Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sai’

Kita sering dihadapkan pada ragam ibadah yang berbeda satu dengan lainnya. Namun ketika telah mengikrarkan syahadat Muhammadarrasulullah, maka yang semestinya terpatri di benak kita adalah meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segenap aspek dan tata cara ibadah, termasuk berhaji.

Pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi dambaan setiap muslim. Predikat ‘Haji Mabrur’ yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah (surga) tak urung menjadi target utama dari kepergiannya ke Baitullah. Namun, mungkinkah semua yang berhaji ke Baitullah dapat meraihnya? Tentu jawabannya mungkin, bila terpenuhi dua syarat:
1. Di dalam menunaikannya benar-benar ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena mencari pamor atau ingin menyandang gelar ‘Pak haji’ atau ‘Bu haji/hajjah’.
2. Ditunaikan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para pembaca, sebagaimana disebutkan dalam bahasan yang lalu bahwa ibadah haji ada tiga jenis; Tamattu’, Qiran, dan Ifrad. Bagi penduduk Indonesia, haji yang afdhal adalah haji Tamattu’. Hal itu dikarenakan mayoritas mereka tidak ada yang berangkat haji dengan membawa hewan kurban. Walhamdulillah, selama ini mayoritas jamaah haji Indonesia berhaji dengan jenis haji tersebut. Maka dari itu akan sangat tepat bila kajian kali ini lebih difokuskan pada tatacara menunaikan haji Tamattu’.

Saudaraku, jamaah haji Indonesia –menurut kebiasaan– terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama akan berangkat ke kota Madinah terlebih dahulu, dan setelah tinggal beberapa hari di sana, barulah berangkat ke kota suci Makkah. Sehingga untuk jamaah haji kelompok pertama ini, start ibadah hajinya dari kota Madinah dan miqatnya adalah Dzul Hulaifah. Adapun kelompok kedua, mereka akan langsung menuju kota Makkah, dan miqatnya adalah Yalamlam yang jarak tempuhnya sekitar 10 menit sebelum mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Sehingga start ibadah hajinya (niat ihramnya) sejak berada di atas pesawat terbang.

Adapun manasik haji Tamattu’ yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:
1. Bila anda telah berada di miqat, maka mandilah sebagaimana mandi janabat, dan pakailah wewangian pada tubuh anda bila memungkinkan. Mandi tersebut juga berlaku bagi wanita yang haidh dan nifas. Untuk kelompok kedua yang niat ihramnya dimulai ketika di atas pesawat terbang, maka mandinya bisa dilakukan di tempat tinggal terakhirnya menjelang penerbangannya.

2. Kemudian pakailah kain ihram yang terdiri dari dua helai (yang afdhal berwana putih); sehelai disarungkan pada tubuh bagian bawah dan yang sehelai lagi diselempangkan pada tubuh bagian atas. Untuk kelompok kedua yang niat ihramnya dimulai ketika di atas pesawat terbang, maka pakaian ihramnya bisa dikenakan menjelang naik pesawat terbang atau setelah berada di atas pesawat terbang, dengan jeda waktu yang agak lama dengan miqatnya agar ketika melewati miqat dalam kondisi telah mengenakan pakaian ihramnya. Adapun wanita, tidaklah mengenakan pakaian ihram tersebut di atas, akan tetapi mengenakan pakaian yang biasa dikenakannya dengan kriteria menutup aurat dan sesuai dengan batasan-batasan syar’i.

3. Kemudian (ketika berada di miqat) berniatlah ihram untuk melakukan umrah dengan mengatakan:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

“Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan umrah.”
Kemudian dilanjutkan dengan ucapan talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”

Perbanyaklah bacaan talbiyah (umrah) ini dengan suara yang lantang1 sepanjang perjalanan ke Makkah, dan berhentilah dari talbiyah ketika menjelang thawaf. Hindarilah talbiyah secara bersama-sama (berjamaah), karena yang demikian itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Di antara hal-hal yang harus diperhatikan ketika berihram adalah sebagai berikut:
 Menjalankan segala apa yang telah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti shalat lima waktu dan kewajiban-kewajiban yang lainnya.
 Meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di antaranya; kesyirikan, perkataan kotor, kefasikan, berdebat dengan kebatilan, dan kemaksiatan lainnya.
 Tidak boleh mencabut rambut atau pun kuku, namun tidak mengapa bila rontok atau terkelupas tanpa sengaja.
 Tidak boleh mengenakan wewangian baik pada tubuh ataupun kain ihram. Dan tidak mengapa adanya bekas wewangian yang dikenakan sebelum melafazhkan niat ihram.
 Tidak boleh berburu atau pun membantu orang yang berburu.
 Tidak boleh mencabut tanaman yang ada di tanah suci, tidak boleh meminang wanita, menikah, atau pun menikahkan.
 Tidak boleh menutup kepala dengan sesuatu yang menyentuh (kepala tersebut) dan tidak mengapa untuk memakai payung, berada di bawah pohon, ataupun atap kendaraan.
 Tidak boleh memakai pakaian yang sisi-sisinya melingkupi tubuh (baju, kaos), imamah (sorban), celana, dan lain sebagainya.
 Diperbolehkan untuk memakai sandal, cincin, kacamata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk menyimpan uang, data penting dan yang lainnya.
 Diperbolehkan juga untuk mengganti kain yang dipakai atau mencucinya, sebagaimana pula diperbolehkan membasuh kepala dan anggota tubuh lainnya.
 Tidak boleh (bagi yang sudah berniat haji) melewati miqatnya dalam keadaan tidak mengenakan pakaian ihram.
Apabila larangan-larangan ihram tersebut dilanggar, maka dikenakan dam (denda) dengan menyembelih hewan kurban (seekor kambing/sepertujuh unta/sepertujuh sapi).

4. Bila telah tiba di Makkah (di Masjidil Haram) maka pastikan telah bersuci dari hadats (sebagai syarat thawaf, menurut madzhab yang kami pilih).

5. Lalu selempangkanlah pakaian atas ke bawah ketiak kanan, dengan menjadikan pundak kanan terbuka dan pundak kiri tetap tertutup.

6. Kemudian lakukanlah thawaf sebanyak 7 putaran. Dimulai dari Hajar Aswad dengan memosisikan Ka’bah di sebelah kiri anda, sambil mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar.” Dari Hajar Aswad sampai ke Hajar Aswad lagi, terhitung 1 putaran.
 Disunnahkan berlari-lari kecil (raml) pada putaran ke-1 hingga ke-3 pada thawaf qudum.
 Disunnahkan pula setiap kali mengakhiri putaran (ketika berada di antara 2 rukun: Yamani dan Hajar Aswad) untuk membaca:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat, serta jagalah kami dari adzab api neraka.”
 Disunnahkan pula setiap kali tiba di Hajar Aswad untuk mencium atau memegangnya lalu mencium tangan yang digunakan untuk memegang tersebut, atau pun berisyarat saja dengan tangan (tanpa dicium), sambil mengucapkan: “Allahu Akbar”2 atau “Bismillahi Allahu Akbar”3.
 Disunnahkan pula setiap kali tiba di Rukun Yamani untuk menyentuh/mengusapnya tanpa dicium dan tanpa bertakbir. Dan bila tidak dapat mengusapnya maka tidak disyariatkan mengusapnya.
 Bila terjadi keraguan tentang jumlah putaran Thawaf, maka ambillah hitungan yang paling sedikit.

7. Seusai Thawaf, tutuplah kembali pundak kanan dengan pakaian atas anda, kemudian lakukanlah shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim (tempat berdirinya Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah) walaupun agak jauh darinya. Dan bila kesulitan (tidak memungkinkan) mendapatkan tempat di belakang Maqam Ibrahim maka tidak mengapa shalat di bagian mana saja dari Masjidil Haram. Disunnahkan pada rakaat pertama membaca surat Al-Fatihah dan Al-Kafirun, sedangkan pada rakaat kedua membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlash.

8. Kemudian minumlah air zam-zam dan siramkan sebagiannya pada kepala.

9. Lalu ciumlah/peganglah Hajar Aswad bila memungkinkan, dan tidak dituntunkan untuk berisyarat kepadanya.4

10. Setelah itu pergilah ke bukit Shafa untuk bersa’i. Setiba di Shafa bacalah:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِاللهِ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk dari syi’ar-syi’ar Allah.” (Al-Baqarah: 158)

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

“Aku memulai (Sa’i) dengan apa yang dimulai oleh Allah (yakni Shafa dahulu kemudian Marwah, pen.).”

11. Kemudian menghadaplah ke arah Ka’bah (dalam keadaan posisi masih di Shafa), lalu ucapkanlah:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan pujian, Dzat yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan serta Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, yang telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya dan menghancurkan orang-orang bala tentara kafir tanpa bantuan siapa pun.”

Ini dibaca sebanyak 3 kali. Setiap kali selesai dari salah satunya, disunnahkan untuk berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala apa yang kita inginkan.

12. Setelah itu berangkatlah menuju Marwah, dan ketika lewat di antara dua tanda hijau percepatlah jalan anda lebih dari biasanya. Setiba di Marwah lakukanlah seperti apa yang dilakukan di Shafa (sebagaimana yang terdapat pada point ke-11 di atas). Dengan demikian telah terhitung satu putaran. Lakukanlah yang seperti ini sebanyak 7 kali (dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah).

13. Seusai Sa’i, lakukanlah tahallul dengan mencukur rambut kepala secara merata (bagi pria) dan bagi wanita dengan memotong sepanjang ruas jari dari rambut yang telah disatukan. Dengan bertahallul semacam ini, maka anda telah menunaikan ibadah umrah dan diperbolehkan bagi anda segala sesuatu dari mahzhuratil Ihram (hal-hal yang dilarang ketika berihram).

14. Tanggal 8 Dzul Hijjah (hari Tarwiyah), merupakan babak kedua untuk melanjutkan rangkaian ibadah haji anda. Maka mandilah dan pakailah wewangian pada tubuh serta kenakan pakaian ihram.

15. Setelah itu berniatlah ihram untuk haji dari tempat tinggal anda di Makkah, seraya mengucapkan:

لَبَّيْكَ حَجًّا

“Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan ibadah haji.”
Kemudian lantunkanlah ucapan talbiyah5:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”
Dengan masuknya ke dalam niat ihram haji ini, berarti anda harus menjaga diri dari segala mahzhuratil ihram sebagaimana yang terdapat pada point ke-3.

16. Kemudian berangkatlah menuju Mina untuk mabit (menginap) di sana. Setiba di Mina kerjakanlah shalat-shalat yang 4 rakaat (Dzuhur, Ashar, dan ‘Isya) menjadi 2 rakaat (qashar) dan dikerjakan pada waktunya masing-masing (tanpa dijama’).

17. Ketika matahari telah terbit di hari 9 Dzul Hijjah, berangkatlah menuju Arafah (untuk wukuf). Perbanyaklah talbiyah, dzikir dan istighfar selama perjalanan anda menuju Arafah.

18. Setiba di Arafah (pastikan bahwa anda benar-benar berada di dalam areal Arafah), manfaatkanlah waktu anda dengan memperbanyak doa sambil menghadap kiblat dan mengangkat tangan, serta dzikrullah. Karena saat itu anda sedang berada di tempat yang mulia dan di waktu yang mulia (mustajab) pula. Sebaik-baik bacaan yang dibaca pada hari itu adalah:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3585, dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.1503)

Untuk selebihnya anda bisa membaca tuntunan doa-doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang anda kehendaki. Lakukanlah amalan-amalan mulia di atas hingga matahari terbenam. Adapun shalat Dzuhur dan Ashar di Arafah, maka keduanya dikerjakan di waktu Dzuhur (jama’ taqdim) 2 rakaat – 2 rakaat (qashar), dengan satu adzan dan dua iqamat.

