Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘tawaf’

Tidak ada satupun amalan ibadah yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan setan dari kalangan manusia dan jin mengambil bagian untuk menggagalkan usaha tersebut. Bisikan demi bisikan dihembuskan. Rayuan demi rayuan dilancarkan. Di antara mereka ada yang berhasil dan lolos dalam penyesatannya serta ada pula yang gagal. Kegagalan yang diderita oleh setan bukan berarti lampu merah untuk berhenti melancarkan serangannya, namun merupakan langkah awal untuk mencari jalan lain yang lebih baik serta lebih menguntungkan dalam menyesatkan yang dimangsa. Langkah paling positif bagi setan adalah bagaimana bisa menunggangi hawa nafsu setiap orang dan menjadikannya sebagai kendaraan dalam perjalanan di padang pasir dan sebagai bahtera dalam perjalanan di lautan. Bila hawa nafsu telah ditunggangi maka akan berdampak:
1. Mempertuhankannya.
2. Tunduk di bawah kehendaknya.
3. Berbuat karenanya.
4. Menerima kebenaran bila menguntungkannya dan menolak bila tidak menguntungkannya.
5. Melanggar ketentuan Rabbnya sekalipun dia memiliki ilmu tentangnya.
6. Loyalitas kepada orang yang semestinya di-bara` dan sebaliknya bara` kepada orang yang semestinya diberikan loyalitas.
7. Tidak mau mendengarkan dalil.
8. Tidak mau kembali kepada dalil-dalil dalam mengambil keyakinan, hukum, dan tatacara berdakwah.
9. Tidak menerima teguran karena kesalahan yang dilakukan.

(Lihat secara ringkas Sallus Suyuf wal Asinnah karya Dr. Shalfiq, hal. 29-30)

Dari sinilah setiap orang yang akan memikul sebuah ibadah membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Dia harus bertarung dengan musuh dari dirinya sekaligus bertarung dengan musuh dari luar dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa para shahabat bertanya kepada beliau: “Ya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampaikanlah kepada kami kalimat yang kami akan baca di saat kami berada di waktu pagi, sore, dan ketika kami akan tidur.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berdoa:

اللّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَالْمَلاَئِكَةُ يَشْهَدُوْنَ أَنَّكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ فَإِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ أَنْفُسِنَا وَمِنْ شَرِِّ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَشِرْكِهِ وَأَنْ نَقْتَرِفَ سُوْءًا عَلَى أَنْفُسِنَا أَوْ نَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

“Ya Allah pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tidak ghaib, Engkau adalah Rabb segala sesuatu dan para malaikat bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah melainkan Engkau. Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan diri-diri kami dan dari kejahatan setan yang terkutuk serta sekutunya, dan (kami berlindung dari melakukan kejelekan atas diri-diri kami atau kami berbuat kejelekan kepada seorang muslim).”1
Diriwayatkan dari Syakal bin Humaid radhiyallahu ‘anhu: Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata: “Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku perlindungan yang aku berlindung dengannya.” Dia berkata: Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku dan berkata: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pendengaranku, kejelekan penglihatanku, lisanku, kejelekan hatiku, dan dari kejahatan kemaluanku’.”2
Dalam khutbatul hajah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

“Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami.”3
Memang ibadah itu kelihatannya ringan dan enteng, namun bila diwujudkan akan menjadi sesutu yang amat berat. Sungguh banyak orang yang tidak sanggup untuk memikulnya, padahal sebenarnya bisa dipikul oleh orang yang paling lemah sekalipun. Di sinilah butuhnya kita untuk memurnikan hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjaga akhlak yang baik kepada-Nya, bersabar dalam menghadapi segala gangguan di jalan menuju ridha-Nya, berdoa agar diberikan kekuatan, ketabahan dan keberanian untuk menghadapi segala ujian dan tantangan.

