelah itu baru pengecekan dokumen. Untuk setiap jamaah dibutuhkan waktu tujuh menit. ”Itu kalau keadaan normal,” ujar Subhan.

Jamaah gelombang II akan mengalami kondisi berbeda dengan gelombang pertama. Sangat mungkin mereka mengalami puncak musim dingin ketika di Madinah nanti. Puncak musim dingin diperkirakan terjadi pada Desember. Karena itu, Kepala Daerah Kerja Madinah Ceppi Supriatna mengingatkan jamaah agar membawa baju hangat.

Dijadwalkan, jamaah haji gelombang kedua berada di Makkah sekitar sebulan. Pada 9 Desember 2009 mereka baru diberangkatkan ke Madinah. Saat itulah mereka merasakan puncak musim dingin.

Sementara itu, pemberangkatan jamaah haji dari Madinah ke Makkah terus berlangsung. Sejauh ini, kata Kadaker Makkah Subakin A.M., tidak ada persoalan yang berarti. Kekurangan yang ditemukan langsung dibenahi. Yang penting jamaah mendapat tempat yang layak dan transportasi memadai.

Direncanakan, pemberangkatan jamaah haji dari Madinah akan berakhir 15 November. Setelah itu Madinah dikosongkan dari jamaah haji Indonesia sampai 30 Desember. (kum,jawapos.com)

Yang ini juga penting, silahkan simak:

http://oleholehhaji.net/2008/11/15/haji-ke-baitullah/

http://oleholehhaji.net/2008/11/25/berhaji-tuk-meraih-ridha-ilahi/

http://oleholehhaji.net/2008/12/01/ikhlas-dalam-ibadah-haji-dan-ibadah-lainnya/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/bekal-bekal-penting-bagi-para-calon-jama%e2%80%99ah-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/berakhlaq-mulia-di-tanah-suci/

http://oleholehhaji.net/2009/10/28/lebih-enak-haji-mandiri/

http://oleholehhaji.net/2009/10/29/manasik-haji-untuk-anda-2/

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/kiat-sehat-bugar-selama-naik-haji/

http://oleholehhaji.net/2009/11/03/mengatasi-musin-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/jamaah-haji-persiapkan-diri-hadapi-musim-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/siapkan-diri-di-musim-dingin/

http://oleholehhaji.net/2009/11/02/keletihan-bisa-berimbas-pada-kesehatan-jiwa/

Read Full Post »

Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPHI) Subakin AM mengingatkan lagi kepada para jemaah haji Indonesia agar sepulang dari menunaikan ibadah haji nanti tidak membawa barang-barang berlebihan.

“Berat bagasi maksimal 32 kilogram dan barang bawaan satu tas jinjing,” ujarnya saat diskusi dengan tim Dewan Perwakilan Daerah RI (DPD) yang dipimpin Ketua Komite III (Urusan Pendidikan dan Agama) Sulistiyo MPd di Jeddah, Selasa.

Dalam pertemuan itu Sulistiyo meminta agar pihak-pihak terkait penyelenggaraan ibadah haji agar mengkomunikasikan peraturan tersebut agar dipahami oleh para jemaah haji.

Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kata Sulistiyo, sejumlah jemaah dikecewakan, karena mereka semula diberitahu oleh oknum-oknum tertentu bahwa barang bawaan mereka yang tidak bisa diangkut dengan pesawat akan dikirimkan ke alamat masing-masing.

Namun kemudian barang-barang tersebut tidak pernah sampai ke alamatnya, karena maskapai penerbangan yang dititipi tidak menerima perintah pengiriman dan tidak mengenal siapa yang membayar ongkosnya, apalagi sebagian barang-barang itu berupa makanan atau kurma sudah tidak layak dikonsumsi sehingga harus dimusnahkan.

“Kalau memang tidak bisa, katakan dengan tegas agar jemaah haji tidak melanggar ketentuan berat bagasi dan barang bawaan itu,” kata Sulistiyo mengingatkan.

Mengenai persiapan makan bagi jemaah calhaj saat wukuf di Arafah dan melontar jumrah di Mina, Subakin mengemukakan bahwa pada musim haji kali ini menggunakan sistem prasmanan, karena nasi kotak banyak dikeluhkan oleh para jemaah pada tahun-tahun sebelumnya.

“Ada yang merasa kurang, ada pula yang merasa menunya tidak cocok dengan selera,” ujarnya.

Sistem prasmanan, menurut dia, tentu saja ada kelemahannya, misalnya jemaah harus berebut sehingga ada yang mendapatkan lebih, tetapi ada pula yang tidak kebagian.

Mengatasi hal itu, ia akan meminta penyelenggara (makhtab) menyediakan makanan secara bertahap, begitu hampir habis langsung ditambah, juga demi menghindari antrian, untuk setiap 250 jemaah disiapkan tujuh meja untuk tempat hidangan.(n.Sunarto, http://www.depag.go.id)

Read Full Post »

Older Posts »