19. Ketika matahari terbenam, berangkatlah menuju Muzdalifah dengan tenang sambil selalu melantunkan talbiyah. Setiba di Muzdalifah, kerjakanlah shalat Maghrib dan ‘Isya di waktu ‘Isya (jama’ ta`khir) dan diqashar (Maghrib 3 rakaat, ‘Isya 2 rakaat), dengan satu adzan dan dua iqamat. Kemudian bermalamlah di sana hingga datang waktu shubuh. Seusai mengerjakan shalat shubuh, perbanyaklah doa dan dzikir sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan, hingga hari nampak mulai terang (sebelum matahari terbit).

20. Kemudian (sebelum matahari terbit), berangkatlah menuju Mina sambil terus bertalbiyah. Bila ada para wanita atau pun orang-orang lemah yang bersama anda, maka diperbolehkan bagi anda untuk mengiringi mereka menuju Mina di pertengahan malam. Namun melempar jumrah tetap dilakukan setelah matahari terbit.

21. Ketika tiba di Mina (tanggal 10 Dzul Hijjah) kerjakanlah hal-hal berikut ini:
 Lemparlah jumrah Aqabah dengan 7 batu kerikil (sebesar kotoran kambing) dengan bertakbir pada tiap kali lemparan. Pastikan setiap lemparan yang anda lakukan mengenai sasarannya.
 Sembelihlah Hadyu (hewan kurban), makanlah sebagian dagingnya serta shadaqahkanlah kepada orang-orang fakir yang ada di sana. Boleh juga penyembelihan ini diwakilkan kepada petugas resmi dari pemerintah Saudi Arabia yang ada di Makkah dan sekitarnya. Bila tidak mampu membeli atau menyembelih hewan kurban, maka wajib puasa tiga hari di hari-hari haji (boleh dilakukan di hari-hari Tasyriq, namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah6) dan tujuh hari setelah pulang ke kampung halaman.
 Potong atau cukurlah seluruh rambut kepala anda secara merata, dan mencukur habis lebih utama. Adapun wanita cukup memotong sepanjang ruas jari dari rambut kepalanya yang telah disatukan.
Demikianlah urutan paling utama dari sekian amalan yang dilakukan di Mina pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut, namun tidak mengapa bila didahulukan yang satu atas yang lainnya.

22. Bila anda telah melempar jumrah Aqabah dan menggundul (atau mencukur rambut), maka berarti anda telah bertahallul awal. Sehingga diperbolehkan bagi anda untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang ketika berihram, kecuali satu perkara yaitu menggauli isteri.

23. Pakailah wewangian, kemudian pergilah ke Makkah untuk melakukan thawaf ifadhah/thawaf haji (tanpa lari-lari kecil pada putaran ke-1 hingga ke-3), berikut Sa’i-nya. Dengan selesainya amalan ini, berarti anda telah bertahallul tsani dan diperbolehkan kembali bagi anda seluruh mahzhuratil ihram.

Catatan Penting: Thawaf ifadhah boleh diakhirkan, dan sekaligus dijadikan sebagai thawaf wada’ (thawaf perpisahan) yang dilakukan ketika hendak meninggalkan kota suci Makkah.

24. Setelah melakukan thawaf ifadhah pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut, kembalilah ke Mina untuk mabit (bermalam) di sana selama tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah (hari-hari tasyriq). Tidak mengapa bagi anda untuk bermalam 2 malam saja (tanggal 11 dan 12-nya/nafar awal).

25. Selama 2 atau 3 hari dari keberadaan anda di Mina tersebut, lakukanlah pelemparan pada 3 jumrah yang ada; Sughra, Wustha, dan Aqabah (Kubra). Pelemparan jumrah pada hari-hari itu dimulai setelah tergelincirnya matahari (setelah masuk waktu Dzuhur), hingga waktu malam.

Caranya:

Sediakan 21 butir batu kerikil (sebesar kotoran kambing). Kemudian pergilah ke jumrah Sughra dan lemparkanlah ke arahnya 7 butir batu kerikil (satu demi satu) dengan bertakbir pada setiap kali pelemparan. Pastikan lemparan tersebut masuk ke dalam sasaran. Bila ternyata tidak masuk, maka ulangilah lemparan tersebut walaupun dengan batu yang didapati di sekitar anda. Setelah selesai, majulah sedikit ke arah kanan, lalu berdirilah menghadap kiblat dan angkatlah kedua tangan anda untuk memohon (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala apa yang diinginkan. Lalu pergilah menuju jumrah Wustha. Setiba di jumrah Wustha, lakukanlah seperti apa yang anda lakukan di jumrah Sughra. Setelah selesai, majulah sedikit ke arah kiri, berdirilah menghadap kiblat, dan angkatlah kedua tangan anda untuk memohon (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala apa yang diinginkan. Lalu pergilah menuju jumrah Aqabah. Setiba di jumrah Aqabah, lakukanlah seperti apa yang anda lakukan di jumrah Sughra dan Wustha. Setelah itu, tinggalkanlah jumrah Aqabah tanpa melakukan doa padanya.

26. Bila anda ingin mabit 2 malam saja di Mina (tanggal 11 dan 12 Dzul Hijjah), maka keluarlah dari Mina sebelum terbenamnya matahari tanggal 12 Dzul Hijjah, tentunya setelah melempar 3 jumrah yang ada (nafar awwal). Namun jika matahari telah terbenam dan anda masih berada di Mina, maka wajib untuk bermalam lagi dan melempar 3 jumrah di hari ke-13-nya (yang afdhal adalah mabit 3 malam di Mina/nafar tsani). Diperbolehkan bagi orang yang sakit atau pun lemah yang benar-benar tidak mampu melakukan pelemparan untuk mewakilkan pelemparannya kepada yang dapat mewakilinya. Sebagaimana diperbolehkan pula bagi orang yang mewakili, melakukan pelemparan untuk dirinya kemudian untuk orang yang diwakilinya diwaktu dan tempat yang sama (dengan batu yang berbeda).

27. Dengan selesainya anda dari kegiatan melempar 3 jumrah pada hari-hari tersebut (baik mengambil nafar awwal atau pun nafar tsani), berarti telah selesai pula dari kewajiban mabit di Mina. Sehingga diperbolehkan bagi anda untuk meninggalkan kota Mina dan kembali ke hotel atau maktab masing-masing yang ada di kota Makkah.

28. Bila anda hendak meninggalkan kota Makkah (baik yang akan melanjutkan perjalanan ke kota Madinah atau pun yang akan melanjutkan perjalanan ke tanah air), maka lakukanlah thawaf wada’ dengan pakaian biasa saja/bukan pakaian ihram dan tanpa Sa’i, kecuali bagi anda yang menjadikan thawaf ifadhah sebagai thawaf wada’nya maka harus bersa’i.
Demikianlah bimbingan manasik haji Tamattu’ yang kami ketahui berdasarkan dalil-dalilnya yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keterangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga taufiq dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengiringi kita semua, sehingga diberi kemudahan untuk meraih predikat haji mabrur, yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah.
Amin Ya Mujibas Sa`ilin.

Sumber Bacaan:
1. At-Tahqiq wal-Idhah Lilkatsir Min Masa`ilil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
2. Hajjatun Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam Kama Rawaha ‘Anhu Jabir radhiyallahu ‘anhu, karya Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani.
3. Manasikul Hajji Wal ‘Umrah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Al-Manhaj limuridil ‘Umrah wal Hajj, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
5. Shifat Hajjatin Nabi, karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu.
6. Dalilul Haajji wal Mu’tamir wa Zaa‘iri Masjidir Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Majmu’ah minal ‘Ulama, terbitan Departemen Agama Saudi Arabia.

1 Para ulama sepakat bahwasanya kaum wanita tidak diperbolehkan (makruh) mengeraskan talbiyahnya, sebagaimana yang dinukilkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi. Lihat Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal. 51, catatan kaki no. 10.
2 Ini merupakan pendapat Asy-Syaikh Al-Albani. Lihat Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal.57, catatan kaki no. 23.
3 Ini merupakan pendapat Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Lihat At-Tahqiq wal-Idhah hal. 39.
4 Sebagaimana penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin dalam Manasikul Hajji wal ‘Umrah.
5 Perbanyaklah bacaan talbiyah ini selama perjalanan haji anda, hingga akan melempar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzul Hijjah (hari Idul Adha)
6 Berdasarkan riwayat Al-Bukhari, dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhum bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membolehkan bershaum di hari Tasyriq kecuali bagi seseorang yang berhaji (Tamattu’/Qiran, pen.) dan tidak mampu menyembelih hewan kurban. (Lihat Irwa`ul Ghalil, juz 4 hal. 132, dan keterangan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Manasik Al-Hajji wal ‘Umrah)

(Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc., judul asli Manasik Haji Untuk Anda. URL Sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=384

Read Full Post »

WUKUF DI MASY’ARIL HARAM TIDAK WAJIB ATAS ORANG HAJI

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ketika saya haji pada tahun ini, saya berangkat dari Arafah ke Muzdalifah dan mabit. Tapi ketika di Muzdalifah saya lupa pergi ke Masy’aril Haram. Apakah saya berdosa dalam hal ini ?

Jawaban
Tidak berdosa jika seseorang telah mabit di Muzdalifah di tempat mana saja di Muzdalifah dan tidak mudharat bila tidak pergi ke Masy’aril Haram. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wukuf di Masy’aril Haram dan beliau bersabda.
“Artinya : Saya wukuf (berhenti) di sini, dan semua kawasan Muzdalifah adalah tempat wukuf” [Hadits Riwayat Abu Dauwud, Nasa’i, Darimy, dan lainnya]
Artinya, di tempat mana saja seseorang berhenti dan bermalam di Muzdalifah maka sudah cukup. Dan dari lahirnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menunjukkan tidak seyogianya seseorang memperberat diri untuk sampai di Masy’aril Haram ketika di Muzdalifah. Tapi seseorang cukup wukuf di mana saja di Muzdalifah ketika ingin shalat Shubuh lalu berdoa’ kepada Allah dan bertolak ke Mina.

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabaia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »

oleh : Al-’Allamah Asy-Syailh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah

 

بسم الله ، والحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداه .

Kepada para jama’ah haji Baitullah Al-Haram saya sampaikan nasehat-nasehat penting ini dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Tolong – menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan. (Ali ‘Imran : 2)

dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

« الدين النصيحة، قيل : لمن يا رسول الله ، قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم »

Agama adalah nasehat. Ada yang bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya Rasul-Nya, para pimpinan kaum muslimin, dan keumuman muslimin.”

Pertama : Bertaqwa kepada Allah dalam semua kondisi.

Taqwa merupakan terkumpulnya seluruh kebaikan. Taqwa merupakan wasiat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan wasiat Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ

“Wahai manusia, bertaqwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu.” (An-Nisa` : 1)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

Sungguh telah Kami wasiatkan kepada ahlul kitab sebelum kalian dan kepada kalian (yaitu wasiat) untuk kalian bertaqwa kepada Allah. (An-Nisa` : 131)

Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berwasiat dengan taqwa dalam khuthbahnya.

Hakekat Taqwa adalah : Melaksanakan segala yang Allah wajibkan kepada hamba dan meninggalkan segala yang Allah larang yang dilakukan ikhlash karena Allah, cinta kepada-Nya, berharap besar terhadap pahala-Nya, dan takut dari hukuman-Nya, yang dilakukan dengan cara yang sesuai dengan syari’at Allah terhadap hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

تقوى الله حق تقاته أن يطاع فلا يعصى ، ويذكر فلا ينسى ، ويشكر فلا يكفر

“Bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa adalah : Allah ditaati tidak ditentang, Allah diingat tidak dilupakan, dan Allah disyukuri tidak dikufuri.”