Sabar dalam Tinjauan Agama
Sabar adalah sebuah sifat yang sangat terpuji dan mulia. Sebuah sifat yang akan membuahkan sifat mulia lainnya, seperti keberanian untuk melawan tantangan hawa nafsu dalam menjalankan titah-titah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta meninggalkan segala hal yang dilarang-Nya, juga keridhaan yang tinggi dalam menerima segala yang diputuskan dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya. Sehingga jelas bahwa sabar adalah sebuah sifat yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sabar secara bahasa artinya menahan diri, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.” (Al-Kahfi: 28)
Ibnul Qayyim menjelaskan: “Makna ayat ini adalah tahan dirimu bersama mereka.”
Sabar menurut istilah adalah menahan diri dari berkeluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh serta menahan anggota badan dari ketidaktenangan.” (Madarijus Salikin 2/156, Fathul Majid, hal. 436)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan: “Sabar menurut syariat adalah menahan diri di atas sesuatu dari segala sesuatu, dan terbagi atas tiga perkara. Pertama: taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kedua: (menahan) diri dari segala keharaman, dan ketiga: menahan diri dari ketentuan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak disukai.
Adapun kesabaran dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan cara menahan diri di atas ketaatan kepada-Nya, karena ketaatan bagi seseorang adalah sesuatu yang amat berat. Akan susah bagi seseorang untuk melakukannya dan terkadang rasa berat itu datang dari sisi badan, mungkin karena lemah dan capai. Mungkin juga rasa berat itu terjadi dari sisi harta seperti menunaikan zakat atau haji.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 1/67)

Hakikat sabar adalah apabila seorang hamba menahan dirinya dan menundukkan diri di atas ketentuan-ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’alaserta bukti-bukti kebesaran-Nya, baik yang ada pada diri-Nya atau di alam ini, dan dia berjalan bersama segala nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tunduk di bawah kandungan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya. Berjalan di atas fitrah dan cahaya fitrah tersebut, dan berjalan seiring bersama para rasul, kitab-kitab, dan risalah-risalah-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan manisnya kesabaran. Oleh karena itu di dalam kitab-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala sering dan banyak menggandengkan kesabaran dengan kejujuran dan syukur. (Ta’liq Madarijus Salikin, 2/156)

Sabar dalam Menjalankan Tugas Agama
Setiap orang yang hatinya masih hidup dan disinari dengan iman akan merasa bahwa ketika imannya goyang atau ternodai dengan berbagai bentuk kemaksiatan, kerapkali dia merasakan bahwa ketaatan itu adalah sesuatu yang amat sangat berat dan kemaksiatan menjadi ringan dan gampang untuk dikerjakan. Begitu pula sebaliknya. Ketika iman seseorang kokoh dan kuat, ketaatan amat sangat ringan dan mudah baginya. Dan dia merasakan adanya kekuatan pada dirinya yang menjaganya dari terjerumus dalam kemaksiatan sekalipun kemaksiatan ini di hadapannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang tujuh orang yang akan mendapatkan perlindungan pada hari kiamat yang tidak ada perlindungan lagi selain perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya adalah:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ

“Seseorang yang dipanggil oleh wanita bangsawan dan cantik, namun dia berkata: ‘Saya takut kepada Allah’.”
Semua tugas agama sesungguhnya merupakan perwujudan dari iman dan Islam. Sehingga barangsiapa yang mengemban tugas-tugas tersebut sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, itulah wujud keimanan dan keislamannya. Sebaliknya, bila ditinggalkan maka itulah wujud kelemahan imannya. Sungguh bagi orang yang telah dikuasai oleh setan dan hawa nafsu, memindahkan Gunung Uhud lebih ringan dibanding melaksanakan tugas-tugas agama. Di sinilah letak kedudukan sabar dan pentingnya dalam menjalankan tugas-tugas tersebut.
‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ

“Kami menjumpai kelezatan hidup dengan kesabaran.”4
Contoh dalam hal ini adalah kesabaran seorang bapak dan anak dalam menerima dan menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun perintah tersebut tidak disukai oleh setiap insan yaitu perintah untuk menyembelih putranya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