Amirul Mu’minin ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata : “Taqwa kepada Allah bukanlah semata-mata berpuasa pada siang hari, atau shalat pada malam hari, atau memadukan dua ibadah tersebut, namun taqwa kepada Allah (yang hakiki) adalah melaksanakan segala yang Allah wajibkan dan meninggalkan segala yang Allah haramkan. Barangsiapa yang dikaruniai kebaikan setelah itu, maka berarti kebaikan di atas kebaikan.”

Seorang tabi’in yang mulia, Thalq bin Habib rahimahullah berkata :

تقوى الله سبحانه هي أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله ، وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

“Taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah : engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah, dengan engkau berharap pahala dari Allah. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah, dengan engkau takut dari hukuman Allah.”

Ini merupakan penjelasan yang sangat bagus.

Maknanya adalah bahwa wajib atas setiap muslim untuk bertafaqquh (mendalami) ilmu agama dan mempelajari (hukum-hukum permasalahan) yang tidak boleh baginya untuk tidak tahu tentangnya. Sehingga dengan itu ia bisa melaksanakan ketaatan kepada Allah di atas bashirah (cahaya ilmu) dan meninggalkan larangan-larangan Allah di atas bashirah (cahaya ilmu). Inilah realisasi dari pengamalan syahadah La ilaha ilallah (Tidak ilah [1] yang berhak diibadahi kecuali Allah) Muhammad rasulullah.

– Syahadat yang pertama konsekuensinya adalah beriman kepada Allah satu-satu-Nya dan mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya tanpa selain-Nya, serta memurnikan segala amalan hanya karena mengharapkan Wajah-Nya, mengharap rahmat-Nya, dan takut dari hukuman-Nya.

– Syahadat yang kedua konsekuensinya adalah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau adalah rasul kepada segenap jin dan manusia, membenarkan berita-berita yang disampaikan, dan mengikuti syariat beliau serta menjauhi segala yang menyelisihinya

Dua syahadat tersebut merupakan prinsip agama dan asas millah. Sebagaimana firman Allah :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم

Allah bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan bersaksi yang demikian itu). Tida ada ilah melainkan Dia (yang berhak diibadahi), Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali ‘Imran : 18)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Ilah kalian adalah ilah yang satu, tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. (Al-Baqarah : 163)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون

Katakanlah: “Wahai manusia sesungguhnya aku adalah rasul (utusan) Allah kepada kalian semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia, Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kalian mendapat petunjuk”. (Al-A’raf : 158).

Ayat dalam masalah ini sangat banyak.

Kedua : Saya wasiatkan kepada segenap jama’ah haji dan peziarah serta setiap muslim yang membaca wasiat ini untuk senantiasa menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya, perhatian terhadapnya, mengagungkannya, serta tuma`ninah dalam (pelaksanaan)nya. Karena shalat merupakan rukun Islam terbesar setelah syahadatain, karena shalat merupakan tiang agama, perkara pertama yang dihisab pada hari kiamat, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia kafir.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatilah Rasulullah agar kalian mendapat rahmat. (An-Nur : 56)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman :

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِين

Jagalah semua shalat(kalian), dan (jagalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (Al-Baqarah : 238)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

َدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sungguh telah sukses kaum mukminin. Yaitu mereka yang dalam shalatnya khusyu’ (Al-Mukminun : 1-2)

Sampai firman Allah :

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ * أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ * الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ *

Dan mereka yang senantiasa menjaga shalat-shalatnya. Merekalah orang-orang yang mewarisi. Yaitu mewarisi jannah firdaus mereka kekal di dalamnya. (Al-Mukminun : 9-11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة »

“(Batas) antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Beliau ‘alahish shalatu was salam juga bersabda :

« العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر »

Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir. Diriwayatkan oleh Ahmad dan para penulis kitab sunan dengan  sanad yang shahih.

Al-Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« من حافظ على الصلاة كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة ، ومن لم يحافظ عليها لم يكن له نور ولا برهان ولا نجاة ، وكان يوم القيامة مع فرعون وهامان وقارون وأبي بن خلف »

Barangsiapa menjaga shalatnya maka baginya cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari Kiamat. Barangsiapa yang tidak menjaganya maka tidak ada baginya cahaya, bukti, tidak pula keselamatan. Dan kelak pada hari Kiamat ia bersama Fir’aun, Haman, Qarun, dan Ubay bin Khalaf.

Sebagian ‘ulama mengatakan dalam syarh hadits tersebut : “Hanyalah orang-orang yang menyia-nyiakan shalat dikumpulkan bersama orang-orang kafir, karena :

– Bisa jadi dia meninggalkannya karena sibuk dengan kepempinan, kerajaan/negara, dan jabatan, sehingga dengan itu ia mirip dengan Fir’aun.

– Atau ia meninggakan shalat karena sibuk dengan urusan kementrian dan kepegawaian, sehingga dengan itu ia mirip dengan Haman menterinya Fir’aun.

– Atau bisa jadi ia meninggalkan shalat kerana syahwat, cinta harta, dan takabbur terhadap orang-orang fakir, sehingga dengan itu ia mirip dengan Qarun yang Allah tenggelamkan ia bersama istananya ke dalam bumi.

– Atau bisa jadi pula ia meninggalkan shalat karena sibuk dengan perdagangan dan berbagai muamalah duniawiyah, sehingga dengan itu ia mirip dengan Ubay bin Khalaf seorang pedang kafir di Makkah.”

Maka kita memohon keselamatan dan penjagaan kepada Allah dari keserupaan dengan musuh-musuh-Nya.

Di antara rukun shalat terpenting yang wajib atas setiap muslim untuk senantiasa memperhatikannya adalah thuma`ninah dalam ruku’, sujud, berdiri, dan duduknya. Banyak sekali orang yang shalat namun tidak khusyu’ dan tidak thuma`ninah padanya. Tidak diragukan bahwa thuma`ninah merupakan di antara rukun terpenting dalam shalat. Barangsiapa yang tidak thuma`ninah dalam shalatnya maka shalatnya batal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau ruku’ beliau lurus dalam ruku’nya, meletakkan dua tangannya pada kedua lututnya, membungkukkan punggungnya dan menjadikan kepalanya sejajar dengannya, dan beliau tidak mengangkat kepalanya sampai tulang-tulang punggungnya ke tempatnya.

Apabila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepadalnya dari ruku’ , maka beliau berdiri tegak, sampai semua tulang punggungnya kembali pada tempatnya. Apabila sujud maka beliau thuma`ninah dalam sujudnya sampai semua tulang punggungnya kembali pada tempatnya. Apabila duduk antara dua sujud, beliau duduk dengan tegak sampai kembali tulang-tulang punggungnya pada tempatnya.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada sebagian orang yang tidak thuma`ninah dalam shalatnya, maka beliau memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya, dan beliau berkata kepadanya :

« إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة فكبر، ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن، ثم اركع حتى تطمئن راكعا، ثم ارفع حتى تعتدل قائما، ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا ، ثم ارفع حتى تطمئن جالسا، ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا ، ثم افعل ذلك في صلاتك كلها »

Apabila engkau hendak menunaikan shalat, maka sempurnakanlah wudhu’ (terlebih dahulu), kemudian menghadaplah kiblat dan bertakbirlah. Kemudian bacalah surat dari Al-Qur`an  yang mudah bagimu. Kemudian ruku’lah  sampai engkau engkau thuma`ninah dalam ruku’. Kemudian angkatlah (kepalamu) sampai engkau tegak berdiri. Lalu sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud. Kemudian angkatlah sampai engkau thuma’ninah dalam duduk. Kemudian sujudlah lagi sampai engkau thuma’ninah dalam sujud. Kemudian lakukanlah gerakan itu semua dalam seluruh shalatmu.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih masing-masing.

Hadits shahih tersebut menunjukkan bahwa wajib atas setiap muslim untuk mengagungkan perkara shalat, memperhatikannya, dan thuma`ninah padanya sehingga ia melaksanakan shalat tersebut sesuai dengan yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan semestinya shalat bagi seorang mukmin itu menjadi pelapang hati, kenikmatan jiwa, dan penyejuk mata. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

« وجعلت قرة عيني في الصلاة »

Telah dijadikan kesejukan mataku ada pada shalat. (HR. Ahmad dan An-Nasa`i dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Lihat Ash-Shahihah no. 1107, 1809, 3291)

Salah satu kewajiban terpenting dalam shalat bagi kaum pria adalah melaksanakan shalat fardhu secara berjama’ah. Karena shalat berjama’ah merupakan salah  satu syi’ar terbesar dalam Islam. Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan melaksanakan shalat fardhu secara berjama’ah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِين

Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ (yakni secara berjama’ah). (Al-Baqarah : 43).

Allah Ta’ala juga berfirman tentang shalat Khauf (shalat yang dikerjakan dalam kondisi takut/genting, misalnya : dalam situasi berkecamuknya perang, pent) :

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُم

dan apabila kamu (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (para shahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka (berjama’ah), maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) berjama’ah bersamamu dan menyandang senjata. Kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat, maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh). Kemudian hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, hendaknya mereka shalat bersamamu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. (An-Nisa` : 102)

(Pada ayat tersebut) Allah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk melaksanakan shalat secara berjama’ah pada dalam kondisi genting/takut (perang berkecamuk). Maka dalam kondisi aman dan tenang kewajiban shalat berjama’ah lebih besar dan lebih kuat.

Di samping ayat di atas juga menunjukkan untuk terus melakukan persiapan menghadapi musuh dan waspada dari berbagai makar/tipu daya mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّة

dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (Al-Anfal : 60)

Jadi Islam adalah agama kemuliaan, terhormat, kekuatan, waspada, dan jihad yang benar. Sebagaimana Islam juga merupakan agama kasih sayang, kebaikan, akhlaqul karimah, dan sifat-sifat terpuji. Tatkala para salafush shalih berhasil memadukan semua perkara di atas, maka Allah kokohkan kedudukan mereka di muka bumi, Allah tinggikan mereka, dan Allah jadikan mereka bisa menundukkan musuh-musuhnya, serta Allah jadikan kepemimpinan dan qiyadah pada mereka. Namun, ketika generasi setelahnya mengubah itu semua, maka Allah pun mengubah kondisi mereka. Sebagaimana firman Allah :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِم

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka sendiri mengubah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri. (Ar-Ra’d : 11)

Telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

« لقد هممت أن آمر بالصلاة فتقام ، ثم آمر رجلا فيصلي بالناس، ثم أنطلق معي برجال معهم حزم من حطب إلى قوم لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم بالنار »

Sungguh aku bertekad untuk memerintahkan shalat yang kemudian shalat tersebut ditegakkan, kemudian aku perintahkan seseorang untuk shalat mengimami manusia. Kemudian beberapa orang pergi bersamaku dengan membawa seikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak mau menghadiri shalat berjama’ah, kemudian rumah-rumah mereka dibakar dengan api. Muttafaqun ‘alaihi

Beliau ‘alahish shalatu was salam juga bersabda :

« من سمع النداء فلم يأته فلا صلاة له إلا من عذر »

Barangsiapa mendengar adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena ada udzur. HR. Ibnu Majah.

 

Dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang pria buta bertanya, “Wahai Rasulullah sesungguhnya tidak ada penuntun untuk yang mengantarkanku ke masjid. Apakah ada keringanan untukku untuk aku shalat di rumahku? Rasulullah menjawab, “Apakah engkau mendengar adzan?” Pria tersebut menjawab, “Iya.” Rasulullah menegaskan, “Maka (tetap) wajib.” Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.

Adapun kaum wanita, shalat di rumah lebih baik bagi mereka. Sebagaimana terdapat hadits-hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut. Dan tidaklah itu kecuali karena mereka adalah aurat dan fitnah (bagi kaum pria). Namun jangan mencegah mereka jika mereka meminta untuk pergi ke masjid, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

« لا تمنعوا إماء الله مساجد الله »

Jangan kalian larang kaum wanita dari masjid-masjid Allah. Muttafaqun ‘alaihi

Ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa wajib atas kaum wanita untuk menutup dan berhijab dari kaum pria, tidak menampakkan perhiasan, dan dilarang memakai wangi-wangian ketika keluar. Karena hal-hal tersebut menyebabkan timbul fitnah. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« لا تمنعوا إماء الله مساجد الله ، وليخرجن تفلات »

Jangan kalian larang kaum wanita dari masjid-masjid Allah. Dan hendaknya mereka keluar dalam keadaan taflat. Muttafaqun ‘alaihi

Makna taflat adalah tidak memakai wangi-wangian yang menyebabkan terfitnahnya manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

« أيما امرأة أصابت بخورا فلا تشهد معنا العشاء »

Wanita mana pun yang memakai bukhur (wangi-wangian), maka tidak boleh shalat ‘Isya (berjama’ah) bersama kami. HR. Muslim

‘Aisyah (Ummul Mu`minin) radhiyallahu ‘anha berkata : “Kalau seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu apa yang diperbuat oleh kaum wanita sekarang, niscaya beliau akan melarang mereka keluar.”

Wajib atas kaum wanita untuk bertaqwa kepada Allah dan menjauhi sebab-sebab fitnah, baik perhiasan, wangi-wangian, atau menampakkan sebagian keindahan, seperti wajah, kedua tangan, atau kedua kaki ketika bertemu dengan laki-laki dan ketika mereka keluar ke pasar, termasuk juga ketika thawaf atau sa’i. Lebih parah dari itu dan lebih besar kemungkarannnya adalah ketika mereka membuka kepala mereka, dan mengenakan baju pendek yang menyingkap lengan dan betis. Karena itu salah satu fitnah terbesar yang ditimbulkan oleh mereka. Oleh karena itu Allah berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu (Al-Ahzab : 33)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri kaum mukminin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka”. (Al-Ahzab : 59)

Jilbab adalah baju yang menutupi kepala, wajah, dada, dan seluruh tubuh wanita.

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma : Allah memerintahkan  isteri-isteri kaum mukminin apabila mereka keluar dari rumah-rumah mereka karena ada keperluan, untuk mereka menutup wajah mereka yang di atas kepala dengan jilbab … “

Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. (Al-Ahzab : 53)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« صنفان من أهل النار لم أرهما بعد: نساء كاسيات عاريات ، مائلات مميلات ، على رءوسهن مثل أسنمة البخت المائلة ، لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها ؛ ورجال بأيديهم سياط مثل أذناب البقر يضربون بها الناس »

Dua jenis dari penduduk neraka yang aku belum melihat mereka, wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, berlenggak-lenggok, di atas kepala mereka seperti punuk onta, mereka tidak masuk jannah dan tidak pula mencium wanginya. Dan para lelaki yang di tangan-tangan mereka cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.

Sabda beliau “berpakaian tapi telanjang.” ditafsirkan bahwa mereka menggunakan nikmat Allah namun kosong dari mensyukurinya. Dan ditafsirkan pula, bahwa mereka berpakaian dengan kain yang tipis atau pendek tidak menutupi badannya. Mereka berpakaian secara nama dan pengakuan, namun secara hakekat mereka telanjang.

Maka tidak diragukan, hadits shahih  tersebut mewajibkan kepada kaum wanita untuk perhatian terhadap masalah menutup (aurat) dan berhijab, serta waspada dari berbagai sebab kemurkaan dan adzab Allah. Wallahul Musta’an.

 

Ketiga : Saya nasehatkan kepada segenap jama’ah haji, para peziarah, dan setiap muslim untuk mengeluarkan zakat mal (harta) mereka, apabila mereka memiliki harta yang wajib untuk dizakatkan. Karena zakat merupakan salah satu kewajiban terbesar dalam agama dan rukun ketiga dari rukun Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan zakat dalam rangka membersihkan dan mensucikan seorang muslim dan hartanya, dan dalam rangka memberikan kebaikan kepada para fuqara’ dan pihak-pihak yang berhak menerima zakat lainnya. Sebagaimana firman Allah :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan  dan mensucikan  mereka (At-Taubah : 103)

Zakat merupakan salah satu bentuk syukur kepada Allah atas nikmat harta. Seorang yang bersyukur maka dia dijanjikan akan mendapat tambahan nikmat. Sebagaimana firman Allah :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

dan (ingatlah juga), tatkala Rabb kalian memaklumkan; “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim : 7)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-Baqarah : 152)

Allah telah mengancam orang yang tidak mau membayar zakat mal-nya dengan adzab yang pedih, sebagaimana Allah sebutkan bahwa Dia akan mengadzab orang tersebut dengan hartanya pada hari Kiamat kelak. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ * يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka (kemudian dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri! Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu!” (At-Taubah : 34-35)

Telah sah riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tafsir ayat yang mulia ini, bahwa setiap harta yang tidak ditunaikan zakatnya maka itu merupakan simpanan yang pemiliknya akan diadzab dengan harta tersebut pada Hari Kiamat, hari yang seharinya adalah lima puluh ribu tahun. Kemudian dia akan melihat jalannya, bisa jadi ke Jannah, bisa jadi ke Neraka.

Maka wajib atas setiap muslim yang memiliki harta yang wajib dizakati, untuk dia bertaqwa kepada Allah dan bersegera mengeluarkan zakatnya pada waktunya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menghindar dari kemurkaan dan adzab Allah. Bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi mereka ganti dan pahala yang besar. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (Saba` : 39)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِير

Berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kalian menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kalian dan menginfakkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (Al-Hadid : 7)

Keempat : Shaum (Puasa) Ramadhan. Ini merupakan salah satu kewajiban terbesar terhadap segenap mukallaf baik pria maupun wanita. Shaum adalah rukun keempat dari rukun Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.  (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. (Al-Baqarah : 183-184)

Kemudian Allah tafsirkan “beberapa hari tertentu” tersebut dengan firman-Nya :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia bershaum pada bulan tersebut. Adapun barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah : 185)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، وصوم رمضان ، وحج البيت »

Islam ditegakkan di atas lima rukun : Syahadat La-ilaha illallah Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, shaum Ramadhan, dan Haji ke Baitullah. (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits shahih ini menunjukkan kepada seluruh nasehat-nasehat di atas, yaitu Syahadatain, Shalat, Zakat, dan Shaum, bahwa itu semua adalah termasuk rukun Islam yang tidak akan tegak bangunannya kecuali dengan rukun-rukun tersebut. Maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk mengagungkan rukun-rukun tersebut, senantiasa menjaga (pelaksanaannya), dan berhati-hati dari segala yang bisa membatalkannya atau mengurangi nilai pahalanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah menciptakan tsaqalain (bangsa jin dan manusia) agar mereka beribadah kepada-Nya, demikian juga Allah mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab-Nya adalah rangka itu.

Ibadah kepada-Nya adalah mentauhidkan-Nya (memurnikan ibadah hanya untuk Allah), mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan ikhlash karena Allah, karena cinta kepada-Nya, iman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dan mengharap pahala Allah, serta takut dari siksa-Nya. Dengan itu seorang hamba akan meraih kesuksesan, kebahagian, dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Adapun kaum muslimin pada masa-masa terakhir ini mengalami kehinaan, perpecahan, dan dikuasai oleh musuh itu tidak lain disebabkan karena kurangnya mereka dalam melaksanakan perintah Allah dan tidak ada ta’awun dalam kebaikan dan ketaqwaan, sebagaimana firman Allah :

مَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِير

Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Asy-Syura : 30)

Kita memohon kepada Allah agar menyatukan mereka di atas al-haq, memberi taufiq mereka agar bertaubat dengan sebenar-benarnya, memberikan hidayah mereka agar mau mengamalkan Al-Qur`an dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga memberikan taufiq para pemerintah muslimin agar menerapkan hukum syari’at-Nya dan dan berhukum kepadanya, mewajibkan kepada rakyatnya dengan perintah yang Allah wajibkan, melarang rakyatnya dari  apa yang Allah haramkan, sehingga (dengan itu) Allah kokohkan mereka di muka bumi sebagaimana Allah telah mengokohkan para pendahulu mereka, serta Allah bantu mereka menghadapi musuh-musunya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat.

Kelima : Haji ke Baitullah Al-Haram. Ini  adalah rukun Islam yang kelima, sebagaimana telah lalu dalam hadits shahih. Haji merupakan kewajiban atas setiap muslim dan muslimat yang mampu menempuhnya, sekali seumur hidup. Sebagaimana firman Allah :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Untuk Allah atas manusia ada kewajiban haji ke Baitullah, bagi yang mampu menempuh perjalanan  kepadanya. (Ali ‘Imran : 97)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« الحج مرة ، فمن زاد فهو تطوع »

(Kewajiban) haji itu sekali (seumur hidup), barangsiapa menambah maka itu tathawwu’. (Ahmad dan Ad-Darimi)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

« العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة »

Ibadah ‘umrah ke ibadah ‘umrah berikutnya adalah penghapus dosa antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan (yang pantas) baginya kecuali Jannah. (Muttafaqun ‘alaihi)

Rasulullah ‘alaish shalatu was salam bersabda :

« من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه »

Barangsiapa berhaji karena Allah, sehingga dia tidak berbuat rafats dan fasik, maka ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. (Muttafaqun ‘alaihi)

Maka wajib atas para jama’ah haji Baitullah Al-Haram untuk menjaga ibadah haji mereka dari hal-hal yang Allah haramkan atas mereka, baik rafats maupun kefasikan. Dan hendaknya mereka istiqamah di atas ketaatan kepada Allah, bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan, sehingga ibadah haji mereka menjadi haji yang mabrur, dan amal mereka mendapat pahala.

 

Haji Mabrur adalah  haji yang selamat dari rafats dan kefasikan serta berdebat tanpa kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berbuat rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (Al-Baqarah  : 197)

Yang menunjukkan itu juga adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
:

« من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه »

Barangsiapa berhaji karena Allah, sehingga dia tidak berbuat rafats dan fasik, maka ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. (Muttafaqun ‘alaihi)

Rafats adalah : Jima’ (bersenggama) dalam kondisi berihram, termasuk di dalam juga ucapan keji, dan perkataan yang hina.

 

Kefasikan meliputi semua jenis kemaksiatan.

Maka kita memohon kepada Allah agar memberikan taufiq para jama’ah haji Baitullah Al-Haram untuk istiqamah di atas agama mereka, dan menjaga haji mereka dari hal-hal yang membatalkan atau mengurangi nilai pahalanya. Dan semoga Allah memberikan kenikmatan kepada kita dan kepada mereka berupa pemahaman agama, saling menasehatkan dengan kebenaran dan kesabaran. Semoga Allah juga menjaga semua dari kesesatan-kesesatan fitnah dan godaan syaitan. Sesungguhnya Dia Pemilik itu dan Maha Mampu mewujudkannya.