“Maka tatkala (Isma’il) telah beranjak dewasa, (Nabi) Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat di dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu?’ (Isma’il) berkata: ‘Wahai bapakku, lakukanlah apa yang engkau diperintahkan, insya Allah saya termasuk orang-orang yang bersabar’.” (Ash-Shaffat: 102)

Bentuk-bentuk Kesabaran
Kesabaran dibutuhkan dalam setiap situasi dan kondisi. Tidak ada sesaat pun dalam hidup ini melainkan butuh kesabaran.
Di saat seseorang berada di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apakah dia akan meninggalkannya karena mendapatkan caci maki dan celaan? Atau di saat dia berada di ambang pintu kemaksiatan, apakah dia akan menahan diri darinya sekalipun semua pihak menyetujui dan menerima? Atau di saat dia mendapatkan kenikmatan, apakah dia tetap dalam keimanan yang benar dan lurus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetap dalam ketaatan dan pengabdian kepada-Nya, atau sebaliknya dia justru berani bermaksiat dengan nikmat tersebut dan berani melanggar larangan-larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Dan bila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu ujian dan cobaan, apakah engkau akan menerimanya dengan lapang dada ataukah berkeluh kesah dan benci kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Dua keadaan dan situasi ini telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah sabda beliau yang diriwayatkan oleh Shuhaib radhiyallahu ‘anhu:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ. إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh sangat mengherankan urusan orang beriman di mana semua urusannya adalah baik, yang demikian itu tidak diberikan melainkan bagi orang yang beriman. Bila ia ditimpa kebahagiaan dia bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya; dan bila ia ditimpa musibah maka dia bersabar, itu kebaikan pula baginya.”5

Tiga Bentuk Kesabaran
Pertama: Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua: Bersabar dari bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketiga: Bersabar atas segala ketentuan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang baik atau yang buruk.
Ketiga bentuk kesabaran ini sesungguhnya kembali kepada dua perkara yaitu:
1. Kesabaran yang terkait dengan usaha setiap hamba. Ini adalah kesabaran dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
2. Kesabaran yang tidak terkait sedikitpun dengan usaha manusia. Ini adalah kesabaran dalam menerima segala ketentuan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan: “Kesabaran Nabi Yusuf untuk tidak menaati keinginan istri Al-’Aziz (penguasa negeri itu), lebih tinggi dibandingkan kesabarannya di saat dia dilemparkan ke dalam sumur, dijual dan dipisahkan dari bapaknya. Karena semua ini berlangsung dan terjadi tidak dengan keinginan dan usahanya, sehingga seorang hamba tidak memiliki jalan lain kecuali harus bersabar. Adapun kesabaran beliau untuk tidak bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kesabaran yang merupakan hasil usaha dalam melawan keinginan-keinginan nafsu. Terlebih dengan adanya dorongan yang kuat untuk melakukan kemaksiatan tersebut. Nabi Yusuf adalah seorang pemuda, yang mana dorongan untuk bermaksiat masih kuat. Beliau juga sendirian, tidak memiliki sesuatu yang akan menggantikan dorongan syahwatnya. Beliau juga dalam keadaan asing, di mana orang asing tidak akan memiliki rasa malu di negeri asingnya dari keluarga, teman-teman dan orang yang dikenalnya. Selain itu, beliau dalam keadaan dimiliki (sebagai budak) yang tidak memiliki kekuatan untuk (menolak) sebagaimana orang yang merdeka. Sementara di sisi lain wanita tersebut adalah seorang yang cantik dan memiliki kedudukan, bahkan tuan negeri tersebut. Diiringi dengan tidak adanya lagi pengawas, dan dia pulalah yang mengajak Nabi Yusuf (berbuat zina). Dan wanita tersebut bersemangat untuk mengajaknya, bahkan mengancamnya bila dia tidak mau dengan ancaman penjara dan penghinaan. Dengan adanya semua pendorong ini, Nabi Yusuf berusaha untuk bersabar dan lebih mendahulukan apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Coba) bandingkan dengan (tingkat) kesabarannya di dalam sumur, yang bukan dari usahanya.” (Madarijus Salikin, 2/155)