وصلى الله وسلم على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان

Pimpinan Umum Lembaga Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan

‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz

(Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XVI/7-22. Nasehat ini dipublikasikan di Majalah Universitas Islam – Madinah, tahun XI edisi ke-2 awal Dzulhijjah 1398 H)

http://www.assalafy.org


[1] Ilah adalah sesuatu yang diibadahi dengan puncak pengagungan dan puncak kecintaan.  Ilah ada yang haq ada yang batil. Ilah yang batil adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, baik malaikait, nabi, wali, orang shalih, kyai, tempat keramat, dll. Ilah yang haq adalah Allah satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya.

Read Full Post »

SHALAT MAGHRIB DAN ISYA’ SEBELUM DI MUZDALIFAH

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum orang yang shalat Maghrib dan shalat Isya’ dengan jama’ ta’khir dan qashar sebelum masuk di Muzdalifah karena sebab yang mendesak, seperti mobil rusak di jalan ketika menuju Muzdalifah. Dan karena takut habisnya waktu Maghrib dan Isya, lalu dia shalat Maghrib dan Isya di perbatasan sebelum masuk Muzdalifah dengan jarak sedang, kemudian tidur sehabis memperbaiki mobil, lalu shalat Shubuh karena telah masuk Shubuh, dan baru sampai di Muzdalifah ketika pagi di mana matahari telah memancarkan sinarnya. Apakah masing-masing shalat Maghrib, Isya’ dan Shubuh tersebut sah karena dilakukan di perbatasan Muzdalifah ? Mohon penjelasan beserta dalilnya.

Jawaban
Shalat sah dilakukan di mana saja kecuali pada tempat yang tertentu dalam syari’at. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Bumi dijadikan masjid dan suci bagiku” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Tapi yang disyari’atkan bagi orang yang haji adalah, shalat Maghrib dan shalat Isya dengan jama’ di Muzdalifah di mana saja dia mampu melakukan (maksudnya : tidak harus di Masy’aril Haram seperti dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) sebelum tengah malam. Tapi jika tidak mudah melakukan hal itu karena macet atau lainnya maka dia shalat Maghrib dan Isya di mana saja dan tidak boleh mengakhirkan keduanya sampai lewat tengah malam. Sebab Allah berfirman.

“Artinya : Sesunguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [An-Nisa’ : 103]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Waktu Isya sampai tengah malam” [Hadits Riwayat Muslim dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash]

Wallahu a’lam.

KELUAR DARI MUZDALIFAH JAM 11.40 MALAM DAN MELONTAR JUMRAH PADA JAM 12 MALAM

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Kami keluar dari Muzdalifah jam 11.40 malam dan saat itu kami bersama anak-anak yang masih kecil. Lalu kami melontar jumrah pada jam 11.50 malam kemudian pergi ke Mekkah. Apakah hukum dalam hal tersebut ?

Jawaban
Kalian tidak wajib membayar kifarat karena kalian keluar dari Muzdalifah betepatan pada tengah malam. Dan jika kelian mengakhirkan hingga bulan terbenam niscaya demikian itu lebih utama dan lebih hati-hati. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua terhadap apa yang diridhoi-Nya dan menerima amal kita juga semua kaum muslimin.

MENINGGALKAN MUZDALIFAH SEBELUM TENGAH MALAM

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seseorang berkebangsaan Mesir yang muqim di Saudi Arabia menjemput ibunya di bandara Jeddah yang datang dari Mesir dengan niat haji. ketika ibunya sampai, mereka berdua disertai pemandu melaksanakan manasik haji. Maka ketika berangkat dari Arafah ke Muzdalifah, mereka melaksanakan shalat Maghrib dan shalat Isya di Muzdalifah dengan jama’, lalu mereka disuruh oleh pemandunya untuk pergi ke Mina sebelum tengah malam. Maksudnya mereka mabit di Muzdalifah sebelum tengah malam, lalu mereka disuruh oleh pemandu untuk meninggalkan Muzdalifah dan mereka melaksanakan haji. Apakah yang wajib atas mereka, sedangkan ibu tersebut telah pulang ke Mesir dan tidak mungkin kembali ke Mekkah ? Dan bagaimana hukum haji ibu tersebut karena dia datang ke Saudi Arabia dengan kapal terbang tanpa mahram ?

Jawaban
Jika kondisinya seperti disebutkan penanya, maka haji wanita tersebut sah dan tidak wajib membayar kifarat, demikian pula terhadap putranya. Sebab ketika keduanya meninggalkan Muzdalifah sebelum tengah malam karena dipaksa. Adapun kedatangan wanita tersebut dari Mesir tanpa mahram maka haram hukumnya dan harus bertaubat dari hal tersebut. Namun demikian itu tidak membatalkan hajinya tapi hajinya tetap sah. Dan Allah adalah yang memberikan taufiq kepada kebenaran

MENDAPATKAN SHALAT SHUBUH DI MUZDALIFAH

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Rombongan keluar dari Arafah setelah matahari terbenam lalu salah jalan dan menuju ke Mekkah, kemudian dikembalikan oleh polisi ke Arafah. Ketika sampai di Arafah mereka berhenti untuk shalat Maghrib dan shalat Isya pada jam satu malam. Kemudian mereka masuk ke Muzdalifah ketika adzan Shubuh dan shalat Shubuh di Muzdalifah, lalu mereka keluar menuju Mina. Apakah dengan itu mereka wajib membayar kifarat ataukah tidak ?

Jawaban
Mereka tidak wajib membayar kifarat karena telah mendapatkan shalat Shubuh di Muzdalifah pada waktu adzan Shubuh dan shalat Shubuh ketika masih gelap. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa menyaksikan shalat kami ini dan wukuf (berhenti) bersama kami hingga kami bertolak (ke Mina) dan dia telah wukuf sebelum itu di Arafah pada malam atau siang hari, maka telah sempurna hajinya dan menghilangkan kotorannya” [Hadits Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya]

Tapi mereka salah ketika mengakhirkan shalat Maghrib dan shalat Isya sampai melewati tengah malam karena waktu Isya’ sampai tengah malam seperti disebutkan dalam shahih Muslim dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

TIDAK MENDAPATKAN TEMPAT DI MUZDALIFAH

Pertanyaan
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukumnya jika orang yang haji tidak mendapatkan tempat di Muzdalifah untuk singgah ketika malam Id ?

Jawaban
Siapa yang tidak memungkinkan singgah di Muzdalifah maka secara dhohir hukumnya adalah tidak wajib membayar kifarat. Sebab suatu kewajiban gugur jika tidak mampu melakukannya.

SINGGAH DI NAMIRAH KARENA DIKIRA MUZDALIFAH

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seseorang yang haji singgah di Namirah karena dikiranya Muzdalifah. Bagaimana hukum hajinya ?

Jawaban
Orang-orang yang singgah di Namirah karena dikira Muzdalifah maka mereka wajib membayar fidyah karena ceroboh dengan tidak bertanya kepada orang lain, tapi haji mereka sah.

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabaia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagi orang yang telah melaksanakan haji dan dia mampu pergi haji lagi, apakah cukup bagi dia sebagai ganti dari haji untuk yang kedua kalinya dengan cara menginfakkan dana hajinya kepada orang-orang yang berjiahd pada jalan Allah di Afghanistan, di mana haji yang kedua hukumnya sunnah sedangkan memberikan bantuan untuk jihad wajib? Mohon penjelasan, semoga Allah memberikan balasan kepada anda atas perhatian anda kepada kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

Jawaban
Orang yang telah melaksanakan haji wajib, maka yang utama adalah menginfakkan dana yang akan digunakan haji yang kedua kepada orang-orang yang berjuang di jalan Allah seperti kaum mujahidin di Afghanistan dan orang-orang yang dalam pengungsian di Pakistan. Sebab ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya :

“Amal apa yang utama?”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. Penanya berkata : “Kemudian apa?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Jihad di jalan Allah”. Beliau ditanya lagi : “Kemudian apa?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Haji mabrur”. [Muttafaq ‘alaih]

Dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan haji setelah jihad. Dan yang dimaksudkan adalah haji sunnah. Sebab haji wajib merupakan salah satu rukun dalam Islam jika telah mampu melaksanakannya. Dan dalam shahihain disebutkan riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.

“Barangsiapa yang membantu orang yang berjuang, maka sesungguhnya dia telah berjuang. Dan barangsiapa yang menanggung keluarganya dengan kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berperang” [HR Bukhari dan Muslim]

Dan tidak diragukan bahwa orang-orang yang berjuang di jalan Allah sangat membutuhkan bantun materi dari saudara-saudara mereka. Dan membiayai orang-orang yang berjuang lebih utama daripada membiayai haji sunnah karena dua hadits tersebut dan yang lainnya. Dan kepada Allah kita mohon pertolongan.

MEMILIH HAJI SUNNAH ATAUKAH BERSEDEKAH?

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Saya telah melaksanakan haji wajib dan sekarang mampu pergi haji lagi. Manakah yang lebih utama menyedekahkan dana untuk haji yang kedua ataukah saya berangkat haji?

Jawaban
Jika kamu mempunyai keluasan dalam harta dan memungkinkan sedekah di samping pergi haji, maka lebih utama bagimu untuk melaksanakan keduanya. Tetapi jika tidak dapat melakukan kedua hal tersebut sedangkan disekitarmu terdapat orang-orang miskin yang sangat membutuhkan bantuan atau kegiatan-kegiatan kebaikan yang memerlukan dana, maka memberikan dana haji kamu kepada mereka adalah lebih utama dari pada haji sunnah. Tetapi jika disana tidak ada kebutuhan yang sangat perlu, maka haji lebih utama.

[Disalin dari Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »

TIDAK MAMPU BERMALAM DI MINA KARENA PEKERJAAN

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum bagi orang yang karena pekerjaannya tidak dapat mabit di Mina pada hari-hari tasyriq ?

Jawaban
Mabit di Mina gugur bagi orang-orang yang mempunya uzdur (alasan syar’i). Tapi bagi mereka wajib mengambil kesempatan sisa-sisa waktu untuk berdiam di Mina bersama jama’ah haji.

BERMALAM DI LUAR MINA PADA HARI-HARI TASYRIQ

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum mabit di luar Mina pada hari-hari tasyriq, baik hal tersebut dilakukan dengan sengaja atau karena tiadanya tempat di Mina ? Dan kapan jama’ah haji boleh mulai meninggalkan Mina ?

Jawaban
Menurut pendapat yang shahih bahwa mabit di Mina wajib pada malam ke-11 dan malam ke-12 Dzulhijjah. Pendapat ini adalah yang dinyatakan kuat oleh para peneliti hukum, Dan kewajban tersebut sama antara laki-laki dan perempuan. Tetapi jika tidak mendapatkan tempat di Mina maka gugur kewajiban dari mereka dan tidak wajib membayar kifarat. Namun bagi orang yang meninggalkannya tanpa alasan syar’i wajib menyembelih kurban.

Adapun waktu mulai meninggalkan Mina adalah setelah melontar tiga jumrah pada hari ke-12 Dzulhijjah setelah matahari condong ke barat. Tapi jika seseorang mengakhirkan pulang dari Mina hingga melontar tiga jumrah pada hari ke-13 Dzulhijjah setelah matahari condong ke barat maka hal itu lebih utama.

TIDAK BERMALAM DI MINA PADA HARI-HARI TASYRIQ TANPA ALASAN SYAR’I

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum orang yang meninggalkan mabit di Mina tiga hari, atau dua hari bagi orang yang ingin mempercepat ? Apakah dia wajib membayar kifarat dengen menyembelih satu ekor kambing setiap hari yang terlewatkannya dalam mabit, ataukah hanya wajib menyembelih satu ekor kambing untuk dua atau tiga hari karena tidak mabit di Mina ? Kami mohon penjelasan hal tersebut beserta dalilnya.

Jawaban
Orang yang meninggalkan mabit di Mina pada hari-hari tasyriq tanpa alasan syar’i maka dia telah meninggalkan ibadah yang disyariatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan dan perbuatannya serta penjelasannya tentang rukhsah bagi orang-orang yang berhalangan, seperti para pengembala dan orang-orang yang memberikan air minum denga air zamzam. Sedangkan rukshah adalah lawan kata keharusan. Karena itu mabit di Mina pada hari-hari tasyriq dinilai sebagai kewajiban dari beberapa kewajiban dalam haji menurut dua pendapat ulama yang paling shahih. Dan barangsiapa meninggalkan mabit tanpa halangan syar’i maka dia wajib menyembelih kurban. Sebab terdapat riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu.

“Artinya : Barangsiapa yang meninggalkan satu ibadah (dalam haji) atau lupa darinya, maka dia wajib menyembelih kurban” [Hadits Riwayat Malik]

Tapi cukup bagi seseorang kurban seekor kambing karena meninggalkan mabit selama hari-jari tasyriq. Wallahu ‘alam.

TIDAK MABIT DI MINA KARENA SAKIT

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum orang yang meninggalkan mabit di Mina satu malam, yaitu malam ke-11 Dzulhijjah karena sakit dan dia melontar jumrah pada siang harinya setelah matahari condong ke barat lalu mabit di Mina pada kari ke-12 Dzulhijjah setelah melontar jumrah ketika matahari telah condong ke barat ? Mohon penjelasan hal tersebut beserta dalilnya.

Jawaban
Selama dia meninggalkan mabit di Mina satu malam tersebut karena sakit maka dia tidak wajib membayar kifarat. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu” [At-Thagabun : 16]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan untuk tidak mabit di Mina kepada jama’ah yang bertugas memberikan minum air zamzam dan para penggembala karena memberikan minum zamzam kepada orang-orang yang haji dan mengembalakan ternaknya. Wallahu ‘alam.

HARI ‘ID BUKAN TERMASUK HARI TASYRIQ

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sebagian manusia berada di Mina satu malam, yaitu malam ke-11 Dzulhijjah dan melontar pada hari ke-11 dan dianggapnya sebagai melontar hari kedua karena mengira telah berada di Mina dua hari. Lalu mereka meninggalkan Mina dengan berfedoman pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya” [Al-Baqarah : 203]

Sehingga dengan itu mereka meninggalkan mabit pada malam ke-12. Apakah hal tersebut boleh menurut syari’at? Dan apakah sah bila seseorang menganggap hari ‘Id termasuk dua hari yang dimaksudkan dalam ayat tersebut ? Ataukah mereka melontar hari ke-12 pada hari ke-11, kemudian mereka meninggalkan Mina ? Mohon penjelasan hal tersebut beserta dalilnya.

Jawaban
Yang dimaksudkan dua hari yang diperbolehkan Allah bila orang yang haji ingin mempercepat pulang dari Mina setelah melalui keduanya ketika di Mina adalah hari kedua dan hari ketiga setalah Idul Adha (11 dan 12 Dzulhijjah), bukan hari Idul Adha dan hari setelahnya (11 Dzulhijjah). Sebab Idul Adha sebagai hari haji akbar, sedangkan hari-hari tasyriq adalah tiga hari setelah Id, yaitu hari-hari pelaksanaan melontar tiga jumrah. Dimana Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang ingin mempercepat pulang, maka dia boleh pulang sebelum terbenamnya matahari kedua, yakni hari ke-2 dari hari tasyriq (12 Dzulhijjah). Dan barangsiapa yang masih di Mina ketika terbenamnya matahari hari itu (malam ke-13) maka dia wajib mabit di Mina dan melontar jumrah pada hari ke-3 (13-Dzulhijjah). Dan demikian ini adalah yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Maka orang yang pulang pada hari ke-11 Dzulhijjah berarti dia mengurangi jumlah melontar pada hari ke-12 yang wajib dia lakukan. Karena itu dia wajib menyembelih kurban di Mekkah untuk orang-orang miskin. Sedangkan karena tidak mabit di Mina pada malam ke-12, maka dia wajib sedekah yang mampu dilakukan disertai taubat dan mohon ampunan kepada Allah dari kekurangan yang dilakukan karena mempercepat pulang dari Mina sebelum waktunya.

BERMALAM DI MEKKAH SELAMA HARI-HARI TASYRIQ

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Telah maklum bahwa orang-orang yang haji wajib bermalam di Mina selama hari tasyriq. Tapi jika seseorang tidak ingin tidur pada malam hari, apakah dia boleh keluar dari Mina dan berada di Masjidil Haram untuk menambah ibadah ?

Jawaban
Adapun yang dimaksud pendapat ulama tentang wajib mabit di Mina pada hari-hari Tasyriq adalah, agar seseorang tetap di Mina baik dia tidur maupun berjaga. Bukan yang dimaksud bahwa dia bermalam itu hanya bagi orang yang tidur saja. Atas dasar ini kami mengatakan kepada penanya, bahwa kamu tidak boleh menetap di Mekkah al-Mukarramah pada hari-hari tasyriq. tapi kamu wajib berada di Mina. Hanya saja ulama mengatakan, jika seseorang mengambil mayoritas malam (lebih setengah malam) di Mina maka demikian itu telah cukup baginya. Dan jika seseorang tidak mendapatkan tempat di Mina, maka dia harus mengambil tempat di ujung akhir kemah dan tidak boleh pergi ke Mekkah. Bahkan kami mengatakan, jika kamu tidak mendapatkan tempat di Mina, maka lihatlah akhir kemah jama’ah haji dan kamu harus mengambil tempat di sisi mereka. Sebab sesungguhnya yang wajib adalah agar sebagian manusia bersama sebagian yang lain. Seperti jika Masjid telah penuh, maka jama’ah membuat shaf yang besambung kepada shaf jama’ah yang lain. Wallahu ‘alam

KELUAR DARI MINA PADA TANGGAL 12 DZULHIJJAH

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seseorang jama’ah haji keluar dari Mina sebelum terbenamnya matahari pada hari ke-12 Dzulhijjah dengan niat mempercepat kepulangannya dari Mina, tapi dia mempunyai pekerjaan di Mina dan kembali lagi ke Mina setelah matahari terbenam. Apakh dia dinilai orang yang mempercepat kepulangan dari Mina ?

Jawaban
Ya’ dia dinilai orang yang mempercepat pulang dari Mina. Sebab dia telah menyelesaikan haji. Adapun niatnya kembali ke Mina karena pekerjaannya tidak menghambat untuk mempercepat pelaksanaan manasik haji. Sebab ketika dia kembali ke Mina adalah karena pekerjaan, bukan untuk melakukan ibadah

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »

MABIT (BERMALAM) DI MINA, MABIT DI LUAR MINA SEBAB PENUH SESAK

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Jika jama’ah haji tidak mendapatkan tempat untuk bermalam di Mina, apa yang harus dilakukan ? Dan apakah dia harus membayar kifarat jika dia bermalam di luar Mina ?

Jawaban
Jika jama’ah haji telah bekerja keras dalam mencari tempat di Mina untuk bermalam selama di Mina lalu tidak mendapatkannya maka tiada dosa atas dia jika singgah di luar Mina. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu” [At-Thagabun : 16]

Dan dia juga tidak wajib membayar kifarat. Sebab dia meninggalkan mabit di Mina karena di luar kemampuan.

BERMALAM DI LUAR MINA KARENA TIDAK TAHU

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seseorang bermalam (dua malam) dekat sekali dari Mina dan mengira telah bermalam di Mina. Tapi setelah itu nampak baginya bahwa tempat tersebut dekat dengan Mina dan bukan Mina. Dia mengetahui hal tersebut baru-baru ini setelah haji tahun lalu. Apa yang harus dia lakukan sekarang ?

Jawaban
Ia wajib kifarat, yaitu menyembelih kurban di Mekkah dan dibagikan kepada orang-orang miskin di Mekkah. Sebab dia meninggalkan kewajiban dalam haji tanpa alasan syar’i. Seharusnya ketika itu dia bertanya tentang Mina sehingga dapat bermalam di Mina. Adapun orang yang mencari tempat di Mina, lalu tidak mampu mabit di Mina maka dia tidak wajib kifarat. Sebab Allah berfirman.

“Artinya : Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu” [At-Taghabun : 16]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.

“Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya” [Al-Baqarah : 286]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Jika aku perintahkan kepadamu suatu perkara, maka lakukan dia menurut kemampuanmu” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Namun dikecualikan dari hal tersebut bagi orang yang berhalangan menurut syar’i sehingga dia tidak bermalam di Mina, seperti orang sakit, pengembala, dan pengambil air, Maka mereka tidak wajib membayar kifarat. Dan kepada Allah kita mohon pertolongan kebenaran.

YANG UTAMA DALAM MABIT DI MINA

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Dengan pertolongan Allah saya dapat haji bersama istri. Tapi pada hari-hari tasyriq kami berdua tidak duduk di Mina melainkan sampai jam satu malam, kemudian kami pergi dan bermalam di Mekkah karena kami mempunyai rumah di sana. Apakah demikian itu boleh ?. Mohon penjelasan, semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Anda.

Jawaban
Mabit di Mina sudah cukup bila lebih setengah malam, dan segala puji hanya bagi Allah. Untuk itu, kalian berdua tidak harus membayar kifarat. Tapi jika kalian tetap di Mina semalaman penuh selama hari-hari melontar maka demikian itu adalah yang utama karena mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, semoga Allah meridhoi mereka. Dan kepada Allah kita mohon pertolongan kepada kebenaran

TIDAK MENDAPATKAN TEMPAT DI MINA

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana hukum jama’ah haji yang tidak mendapatkan tempat di Mina pada hari-hari tasyriq, baik siang maupun malam ?

Jawaban
Jika mereka tidak mendapatkan tempat di Mina maka mereka bertempat di akhir kemah orang-orang yang haji walaupun di luar batas Mina. Sebab Allah berfirman.

“Artinya : Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu” [At-Thagabun : 16]

BERMALAM DI LUAR MINA KARENA TIDAK TAHU

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Saya haji bersama keluarga pada tahun ini dan kami bermalam tiga hari di Mina, karena banyaknya orang yang haji, maka kami berpendapat untuk keluar dari Mina setelah hari kedua. Mohon penjelasan, apa dampak hal tersebut atas saya ?

Jawaban
Jika seseorang tidak mendapatkan tempat, maka anda tiada dosa. Tapi jika medapatkan tempat namun karena ceroboh, maka harus bertaubat kepada Allah. Jika kamu tidak bermalam di Mina dalam setiap malam, maka ulama mengatakan bahwa wajib membayar fidyah (menyembelih kurban) yang dibagikan kepada orangn-orang miskin di Mekkah. Dan jika anda tidak bermalam di Mina pada malam pertama tapi bermalam pada malam kedua, maka kamu wajib memberi makan orang miskin.

SYARAT BERMALAM DI MINA

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum orang yang bermalam di Mina sampai jam 12 malam kemudian masuk ke Mekkah dan tidak kembali hingga terbit fajar ?