Haji dan Sabar
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kesabaran dalam menunaikan ketaatan lebih sempurna dan lebih afdhal dibandingkan kesabaran dalam menjauhi keharaman. Karena maslahat mengerjakan ketaatan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dibandingkan meninggalkan kemaksiatan. Juga karena kerusakan yang disebabkan oleh meninggalkan ketaatan lebih jelek dibandingkan kerusakan karena adanya kemaksiatan.” (Madarijus Salikin, 2/157)
Ibadah haji termasuk salah satu amalan yang besar di dalam Islam. Haji membutuhkan segala kesanggupan dan kemampuan, yaitu kesanggupan dan kemampuan harta serta badan.

1. Kesanggupan Harta
Harta seringkali menjadikan seseorang lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perintah-Nya. Terlebih jika orang tersebut memiliki sifat rakus dan bakhil. Harta seringkali menjadikan orang berani untuk berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai bentuk ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ. ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ. كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْن ِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِ. ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kalian akan benar-benar melihat neraka Jahim dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yakin. Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian bermegah-megahan di dunia).” (At-Takatsur: 1-8)

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-bangga dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian melihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ

“Jikalau anak Adam memiliki dua lembah dari harta (dalam riwayat yang lain satu lembah emas) niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak ada yang akan menutup tenggorokan anak Adam melainkan tanah.”6
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian untuk melakukan amal kebajikan karena akan datang fitnah-fitnah bagaikan gelapnya potongan malam, seseorang di pagi hari beriman maka di sore harinya dia kafir dan di sore harinya dia beriman di pagi harinya dia kafir, dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.”7

2. Kekuatan Fisik
Kekuatan fisik merupakan salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus disyukuri. Kekuatan fisik sangatlah berarti bagi orang-orang yang beriman dalam menjalankan tugas-tugas agama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan di dalam sebuah firman-Nya:

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ

“Salah seorang dari kedua wanita tersebut berkata: ‘Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Al-Qashash: 26)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan Thalut dengan keluasan ilmu dan kekuatan fisik melalui lisan seorang nabi (Bani Israil) dalam sebuah firman-Nya:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian.’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana bisa Thalut memerintah kami padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan darinya sedangkan diapun tidak diberi kekayaan yang banyak.’ Nabi mereka berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahkan ilmu yang luas serta tubuh yang perkasa, dan Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha luas pemberiannya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 247)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada setiap mereka ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu untuk melakukan apa yang bermanfaat buatmu dan minta tolonglah kepada Allah dan jangan bermalas-malasan. Jika kamu ditimpa oleh sesuatu musibah, janganlah kamu mengatakan: ‘Kalau saya melakukan (demikian dan demikian), niscaya terjadi demikan dan demikian.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Semuanya telah ditaqdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan kehendak-Nya.’ Karena kata ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.”8
Namun tidak jarang seseorang yang memiliki kekuatan materiil dan spritual berani menolak perintah Dzat yang telah memberikan segala kenikmatan tersebut kepadanya. Dia pun melalaikan semua tugasnya.
Demikianlah sifat seseorang yang tidak dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila diuji dengan ujian, dia banyak berkeluh kesah. Bila diberikan kenikmatan dia kikir, bakhil dan ingkar. Bila diberi kesehatan dan kekuatan, dia menjadi orang yang berani menentang perintah.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang kebanyakan orang lalai dengannya yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”9

Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik
Seluruh amalan Islami Allah Subhanahu wa Ta’ala kaitkan dengan kesanggupan. Artinya bahwa bila ada orang yang tidak sanggup menurut syariat Islam, maka dia tidak dipaksa untuk melakukannya, atau dia akan diberi keringanan.
Inilah bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam syariat-Nya dan kebijaksanaan-Nya dalam meletakkan hukum. Salah satu dari sekian bentuk ibadah yang butuh kekuatan fisik dan harta adalah ibadah haji. Orang yang mendalami amalan dalam ibadah haji ini akan mengetahui bahwa amalan ini sangat membutuhkan kesabaran dalam ketaatan, kekuatan dalam keimanan, dan kesanggupan dalam menjalankannya. Contohnya:
a. Thawaf adalah salah satu amalan haji yang wujudnya adalah mengelilingi Baitullah tujuh kali dan berlari kecil pada tiga putaran pertama. Hal ini membutuhkan kekuatan dan kesabaran. Apalagi disertai dengan padatnya umat yang sedang merebut keutamaan dalam thawaf tersebut, mau tidak mau akan berdesak-desakan.
b. Sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Shafa menuju Marwah tujuh kali dan berakhir pada bukit Marwah. Ini juga membutuhkan kekuatan dan kesabaran.
c. Wukuf di ‘Arafah membutuhkan keberanian, kekuatan dan kesabaran.
d. Melempar tiga Jumrah dalam keadaan berdesak-desakan dengan ribuan kaum muslimin lain, dan sebagainya.
Kesabaran dibutuhkan dalam tiga hal, yaitu dalam melaksanakan ketaatan, meninggalkan larangan dan menerima segala ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang baik atau yang buruk. Kesabaran itu memang pahit namun buahnya lebih manis dari madu.
Wallahu a’lam.

1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud no. 4420, At-Tirmidzi no. 3314 dari shahabat Abu Hurairah dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih At-Tirmidzi no. 2701 dan dalam kitab Al-Kalimut Thayyib no. 22.
2 Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi no. 3414, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Albani di dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2775, Shahih Sunan Abu Dawud no. 1387, dan di dalam Al-Misykat no. 2472
3 Diriwayatkan oleh Al-Imam An-Nasa’i no. 1882 dan 1883, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
4 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari secara mu’allaq di dalam Shahih beliau dalam Kitab Raqa‘iq.
5 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Kitab Az-Zuhd qar Raqa`iq, Bab Al-Mu`min Amruhu Kulluhu Khair, no. 5318.
6 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5959, Al-Imam Muslim 1737 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, juga dari shahabat yang lain seperti Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Az-Zubair, Ubai bin Ka’b dalam riwayat Al-Imam Muslim.
7 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 165 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
8 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 4816
9 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5933

(Ditulis ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyaha an Nawawi. Sumber http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=400)

Read Full Post »

Pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji merupakan karunia Allah yang menjadi dambaan setiap muslim. Predikat ‘Haji Mabrur’ yang tiada balasan baginya kecuali Al Jannah tak urung sebagai target utama dari kepergian ke Baitullah. Namun, mungkinkah semua yang berhaji ke Baitullah dapat meraihnya?

Tentu jawabannya: mungkin, dengan dua syarat:
1. Di dalam menunaikannya harus benar-benar ikhlas karena Allah, bukan karena ingin menyandang gelar ‘pak haji’ atau ‘bu haji’.
2. Harus dilakukan sesuai bimbingan Rasulullah
Mungkin calon jama’ah haji akan mengatakan: “Kami siap mengikhlaskannya karena Allah I, bukan untuk tetek bengek dari kehidupan dunia ini! Tapi kami masih buta tentang manasik haji Rasulullah , bisakah kami mengetahuinya, agar dapat meraih haji mabrur?”
Jangan bersedih wahai jama’ah haji, karena setiap muslim berhak untuk mengetahui ajaran Rasulullah .

Ketahuilah, di dalam melakukan ibadah haji ada tiga cara: Tamattu’, Qiran, dan Ifrad. Yang paling utama adalah tamattu’, dan alhamdulillah mayoritas jamaah haji Indonesia berhaji dengan haji tersebut. Maka dari itu akan lebih tepat bila kajian kali ini difokuskan pada jenis haji ini.
Apa yang dimaksud dengan haji tamattu’? Haji tamattu’ adalah melaksanakan ibadah umrah secara sempurna pada bulan-bulan haji (Syawwal, Dzulqa’dah dan sebelum tanggal 10 Dzul Hijjah) dan bertahallul darinya, lalu berihram untuk haji pada tahun (Hijriyyah) itu juga.
Untuk haji ini wajib menyembelih Hadyu (hewan kurban).