Jawaban
Jika jam 12 malam adalah pertengahan malam di Mina maka tidak mengapa bila sesorang keluar darinya setelah jam tersebut. Meskipun yang utama adalah selalu di Mina siang dan malam. tapi jika jam 12 malam belum pertengahan malam maka belum boleh keluar darinya. Sebab dalam bermalam di Mina disyaratkan harus sebagian besar malam (lebih setengah malam) sebagaimana disebutkan ulama fikih kita, semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz

Di antara Asmaul Husna yang dimiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Hakim yang bermakna : “Yang menetapkan Hukum, atau Yang mempunyai sifat Hikmah, di mana Allah tidak berkata dan bertindak dengan sia-sia. Oleh karena itulah semua syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai kebaikan yang besar dan manfaat yang banyak bagi hamba-Nya di dunia seperti kebagusan hati, ketenangan jiwa dan kebaikan keadaan. Juga akibat yang baik dan kemenangan yang besar di kampung kenikmatan (akhirat) dengan melihat wajah-Nya dan mendapatkan ridha-Nya.

Demikian pula haji, sebuah ibadah tahunan yang besar yang Allah syari’atkan bagi para hamba-Nya, mempunyai berbagai manfaat yang besar dan tujuan yang besar pula, yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat. Dan diantara hikmah ibadah haji ini adalah.

[1]. Mengikhlaskan Seluruh Ibadah
Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menghadapkan hati kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang diibadahi dengan haq, kecuali Dia dan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada tandingan-Nya.

Dan hal ini telah diisyaratkan dalam firman-Nya.

“Artinya : Dan ingatlah ketika Kami menempatkan tempat Baitullah untuk Ibrahim dengan menyatakan ; “Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apapun dan sucikan rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, beribadah, ruku dan sujud” [Al-Hajj : 26]

Mensucikan rumah-Nya di dalam hal ini adalah dengan cara beribadah semata-mata kepada Allah di dekat rumah-Nya (Ka’bah) yang mulia, mebersihkan sekitar Ka’bah dari berhala-berhala, patung-patung, najis-najis yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan serta dari segala hal yang mengganggu orang-orang yang sedang menjalankan haji atau umrah atau hal-hal lain yang menyibukkan (melalaikan, -pent) dari tujuan mereka.

[2]. Mendapat Ampunan Dosa-Dosa Dan Balasan Jannah
“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Satu umrah sampai umrah yang lain adalah sebagai penghapus dosa antara keduanya dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali jannah” [HR Bukhari dan Muslim, Bahjatun Nanzhirin no. 1275]

“Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa berhaji ke Baitullah ini karena Allah, tidak melakukan rafats dan fusuuq, niscaya ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” [HR Bukhari]

Rafats : jima’ ; pendahuluannya dan ucapan kotor, Fusuuq : kemaksiatan

Sesungguhnya barangsiapa mendatangi Ka’bah, kemudian menunaikan haji atau umrah dengan baik, tanpa rafats dan fusuuq serta dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan menuliskan jannah baginya. Dan hal inilah yang didambakan oleh setiap mu’min dan mu’minah yaitu meraih keberuntungan berupa jannah dan selamat dari neraka.

[3]. Menyambut Seruan Nabi Ibrahima Alaihissalam
“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”[Al-Hajj : 27]

Nabi Ibrahim Alaihissalam telah menyerukan (agar berhaji) kepada manusia. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki (untuk bisa) mendengar seruan Nabi Ibrahim Alaihissalam tersebut dan menyambutnya. Hal itu berlangsung semenjak zaman Nabi Ibrahim hingga sekarang.

[4]. Menyaksikan Berbagai Manfaat Bagi Kaum Muslimin
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Agar supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [Al-Hajj : 28]

Alah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan manfaat-manfaat dengan muthlaq (secara umum tanpa ikatan) dan mubham (tanpa penjelasan) karena banyaknya dan besarnya menafaat-manfaat yang segera terjadi dan nanti akan terjadi baik duniawi maupun ukhrawi.

Dan diantara yang terbesar adalah menyaksikan tauhid-Nya, yakni mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Mereka datang dengan niat mencari wajah-Nya yang mulia bukan karena riya’ (dilihat orang lain) dan juga bukan karena sum’ah (dibicarakan orang lain). Bahkan mereka betauhid dan ikhlas kepada-Nya, serta mengikrarkan (tauhid) di antara hamba-hamba-Nya, dan saling menasehati di antara orang-orang yang datang (berhaji dan sebagainya,-pent) tentangnya (tauhid).

Mereka thawaaf mengelilingi Ka’bah, mengagungkan-Nya, menjalankan shalat di rumah-Nya, memohon karunia-Nya, berdo’a supaya ibadah haji mereka diterima, dosa-dosa mereka diampuni, dikembalikan dengan selamat ke nergara masing-masing dan diberi anugerah kembali lagi untuk berdo’a dan merendah diri kepda-Nya.

Mereka mengucapkan talbiyah dengan keras sehingga di dengar oleh orang yang dekat ataupun yang jauh, dan yang lain bisa mempelajarinya agar mengetahui maknanya, merasakannya, mewujudkan di dalam hati, lisan dan amalan mereka. Dan bahwa maknanya adalah : Mengikhlaskan ibadah semata-mata untuk Allah dan beriman bahwa Dia adalah ‘ilah mereka yang haq, Pencipta mereka, Pemberi rizki mereka, Yang diibadahi sewaktu haji dan lainnya.

[5]. Saling Mengenal Dan Saling Menasehati
Dan diantara hikmah haji adalah bahwa kaum muslimin bisa saling mengenal dan saling berwasiat dan menasehati dengan al-haq. Mereka datang dari segala penjuru, dari barat, timur, selatan dan utara Makkah, berkumpul di rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tua, di Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di Makkah. Mereka saling mengenal, saling menasehati, sebagian mengajari yang lain, membimbing, menolong, membantu untuk maslahat-maslahat dunia akhirat, maslahat taklim tata cara haji, shalat, zakat, maslahat bimbingan, pengarahan dan dakwah ke jala Allah.

Mereka bisa mendengar dari para ulama, apa yang bermanfaat bagi mereka yang di sana terdapat petunjuk dan bimbingan menuju jalan yang lurus, jalan kebahagiaan menuju tauhidullah dan ikhlas kepada-Nya, menuju ketaatan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengetahui kemaksiatan untuk dijauhi, dan supaya mereka mengetahui batas-batas Allah dan mereka bisa saling menolong di dalam kebaikan dan taqwa.

[6]. Mempelajari Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala
Dan diantara manfaat haji yang besar adalah bahwa mereka bisa mempelajari agama Allah dilingkungan rumah Allah yang tua, dan di lingkungann masjid Nabawi dari para ulama dan pembimbing serta memberi peringatan tentang apa yang mereka tidak ketahui mengenai hukum-hukum agama, haji, umrah dan lainnya. Sehingga mereka bisa menunaikan kewajiban mereka dengan ilmu.

Dari Makkah inilah tertib ilmu itu, yaitu ilmu tauhid dan agama. Kemudian (berkembang) dari Madinah, dari seluruh jazirah ini dan dari seluruh negeri-negeri Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada ilmu dan ahli ilmu. Namun semua asalnya adalah dari sini, dari lingkungan rumah Allah yang tua.

Maka wajib bagi para ulama dan da’i, dimana saja mereka berada, terlebih lagi di lingkungan rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, untuk mengajari manusia, orang-orang yang menunaikan haji dan umrah, orang-orang asli dan pendatang serta para penziarah, tentang agama dan manasik haji mereka.

Seorang muslim diperintahkan untuk belajar, bagaimanapun (keadaannya) ia, dimana saja dan kapan saja ; tetapi di lingkungan rumah Allah yang tua, urusan ini (belajar agama) lebih penting dan mendesak.

Dan di antara tanda-tanda kebaikan dan kebahagian seseorang adalah belajar tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi bersabda : “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala memperoleh kebaikan, niscaya Dia menjadikan faqih terhadap agama” [HR Bukhari, Kitab Al-Ilmi 3 bab : 14]

Di sini, di negeri Allah, di negerimu dan di negeri mana saja, jika engkau dapati seorang alim ahli syari’at Allah, maka pergunakanlah kesempatan. Janganlah engkau takabur dan malas. Karena ilmu itu tidak bisa diraih oleh orang-orang yang takabur, pemalas, lemah serta pemalu. Ilmu itu membutuhkan kesigapan dan kemauan yang tinggi.

Mundur dari menuntut ilmu, itu bukanlah sifat malu, tetapi suatu kelemahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan Allah tidak malu dari kebenaran” [Al-Ahzab : 53]

Karenanya seorang mukmin dan mukminah yang berpandangan luas, tidak akan malu dalam bab ini ; bahkan ia maju, bertanya, menyelidiki dan menampakkan kemusykilan yang ia miliki, sehingga hilanglah kemusykilan tersebut.

[7]. Menyebarkan Ilmu
Di antara manfaat haji adalah menyebarkan ilmu kepada saudara-saudaranya yang melaksanakan ibadah haji dan teman-temannya seperjalanan, yang di mobil, di pesawat terbang, di tenda, di Mekkah dan di segala tempat. Ini adalah kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan. Engkau bisa menyebarkan ilmu-mu dan menjelaskan apa yang engkau miliki, akan tetapi haruslah dengan apa yang engkau ketahui berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan istimbath ahli ilmu dari keduanya. Bukan dari kebodohan dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

[8]. Memperbanyak Ketaatan
Di antara manfaat haji adalah memperbanyak shalat dan thawaf, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka ; hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka berthawaf sekeliling rumah yang tua itu (Ka’bah)” [Al-Hajj : 29]

Maka disyariatkan bagi orang yang menjalankan haji dan umrah untuk memperbanyak thawaf semampunya dan memperbanyak shalat di tanah haram. Oleh karena itu perbanyaklah shalat, qira’atul qur’an, tasbih, tahlil, dzikir. Juga perbanyaklah amar ma’ruf nahi mungkar dan da’wah kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana banyak orang berkumpul dari Afrika, Eropa, Amerika, Asia dan lainnya. Maka wajib bagi mereka untuk mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

[9]. Menunaikan Nadzar
Walaupun nadzar itu sebaiknya tidak dilakukan, akan tetapi seandainya seseorang telah bernadzar untuk melakukan ketaatan, maka wajib baginya untuk memenuhinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaati-Nya” [HR Bukhari]

Maka apabila seseorang bernadzar di tanah haram ini berupa shalat, thawaf ataupun ibadah lainnya, maka wajib baginya untuk menunaikannya di tanah haram ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar” [Al-Hajj : 29]

[10]. Menolong Dan Berbuat Baik Kepada Orang Miskin
Di antara manfaat haji adalah bisa menolong dan berbuat baik kepada orang miskin baik yang sedang menjalankan haji atau tidak di negeri yang aman ini.

Seseorang dapat mengobati orang sakit, menjenguknya, menunjukkan ke rumah sakit dan menolongnya dengan harta serta obat.

Ini semua termasuk manfaat-manfaat haji.

“Artinya : ….agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [Al-Hajj : 28]

[11]. Memperbanyak Dzikir Kepada Allah
Di negeri yang aman ini hendaklah memperbanyak dzikir kepada Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk dan bebaring, dengan tasbih (ucapan Subhanallah), hamdalah (ucapan Alhamdulillah), tahlil (ucapan Laa ilaaha ilallah), takbir (ucapan Allahu Akbar) dan hauqallah (ucapan Laa haula wa laa quwata illa billah).

“Artinya : Dari Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dan yang tidak mengingat-Nya adalah sebagai orang hidup dan yang mati”. [HR Bukhari, Bahjatun Nadzirin no. 1434]

[12]. Berdo’a Kepada-Nya
Di antara manfaat haji, hendaknya bersungguh-sungguh merendahkan diri dan terus menerus berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia menerima amal, membereskan hati dan perbuatan ; agar Dia menolong untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan memperbagus ibadah kepada-Nya ; agar Dia menolong untuk menunaikan kewajiban dengan sifat yang Dia ridhai serta agar Dia menolong untuk berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya.