Saudaraku, jamaah haji Indonesia -menurut kebiasaan- terbagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama akan berangkat terlebih dahulu ke kota Madinah dan setelah tinggal beberapa hari di sana, barulah berangkat ke Makkah. Untuk gelombang pertama ini miqatnya adalah Dzulhulaifah (Abyar Ali), miqat ahlul Madinah, sehingga start ibadah hajinya dari Madinah. Untuk gelombang kedua, maka akan langsung berangkat ke Makkah dan miqatnya adalah Yalamlam yang berjarak kurang lebih 10 menit sebelum mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, sehingga start ibadah hajinya (ihramnya) sejak di pesawat.

Adapun manasik haji tamattu’ yang sesuai dengan bimbingan Rasulullah adalah sebagai berikut :
1. Bila anda telah berada di miqat, maka mandilah, dan pakailah wewangian jika memungkinkan. Kemudian pakailah kain ihram yang terdiri dari dua helai, untuk bagian bawah dan atas tubuh. Adapun wanita tetap mengenakan pakaiannya sesuai dengan batasan-batasan syar’i. Kemudian berniatlah ihram untuk umrah dengan mengatakan:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

“Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan umrah”
Kemudian mengucapkan Talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ و النِّعْمَةَ لَكَ وَ الْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
“Ku sambut panggilan-Mu Ya Allah, ku sambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, ku sambut panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”
Di antara hal-hal yang harus diperhatikan ketika berihram adalah:
Menjalankan apa yang telah diwajibkan oleh Allah seperti sholat dan yang lainnya dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah diantaranya; kesyirikan, perkataan yang kotor, kefasikan, debat dan kemaksiatan.
Tidak boleh mencabut rambut ataupun kuku, dan tidak mengapa bila rontok atau terkelupas dengan tidak sengaja.
Tidak boleh mengenakan wewangian baik pada tubuh, ataupun kain ihram. Dan tidak mengapa adanya bekas minyak wangi yang dikenakan sebelum berihram.
– Tidak boleh berburu ataupun membantu orang yang berburu.
– Tidak boleh mencabut tanaman yang ada di Tanah Suci, tidak boleh meminang wanita, menikah ataupun menikahkan.
– Tidak boleh menutup kepala dengan sesuatu yang menyentuh (kepala tersebut) dan tidak mengapa untuk memakai payung ataupun berada di bawah atap kendaraan.
– Tidak boleh memakai pakaian yang sisi-sisinya melingkupi tubuh (baju, kaos), imamah, celana dan sebagainya. Boleh untuk memakai sandal, cincin, kaca mata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk menyimpam uang, data-data penting dan yang lainnya. Dan diperbolehkan juga untuk mengganti kain yang digunakan serta mencucinya sebagaimana diperbolehkan membasuh kepala dan badan.
– – Tidak boleh melewati miqatnya dalam keadaan tidak berihram.
2. Bila telah tiba di Makkah (di Masjidil Haram) maka bersucilah (sebagai syarat Thawaf), lalu selempangkan pakaian atas di bawah ketiak kanan, sedang yang kiri tetap diatas pundak kiri, kemudian lakukanlah Thawaf sebanyak 7 putaran, dimulai dari Hajar Aswad dengan memposisikan Ka’bah di sebelah kiri. Hajar Aswad ke Hajar Aswad terhitung 1 putaran. Disunnahkan pada putaran 1 hingga 3 untuk berthawaf sambil berlari-lari kecil, dan disunnahkan pula mengakhiri semua putaran (ketika berada di antara 2 rukun: Yamani dan Hajar Aswad) dengan membaca:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Allah limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat, serta jagalah kami dari adzab api neraka.”
Setiap kali tiba di Hajar Aswad disunnahkan untuk menciumnya atau memegangnya ataupun berisyarat dengan tangan, sambil mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar”. Bila terjadi keraguan tentang jumlah putaran Thawaf, maka ambillah hitungan yang paling sedikit.
3. Seusai Thawaf tutuplah kembali pundak kanan dengan pakaian atasmu, kemudian lakukanlah shalat dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim (tempat berdirinya Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah) walaupun agak jauh darinya, dan bila kesulitan mendapatkan tempat maka tidak mengapa dilakukan di bagian mana saja dari Masjidil Haram. Disunnahkan pada rakaat pertama membaca surat Al-Kaafiruun dan pada rakaat ke dua membaca surat Al-Ikhlash.
4. Kemudian minumlah zam-zam lalu cium/pegang/berisyarat ke Hajar Aswad, dan setelah itu pergilah ke Shofa untuk bersa’i. Setiba di Shofa bacalah
إِنَّ الصَّفَا وَ الْمَرْوَةَ مِن شَعَآ ئِرِاللهِ صلى
(QS. Al Baqoroh: 158)
أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
kemudian menghadaplah ke ka’bah, lalu bertakbir tiga kali, dan mengucapkan:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يحُيْي وَ يُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْر لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
Ini dibaca 3 kali, setiap kali selesai dari salah satunya, disunnahkan untuk berdo’a sesuai dengan apa yang kita inginkan.
5. Setelah itu berangkatlah menuju Marwah dan ketika lewat diantara dua tanda hijau percepatlah jalanmu lebih dari biasanya, setiba di Marwah lakukanlah seperti apa yang dilakukan di Shofa (namun tidak membaca QS. Al Baqoroh: 158). Dengan demikian, terhitunglah 1 putaran. Lakukanlah seperti ini sebanyak 7 kali (Dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah).
6. Seusai Sa’i, lakukanlah tahallul dengan mencukur rambut kepala (bagi pria) dan memotong sepanjang ruas jari (bagi wanita). Dengan bertahallul, maka berarti telah selesai dari umrah dan diperbolehkan segala sesuatu dari mahdhuratil Ihram (hal-hal yang dilarang ketika berihram).
7. Pada tanggal 8 Dzul Hijjah (hari Tarwiyyah) mandilah dan pakailah wewangian serta kenakan pakaian ihram, setelah itu berniatlah ihram untuk haji dari tempatmu seraya mengucapkan:
لَبَّيْكَ حَجًّا،
“Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan haji”
kemudian mengucapkan Talbiyah:
لَبَّيْكَ اللهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَ المُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Lalu berangkatlah menuju Mina (untuk menginap di sana) dengan melakukan shalat-shalat yang 4 rakaat (Dhuhur, Ashr dan Isya’) menjadi 2 rakaat (qashar) dan dikerjakan pada waktunya masing-masing tanpa di-jama’.
8. Ketika matahari telah terbit di hari 9 Dzul Hijjah, berangkatlah menuju Arafah, dan setiba disana perbanyaklah do’a dengan menghadap kiblat dan mengangkat tangan hingga matahari terbenam. Adapun shalat dhuhur dan ‘ashr dilakukan di waktu shalat dhuhur (jama’ taqdim) 2 rakaat-2 rakaat (qashar) dengan satu adzan dan dua iqomah.
9. Ketika matahari terbenam, berangkatlah menuju Muzdalifah sambil terus mengucapkan talbiyah. Setiba di Muzdalifah sholatlah Maghrib dan Isya’ di waktu Isya’ (jama’ ta’khir) dengan di-qashar, kemudian bermalamlah di sana hingga datang waktu shalat subuh. Seusai shalat shubuh perbanyaklah do’a dan dzikir hingga langit tampak terang (sebelum terbit matahari).
10. Kemudian berangkatlah menuju Mina sambil terus mengucapkan Talbiyah, dan bila ada para wanita ataupun orang-orang lemah yang bersamamu, maka boleh berangkat ke Mina dipertengahan malam.
11. Ketika tiba di Mina (tanggal 10 Dzul Hijjah) kerjakanlah hal-hal berikut ini:
Lemparlah jumrah Aqobah dengan 7 batu kerikil (sebesar kotoran kambing) dengan bertakbir pada tiap kali lemparan.
– Sembelihlah Hadyu (hewan qurban), makanlah sebagian dagingnya serta shodaqohkanlah kepada orang-orang fakir. Boleh juga penyembelihan ini diwakilkan kepada petugas resmi dari pemerintah Arab Saudi yang ada di sana. Bila tidak mampu membeli atau menyembelih hewan kurban maka wajib puasa tiga hari di hari-hari haji dan tujuh hari ketika pulang dari haji.
– Gundullah atau cukurlah seluruh rambut kepalamu, dan gundul lebih utama. Adapun wanita cukup memotong sepanjang ruas jari dari rambut kepalanya. Dan jika anda telah melempar jumrah Aqobah dan menggundul atau mencukur rambut, maka berarti anda telah ber-tahallul awal sehingga boleh memakai pakaian dan seluruh larangan-larangan ihram kecuali menggauli isteri.
– Kemudian pergilah ke Makkah untuk melakukan thawaf ifadhoh/thawaf haji (tanpa lari-lari kecil pada putaran satu hingga tiga), lalu bersa’i. Dengan selesainya amalan ini, maka berarti telah ber-tahallul tsani dan diperbolehkan semua yang dilarang dalam ihram.