[13]. Menunaikan Manasik Dengan Sebaik-Baiknya
Di antara manfaat haji, hendaknya melaksanakannya dengan sesempurna mungkin, dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin baik sewaktu melakukan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, berada di Muzdalifah, melempar jumrah, maupun sewaktu shalat, qira’atul qur’an, berdzikir, berdo’a dan lainnya. Juga hendaknya mengupayakannya dengan kosentrasi dan ikhlas.

[14]. Menyembelih Kurban
Di antara manfaat haji adalah menyembelih (binatang) kurban, baik yang wajib tatkala berihram tammatu dan qiran, maupun tidak wajib yaitu untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sewaktu haji wada’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkurban 100 ekor binatang. Para sahabat juga menyembelih kurban. Kurban itu adalah suatu ibadah, karena daging kurban dibagikan kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan di hari-hari Mina dan lainnya.

Demikianlah sebagian hikmah dari ibadah haji (rukun Islam yang ke lima) mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaatnya, dan senantiasa diberi petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta diberi kemudahan untuk menunaikannya. Amin

Read Full Post »

Burung Merpati Di Tanah Suci

Oleh: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta

Pertanyaan.
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya : Seseorang yang haji mengatakan bahwa burung merpati di Madinah jika telah dekat waktunya untuk mati, maka dia pergi ke Mekkah dan membelah langit di atas Ka’bah sebagai perpisahan kepadanya, kemudian mati setelah terbang beberapa mil. Apakah demikian ini benar ataukah tidak, mohon penjelasan?

Jawaban.
Burung merpati Madinah, bahkan burung merpati Mekkah, tidak mempunyai keistimewaan khusus atas burung merpati lainnya. Hanya saja dilarang menjadikan burung merpati di tanah suci sebagai buruan atau mengusirnya bagi orang yang sedang ihram haji atau umrah, bahkan bagi orang yang tidak sedang ihram, jika burung merpati berada di Mekkah atau di Madinah. Tapi jika keluar dari kedua tanah suci, maka boleh menangkapnya dan menyembelihnya bagi orang yang tidak ihram haji atau umrah berdasarkan firman Allah.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram” [Al-Ma’idah : 95]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah memuliakan kota Mekkah, maka tidak halal bagi seseorang sebelumku dan juga setelahku. Sesungguhnya dia halal bagiku sesaat dari waktu siang. Tidak boleh dicabut tanamannya, tidak boleh dipotong pohonnya dan tidak boleh diusir binatang buruannya” [HR Bukhari]

Dan dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Nabi Ibrahim memuliakan Mekkah dan aku memuliakan Madinah. Tidak boleh dipotong pohonnya dan tidak boleh diburu binatang buruannya” [HR Muslim]

Maka barangsiapa yang menyatakan bahwa burung merpati mana pun yang di Madinah jika dekat ajalnya terbang ke Mekkah dan melintas di atas Ka’bah, maka dia orang bodoh yang mendalihkan sesuatu tanpa dasar yang shahih. Sebab ajal (kematian) tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah. Firman-Nya.

“Artinya : Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi manapun dia akan mati” [Luqman ; 34]

Sedangkan perpisahan dengan Ka’bah adalah dengan melakukan thawaf di sekelilingnya, dan itupun bagi orang haji dan umrah. Maka menyatakan bahwa burung merpati mengetahui ajalnya dan berpamitan ke Ka’bah dengan terbang di atasnya adalah suatu dalil yang bohong dan tidak akan berani melakukannya kecuali orang bodoh yang membuat kebohongan kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya.

Dan kepada Allah kita mohon pertolongan. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhamamd, keluarga dan shahabatnya.

BARANG TEMUAN DI MEKKAH TIDAK BOLEH DIMILIKI

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah saya boleh mengambil barang yang hilang di Mekkah dan membawanya lalu mengumumkan di tempat saya tinggal? Ataukah yang wajib atas saya memberitahukannya di pintu-pintu masjid, pasar dan lainnya di Mekkah al-Mukarramah?

Jawaban
Barang temuan di Mekkah secara khusus tidak halal diambil kecuali oleh orang yang akan mengumumkannya atau menyerahkan kepada pihak berwenang yang mengurusi harta seperti itu. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Dan tidak halal mengambil barang temuan di Mekkah kecuali orang yang akan mengumumkannya”

Adapun hikmah dibalik itu adalah, bahwa barang yang hilang jika masih di tempatnya maka boleh jadi pemiliknya akan kembali kepada tempat tersebut dan akan mendapatkannya. Atas dasar ini, kami mengatakan kepada saudara penanya, bahwa kamu wajib mengumumkannya di Mekkah al-Mukarramah di tempat ditemukannnya barang dan sekitarnya, seperti di pintu-pintu masjid dan tempat-tempat berkumpulnya manusia. Dan jika tidak, maka serahkanlah barang tersebut kepada para petugas yang khusus menangani barang hilang atau yang lainnya.

MEMOTONG POHON DI TANAH SUCI

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apa yang wajib dilakukan orang yang memotong pohon di tanah suci? Dan apa batas-batas tanah suci?

Jawaban
Siapa yang memotong pohon besar di Mekkah maka dia wajib menyembelih unta, dan jika pohonnya kecil wajib menyembelih kambing. Sedangkan kesalahan karena mencabut rumput maka ditentukan nilainya oleh hakim. Tetapi diperbolehkan memotong dahan yang menjulur ke jalan dan mengganggu orang yang lewat. Sebagaimana juga boleh memotong tumbuhan yang di tanam manusia.

Adapun batas-batas tanah haram adalah telah maklum. Di mana pada batas akhirnya terdapat rambu-rambu jelas yang terdapat di jalan-jalan, seperti yang terdapat di antara Muzdalifah dan Arafah, di jalan ke Jeddah dekat Al-Syumaisi, di Hudaibiyah dan lain-lain.

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum keluar dari Mekkah ke selain tanah suci untuk melaksanakan umrah pada bulan Ramadhand di waktu lainnya (misalnya pada waktu ibadah haji, -peny) ?

Jawaban
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, bahwa ulama salaf sepakat tentang makruhnya mengulang-ulang umrah dan memperbanyaknya. Baik pendapat ini diterima atau tidak diterima, maka keluarnya seseorang dari daerahnya untuk umrah, lalu keluarnya dari Mekkah ke selain tanah haram (Tan’im dan tempat miqat lain) untuk melaksanakan umrah kedua, ketiga pada bulan Ramadhan dan di waktu yang lainnya, adalah termasuk perbuatan bid’ah yang tidak dikenal pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebab pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya dikenal satu masalah yaitu masalah khusus bagi Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika ihram haji tamattu’ lalu haidh. Ketika Nabi Shallallahu menemuinya, maka didapatkannya dia menangis dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan sebab dia menangis, lalu Aisyah memberitahukannya kepada Nabi bahwa dia haid. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan kepadanya bahwa haidh adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepada anak-anak perempuan Bani Adam.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya untuk ihram haji. Maka Aisyah ihram haji dan menjadi haji qiran. Tetapi ketika Aisyah selesai melaksanakan haji, dia mendesak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dizinkan umrah sendiri. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya dan memerintahkan saudaranya, Abdurrahman bin Abu Bakar, semoga Allah meridhoi keduanya, agar menyertainya ke Tan’im. Maka Abdurrahman keluar bersama Aisyah ke Tan’im dan Aisyah Umrah.

Seandainya hal ini termasuk sesuatu yang disyariatkan dalam bentuk kemutlakan, niscaya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan para shahabat, bahkan akan menganjurkan Abdurrahman bin Abu Bakar yang keluar bersama saudarinya untuk melaksanakan umrah karena akan mendapatkan pahala. Dan telah maklum dari semua itu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mukim di Mekkah pada tahun pembebasan kota Mekkah selama sembilan belas hari, tapi beliau tidak melaksanakan umrah padahal demikian itu mudah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini menunjukkan bahwa orang yang umrah pada bulan Ramadhan atau di waktu yang lainnya maka dia tidak mengulang-ulang umrah dengan keluar dari Mekkah ke tempat yang bukan tanah suci (miqat). Sebab demikian ini tidak sesuai sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga tidak sesuai dengan sunnah Khulafa’ur Rasyidin bahkan tidak semua shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian juga banyak di antara menusia yang mengatakan bahwa kedatangannya untuk umrah pada bulan Ramadhan adalah diperuntukkan ibunya atau kedua orang tuanya, atau yang seperti itu. Maka kami mengatakan, bahwa menghadiahkan ibadah kepada orang-orang yang meninggal tidak disyariatkan dalam Islam. Artinya, seseorang tidak dituntut untuk mengerjakan ibadah untuk ibu atau bapak atau saudara perempuannya. Tapi jika melakukan hal tersebut diperbolehkan. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan kepada Sa’ad bin Ubadah Radhiyallahu ‘anhu menyedekahkan kebun kurmanya untuk ibunya yang telah meninggal. Dan ketika seseorang minta izin kepada Nabi seraya berkata : “Wahai Rasulullah, ibu saya meninggal mendadak dan saya kira kalau dia sempat berbicara niscaya dia akan bersedekah. Apakah saya boleh bersedekah untuk dia?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ya”. Meskipun demikian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda kepada para shahabatnya secara umum : “Bersedekahlah kalian untuk orang-orang yang meninggal atau untuk bapak-bapak kalian atau untuk ibu-ibu kalian!”.

Karena itu bagi para pencari ilmu dan yang lainnya wajib mengetahui perbedaan antara sesuatu yang disyari’atkan (masyru’) dan sesuatu yang diperbolehkan (jaiz). Di mana sesuatu yang disyariatkan itu berarti bahwa setiap Muslim dituntut melakukannya. Sedangkan sesuatu yang diperbolehkan adalah sesuatu yang setiap muslim tidak dituntut untuk melakukannya. Untuk lebih jelasnya saya akan mengemukakan contoh kisah seseorang yang diutus Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ekspedisi di mana dia menjadi imam shahabat-shahabatnya. Setiap dia shalat dengan mereka selalu mengakhiri bacaanya dengan qul huwallahu ahad (surat al-Ikhlas). Maka ketika kembali mereka memberitahukan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tanyakanlah kepadanya, mengapa dia selalu melakukan hal itu?” Ketika ditanya, ia menjawab : “Sesungguhnya dalam surat al-Ikhlas terdapat sifat Yang Mahapengasih, dan saya senang (mencintai) membacanya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah mencintai dia!”.

Meski demikian, di antara sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengakhiri bacaan dalam shalatnya dengan surat al-Ikhlas dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengarahkan umatnya kepada hal tersebut. Disitulah terlihat perbedaan antara sesuatu yang diizinkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang disyariatkan yang setiap manusia dituntut melakukannya. Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan Sa’ad bin Ubadah menyedekahkan kebunnya untuk ibunya yang telah meninggal dan mengizinkan penannya yang ibunya meninggal mendadak bersedekah untuk ibunya, maka demikian itu tidak berarti disyariatkan untuk setiap manusia bersedekah untuk bapak atau ibunya yang meninggal, meskipun jika dia bersedekah akan berguna bagi orang yang disedekahinya. Sesungguhnya kita diperintahkan untuk mendo’akan bapak dan ibu kita yang telah meninggal berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga : shodaqoh jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya” [HR Muslim dan lainya]

Wallahu a’lam

[Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad]

Read Full Post »

Older Posts »