Thawaf ifadhoh ini boleh diakhirkan, sekaligus dijadikan sebagai thawaf wada’ (ketika hendak meninggalkan Makkah).
Demikianlah urutan yang paling utama dari amalan yang dilakukan di Mina pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut, namun tidak mengapa bila didahulukan yang satu atas yang lainnya.
12. Setelah melakukan thawaf ifadhoh pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut kembalilah ke Mina untuk mabit (bermalam) disana selama tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah (hari-hari Tasyriq), dan anda boleh bermalam 2 malam saja (nafar awal).
13. Lemparlah 3 jumrah selama 2 atau 3 hari dari keberadaanmu di Mina, setelah tergelincirnya matahari (ketika masuk waktu dhuhur hingga waktu malam). Sediakanlah 21 butir batu kerikil, 7 butir untuk melempar jumrah Sughra, 7 butir untuk melempar jumrah Wustho, dan 7 butir untuk melempar jumrah ‘Aqobah (Kubra). Bertakbirlah setiap kali melakukan pelemparan pada jumrah-jumrah tersebut dan pastikan lemparan itu masuk ke dalam sasaran. Bila ternyata tidak masuk, maka ulangilah lemparan walaupun dengan batu yang didapati di sekitarmu.
14. Bila anda ingin mabit 2 malam saja di Mina (nafar awal), maka keluarlah dari Mina sebelum terbenamnya matahari tanggal 12 Dzul Hijjah, tentunya setelah melempar 3 jumrah yang ada. Namun jika matahari telah terbenam dan anda masih berada di Mina maka wajib untuk bermalam dan melempar jumrah di hari ke-13 (yang lebih utama adalah mabit 3 malam /nafar tsani). Boleh bagi seseorang yang sakit ataupun lemah untuk mewakilkan pelemparan jumrah kepada yang lainnya, dan boleh bagi yang mewakili, melempar untuk dirinya kemudian untuk orang lain (dengan batu yang berbeda) diwaktu dan tempat yang sama.
15. Bila hendak meninggalkan Makkah, maka lakukanlah thawaf wada’ tanpa sa’i, kecuali bagi yang menjadikan thawaf ifadhah sebagai thawaf wada’nya maka harus dengan sa’i.
Demikianlah bimbingan ringkas tentang manasik haji Rasulullah . Semoga kita diberi taufiq oleh Allah I untuk mengamalkannya. Amin.

Wallahu a’lam bishshowab.
Sumber bacaan:
At Tahqiq wal Idhoh, karya Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz.
1. Hajjatun Nabi, karya Asy Syaikh Al Albani.
2. Manasikul Hajji Wal Umrah, karya Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
3. Shifat Hajjatin Nabi, karya Asy Syaikh Jamil Zainu.
4. Dalilul Haajji wal Mu’tamir, karya Majmu’ah minal Ulama’
5. Dalilul Haajj wal Mu’tamir

(Sumber http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=447)

Read Full Post »